Imamat yang Rajani By Ps. Jeffrey Rachmat

JPCC Online Service (3 July 2022)

Salam damai sejahtera untuk Saudara semua, JPCC DATE Member yang dikasihi Tuhan. Selamat hari Minggu juga kepada semua Saudara yang menyaksikan ibadah daring hari ini. Kiranya Saudara semua dalam keadaan sehat dan tetap bersemangat. Besok, tepatnya pada tanggal 4 Juli, JPCC merayakan ulang tahun ke-23. Pada kesempatan yang baik ini, saya ingin memberi penghormatan dan kemuliaan hanya kepada Tuhan kita Yesus Kristus yang sudah memercayakan pekerjaan pelayanan ini kepada kami semua 23 tahun yang lalu.

Pada saat-saat yang tidak mudah, penuh tantangan, dan keadaan politik serta ekonomi yang tidak stabil, Roh Kudus memimpin sekelompok anak muda yang tidak berpengalaman untuk membangun sebuah jemaat yang juga kebanyakan terdiri dari orang-orang muda, yang kemudian dikenal dengan nama Jakarta Praise Community Church.

Pada saat itu, kami masih belum yakin betulapakah ini sekadar ide yang bagus atau idenya Tuhan,tetapi untuk temukan jawabannya, kami memberanikan diri melangkah dengan iman. Saya juga sadar firman Tuhan katakan dalam Mazmur 127:1 (TB).

Opening Verse – : Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga. Mazmur 127:1 (TB).

Itu sebabnya kalau JPCC masih ada sekarang, dan mengalami pertumbuhan, serta menghasilkan banyak buah, itu bukan karena kuat dan gagah kita, bukan karena kehebatan manusia, melainkan karena kemampuan yang diberikan oleh Roh Kudus, karena di luar Dia, kita tidak dapat melakukan apa-apa.

Itu sebabnya hanya Yesuslah yang layak diagungkan, layak ditinggikan, dan layak menerima semua pujian. Saya ingin mengajak Saudara semua, terutama para jemaat JPCC, untuk sekarang ini mengambil waktu sejenak, untuk mengucap syukur kepada Tuhan atas gereja-Nya.

Di bulan ini, kita akan belajar mengenai “Imamat yang Rajani”. Mungkin Saudara bertanya: “Apa itu? Berat sekali temanya. Apa hubungannya dengan kita?”

Agar Saudara mengerti, mari kita buka firman Tuhan dalam kitab 1 Petrus 2:9-10 (TB).

Supporting Verse – : Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan. 1 Petrus 2:9-10 (TB)

“Kamulah bangsa yang terpilih”. Siapa yang dimaksudkan Petrus di sini? Dari ayat berikutnya kita mengerti bahwa yang dimaksudkan adalah orang-orang yang sudah keluar dari kegelapan dan sekarang hidup dalam terangnya Tuhan, orang-orang yang sudah menerima belas kasihan Allah.

Belas kasihan Allah yang membuat mereka mendapat apa yang sebenarnya tidak layak mereka dapatkan. Orang-orang yang sadar bahwa tadinya mereka hidup di dalam kegelapan, tidak mempunyai hubungan pribadi dengan Tuhan; mereka yang tadinya diperbudak oleh dosa, dan layak untuk menerima hukuman atas pelanggaran mereka, tapi sekarang mereka percaya akan pengorbanan Yesus, yang mati di atas kayu salib 2000 tahun yang lalu, menebus dosa dan kesalahan mereka.

Mereka ini adalah orang-orang yang merespon terhadap kabar baik dengan mengambil keputusan untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi mereka, serta meninggalkan kehidupan mereka yang lama. Mereka tidak lagi hidup menurut keinginan daging, tetapi hidup menurut pimpinan Roh Kudus.

