Kenny Goh JPCC

The Good Book By Ps. Kenny Goh

JPCC Online Service (19 March 2023)

Selamat pagi saudara semua, Happy Sunday! Sebenarnya hari ini kita akan membahas bagian kedua dari series kita yang berjudul spiritual training, tetapi karena minggu lalu ada tamu pembicara, maka mungkin hari ini saudara mungkin seolah-olah kebagian bagian keduanya, tetapi kalau saudara mau dengar bagian pertamanya, materi itu juga akan ditayangkan di JPCC.org, atau saudara juga bisa mendengarnya dengan men-download aplikasi revivo. Series kita di bulan ini adalah tentang Spiritual Training

Kenapa kita bahas ini?

Karena selama pandemi dan lockdown, khususnya di awal-awal pandemi, kami temukan bahwa banyak orang dengan jumlah cukup besar yang imannya Kandas, dan tidak mengerti bagaimana caranya bertumbuh sendiri, tanpa kumpulan DATE, tanpa berkumpul untuk ibadah hari Minggu, dan tidak bisa tidak, setiap kita bertanggung jawab atas pertumbuhan iman kita sendiri.

Kita sebut itu Iman pribadi. Kalau saudara sering di JPCC, tentu sudah mendengar bahwa jangan punya iman kerumunan, jangan ikut Tuhan hanya karena semuanya pada ikut Tuhan, dan saudara ikut-ikutan aja. 

Setiap Kita diundang untuk memiliki dan membangun kehidupan pribadi kita bersama dengan Tuhan. Itulah sebabnya satu-satunya cara adalah untuk setiap kita belajar melatih iman kita.  Itulah gunanya latihan rohani atau spiritual training.

Saya akan rangkum sedikit apa yang dibagikan oleh Ps. Ary minggu lalu di kampus lain, dia berkata begini, bahwa setiap orang mau hidup sehat, tetapi hidup sehat tentu tidak terjadi secara otomatis. Harus ada disiplin dalam mengatur pola makan, olahraga, dan juga istirahat. Ada pola-pola dan kebiasaan-kebiasaan yang harus kita bangun dengan disiplin kalau kita mau hidup berdampak.

Opening Verse – Latihan jasmani sedikit saja gunanya, tetapi latihan rohani berguna dalam segala hal, sebab mengandung janji untuk hidup pada masa kini dan masa yang akan datang. 1 Timotius 4:8 BIMK

Jadi, dua-duanya penting, Saudara. Bukan berarti satu tidak harus dilakukan sama sekali tetapi benefitnya berbeda dan tentu latihan rohani atau spiritual training berguna dalam segala hal, dan Pastor Ary membagikan menu latihan rohani yang pertama yaitu membangun keintiman dengan Tuhan.

Kita harus bangun keintiman dengan Tuhan sebagai latihan rohani kita, supaya setiap kita menjadi lebih seperti Kristus. Saudara setiap minggu datang ke gereja, saudara bangun kebiasaan rohani, baca Firman, berdoa dan lain-lain, tentu bukan hanya sekedar untuk checklist kegiatan agama wisatanya, Bukan itu!

Tetapi yang kita mau lihat adalah Bukan Saudara tambah sibuk pelayanan, Bukan Saudara tambah mahir dalam pengetahuan Alkitab, tapi yang lebih penting agar setiap saudara dan saya diubah karakter kita menjadi lebih seperti Kristus, itu tujuannya.

Oleh karena itulah, kita harus membangun keintiman dengan Tuhan. Nah, caranya bagaimana?

Supporting Verse – Sementara itu, sampai saya datang nanti, engkau harus bersungguh-sungguh membacakan Alkitab kepada orang-orang, dan mendorong serta mengajar mereka 1 Timotius 4:13 BIMK

Jadi, Paulus memberikan instruksi ke Timotius, “eh untuk orang-orang yang kamu gembalain dan kamu pimpin ini, kamu harus mendorong mereka dan mengajari mereka cara untuk membaca Alkitab!”

