JPCC Sutera Hall 2nd Service (22 February 2026)
Wow! Can we give the best ‘Shout’ to Our Lord, Jesus Christ? Come on! Thank You Lord! Hallelujah. Selamat siang JPCC dan buat semua yang menonton secara online, Happy Sunday! How are you all? Welcome to Church! Mari kita apresiasi untuk semua volunteers yang sudah melayani baik di atas panggung atau yang tidak kelihatan, baik juga yang melayani di Next-Gen Ministry, semua DATE leaders, serta semua dari saudara yang hari ini sudah melayani dengan begitu setia di rumah Tuhan. Thank You!
Dan hari ini senang bisa kembali di Sutera Hall, tadi Kristof bilang saya jauh banget kayaknya tiap kesini yah dari UpperRoom. It’s not that far, hari minggu masih okay” lah ya jika 25 menit sudah sampai? Senang bisa berada disini kembali. “Gong Xi Fa Chai” bagi semua yang merayakan Imlek, semoga ‘balik modal’ bagi yang punya anak banyak. It’s time to give, dan saya harap saudara memiliki waktu yang nyaman dan berkualitas dengan keluarga masing-masing.
Hari ini kita akan lanjutkan pembelajaran kita, seperti saudara tahu, kita ada dalam seri pembelajaran “The Flourishing Heart“. Kita bicara tentang ‘relationships’. Dan hari ini kita melanjutkan dan bahkan menutup seri “The Flourishing Heart”. Sedikit recap untuk saudara, mungkin ada beberapa yang “miss” mungkin di minggu pertama atau kedua. Ijinkan saya memberikan sedikit recap.
Beberapa minggu ini kita sudah belajar bahwa yang pertama-tama adalah banyak kualitas hubungan kita dengan Tuhan yang akan menentukan kualitas hubungan kita dengan sesama kita. Kalau hubungan kita dengan Tuhan baik, kuat, maka sudah seharusnya kita akan memiliki kualitas hubungan dengan sesama kita secara horizontal dengan baik juga.
Itu sebabnya penting saudara, dalam hidup kita sehari-hari sebagai anak Tuhan, kita harus pastikan Tuhan itu tetap menjadi sumber yang terutama dalam hidup kita. Terkadang kita tergoda untuk membangun ‘kolam-kolam’ yang lainnya. Ingat bahwa di minggu pertama kita bahas tentang “kolam yang bocor”.
Terkadang kita sehari-hari secara tidak sengaja, kita jadikan yang lain-lainnya jadi sumber. Padahal itu semua adalah kolam-kolam yang bocor. Hanya Tuhan yang bisa memulihkan kita, hanya Tuhan yang bisa menjadi sumber yang tidak pernah habis di dalam kehidupan kita.
Lalu di minggu-minggu berikutnya, kita juga belajar bahwa “Healing comes before flourishing”. Kalau kita mau punya hubungan-hubungan yang ‘flourish’ di dalam kehidupan kita, kita harus pastikan hati kita ini terlebih dahulu kita izinkan untuk Tuhan pulihkan. Karena kalau tidak, kita akan bawa begitu banyak “bagasi-bagasi” yang tidak baik dalam hubungan-hubungan kita.
Kembali lagi ke poin yang pertama, yaitu kenapa kita perlu Tuhan yang menjadi sumber. Karena sebagai anak-anak Tuhan, kalau saudara sudah ikut Tuhan lama, terkadang “it takes time”. Ada hal-hal yang Tuhan singkapkan di awal perjalanan kita sama Tuhan, tetapi juga ada hal-hal lainnya yang Tuhan terus singkapkan “along the way”, kenapa?
Karena kita setiap hari dimurnikan, kita setiap hari mau didewasakan oleh Tuhan. Nah, itu sebabnya penting untuk kita punya hati yang terus terbuka sama Tuhan, dan mengijinkan Dia untuk ‘doing the heart surgery in our lives’. Karena kalau kita mau punya hubungan yang sehat, hati kita ini harus pulih terlebih dahulu.
Nah, hari ini kita akan teruskan pembelajaran kita dan hari ini kita akan banyak bicara tentang hubungan yang sifatnya horizontal. Dan saya akan beri judul kotbah hari ini, “Flourish in Hope“.