Mereka adalah orang-orang yang sudah berpindah dari kerajaan kegelapan dan maut kepada kerajaan terang dan kehidupan. Mereka inilah yang disebut Petrus sebagai “bangsa yang terpilih” dan diberi sebuah identitas baru, yaitu “imamat yang rajani” atau yang dikenal dengan istilah “royal priesthood”— sebuah istilah yang sebenarnya ada dalam Perjanjian Lama, dan istilah yang Tuhan peruntukkan bagi bangsa Israel.

Sekarang istilah ini diberikan kepada anak-anak Tuhan. Apa yang dimaksud dengan imamat yang rajani?

Ada dua kata yang digabungkan di sini, yaitu kata ‘imam’ dan kata ‘raja’. Mari kita bahas tentang imam lebih dahulu. Di Alkitab, dalam Perjanjian Lama, kalau kita lihat dari kehidupan mulai dari Ayub, Nuh, Abraham, Ishak, dan Yakub, sampai pada zamannya Musa, kepala keluarga dianggap sebagai seorang imam bagi keluarganya.

Jabatan itu kemudian diturunkan kepada anak laki-laki tertua dari keluarga tersebut untuk menggantikan ayahnya.

  • Seorang imam bertanggung jawab atas kehidupan rohani dari keluarga atau umat yang dipimpinnya.
  • Seorang Imam bertindak sebagai perantara antara Tuhan dan umat-Nya, sebagai penyambung lidah, sebagai pendoa.
  • Seorang Imam mendengar suara Tuhan dan membawa korban persembahan kepada Tuhan mewakili anggota keluarganya atau umat.

Ketika hukum Taurat datang melalui Musa, tugas keimamatan tidak lagi menjadi tanggung jawab dari kepala keluarga atau anak yang sulung, karena Tuhan sudah menentukan sebuah suku yang khusus, yaitu suku Lewi, untuk melakukan tugas keimamatan, dan menentukan Harun, kakak Musa, untuk berperan sebagai imam besar.

Peran imam besar adalah melayani sebagai perantara antara Allah dan umat-Nya, bangsa Israel. Ia dianggap sebagai pemimpin spiritual tertinggi di antara orang-orang Israel. Hak istimewa seorang imam adalah ia memiliki akses kepada Tuhan. Jadi bicara tentang imam adalah bicara tentang akses kepada Tuhan.

Tuhan itu suci dan benar, tetapi masalahnya, bangsa Israel jauh dari suci, dan mereka tidak hidup dengan benar. Jadi, saat itu tidak mungkin bagi bangsa Israel, yang hidup dalam dosa, untuk datang kepada Tuhan yang kudus dan benar, sehingga ditunjuklah seorang imam kepala atau imam besar untuk pergi menghadap Tuhan mewakili seluruh rakyat setahun sekali.

Imam besar ini mewakili rakyat untuk membawa korban persembahan bagi Tuhan supaya bangsa Israel mendapatkan pengampunan dosa, dan didamaikan dengan Tuhan.

Supporting Verse – Sekali setahun haruslah Harun mengadakan pendamaian di atas tanduk-tanduknya; dengan darah korban penghapus dosa pembawa pendamaian haruslah ia sekali setahun mengadakan pendamaian bagi mezbah itu di antara kamu turun-temurun; itulah barang maha kudus bagi TUHAN.” Keluaran 30:10 (TB)

Meskipun kaum Lewi adalah kaumnya para imam, Tuhan dalam Perjanjian Lama melihat bangsa Israel secara keseluruhan sebagai bangsanya para imam, bangsa yang memiliki akses khusus kepada Tuhan.