Ini kunci utama latihan rohani kita, kita harus membaca, mendengar, mempelajari dan mengerti firman Tuhan. Yang kedua, supaya setiap kita mampu untuk melakukan kehendak Tuhan.

Kita semua mau melakukan kehendak Tuhan, kita semua mau menjadi seperti Kristus, tetapi apakah dengan cara kita doa lebih lama lagi, atau kita pelayanan lebih banyak lagi, tentu bukan seperti itu saudara.

Seorang teologi bernama Dallas Willard berkata begini, “Spiritual training enables you to do what you cannot do by willpower alone.”

Latihan rohani memampukan kita untuk melakukan apa yang tidak bisa kita lakukan hanya dengan modal tekad. Jadi, hanya sekedar “Oke, saya mau lebih dewasa”… Tidak bisa begitu aja, harus ada step-stepnya, ada caranya dan metodenya untuk kita bisa bertumbuh dalam iman kita, dan menjadi serupa dengan Tuhan. Demikian rekap saya untuk bagian pertama dari special training.

Hari ini kita mulai part 2 yang menjadi bagian saya pagi ini. Nah, saudara sering mendengar bahwa kita harus belajar membaca Alkitab dan merenungkan firman Tuhan, tetapi caranya sebenarnya bagaimana?

Seperti yang saya katakan bulan lalu, mungkin saudara akan temukan ini dalam materi workshop atau bahkan sekolah alkitab, tetapi hari ini saya mau kasih sedikit preview kepada saudara tentang hal-hal yang mendasar bagaimana cara kita membaca Alkitab.

Sebenarnya saya terlalu cepat, itu minggu depan. Hari ini, Sebelum kita belajar caranya, setidaknya kita mengerti dulu, dan Minggu depan kita lanjut lagi. Nah, hari ini kita bahas tentang Alkitab.

Di dalam ruangan ini, ada orang-orang yang sudah Kristen dari kecil, saudara lahir di keluarga Kristen, ada juga di sini orang Kristen tapi datang dari latar belakang yang sangat berbeda dan beragam ya, datang dari gereja dan denominasi yang sangat beragam semua ngumpul di sini, bahkan ada juga yang mungkin tidak punya latar belakang Kristen dimana saudara baru kenal Tuhan mungkin sejak saudara ke JPCC,  atau sebaliknya ada juga orang-orang yang masih exploring kekristenan tuh seperti apa sih, dan lain sebagainya.

Setiap latar belakang membawa pengalaman, pengertian dan approach yang sangat berbeda terhadap Alkitab.  Nah, kalau kita percaya bahwa kita membangun keintiman dengan Tuhan dengan membaca Firman, nah makanya kita harus menyamakan persepsi terlebih dahulu.

Disclaimer sedikit saja, tujuan kami di sini bukan membuat saudara semua jadi ahli teolog, bukan itu ya, tujuan kami di sini adalah memberikan informasi yang cukup untuk saudara start, dan setelah itu silakan saudara kembangkan sendiri.

Faktanya saudara, ada beberapa hal yang minimal kita harus tahu tentang Alkitab. Alkitab Ini mengandung sesuatu untuk semua kalangan, tahukah saudara dalam Alkitab ada narasi, ada kisah-kisah percintaan, ada kisah-kisah drama, politik, cerita yang natural dan bahkan supranatural. Alasan kenapa mungkin kita tidak bisa engange, tertarik, dan melihat semua itu karena mungkin kita punya kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik yang mungkin sudah kita warisi dari sejak kita kecil dulu.

Nah, Contohnya seperti apa?

Pertama, mungkin ada di antara kita yang diajarkan untuk menganggap Alkitab sebagai sebuah Magic book. Magic book yang mengandung ayat-ayat yang digunakan sebagai mantra-mantra untuk mendapatkan apa yang kita mau.

