The Gift of Community By Ps. Jose Carol

JPCC Sutera Hall 2nd Service (5 July 2026)

Selamat Pagi JPCC, Selamat Ulang tahun bagi kita semua, selamat datang di Ibadah perayaan Ulang Tahun JPCC ke-27 di Ibadah Sutera Hall service 2, termasuk saudara yang ada di rumah. Saudara bersyukur untuk anugerah Tuhan bagian kita semua?

Terima kasih buat semua yang melayani kita hari ini. Saya ingin mengambil kesematan untuk mengucapkan terima kasih kepada semua Pastors, spouses, staff, yang selama ini dengan setia melayani kita semua, Amin? Kasih salam 2-3 orang, bilang selamat ulang tahun buat kita semua. Silahkan duduk, happy birthday!

Sebuah anugrah yang luar biasa, kita bisa merayakan 27 tahun gereja kita yang tercinta pada hari ini. Dan seperti tadi, Pastor Johannes umumkan, bukan kebetulan juga bahwa kita sedang meluncurkan album terbaru. Pujian penyembahan hari ini sebagian besar, selain dua tiga lagu yang kita kenal sebelumnya, diambil atau berasal dari album yang baru yang berjudul, “For the Glory of Your Name”. Semua album yang luar biasa.

Doa kita adalah album terbaru ini bisa menjadi berkat bagi banyak orang. Nah, bagi banyak saudara yang hadir hari ini atau yang ada di rumah, JPCC ini mungkin seperti Rumah. Sometimes we call it as a “second home”, betul tidak?

Dan juga, tempat kita menemukan jati diri, tempat kita mengalami penerimaan, acceptance, tempat kita mengalami transformasi kehidupan, dan bahkan menemukan support system, terutama di masa-masa susah. Pada waktu kita kenal Covid-19, pada waktu kita sakit, bahkan saat-saat ini ada beberapa teman-teman kita sedang bergumul dengan sakit penyakit. Our Support System, ada di keluarga ini.

Ada yang menemukan teman-teman? Sahabat yang lebih dekat dari saudara kandung? Ada yang menemukan pasangan hidup? Ada? Ada dong. Ada yang belum menemukan pasangan hidup? Jangan sedih. Masih ada harapan. Saya kira itulah keindahan kehidupan kita bersama-sama sebagai gereja, bukan?

Merenungkan 27 tahun perjalana ini, di balik semua keterbatasan, next gen dan ruangan kita masih terbatas, ada banyak hal yang masih terbatas, Di UR sejak awal LIFTnya terbatas, semua ketidaksempurnaan dan kekurangan kita.

Kapasitas Next-Gen, Jumlah kapasitas ibadah yang perlu ditambah, sistem aplikasi kita yang mungkin masih belum sempurna, namun pada waktu yang bersamaan saya ingin bertanya pada kita semua, semua pertanyaan yang muncul, menurut saya perlu kita pertimbangkan sebagai awal dari perenungan kita hari ini, pertanyaannya seperti ini.

Apa yang terjadi dalam hidup saya seadainya JPCC tidak pernah ada?

Akankah saya berada dimana saya berada hari ini? bekerja, melakukan apa yang saya kerjakan, menikmati apa yang sedang saya jalani, seandainya saya tidak tertanam di JPCC.

Saya tahu bahwa tidak semua kita bisa menjawab pertanyaan ini dengan mudah. Buat yang tertanam, berada bersama dengan kita dari awal, pertanyaan ini mungkin sangat mudah untuk dijawab.

Tapi saya tahu ada sebagian saudara yang bergabung di tengah jalan. Bahkan juga ada banyak yang baru bergabung akhir-akhir ini. Pertanyaan ini tidak mudah untuk saudara jawab tentunya. Tapi mungkin pertanyaan ini menolong saudara mulai menyadari sebenarnya betapa besar Tuhan memberkati saudara. Betapa besar Anugerah Tuhan buat saudara, memberikan saudara sebuah komunitas di gereja lokal yang kita sebut JPCC.

Tema bulan ini, tema besar kita sepanjang bulan ini adalah “Blessed Beyond Measure“. Diberkati melampaui batas. Nah masalahnya adalah, setiap kali kita mendengar kata berkat, yang ada di benak atau pikiran kita adalah kita dapat sesuatu. Betul tidak?

Kita selalu dengar berkat dan diibaratkan mendapat sesuatu, baik itu dapat hadiah, dapat promosi, dapat berkat, dapat rumah, dapat tas walaupun suaminya belum dimintain. Dapat sesuatu, lalu kita pikir kita terima sesuatu, kesehatan, kebahagiaan.

Dan itu tidak salah, karena berkat Tuhan adalah sesuatu yang Tuhan ingin saudara terima. Tetapi sadarkah bahwa berkat terbesar dalam kehidupan kita selain adalah pribadi Kristus sendiri dalam kehidupan, adalah hadiah yang kita sebut sebagai komunitas atau gereja lokal.