Supporting Verse – Lalu naiklah Musa menghadap Allah, dan TUHAN berseru dari gunung itu kepadanya: “Beginilah kaukatakan kepada keturunan Yakub dan kauberitakan kepada orang Israel: Kamu sendiri telah melihat apa yang Kulakukan kepada orang Mesir, dan bagaimana Aku telah mendukung kamu di atas sayap rajawali dan membawa kamu kepada-Ku. Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi. Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus. Inilah semuanya firman yang harus kaukatakan kepada orang Israel.” Keluaran 19:3-6 (TB)

Jadi jelas, ini adalah perkataan Tuhan kepada bangsa Israel. Sekarang Petrus menggunakan istilah yang sama, “imamat yang rajani”, kepada orang-orang yang hidup dalam perjanjian yang baru, kepada kita semua yang percaya kepada Yesus.

Hak-hak istimewa yang tadinya diperuntukkan bagi bangsa Israel, kini diaplikasikan kepada kita. Bukan hanya sekelompok orang hamba Tuhan, melainkan semua orang yang sudah menerima kasih karuniadan beriman kepada Yesus yang disebut “imamat yang rajani”.

Lalu apa untungnya menjadi imamat yang rajani? Mengapa Petrus menuliskan hal ini?

Karena setiap orang yang percaya kepada Yesus sekarang memiliki akses kepada Tuhan. Tadi saya sudah sempat katakan bahwa bicara tentang imam adalah bicara soal akses kepada Tuhan. Kalau di Perjanjian Lama, akses kepada Tuhan menjadi hak eksklusif suku Lewi, dan hanya imam besar saja yang diperbolehkan masuk ke tempat maha suci di dalam bait Allah setahun sekali.

Namun sekarang dalam perjanjian yang baru, kita semua yang sudah percaya Yesus beroleh akses untuk datang ke hadirat Tuhan. Tidak perlu lagi ada yang mewakili kita. Bahkan kita diangkat sebagai anak Tuhan, seperti tertulis dalam Yohanes 1:12 (TB).

Supporting Verse – Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya. Yohanes 1:12 (TB)

Sekarang, sebagai anak, kita punya akses kapan saja untuk menghadap Bapa kita. Sebagai anak, kita bisa menghadap Tuhan setiap waktu, setiap saat, bukan hanya setahun sekali, bukan hanya hari Minggu saja.

Artinya, setiap hari kita dapat berkomunikasi dengan Tuhan dan mendengar suara-Nya. Setiap saat kita dapat merasakan hadirat-Nya. Dan semuanya itu dimungkinkan melalui kematian Yesus. Yesus, sebagai korban sempurna, sudah membayar harga dari semua dosa-dosa kita, sekali untuk selama-lamanya.

Saat Ia mati di atas kayu salib, tabir Bait Suci terkoyak dua, dari atas ke bawah. Ini sebuah pernyataan dari Surga kepada dunia bahwa sekarang akses kepada Tuhan terbuka bagi setiap orang yang menaruh iman mereka kepada Yesus.

Karena dosa-dosa kita sudah diperhitungkan kepada Yesus,dan kebenaran Kristus diperhitungkan kepada kita, maka sekarang kita memiliki akses ke dalam hadirat Tuhan tanpa harus membawa hewan korban sebagai persembahan karena Yesus sudah menggenapi tuntutan hukum Taurat dengan menjadi korban yang sempurna, sekali untuk selama-lamanya.

Supporting Verse – Dan kemudian kata-Nya: “Sungguh, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu.”Yang pertama Ia hapuskan, supaya menegakkan yang kedua. Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus. Selanjutnya setiap imam melakukan tiap-tiap hari pelayanannya dan berulang-ulang mempersembahkan korban yang sama, yang sama sekali tidak dapat menghapuskan dosa. Tetapi Ia, setelah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, Ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah, dan sekarang Ia hanya menantikan saatnya, di mana musuh-musuh-Nya akan dijadikan tumpuan kaki-Nya. Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan. Ibrani 10:9-14 (TB)

Puji Tuhan! Jadi Yesus adalah pintu untuk kita semua dapat masuk ke hadirat Allah. Kemudian ayat ini dilanjutkan dalam Ibrani 10:19-22 (TB).

