The Father’s Table By Ps. Sidney Mohede

JPCC Sutera Hall 2nd Service (27 September 2026)

Terima Kasih untuk teman-teman yang melayani baik yang kelihatan maupun semua teman-teman yang melayani dan tidak kelihatan. Luar biasa! Silahkan duduk bapak dan ibu sekalian, welcome, welcome to JPCC! Kebaktian yang kedua di minggu terakhir daripada bulan September.

I just want to welcome juga untuk setiap Bapak, Ibu, teman-teman yang sedang menyaksikan secara online. You are so welcome to be in the house of God wherever you are. Dan berapa banyak dari saudara yang sangat diberkati dengan sebulan ini kita berbicara tentang keluarga dalam “At the table”?

Yes, yes, I’ve been so blessed. Dari Minggu ke Minggu ada begitu banyak pengajaran bagaimana kita melihat sebuah meja dalam rumah sebagai tempat kita “belonging”, menjadi tempat di mana kita trusting one another, mendapatkan suara yang paling kita bisa dengar.

Dan kita juga belajar di minggu kedua bagaimana meja bukan sekedar tempat kita berkumpul untuk makan, tetapi di mana our character, karakter kita, iman kita bisa dibentuk bersama-sama.

Dan minggu lalu, sebuah kotbah yang sangat amat luar biasa oleh Ps. Jose dengan judulnya “Ruang untuk Pulang”. Kita belajar, one of my favorite quote dari minggu lalu adalah bahwa “Keluarga flourish, bukan karena tidak pernah terluka, tetapi karena selalu ada ruang untuk pulang“.

We can come home. Kita bisa pulang makan bersama dengan keluarga. Hanya di dalam keluarga-lah, at the table, kita bisa selalu come back home.

Hari ini, Di minggu ini, minggu terakhir di bulan September ini, kita akan mengakhiri tema “At The Table” dengan satu pertanyaan yang akan kita coba untuk jawab hari ini.

Jika selama 3 minggu ini kita belajar bagaimana kita bisa mengasihi satu dengan yang lain, mengasihi keluarga kita, how to be a good father, a good mother, pertanyaan saya di minggu ini adalah “Dari mana kita bisa belajar kasih yang kita butuhkan untuk membangun keluarga kita?“

Where does it come from?

Karena kalau kita cuma sekedar melihat ini sebagai “a talk”, di mana kita mengajarkan aplikasi saja, well, di dunia-pun sudah banyak yang mengajarkan tentang bagaimana membuat keluarga atau menjadi orang tua yang baik.

Tetapi kalau kita bisa melihat masalah yang lebih besar adalah banyak dari kita ingin memiliki sebuah keluarga yang baik, pernikahan yang baik, menjadi orang tua, menjadi ayah dan ibu yang baik. Tetapi saya tahu ada banyak dari kita tidak mempunyai pengalaman keluarga yang baik. Betul kan?

Sehingga banyak orang datang kepada saya dan berkata, “Pastor, I really want to, Apa yang kalian bicarakan selama 3 minggu ini, saya pun mau lakukan, tetapi karena pengalaman kehidupan saya bersama dengan ayah saya, ibu saya, keluarga saya, membuat saya berpikir bahwa saya tidak bisa mempunyai keluarga atau masa depan yang bahagia.”

Artinya, isu yang sering terjadi adalah bahwa banyak dari kita berusaha untuk memberikan kasih kepada keluarga dan kepada orang lain, sementara kita sendiri masih belajar untuk menerima kasih tersebut. That’s our issue.

Oh, at the same time kita mau memberikannya, tetapi kita masih belajar. Kita ingin memberikan kepada orang lain sesuatu yang mungkin kita sendiri belum pernah benar-benar belajar menerimanya. Banyak dari kita ingin memberikan rasa aman kepada keluarga kita, namun kita sendiri belum pernah merasakan rasa aman dalam keluarga itu seperti apa.

Kita ingin hadir untuk keluarga kita, namun maybe kita sendiri belum pernah mengalami “kehadiran” yang kita butuhkan, Yesus.

Untuk menjawab pertanyaan kita hari ini, Yesus mengundang kita semua untuk sebuah hubungan bersama dengan Bapa di surga. Itu sebabnya, jawabannya cuma satu, kita semua membutuhkan “a Father, Bapa”. Bukan cuma sekedar Tuhan, bukan cuma sekedar Raja, bukan sekedar Tuhan yang kita datang sembah dan bernyanyi setiap hari minggunya, but we need to have a good Father. Karena apa?

