Ruang Tunggu By Ps. Jeffrey Rachmat

JPCC Online Service (13 September 2020)

Salam damai Sejahtera untuk kita semua dan tidak terasa kita sudah ada di bulan September. Minggu lalu untuk pertama kalinya kita mengadakan Treasures Women Conference secara virtual. Puji Tuhan semua bisa berjalan lancar dan saya yakin semua wanita, bahkan termasuk volunteers bisa diberkati melalui acara ini.

Bulan ini kita membahas tema yang baru yaitu tentang Hope atau Pengharapan. Harapan itu sangat penting dalam hidup kita dan berbicara mengenai sesuatu yang ada di masa yang akan datang. Selama masih ada harapan, maka kegagalan, kesakitan dan kekalahan masih dapat ditanggung.

Karena Harapan yang masih tersedia memberikan kekuatan untuk bangkit kembali, dan semangat untuk menghadapi hari-hari berikutnya. Tanpa Pengharapan, manusia tidak bisa melihat ke depan dan menyebabkan hari-hari kita yang lalui menjadi tidak ada arti. Hopelessness mematahkan jiwa seseorang dan memberikan rasa putus asa, serta mengalami kekosongan. Sehingga ada yang mengambil jalan pintas dengan mengakhiri hidupnya sendiri.

Itu sebabnya penting bagi kita untuk belajar tentang Pengharapan, apalagi du masa pandemi ini dimana banyak orang mengalami kehilangan, baik itu dalam kemerdekaan, bisnis, atau bahkan anggota keluarga. Terlepas dari semua ini, jangan sampai kehilangan Pengharapan, sebab kita tetap dapat menemukan Pengharapan di tengah krisis.

Opening Verse – Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan , yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. Yeremia 29:11 TB

Firman Tuhan datang disaat Umat Tuhan berada di dalam pembuangan di Babel, dimana mereka saat itu harus hidup susah sebagai orang asing di negeri orang. Tuhan ingin memastikan kepada UmatNya bahwa dalam masa sulit sekalipun, Dia masih tetap bekerja membawa rancangan Damai Sejahtera, dan bukan kecelakaan, untuk memberikan hari depan yang penuh harapan.

Hope is a confident expectation, Harapan adalah sebuah keyakinan untuk mendapatkan yang diinginkan. Harapan bukanlah sebuah angan-angan seperti ‘kalau jadi atau dapat ya syukur, kalau tidak jadi atau tidak didapat, ya tidak apa-apa‘. Harapan lebih daripada itu, di dalam harapan ada keyakinan, kekuatan dan semangat serta sukacita.

Supporting Verse – Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir, Ibrani 6:19 TB

Pengharapan digambarkan sebagai Saul atau Jangkar untuk membantu kapal agar tidak hanyut atau hilang karena pusaran angin, arus atau gelombang. Untuk melakukan fungsinya, Jangkar tidak dapat berdiri sendiri, dan diperlukan adanya rantai atau tali yang menghubungkan jangkar dengan kapal. Suatu ilustrasi yang menarik dan menghubungkan antara Iman dan Pengharapan.

Kalau Pengharapan adalah Jangkar, maka Iman adalah Rantainya, dan Hidup kita adalah Kapalnya. Tanpa Iman, pengharapan kita akan menjadi sia-sia seperti Jangkar yang tidak berguna tanpa adanya rantai. Perlu Iman agar Pengharapan menjadi kenyataan.

Supporting Verse – Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Ibrani 11:1 TB

Pada saat Jangkar diturunkan, kita tidak lagi dapat melihatnya dan yang bisa kita lihat hanya rantainya. Meskipun kita tidak bisa lagi melihat Jangkar, kita bisa memastikan fungsinya dengan melihat rantainya. Pengharapan berbicara mengenai sesuatu yang ada di masa depan dan belum dapat kita lihat. Tetapi kita punya keyakinan akan Pengharapan itu karena Iman kita hari ini.

Hope is in the Future, Faith is in Today.
Supporting Verse – Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus. Roma 10:17 TB

Firman Tuhan menyebabkan Iman timbul, dan kemudian menghidupkan Pengharapan kita akan Janji-Janji Tuhan. Semakin besar kapalnya, maka semakin besar Jangkar dan Rantai yang diperlukan. Semakin besar keberhasilan dan sukses kehidupan seseorang, semakin besar Iman dan Pengharapan yang diperlukan agar dia tidak hanyut dengan arus dunia dan persoalan yang ada.

