Raja Berhati Hamba By Ps. Jeffrey Rachmat

JPCC Online Service (17 October 2021)

Hi JPCC, Salam damai sejahtera untuk kalian semua dan juga semua Saudara yang mengikuti online service hari ini, apa kabarnya? Saya berharap tentunya kalian dalam keadaan baik, jasmani maupun rohani, serta berada di dalam perlindungan tangan Tuhan yang kuat. Mungkin apa yang kalian hadapi hari-hari ini tidak seperti yang kalian harapkan, tetapi tetaplah dalam iman dan nantikanlah Tuhan, jangan lepaskan pengharapanmu di dalam Dia. Sebab rencana-Nya bukan rencana kita, jalan Tuhan tidak sama dengan jalan kita. Meskipun kita tidak melihat, bukan berarti Tuhan diam saja. Percayalah bahwa Tuhan baik dan kebaikan-Nya yang akan terus berlaku dalam kehidupan kita semua.

Saya sungguh sangat menikmati mini album JPCC Worship yang baru, dengan judul “FOLLOWING JESUS” yang dirilis minggu lalu. Saya berharap kalian juga sudah mengunduhnya dan menikmati hadirat Tuhan sembari menyanyikan lagu-lagu yang baru. Terima kasih kepada teman-teman di JPCC Worship dan juga JPCC Choir, yang selama ini— terutama di masa pandemi ini—terus berkarya dan tidak pernah berhenti berlatih, meskipun dengan segala keterbatasan yang ada. Terpujilah nama Tuhan!

Minggu lalu kita sudah belajar, bagaimana Yesus— yang walaupun dalam rupa Allah—tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu, sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba yang melayani secara sukarela, atau yang dikenal dengan seorang “bondservant“.

Bondservant adalah seorang yang menjadi budak secara sukarela.Dia melepaskan hak pribadinya tanpa paksaan dan mendedikasikan seluruh hidupnya hanya untuk melayani tuannya.

Istilah bondservant ini dipakai Rasul Paulus, mengawali penulisan suratnya kepada jemaat di Roma dalam Roma 1:1 (TB).

Opening Verse – Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah. Roma 1:1 (TB)

Paul, a bondservant of Jesus Christ, called to be an apostle, separated to the gospel of God. Romans 1:1 (NKJV)

Istilah bondservant ini juga dipakai dalam suratnya kepada Titus. Hal yang sama juga dilakukan oleh Yakobus, oleh Petrus dan juga Yudas, saudara Yakobus. Dalam surat-surat mereka, selalu dibuka dengan pernyataan bahwa mereka adalah ‘bondservant of Jesus Christ’; mereka adalah hamba-hamba yang mengabdikan seluruh hidup mereka, untuk melayani Tuhan Yesus dengan sukarela, tanpa paksaan, karena mereka sudah terlebih dahulu mengalami kasih karunia dan kebaikan hati Tuhan sendiri.

Seperti yang saya sudah katakan minggu lalu, bahwa Tuhan tidak berhutang apa-apa kepada kita, namun sebaliknya, kita berhutang segalanya kepada Tuhan.

Supporting Verse – “Jadi ikutlah teladan saya, sama seperti saya juga mengikuti teladan Kristus.” 1 Korintus 11:1 (TSI)

Sebagai murid-murid Yesus, Paulus, Petrus, dan juga yang lainnya melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh guru mereka. Sekaligus mengingatkan kepada semua pengikut Yesus yang lainnya, untuk mengambil pikiran dan perasaan yang sama seperti yang ada di dalam Yesus. Terutama dalam mereka berinteraksi satu dengan yang lainnya, dan dalam mereka menjalankan pelayanan di ladang Tuhan. Jangan melakukannya secara terpaksa atau untuk mengambil keuntungan diri sendiri, apalagi melakukannya untuk mencari popularitas atau untuk menyenangkan manusia.