Ada juga yang saya sebut “verse-ianity”, kekristenan yang dibangun di atas dasar ayat-ayat.  Saudara membaca Alkitab hanya untuk mencari ayat. “Wah, gua lagi patah semangat nih, jret! ada ayat Yeremia 29:11, Fokusnya hanya ke ayat saja, tentu itu baik daripada sama sekali tidak membaca. Tetapi saya mau sudah tahu bahwa ada yang lebih lagi dari itu ya.

Banyak juga di sini yang baca ayat-ayat saja dan yang terjadi adalah saudara keluar dari konteksnya, seperti saudara baca surat dan cuma baca satu kalimat saja, ibaratnya membaca whatsapp, dan saudara mengambil kesimpulan dari satu chat saja dan itu bisa kemana-mana dan membawa banyak drama kesalahpahaman yang terjadi karena tidak punya konteks sama sekali. Kita bisa salah interpretasi tentunya.

Atau banyak yang membaca Alkitab pakai gaya sekolah minggu, saudara punya lensa sekolah minggu, dulu sudah dengar cerita kisah tentang Musa atau tentang Daud dan sampai dewasa saudara tidak move on dari cara berpikir sekolah minggu dan melihat kisah-kisah itu seperti dongeng, dan tidak mengerti sejarahnya, konteksnya, dan apa latar belakangnya.

Kalau saudara tidak mengerti semua itu, tidak heran saudara akan merasa bosan disaat membaca Alkitab. Jadi, kalau kita tidak mengerti, kita nggak akan bisa mendapatkan manfaat yang maksimal dam tidak akan tertarik untuk belajar akan serunya membaca Alkitab karena salah enterpretasi.

Terkadang bahkan ada juga orang-orang yang menyalahgunakan Alkitab untuk agenda pribadinya. Tidak ada seorangpun manusia yang bisa 100% memahami dan mengerti seluruh isi Alkitab, karena kita terbatas dan itu sebabnya kita perlu satu sama lain, perlu belajar diskusi, berdialog, terus dengar apa yang Tuhan mau katakan melalui FirmanNya.

Intinya saudara, kita mau Jemaat JPCC di sini level up dalam pengertian kita tentang Alkitab supaya kita bisa belajar membaca, menangani firman Tuhan dengan bertanggung jawab dan menikmatinya secara maksimal.

  1. Kita percaya bahwa Alkitab adalah perkataan Allah dalam kata-kata manusia. Kita percaya bahwa ini Tuhan yang berbicara dan menginspirasi orang-orang untuk menulis ini.
  2. Kita juga percaya bahwa Alkitab selalu benar dan tidak kontradiktif dengan karakternya Tuhan. Tidak ada kontradiksi apa yang ditulis dalam Alkitab dan sesuai dengan karakternya Tuhan.
  3. Kita percaya Alkitab adalah otoritas dalam kita mengenal Tuhan secara pribadi dan menjalani hidup yang menyenangkan Tuhan. 

Alkitab tidak mudah dipahami dan oleh karena itulah, kita perlu bantuan Roh Kudus untuk kita bisa memahami apa yang Tuhan sendiri mau ungkapkan lewat kata-kataNya.

Jadi, kalau ada yang kurang jelas di dalam Alkitab, yang salah bukan Alkitabnya, tetapi yang salah adalah kita karena kita terbatas. 

Supporting Verse – Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Yohanes 1:1 TB

Tuhan mengidentifikasi diriNya dengan Firman.

Supporting Verse – Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. Yohanes 1:14 TB

Kita tidak bisa kenal Tuhan tanpa firman Tuhan. Kita tidak bisa kenal Tuhan hanya dengan doa, sibuk pelayanan atau nyanyian lagu-lagu saja. Kita kenal Tuhan melalui FirmanNya karena Tuhan identik dengan FirmanNya. Kita nggak bisa intim dengan Tuhan tanpa kita menyukai perkataan Tuhan, kita nggak bisa dengar suara Tuhan kalau kita nggak baca firmannya.

Jadi, kedekatan kita dengan Tuhan akan sedalam kecintaan kita terhadap firman Tuhan. Mencintai Yesus sama dengan mencintai firman Tuhan.

