Kenny Goh JPCC

He is Never Unfair By Ps. Kenny Goh

Sutera Hall 2nd Service (25 January 2025)

Selamat Hari Minggu, Apa kabar semuanya? Happy New Year semuanya, meskipun January sudah mau selesai, tetapi ini pertama kali saya bertemu dengan saudara semua di Sutera Hall, dan juga bagi semua yang bergabung secara online, Happy New Year to all of you!

Dan terima kasih untuk semua tim yang melayani kita hari ini, worship team, creative, care, semuanya, thank you for giving your best. Saudara siap belajar hari ini?

Kita mengakhiri series kita di bulan Januari berdasarkan tema JPCC untuk tahun 2026 yaitu “Flourish“. Tetapi hari ini, untuk judul kotbah hari ini adalah “He is Never Unfair“, Dia tidak pernah tidak adil.

Kita belajar selama sebulan ini dari Mazmur 92:13-16 ya, di minggu pertama kita awali dengan ayat 13.

Opening Verse – [13] Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon; Mazmur 92:13 TB

Kita belajar siapa orang benar, dan hari ini orang benar adalah orang yang sudah dibenarkan oleh Yesus, bukan karena kemampuan dan kebaikan kita. Tetapi karena Karya dan Pekerjaan Yesus di Kayu Salib, dan KebangkitanNya membuat kita menjadi orang benar. Saat kita percaya dan beriman dalam Tuhan, artinya kita dibenarkan oleh Tuhan.

Di minggu pertama kita juga belajar tentang pohon kurma dan pohon aras, karakteristik dua pohon sebagai metafora kita di sepanjang Mazmur 92 ini. Pohon kurma dan pohon aras yang kuat, yang tahan lama dan sebagainya.

Lalu di minggu kedua kita belajar dari ayat 14.

Supporting Verse – [14] mereka yang ditanam di bait Tuhan akan bertunas di pelataran Allah kita. Mazmur 92:14 TB

Jadi, kita belajar bahwa Allah memberikan sarana buat kita semua untuk berjalan, bertumbuh, dan menghidupi identitas kita yang baru sebagai orang benar. Seperti Tuhan kasih sebuah ekosistem buat kita, dengan metafora tanaman, kita pun diberikan ekosistem dalam bentuk firman Tuhan, Roh KudusNya, dalam bentuk komunitas gereja, dan saat kita menyembah Tuhan juga.

Minggu lalu di ayat, 15 Saudara juga belajar tentang masa tua.

Supporting Verse – [15] Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar, Mazmur 92:15 TB
[15] Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar,

Supporting Verse – [15] Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar, Mazmur 92:15 TB

Kita belajar minggu lalu bahwa kalau kita tertanam, berakar dalam Kristus yang adalah sumber kita, kita akan terus berbuah di setiap musim. “We don’t care what season it is”, kita tetap bisa berbuah penuh dan bukan “physically” gemuk Saudara, tetapi dikatakan gemuk artinya itu “full of sap”, penuh dengan getah, di mana kehidupan terus mengalir dan terlihat hijau.

Nah, hari ini kita akan menutup series kita, tentu dengan mendalami ayat terakhir yaitu ayat ke-16.

Supporting Verse – [16] untuk memberitakan, bahwa Tuhan itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan pada-Nya. Mazmur 92:16 TB

Nah, apakah ada di antara kita yang pernah berpikir begini: “Capek amat ya jadi orang benar’. Sebenernya worth it nggak sih jadi orang benar? Sepertinya orang-orang yang nggak terlalu mikirin tentang kebenaran, integritas, kejujuran ya, kayaknya hidupnya nyaman-nyaman aja. Bahkan ada beberapa mereka terlihatnya lebih bahagia, lebih sukses malah.”

Ada yang mungkin kenal ya, orang yang selingkuh gitu dalam pernikahannya tapi kok kayaknya lebih seneng dia, “for now ya”.

Ada orang lain yang ambil shortcut, jalan pintas, dan akhirnya jadi lebih kaya. Ada orang yang mungkin di antara Saudara di sini ada yang bikin konten yang mengedukasi dan konten yang sehat gitu di sosial media, tetapi likes-nya sedikit dibandingkan dengan konten “bodoh” yang jadi viral.