Supporting Verse – Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus. Galatia 1:10 (TB)

For do I now persuade men, or God? Or do I seek to please men? For if I still pleased men, I would not be a bondservant of Christ. Galatians 1:10 (NKJV)

Kita juga belajar, Yesus katakan bahwa Dia tidak datang untuk dilayani, tetapi untuk melayani. Jadi kalau kita menerima Dia dan Roh-Nya berada di dalam kita, maka kita seharusnya mempunyai semangat untuk melakukan hal yang sama, yaitu untuk melayani dan bukan untuk dilayani. Di mana pun kita berada, di mana pun kita ditempatkan, baik itu di perusahaan tempat kita bekerja atau di gereja atau di ladang Tuhan lainnya, maka sikap yang benar adalah: “Aku ada di tempat ini untuk melayani dengan sebaik mungkin, untuk memberikan yang terbaik yang aku bisa berikan”.

Supporting Verse – Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan. Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya. Barangsiapa berbuat kesalahan, ia akan menanggung kesalahannya itu, karena Tuhan tidak memandang orang. Kolose 3:22-25 (TB)

The sullen servant who does shoddy work (hamba yang suka mengeluh dan teledor) will be held responsible (akan dituntut pertanggungjawaban). Being Christian doesn’t cover up bad work (menjadi Kristen bukan alasan untuk lalai). Colossians 3:25 (MSG)

Dengan kata lain kalau kita bekerja asal-asalan maka kita akan menerima konsekuensinya, dan Tuhan tidak akan membela kita kalau kita diberhentikan, karena kita juga tidak merepresentasikan nama Tuhan dengan baik di sana. Sekarang mari kita melanjutkan pelajaran kita dengan membuka kitab Lukas 22:27-30 (TB).

Supporting Verse – Sebab siapakah yang lebih besar: yang duduk makan, atau yang melayani? Bukankah dia yang duduk makan? Tetapi Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan. Lukas 22:27 (TB)

Berhenti di sini dulu. Kata “tetapi” di sini bicara mengenai pengecualian. Artinya, ini tidak biasa! Dengan kata lain, meskipun Yesus lebih besar, tetapi Dia tidak duduk untuk dilayani, melainkan Dia hadir untuk melayani. Kemudian ayat 28 katakan:

Kamulah yang tetap tinggal bersama-sama dengan Aku dalam segala pencobaan yang Aku alami. Dan Aku menentukan hak-hak Kerajaan bagi kamu, sama seperti Bapa-Ku menentukannya bagi-Ku, bahwa kamu akan makan dan minum semeja dengan Aku di dalam Kerajaan-Ku dan kamu akan duduk di atas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. Lukas 22:28-30 (TB)

Di sini Yesus membuat suatu statement yang menyatakan bahwa Dia adalah seorang Raja yang mempunyai kerajaan. Hal yang sama juga Yesus ungkapan ketika Dia berhadapan dengan Pilatus, dalam Yohanes 18:33-37 (TB).

Supporting Verse – Maka kembalilah Pilatus ke dalam gedung pengadilan, lalu memanggil Yesus dan bertanya kepada-Nya: “Engkau inikah raja orang Yahudi?” Jawab Yesus: “Apakah engkau katakan hal itu dari hatimu sendiri, atau adakah orang lain yang mengatakannya kepadamu tentang Aku?” Kata Pilatus: “Apakah aku seorang Yahudi? Bangsa-Mu sendiri dan imam-imam kepala yang telah menyerahkan Engkau kepadaku; apakah yang telah Engkau perbuat?” Jawab Yesus: “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini.” Maka kata Pilatus kepada-Nya: “Jadi Engkau adalah raja?” Jawab Yesus: “Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku.” Yohanes 18:33-37 (TB)

Yesus mengatakan bahwa Dia seorang raja, namun kerajaan-Nya bukan dari dunia ini. Dia datang ke dunia ini dengan memposisikan diri-Nya sebagai seorang hamba, namun bukan berarti Yesus lupa akan jati diri-Nya—bahwa Dia adalah seorang raja. Karena sering kita baca bahwa Dia menceritakan tentang Kerajaan-Nya—dari mana Dia datang.