Karena sebelum kita belajar untuk menjadi orang tua yang baik, kita perlu belajar untuk menjadi anak yang baik. Betul kan? Before I can be a good dad, I need to be a good child, a good son.

Namun, saya juga sadar bahwa banyak dari kita tidak mendapatkan atau mengalami parenting yang baik dalam kehidupan kita. Di jaman sekarang, terutama di generasi ini, ada sebuah krisis yang disebut the “fatherless crisis” atau “the absent father crisis”, di mana ayah tidak lagi menjadi sosok di dalam keluarga yang bisa menjadi panutan, yang bisa menjadi teladan.

Ada sebuah global studies yang mengatakan bahwa 1 dari 4 anak-anak, 1 banding 4 anak-anak bertumbuh tanpa seorang ayah dalam rumahnya. 1 banding 4, artinya kalau saya melihat dalam ruangan ini, saya yakin dan percaya siapa di sini yang bertumbuh fatherless, saya termasuk dari satu dari empat itu.

Me, personally, saudara. Mungkin saudara dengar cerita saya berkali-kali, kadang ayah kita memang ada di rumah kalau tadi satu dari empat tidak punya ayah secara jasmani di rumah physically, tetapi tiga banding empat mungkin ada ayahnya di rumah seperti banyak dari saudara. Namun, secara emosi tidak mempunyai kedekatan atau kehangatan.

Ada sebuah kutipan yang mengatakan begini, Mencukupi kebutuhan keluarga bisa membangun sebuah rumah. Yes, to be a provider. Saya tahu banyak pria menjadi seseorang yang mencukupi kebutuhan keluarga, tetapi kehadiran kita lah yang membuat rumah itu menjadi sebuah rumah, it’s the presence. Bukan cuman sekedar ada ayah di rumah saja.

Mencukupi kebutuhan keluarga bisa membangun sebuah rumah, tetapi kehadiran kita-lah yang membuat rumah itu menjadi rumah.

Jadi pertanyaan saya, kehadiran seperti apa yang kita alami di rumah kita masing-masing?

Karena ini, apa yang kita alami di rumah, dalam keluarga kita di bumi ini bisa membentuk cara kita melihat diri kita sendiri, bisa membentuk cara kita melihat orang lain dan sangat bisa membentuk cara kita melihat Bapa di surga.

Kalau saudara terbiasa tertolak, saudara akan belajar untuk sulit percaya kepada orang lain. Kalau saudara tidak biasa didengar di keluarga saudara, saudara akan belajar untuk menutup diri. Kalau saudara harus membuktikan atau berusaha untuk mendapatkan kasih sayang dalam rumah, dalam keluarga bagi ayah saudara atau ibu saudara, maka saudara pun akan mencoba untuk membuktikan kasih saudara kepada Tuhan membawa pola yang sama kepada Dia.

Dan pengalaman ini yang bersama dengan keluarga kita, this fatherlessness crisis yang membuat banyak generasi kita ini kesepian. Banyak yang membuat generasi ini menjadi insecure, menjadi sulit untuk percaya, dan ini dibawa ke dalam Kekristenan, dibawa dalam gereja, di mana ada begitu banyak orang sulit untuk menerima kasih daripada Bapa. Sulit untuk menerima kasih daripada Tuhan.

Saya membaca beberapa waktu yang lalu di sosial media, ada seorang yang berkata begini, kira-kira kayak begini, “Saya senang dengan apa yang diajarkan JPCC selama bulan ini, namun, dia berkata, namun… masih susah untuk saya mendengarkan pengajaran tentang keluarga karena rasa sakitnya masih berasa sampai sekarang.”

And I know this is real. Saya sangat mengerti bahwa segala trauma atau luka kita itu sangat amat nyata. Tetapi saya berdoa hari ini kita tidak menutup diri kita sedemikian rupa. Tetapi kita menyadari bahwa semua dari kita, semua dari kita membutuhkan seorang Bapa di surga supaya kita bisa belajar menjadi seorang anak yang baik, sehingga kita bisa meneruskannya kepada generasi berikutnya.