Atau Saudara mungkin pikir ya, ‘Wah temen-temen gua yang nggak kenal Tuhan di hari Minggu masih tidur jam segini, masih nyantai, bahkan mungkin masih ngejalanin hobi mereka aja kayak jalan-jalan gitu’. Terus mikir, “worth it nggak sih jadi orang benar?”

Nah, yang menarik adalah di Mazmur 92 ini, Mazmur ini tidak in denial. Mazmur ini tidak menyangkal realita yang kita hidupi sehari-hari. Tetapi Mazmur 92 ini secara keseluruhan kalau kita pelajari akan membantu kita dan memberikan kita cara untuk menanggapi dan menyikapi “tension” yang kita hadapi ini.

Meskipun fokus kita ada di ayat 16 hari ini, tetapi untuk mengerti apa yang ingin disampaikan oleh Pemazmur, oleh Firman Tuhan ini, kita harus melihatnya dalam konteks. Kita mulai dari ayat pertama terlebih dahulu supaya kita bisa melihat Mazmur 92 secara keseluruhan.

Supporting Verse – [1] Mazmur. Nyanyian untuk hari Sabat. Mazmur 92:1 TB

Jadi, Mazmur ini ditulis untuk dinyanyikan di hari Sabat. Nah, apa itu hari Sabat? Tujuannya apa? Kita baca dengan cepat di Keluaran 20. Setelah Tuhan membawa bangsa Israel keluar dari Mesir dan menjadikan mereka sebuah bangsa, menjadi milik-Nya sendiri, Dia kasih mereka aturan: ‘Ini cara hidupnya seperti ini, this is your lifestyle sebagai sebuah bangsa’.

Supporting Verse – [8] Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: [9] enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, [10] tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat Tuhan, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. [11] Sebab enam hari lamanya Tuhan menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya Tuhan memberkati hari Sabat dan menguduskannya. Keluaran 20:8-11 TB

Kuduskan artinya bukan tidak boleh ini, tidak boleh itu, bukan aturan-aturan, kudus artinya dipisahkan dan dikhususkan ya. Kalau kita berkata kudus artinya terpisah, dan dikhususkan buat Tuhan.

Kalau Saudara check dan research sedikit, pada zaman itu, hari Sabat itu kalau tidak salah dimulai dari Jumat jam 12 siang sampai hari Sabtu jam 12 siang, 24 jam.

Nah, tentu kita tidak ada hari Sabat dalam budaya kita, kita ada hari Minggu, di mana kita mengkhususkan hari ini untuk Saudara datang, tidak kerja, beribadah kepada Tuhan dan lain-lain itu.

Jadi hari Sabat, menarik, tadi pada waktu diberikan kepada bangsa Israel, dikatakan kenapa perlu Sabat? Karena Tuhan sudah bekerja 6 hari, Dia menciptakan, diingatkan kembali tentang ciptaan dari awal, dari sejak kejadian. “Six Days” Tuhan menciptakan, satu hari dikhususkan untuk Dia.

Kalau Saudara baca Kejadian pertama, di hari yang ketujuh Tuhan beristirahat kataNya, dan Dia menyatakan semua ini baik. Itu Tuhan. Tapi untuk kita semua, hari Sabat kita mengingat kembali siapa pencipta kita dan kita ingat bahwa kita ini adalah CiptaanNya.

Siapa pencipta kita yaitu Tuhan, kita harus ingat bahwa Tuhan pencipta kita dan kita adalah CiptaanNya. Artinya apa?

Artinya begini Saudara, artinya kita tidak pegang semua kuasa. Artinya Tuhan yang pegang kuasa karena Dia pencipta dan kita hanya bisa terima keputusan Dia, terima ciptaan Dia. Karena di setiap hari Sabat mereka memperingati bahwa Tuhan pencipta dan kita hanya CiptaanNya. Dia pegang kendali atas seluruh ciptaan-Nya.

Sabat juga, tentu kita ingat masa lalu Tuhan menciptakan, tetapi Sabat juga merupakan janji masa depan kepada bangsa Israel. Bahwa suatu hari, mereka akan mengalami bukan hari Sabat, tetapi kondisi Sabat di mana mereka mengalami istirahat dalam hidup mereka.