Saudaara, seberapa banyak saudara tahu bahwa hubungan dengan sesama kita, yang horizontal ini, seringkali itu bisa sangat “messy”. Kadang-kadang bahkan tidak hanya messy, tetapi “full of drama”, betul tidak?
Ya, seringkali hubungan sama sesama itu drama, messy. Dan kadang, tidak tahu bagaimana dengan saudara, saya merasa hubungan sama Tuhan jauh lebih gampang. Karena tidak se-messy dan tidak se-drama itu. Tuhan tidak pernah drama, kita yang drama. Betul gak?
Kita yang sering “playing victim”, “silent treatment”. Kalau lagi bete, kita silent treatment orang lain. Tuhan tidak seperti itu sama kita. Dia tidak pernah “silent treatment” kita. Dia tidak pernah insecure. Dia tidak pernah playing victim sama kita. Kita yang sering kayak gitu.
Sebenarnya karena relationship dengan sesama kita ini, messy, saya temukan hari-hari ini ada begitu banyak orang yang takut dengan yang namanya komitmen. Takut mulai pacaran mungkin, takut menikah, takut berpartner dalam bisnis, takut masuk komunitas lebih dalam. Kenapa?
Karena banyak dari kita sudah melihat begitu banyak “preview” hubungan yang penuh dengan drama, hubungan yang messy. Kita mungkin lihat pernikahan-pernikahan yang hancur. Atau mungkin bahkan beberapa dari saudara sama seperti saya, mungkin dulu sulit untuk percaya dalam sebuah pernikahan karena saya tidak datang dari background atau latar belakang orang tua yang pernikahannya berhasil.
Mungkin ada juga banyak dari kita yang melihat begitu banyak konflik terjadi di gereja. Makanya kita tidak berani untuk masuk lebih dalam di satu komunitas gereja. Kita lihat terlalu banyak business partnership yang berakhir tidak enak, saudara. Sehingga kita juga takut masuk ke dalam hubungan partnership dengan orang lain dan seterusnya.
Dan menurut saya yang lebih berbahaya itu bukan hanya ketika relationship itu terlihat messy. Tapi yang lebih berbahaya adalah ketika kita mulai kehilangan yang namanya pengharapan di dalam sebuah hubungan.
Kita mulai bilang seperti ini, “Oh iya, yah.. emang begini kali ya”, “Emang kayanya pernikahan itu emang susah, manis aja di awal, Emang kayanya ga ada deh pernikahan yang sering kita denger di gereja. Kayanya ga ada deh yang seperti itu.”, “Ah emang gereja itu kaya gitu, yang terlalu banyak politik. Ga ada gereja yang sempurna.”
Memang tidak ada gereja yang sempurna. Karena saudara dan saya tidak sempurna.
“Ah, memang partnership ribet lah, mendingan kerja sendiri. Ribut terus”.
You see, pada waktu kita kehilangan pengharapan, “fear” mulai menjadi fondasi untuk kita bangun hubungan. Akhirnya apa?
Kita masuk dalam hubungan, karena kita bawa ketakutan, hubungan kita mulai jadi ‘transactional’. Hubungan yang kita bina hanya untuk melindungi diri kita sendiri. Hubungan kita dengan orang lain tidak berdasarkan kasih, tetapi berdasarkan ketakutan dan bukan untuk mengasihi.
“Boro-boro berbuah, saudara. Untuk mengasihi saja, kita ketakutan.”
Dan saya mau katakan bahwa sesungguhnya ini bukan design Tuhan dari awal. This is not the original of God. Karena pada mulanya sebenarnya Tuhan ciptakan segala sesuatu itu baik dan indah adanya. Di kejadian 1 dan 2, dikatakan bahwa saudara dan saya, manusia, diciptakan serupa dan segambar dengan Allah yang adalah kasih.
Jadi, sebenarnya saudara dan saya itu dimampukan untuk bisa saling mengasihi. Kalau saudara ingin lihat di “original plan of God”, mungkin saudara sering baca kejadian 1 dan 2 ya. Karena di situ kita bisa lihat “what should it looks like when it comes to relationship”? Hubungan manusia dengan Tuhan baik. Adam dan Hawa setiap hari intim sama Tuhan, tiap hari ngobrol sama Tuhan. Dan Adam dan Hawa hubungan satu sama lain juga baik, saudara.