Orang-orang yang Tuhan bawa dalam kehidupan kita adalah hadiah, salah satu hadiah terbesar yang Tuhan berikan kepada kita semua. Di Perayaan ulang tahun ke-27 ini, Kami ingin mengajak saudara melihat salah satu berkat besar yang Tuhan sediakan bagi kita yang seringkali kita tidak sadari.

Bahkan mungkin luput untuk kita syukuri, yaitu orang-orang yang ada di sekitar kita. Orang-orang yang Tuhan tempatkan di sekitar kita. Oleh sebab itu, judul kotbah hari ini adalah “The Gift of Community“.

Hadiah yang disebut sebagai komunitas, yang Tuhan berikan kepada kita. Mengapa penting untuk kita mulai merenungkan topik ini? Karena jujur kita hidup di dalam dunia dimana segala sesuatu, jaman ini mengondisikan untuk kita hidup mandiri.

Saudara dikondisikan untuk hidup bisa dengan alat saudara sendiri. Bahkan ke bank sudah tidak perlu dulu harus ke bank. Dulu harus ke pasar, sekarang ternyata belanja pun ternyata bisa. Semua hanya dengan ada di tombol-tombolnya yang bisa saudara “click”.

Bahkan jauh sebelumnya saya dengar bahkan Kulkas saudara bisa menggantikan tugas saudara untuk memesan. Kulkas saudara kalau dipasang “AI”, dia sudah tahu saudara perlu pesan telur berapa hari dari sekarang, dari kebiasaan saudara makan telur. Berapa cepat susu saudara habis, sebentar lagi kulkas saudara bisa pesan buat saudara. Makanan yang saudara perlukan.

Sebegitu canggihnya kehidupan kita, membuat kita semakin mandiri dan merasa bahwa kita tidak perlu orang lain. Belum lagi Alkitab memperingatkan kepada kita di akhir jaman ini orang semakin hidup mementingkan diri sendiri, semakin memikirkan diri sendiri, self-centered.

Hidup mandiri penting, bagus, dewasa artinya, kita tidak menjadi kekanak-kanakan dan bergantung sama orang lain. Tetapi kalau hidup sampai hanya mementingkan diri dan berpikir bahwa kita tidak perlu orang lain, saya kuatir itu merupakan awal daripada masalah lain yang kita ciptakan sendiri.

Jadi, karena kita berusaha hidup mandiri, tidak tergantung dan tidak butuh siapapun juga, akibatnya secara rohani banyak kita juga seperti itu jadinya. Jadi pertanyaan yang juga mungkin sering muncul karena keadaan ini adalah, Kalau memang saya sudah punya Yesus yang sempurna, mengapa saya masih membutuhkan gereja yang tidak sempurna?

Kan lebih baik saya punya Yesus saja, karena Yesus sempurna. Saya mengerti betul, Banyak yang punya statement dan pendapat seperti ini, karena memang tidak mudah hidup bersama orang lain.

Hidup bergesekan, besi menajamkan besi, tidak selalu mudah. Yang masih sakit katakan “Ampun”. Yang masih alergi dan takut datang ke gereja dan bertahan “online” di rumah, katakan “Ampun”. Tidak gampang hidup sama orang lain. Bergesekan dengan orang lain.

Belum lagi hadir di gereja yang mau kebaktian saja katanya konon “susah”. Tidak mudah untuk hidup membutuhkan orang lain. Gereja juga masih bisa melukai. Karena gereja masih dipenuhi oleh orang-orang berdosa yang masih sedang diproses. Betul gak sih?

Sehingga tidak terelakkan kalau rasa kecewa itu masih muncul. Dan mungkin ada diantara saudara hari ini, ada di sini, masih membawa rasa kecewa itu. Bisa jadi mungkin enggak sama JPCC karena JPCC “sempurna”. Tetapi saudara membawa rasa kecewa sama gereja saudara yang lampau.

Nah, kalau saudara belum kecewa sama JPCC, saya mau peringatkan saudara bahwa itu tinggal tunggu waktu saja, saudara. Tinggal tunggu waktu saudara akan kecewa sama JPCC. Kalau saudara belum kecewa sama teman-teman yang ada sekitar saudara atau sama yang melayani saudara. Saya mau peringatkan saudara, cepat atau lambat saudara akan kecewa.

Atau saudara mungkin belum kecewa sama pendeta-pendetanya karena mereka “sempurna”. Saya mau kasih tahu saudara bahwa pendeta itu manusia, dan mereka bisa mengecewakan saudara. Bukan intensi kami untuk mengecewakan saudara, tetapi saudara kadangkala tidak terelakkan saudara bisa harus berhadapan dengan rasa kecewa.

