A Just Cause By Ps. Rich Wilkerson Jr.

JPCC Online Service (13 December 2020)

Halo JPCC! Sungguh merupakan kehormatan dan kesempatan istimewa untuk saya bisa hadir dan berkotbah disini. Saya dan istri saya menyampaikan salam kasih kami. Kalau saya lihat kembali perjalanan pelayanan kami, salah satu momen favorit kami adalah disaat melayani di JPCC. Kalian menginspirasi kami dalam berbagai hal, terutama dengan kepemimpinan Ps. Jeffrey dan Angela.

Lima tahun lalu disaat kami memulai gereja kami yang bernama Vous Church. Sebelum gereja dibuka dan orang-orang mulai datang, Ps. Jeffrey menghubungi saya dan berkata “Kami mau mengambil bagian dalam Mukjizat yang terjadi di Miami. Kami mau menabur benih yang besar, bantuan finansial untuk pembangunan gereja.”

Sungguh luar biasa, mereka memberikan salah satu persembahan terbesar yang pernah kami terima sampai sekarang, dan itu bahkan sebelum pintu gereja kami terbuka. Begitulah kebaikan Pemimpin dan Gembala Sidang anda, jadi saya sangat bersyukur bisa mengenal dan punya hubungan yang baik dengan mereka. Jadi berdoalah untuk pemimpin anda, terutama di masa sulit ini, mereka perlu tahu bahwa kita semua mendukung mereka.

We love you guys! Bagi yang belum mengenal saya, nama saya Rich Wilkerson Jr. Saya sudah menikah selama 14 tahun dengan istri saya, Dawnchere. Kami berdua menggembalakan Gereja Vous Church di Miami dan ini adalah tahun kelima pelayanan kami disana. Kami juga sekarang telah menjadi orang tua, saat terakhir saya berkotbah di JPCC saya belum punya anak dan kami sebelumnya bergumul dengan infertilitas selama 8 tahun.

Tetapi setelah terus mencoba, Tuhan membuka jalan dan memberikan kami sukacita terbesar dalam hidup kami, yaitu anak kami yang bernama Wyatt Wesley Wilkerson. Dan Tuhan selalu memberikan lebih dari apa yang kami doakan karena dua tahun lalu istri saya kembali melahirkan anak kedua kami yang bernama Wild Wesley Wilkerson. I love my family dan mereka semua memberikan salam kasih kepada kalian semua.

Saya tahu tema gereja di JPCC bulan ini adalah tentang Reset. Saya pikir ini adalah hal yang penting terutama di akhir tahun dimana kita bisa mengambil waktu untuk reset dan bertanya, “Apa yang aku percaya dan apa yang menjadi fondasi hidupku? Kemana aku sedang mengarahkan hidupku?”

Arah selalu lebih penting daripada kecepatan. Saya ingin melihat suatu ayat di perjanjian lama yang sesuai dengan tema bulan ini.

Opening Verse – “Now what have I done?” said David. “Can’t I even speak?” He then turned away to someone else and brought up the same matter, and the men answered him as before. What David said was overheard and reported to Saul, and Saul sent for him. David said to Saul, “Let no one lose heart on account of this Philistine; your servant will go and fight him.” 1 Samuel 17:29‭-‬32 NIV

Seiring kita memasuki akhir tahun 2020, saya merasakan bahwa Tuhan ingin agar saya berkotbah tentang ini kepada kita semua. Banyak tantangan menanti kita, apakah kita siap memasuki tahun yang baru? Saya suka dengan bagaimana David siap untuk bertarung, membantu dan melayani. Kita perlu Pemimpin yang mau melayani, memasuki tahun 2021.

Saya ingin berkotbah tentang hal ini, A just cause atau Alasan yang kuat. Gereja kami saat ini sedang membahas kumpulan kotbah tematik berjudul “Play the long game”. Pembahasan ini sangat menyegarkan dan memberikan perspektif yang baru utamanya di tahun 2020 dengan semua kesulitan yang kita hadapi.