Sharing Ps. Sidney – In my own story, sejak kecil, saudara pasti sudah dengar ini berkali-kali. Sejak saya kelas 4 SD, keluarga saya, papa mama saya bercerai. Sejak kecil, saya tidak mempunyai sosok atau teladan ayah di rumah karena kami pindah ke luar negeri, kami pindah ke California sejak saya masih kecil di tahun 1980-an.

So I grew up, saya benar-benar bertumbuh sebagai satu-satunya anak laki-laki di rumah. Mama saya dengan two sisters, kakak perempuan, adik perempuan, I’m the only son in the family. Dan saya bertumbuh menjadi seorang anak muda yang sangat rebellious, yang sangat marah, yang sangat penuh dengan kepahitan, sangat tidak memiliki sosok atau contoh atau teladan bagaimana menjadi seorang pria.

And it made me very independent. Sejak umur 9-10 tahun, saya sudah bekerja. Sejak umur 15, 16 tahun, saya sudah hidup mandiri. I could do it by myself. Saya tidak membutuhkan siapapun juga. I don’t need anyone, including God. I can do this myself. Di umur 17 tahun, saya menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, and He changed my life. Dia sangat mengubah hidup saya, sangat mengubah cara pandang saya.

Dan saudara tahu bahwa the opposite of fatherlessness, the opposite of fatherlessness is not independence, it is belonging.

Dan ini yang saya temukan, ini yang saya pelajari, bahwa ternyata penangkal racun dari keluarga yang tidak sempurna, bukanlah kita menjadi orang-orang yang mandiri, menjadi orang-orang yang berkata, “I can do this myself”. Mungkin saudara datang ke gereja hari ini dan tetap berkata, saya ke gereja cuman karena rutinitas, tapi saya tidak butuh Tuhan.

Penawar dari fatherlessness adalah belonging, bahwa kita tahu bahwa kita punya ruang dan meja untuk kita bisa pulang. Ada sebuah meja di mana “I call this the father’s table”, meja daripada ayah kita, daripada Bapa kita yang selalu bisa memanggil kita untuk pulang kapan saja kita perlu.

So here’s the big idea untuk minggu ini.

Keluarga yang flourish, keluarga yang bertumbuh dan bermekaran tidak dimulai dari sebuah keluarga yang sempurna, tetapi dari orang-orang yang mau belajar untuk menerima kasih dari Bapa yang sempurna.

Karena itu yang saya pelajari 37 tahun kemudian. Dengan kekuatan saya sendiri, saya tidak mungkin bisa menjadi seorang ayah atau suami yang baik, tetapi pada saat saya menerima untuk belajar kasih daripada seorang Bapa yang baik, yang mungkin kita tidak miliki dan kita tidak dapati di dalam dunia ini.

Tetapi karena saya menerima Kasih, saya belajar untuk menerima Kasih itu dalam hidup saya, saya bisa meneruskanNya kepada generasi berikutnya.

1. Kita semua membutuhkan Bapa

This is why we need a Father, Kita semua membutuhkan Bapa. Ini adalah the first truth. Kita semua membutuhkan Bapa.

Mungkin saudara berkata begini, “Ayahku nggak pernah hadir, pastor”. I understand. I truly understand. Karena om pun melewati hal yang sama. But there is a beautiful psalm, ada sebuah mazmur yang sangat indah dari Mazmur 108, dikatakan begini.

Opening Verse – “Sing to God, sing praises to his name; lift up a song to him who rides through the deserts; his name is the Lord; exult before him! Father of the fatherless and protector of widows is God in his holy habitation.” Psalm 68:4-5 ESV

Saya ingat banget pertama kali saya membaca ayat ini, saya berkata dalam hati, “He is the Father to the fatherless.” Saya tidak punya ayah, saya sekarang bisa memanggil Tuhan, Bapa. He is the father of the fatherless, protector of widows, He is God in His holy habitation.

Artinya, ketika saudara dan saya tidak memiliki ayah, tidak memiliki keluarga, tidak memiliki meja untuk kita bisa berkumpul, God said, you belong here. Kau diterima di sini, I can be your father. Saya bisa menjadi ayahmu, menjadi Bapamu. Sesuatu yang tidak pernah bisa saya katakan waktu saya masih kecil.