Tetapi justru itulah alasan mengapa kita perlu merenungkan Firman Tuhan, tentang mengapa kita butuh gereja Dan komunitas untuk hidup bersama. Dan kembali ke pertanyaan-pertanyaan tadi, mengapa saya masih membutuhkan gereja yang tidak sempurna?

Jawaban ini kalau saudara catat, termasuk yang di rumah. Karena Yesus yang sempurna memilih untuk membentuk kita melalui keluargaNya yang sedang disempurnakan. Tuhan memilih saudara untuk dibentuk melalui keluarga yang tidak sempurna, to form and build you.

Opening Verse – [31] Yesus menjawab, “Orang yang sehat tidak memerlukan dokter; hanya orang yang sakit saja. [32] Aku datang bukan untuk memanggil orang-orang yang menganggap dirinya sudah baik, melainkan orang-orang yang berdosa supaya mereka bertobat dari dosa-dosa mereka.” Lukas 5:31-32 BIMK

Berarti gereja adalah tempat dimana kita semua yang sakit, dipulihkan, disembuhkan, diperbaiki, dibangun hidupnya untuk menjadi orang-orang yang lebih baik. Itulah alasan mengapa Dia datang.

Jadi kalau kita mau jujur, setiap kita, tanpa terkecuali adalah karya Tuhan yang masih terus disempurnakan. We are His work in progress, Selama kita hidup, kita tidak akan mencapai kesempurnaan itu.

Proses pendewasaan dan pemulihan kita memerluka orang lain, kita tidak bisa sendiri. Dan pemulihan kita tidak bisa terjadi di dalam kesendirian. Saudara sakit hati? Latihannya adalah sembuh dari sakit hati itu.

Untuk tahu saudara sembuh, saudara perlu dites dengan sakit hati yang baru. Betul tidak?

Saudara tidak bis abangun kesabaran dan penguasaan diri dalam kesendirian. Jadi bersyukurlah kalau Tuhan kirimkan orang-orang yang “rese” dalam kehidupan saudara karena Tuhan sayang sama saudara.

Kalau pasanganmu setiap kali pulang dari DATE atau gereja komplain, bilang sama dia, Tuhan sayang banget sama kamu, Tuhan ingin kamu berubah. Ada amin?

Nah, dalam kehidupan kita, ada kebutuhan dalam batin kita dan kerinduan yang sangat mendalam dalam diri kita, yang sesungguhnya tidak bisa dipenuhi karena saudara berhasil. Baik dalam pendidikan, jabatan, pencapaian, atau dalam keuangan, itu tidak bisa mengisi kebutuhan batin dan kerinduan yang mendalam itu.

Ada hal-hal yang dalam diri kita ini yang hanya bisa kita temukan ketika kita hidup bersama dengan orang lain dalam keluarga Allah. Jadi setiap manusia, saudara sadar atau tidak, setiap kita yang mempunyai kebutuhan mendasar yang tertanam dalam kita.

Ada tiga kebutuhan mendasar yang kita ingin highlight, ada banyak kebutuhan-kebutuhan dasar lainnya. Kebutuhan Jasmani, Kebutuhan Emotional, Tetapi ada tiga hal yang relevan dengan tema kita.

Pertama, kebutuhan untuk dikenal, kebutuhan untuk dikasihi, dan kebutuhan untuk menemukan makna. To be Known, To be Loved, and To Find Meaning/Purpose

Ini adalah kebutuhan yang sangat mendasar dalam kehidupan kita. Setiao kita ingin dikenal dan dikasihi, atau dengan kata lain, “the sense of belonging”, saya sering cerita. Banyak kita itu seneng banget, kalau kita pergi ke suatu tempat, dan tiba-tiba nama kita disebut.

Waktu saya cerita ada restoran baru di Jakarta, dekat tempat tinggal kami, waktu itu kami datang, kami tahu itu restoran baru banget, kita belum pernah masuk. Dan pertama kali kita masuk, yang menyambut di depan menyebut Nama saya, “Selamat datang Pak Jose”.

Wow, sebegitu terkenalkah saya, sehingga dia kenal nama saya, dan waktu itu ternyata setelah kami cerita, dia pernah bekerja di restorang sebelumnya yang pernah kami kunjungi. Istri saya bilang, pasti dulu kamu kasih “Tips” yang besar.

Kita senang kita masuk “airlines”, pergi kemana dan ada yang mengenal kita. Apalagi waktu kita dikasihi, diterima, dan kita menemukan makna dan tujuan kehidupan.

Menariknya, ketiga kebutuhan mendasar ini seringkali Tuhan penuhi melalui komunitas gereja. Dia penuhi kebutuhan ini di keluarga rohani kita.

Jadi Allah tidak panggil kita hanya keluar sebagai individu yang sendiri kepada dirinya. Dia membentuk kita semua menjadi sebuah umat, sebuah keluarga rohani yang dia sebut Gereja.