We’re not trying to be an overnight success. We’re aiming to create an overtime impact.
Tujuan Gereja kita, pernikahan kita, keluarga kita, dan juga bisnis serta pekerjaan kita bukanlah kesuksesan dalam semalam, melainkan adalah dampak yang berkelanjutan. Saya bisa mengajari anda untuk bertumbuh terus menerus tetapi saya tidak bisa mengajar anda bertumbuh dalam semalam.

Kita tidak membangun gereja, bisnis, pernikahan dan keluarga yang baik dalam semalam, kita membangunnya terus menerus. Saya ingin menjadi orang yang selalu bisa merayakan seauatu dalam setiap musim yang ada karena hidup ini adalah bagian dari proses. Saya mau menjadi orang yang tidak hanya merayakan sukses, saya mau menjadi orang yang merayakan setiap langkah di dalam proses. Karena bukan hanya hasilnya yang dicari, setiap langkah yang ada di dalamnya berharga dan saya ingin menghargai setiap momen yang ada.

Supporting Verse – I planted the seed, Apollos watered it, but God has been making it grow. 1 Corinthians 3:6 NIV

Tuhan yang memberikan pertumbuhan dan pertambahan. Kita hanya menanam dan menyiramnya, kita belajar untuk bersyukur dan memuji Tuhan baik disaat hari cerah ataupun hujan.

Supporting Verse – and said: “Naked I came from my mother’s womb, and naked I will depart. The Lord gave and the Lord has taken away; may the name of the Lord be praised.” Job 1:21 NIV

Dalam masa tergelap Ayub, dia masih bisa Berkata-kata seperti itu dan memuji Tuhan. Apapun kondisi dan situasi yang terlihat, Tuhan tetap baik dan layak dipuji dan disembah. Kita mau bermain permainan yang panjang (long game), kita tidak mau menyimpang dan bermain permainan yang pendek (short game). Short game selalu terpacu dengan hasil yang instant, dan hanya terlihat dari luar.

Orang yang suka short game atau jalan pintas adalah orang yang suka menghindar dari kesulitan dan hanya ingin sesuatu yang gampang dan enak. Karena itu semua memberikan kenikmatan yang segera. Tetapi bermain untuk jangka panjang, hasilnya tidak bisa segera dilihat.

Hanya karena kita belajar untuk satu ujian bukan berarti kita akan terus mendapat nilai A. Hanya karena kita pergi ke gym sekali bukan berarti kesehatan kita akan selalu prima. Hanya karena kita makan daging ayam dan brokoli sekali, bukan berarti kita akan langsung sehat. Hanya karena kita berhasil tidur delapan jam sehari, bukan berarti kita akan langsung mendapat manfaatnya besok. Semua hasil didapat seiring waktu.

Saya prihartin karena hari-hari ini, banyak orang suka menunda sampai besok hari. Jika kita sibuk berencana untuk “besok saja deh”, kita akan menyia-nyiakan hari ini. Saya ingin kita semua punya visi dan arah yang jelas untuk keluarga, iman, dan rumah tangga kita. Arah jauh lebih penting daripada kecepatan.

Bermain untuk jangka panjang, Bagaimana untuk memulainya? Saya membaca sebuah buku berjudul “The Infinite Game” by Simon Sinek. Dia adalah seorang motivational speaker dan juga leadership teacher, intisari dari buka itu adalah bahwa setiap dari setiap dari kita perlu tujuan hidup yang lebih besar dari dirinya sendiri. Kita butuh tujuan serta alasan yang lebih besar dan ini berfokus pada Pemimpin dan organisasi.

Dia katakan bahwa, “Para Pemimpin yang memiliki alasan kuat atau a just cause, adalah pemimpin yang bisa menciptakan atmosfir dimana orang bisa melihat visi jangka panjang dan dapat melakukan bagiannya disana. Pemimpin yang bijak memikirkan generasi yang akan datang.”

Apakah kita hanya memikirkan hari ini? Ataukah kita juga memikirkan generasi yang akan datang?

Di Miami, kami memulai gereja 5 tahun yang lalu namun saya tidak ingin berpuas diri dengan ini, saya ingin bermimpi lebih besar dan menunjukkan apa yang menjadi “alasan kuat” saya, atau “a just cause”.  A just cause yang mengatakan mengapa visi dan misi kami perlu berlanjut sekalipun saya sudah tidak ada.