Mereka punya harapan di dalam hubungan mereka. Sewaktu Tuhan taruh mereka di Taman Eden, they are full of hope. They’re looking forward to the future. Karena mereka tahu bahwa kita ini bersinergi untuk menghasilkan buah, untuk memuliakan Tuhan.
But “unfortunately”, dosa masuk. Dan ketika dosa masuk, hubungan itu berubah, saudara. Hubungan yang tadinya penuh kasih menjadi hubungan yang penuh dengan trauma, hubungan yang tidak harmonis, hubungan yang penuh dengan ketakutan.
Dosa dalam bahasa aslinya adalah “Hamartia”. Dan salah satu artinya adalah “miss the mark”. Ada disini, saudara yang sewaktu kecil suka main “dart”? Saya waktu kecil suka main dart ya. Saudara, kalau main dart, saudara “aiming”, Betul? Kalau bisa ke lingkaran yang paling gede poin-nya.
Saudara “aim”, “missing the mark” artinya saudara meleset. Tidak lagi kena dengan tujuannya. Itu yang dosa lakukan. Kita jadi meleset dari tujuan, kehendak, dan standar Tuhan yang seharusnya, The original plan of God.
Akhirnya apa saudara?
When it comes to relationship, yang seharusnya, Tuhan mau kita punya fondasi Kasih, kita saling bersinergi untuk menghasilkan buah yang memulihkan nama Tuhan. Akhirnya, kita masuk, meleset, saudara. Kita masuk dalam hubungan dengan tujuan hanya untuk bikin kita “happy”, hanya untuk menyenangkan diri sendiri, hanya untuk melindungi diri sendiri, “We have become a me, its all about me, and myself, and mine”.
Itu yang terjadi ketika dosa masuk. Sehingga banyak orang punya tujuan yang salah dalam membangun hubungan. Hubungannya tidak lagi tentang menghasilkan buah, tetapi hubungannya tentang menyenangkan diri sendiri.
Kabar baiknya adalah Tuhan tidak tinggal diam. Sejak dosa masuk, Tuhan punya “redemption plan”. Dia tidak tinggal diam. Kabar baiknya adalah Yesus datang untuk memulihkan, memulihkan apa yang sudah rusak oleh karena dosa. Dia begitu mengasihi saudara dan saya, Dia mengasihi seluruh ciptaannya sehingga Dia tidak diam saja. Dia kirim Tuhan Yesus. Dia kirim Yesus untuk menebus kita.
Dan kalau kita percaya dan menerimaNya sebagai Tuhan dan Juru Selamat kita pribadi. Maka hubungan kita kembali dipulihkan, pertama-tama dengan Tuhan. Nah, kalau hubungan kita pulih dengan Tuhan, tinggal tunggu waktu hubungan kita dengan sesama kita pun juga akan dipulihkan. And that’s the original plan of God.
Suatu hari Yesus mengajar para muridnyam di Yohanes 15, Dia memberikan sebuah ilustrasi tentang hubungan. Dikatakan seperti ini.
Opening Verse – [1] ”Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. [2] Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. [3] Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu. [4] Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. [5] Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Yohanes 15:1-5 TB
Perhatikan di awal ayat ini, Yesus bilang Dia adalah pokok anggur yang benar dan Bapa adalah pengusaha kebun anggur itu, “The vine dresser”, Nah tentunya sebagai pengusaha anggur, Bapa merindukan untuk setiap ranting bisa menghasilkan buah yang banyak dan tetap.
Kalau saudara punya usaha, saudara mau pastikan setiap pohon, setiap ranting punya buah, betul tidak?
A good vine dresser would want every single tree untuk bisa berbuah. Nah, buah itu apa sih?
Buah itu bicara tentang hasil yang kelihatan dari hubungan yang tidak terlihat antara ranting dengan sang pokok anggurnya, betul tidak? Karena kadang kita tidak terlalu pikirin. Kita hanya lihat buahnya saja. Tetapi sebenarnya buah itu adalah hasil dari ranting yang menempel sama pokok anggurnya. Itu adalah bukti kalau ranting ini menempel sama pokok anggurnya.