Supporting Verse – [1] Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! [3] Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah Tuhan memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya. Mazmur 133:1, 3 TB

Besi menajamkan hanya bisa tetap terjadi kalau mereka tidak ada yang mundur. Kalau mundur, maka gesekan penajaman tidak akan bisa terjadi.

Kehidupan bersama itu, Tuhan memberitahkan perbedaan suara malamannya. Life comes, pada waktu mereka bertentang hidup rumput bersama. Life comes, suara suami dan suara istri teruskan rumput. Walaupun salah satu dia sangat minimal, saya gak boleh menyebutnya mana ya. Suami dan istri ada amin. Berani sekalian.

Komitmen, kehidupan untuk, pilihan kita untuk hidup bersama. Alkitab berkata bahwa kesanalah Tuhan perintahkan berkat. Tuhan senang kalau kita hidup di dalam kerukunan, Tuhan mencintai dan menghendaki komunitas orang-orang percaya hidup dalam keharmonisan.

Dan ini bukan cuma antara kita dalam satu gereja dengan orang Kristen yang lain, saya selalu bilang jangan pernah saudara mencibir dan mencela sesama anak-anak Tuhan yang lain. Tidak ada kita yang lebih baik dari yang lain.

Saya berharap saudara, di DATE saudara, di komunitas saudara, di dalam pelayanan saudara, tidak ada yang mencibir, apalagi di menjelekkan pelayanan dan gereja lain. Tidak ada kita yang sempurna.

Salah satu berkat terbesar yang Tuhan berikan pada kita adalah kesempatan untuk menjadi bagian dari keluarga ini yang Tuhan berikan kepada kita.

Saya berharap saudara bersyukur. Nah hari ini, untuk merenungkan hadiah yang Tuhan berikan pada kita sebagai komunitas, ada 3 pemikiran yang kita ingin berikan, mengapa kita bersyukur untuk komunitas dan keluarga rohani yang Tuhan berikan bagi kita di gereja.

Yang pertama yang membuat kita perlu bersyukur adalah pemikiran ini.

Satu, karena setiap kita membutuhkan tempat di mana kita merasa memiliki dan diterima (a place to belong).

Jadi, waktu saudara temukan “a place to belong”, kita harusnya bersyukur untuk itu. Bukan cuma sekedar menjadi member. Bukan cuma sekedar mendaftar supaya rabu bisa dapatkan tiket. Atau bukan cuma sekedar upgrade jadi leader sehingga selasa bisa book, bukan.

A place to belong, tempat dimana kita betul-betul merasa bermanfaat, bisa berharga, berdampak di dalamnya.

Ada sebuah keluarga yang dibuang oleh keluarganya karena mereka menerima Tuhan menjadi Tuhan dan Juru Selamatnya. Mereka jadi dikucilkan, disingkirkan dari keluarga kandung mereka, dan mereka bersaksi bagaimana JPCC atau gereja yang mereka temukan kemudian menjadi identitas keluarga mereka. Mari kita saksikan kesaksian keluarga mereka.

Kesaksian Pertama (Saya tidak terlahir sebagai orang Kristen).

Saya tidak pernah baca Alkitab, tapi disitu saya dengar “Akulah jalan kebenaran dan kehidupan”.

Supporting Verse – [6] Kata Yesus kepadanya: ”Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Yohanes 14:6 TB

(Ibu) Setelah saya dibaptis, itu awal dimana saya kehilangan semua.

(Anak-anak) Kadang disaat melihat mama, mama bisa gitu bangkit, masih tetapi beriman dan mengurus kita, anak-anaknya sampai saat ini.

(Ibu) Di rumah, mungkin rasanya “pincang” ya aku sendiri, tetapi mereka tidak kekurangan sosok keliarha, mereka tidak kekurangan sosok seorang “Bapa”. Mereka tidak kekurangan itu karena dari DATE merangkul. Saya serasa seperti punya keluarga, dan anak-anak juga suka ikut dan begitu di-welcome oleh mereka semua. Seperti itu saja sudah senang sekali untuk saya.

(Anak-anak) Mama bilang, JPCC adalah keluarga kita. Semisal mama ternyata dipanggil Tuhan, setidaknya kita punya komunitas yang sehat yang akan merangkul kita.

(Ibu) Saya merasa bahwa saya rupanya tidak sendirian. Meskipun saya juga mengerti bagwa tidak semua DATE sempurna. Dan kenapa aku harus tertanam di DATE? Karena jika suatu hari saya tidak ada, keluarganya anak-anak saya ini di JPCC, tidak ada lagi selain itu.

Tuhan tidak selamatkan kita agar kita sekedar masuk ke surga saja. Tuhan memberikan kita identitas yang baru saat kita percaya kepadaNya.