Jika kita adalah bagian dari Jemaat Yesus Kristus, kita tidak sekedar memiliki sebuah alasan, kita tidak hanya memiliki alasan yang kuat atau a just cause, tetapi kita juga memiliki alasan terbaik di dunia.

Supporting Verse – And I tell you that you are Peter, and on this rock I will build my church, and the gates of Hades will not overcome it. Matthew 16:18 NIV

Gereja Tuhan begitu progresif, bahkan cenderung agresif sampai alam maut sekalipun tidak dapat menghentikan pekerjaan Tuhan di dalamnya. Kita dipanggil untuk membawa pulang mereka yang terluka, menolong mereka yang jauh dari Tuhan kembali dekat kepadaNya.

Itulah alasan kita, dan itulah alasan terbaik. Kita harus punya satu alasan (cause). Dan saat kita melakukan reset dan mempersiapkan diri di tahun yang baru, pikirkanlah apa yang menjadi alasan atau cause anda.

Mari kita lihat kembali di ayat 1 Samuel 17 dari Kisah Daud dan Goliat,  diceritakan bahwa Daud adalah seorang remaja berumur 13-17 tahun, bekerja sebagai gembala untuk ayahnya dan dikirim untuk membawa pembekalan bagi kakak-kakaknya yang tergabung dalam tentara Israel.

Saat ia tiba di tempat pertempuran, ia kaget dengan apa yang dilihatnya. Bukan pertempuran yang dilihatnya, melainkan kedua pasukan hanya duduk dan menunggu selama 40 hari dan 40 malam. Bangsa Israel menunggu tanpa semangat karena ada Goliat di pasukan Filistin. Seorang raksasa dengan tinggi sekitar 3 meter.

Goliat memberikan tantangan, daurpada pertempuran antara kedua pasukan, dia memberi tantangan berupa duel, Pahlawan terbaik Israel dengan dirinya dan pemenangnya akan menang mewakili bangsanya.

Tentara Israel takut menghadapi Goliat dan setiap dari kita harus menghadapi banyak “Goliat” dalam perjalanan iman kita. Setiapkali kita menghadapi masalah, hambatan dan tantangan menuju tempat yang Tuhan rencanakan untuk kita pertanyannya, Apakah kita mau menghadapinya? Apakah kita bersedia bertarung dan menaklukannya?

A cause is a reason; a motive, for some type of human action.
Tidak ada akibat tanpa sebuah sebab, untuk mencapai sesuatu, kita harus punya alasan untuk mencapainya. Tanpa alasan atau motif yang kuat, kita tidak akan berhasil.

Hari ini, apakah Iman kita tidak lagi menghasilkan buah? Apakah gereja kita tidak lagi menghasilkan buah? Apakah hubungan kita tidak lagi menghasilkan buah? Apakah kehidupan doa kita tidak lagi menghasilkan buah? Mengapa banyak hal ini jadi tidak menghasilkan? Karena kita kehilangan alasan atau cause yang memotivasi kita.

Kalau kita mau mengubah hasilnya (akibat), kita harus mengganti dasarnya (sebab). Daud berkata diatas bahwa dia punya Dasarnya, dia punya alasan untuk melawan Goliat. Dia tidak mau menjadi penonton dan ingin berjuang untuk Bangsanya.

Saua tidak mau kehidupan kristen saya jika tidak menghasilkan buah. Saya tidak mau hanya menjadi penonton dan kehilangan kesempatan. Saya mau ikut berperang, kalau kita hanya menjadi penonton, kita tidak akan pernah mencapai kemenangan yang sudah Tuhan sediakan.

Raksasa “Goliat” menghalangi kita untuk mencapai Janji Tuhan. Jadi harus ada yang berani maju dan melawannya. Siapkah kita untuk bertarung?

Kita tidak akan berani bertarung tanpa alasan yang kuat. Generasi ini tidak butuh sebuah alasan untuk dihidupi, melainkan sebuah alasan yang patut diperjuangkan sampai mati.