Nah, kalau kita adalah ranting dan Yesus adalah pokok anggurnya, Kalau kita benar-benar menempel sama Dia, maka buah itu sebenarnya lagi bicara tentang “Christ-likeness”, Keserupaan dengan Dia, artinya apa?
Nilai-nilai kebenaran, karakter Kristus itu seharusnya bisa terlihat dan dirasakan di dalam keseharian kita oleh orang lain yang ada di sekitar kita. Karena orang lain yang lihat, “Oh ada buahnya atau enggak?”
Orang lain yang bisa mencicip buahnya seperti apa. Jadi, saudara kalau kita adalah rantingnya dan kita menempel, pasti kita akan menghasilkan nilai-nilai yang sesuai seperti Kristus. Nah, saudara, saya mau saudara perhatikan sebagai pengusaha, sebagai “vine dresser”, luar biasa saudara, digambarkan disini bahwa Allah Bapa itu tidak gampang menyerah begitu melihat ranting yang tidak menghasilkan buah.
Saya mau ajak saudara baca di ayat yang kedua. Dikatakan setiap ranting padaku yang tidak berbuah, apa saudara? Dipotongnya.
Supporting Verse – [2] Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Yohanes 15:2 TB
Oke, kita baca bahasa Indonesia, kita pasti akan langsung berpikir, dibuang. Tetapi sebenarnya kalau saudara pelajari bahasa aslinya, ini menarik. Karena di bahasa aslinya, kata dipotong di sini adalah “airo“, yang artinya, to lift, to take up, to raise, to remove, to carry away.
Artinya, saudara diangkat. Kalau ada ranting yang tidak berbuah, itu diangkat. Dengan kata lain, di-reposition, direposisi. Dia sebagai pengusaha petani anggur yang baik, yang terlihat tidak berbuah, tidak langsung dicampakkan, saudara.
Tidak langsung dibuang, tetapi diangkat, di-reposisi sedemikian rupa supaya ia terkena sinar matahari dan ada kesempatan kembali untuk bisa berbuah. Ternyata Tuhan tidak gampang menyerah begitu melihat ada ranting yang tidak berbuah and this is a good news for you and me! This is a good news.
Apa hubungannya dengan hubungan-hubungan kita?
Terkadang dalam realita hubungan kita, kita megalami ini, kita direposisi sama Tuhan. Mungkin ada dalam hubungan kita yang membuat hidup kita tidak berbuah, saudara. Dan Tuhan mau reposisi itu.
Terkadang kita perlu mengalami yang namanya break-up di dalam hubungan kita. Mungkin saudara punya orang-orang yang tadinya dekat sama saudara. Tetapi hari ini Tuhan ijinkan karena satu dan lain hal, orang itu tidak ada lagi dalam hidup saudara. Bukan berarti mereka jahat, maybe it’s just a season of life.
Mungkin mereka pindah kota, mungkin mereka pindah kerja atau saudara yang pindah kerja, saudara yang pindah kota. Terlepas dari beberapa hubungan tetapi sebenarnya Tuhan lagi repositioning you supaya saudara yang tadinya tidak bisa berbuah bisa kembali berbuah.
And if that happens to you, I know it hurts. Tidak gampang, tidak mudah tentunya tetapi ketahuilah, Tuhan sedang bekerja di balik layar untuk mendatangkan kebaikan di dalam kehidupan saudara.
I know this part is not easy, karena terkadang kita terlalu sayang sama hubungan-hubungan yang mungkin sebenarnya tidak sehat ada dalam kehidupan kita.
But, kembali, Tuhan “wants to reposition us” supaya kita bisa kembali berbuah.
Hal kedua yang Bapa lakukan sebagai vine dresser yang baik, tadi terhadap ranting yang tidak berbuah, dipotongnya, “airo”, direposisi tetapi kepada ranting yang berbuah, Dia tidak tinggalkan diam saja.
Dikatakan bahwa dibersihkannya atau diprune, Kalaupun sudah berbuah, Dia terus bersihkan, supaya apa saudara? supaya lebih banyak berbuah. Yang ini berbeda dengan reposisi. Dibersihkan atau being pruned artinya mungkin ada hal-hal yang kotor yang masih menempel di sekitar ranting itu, yang menyebabkan dia seharusnya punya potensi lebih banyak berbuah, akhirnya terhambat untuk berbuah lebih banyak.