Saudara cinta firman Tuhan bukan untuk menjadi jago mengajar, bukan supaya agar di DATE sudah bisa sharing dengan keren, bukan! Jadi, hati-hati dan check motivasi saudara.

The Bible is a unified story that leads to Jesus – The Bible Project

Oke, sekarang kita masuk ke bagian yang menarik buat saya. Ada beberapa fakta yang menarik tentang Alkitab, ada banyak bukti bahwa Alkitab adalah sumber yang sangat kredible dan bisa dipercaya, saya akan share salah satunya yaitu tentang manuscript atau naskah.

Saudara tentu tahu bahwa di zaman dulu, tentu belum ada digital dan tidak ada internet, dan zaman dulu tidak ada kertas dan pen. Semua yang terjadi saat itu diturunkan secara tradisi oral atau bercerita, dan pada suatu titik dalam sejarah, dimana orang mulai mencatat.

Catatnya pun  menggunakan kulit pohon dan dinamakan Papyrus, nggak mudah saudara dan dulu itu nulis satu, setelah itu kalau mau bikin kopian tentu tidak bisa copy paste, dan harus disalin dan ada yang bacakan. 

Nah, saudara mungkin bertanya, “Emang kita bisa percaya bahwa Alkitab ini seharusnya sourcenya dari ribuan tahun lalu dan masih akurat?”

Saya mau bandingkan dengan beberapa literatur yang cukup umum dalam sejarah dan saudara bisa lihat sendiri perbandingannya dengan Alkitab. Pertama, saya ajak saudara untuk baca tabel ini, saya akan guide saudara pelan-pelan aja.

Di tabel ada penulisnya, contohnya adalah Caesar, dia menulis buku “The Gallic Wars”, ditulis 100 sampai 44 tahun sebelum masehi. Salinan terawal ditemukan setua tahun  900. Jadi ada kejadian, beberapa tahun kemudian dan tidak langsung dibikin laporan dan setelahnya baru ada yang menulis dan melaporkan apa yang terjadi dan perlu dibuat kopian untuk disebar.

Nah, Kalau saudara mengalami sesuatu, tentu semakin cepat dilaporkan maka semakin akurat. Karena semakin lama, semakin hilang detail-detailnya. Kembali ke tabel ini, jangka waktu penulisan sampai ketemu kembali salinan awal itu ada 1000 tahun, dan jumlah naskah atau manuskrip yang ditemukan untuk the gallic wars ini sumbernya ada 10. Tentu cukup bagus karena jika hanya satu sumbernya maka tentu bisa dipertanyakan.

Mari kita coba bandingkan tulisan yang lain, misalnya dengan Plato, Plato menulis  waktu penulisan 427-347 sebelum masehi, jadi salinan terawal itu jaraknya 1200 tahun dan ada 7 manuskrip yang ditemukan.

Masih cukup baik, dan selanjutnya ada Homer yang menulis “Iliad” sekitar tahun 900 sebelum masehi, dengan salinan terawal 400 sebelum masehi. Jadi, jangka waktu penulisan dan salinan terawal itu ada 500 tahun tapi cukup kredible karena jumlah manuscriptnya sebanyak 643. 

Not bad tentunya, tetapi kita lihat dengan Perjanjian Baru kita, dari Matius sampai Wahyu. Perjanjian baru ditulis 40 sampai 100 HD. Yesus lahir nol, dan di usia 33, Dia mati disalibkan, dan bangkit lagi. Dua minggu kemudian, Dia naik ke surga.

7 tahun setelah kejadian itu, dimulailah penulisan sampai 100 HD.  Jadi, salinan terawal itu ditemukan di 125 HD. Jangka waktunya sangat pendek dan tidak jauh, dibandingkan yang lain jadi harusnya cukup akurat ya.

Tapi yang mind-blowing, bukan soal jangka waktunya yang pendek dan akurat. Tetapi Perjanjian baru ini ada 24.000 manuscript yang ditemukan. 24000 salinan yang menyatakan “sebab begitu besar Kasih Allah bagi dunia ini, sehingga Dia memberikan anaknya yang tunggal, siapapun yang percaya dalam Dia punya hidup yang kekal”.

