How to Build a Significant Life by Ps. Sidney Mohede

How to Build a Significant Life by Ps. Sidney Mohede

Opening Verse – Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib – Filipi 2:1-8 TB

Unity adalah sesuatu yang sangat kita butuhkan untuk membangun gereja, dengan tidak mencari kepentingan sendiri, sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang mengganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri.

Pesan Kristus yang utama adalah mengasihi orang-orang di sekelilingmu, sayangnya di dunia ini kita masuk dalam sebuah generasi yang sangat mengagungkan individualisme, semua hanya aku-aku saja.

Di tahun ini, pesan dari gembala kita (Ps. Jeffrey Rachmat) adalah untuk saling membangun, supaya kehidupan kita bukan hanya sekedar untuk diri kita sendiri. Beberapa waktu yang lalu saya membaca artikel dari John Maxwell, ada kutipan yang sangat bagus, yang isinya :

“Once you have taste of significant, success will never satisfy you.” – “Sekali engkau merasakan hidup yang signifikan, kesuksesan tidak akan memuaskanmu lagi.”

Apa bedanya antara sukses dan signifikan – Sukses adalah adding value to one-self (menambahkan nilai ke diri sendiri), tetapi signifikan adalah hidup bermakna yang menambahkan nilai ke kehidupan orang lain.

Bayangkan jika ada banyak orang selfless yang mengayomi prinsip ini, apa yang bisa dikerjakan di bangsa ini akan menjadi limitless. Kita tidak bisa mendapatkan sukses sejati tanpa adanya kehidupan yang bermakna dan signifikan.

Ilustrasi – Kalau kita nonton film kungfu, ada sebuah pattern tersendiri, akan ada seorang master shifu dan biasanya dia mendapatkan seorang murid, dan dia mulai mengajarkan jurus-jurus sakti ke muridnya ini, dan biasa di akhirnya, murid-muridnya ada salah satu yang membangkang dan menjadi jahat.

Kalau saudara ingat, biasanya disaat murid ini membangkang dan melawan gurunya, ternyata baru ketahuan bahwa gurunya tidak mengajar semua jurusnya dulu, dan ada satu jurus pemungkas yang dia tidak ajari dan akhirnya bisa mengalahkan si murid yang jahat ini.

Kalau dikoneksikan dengan kehidupan sekarang, saat ini kita berada dalam lingkungan dunia dimana saat kita berhasil, kita menyimpan hal ini ke dalam diri kita sendiri karena kita takut orang itu akan menjadi lebih jago dan mahir dari kita sendiri.

Tetapi kalau kita berpikir seperti ini – ibaratnya seperti dengan ilustrasi kungfu tadi, dari 10 jurus yang dipunyai sang master, si guru mungkin hanya mengajar 8 jurus karena dia takut muridnya jadi lebih jago dan membangkang nantinya, dan circle ini terus berjalan dimana si murid selanjutnya hanya berani mengajar 6 jurus ke muridnya, dan seterusnya sampai akhirnya jurus ini menghilang dari permukaan bumi.

Tetapi firman Tuhan mengajarkan hal yang sangat berbeda.Sebaliknya kita harus mementingkan orang lain lebih utama dari kehidupan diri kita sendiri, dan itu yang dinamakan “A life of Significant” by John Maxwell.

Kehidupan yang bermakna selalu dimulai dengan menambahkan value dalam kehidupan orang lain.

Here’s what I learned about how to have significant life:

1. We add value to others when we truly value others.

Kita menanamkan nilai dalam kehidupan orang lain pada saat kita sungguh-sungguh menghargai mereka, lebih dari sekedar apa yang bisa mereka kerjakan.

KIta harus menghargai hubungan lebih dari kesempurnaan, artinya dalam semua aspek hubungan, kita harus menjunjung tinggi intimacy, lebih dari kita menginginkan kesempurnaan.

Hal ini dilupakan supaya mereka bisa bertumbuh bersama, to value relationship, lebih dari kita sekedar memenangkan sebuah argumen, but to love the person more than their talents and giftings. Kasihilah orang lebih dari talenta dan kemampuan-nya.

Kehidupan yang bermakna beda dengan sukses, karena sukses selalu identik dengan diri sendiri, tetapi pada saat kita bisa melihat potensi dan bibit orang, terlepas dari apa yang bisa mereka kerjakan di tengah-tengah kita, to try and want to know and love them first, disaat kita bisa memenangkan orang-nya, yang lainnya akan bisa bertumbuh dengan sendiri-nya.

2. We add value to others when we add value to ourselves for others.

Kita menambahkan nilai dalam hidup orang lain pada saat kita menambahkan nilai dalam diri kita sendiri bagi orang lain.

Supporting Verse – Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.
Lukas 2:52 TB

Yesus mengerti sebelum dia bisa melayani orang lain, dia harus bisa mulai untuk bertumbuh dalam kehidupan-nya sendiri, kita tidak bisa memberikan kepada orang sesuatu yang kita tidak miliki.