Terkadang, Tuhan bawa kita ke hubungan-hubungan yang keluar dari zona nyaman kita, saudara. Mungkin ada beberapa saudara yang baru pindah kerja, lalu saudara punya atasan yang lumayan “killer”, saudara. Yang tidak enak dan tidak nyaman, dan membuat saudara, “Aduh ini bos saya yang kali ini strict banget nih”.
Atau mungkin saudara punya pasangan yang bersih banget orangnya. Ada saja orang-orang di sekeliling kita yang “Push our button. Just pushing, keep on pushing”, bikin kita keluar dari zona nyaman kita. Tetapi saudara, sadar tidak sadar, terkadang justru orang-orang itu yang membuat kita, “Eh kok jadi makin lebih disiplin ya? Eh, kok jadi lebih sering mandi ya? Ups”.
Ini ada banyak suami istri yang mulai aja colek-colekan gitu ya. Saya punya temen yang biasanya mandinya pagi aja, tetapi pasangannya mengharuskan dia malam juga harus mandi. Kalau tidak mandi maka tidak boleh naik ranjang. Disini ada hubungan-hubungannya seperti itu, yang Tuhan ijinkan kita ada di dalamnya untuk membentuk kita, membentuk karakter kita, “prune us” sedemikian rupa. But it’s good! Akan menolong kita untuk semakin menjadi serupa seperti Kristus.
Saya suka bercanda, saudara, sama pasangan yang mau menikah. kan kita sering counseling pra-nikah yah.. Saya bilang disini, “Kalau kamu pernah berdoa, kamu mau semakin menjadi seperti Yesus, menikahlah”.
Tidak bisa kabur, saudara, sebal sama orangnya, dia masih disitu, Menikahlah. Karena disitulah kita belajar untuk semakin serupa seperti Kristus. Belajar untuk jadi tidak nyaman, saudara. Tetapi kita tahu ketidaknyamanan itu akan membuat kita menghasilkan Buah lebih banyak.
So, Our Father in Heaven, Tuhan adalah seorang Bapa yang baik, He is a good Vine dresser. Dia tidak akan diamkan kita, saudara. And the good news is, dari beberapa ayat ini kita belajar satu hal.
Bahwa God’s first response to unfruitfulness is not rejection, but restoration.
Semua katakan restoration. Respon pertama Tuhan terhadap ketidakberhasilan untuk berbuah bukanlah penolakan tetapi pemulihan. He is God of restoration. Dia mau memulihkan saudara dan saya semakin serupa seperti Kristus.
Supporting Verse – [5] Ia yang duduk di atas takhta itu berkata: ”Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!” Dan firman-Nya: ”Tuliskanlah, karena segala perkataan ini adalah tepat dan benar.” Wahyu 21:5 TB
Behold I am making all things new, Perhatikan. Dia tidak buat “new things”, lalu meniadakan yang lama. Dikatakan ayatnya disini, I make all things, segala sesuatu yang sudah ada, Baru. Artinya Dia mau memulihkan, going back to the original plan of God.
Hari-hari ini ada banyak orang yang mudah menyerah dalam hubungan. Mungkin karena kita terbiasa dengan yang namanya kemudahan, kenyamanan dalam keseharian kita, sehingga seringkali begitu ada tantangan dikit, kita mau ganti yang baru dengan cepat. Susah dikit, we wanna scrap it.
“Udah, beli yang baru aja. Murah ini. Udah lah ganti sama yang baru aja. Semua juga melakukannya”.
Seringkali kita terlalu cepat menyerah. Tuhan tidak seperti itu saudara. Dia tidak menyerah padamu. Dia tidak pernah menyerah atas hidup saudara. Seberapa berantakanpun saudara hari ini.
“Hey, I want you to know this. God is never ever giving up on you”.
Dan saya berdoa, saudara agar hari ini, firman hari ini bisa kasih hope buat saudara, kasih pengharapan buat saudara. Dan mungkin, when it comes to relationships, hubungan-hubungan dalam kehidupan kita hari ini, mungkin kalau kita lagi mengalami kesulitan, itu bukan berarti selalu harus langsung diakhiri, saudara.