Supporting Verse – Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri, dan kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah. Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni. Ibrani 10:19-22 (TB)

Jadi jelas bukan karena usaha kita, melainkan karena pemberian Allah melalui pengorbanan Anak-Nya yang tunggal, yaitu Yesus, sekarang siapa saja yang percaya kepada Yesus dapat memiliki akses untuk menghadap Tuhan dan masuk ke dalam hadirat-Nya.

Pertanyaannya adalah, apa yang kita mau lakukan dengan akses yang kita punya?

Sharing Ps. Jeffrey – Saya ingin berbagi pengalaman saya beberapa tahun lalu ketika saya menonton pertandingan tim sepak bola nasional di stadion GBK. Saya diajak oleh seorang teman yang sudah siapkan tiket untuk saya. Saya hanya perlu datang ke stadion dan temui dia di sebuah lokasi yang sudah ditentukan.

Yang saya tidak ketahui adalah tiket yang dia beli untuk saya bukan tiket biasa, melainkan tiket VVIP, jadi saya mendapat akses ke tempat para petinggi atau pejabat negara biasanya duduk. Seberapa sering saya ke GBK, saya belum pernah dan tidak pernah terbayangkan bisa duduk di sana.

Bahkan sebenarnya ada rasa tidak layak, rasa tidak enak untuk masuk ke sana. Namun karena tiket yang saya pegang, semua orang, dari penjaga sampai kepada pemandu yang ada di dalam, tidak ada yang mempersoalkan kehadiran saya, bahkan mereka menyambut kedatangan saya. Bahkan mereka mempersilakan saya untuk menikmati hidangan makanan dan minuman yang tersedia di sana.

Ini pelajaran yang saya mau sampaikan kepada Saudara, bahwa saya bisa mendapat fasilitas dan menyaksikan pertandingan sepak bola dari tempat yang terbaik karena sudah ada orang (dalam hal ini teman saya) yang rela membayar harga tiket untuk saya.

Demikian halnya dengan akses masuk ke dalam hadirat Tuhan, Kita dapatkan secara cuma-cuma karena Yesus sudah membayarnya terlebih dahulu untuk kita.

Kemudian Petrus katakan bahwa kita bukan hanya bangsa yang terpilih, melainkan juga bangsa yang kudus. Sama seperti ilustrasi saya tadi. Bisa jadi kita tidak merasa bahwa kita ini kudus, karena kita tahu betul apa yang kita lakukan sehari-hari jauh dari yang namanya “kudus”.

Namun karena kita memegang akses yang sudah dibayarkan oleh Yesus, kita dilayakkan, dibersihkan, dianggap kudus,bahkan dinyatakan sebagai umat kepunyaan Allah sendiri, yaitu orang-orang yang sudah ditebus dengan darah Anak Domba.

Supporting Verse – Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu! 1 Korintus 6:20 (TB)

Artinya jangan sia-siakan apa yang Yesus sudah lakukan di atas kayu salib. Dia sudah menebus kita dan membayar semuanya lunas, bukan dicicil. Jadi sekarang kita perlu hidup sesuai nilai yang diletakkan atas kita.

Mari kita manfaatkan sebaik mungkin akses yang dianugerahkan kepada kita. Namun jangan lupa, bahwa sebagai imam, kita bukan hanya mempunyai akses masuk ke dalam hadirat Tuhan. Namun sebagai imam, kita juga perlu membawa korban persembahan kepada Tuhan.

Namanya saja korban persembahan; artinya, memerlukan pengorbanan dari pihak kita. Korban persembahan seperti apa yang sekarang kita perlu bawa?

Pertama, kita perlu mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup.

Kalau di dalam Perjanjian Lama, yang mereka persembahkan adalah binatang yang sudah mati. Namun kini, kita dapat mempersembahkan persembahan yang lebih baik, yaitu tubuh kita sendiri, karena seperti bulan lalu kita sudah pelajari, tubuh kita ini sekarang adalah baitnya Allah, tempat Roh Allah berdiam.