And this is where we come as a church. Sebagai gereja, kita adalah perkumpulan orang-orang yang mempunyai “ayah” yang sama. Betul kan? Itu sebabnya kita memanggil saudara satu dengan yang lain as brothers and sisters.

Bapa kita sama. We all need a father. Gereja seharusnya menjadi salah satu tempat di mana manusia bisa merasakan “belonging” tersebut. Di mana ini bukanlah tempat untuk kita bisa berpura-pura atau mencoba untuk membuktikan diri, berusaha to earn the Father’s love. No, no, no. This is the place where we can say, saya punya keluarga. This is the place kita bisa berkata, saya punya tempat, saya punya meja, saya tidak sendirian at my Father’s table.

Kebenaran yang kedua, second truth, Yesus yang menunjukkan siapa Bapa.

Yesus, yang menunjukkan siapa Bapa kita. Bukan hidup kita yang menunjukkan Bapa, Yesus yang menunjukkannya. Waktu saya masih seorang kristen, masih jauh lebih muda, puluhan tahun yang lalu. Ada sebuah kutipan yang kira-kira bentuknya kayak gini atau kedengaran seperti ini.

Pengalaman kita dengan ayah di dunia, our own experience with the father we have on earth, sering mempengaruhi cara kita membayangkan seperti apa Bapa di surga.

Pengalaman kita bersama dengan ayah di rumah kita masing-masing bisa mewarnai pandangan kita tentang siapa Tuhan. And I hear this all the time. Ada begitu banyak anak muda berkata, “Iya, tapi ayahku, ayah yang suka marah-marah. Jadi saya sering melihat Tuhan sebagai Tuhan yang marah-marah.”

“Oh, ayahku itu dingin. Jadi saya membandingkan Tuhan sama seperti itu. Tuhan yang tidak dekat, Tuhan yang tidak hangat dengan saya.”

I remember I switched the quote. Saya mencoba untuk membalikkan kutipan tersebut, sehingga saya berkata begini, Pengalaman saya bersama dengan Bapa di surga akan mempengaruhi cara saya menjadi seorang bapak di dunia.

Because I don’t want my past, masa lalu saya mendikte masa depan saya. Saya tidak mau apa yang saya lewati, pengalaman saya dalam keluarga saya, semua kepahitan, semua hal yang saya lewati, yang sampai sekarang di umur 53 tahun, saya masih bisa merasakan dampak daripada keluarga tanpa ayah. Tapi saya tidak mau mendiktekan itu untuk masa depan saya, apalagi untuk masa depan anak-anak saya.

Pengalaman kita tidak boleh menjadi tolak ukur tentang siapa Tuhan kita. Pria-pria di tempat ini, kalau saudara belum menikah, kalau saudara mungkin ingin menjadi ayah yang baik, dengarkan saya baik-baik, even if you have a bad family past, saudara bisa menjadi ayah yang baik. Saya tidak mau mengijinkan pengalaman keluarga saya menentukan siapa Bapaku di surga.

Artinya begini, jangan lihat ke belakang, look to Jesus.

Lihatlah Yesus. Yesus berkata begini, Yohanes 14.

Supporting Verse – “Jawab Yesus: Sudah begitu lama Aku bersama kalian! Seharusnya kamu sudah mengenal Aku, Filipus! Orang yang sudah melihat Aku, berarti sudah melihat Bapa-Ku. Kenapa kamu masih berkata, “Tunjukkanlah Bapa-Mu kepada kami?” Apakah kamu belum percaya bahwa Aku bersatu dengan Bapa-Ku, dan Bapa-Ku bersatu dengan Aku? Hal-hal yang Aku ajarkan bukan berasal dari diri-Ku sendiri, tetapi dari Bapa yang bersatu dengan Aku yang melakukan pekerjaan itu dengan cara ajaib. ” Yohanes 14:9-10 TSI

Yesus berkata, lihatlah Tuhan Yesus. Kalau saudara berkata, pastor saya enggak punya pengalaman yang baik, saya enggak tahu bagaimana caranya menjadi seorang suami yang baik, menjadi seorang bapa yang baik. I just say, look to Jesus. Lihatlah kepada Tuhan Yesus. Beberapa ayat kemudian Yesus mengatakan begini, ayat 18.