Dan juga ada janji seseorang pribadi yang akan mendatangkan kondisi Sabat itu, yaitu Yesus, Saudara yang sudah tahu “spoilernya” kan. Dia akan membawa Sabat dalam hidup manusia dan pada akhirnya bagi seluruh dunia.

Ini dengan cepat Saudara, Sabat sebenarnya begini fungsinya.

Sabat adalah kesempatan untuk kita mengkalibrasi ulang cara pandang kita dalam kehidupan.

Sabat adalah kesempatan untuk kita semua, untuk kita beribadah hari Minggu di tempat ini, kesempatan buat kita semua mengkalibrasi ulang cara pandang kita dalam kehidupan.

Karena Saudara biasanya begini, enam hari Saudara kerja, Saudara fokus sama pekerjaan Saudara, Saudara produktif, Saudara berkarir, hari ini harusnya hari terima gaji ya? Saudara mungkin berpikir, ‘Yes, ini hasil dari jerih payahku sepanjang bulan’.

Dan seringkali kalau Saudara, khususnya yang seru kerja gitu ya, kita lupa semua ini datang dari mana sebenarnya. Dan kita benar-benar berpikir bahwa tentu kita berusaha untuk memaksimalkan apa yang Tuhan kasih ke kita, tetapi seringkali kita bisa lupa bahwa ada banyak “variabel” di luar kendali kita.

Bisa aja kita tidak berhasil, ya kan? Karena kadang-kadang kita lupa, kita pikir bahwa “it’s just us”, dan semua jerih payah kita. No! ada seminggu sekali di mana kita mengkalibrasikan ulang, ‘Oh wait a minute, it’s not just about me. Ternyata “Oh iya, aku ingat ada Tuhan’.”

Jadi, fungsi Sabat mengkalibrasi ulang perspektif kita dan cara pandang kita tentang kehidupan.

Sharing Ps. Jeffrey – Saya tidak pernah lupa, Pastor Jeffrey Rahamat, our founding Pastor, sering cerita tentang ini, kalau saya tidak salah cerita ya, dia kalau nggak salah dia cerita satu kali dia mau pulang dari kantor, dia keluar kantor dan dia melihat di depannya macet.

Lalu semua pada bilang, ‘Wah nggak usah pulang deh, tunggu macetnya reda baru kita pulang’. Lalu dia naik ke lantai lebih tinggi. Di lantai atas dia melihat, ‘Lho macetnya hanya beberapa meter aja nih ternyata, cuma di depan sini sama di situ’.

Jadi dia turun lagi dan kasih tahu mereka, ‘Sebaiknya kalau kita mau pulang, kita pulang sekarang, karena kalau kita tunggu lebih lama lagi pasti semakin macet lagi’.

See, kalau kita punya perspektif yang lebih tinggi, kita akan membuat keputusan yang berbeda. Kita akan bisa melihat faktor-faktor yang tadinya kita tidak lihat, lalu yang mungkin kelihatannya kayak, ‘Wah ini, it’s not a good time’, ternyata ‘it’s the best time’ untuk bertindak.

Nah, jadi kita perlu sering-sering mengkalibrasi ulang untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang Tuhan. Mazmur 92 ini ditulis untuk dinyanyikan di hari Sabat. Mazmur ini ditulis dengan rangkaian kata-kata untuk membantu kita semua mengkalibrasi ulang perspektif kita, cara pandang hidup kita sehari-hari.

Supporting Verse – [1] Mazmur. Nyanyian untuk hari Sabat. [2] Adalah baik untuk menyanyikan syukur kepada Tuhan, dan untuk menyanyikan mazmur bagi nama-Mu, ya Yang Mahatinggi, [3] untuk memberitakan kasih setia-Mu di waktu pagi dan kesetiaan-Mu di waktu malam, [4] dengan bunyi-bunyian sepuluh tali dan dengan gambus, dengan iringan kecapi. [5] Sebab telah Kaubuat aku bersukacita, ya Tuhan, dengan pekerjaan-Mu, karena perbuatan tangan-Mu aku akan bersorak-sorai. Mazmur 92:1-5 TB

Ayat 1 sampai 5 baru saja kita baca, membantu kita untuk re-calibrate our focus, untuk mengkalibrasi ulang fokus kita. Jadi, gini Saudara, sebelum kita menilai situasi dan keadaan kita, kita suka menilai gitu ya, ‘Ah this is bad, this is good, ini yang baik, ini yang buruk. Wah ini wah ini kayaknya gua sangat tidak beruntung, wah ini musibah’ dan lain-lain.