Supporting Verse – Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Roma 12:1 (TB) 

Itu sebabnya kita punya tugas untuk merawat tubuh kita, baik secara jasmani maupun rohani, serta menjaga kekudusannya, karena kita adalah bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri.

Kedua, kita perlu membawa korban pujian.

Supporting Verse – Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya. Ibrani 13:15 (TB)

Lidah atau bibir manusia terlatih untuk mengucapkan hal-hal yang negatif, apalagi kalau kita sedang dirugikan atau mengalami suatu kejadian yang tidak menguntungkan.

Namun kalau saat kita dirugikan, atau mengalami kejadian yang tak menguntungkan, kita mengambil keputusan untuk memuji Tuhan, itu namanya korban persembahan.

Korban persembahan atau korban pujian akan segera mengubah situasi kita.

Supporting Verse – Siapa yang mempersembahkan syukur sebagai korban, ia memuliakan Aku; siapa yang jujur jalannya, keselamatan yang dari Allah akan Kuperlihatkan kepadanya.” Mazmur 50:23 (TB)

Ketiga, kita perlu mempersembahkan harta kita, baik dalam bentuk perpuluhan, maupun dalam bentuk persembahan lainnya.

Supporting Verse – Hormatilah TUHAN dengan mempersembahkan kepada-Nya yang terbaik dari segala harta milik dan hasil tanahmu, maka lumbung-lumbungmu akan penuh gandum, dan air anggurmu akan berlimpah-limpah sehingga tidak cukup tempat untuk menyimpannya. Amsal 3:9-10 (BIS)

Keempat, kita perlu mempersembahkan pelayanan yang terbaik, memberikan bantuan kepada mereka yang memerlukan—baik itu di gereja, di komunitas kita, di tempat kerja, dan lain sebagainya.

Supporting Verse – Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah. Ibrani 13:16 (TB)

Lalu mengapa kita perlu mengerti konsep imamat yang rajani ini? Karena ini akan mengubah paradigma kita, dari umat Tuhan yang hanya suka meminta-minta, menjadi umat Tuhan yang suka memberi.

Karena kalau kita mengerti bahwa kita ini adalah imamat yang rajani, maka kita datang ke gereja bukan dengan pola pikir ingin menerima; melainkan, kita datang ke rumah Tuhan untuk memberi karena kita adalah imamnya Tuhan, imam yang punya tugas untuk membawa korban persembahan.

Selama ini banyak anak Tuhan yang hanya senang didoakan, senang diberkati, senang dilayani, senang diperhatikan, karena mereka tidak mengerti identitas mereka yang baru, yaitu imamat yang rajani. Mereka berpikir bahwa jabatan imam itu hanya milik para pendeta atau hamba Tuhan saja.

Namun sekarang kita mengerti bahwa akses dan identitas itu diberikan kepada siapa saja yang percaya pada Yesus. Harapan saya tentunya setelah kita belajar tentang imamat yang rajani ini, kita mulai mengerti dan tidak menjadi anak Tuhan yang hanya memikirkan diri sendiri, tetapi berani menjalankan fungsi keimamatan kita— misalnya dengan mendoakan orang lain , bersyafaat untuk orang lain, suka memberkati orang lain, mempunyai sikap yang siap memberi bantuan kepada orang lain yang memerlukannya, dan juga sikap yang siap untuk berbagi kebenaran firman Tuhan.

Imamat yang rajani artinya seorang imam yang mempunyai karakteristik seorang raja. Raja adalah seseorang yang memerintah, seseorang yang mempunyai kuasa dan otoritas, yang biasanya mempunyai karakter dan nilai-nilai moral yang tinggi.