Nah, secara umum saja, seorang raja adalah seseorang yang berdaulat. Seorang yang mempunyai kuasa penuh atas sebuah wilayah dan atas semua orang yang berada di dalam wilayah kekuasaannya. Seseorang menjadi raja bukan karena ditunjuk tetapi karena garis keturunan. Raja adalah seseorang pemimpin atau orang nomer satu di kerajaannya. Seseorang yang memerintah dengan kekuasaan absolut, haknya penuh. Seseorang yang memerintah dengan kekuasaan yang absolut, haknya penuh.

Raja selalu dilayani ke mana dia pergi. Daerah kekuasaannya merupakan kepunyaannya. Itu sebabnya seorang raja adalah seorang yang kaya, yang penuh dengan kemuliaan dan terbiasa dengan hal-hal yang sifatnya excellent (luar biasa). Tetapi, sebagai raja, Yesus tidak berperilaku seperti layaknya seorang raja di dunia ini, yang selalu minta atau yang selalu dilayani. Dia memutuskan untuk melayani sebagai seorang hamba—a bondservant— untuk melakukan kehendak Bapa-Nya.

Secara umum, seorang hamba mempunyai karakter dan mentalitas yang sangat berbeda dengan seorang raja. Karena hamba adalah seorang yang tidak mempunyai hak, seorang yang sederhana, yang biasanya miskin, yang tidak punya apa-apa. Standar hidupnya juga rendah. Hamba tidak berpikir yang muluk-muluk dan pekerjaannya sehari-hari adalah melayani tuannya, untuk menjalankan perintahnya.

Nah, uniknya, gambaran seorang raja dan gambaran seorang hamba ini ada di dalam pribadi Yesus— seperti sebuah paradoks. Dan inilah yang membuat apa yang dilakukan Yesus selama berada di dunia ini, begitu efektif dan berdampak sangat besar, bahkan sampai hari ini.

Apakah itu paradoks? Paradoks adalah pernyataan yang tampaknya bertentangan atau tidak masuk akal,tetapi kenyataannya mengandung sebuah kebenaran.

Nah, kalau ini tidak dimengerti,maka berpotensi menimbulkan perbedaan pendapat yang bisa mengarah kepada perpecahan di antara pengikut-pengikut Yesus. Karena ada mereka-mereka yang hanya melihat Yesus dari sisi seorang raja. Mereka menekankan bahwa mereka adalah anak raja—yang punya kuasa dan otoritas—semua harus terjadi di bawah perintah mereka.

Hidup mereka harus mencapai kelimpahan seperti yang layaknya seorang raja, dengan segala kelimpahannya, dan lain sebagainya. Tetapi di sisi yang lain ada juga mereka-mereka yang melihat Yesus dari sisi seorang hamba saja, karena itu hidup mereka juga sederhana, ala kadarnya, tidak mempunyai mimpi yang muluk-muluk, sibuk melayani—terutama melayani yang kurang mampu— dan lain sebagainya.

Itu sebabnya penting untuk kita mengerti keduanya dan tidak seharusnya ini menimbulkan perbedaan pendapat, karena memang bukan yang satu lebih benar dari yang lain, tetapi paradoks ini ada di dalam Yesus. Karena memang Dia adalah Raja yang melayani; He is the Servant King.

Sebenarnya tanpa disadari, kita pernah bertemu dengan paradoks dalam pengenalan kita akan Yesus, dan juga sebagai orang yang percaya kepada-Nya. Contohnya, kita sering mendengar, bahkan menyanyikan,“Dialah singa dari Yehuda“ diambil dari kitab Wahyu pasal yang kelima.

Supporting Verse – Lalu berkatalah seorang dari tua-tua itu kepadaku: “Jangan engkau menangis! Sesungguhnya, singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud, telah menang, sehingga Ia dapat membuka gulungan kitab itu dan membuka ketujuh meterainya.” Wahyu 5:5 TB

Tetapi pada saat yang bersamaan Yesus juga adalah Anak Domba Allah. Jadi mana yang benar, singa atau domba? Sebab singa dan domba adalah dua binatang yang sangat berbeda karakternya. Singa merupakan raja hutan yang kuat dan perkasa. Auman singa menakutkan semua binatang yang lain, dan jangan main-main dengan seekor singa.