Supporting Verse – “Kalian tak akan Kutinggalkan sendirian sebagai yatim piatu. Aku akan kembali kepadamu. Tinggal sebentar saja dunia tak akan melihat Aku lagi. Tetapi kalian akan melihat Aku. Dan karena Aku hidup, kalian pun akan hidup. Bila tiba hari itu, kalian akan tahu bahwa Aku bersatu dengan Bapa, kalian bersatu dengan Aku, dan Aku bersatu dengan kalian.” Yohanes 14:18-20 BIMK

I will not leave you as orphans. This is, inilah kebaikan Tuhan dalam kehidupan kita. Bukan sekedar yatim piatu, saya yatim piatu, ayah saya sudah meninggal tahun 2008, mama saya meninggal tahun 2019, saya seorang yatim piatu, tetapi saya ingat sewaktu pertama kali saya membacakan kata-kata ini, I will not leave you as orphans.

I will not leave you as orphans. This is inilah kebaikan Tuhan dalam kehidupan kita. Bukan sekedar yatim piatu, saya yatim piatu, ayah saya sudah meninggal tahun 2008, mama saya meninggal tahun 2019, saya seorang yatim piatu, tetapi sehingga waktu pertama kali saya membacakan kata-kata ini, I will not leave you as orphans. Tinggal sebentar saja, dunia tak akan melihat aku lagi, tetapi kalian melihat aku, kata Yesus.

Mungkin hari ini ada di antara saudara yang merasa “fatherless” baik secara jasmani maupun secara emosional, Mungkin saudara berkata bahwa “Keluargaku berantakan, Pastor.. Bagaimana mungkin saya bisa mempunyai pernikahan atau keluarga yang baik?”

Saya katakan, “No,no.. listen to me. Yesus tidak pernah meninggalkan kita walau sedetikpun, Dia akan membantu kita. jika kita ingin belajar. Look to Jesus”.

Jangan melihat ke belakang, look to Jesus. Itu yang saya lakukan dalam kehidupan saya. I have three children yang sudah lumayan besar, 2 anak sudah kuliah, yang 1 masih kecil, masih SMP. Dan kami bersama dengan istri mempunyai hubungan yang sangat erat bersama dengan mereka.

Dan ada begitu banyak ayah-ayah yang bertanya kepada saya, all the dads ask me, how? Gimana sih Pastor Sidney? Gimana caranya Kak Sidney yang Fatherless, yang tidak punya ayah, tidak punya contoh yang baik, tidak bisa melihat seorang ayah di rumah seperti apa, seorang suami seperti apa.. Kok bisa anak-anakmu semuanya bertumbuh dengan sangat luar biasa baik?

Saya bilang, jujur saya enggak tahu jawabannya, cuma satu, I just look to Jesus. Saya hanya melihat Yesus, karena pada saat saya melihat Yesus, saya melihat Bapa. Saya melihat cara Yesus mengasihi. Saya melihat cara Yesus mengampuni, saya melihat cara Dia hadir untuk orang-orang sekelilingnya, saya melihat cara Yesus peduli, saya melihat cara Yesus taat kepada Bapa.

Itu menunjukkan kasih seorang Bapa yang baik dan mengajarkan saya untuk bisa menjadi seorang Bapa yang baik. Tidak sempurna, I’m far from perfect, tetapi saya bisa menjadi ayah yang berbeda daripada generasi sebelumnya.

Kebenaran yang ketiga, Yesus yang membawa kita semua pulang ke rumah.

Yesus yang membawa kita semua bisa duduk bersama di sebuah table. Mungkin saudara berkata begini.. “My family baik-baik aja, Pastor.. Ayah Ibuku juga hebat dalam hidupku.. they are all great, saya tidak punya trauma, saya tidak punya luka. Kita hidup baik-baik saja.

Dengarkan saya baik-baik. We still need a father. Kita tetap membutuhkan hubungan bersama dengan Bapa.

Dalam kitab Wahyu pasal yang ketiga, Yesus berbicara tentang sebuah gereja, jemaat di Laodikia. Saudara bisa baca. cukup panjang perikopnya. Tetapi jemaat di Laodikia ini adalah jemaat yang berkecukupan.