Ide dari kita menambahkan nilai berhubungan dengan apakah kita ada nilai yang bisa kita bagikan ke orang lain, pertumbuhan pribadi selalu dimulai terlebih dahulu sebelum kita bisa memberi dampak bagi orang lain.

Pada saat saudara diberkati dan sukses, kuncinya adalah di pikiran saudara, apakah saudara mau share ke orang lain? atau hanya mau menyimpan itu ke diri sendiri?

Stay Rooted in Christ – Berakarlah di dalam Kristus, Kita tidak ada apa-apanya tanpa Tuhan Yesus, karena itu kita harus bergantung dan staying connected in Christ, pada saat itu kita bisa menemukan tujuan dan terus bertahan dalam hidup.

Make a commitment do grow daily – Buatlah komitmen untuk bertumbuh setiap hari, semua orang bisa bertumbuh, tetapi bertumbuh yang intentional dan strategis harus dilakukan dengan sebuah komitmen, nothing happen automatically.

Buat rencana untuk level-up, tetapi jangan berhenti disitu, tetapi connect juga dengan orang lain, because connection is always intentional.

Be comfortable with being uncomfortable – Menjadi nyamanlah dengan ketidaknyamanan. Apa yang kita dapatkan dari membantu orang lain jauh lebih dahsyat dari segala ketidak-nyamanan kita.

Supporting Verse – Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.
Yohanes 12:24 TB

3. We add value when we know and relate to what others need

KIta menambahkan nilai dalam kehidupan orang lain pada saat kita mengetahui dan mengerti kebutuhan mereka

Supporting Verse – Maka timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka. Karena itu Ia mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya, dan berkata kepada mereka: “Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.”
Lukas 9:46-48 TB

Yesus mengerti betul bahwa setiap orang ingin mempunyai influence, ini situasi kehidupan yang kita hadapi saat ini. Kita harus menerima dan mengasihi orang yang tidak kelihatan & terbuang, dan jadilah seorang pelayan yang rendah hati, pada saat itulah saudara akan menjadi yang terbesar.

The greatest of you should be the least – Mata Tuhan berbeda dengan dunia.

Everyone can be great, because everyone can serve – Martin Luther King.

To develop a lifestyle of giving and generosity, kembangkanlah sebuah gaya hidup yang memberi. Menjadi orang yang generous tak hanya dengan materi, tetapi generous dengan waktu, entitlement, kasih, kesabaran, pengampunan, dan pujian ke orang lain.

Always be ready to lift up others before yourself – selalu siap untuk mengangkat orang lain sebelum diri sendiri.

Seorang Pendeta berkata – Our greatest contribution to the kingdom of God, may not be something we do, but someone we raised.

Always be ready to share your gifts – Selalu siap untuk membagikan karunia-mu.

Seorang Pembuat Poet berkata – Tujuan kehidupan adalah menemukan karunia, dan mengembangkan karunia itu, tetapi arti kehidupan adalah membagikan karunia itu. Getting the most out of life isn’t about how much you keep it to yourself, but about how much you can share it to others.

Skala evolusi to build a significant life – What can others do for me – What can i do for myself – What can I do for others?

Kita bisa memutarbalik-kan bangsa indonesia jika kita sebagai gereja bisa melakukan hal itu, but the scale is not done yet, hal ini harus dilengkapi dengan satu tingkatan evolusi lagi yang berjudul – What can i do with others, for others?

Sharing Ps. Sidney – Saat saya pulang ke indonesia tahun 1996, saya benar-benar dalam keadaan yang tidak punya apa-apa, saya mulai ikut sekolah theology, dan pada suatu malam ada teman saya yang ulang tahun dan meminta saya untuk memimpin pujian disana.

Di pesta itu, Ada satu hamba Tuhan yang sharing saat itu dan bernama Jeffrey Rachmat, dia bertanya pada saya, bahwa dia baru mulai persekutuan bernama JPC Youth Ministry setiap hari jumat, dan bertanya apa saya bisa bantu di persekutuan ini. Besoknya dia kemudian meminta saya untuk menghubungi dia, untuk datang ke kantor-nya.

Saat saya masuk ke kantor-nya, dia mengeluarkan kotak yang berisi HP Sony Ericcson, dan berkata “Sidney, ini buat kamu”. Saya shock karena tidak ada seorangpun yang pernah memberikan hadiah sebesar itu kepada saya, dan dalam sehari dia bisa menunjukkan bahwa dia bisa melihat sebuah potensi yang ada di diri saya, what I want you to understand is the heart behind it, bukan materi. dimana saya menemukan seseorang yang ingin menabur dan menginvestasikan kehidupan, dan tidak kebayang bahwa kita bisa menemukan gereja 3 tahun kemudian.

Hari ini saya ada karena ada orang-orang yang hidupnya bermakna dan bersedia untuk menuangkan hidupnya bagi saya, saya ingin agar kita semua juga melakukan hal yang sama, dan mari kita lakukan semua hal ini untuk kemuliaan Tuhan.