Supporting Verse – [13] Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu ”jauh”, sudah menjadi ”dekat” oleh darah Kristus.
[19] Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, Efesus 2:13, 19 TB

Yang menarik adalah Tuhan selamatkan kita bukan hanya untuk supaya kita selamat saja tetapi darah Anak domba Allah menjadikan kita ini kawan sewarga dan anggota keluarga Kerajaan Allah. Keluarga dan anggota keluarga Allah adalah identitas baru yang Kristus berikan pada setiap orang yang percaya kepadaNya.

Itu adalah status dan identitas kita yang baru. Jadi, dengan pemikiran itu harusnya kita sadar bahwa aset terbesar yang dimiliki olej sebuah gereja bukan gedungnya, bukan fasilitasnya, bukan programnya, bahkan bukan musiknya, secanggih apapun albumnya yang baru diluncurkan.

Bukan. Bahkan bukan tabungan dan kekuatan keuangannya. Aset terbesar daripada sebuah gereja adalah keluarga di dalamnya. Karena Gereja adalah keluarga Allah.

Nah, sebagaimana semua keluarga, Tidak ada keluarga yang sempurna, bukan? Demikian juga tidak ada gereja yang sempurna, tetapi justru disitulah keindahannya, kita yang latar belakangnya beda, sukunya beda, umurnya beda, masa lalunya beda, ceritanya beda, Tuhan persatukan semua, menjadi satu keluarga di dalam Kristus.

Jadi, Gereja adalah komunitas yang sedang mengalami transformasi dan Tuhan pakai untuk mentransformasi masyarakat sekitarnya pada waktu yang bersamaan, pada waktu kita berubah menjadi lebih baik, Tuhan pakai kita untuk mengubah lingkungan kita. Itu alasan pertama untuk kita bersyukur, karena setiap kita membutuhkan tempat kita merasa memiliki dan diterima.

Alasan Kedua, adalah kita membutuhkan orang lain untuk menolong kita menjadi serupa Kristus.

Kita butuh orang lain, ada yang bilang, “Saya bisa kok sendiri, membaca Alkitab online, worship online, ibadah online, saya tidak perlu orang lain karena semua yang saya butuhkan secara rohani cukup.”

Let me say this.

Karakter Kristus tidak hanya bisa dibentuk pada saat kita berdoa dan berjalan dengan Yesus sendirian, namun juga ketika kita belajar hidup bersama dengan orang lain. Jadi, kita tidak bisa sendirian, latih kesabaran, bangun penguasaan diri, melatih diri melakukan kebaikan, tidak bisa kita lakukan. Kita perlu role-modeling. Kita perlu orang lain yang mencontohkan kehidupan.

Dalam kehidupan ini kita perlu role model. Kita perlu teladan dalam kehidupan. Ada sebuah kesaksian sepasang suami istri yang mau bersaksi bagaimana kehidupan mereka diberkati oleh keberadaan kita bersama-sama sebagai sebuah gereja. Mari kita saksikan.

Keluarga Ditho Sitompoel (DATE Leader Antasari 1)

(Ditho) Saya datang dari “Broken Home Family”, karena dulu sempat Papa saya bercerai dengan mama kandung saya dan setelah itu, 20 tahun kemudian juga bercerai lagi. Jadi, dua kali saya melewati perceraian. Jadi saya tidak ada bisa melihat tempat dimana saya benar-benar bisa bertumbuh sebagai keluarga.

Saya tidak mau apa yang saya rasakan, itu harus dirasakan oleh anak-anak saya. Jadi, saya melihat JPCC sangat menilai tinggi soal pernikahan. Dan akhirnya kami memutuskan untuk ikut dalam komunitas, mengikuti proses yang ada sampai akhirnya bisa pemberkatan juga di JPCC.

Tahun 2024, Ayah tiba-tiba masuk ke ICU dan tidak sadarkan diri. Pada saat ayah saya tidak sadarkan diri, akhirnya istri saya juga menasihati saya. Karena awalnya saya bahkan tidak mau mendoakan ayah saya saat dia ada di ICU.

Itu benar-benar masih ada rasa kepahitan disana atas keputusan-keputusan yang diambil olehnya.

(Istri Ditho) Jadi sebagai istri, menruutku aku hanya bisa menjadi support system dia saja. Jadi gimana caranya supaya aku bisa menjaga hati juga dan tetapi berhikmat. Karena disaat kitanya sendiri ikutan keruh dan pahit, kita tidak akan bisa menjadi penolong. Pastikan agar kita sendiri juga punya iman yang kuat.

Aku belajar sekali hal itu dari JPCC dan gereha, dimana aku mencoba untuk punya kebiasaan selalu membaca Firman Tuhan setiap hari, dan selalu diingatkan untukk tidak boleh melakukan hal yang tidak baik. Gimana caranya untuk kita bisa menjaga hati karena dari situ terpancar kehidupan. Dan pastinya anak-anak DATE itu adalah second home kami, setiap kali kita lelah sekali, kita seperti “ke-recharge” saja.