Mereka relatively kaya, rich. Bahkan beberapa ayat mereka tulis, “Kami kaya, kami tidak membutuhkan apa-apa.” Tetapi dalam kecukupan ini, hidup mereka baik-baik saja, they’re missing one thing. Mereka tidak memiliki keintiman dan kehangatan bersama dengan Tuhan. Mereka tidak mempunyai hubungan bersama dengan Tuhan. Ayat yang tadi saudara dan saya baca tentang bagaimana Yesus mengetuk dan minta kita untuk membuka pintu, itu adalah kata-kata Yesus kepada jemaat di Laodikia.

Supporting Verse – “Orang-orang yang Kukasihi, merekalah yang Kutegur dan Kucambuk. Karena itu hendaklah kalian bersemangat, dan bertobatlah dari dosa-dosamu. Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.” Wahyu 3:19-20 TB

Artinya mereka berkata, “We’re fine.” Kita oke kok, hidup kita fine-fine saja. Tetapi perhatikan ayat 19, Yesus berkata “Siapa yang kukasihi yang akan kutegur dan kuhajar, sebab itu bersungguh-sungguhlah dan bertobatlah”. He is speaking to the church, Tahukah saudara bahwa teguran adalah bentuk daripada Kasih?

Wah, kadang-kadang Tuhan menegur kita atau menghajar kita karena Dia mau mempunyai hubungan bersama dengan kita, Dia mau kita mendekat, supaya kita tidak berkata “I’m fine, I don’t need God” itu yang terjadi pada waktu saya masih muda, tetapi Dia mengajar saya, dan Dia katakan begini, ayat 20, “I love this”, Dia berkata, “Lihat, aku berdiri di depan pintu dan mengetuk.”

Siapa yang berdiri depan pintu? Yesus. Siapa yang mengetuk? Yesus.

Bahwa yang selalu mengejar untuk dekat kepada kita, bukan saudara dan saya. It’s always Jesus. Itu sebabnya kalau ada orang berkata, “Oh ya, I found Jesus pada waktu itu… no, you don’t find Jesus, Jesus found us.”

Yesus yang selalu berusaha untuk masuk ke dalam kehidupan kita dan ayat yang tadi kita baca dan “jikalau ada orang yang mendengar suaraKu dan membukakan pintu, perhatikan, Aku akan masuk menemui dia dan makan bersama-sama dengan dia dan dia bersama-sama dengan Aku.”

This is the Father’s table.

Yesus tidak cuma sekedar mau masuk saja, habis itu Dia keluar, no, no. Yesus masuk. Yesus bersantap dengan kita. Saudara pernah punya tamu yang datang ke rumah makan-makan? Ada sebuah kehangatan, ketawa, saudara bisa saling jokes, saudara bisa saling bertukar cerita, that’s Jesus. Itu yang Yesus lakukan dalam kehidupan saudara dan saya, dan kehidupan saya, specifically.

Pada waktu umur 17, saya berkata, “Come in, heal this heart. Saya tidak punya ayah. Sekarang saya bisa berkata, aku punya Bapa di surga. Aku mempunyai seorang ayah yang mau duduk bersama dengan aku, yang mau makan bersama dengan aku. Aku masuk, makan bersama dengan dia. The gospel doesn’t just bring forgiveness, the gospel wants to bring us home. Bukan sekedar dibawa ke rumahNya, bahkan kita juga diadopsi sebagai anakNya.

Supporting Verse – “Karena semua orang yang dipimpin oleh Roh Allah adalah anggota keluarga Allah. Sebab Roh-Nya yang sudah diberikan kepada kita bukanlah untuk memperbudak kita sehingga kita takut menghadap Allah. Tetapi Roh-Nya itu menjadikan kita anak Allah. Sebagai bukti, Roh-Nyalah yang memimpin kita untuk berseru memanggil Allah, “Abba, ya Bapa!” ” Roma 8:14-15 TSI

Banyak dari kita takut menghadap Allah karena kita berpikir, “We have to earn His love.” Sama seperti di keluarga kita, “We have to be good.” Angka raport harus bagus, kita harus sopan sehingga orang tua bisa menyayangi kita dan lain sebagainya. No, no, no, we don’t need to do that with God.

Sebab RohNya yang sudah diberikan kepada kita bukan untuk memperbudak kita, sehingga kita takut menghadap Allah. Tetapi perhatikan, RohNya itu menjadikan kita anak Allah. Dan sebagai bukti, roh-Nya lah yang memimpin kita untuk berseru memanggil Allah, “Abba, Ya Bapa”.