Sebelum kita menilai situasi kita, kita diundang untuk mengingat siapa Tuhan dulu, untuk memuji Dia, untuk menyembah Dia. Karena hanya ciptaan yang bisa menyembah pencipta, Saudara, ya kan?

Kita nyatakan Tuhan, Kau besar, Tuhan, Kau berkuasa, Tuhan, Kau setia, Tuhan mengasihi kita semua, itu membantu mengkalibrasi fokusnya kita. Semua masalah dan situasi yang tadinya terlihat besar di depan kita, ‘Oh in comparison ratio-nya, ah Tuhan jauh lebih besar dari ini’, kalibrasi fokus kita.

Dan tahukah Saudara, saat kita memuji Tuhan dan menyembah Tuhan, ini yang terjadi Saudara, ini yang terjadi: Kita mengistirahatkan jiwa kita. Kenapa?

Karena Senin sampai Sabtu, jiwa kita ini masih mencengkeram dan berkata, ‘If I don’t do something, nothing will happen. Kalau bukan karena usahaku, kita nggak akan bisa nih’.

Dan jiwa Saudara akan pegang itu terus sampai Saudara menyatakan, ‘Wait, Tuhan lebih besar, Tuhan yang pegang kendali, aku nggak mengerti but He’s big and He loves me’. Jiwa Saudara bisa istirahat dan menyatakan, ‘I surrender to You’.

Surrender bukan berarti ‘Oh aku tidak ngapa-ngapain lagi’, bukan gitu, surrender adalah menyatakan bahwa Tuhan yang pegang kendali koq, So I can chill, aku bisa tenang, aku bisa berharap, aku bisa punya harapan akan masa depan, re-calibrate our focus. Kita lanjut baca ayat ke-6.

Supporting Verse – [6] Betapa besarnya pekerjaan-pekerjaan-Mu, ya Tuhan, dan sangat dalamnya rancangan-rancangan-Mu. Mazmur 92:6 TB

Orang bodoh tidak akan mengetahui, dan orang bebal tidak akan mengerti hal itu. Ini menarik Saudara, saya tadi bilang sama tim JPCC Worship, mungkin kita harus tulis lagu yang nyanyiin tentang orang bebal dan orang bodoh gitu, that would be a funny lyric gitu.

Tetapi lagu ini dinyanyikan buat mereka. Ayat 8.

Supporting Verse – [8] Apabila orang-orang fasik bertunas seperti tumbuh-tumbuhan, dan orang-orang yang melakukan kejahatan berkembang, ialah supaya mereka dipunahkan untuk selama-lamanya. Mazmur 92:8 TB

[9] Tetapi Engkau di tempat yang tinggi untuk selama-lamanya, ya Tuhan! [10] Sebab, sesungguhnya musuh-Mu, ya Tuhan, sebab, sesungguhnya musuh-Mu akan binasa, semua orang yang melakukan kejahatan akan dicerai-beraikan. Mazmur 92:9-10 TB

Ayat 6 sampai 10 ini mengundang kita semua untuk “re-calibrate our standards”, untuk mengkalibrasi ulang standar kita. Nah, kenapa ini penting Saudara?

Menarik kan tadi di ayat 8 berkata gini: ‘Apabila orang-orang fasik bertunas’, bahasa Inggrisnya ‘when the wicked flourish’. Lho, ternyata orang jahat bisa flourish, Saudara. “The wicked can flourish”, orang jahat ternyata bisa kelihatannya sukses, Saudara. Tetapi Saudara mau pakai standar suksesnya siapa? Apakah Saudara mau pakai standar sukses manusiawi, atau Saudara mau pakai standar suksesnya Tuhan?

Harus kita kalibrasi ulang. Karena begini Saudara, apa yang terlihat baik dan apa yang terlihat berhasil hari ini, belum tentu bertahan lama. Belum tentu. Sama seperti bangunan yang cepat jadi, cepat dibangun, Saudara, bisa bagus, bisa estetik, bisa modern banget desainnya, tetapi kalau bahan yang digunakan rapuh dan pondasinya dangkal, setiap kali kena angin besar, dia runtuh, Saudara. Itulah kehidupan orang jahat sebenarnya. Kelihatannya keren, tapi kita tidak tahu bolongnya di mana dan akan bertahan berapa lama.