(Ditho) Saya melihat bahwa menjadi pemimpin pun juga being “vulnerable” saja dan ternyata DATE member pun sangat menghargai itu dan menolong saya bahkan juga mendoakan saya pada saat saya masih ada kepahitan dengan ayah saya.

Awalnya dari masih kepahitan, lama-lama jadi dimurnikan dan diluluhkan. Karena pada saat kita mulai diluluhkan, bisa mendoakan bareng istri dan worship bareng istri untuk kesembuhan ayah saya. Sampai akhirnya dia bisa sadar, kita berkomunikasi lagi. Mungkin yang di awal, saya merasa mengapa harus melalui ini semua. Ternyata apa yang saya rasakan ini juga dialami oleh beberapa DATE member, ada juga yang memiliki hubungan yang kurang ideal dengan ibunya, dan akhirnya hal yang pernah saya alami ini bisa menjadi contoh dan berkat buat mereka.

Dari keterpurukan menuju pemulihan. Dari kesendirian menuju kebersamaan, Dari hidup tanpa tujuan menutu hidup yang memuliakan Allah.

Kata Transformasi, perubahan yang kita inginkan dalam kehidupan kita, terbangun dari 2 kata. Kata “Trans” dan “Form”, Trans+Form. Untuk kita bisa berubah, kata trans itu artinya lewat, dan form itu bentuk. Hidup kita hanya bisa berubah kalau kita berhasil keluar atau melampaui bentuk yang membatasi hidup kita.

Hati saudara yang sakit, pahit. Kehidupan pernikahan orang tua yang rusak, itu semua adalah form yang membatasi saudara untuk keluar dari situ.

Ada banyak anak yang saya temukan dan saya layani berkata “I hate him/her! I will never be like him/her!”. Saya benci mama karena dia dulu meninggalkan aku. Aku tidak akan pernah menjadi seperti Dia.

Tetapi coba tebak apa yang terjadi. Justru apa yang kita benci, tetapi karena menguasai hati kita menyebabkan kita kembali ada di sumuru yangs ama dan melakukan persis apa yang kita benci sebelumnya.

Saudara hanya bisa keluar dan sembuh kalau saudara transform, saudara perlu orang lain selain Kasih Tuhan untuk memberikan contoh. Karena

Karena saudara, generasi sekarang perlu contoh bagaimana papa dan mama, Bagaimana “Om, Tante” bertahan dalam pernikahan walaupun mereka berbeda. Sekarang ini terlalu gampang untuk berkata, “Ya udah kalau gak suka, just be happy”

Karena komitmen itu harus diteladankan, komitmen itu harus dicontohkan di tengah-tengah keadaan yang kita hadapi, yang dihadapi oleh generasi yang ada di depan kita. Kenapa?

Karena potensi dan kekuatan yang Tuhan tempatkan dalam diri manusia untuk menguasai dan memenuhi bumi, tersembunyi di bagian identitas dan gambar diri kita yang utuh.

Nah, keluarga ada tempat pertama identitas yang gambar diri itu dibentuk. Kalau keluarga rusak, pernikahan rusak, maka gambar diri dan identitas kita rusak. Itu yang mau dirusak supaya generasi berikutnya rusak.

Itu sebabnya kita perlu role model, kita perlu komunitas membantu kita untuk membangun pernikahan yang Tuhan inginkan. Tidak ada seorang pun di antara kita yang bisa memilih dari keluarga seperti apa kita berasal, betul nggak?

Tetapi setiap kita punya kesempatan memilih keluarga apa yang kita ingin bangun. Keluarga adalah institusi pertama yang Tuhan dirikan dan komunitas terkecil dalam sebuah masyarakat yang sangat menentukan kualitas dan kekuatan masyarakat tersebut.

Kalau kita berdoa Indonesia bisa maju, kalau kita berdoa Indonesia bisa bangkit, maka yang harus bangkit adalah pernikahan dan keluarga di dalam masyarakat dan bangsa ini , ada Amin?

Itu sebabnya penting untuk kita teladankan komitmen, apa yang kita janjikan di hadapan Tuhan kepada generasi berikutnya.

Alasan Ketiga kenapa kita bersyukur, Kita membutuhkan komunitas dimana Iman diteruskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Kita perlu tempat dimana kita bisa tularkan semua yang baik. Jadi. saudara punya tugas yang sangat besar untuk meneladankan iman percaya saudara kepada Tuhan, kepada generasi berikutnya. Setiap kita, termasuk orang tua. Itu adalah aset terbesar yang gereja miliki.