Banyak orang yang kemudian berhasil sebaliknya malah menjadi jauh dari Tuhan, dan keluar dari tujuan awal dan terseret arus dunia, dikarenakan mereka tidak punya jangkar Pengharapan dan rantai Iman yang kuat.

Yang paling penting, kemana kita sangkutkan Pengharapan kita? Kepada Tuhan? Atau kepada Pengetahuan, Manusia, Harta dan Kedudukan yang ada. Ketahuilah bahwa selain Tuhan, yang lain ini hanya bersifat sementara, apalagi seperti di masa pandemi ini dimana banyak orang yang tidak kuat menghadapi besarnya badai Covid-19.

Supporting Verse – Harapan kita itu seperti jangkar yang tertanam sangat dalam dan merupakan pegangan yang kuat dan aman bagi hidup kita. Harapan itu menembus gorden Ruang Mahasuci di Rumah Tuhan di surga. Yesus sudah merintis jalan ke tempat itu untuk kita, dan sudah masuk ke sana menjadi Imam Agung kita untuk selama-lamanya, seperti Imam Melkisedek. Ibrani 6:19-20 BIS

Dari Paulus, rasul Kristus Yesus menurut perintah Allah, Juruselamat kita, dan Kristus Yesus, dasar pengharapan kita, 1 Timotius 1:1 TB

Pengharapan yang sangat kuat dan aman untuk kita, dan selalu bisa diandalkan di semua musim adalah Pengharapan kita yang ditautkan kepada Tuhan Yesus. Harapan di dalam Yesus bukan berhenti sampai hidup ini saja, tetapi juga sampai kekekalan karena Yesus sudah mengalahkan maut.

Supporting Verse – Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia. 1 Tesalonika 4:13‭-‬14 TB

Our Hope is in Jesus. Dia tidak berubah dulu, sekarang dan selama-lamanya. Meskipun keadaan belum menentu, situasi ekonomi belum mengalami perbaikan dan bahkan kita harus kembali melalui PSBB, ini bukan saatnya untuk patah semangat, karena jika Pengharapan kita tertambat kepada Yesus yang merupakan Sumber Pengharapan, maka kita akan selalui menemukan Pengharapan, kekuatan, semangat dan sukacita.

Supporting Verse – Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, 1 Petrus 1:3 TB

Jadi, Iman timbul dari pendengaran akan Firman Tuhan, Iman membuat kita punya Pengharapan akan Janji-Janji Tuhan, dan Pengharapan ini bukan Pengharapan biasa seperti yang dunia tawarkan, tetapi ini adalah Pengharapan yang hidup karena berasal dari Firman Tuhan yang hidup.

Untuk menjadikan Janji Tuhan ini menjadi Kenyataan, kita perlu percaya kepada Pribadi dan Karakter Tuhan yang memberikan Janji itu.

Supporting Verse – Hendaklah kita berpegang teguh pada harapan yang kita akui, sebab Allah bisa dipercayai dan Ia akan menepati janji-Nya. Ibrani 10:23 BIS

Banyak yang gembira pada saat mendengar Firman Tuhan dan dengan cepat berkata “Amin!”. Mereka mulai beriman dan punya Pengharapan, tetapi kenyataannya banyak yang tidak mengalami kegenapan dari Janji Tuhan ini, dikarenakan mereka tidak sabar untuk menunggu kegenapan Janji Tuhan ini.

Di antra Pengharapan dan Penggenapan Janji Tuhan, ada yang namanya masa penantian atau saya sebut Ruang Tunggu. Inilah judul kotbah saya hari ini. Banyak di antara kita yang tidak suka menunggu. Peperangan dalam pikiran terjadi disaat kita menunggu Janji Tuhan, karena waktu PenggenapanNya bisa cepat atau bahkan menjadi begitu lama.

Di Ruang Tunggu, Pengenalan kita akan Tuhan diuji, seberapa kuat rasa percaya kita kepadaNya. Itu sebabnya mengapa berulang kita kita mendengar ajakan untuk membangun hubungan dengan Tuhan. Tujuannya agar kita bisa mengenalNya, secara pribadi dan karakter, serta membangun kepercayaan kepadaNya.