Jika bukan Roh Kudus yang memastikan agar pesan ini harus disebar di seluruh dunia, saya tidak tahu siapa lagi yang bertanggung jawab. 24.000 manuscript, ini baru naskah, dan belum lagi kita bahas soal dead sea scroll, gulungan laut mati yang isinya ada Yesaya, buku lain dam juga bukti-bukti arkeolog yang saudara bisa cari sendiri.

Tetapi karena ini, saya yakin dan percaya bahwa kita bisa percaya apa yang Alkitab katakan. Karena terlalu banyak buktinya, bisa dikatakan bahwa Alkitab adalah dokumen sejarah yang paling akurat dan sudah diverifikasi, dan nyata buat kita.

Saya nggak tahu saudara mau melandaskan hidup saudara atas apa, mungkin dengan buku-buku self help modern? tentu saya tidak masalah dengan semua itu ya, tapi saya sarankan agar anda juga mengambil waktu untuk mendalami Alkitab.

Oke, kita lanjut. Apa itu Alkitab sebenarnya?

Pertama, Alkitab ini bukan bukan satu Buku. Alkitab bukan satu buku, bentuknya memang satu buku, tetapi Alkitab adalah sebuah koleksi genre, Dia adalah perpustakaan dengan buku-buku yang beragam, dicompile jadi satu buat kita semua agar menjadi lebih mudah.

Jadi, Alkitab adalah sebuah koleksi buku-buku, naskah-naskah atau tulisan-tulisan. The Bible is a Collection of books and script, manuscript, and writing. Alkitab ini isinya ada 66 buku dan tulisan, yang ditulis oleh sekitar 40-an penulis dari waktu yang berbeda, geografi yang berbeda, tempat yang berbeda, semua dikumpulkan jadi satu dan ditulis dalam kurun waktu 1500 tahun atau 15 abad.

Alkitab dibagi menjadi dua bagian, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Di perjanjian lama,  ada beberapa genre, yaitu hukum/taurat, sejarah/narasi, puisi/lagu-lagu/wisdom literature dan nubuatan (apocalyptic literature).

Kenapa ini penting?

Karena Alkitab nggak selalu diurutkan sesuai kronologis, selalu ada koleksi-koleksi bukunya, dan saudara tidak bisa membaca hukum atau sejarah dengan cara yang sama disaat saudara membedah sebuah lagu. 

Saya kasih contoh, contoh pertama di dalam kisah Daud dan Batsyeba. Dimana setelah ini terjadi, Tuhan mengirim Nabi Natan untuk menegur Daud. 2 Samuel 11 mencatat kejadian ini dan berbentuk sejarah atau narasi, dan Daud yang merasa bersalah kemudian bertobat dan menulis lagu.

Lagu itu ditemukan di Mazmur 51. Jadi buat saya, saudara kalau baca kronologis, mungkin saudara bingung, tapi jika saudara mengerti “Oh ini letaknya disini, Oh ini yang terjadi, Oh ternyata ini narasi lalu saya bisa lihat lagunya”, tentu saudara akan memiliki pengertian dan konteks yang lebih baik.

Contoh kedua adalah Salomo, anaknya Daud. Kisah tentang hidup Salomo bisa ditemukan di 1 Raja-raja dan berbentuk sejarah atau narasi, siapa dia, bagaimana dia bisa naik tahta dan lain-lainnya.  Nah, Salomo karena dia adalah orang yang bijak, dia menulis banyak, dia tulis semua itu di Amsal yang berbentuk wisdom literature. 

Nah, kalau saudara ada yang bertanya-tanya Salomo sebijak apa? tentunya akan mengalami kebingungan jika membacanya di Kitab 1 Raja-raja yang berbentuk narasi atau sejarah. Tetapi kalau saudara sudah membaca Amsal, tentu akan terlihat sekali kebijakan salomo yang masih relevan sekarang. Pengkotbah, belum ada yang bisa klaim bahwa itu Salomo yang nulis tapi banyak bukti yang menjurus kesana.