Saudara tidak nyaman, saudara mengalami tantangan dalam hubungan saudara, mungkin pernikahan saudara, mungkin hubungan orang tua dan anak, it’s hard and I know it, I’ve been there. Family, it’s not easy. Tetapi bukan berarti selalu harus diakhiri, kadang-kadang itu sifatnya pruning, kadang-kadang sifatnya repositioning.
Kita harus tahu yang mana yang Tuhan sedang kerjakan dan saya berdoa hari ini saudara dikuatkan, diberikan pengharapan, jangan pernah menyerah. Kita harus ingat bahwa tidak ada hubungan yang sempurna, saudara.
We’re not perfect. Tidak ada, tidak ada DATE yang sempurna. Tidak ada gereja yang sempurna. We’re all working in progress, saudara. Tidak ada hubungan yang sempurna, yang ada adalah hubungan yang sehat. And the cool thing adalah, bahwa hubungan yang sehat yang kita bina hari ini, yang kita perjuangkan hari ini, itu adalah preview of what’s coming!
Apa yang akan terjadi di kekekalan. Jadi kalau saudara hari ini sedang berjuang dalam hubungan saudara, “Hey, God is using you untuk kasih preview buat orang lain betapa hebatnya kuasa Tuhan kita”. You are giving a preview for those around you, Bahwa tidak ada yang mustahil buat Tuhan kita, itu sebabnya kita patut memperjuangkannya hari ini.
Saudara banyak yang hari ini seperti construction site, ada yang pernah ke construction site? Mungkin ada beberapa dari saudara seorang architect atau interior designer.
Sharing Ps. Gea – Sedikit cerita sama saudara tahun lalu, saya dan suami saya, kami baru diberkati Tuhan, dikasih sebuah unit apartemen yang baru dan kami lakukan renovasi. Sebelum bisa masuk ke tempat itu, kita gambar, lihat gambarnya, ada interior designer yang membantu kami.
Dan kita bilang, “Wah gambarnya bagus banget ya !” Kita sudah looking forward untuk bisa masuk ke tempat itu. Tetapi tentu renovasi takes time, ada beberapa bulan. Saya ingat di awal-awal kami datang, ke unit apartemen itu, semuanya berdebu, tidak ada bentuknya dan berantakan. It doesn’t look good ya.. Saya bahkan tidak tahan di dalam karena saking debuan gitu ya.
Tetapi hanya karena itu semua itu berdebu dan lagi berantakan, saya tidak stop pengerjaannya, saudara. Saya tidak bilang, “Sudah, sudah! Ini tidak kaya yang ada di gambar nih, udah tidak usah dikerjain lagi deh. No!”
Karena saya tahu bahwa beberapa minggu, dan beberapa bulan kemudian, this is gonna be look like gambar yang saya pegang, saudara. Itu sebabnya hubungan-hubungan yang kita bina itu seperti itu. It is a preview. Maybe today, mungkin hari ini, hubungan saudara, saudara merasa kayak, “Ini tidak kayak apa yang Tuhan janjikan nih.”
Hey, don’t give up, keep on working on it, Karena pasti kalau kita mau, Tuhan akan mampukan kita menuju gambar seperti apa yang Tuhan mau.
You see, we don’t love faithfully because the world is perfect but we love faithfully because the future is secure.
Kita memilih untuk tetap mengasihi. Kita memilih untuk tetap setia. Kita memilih untuk tidak menyerah. Meskipun mungkin kelihatan “messy”, kelihatan penuh dengan air mata. You know what? Don’t give up! Karena kita tahu apa yang kita tabur tidak akan pernah sia-sia di dalam Tuhan. Amen! It is a preview of what is yet to come.
Sharing Ps. Gea – Saudara, dua minggu terakhir ini, kalau boleh sedikit cerita dengan saudara, keluarga kami baru mengalami kedukaan selama dua minggu berturut-turut. Tiga minggu lalu kakak ipar saya meninggal dan selang satu minggu, om saya meninggal. Ini dari sisi keluarga yang sama. Kakak ipar saya meninggal karena “fighting for cancer”, lima tahun, Tuhan kasih “extension of grace”, dan akhirnya dia dipanggil Tuhan.