Supporting Verse – Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah; karena engkaulah yang menolak pengenalan itu maka Aku menolak engkau menjadi imam-Ku; dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu. Hosea 4:6 TB

Semua hubungan didasari oleh Kepercayaan, termasuk juga dengan Tuhan. Kepercayaan bertambah apabila ada kebenaran, dan dusta yang dibawa masuk ke sebuah hubungan akan merusak hubungan tersebut.

Supporting Verse – Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya? Bilangan 23:19 TB

Artinya kalau ada dusta, yang pasti datang dari manusia dan bukan dari Tuhan. Di Ruang tunggu, Iblis seringkali menganggu dan melemahkan Iman kita, sebab jika rantai Iman kita putus, maka kandaslah Pengharapan kita. Bukan hanya Janji Tuhan yang tidak digenapi, tetapi ini juga membuat kita mulai untuk meragukan Tuhan dan Kasih SetiaNya.

Supporting Verse – Sesudah Yesus menyeberang lagi dengan perahu, orang banyak berbondong-bondong datang lalu mengerumuni Dia. Sedang Ia berada di tepi danau, datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan memohon dengan sangat kepada-Nya: “Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup.” Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya. Markus 5:21‭-‬24 TB

Pada saat Yesus setuju untuk datang ke rumahnya, maka Iman dan Pengharapan Yairus muncul, dan dia bisa membayangkan anaknya sembuh. Tetapi kita tahu bahwa di dalam perjalanan, ada seorang wanita yang mengalami pendarahan selama 12 tahun, menghambat perjalanan mereka. Dikarenakan wanita ini mengalami kesembuhan disaat dia menjamah Jubah Yesus.

Yesus berhenti untuk mendengar kesaksian wanita ini, dan bisa ditulis di Alkitab. Dia ingin kita mengerti bahwa pengharapan yang ada di dalam diri wanita ini tidak sia-sia. Sebelumnya, wanita ini menempatkan Pengharapannya ke begitu banyak tabib sampai habis hartanya. Bayangkan bagaimana campur aduknya perasaan yairus pada saat itu.

Di satu sisi, dia bahagia mendengar kesaksian wanita itu yang tentu membuat Imannya naik kepada Yesus, tetapi penantiannya akan kesembuhan anaknya menjadi lebih lama dan harapannya menjadi tertunda karena Yesus berhenti.

Supporting Verse – Ketika Yesus masih berbicara datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata: “Anakmu sudah mati, apa perlunya lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru?” Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat: “Jangan takut, percaya saja!” Markus 5:35‭-‬36 TB

Peperangan dalam batin dan pikiran Yairus maka menjadi semakin hebat disaat mendengar berita kematian anaknya dari sanak keluarganya sendiri. Tetapi kita bisa melihat bahwa Tuhan yang berjanji itu setia. Yesus sudah setuju untuk datang ke rumah Yairus dan menyembuhkan anaknya, dan Dia pasti akan melakukannya. Itu sebabnya Yesus berkata kepada Yairus agar jangan takut dan sebaliknya percaya.

Yairus dihadapkan dengan dua perkataan yang begitu berbeda, yanh satu berkata bahwa anaknya sudah mati dan disampaikan oleh keluarganya sendiri. Sementara yang satu lagi datang dari mulut Yesus sendiri untuk percaya dan jangan takut. Suara semua yang akan dipercaya olehnya? Pernahkah kita mengalami hal yang sama dalam hidup kita?

Yairus bisa saja berkata kepada Yesus “Terima kasih sudah memenuhi undangan saya, tetapi apa boleh buat, maut sudah menjemputnya dan saya tidak mau menyusahkan anda lagi”. Tetapi dia memilih untuk melakukan perkataan Yesus, dan Yesus melakukan suatu hal yang menarik untuk kita pelajari.

Supporting Verse – Lalu Yesus tidak memperbolehkan seorang pun ikut serta, kecuali Petrus, Yakobus dan Yohanes, saudara Yakobus. Markus 5:37 TB

Ilustrasi – Kalau kita sedang memegang lilin yang menyala. Kemudian ada angin yang bertiup, maka yang kita lakukan adalah menutupi lilin itu dengan tangan kita agar lilin itu bisa tetap menyala.

Itulah yang Yesus lakukan untuk melindungi Iman Yairus agar tidak padam. Yesus juga rindu untuk menyembuhkan anak Yairus dan melepaskan Yairus dari kepedihannya. Dan kita lihat bahwa Yesus yang repot untuk menjagai Iman Yairus, karena Dia sadar bahwa orang banyak itu berpotensi memadamkan Iman Yairus.