Seorang raja tidak meminta-minta; tetapi sebaliknya, raja yang baik memperhatikan nasib rakyatnya. Beberapa tahun yang lalu, ada sebuah film Hollywood yang menceritakan seorang putra mahkota dari sebuah kerajaan di Afrika, yang datang ke Amerika, untuk mencari pasangan hidup, dan ia menyamar sebagai seorang yang miskin dan bekerja sebagai staf kebersihan di sebuah restoran.

Yang menarik dari cerita ini adalah meskipun dia menyamar sebagai orang miskin, tetapi ketika dia berinteraksi dengan banyak orang, terutama dengan wanita yang memikat hatinya, dia tidak dapat menutupi keberadaannya sebagai anak raja. Ada nilai-nilai kerajaan yang muncul, melalui sikap dan tutur katanya yang sangat sopan, kemurahan hatinya ketika melihat orang miskin, dan perbuatannya ini membuat dia berbeda dengan para pekerja lainnya.

Kira-kira seperti itulah yang Tuhan inginkan dari kita sebagai imamat yang rajani. Sebagai anak Tuhan, seharusnya nilai ‘excellence‘ itu nampak dalam setiap pekerjaan yang diberikan kepada kita.

Kita menjadi duta besar Kerajaan Allah di dunia ini, sehingga sifat dan karakter Tuhan bisa terlihat di dalam pekerjaan kita sehari-hari, di industri atau di mana pun kita ditempatkan.  Kita mampu mengalahkan godaan dan tidak ikut terlibat dengan dosa yang dilakukan oleh orang-orang yang belum mengenal Tuhan karena kita, layaknya seorang raja, punya kuasa dan otoritas untuk mengalahkan dosa, di dalam nama Yesus.

Supporting Verse – Saudara-saudara yang tercinta! Kalian adalah orang asing dan perantau di dunia ini. Sebab itu saya minta dengan sangat supaya kalian jangan menuruti hawa nafsu manusia yang selalu berperang melawan jiwa. Kelakuanmu di antara orang yang tidak mengenal Tuhan haruslah sangat baik, sehingga apabila mereka memfitnah kalian sebagai orang jahat, mereka toh harus mengakui perbuatanmu yang baik, sehingga mereka akan memuji Allah pada hari kedatangan-Nya. 1 Petrus 2:11-12 (BIS)

Demikianlah seharusnya kita menjalani kehidupan kita sehari-hari sambil menjalankan fungsi kita sebagai imamat yang rajani. Kita ada untuk menjadi perantara, menjadi penyambung lidah Tuhan bagi orang-orang yang belum mengenal Dia, yang hidupnya masih di dalam kegelapan dan dikuasai dosa.

Kita menjadi pensyafaat bagi mereka dan berdoa untuk kepentingan orang lain, supaya mereka mendapat belas kasihan Tuhan. Pada akhirnya, Petrus mengungkapkan bahwa tujuan utama sebagai imamat yang rajani adalah agar kita dapat memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kita keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib, kita menjadi saksi kemurahan Tuhan, sehingga banyak orang yang belum mengenal Tuhan dapat menerima Yesus secara pribadi.

Ini yang menjadi doa saya untuk JPCC, bahwa mulai sekarang, dan di tahun-tahun ke depan, kita selalu ingat siapa kita, identitas baru yang diberikan Tuhan kepada kita sebagai imamat yang rajani. Sekali lagi, selamat hari jadi JPCC yang ke-23, dan Tuhan Yesus memberkati kalian semua. Amin.

P.S : Dear Friends, I am open to freelance copywriting work. My experience varies from content creation, creative writing for an established magazine such as Pride and PuriMagz, web copywriting, fast translating (web, mobile, and tablet), social media, marketing materials, and company profile. Click here to see some of my freelancing portfolios – links.

If your organization needs a Freelance Copywriters or Social Media Specialist, Please contact me and see how I can free up your time and relieve your stress over your copy/content needs and deadlines. My contact is 087877383841 and vconly@gmail.com. Sharing is caring, so any support is very much appreciated. Thanks, much and God Bless!