Sementara Om Saya, kondisinya cukup cepat dari sakit sampai pada akhirnya Tuhan panggil. Bukan hal yang mudah, saya ingin “say thank you” sama Consolation Ministry yang melayani kami, keluarga yang berduka. Saudara, Consolation Ministry sangat luar biasa. Satu-satunya pelayanan yang saudara tidak bisa meminta jadwal pelayanan karena kapan saja, harus selalu siap. They’re amazing, kami sangat berterkati, sangat dihibur di tengah-tengah kehilangan kami.
Tetapi saya ingat waktu selama 2 minggu berturut-turut, kami spend time lama di rumah duka. Saya duduk disitu sama suami dan sama keluarga kami ketika bicara tentang “the life of the person”, orang yang meninggalkan dunia ini, Tidak ada yang bicara tentang pencapaian karir mereka, Tidak ada yang bicara tentang seberapa banyak kekayaan mereka.
Tetapi yang diulang-ulang, yang dibicarakan berulang-ulang adalah kasih, kebaikan, kesetiaan mereka selama mereka hidup. Itu yang selalu diulang-ulang. Bahkan yang luar biasanya, kami dengar begitu ada kesaksian-kesaksian yang dikatakan bahwa ini sebenarnya mungkin orangnya tidak tahu.
Ada salah satu yang cerita, kakak ipar kamu itu orang yang baik banget. Dia selalu ada untuk suami saya, kasih semangat karena kebetulan yang bercerita ini suaminya juga sedang “fighting for cancer”. Dia tidak pernah berhenti untuk WA memberi semangat. Dan itu dampaknya luar biasa. Mungkin kakak iparmu tidak tahu, tetapi dia sedang menabur sesuatu yang begitu baik, itu membawa pengharapan buat orang lain, membawa kekuatan buat orang lain.
You see, terkadang kita tidak pernah tahu benih yang kita tabur itu sampai kemana, saudara. Tetapi saya belajar dua hal selama di rumah duka itu. Makanya Firman Tuhanbilang, lebih baik ke rumah duka dibanding ke rumah pesta. And we learn a lot of things.
Supporting Verse – Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya. Pengkotbah 7:2 TB
Saya diingatkan bahwa pertama, setiap benih kebaikan, Firman, Kebenaran, Kesetiaan yang kita tabur itu tidak akan pernah sia-sia.
Yang kedua, bahwa pengharapan di dalam Kristus itu akan selalu ada.
Itu dua hal yang saya terus diingatkan selama dua minggu berada di rumah duka. Saya bersyukur saya bisa melewati dua minggu terakhir. Terlepas dari kesedihan kami, kami dikuatkan. Kami diberikan pengharapan bahwa kesetiaan yang kita tabur di dalam setiap hubungan yang kita miliki hari ini, walaupun mungkin masih tidak terlihat seperti yang kita inginkan atau yang Tuhan janjikan, “Hey, it will never gone in vain”, tidak akan pernah sia-sia, selalu ada harapan di dalam Kristus.
So, apa yang kita bisa lakukan hari ini when it comes to relationship? Untuk mengerjakan hubungan yang Tuhan percayakan kepada kita hari ini, ada tiga hal.
Yang pertama, kita perlu bawa hubungan-hubungan tersebut, we need to bring our relationship to the right source.
Kita perlu bawa ke sumber yang benar. Sama seperti Bapa sebagai “vine dresser”, Ketika dia lihat ranting yang tidak berbuah, Dia ambil ranting itu, Dia reposition, supaya terkena sinar matahari, supaya ada potensi untuk kembali berbuah.
We need to bring our relationship, maybe our broken relationship to the light, to the right source yang adalah Tuhan sendiri. Karena hanya Tuhan yang bisa memulihkan. Kita tidak bisa pakai kekuatan kita sendiri, saudara. Tetapi selama kita nyambung, kita menempel sama Tuhan, there is always hope. Tuhan akan memulihkan itu, ada amin, saudara? Kita perlu bawa kepada sumber kebenaran yang benar-benar “benar”.
Supporting Verse – [105] Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku. Mazmur 119:105 TB
Kita perlu pastikan bahwa ke sumber yang benar, jangan ke sumber yang tidak benar, saudara. You know, hari ini kita hidup di tengah-tengah dunia yang “very confused”. Ada begitu banyak kebenaran yang tersebar disana sini, di social media. Kebenaran-kebenaran yang terlihat benar tetapi sebenarnya bukan kebenaran yang sesungguhnya.