Ada juga latar belakang pengkhotbah bahwa Salomo menulis ini sewaktu dia jauh dari Tuhan, disaat dia menikah dengan banyak perempuan yang tidak percaya Tuhan, dan karena dia menikahi begitu banyak wanita mungkin dia romantis sebab dia menulis lagu dan semua lagunya di Kidung Agung itu lagu-lagu solomo.

Perjanjian baru bentuknya ada Injil kisah para rasul dan ada surat-surat. Injil menulis sejarah dan narasi tentang Yesus, sementara kisah para rasul adalah narasi tentang murid-murid Yesus, khususnya apa yang mereka lakukan utamanya Petrus dan Paulus.

Kalau saudara membaca Roma, Korintus, Galatia, dan Efesus, semua ini adalah surat yang Rasul Paulus tulis ke gereja-gereja yang dirintis di kisah para rasul. Saudara harus membaca dulu agar punya konteks terhadap apa yang Rasul Paulus Tuliskan di surat suratnya.

Supporting Verse – Engkau harus ingat bahwa sejak kecil engkau sudah mengenal Alkitab. Alkitab itu dapat memberikan kepadamu pengertian untuk mendapat keselamatan melalui iman kepada Kristus Yesus. 2 Timotius 3:15 BIMK

Semua yang tertulis dalam Alkitab diilhami oleh Allah dan berguna untuk mengajarkan yang benar, untuk menegur dan membetulkan yang salah, untuk mengajar manusia supaya hidup menurut kemauan Allah.

Dengan Alkitab itu, orang yang melayani Allah dapat dilengkapi dengan sempurna untuk segala macam pekerjaan yang baik. Kalau saya seorang pemimpin, daripada saya terlalu banyak terlalu banyak belajar dari perkataan manusia, saya mau ajak saudara semua untuk kita lebih banyak mendapatkan direct Interaction dengan apa yang Tuhan mau karena Tuhan menantikan untuk memberikan saudara guidance untuk hidup saudara.

Roh Kudus menantikan saudara untuk engage dengan dia supaya hidupmu ini jelas dan masuk ke dalam terang dan tidak lagi berjalan dalam gelap gulita. Tuhan mau setiap kita untuk belajar mencintai firmanNya, karena mencintai Yesus adalah mencintai firman Tuhan.

Ada begitu banyak survei yang membuktikan bahwa Alkitab adalah katalisator utama terjadinya pertumbuhan rohani.

Lebih dari spiritual training yang lain yang kita akan bahas di minggu depan. Tetapi kalau saudara tidak punya dasar dan landasan firman Tuhan, susah untuk kita bangun sesuatu yang kokoh dan solid untuk kehidupan kita semua di komunitas ini.

Sedikit PR saja buat saudara, dua hal saja.

Pertama, saya ajak saudara selama seminggu ke depan, sebelum membaca Firman, berdoa terlebih dahulu, meminta Roh Kudus agar bisa bicara kepada kita melalui firmanMu.

Kedua, Saya mau challenge saudara yang terbiasa baca ayat-ayat doang, untuk saudara agar bisa membaca per buku. Contoh, mungkin buat anda yang waktunya nggak banyak, bisa membaca satu surat, seperti 1 Yohanes atau 2 Yohanes, jadi jangan baca ayat-ayat, tapi baca the whole thing. 

Karena kalau baca buku, tentu saudara harus tahu ya karena setiap buku ada intronya, ada tengahnya, dan juga ada endingnya, tentu beda-beda kasusnya. Saudara baca aja, dan minggu depan kita akan share kepada saudara tools yang sangat sederhana untuk saudara bisa membangun kebiasaan yang jauh lebih sehat dalam membaca firman Tuhan. So don’t miss next week!

P.S : If you like our site, and would like to contribute, please feel free to do so at : https://saweria.co/316notes