Barna di dalam bukunya yang berjudul “Faith for Exiles”. Iman buat mereka yang ada di dalam pembuangan. “5 ways for a new generation to follow Jesus in digital Babylon”. 5 cara untuk generasi yang baru bisa mengenal atau mengikuti Yesus di dalam pembuangan digital.

Karena generasi muda kita ada di dalam digital Babylon. Mereka tidak kenal lagi siapa Tuhan mereka karena mereka dalam pembungan Dunia maya. Mereka hidup di dunia maya. Mereka dikelilingi oleh dunia maya. Generasi yang paling terkoneksi sepanjang sejarah bumi ini. Karena jaman dulu kita mau telepon saja mahal, sekarang kalau anak anda di luar negeri, bisa video call berjam-jam gratis, We are connected like never before!

Tetapi masalahnya, kita hidup dalam kesendirian walaupun kita “connected”. Kita dikelilingi teman-teman secara online tetapi tidak punya sahabat yang sejati. Dunia Maya memberikan kita keramaian tetapi kita tidak hidup dalam komunitas yang sesungguhnya. Dunia Maya memberikan kita pengikut, tetapi tetapi saja dunianya kesepian karena bukan keluarga. Dunia Maya memberikan “likes” tetapi bukan “real love”, We are connected online but we are disconnected in real life.

Kalau saudara mau memenangkan generasi anak-anak kita, kita menjadi salah satu teladan yang harus dicontohkan.

Ada sebuah video yang perlu kita saksikan, sebuah keluarga yang bersaksi tentang apa yang Tuhan kerjakan di dalam kehidupan mereka. Anak-anak mereka, hampir seumur hidup mereka ada di JPCC. Mari kita saksikan kesaksian mereka.

Sharing Keluarga Rifas Limawal (DATE Facilitator)

Nama saya Rifas Limawal. Saya tertanam di JPCC sejak 2001. Saya mulai melayani di Small Group Ministry sejak 2004.

(Istri Ko RIfas, Imelda) Saya melihat bahwa Tuhan kita itu Tuhan yang hidup. Pada saat kita tidak mampu, Tuhan yang memampukan. Langkah kita kalau buat saya saat itu sudah begitu jauh.

(Anak-anak) Dan saya ingat pada 2018, saya akhirnya memutuskan untuk dibaptis juga dan sekalian pelayanan.

(Ko Rifas) Semua perjalanan yang kita alami, yang kita tahu bahwa ini semua adalah kebaikan Tuhan. Jadi, untuk memutuskan menjadi DATE leader bukan dibilang mudah juga, tetapi itu menjadi satu prinsip dimana kami melihat bahwa kebaikan Tuhan kami balas dengan melayani Dia, melayani Dia melalui orang-orang yang ada di sekitar kita.

(Anak-anak)Tetapi saya memutuskan untuk pelayanan, saya ingat saya bertanya pada diri saya sendiri. What can I do to give back, istilahnya.

(Ko Rifas) Yang saya berikan kepada mereka hanya dasar dan teladan. Setelah itu mereka menghidupi dengan keputusan mereka sendiri.

(Anak-anak) Kita punya attitude, kita punya “unconscious behavior”, itu semua dibentuk oleh papa mama, tidak hanya dalam pelayanan tetapi dalam kehidupan sehari-hari, papa mama selalu murah hati. Mungkin mereka sudah tidak ingat sama sekali dengan apa yang mereka lakukan selama ini, hal-hal kecil yang kita sebagai anak, kita perhatikan dan itu menjadi suatu hal yang krusial untuk pertumbuhan iman kita sebagai anak-anak.

(Ci Imelda) Anak-anak itu saya cuman Kasih tahu kuncinya, kamu harus cari dulu Tuhan. Tuhan itu dengan kebenaran dan kemegahanNya, kita harus mengenal Dia lebih jauh.

(Anak-anak) Kami punya iman sudah dibentuk dalam komunitas kecil kami. Kita kan sudah di gereja semenjak usia bayi, sampai kita masuk ke Little Heaven, Kingdom Kids, Christ Crew, Youth, sampai sekarang kita DATE, semua dan setiap stage itu merubah dan membentuk kita punya attitude, bagaimana kita berperilaku di gereja, tapi juga bagaimana kita juga berperilaku di kehidupan sehari-hari.

(Anak-anak) Kita juga selalu diingatkan baik di gereja, baik lewat orang tua, dari kita berdua juga bahwa tidak ada pertumbuhan dalam kesendirian.

Gereja Tuhan berdiri melintasi zaman, dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Bilangan Research menunjukkan 61,5% Gen Z hidup dalam kesepian, saudara. Mereka hidup dalam kesepian, walaupun mereka terkoneksi di dunia maya, 61,5%. Dan dari penelitian itu, ditunjukkan bahwa gereja apa yang mereka cari sebenarnya, mereka kesepian. Dan yang mereka cari dalam riset itu menunjukkan bahwa mereka ingin menemukan relasi yang hangat.