Bahasa sekarang, “Dad.” I get to call God, “Dad.” Bukan Tuhan. Bukan Raja yang jauh disana. No, “Dad.” I love it when my kids call me out and say, “Dad, I need this”.. “Dad, Can you do this?”, “Dad, bring me a story”. Dad!

Dan Roh Kudus memberikan kepada kita, the same chance to call him dad. Ayah. Sebelum kita menjadi seorang ayah, saya adalah seorang anak. Sebelum saudara menjadi seorang ibu, saudara adalah anak. sebelum kita menjadi suami, menjadi istri, menjadi pemimpin, menjadi pekerja, menjadi murid, menjadi apapun, kita adalah anak-anak daripada Bapa yang baik di surga.

Sekarang kita sadar, sebelum kita bisa memberikan kasih untuk orang lain, kita bisa belajar menerima kasih dari Bapa terlebih dahulu. Itu sebabnya, we all need to come to the Father’s table.

2 hal yang bisa kita lakukan, aplikasi kita.

Number one. Kita harus receive before we can give.

Menerima, dengarkan saya. Kita tidak bisa memberi apa yang tidak pernah kita terima. Betul kan?

Saudara dan saya sudah berkata, I want to be a good Christian, I want to follow Jesus, I want to show love, I want to show forgiveness. Kita tidak bisa memberikan apa yang tidak kita terima, receive before we give. Karena sebelum kita mengisi kehidupan orang lain, dengarkan saya baik-baik, ijinkan Bapa mengisi kehidupan kita terlebih dahulu. Ada Amin? Before we fill other people’s life, kita ijinkan Bapa untuk mengisi kehidupan kita.

Nomor dua, ini yang bisa kita aplikasikan dalam kehidupan kita dan ini buat saya penting. Don’t pass on what hurt you

Church, listen to me carefully. Saya tahu kita banyak problem. Saya tahu ada banyak dari kita mengalami luka. Saya tahu banyak dari kita punya kepahitan akan masa lalu dan keluarga. Dengarkan saya baik-baik. Don’t pass on what hurt you for the next generation.

Tidak semua yang diwariskan kepada kita, dengarkan saya baik-baik. Tidak semua yang diwariskan kepada saudara dan saya, harus diwariskan melalui kita .

I know I’m speaking to some of you. Mungkin engkau diwariskan kemarahan, kebencian, mungkin engkau diwariskan rasa tidak bisa berekspresi seperti keluarga saudara tidak bisa berekspresi. Dengarkan saya baik-baik, itu tidak harus diwariskan melalui kita.

Mungkin saudara tidak pernah mendengar orang tua saudara berkata “I love you or I’m proud of you”, tetapi bukan berarti bahwa kita harus mengulanginya kepada keluarga kita yang sekarang.

Kasih karunia Tuhan tidak menghapus masa lalu kita tetapi Kasih Karunia Tuhan bisa mengubah apa yang kita teruskan, what we pass on, apa yang kita wariskan kepada orang-orang di sekeliling kita, di DATE saudara, di keluarga saudara, di anak-anak saudara. Don’t let what hurt us, we pass on to the next generations.

So, mari kita dengarkan. This is Ethan, Chelsea, dan Karis, anak-anak saya yang berbahasa Inggris tapi ada terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Saya persilakan. I think the simplest answer I can give is just simply from his actions towards me and my sisters, just from the way that he acts towards us, the way that he keeps checking up on us every once in a while. And just the way that he wants to make our life much easier than it is already.

00:33:41
What makes me feel loved is the fact that he’s always willing to change for me and that he was always trying his best to care for my needs, my mom’s needs, my whole family’s needs, and that he will try to do his best in every single thing that he does for us. What really shows his love for me is just the fact that he’ll always take time to text me or send me a reel about the Bible or about the dad and daughter posts, you know, like always making sure that he knows how much we, like how much he loves us.

00:34:19
Like, he’ll just text me and he’s like, hey, I love you, I miss you, I hope you’re doing okay. I just feel like, That shows me, even if it’s just a text or a call, I’m still in his mind. He’s still thinking about me. For me, I can see that through the way he’s so patient with us, the way he’s always willing to do anything for us, always willing to provide and putting our needs first before his.