Sedangkan domba adalah binatang yang tidak berbahaya, binatang yang lemah, yang tidak dapat membela diri sendiri. Sebagai anak-anak Tuhan, kita sering mengumpamakan diri kita sebagai burung rajawali, dan itu tidak salah karena firman Tuhan tertulis demikian dalam kitab Yesaya 40:31 (TB).

Supporting Verse – tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah. Yesaya 40:31 (TB)

Rajawali adalah seekor burung yang sangat perkasa di udara. Seekor burung yang tidak takut badai, tetapi justru menggunakan kekuatan angin untuk dia terbang semakin tinggi. Rajawali adalah seekor burung yang mempunyai jarak pandang yang sangat jauh, bahkan sampai puluhan kilometer. Namun, Yesus juga meminta kita untuk tulus seperti merpati.

Jadi yang mana yang benar, jadi rajawali atau menjadi merpati? Burung merpati sangat berbeda dengan rajawali. Merpati adalah satu-satunya hewan yang mempunyai kemampuan untuk menemukan jalan pulang, untuk kembali ke tempat asalnya, meskipun sudah terbang lebih dari ratusan, bahkan ribuan kilometer. Karena kemampuannya ini yang luar biasa, selama berabad-abad, burung merpati digunakan oleh para bangsawan, juga para pemimpin militer di zaman dulu untuk menyampaikan pesan.

Selain itu juga yang menarik dari burung merpati adalah dia tidak mempunyai kantong empedu. Jadi bukan rajawali saja tetapi juga burung merpati, merupakan gambaran kita sebagai anak-anak Tuhan. Bagaikan rajawali, kita diharapkan untuk mempunyai visi yang tajam, mempunyai kekuatan iman untuk naik tinggi, terutama ketika menghadapi badai.

Sayangnya banyak anak-anak Tuhan yang lupa jati diri mereka ketika badai COVID melanda. Tetapi bukan hanya bagai rajawali, pada saat yang bersamaan kita diharapkan untuk mencontoh merpati, yang tidak pernah lupa dari mana dia berasal. Jadi mau naik setinggi apa pun, merpati selalu dapat menemukan jalan pulang, tidak menjadi tinggi hati, menyampaikan kabar baik tentang perbuatan Tuhan yang luar biasa.

Dan seperti merpati kita diharuskan untuk hidup tulus;artinya tidak mempunyai hidden agenda— tidak mempunyai agenda yang tersembunyi—dan tidak menyimpan, apalagi hidup dalam kepahitan. Paradoks ini merupakan keunikan tersendiri, sehingga Yesus membingungkan orang-orang yang memusuhi Dia. Yesus bukan hanya raja yang melayani, tetapi pada saat Dia melayani, Dia melayani dengan mental seorang raja.

Seperti yang sudah saya sampaikan minggu lalu, pada saat Yesus membuat anggur dari air pembasuhan di pesta perkawinan di Kana, Dia tidak membuat anggur yang biasa, tetapi Dia membuat anggur yang terbaik. Ini keluar dari mental seorang raja yang mempunyai hati yang berkelimpahan. Sebab kalau Dia memakai cara berpikir seorang hamba, tentu Dia akan membuat anggur yang biasa saja, karena seorang hamba tidak berpikir yang muluk-muluk.

Anggur yang baik pasti lebih mahal daripada anggur yang biasa. Jadi ngapain juga, untuk membuat anggur yang terbaik, kalau dia pakai mental atau cara berpikir seorang hamba?Jadi bisakah kalian melihat keunikan ini? Kemudian, sudah saya contohkan juga minggu lalu, mana ada hamba yang mempunyai pemikiran mau traktir makan 5.000 orang lebih sampai semuanya kenyang? Buat dirinya sendiri saja belum tentu ada, bagaimana mau memberi makan bagi begitu banyak orang? Namun Yesus, bukan sembarangan hamba; Dia hamba dengan mental seorang raja.

Sekarang mari kita lihat, ayat yang mungkin sering kita dengar yaitu di kitab Wahyu 3:20-21 (TB).