Saya percaya, inilah panggilan Tuhan bagi kita semua. Satu alasan kekal untuk kita pergi, mencari yang terhilang dan membawanya kepada Tuhan, membangun rumahNya di bumi yakni GerejaNya. Ini adalah sebuah alasan yang tak hanya layak dihidupi, tetapi juga layak diperjuangkan sampai mati.

Bangkitkan kembali gairah kita untuk tahun yang baru, inilah tahun kita reset dan membangun fondasi kita. Kita harus punya alasan yang kuat kalau kita mau sungguh berdampak. A just cause.

Mari saya tunjukkan beberapa tanda dari kehidupan Daud memgenai seperti apa alasan yang kuat atau Just Cause itu. You will never conquer that which you’re unwilling to face. Kita tidak akan pernah menaklukan sesuatu yang tidak mau kita hadapi. Hari ini saya mendeklarasikan bahwa The Best is yet to come for JPCC. Tuhan akan bergerak di Jakarta di dalam dan melalui gereja ini. Mari memikirkan generasi yang akan datang.

Tiga hal yang menurut saya menunjukkan alasan yang kuat (A Just Cause) dari Kisah Daud :

1. Manage the Monotony

Supporting Verse – Saul replied, “You are not able to go out against this Philistine and fight him; you are only a young man, and he has been a warrior from his youth.” But David said to Saul, “Your servant has been keeping his father’s sheep. When a lion or a bear came and carried off a sheep from the flock, I went after it, struck it and rescued the sheep from its mouth. When it turned on me, I seized it by its hair, struck it and killed it. Your servant has killed both the lion and the bear; this uncircumcised Philistine will be like one of them, because he has defied the armies of the living God. The Lord who rescued me from the paw of the lion and the paw of the bear will rescue me from the hand of this Philistine.” Saul said to David, “Go, and the Lord be with you.” 1 Samuel 17:33‭-‬37 NIV

Jika kita ingin punya alasan yang kuat, Kita harus belajar mengelola rutinitas or manage the monotony.

Kata monotony atau rutinitas menunjukkan aktifitas yang sama dan tidak banyak variasi. Sesuatu yang sederhana, diulang-ulang dan membosankan. Seperti yang kita alami tahun ini, semua orang ingin mengalami hal yang baru. Saya tidak menentang variasi dan hal-hal yang baru.

Kekuatiran saya adalah bahwa orang tidak memahami bahwa tanpa komitmen, kita akan menjadi orang yang dangkal. Komitmen memberi kedalaman di setiap area kehidupan kita. Komitmen membuat kita memulai dan bertahan. Komitmen menguatkan hubungan dan pernikahan kita, membuat pekerjaan kita lebih baik.

Komitmen membuat iman kita semakin kokoh, mengubah impian menjadi kenyataan. Ada banyak orang hari ini yang tidak bersedia untuk berkomitmen. Komitmen diuji di dalam rutinitas. Komitmen mengulangi hal yang sama dan terlihat saat kebosanan muncul.

Komitmen ditemukan bukan diatas panggung, melainkan saat kita ada di belakang layar. Kita tahu Daud punya alasan yang kuat karena dia bisa mengelola rutinitas dalam hidupnya. Seperti apa yang dikatakan olehnya kepada Raja Saul mengenai pengalaman bertarungnya. Menjadi gembala adalah salah satu pekerjaan yang monoton dan membosankan, dan kurang dihargai. Namun Daud melakukan ini setiap hari dengan hati seorang pengelola yang bertanggung jawab. Ia melakukan tugasnya dengan baik.

God always prepares us in private before He promotes us in public.

Kita harus bertarung dengan sejumlah masalah di belakang layar sebelum Tuhan mempromosikan kita secara publik. Perhatikan rutinitas kita, apakah kita mengelolanya dengan baik? Semua orang ingin menaklukan raksasa, tetapi hanya sedikit yang mau menjaga domba.

Apa artinya menjaga domba? Saya sendiri belum pernah menjadi seorang gembala. Tetapi saya mencoba memikirkannya. Pastinya kita harus selalu bersama domba, memberi mereka makan, dan memberikan apa yang kita punya untuk mereka. Domba sering menyimpang jauh jadi kita harus pergi mencari mereka, dan melindungi mereka.