Seperti mungkin ada yang membangun karier hanya berdasarkan pencitraan saja, bangun karier based on “bacot” saja Saudara. Ya, ada bobotnya atau tidak? Seperti pernikahan yang dibangun hanya karena “aku cinta dia, dia cinta saya”, tetapi tidak ada hikmat, Saudara, tidak akan tahan lama-lama.

Jadi, kita mau lihat sukses based on standarnya siapa? Ini adalah undangan untuk kita re-calibrate our standards. Setiap kali kita duduk bersama-sama, kita menyembah Tuhan, kita belajar sama-sama, kita mengkalibrasi ulang standar kita. Dan kita tidak jadi sirik sama orang jahat yang berhasil, orang yang mengambil shortcut dan sukses, karena Saudara tahu “this is not going to end well”, ujung-ujungnya nanti ini bakal ke mana? Ayat 11.

Supporting Verse – [11] Tetapi Kautinggikan tandukku seperti tanduk banteng, aku dituangi dengan minyak baru; [12] mataku memandangi seteruku, telingaku mendengar perihal orang-orang jahat yang bangkit melawan aku. Mazmur 92:11-12 TB

Dua ayat ini, 11 dan 12, mengundang kita untuk re-calibrate our expectations, mengkalibrasi ulang ekspektasi kita. Kenapa?

Karena kalau kita memutuskan untuk memuliakan Tuhan, ingat sama Tuhan, menyembah Tuhan, ikut Tuhan, akan selalu ada perlawanan. Akan selalu ada orang-orang yang bangkit melawan kita, akan ada selalu oknum-oknum yang mengatakan, ‘Ah ngapain? Ngapain harus kayak begitu?’

Ada yang dicela karena memilih integritas dibanding korupsi di kantor. Ada orang yang dicela karena dia tidak bisa sedikit berbohong supaya tidak ribut sama pasangannya, ‘Ah, Udahlah bohong dikit dia nggak akan tahu, it’s okay, ngapain jujur amat sih?’

Ada juga yang ditekan karena tidak mau mengorbankan ibadah demi peluang atau kesempatan lain. Jadi kita harus re-calibrate our expectations, akan ada perlawanan kalau Saudara memutuskan “Aku mau hidup memuliakan dan menyembah Tuhan”.

Lanjut dengan cepat, dan ini yang sudah kita pelajari beberapa minggu terakhir.

Supporting Verse – [13] Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon; [14] mereka yang ditanam di bait Tuhan akan bertunas di pelataran Allah kita. [15] Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar, [16] untuk memberitakan, bahwa Tuhan itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan pada-Nya. Mazmur 92:13-16 TB

Ayat 16 mengundang kita semua untuk re-calibrate our faith, mengkalibrasi ulang iman kita. Pemazmur seolah-olah menyatakan begini, ‘Aku nih sudah cukup kenal Tuhan untuk tahu bahwa Tuhan ini tidak pernah salah. Aku berjalan cukup lama dengan Tuhan untuk bisa jadi saksi dan melihat bahwa di dalam Tuhan tidak ada kecurangan, tidak ada yang tidak adil, tidak ada yang tidak adil, bahwa dalam Tuhan Dia selalu adil.”

Supporting Verse – [15] So they proclaim that the Lord, my protector, is just and never unfair. Psalms 92:15 NET

“Just” artinya Dia penegak keadilan, Tuhan menegakkan keadilan, dan never unfair, “double negatif” tadi Saudara, selalu adil, dan tidak pernah tidak adil. Jadi setelah melewati semua itu, kesimpulannya adalah ada yang “the wicked yang flourish”, lalu ada yang benar yang flourish, dan kalau kita berpikir kenapa yang wicked flourish? Jawabannya adalah kalau kau kenal Tuhan, you will know bahwa Tuhan akan buktikan Dia tidak pernah tidak adil, He’s always just and never unfair.”

Tetapi untuk kita semua yang sudah melewati, kita bisa berkata, ‘Ya, saya sudah menjadi saksi, saya sudah melewati dan bisa mengatakan semua itu, I know Tuhan selalu buktikan bahwa Dia adil, Tuhan selalu buktikan’.