Supporting Verse – Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku. Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Akupun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya. Wahyu 3:20-21 (TB)

Bisakah kalian melihat paradoks di sini? Mana ada seorang raja yang mengetok pintu?Raja tidak pernah buka pintu! Semua pintu terbuka dengan sendirinya sebelum raja masuk ke ruangan. Perhatikan:seorang hamba akan selalu mengetok pintu, dan tidak berani masuk sampai diijinkan untuk masuk. Sebagai seorang raja yang melayani, Yesus tidak akan pernah memaksa kita membuka pintu hati kita. Dia setia, berdiri di depan pintudan mengetok sampai kita izinkan Dia masuk.

Sekali lagi, “pintu” di sini adalah gambaran dari pada pintu hati. Tetapi apabila kita mendengar ketokan-Nya dan membukakan pintu, mempersilakan Dia masuk, dan Dia akan masuk dan makan bersama-sama dengan kita, dan kita bersama-sama dengan Dia.

Perhatikan:tidak ada hamba yang berani mengajak makan tuannya. Jadi jika kita mengizinkan Dia masuk maka Dia masuk sebagai Raja dalam kehidupan kita, bahkan dikatakan kita akan didudukkan bersama-sama dengan Dia, di atas takhta-Nya. Jelas, di sini dia berperan sebagai seorang raja, karena mana ada seorang hamba yang mempunyai takhta?

Jadi Dia bukan sembarangan hamba dan Dia juga bukan sembarangan raja, karena Yesus adalah Raja yang melayani; He is the Servant-King. Jadi, kita pun sebagai orang-orang yang percaya kepada-Nya,harus mempunyai karakteristik yang sama, mempunyai cara berpikir dan perasaan yang sama seperti yang ada di dalam Yesus.

Sebagai seorang Raja, Dia biasa mendapatkan pujian dan kuasa. Dan juga sebagai seorang hamba, Dia sudah melepaskan hak pribadi-Nya dan tidak menuntut apa-apa. Saya berdoa agar kiranya kita terus belajar dan diberikan hikmat, sehingga dapat meneladani the Servant King, dalam kita menjalani keseharian kita, sehingga kita dapat menjadi saksi Kristus yang efektif dan berdampak bagi dunia ini.

Kita perlu mempunyai cara berpikir yang besar seperti layaknya seorang raja, terutama dalam visi dan mimpi akan masa depan. Tetapi pada saat yang bersamaan, seperti seorang pelayan, kita perlu memikirkan hal-hal yang kecil, terutama dalam hal perencanaan dan pelaksanaannya. Kita perlu berjalan dalam kuasa dan pengurapan Tuhan, tetapi pada saat yang bersamaan, tetap rendah hati dan lemah lembut, serta selalu bergantung pada pimpinan Roh Kudus dalam hidup kita. Kita perlu hidup dalam kelimpahan seperti yang dijanjikan Yesus dalam Yohanes 10:10, sehingga kita dapat berkemurahan hatidalam hal memberi dan berbagi kepada orang-orang lain.

Supporting Verse – Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan, Yohanes 10:10 TB

Tetapi pada saat yang bersamaan, kita tetap harus terus mempertahankan rasa lapar dan haus akan kebenaran. Seorang hamba biasanya memiliki komitmen yang rendah, tetapi Yesus bukan sembarangan hamba. Dia memiliki komitmen yang sangat tinggi untuk melakukan kehendak Bapa-Nya. Sebaliknya seorang raja biasanya membutuhkan perawatan yang tinggi, karena selalu perlu dilayani, tetapi Yesus bukan sembarangan raja; Dia datang untuk melayani.

Itu sebabnya, kita juga harus memiliki komitmen yang tinggi, tetapi kita harus rendah dalam pemeliharaan. Ini yang saya sebut dengan: high in commitment (berkomitmen tinggi) dan low in maintenance (tak banyak menuntut). Di dunia ini, atau di dunia kita sekarang ini, apa yang Yesus teladani ini dikenal sebagai “servant leadership“, (kepemimpinan yang melayani), dan sudah ada banyak orang yang mengajarkan bahkan menulis buku tentang “servant leadership” ini.