Gereja yang mereka cari adalah komunitas yang hangat dan peduli, itu hasil riset menunjukkan sebesar 33,5%. Mereka tidak mencari keanggotaan saja, tetapi mereka mencari relasi sebenarnya. That’s what they need.

Ini sebabnya gereja ini bukan cuma jadi event organizer, tapi menjadi tempat dimana kita mencoba menjangkau mereka, sebagaimana yang tadi Barna katakan. Sulit untuk gereja bisa menjangkau generasi muda apabila membangun hubungan tidak menjadi nilai utama.

Fungsi dan tugas kita terutama adalah membangun hubungan dengan mereka, mencontohkan kehidupan. Jadi saya bayangkan kalau saudara salah satu guru, small group leaders daripada anak-anak itu. Saudara menaburkan benih-benih yang sangat terharga.

Especially all the small group leaders yang sekarang ini. Kalian sudah menaburkan sesuatu 20, 30, 40 tahun dari sekarang. Building habits together

Sharing Ps. Jose – Tadi pagi di LIFT sewaktu saya datang, ada seorang small group leader yang naik atau menggunakan wheelchair.

Saya tanya kenapa, dia bilang, ACL robek, Namanya Jessica. Jessica di sini? You’re here, Jess. Dia di wheelchair. Saya tanya, cedera main padel? Karena kalau dia main padel, saya sudah pengen marah saja.

Tetapi bukan katanya, Dia cedera saat melayani, karena melakukan gerakan tertentu, yang membuat dia cedera. Yang saya tertarik adalah anaknya Joseph, mendorong dia.

Saudara tidak pernah sadar apa yang Joseph pelajari. Makanya sudah on wheelchair melayani, pagi-pagi datang melayani, itu adalah habit yang saudara bangun. Tidak bisa saudara bangun itu, saudara ingin anak-anak saudara tumbuh besar takut sama Tuhan. Punya kesabaran, punya kebaikan hati. Punya kemurahan, setia, punya komitmen. Just because you preach on them, tidak bisa, you need to show them. You need to build your habit.

Dan itu day after day, week after week, dan komunitas inilah yang saudara butuhkan. Dan komunitas seperti inilah. Makanya saya applaud semua yang melayani generasi berikutnya. Karena itu yang kita ingin lihat di tahun-tahunya akan datang.

Karena warisan terbesar yang otang tua kita berikan kepada anak-anak kita adalah karakter dan iman.

Sebagai penutup, saya tahu bahwa masih ada banyak ribuan cerita yang bisa kita angkat hari ini. Thousand of stories of yours. Semua itu terjadi bukan karena kita gereja sempurna, semuanya terjadi karena kita punya juru selamat yang sempurna, namanya Yesus yang terus membangun gerejaNya melalui kita, orang-orang yang tidak sempurna.

Jadi kembali kepada pertanyaan awal, kalau saya sudah punya Yesus yang sempurna, mengapa saya masih perlu gereja yang tidak sempurna?

Saya berharap saudara sudah punya jawabannya. Karena Yesus yang sempurna memilih untuk membentuk kita melalui keluarga yang sedang disempurnakan.

Misi JPCC adalah membangun generasi-generasi bintang yang berkenan kepada Allah dan dihormati manusia. Jadi, membangun keluarga dan generasi adalah kesempatan terbesar kita sebagai gereja untuk berpersan serta menghadirkan Surga di bumi.

izinkan saya tinggalkan pertanyaan-pertanyaan ini. Apa yang terjadi dalam hidup saudara kalau Tuhan tidak pernah tempatkan saudara di keluarga rohani?

Siapa yang sudah Tuhan pakai membawa saudara kepada Tuhan Yesus? Siapa yang pernah mendoakan saudara waktu saudara hampir menyerah, siapa yang mengingatkan pada saudara ketika mulai menjauh, siapa yang masih berjalan bersama dengan saudara sampai hari ini, saya berharap hari ini saudara merayakan orang-orang itu dan bersyukur kepada Tuhan.

Pada waktu kita menyembah Tuhan, saya mau saudara mendoakan orang-orang itu dan menghargai orang-orang itu di hadapan Tuhan dalam hati dan doa saudara. This is the Gift of Community.

Sekarang pertanyaannya, Siapa yang Tuhan ingin saya kuatkan, saya kasihi dan saya bimbing di dalam keluargaNya?

Karena itulah Gereja, sebuah keluarga yang saling membawa satu dengan lain semakin dekat pada Tuhan.

Ps: Hi friends! Due to high domain renewal costs, access to 316notes might be temporarily paused starting June 19th. We’re so sorry for the inconvenience! If this blog has blessed you and you feel led to help keep it running, you can support us below. Thank you, and God bless! Link: https://saweria.co/316notes