Terkadang kita harus memisahkan diri dari gerombolan, memilih dengan siapa kita berkomunitas, khususnya pada kita perlu untuk memjaga iman kita.

Supporting Verse – Mereka tiba di rumah kepala rumah ibadat, dan di sana dilihat-Nya orang-orang ribut, menangis dan meratap dengan suara nyaring. Sesudah Ia masuk Ia berkata kepada orang-orang itu: “Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!” Tetapi mereka menertawakan Dia. Maka diusir-Nya semua orang itu, lalu dibawa-Nya ayah dan ibu anak itu dan mereka yang bersama-sama dengan Dia masuk ke kamar anak itu. Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya: “Talita kum,” yang berarti: “Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!” Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan, sebab umurnya sudah dua belas tahun. Semua orang yang hadir sangat takjub. Markus 5:38‭-‬42 TB

Kita melihat bahagia Yesus mau repot untuk menjaga Iman Yairus agar tidak padam. Kisah ini sungguh menguatkan saya, dan saya harap juga bisa membantu kita semua, terutama yang sedang membutuhkan Pengharapan bahwa kalau kita mengandalkan Yesus. Maka Dialah yang mau repot untuk kita. Itulah yang Roh Kudus lakukan untuk kita di masa sekarang.

Yairus menerima kenyataan dari apa yang diharapkan karena dia tidak menyerah di masa penantian. Dia menjaga Imannya, walaupun keadaan sekitarnya di masa penantian jauh dari ideal untuknya. Yairus dan Wanita yang mengalami pendarahan selama 12 tahun, adalah contoh dari orang yang mengalami masa penantian di ruang tunggu dengan waktu yang tidak terlalu lama.

Sekarang mari kita lihat kisah lainnya. Terutama untuk yang masa penantiannya lama di ruang tunggu, salah satunya adalah Abraham. Abraham berusia 75 tahun disaat menerima Janji Tuhan menjadi Bapa banyak bangsa.

Supporting Verse – Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan. Roma 4:18‭-‬21 TB

Kepercayaan Abraham dibangun dari hubungannya dan pengalamannya bersama dengan Tuhan, sehingga dia tidak bimbang disaat dia mendengar Janji Tuhan ini, meskipun dia tahu bahwa tubuhnya sudah lemah dan tua, dan rahim istrinya tertutup. Meskipun menunggu selama 25 tahun, Abraham punya keyakinan untuk menerima apa yang Tuhan janjikan.

Supporting Verse – Abraham menanti dengan sabar dan dengan demikian ia memperoleh apa yang dijanjikan kepadanya. Ibrani 6:15 TB

Di ruang tunggu dalam masa penantian, karakter Abraham dibentuk dan dia belajar untuk sabar. Dia sempat tidak sabar sebelumnya dan ingin membantu Tuhan dalam mempercepat prosesnya, terutama dalam pengalamannya dengan Hagar.

Karakter kita dibentuk dalam ruang tunggu agar menjadi serupa dengan Tuhan. Mau cepat atau lama sekali masa kita di ruang tunggu, Tuhan selalu membuat segala sesuatu indah pada waktunya.

Apa yang harus kita lakukan saat berada di dalam Ruang Tunggu?

Supporting Verse – Kami ingin sekali supaya kalian masing-masing terus bersemangat sampai akhir, sehingga kalian menerima apa yang kalian harap-harapkan itu. Kami tidak mau kalian menjadi malas. Tetapi kami ingin supaya kalian hidup seperti orang-orang yang menerima apa yang dijanjikan Allah, karena percaya kepada-Nya dan karena menunggu dengan sabar. Ibrani 6:11-12 BIS

Jadi, selama masa penantian di Ruang Tunggu, tetaplah bersemangat dan jangan menjadi malas. Hidup seperti orang yang menerima Janji tersebut dan menunggu dengan sabar.

Closing Verse – Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal. Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih. 1 Korintus 13:12‭-‬13 TB

Bukan saja menerima apa yang dijanjikan Tuhan, Tetapi yang paling penting adalah mengenal yang memberikan Janji, yaitu mengenal Yesus. Tuhan yang sangat mengasihi kita, Iman dan Pengharapan pada akhirnya menemukan kita kepada Yesus yang begitu mengasihi kita tanpa syarat.