00:34:54
I just feel like, It’s really taught me how much he values the family over himself. My dad taught me that kindness is always important in your everyday life. I see my dad, usually when people want to go around, take pictures with him, he always agrees because it might just be a little small gesture for him, but it can make that person’s whole entire day. So I try putting that mindset in my, like, how I live out my days at school to help my friends and to be a better person in all.

00:35:30
I think definitely my dad has taught me a lot on responsibilities. I’ve seen him carry his own responsibilities throughout his life, even when he’s stressed, when he’s tired, when he has a lot of things going on in his plate. He shows that it’s not just about being there for his family when everything’s all good, when everything’s all happy, but also being there and continuing to be with his family even when it’s costing him a lot.

00:36:04
For me, something I want to carry into my own family someday is how, caring and how trustful we are with each other. Because I feel like we, like as a whole family, can tell each other anything and everything and we don’t have to hide anything. And I want for my family members in the future to be able to share that kind of stuff with me without being judged. I hope that one day I can carry the closeness that I have with my own family, with the Moehedeh family, to my own family.

00:36:38
I hope in the future, I can be the same person like my dad has been towards me, the caring father, the one who helps their family whenever anyone is having any trouble, and just having the patience, the kindness to deal with anything outside of the family and also inside of the family.

Obviously, God wants the best for me no matter what. I feel like he would want me to know that everything happens for a good reason.

00:37:11
Maybe I just can’t see it now, but I will soon. I think that he wants me to know that he will always be there to guide me whenever I get lost, because God is the good shepherd and I think that he will always lead me. to holiness and that if I ever stray down the wrong path, God will always help me go back as my father. When I think of God as my father, the one thing that he would want me to know or to realize is that I don’t need to earn anything from him, whether it’s his kindness or his love.

00:37:53
I feel like, Every time I’m thinking about God or talking about God, mainly it’s during the times when I feel like I’m not doing enough or that I’m lacking something. But I think He would just want me to know, and mainly I’m saying this as a reminder to myself, but I think He would want me to know that I don’t need to earn the right, to be loved by him at all I think I just need to realize that no matter what he will love me he’ll be there with me just like a true father would be there for his son saya tidak menunjukkan video ini untuk menunjukkan bahwa saya seorang ayah yang sempurna and far and far from perfect.

I’m speaking to all of us yang mungkin mempunyai pengalaman dengan keluarga yang tidak sempurna, jauh dari sempurna. Saya tahu ada begitu banyak orang-orang muda yang berkata “How, Bagaimana caranya, Pastor? kita bisa memutuskan rantai dari keluarga kita from the past hurt?”

Jawaban saya cuma satu… Look to Jesus. Look to Jesus.

Saat kita melihat Yesus, kita bisa melihat Bapa yang baik dalam hidup kita, jangan mencarinya di orang-orang atau dalam relationship atau dalam apapun yang sedang kita cari, carinya hanya di dalam Yesus.

Jangan habiskan hidup kita untuk mencari dari manusia apa yang hanya bisa kita temukan dengan sempurna dan utuh di dalam Bapa di surga.

Jangan habiskan duit kita untuk mencari dari manusia apa yang hanya bisa kita temukan secara sempurna, secara utuh dari Bapa di surga dan yang luar biasanya lagi meja yang Tuhan sediakan.

Meja yang Tuhan sudah sediakan ini bukan cuma sekedar meja di rumah kita, but there is this grand feast di akhir daripada segalanya, di mana saudara dan saya sebagai gereja, diundang untuk masuk ke dalam pernikahan daripada sang anak domba.

Closing Verse – “Lalu malaikat itu berkata kepada saya, “Tulislah ini: ‘Berbahagialah orang yang diundang ke pesta pernikahan Anak Domba itu.’ ” Kemudian malaikat itu menambah pula, “Inilah berita benar dari Allah.”” Wahyu 19:9 BIMK

Artinya this great feast, santap malam kita tidak cuman sekedar berakhir di meja makan keluarga kita, tetapi berakhir dalam kekekalan bersama dengan Tuhan Yesus.

And we can see Him face to face. Kita bisa menghadap kepada Bapa. Dan kita bisa berkata, “Thank you, Father.” I did not have a father on earth, but now I have you, my Father in heaven.

Ps: Hi friends! If this blog has blessed you, you can support us below. Thank you, and God bless! Link: https://saweria.co/316notes