Daud berkata bahwa dia pasti bisa menghadapi raksasa, karena ini bukan pertarungan pertama untuknya. Meskipun belum pernah terlihat secara publik, tetapi dia pernah melawan singa dan beruang dan dia berhasil mengalahkannya. Dia berhasil mengelola rutinitas kehidupannya.

Apakah kita sudah mengelola rutinitas kita dengan baik? Karena disanalah komitmen kita dibuktikan. Baik itu dalam pernikahan, rumah tangga, dan iman.

Karena kita tidak selalu berada di atas, seperti yang dikatakan di Kitab Mazmur. Kita tahu bahwa Daud adalah seorang yang ada dalam hatiNya Tuhan karena dia berhasil mengelola rutinitasnya dengan baik. Bahkan disaat Tuhan sepertinya tidak ada, Daud tetap konsisten memujiNya.

Apakah kita menjaga rutinitas gereja dengan baik? Dengan cara hadir dalam pertemuan virtual yang ada? Teruslah berhubungan dan saling menopang satu sama lain. Bukan hanya secara finansial, tetapi juga saling menguatkan satu sama lain. Ambil waktu untuk menghubungi mereka dan tanya kondisi mereka.

Pekerjaan kita bukanlah testimoni kita, kesaksian kita adalah Tuhan menempatkan kita dalam pekerjaan kita supaya kita dapat menggunakan posisi kita ini untuk membawa pulang mereka yang terluka, domba-domba yang tersesat.

How you manage monotony determines your commitment to the mission.
Ini saat yang baik untuk reset, melihat rutinitas kita, hal-hal yang tidak terlihat oleh orang lain seperti di padang rumput menggembalakan, kita akan mengelolanya dengan baik karena kita punya alasan yang kuat (A just cause).

2. Clarify the Calling.


Supporting Verse – Then Saul dressed David in his own tunic. He put a coat of armor on him and a bronze helmet on his head. David fastened on his sword over the tunic and tried walking around, because he was not used to them. “I cannot go in these,” he said to Saul, “because I am not used to them.” So he took them off. 1 Samuel 17:38‭-‬39 NIV

Sangat penting ketika kita punya alasan yang kuat, kita terus mengklarifikasi panggilan kita. Seperti apa yang dikatakan oleh Daud kepada Raja Saul. Ironis melihat Raja Saul yang menasihati Daud, padahal dia adalah salah satu orang yang takut menghadapi Goliat. Penakut tidak layak menasihati para pemberani. Daud sudah punya sumber daya yang luar biasa melalui Tuhan dan dia tak bisa memakai baju perang Raja Saul.

Calling speaks to the unique purpose; the unique design, that God has placed in your life.
Kita diciptakan secara dahsyat dan ajaib, Tuhan punya panggilan khusus untuk setiap dari kita dan merancang talenta dan kepribadian kita untuk tujuan tertentu. Tidak ada yang kebetulan dan semua terencana untuk sebuah rencana. Tetapi itu tergantung dari kita untuk mengelola dan memperjelas panggilan khusus kita.

Mengapa? Karena apa yang kita tolak sama penting dengan apa yang kita iyakan. Saat kita melakukan reset sekarang dan menyiapkan diri untuk tahun yang baru, kita perlu melihat apa yang perlu kita hentikan dan perjelas.

Jika kita tidak memperjelas panggilan kita, kita akan mudah goyah menghadapi kritik dan perbandingan. Lihat saja kehidupan Daud yang selalu dikritik, akan selalu ada orang yang akan mengatakan bahwa kita tidak bisa melakukan sesuatu untuk Tuhan. Pastikan kita tidak mendengar suara yang salah. Pastikan kita memahami bahwa penolakan tidak selalu berarti kita menuju ke arah yang salah.

Seringkali penolakan itu adalah tanda bahwa Kita sedang melawan musuh, dan Tuhan akan berperang bagi kita. Jangan mundur karena kritik. Waspadalah juga dengan Perbandingan. Dunia kita hari ini terobsesi untuk membanding-bandingkan hidup kita dengan orang lain. Seperti media sosial, itu hanyalah sarana, apakah anda memanfaatkannya atau sebaliknya dimanfaatkan olehnya?