Tetapi bedanya adalah, yang dunia ini ajarkan lebih untuk mengajak seorang pemimpin belajar melayani. Sedangkan dari Firman Tuhan kita menemukan bahwa jalan menuju kepemimpinan adalah melalui melayani. Jadi bukan dari atas ke bawah, tetapi dari bawah ke atas. Dengarkan sekali lagi disini.

Supporting Verse – Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa! Filipi 2:5-11 (TB)

Jadi, the best way to go up is down (cara terbaik untuk naik adalah dari bawah). Sebelum Yosua menjadi seorang pemimpin, dia sibuk melayani Musa. Sebelum Daud menjadi pemimpin, dia sibuk melayani Saul dan juga kakak-kakaknya yang menjadi tentara dari Saul. Sebelum Yusuf menjadi pemimpin, dia melayani di rumah Potifar dan juga melayani di dalam penjara, selama bertahun-tahun bahkan. Dan sebelum Elisa menerima dua kali lipat pengurapan dari Elia, Elisa mengabdikan hidupnya untuk melayani Elia.

Closing Verse – Setelah Elia pergi dari sana, ia bertemu dengan Elisa bin Safat yang sedang membajak dengan dua belas pasang lembu, sedang ia sendiri mengemudikan yang kedua belas. Ketika Elia lalu dari dekatnya, ia melemparkan jubahnya kepadanya.  Lalu Elisa meninggalkan lembu itu dan berlari mengikuti Elia, katanya: “Biarkanlah aku mencium ayahku dan ibuku dahulu, lalu aku akan mengikuti engkau.” Jawabnya kepadanya: “Baiklah, pulang dahulu, dan ingatlah apa yang telah kuperbuat kepadamu.”  Lalu berbaliklah ia dari pada Elia, ia mengambil pasangan lembu itu, menyembelihnya dan memasak dagingnya dengan bajak lembu itu sebagai kayu api; ia memberikan daging itu kepada orang-orangnya, kemudian makanlah mereka. Sesudah itu bersiaplah ia, lalu mengikuti Elia dan menjadi pelayannya. 1 Raja-raja 19:19-21 (TB)

Kita lihat di sini bahwa, the path to leadership is through serving; (jalan kepada kepemimpinan adalah melalui pelayanan). Bukankah kita harus membangun dari bawah baru kemudian ke atas dan bukan sebaliknya? Jadi kita harus belajar melayani lebih dahulu, sebelum kita belajar menjadi seorang pemimpin.

Karena seperti penekanan tema kita bulan ini:kekuasaan diberikan untuk dipakai melayani yang lain (strength for service). Belajar melayani dengan mental seorang raja, artinya belajar memberikan yang terbaik meskipun cuma sedikit yang ada di tangan kita. Belajar untuk punya komitmen yang tinggi, dan tidak perlu selalu diingatkan, selalu harus disuruh-suruh lebih dahulu. Belajar untuk memenuhi kebutuhan orang lain, meskipun diri sendiri mungkin sedang membutuhkan. Belajar untuk setia dengan hal-hal yang kecil dan melakukannya dengan syukur, karena tahu bahwa ini semua adalah bentuk persiapan, untuk menerima tanggung jawab yang lebih besar.

Sehingga pada saat Tuhan menaikkan kalian sebagai seorang pemimpin, maka kalian akan memimpin dengan hati seorang hamba; yang melayani dan tidak selalu minta untuk dilayani. Dan kalian membawa kemuliaan bagi nama Tuhan, yang sudah memberikan teladan terlebih dahulu, sebagai the Servant King, seorang Raja yang melayani. Kiranya apa yang kita pelajari hari ini menolong kalian semua dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Menjadi garam dan menjadi terang, di mana pun kalian berada. Tuhan Yesus memberkati. Amin.

P.S : Hi Friends! I need a favor in terms of a freelancing job opportunity, please do let me know if any of you know a freelance opportunity for a copywriter (content, social media, press release, company profile, etc). My contact is 087877383841 and vconly@gmail.com, Sharing is caring so any support is very much appreciated. Thanks much and God Bless!