Tetapi untuk di antara kita yang mungkin masih melewati, masih bingung, masih menantikan, kita akan bertanya, ‘Yang benar Tuhan adil? I’m not sure Tuhan adil atau tidak. Karena apa?

Karena saya melihat dia pakai jalan pintas, koq rumahnya sudah gede banget dan saya masih kontrakan’. Ada yang berkata bahwa ‘I’m not sure Tuhan adil atau tidak, karena sudah berapa kali saya setia, saya taat sama firman Tuhan dan lain-lain, tapi teman-teman saya sudah diberkati dan liburan ke mana-mana tetapi saya belum pernah. Is God really fair or not?'”

Untuk menjawab pertanyaan itu, sebelum mungkin kita cari tahu lebih jauh lagi tentang jawaban-jawaban itu, kita harus melihat kepada satu pribadi dalam sejarah manusia yang sempurna, yang paling taat, yang tidak pernah berbuat salah, yang tidak pernah berdosa, Dia yang selalu melakukan yang baik, yang selalu berkenan di hadapan Allah tetapi Dia dihukum mati. Namanya Yesus.

Dia yang mengalami segala macam penderitaan padahal Dia sama sekali tidak layak menerima semua penderitaan. Dia yang ditolak padahal Dia sama sekali tidak layak untuk ditolak karena Dia sempurna. Manusia di manapun, siapapun, sekeren apapun, sebanyak apapun follower dia, masih tidak sempurna, masih ada dosa, masih ada kelemahan. Tetapi satu-satunya dalam sejarah manusia yang tidak pernah ada dosa, “eh Dia-nya menderita, Dia-nya disalibkan, malah kriminal yang sudah guilty yang seharusnya tetap dihukum mati malah dibebaskan, dan diganti sama Dia”.

Jadi, satu-satunya person yang bisa berteriak ‘It’s not fair’, itu Yesus. Dia yang harusnya berteriak ‘It’s not fair’, tetapi apakah Dia berteriak seperti itu? Tidak. Do you know why? Karena Dia tahu bahwa Allah tidak pernah salah, Allah selalu benar dan tidak ada kecurangan di dalam Dia.

Lalu lantas kenapa Dia disalib? Saudara, inilah kabar baik buat kita semua Saudara, karena Dia disalibkan, Dia menderita bukan karena Dia-nya yang berdosa, tetapi karena Dia menanggung dosa kita. Dia disalibkan menderita, ditolak, Saudara, karena Dia menanggung apa yang seharusnya kita tanggung.

Setiap kesalahan kita, Saudara, seharusnya dihukum, itu baru adil. You know what’s not fair Saudara? Kalau Tuhan bilang ‘It’s okay Kenny, it’s okay, I love you so much, ya dosa kamu nggak apa-apa because you’re so beautiful, you’re so precious in My sight, nggak apalah udah it’s okay’.

Kalau gitu, Tuhan nggak fair, karena dosa saya harus dihukum karena Tuhan sempurna. Tetapi karena Tuhan tidak hanya adil, Tuhan juga mengasihi. Jadi Dia bilang untuk adil, dosa ini dihukum ya, tetapi Aku yang tanggung. Itu kabar baik buat kita semua.

Tuhan adil Saudara dan Tuhan menggenapi keadilan-Nya dengan menanggung dosa seluruh dunia di dalam tubuh perwakilan kita yaitu Yesus Kristus. Karena Yesus, keadilan Allah ditegakkan, kebenaran Allah dinyatakan dan kasihNya dibuktikan karena Yesus.

Mungkin ada yang nanya kenapa itu harus terjadi ya? Kenapa Yesus harus menderita? Well, think about this Saudara, apa yang terlihat seperti ketidakadilan menjadi jalan keselamatan buat kita semua.

Apa yang terlihat unfair menjadi jalan keselamatan buat kita semua, Saudara. Tidak kebayang rencana Tuhan luar biasa, ternyata Allah sedang bekerja dalam semua itu untuk mendatangkan kebaikan buat seluruh umat manusia.

Dan inilah poin kita hari ini, Saudara, kita simpulkan.

Faith is not about understanding everything, but trusting in God who is upright and never unfair.