Banyak dari kita kelelahan, rasa cemas kita meningkat, semakin depresi. Kita melihat kehidupan orang lain, melalui unggahan foto mereka, dan berkata “wah hidup mereka enak sekali”. Pernahkah di media sosial kita berkata, “Aku tidak tahu betapa tidak bahagianya aku sampai aku menemukan betapa bahagianya orang lain”.

Comparison kill our contentment and crush our calling. Lihat apa yang terjadi dengan Daud, dia mengenakan baju perang dan mencoba berjalan tetapi dia tahu bahwa baju perang itu tidak dibuat untuknya. Baju perang itu dibuat untuk Raja Saul, dan dia tidak bisa berperang seperti Raja Saul. Dia akan me jadi dirinya sendiri saja.

Ketika kita berusaha menjalani panggilan hidup orang lain, tidak ada kasih karunia di dalamnya. Tuhan tidak memberi kita karunia dalam perbandingan orang lain, kita mendapat karunia untuk pertandingan kita sendiri. Panggilan kita, kepribadian kita, talenta kita, itu seperti baju perang dan senjata kita untuk berperang.

Namun ketika kita mencoba memakai baju perang orang lain, apa yang seharusnya melindungi kita akan berbalik melemahkan kita. Beberapa dari kita sekarang mungkin merasa susah untuk bergerak dan melangkah maju, mungkin penyebabnya adalah karena kita memakai baju perang orang lain. Kita tidak akan pernah menang dalam peperangan sehari-hari ketika berusaha bertarung dalam baju perang orang lain.

Ini waktunya menjadi diri sendiri. Sia-sia berusaha menjadi orang lain, bangkit dan majulah, hiduplah sesuai rancangan Tuhan bagimu. Kita punya alasan yang kuat, a just cause, untuk hidup menghasilkan buah.

3. Prepare for the Battle.

Supporting Verse – Then he took his staff in his hand, chose five smooth stones from the stream, put them in the pouch of his shepherd’s bag and, with his sling in his hand, approached the Philistine. 1 Samuel 17:40 NIV

Kita harus bersiap untuk bertemour, Daud bangkit dari hadapan Saul, melepaskan baju perangnya dan berkata “Aku harus pergi sesuai dengan panggilan Tuhan”. Dia lalu mengambil umban dan tongkatnya. Sebelum dia mendekati orang filistin itu, dia singgah dekat sungai dan mengambil lima batu yang licin dan ditaruh dalam tasnya.

Disini kita melihat Daud siap untuk bertarung. Setiap dari kita saat ini disaat bersiap melakukan reset, kita harus bersiap menghadapi apa yang akan datang, menghadapi tantangan di depan kita. Jangan hanya mengharapkan dan menantikan Mukjizat, bersiaplah menerimanya! Jangan hanya mengharapkan terobosan, bersiaplah menerimanya!

Give me six hours to chop down a tree and I will spend the first four sharpening the axe – Abraham Lincoln
Kita harus melakukan persiapan. Agar pohon yang besar bisa tumbang kita harus melakukan persiapan dengan waktu yang cukup sebelumnya. Siapkan dirimu untuk bertarung.

Bersama Tuhan, tidak ada musim yang sia-sia. Saya percaya tahun 2020 adalah tahun persiapan. Setelah ini ada hal-hal baik yang menanti kita, saya percaya akan adanya kebangunan rohani, pemulihan pernikahan, terobosan dan kesembuhan.

Namun saya tidak hanya berdoa dan berharap untuk itu, saya juga menyiapkan diri untuk bertempur. Saya tidak tahu apa yang menanti saya, yang saya tahu adalah :

All you have is all you need.

Perhatikan senjata sederhana yang Daud miliki. Sebuah umban dan tungkat, itu adalah senjata yang sederhana. Bukankah demikian Kasih Karunia dari Tuhan kita?