Hanya Firman Tuhan yang adalah otoritas, yang kita perlu taruh di tempat otoritas tertinggi dalam kehidupan kita. So, bring it to the right source, pastikan saudara bawa ke sumber yang benar. If you want your relationship to flourish, you need God.
Yang kedua, selain kita bawa kepada the right source, kita perlu yang namanya the right community.
Kita perlu komunitas-komunitas yang benar, yang berani speak truth with grace, yang berani bilang apa yang benar dan bukan apa yang hanya sekedar enak di telinga kita. Kalau saudara punya, saudara sudah terpikir ada orang-orang yang, “Ya, I have this kind of people in my life”.
Orang-orang di komunitas yang bisa berani challenge kita, berani katakan kebenaran dalam hidup kita. Well, you gotta be grateful, keep them! Tetapi kalau saudara belum punya, find one, go find one.
Itu sebabnya di JPCC kita encourage saudara agar bisa tertanam di komunitas DATE karena mungkin kita perlu orang-orang itu untuk bisa “prune” us, untuk bisa terus bentuk kita menjadi semakin serupa seperti Kristus.
Dan yang terakhir, Selain the right source, the right community, ini penting banget. Yang terakhir, dan sangat penting, saudara perlu memiliki yang namanya the right response.
Respon yang benar. Karena percuma, kita datang ke Tuhan yang adalah sumber yang benar. Atau kita sudah punya komunitas yang benar, tetapi kita tidak memilih untuk merespon dengan benar.
Respon kita penting, saudara. Itu sebabnya kita perlu punya hati yang terus mau diajar, hati yang rendah, hati yang mau ditegur, yang mau dikasih tahu, supaya kita bisa terus merespon dengan benar.
So, flourishing bukan mulai ketika hubungan kita sudah pulih tetapi flourishing mulai ketika meskipun hubungan kita belum pulih, kita tetap memilih respon yang benar.
Setiap kali kita disakiti, kita respon dengan apa saudara, yang benar? Kita memilih untuk tidak membalas. Kita memilih untuk tetap mengampuni meskipun hari ini belum ada perubahan.
Setiap kali kita memilih, “unity over ego”, itu respon yang benar di dalam hubungan yang kita miliki. We respond that way, guess what? We are already flourishing. Kita sudah mulai flourishing sebenarnya. Hubungan yang flourishing bukanlah hubungan yang sempurna, tetapi hubungan yang terus dikerjakan dengan benar.
So, hari ini mungkin ada beberapa dari saudara yang hampir menyerah, yang sudah sedikit lagi. Mungkin saudara menyerah dalam pernikahan saudara, dalam keluarga saudara, mungkin menyerah sama orang tua saudara, anak saudara, sudah tidak tahu lagi ini harus diapain, mereka tidak berubah-rubah, saudara hampir menyerah.
Mungkin bukan karena saudara tidak percaya Tuhan bisa memulihkan, Tetapi saudara sedang lelah, Saudara sedang lelah berharap, Saudara merasa helpless because it seems nothing you can do to change the situation.
Tetapi saya mau ingatkan kepada saudara. Ps. Jose pernah berbicara seperti ini :
Being Helpless is a condition, but being hopeless is a decision.
Saya berdoa Firman Tuhan hari ini mendorong saudara untuk choose Hope over Fear.
Memilih hope, walaupun keadaan belum berubah, but let’s choose hope once again. Jangan menyerah, don’t give up, terus pergi kepada Tuhan yang adalah sumber kekuatan, terus nempel bersama Dia. Saya berdoa dan saya percaya, setiap kali saudara tabur yang benar, setiap kali saudara respon yang benar, Tuhan sedang bekerja di belakang layar, Dia melembutkan hati-hati yang keras, saudara.
Anda mungkin belum melihatnya, Tetapi apa yang saudara tabur, tidak pernah sia-sia dengan Tuhan, amin? Jadi mari kita pilih Hope. I choose Hope. Percaya Tuhan yang akan membuatnya bertumbuh. God is not done yet, Tuhan belum selesai, This is not the end of your story. God is doing something in you and through you, Amen.
P.S : If you like our site, and would like to contribute, please feel free to do so at : https://saweria.co/316notes