Iman bukan tentang mengerti segalanya, tetapi mempercayai Allah yang benar dan tidak pernah curang, Saudara, that’s faith, itulah iman.

Jadi, untuk kita yang masih dalam masa penantian dan masih “questioning” apa yang sedang terjadi, kita masih menderita, pertanyaannya bukan gini: ‘Kapan aku bakal mengerti what’s going on? Kapan aku bisa ngerti, kapan semuanya akan make sense?’ No, Saudara.

Pertanyaannya adalah di dalam semua ini, masih bisakah aku berkata bahwa Tuhan itu benar, bahwa Tuhan akan menunjukkan keadilan-Nya dan bahwa di dalam Dia tidak ada kecurangan? That’s the question yang harus kita jawab, Saudara.

Karena kalau Tuhan adil dan benar diSalib, Dia juga adil dan benar dalam penderitaan Saudara dan saya. Kalau Tuhan adil dan benar pada Yesus di kayu salib, Tuhan juga akan adil dan benar dalam penantian kita semua. Dia adalah Tuhan yang sama, konsisten.

Tapi kapan? We don’t know. I have news for you, kami tidak menjanjikan Saudara, ‘Oh kalau Saudara lakukan ini, mukjizat akan terjadi’, sorry Saudara, that’s not how it works. That’s not how it works.

Bahkan kalau Saudara baca dalam surat Ibrani baru, ada silsilah orang-orang yang menantikan dengan iman tetapi tidak menerima janjinya. Kalimatnya belum selesai, tidak menerima janji-Nya dalam kehidupan mereka, karena yang mereka nantikan adalah Yesus.

Tetapi Tuhan panjang sabar KasihNya, dan sooner or much much later in the end, kita semua akan bisa berkata, ‘Oh Tuhan adil dan benar, He is never ever unfair’.

Faith is not about understanding everything, but trusting in God who is upright and never unfair. Iman bukan tentang mengerti segalanya, tapi percaya Allah yang benar dan tidak pernah curang.

Kalau Saudara percaya ini, kalau kita percaya ini sebagai individu, sebagai komunitas, kita akan menjadi orang-orang yang stabil dalam setiap musim. Kita tidak gampang panik karena keadaan berubah, ekonomi, politik dan lain-lain, kita tidak gampang tergoncangkan karena kita tertanam, berakar dan musim apa pun kita tetap bisa berbuah dan dinikmati orang-orang, mau muda atau mau tua, Kenapa?

Karena kita nyambung sama sumber kita. Dan hanya karena kita tidak mengerti situasi, kita tidak berpindah dan melainkan kita bisa stay still dan berkata ‘Aku bukan pegang kendali, aku akan re-calibrate everything, fokus saya, standar saya, ekspektasi saya, iman saya supaya saya melihat kepada Tuhan saja’. Karena di dalam Dia tidak ada kecurangan, Dia selalu benar, Dia selalu benar.

Well, sedikit summary untuk tema kita di bulan ini, “Flourish”. Mazmur 92 tidak berkata bahwa orang “flourish”, orang yang benar dan flourishing supaya hidupnya nyaman atau mudah, nggak begitu Saudara. Orang benar itu flourish supaya hidupnya menjadi kesaksian.

God wants our lives to flourish so we can point to our Savior, Tuhan mau kita flourish supaya kita bisa menunjuk kepada Juru Selamat. Saat kita belum berhasil, “Oh, Dia pengharapan kita”, dan saat kita berhasil, “It’s not because of me, karena kasih karunia Tuhan”, dan saat kita gagal, “Aku nggak kuatir karena pengharapanku ada dalam Tuhan”.

In every season, every situation, kita bisa pegang sama Yesus. Dan kabar baiknya bukan karena kita layak, tetapi karena Dia baik bagi kita.

Flourishing bukan tentang menunjukkan siapa kita, kehebatan kita, kesuksesan dan keberhasilan kita, tetapi menyatakan siapa Tuhan kepada dunia sekeliling kita.

Karena kalau umat Allah ini “flourish”, dunia akan bisa melihat Dia dengan jelas. When God’s people flourish, dunia akan bisa melihat dan tahu siapa Tuhan. Amin! Saudara, bisa terima ini?

P.S : If you like our site, and would like to contribute, please feel free to do so at : https://saweria.co/316notes