Dia memilih yang dianggap bodoh oleh dunia untuk membuat yang pandai malu. Dia memilih yang dianggap lemah untuk membuat yang kuat malu. Dia memilih yang dianggap rendah, hina dan tidak berarti untuk menghancurkan yang dianggap berarti oleh dunia. Tuhan berkata : All you have is all you need. Persiapkan diri dan melangkahlah maju. Hadapi Tantangan, yakin bahwa Tuhan beserta kita.

Menarik bahwa Daud memilih lima batu yang licin. Lima adalah angka penting di Alkitab, karena itu adalah angka kasih karunia. Di gereja kami saat ini, lima adalah angka yang sering kami bicarakan. 5 tahun lalu kami melangkah dengan iman dengan sebuah mimpi di hati kami. Hingga 5 tahun setelahnya Tuhan terus memenuhi kebutuhan kami melalui kasih karuniaNya yang ajaib.

Kasih Karunianya mendorong dan menjamah kami, memberkati area hidup kami yang lemah dan rusak. Dia memancarkan kekuatanNya melalui kami. Kita membutuhkan Kasih KaruniaNya, berikan apa yang kita bisa dan kita akan menemukan itulah modal yang kita butuhkan. Serahkan semua kepadaNya.

Saya suka Daud, dan kita tahu bahwa dia mengambil lima batu dalam persiapannya menghadapi Goliat. Beberapa ahli teologi menemukan bahwa Goliat juga mempunyai empat saudara lainnya yang juga raksasa.

Saya suka membayangkan Daud berkata, “Aku tahu ada satu raksasa di puncak bukit sana yang aku harus hadapi tapi aku dengar dja punya empat saudara, jadi aku akan ambil empat batu lagi karena aku tidak tahu apa yang akan terjadi ketika maju melawannya. Aku akan maju dengan persiapan penuh, aku siap kalau raksasa ini tumbang, aku tidak akan kaget kalau ada raksasa-raksasa lain yang datang.”

Akan selalu ada tantangan dan hambatan, pihak yang tidak sependapat, bahkan semakin besar dan dahsyat visinya, semakin besar tantangannya, namun mengapa kita tidak persiapkan saja lima batu?

Apapun tantangan yang datang, aku tidak akan mundur, aku punya alasan yang kuat dan dahsyat, dan layak diperjuangkan sampai mati. Apapun rintangan yang menghadang, akan kuhadapi karena Allah sumber kasih karunia menyertai aku.

Kita bisa lihat bahwa satu orang dengan alasan yang kuat dapat menyelamatkan bangsa Israel. Kita mau reset tahun ini dan melangkah maju untuk mencapai apa yang Tuhan siapkan untuk kita, yang dibutuhkan adalah alasan yang kuat atau a just cause.

Yesus punya alasan yang kuat, yang membawaNya datang ke dunia. His Just Cause, Alasan KuatNya adalah untuk memenangkan kita. Kisah Daud yang saya bagikan hanyalah bayangan dari kisah yang jauh lebih besar dan hebat bernama Yesus.

Yesus adalah Daud yang sejati. Nama Daud berarti “yang dikasihi”, sementara nama Yesus adalah, “yang dikasihi Allah”. Daud dan Yesus, sama-sama lahir di Betlehem. Keduanya direndahkan oleh saudara-saudara mereka, dikritik tetapi keduanya berani maju untuk bertarung.

Daud dengan satu batu menumbangkan Goliat dan kemenangannya menjadi kemenangan bangsanya. Dan dua ribu tahun yang lalu di sebuah salib yang mengerikan, Yesus turun ke dunia orang mati mengalahkan maut dan kemenanganNya yang tunggal menjadi kemenangan kita.

Alasan kuatNya adalah untuk membawa kita kembali dalam hubungan dengan Allah. Alasan inilah yang sekarang layak mendapatkan segenap hidup kita.

Saat saya mulai menjalani hidup saya dengan alasan yang diberikan Yesus, dampak kehidupan saya mulai tampak dengan jelas untuk generasi yang akan datang. Hari ini adalah waktu yang baik untuk reset, kelola apapun yang sifatnya monoton, perjelas panggilan hidup kita, dan bersiaplah untuk sebuah pertarungan.