Worship By Ps. Jose Carol

JPCC Online Service (14 August 2022)

Saudara siap terima firman Tuhan? Sepertinya yang siap hanya beberapa orang. Siap terima firman Tuhan? Oke, baik. Kalau Saudara mencatat khotbah,tema kita bulan ini adalah “Worship” atau “Worshiping” (penyembahan).

Omong-omong, Saudara, ini adalah lanjutan dari tema kita bulan lalu, yaitu “Imamat yang Rajani”,di mana salah satu tugas kita sebagai imam, selain menyembah Tuhan, kita juga membawa korban persembahan pada Tuhan.

Tugas imam selain menyembah, mereka juga membawa korban persembahan kepada Tuhan. Hari ini kita akan bersama-sama lanjut untuk mengerti tentang penyembahan (worship)— mengerti, mendalami, sekaligus menjadikannya gaya hidup. Banyak dari kita sering berpikir penyembahan itu lagu pelan, dan kalau lagu cepat itu bukan penyembahan.

Ketahuilah bahwa Penyembahan bukan hanya lagu, dan bahkan bukan kebaktian. Penyembahan bukan sekadar Saudara melayani di dalam gereja. Itu semua adalah bagian dari penyembahan kita, tetapi penyembahan secara utuh itu lebih luas daripada sekadar menyanyi, melayani, apalagi hanya ibadah di hari Minggu saja.

Sepanjang bulan ini kita akan belajar tentang gaya hidup penyembahan seperti apa yang harus kita hidupi sebagai anak-anak Tuhan.

Opening Verse – Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Roma 12:1-2 (TB)

Ayat ini memberitahukan kita bahwa ibadah kita yang sejati bukan sekadar ibadah di hari Minggu saja, atau nyanyian kita saja. Ayat ini memberi kita gambaran utuh dan menyeluruh mengenai penyembahan, yang adalah bukan hanya kebaktian, bahkan bukan hanya persembahan yang kita bawa di hari Minggu kepada Tuhan.

Melainkan, ayat ini berkata bahwa ibadahmu yang sejati adalah mempersembahkan tubuhmu, mempersembahkan dirimu seluruhnya kepada Tuhan. Seluruh kehidupan kita adalah penyembahan kita. Seluruh keberadaan kita.

Supporting Verse – Saudara-saudara! Allah sangat baik kepada kita. Itu sebabnya saya minta dengan sangat supaya kalian mempersembahkan dirimu—yang perlu dipersembahkan adalah diri Saudarasebagai suatu kurban hidup—bukan lagi hewan, sebagaimana di Perjanjian Lama—  sebagai suatu kurban hidup yang khusus untuk Allah dan yang menyenangkan hati-Nya. Ibadatmu kepada Allah seharusnya demikian. Roma 12:1 (TSI)

Mengapa Tuhan memerintahkan kita manusia untuk menyembah Dia? Dan mengapa kita juga, sebagai ciptaan Tuhan, memerlukan penyembahan kepada Tuhan?

Saudara, dari semua makhluk hidup ciptaan Tuhan, hanya manusia yang memiliki kebutuhan dan kemampuan untuk menyembah. Makhluk hidup ciptaan Tuhan yang lainnya, binatang maupun tanaman, tidak memiliki kebutuhan maupun kemampuan untuk menyembah Tuhan.

Berbagai jenis anjing seperti Shih Tzu, Corgi, apa pun yang Saudara miliki di rumah sebagai sahabat baik Saudara, Saudara tidak akan temukan mereka ketika Saudara beribadah virtual, mereka tiba-tiba berlutut, angkat tangan, dan kemudian menyembah Tuhan. Mereka tidak punya kebutuhan dan tidak merasa perlu untuk menyembah Tuhan. Dan mereka juga tidak punya kemampuan untuk menyembah Tuhan, dan menyenangkan hati Tuhan.

Hanya Saudara dan saya yang memiliki kemampuan dan kebutuhan untuk menyembah Tuhan. Oleh sebab itu, kehampaan di dalam diri manusia hanya dapat dipenuhi dengan penyembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Tuhan.

Saudara, diri kita, kepuasan hidup kita tidak bisa diisi dengan hobi kita, tidak bisa diisi oleh materi dan keberhasilan kita, tidak bisa diisi oleh pencapaian dan kesuksesan kita. Tidak peduli Saudara punya apa dan berhasil mencapai apa pun juga, ada satu bagian yang sangat dalam yang hanya bisa diisi oleh kehadiran Tuhan pada saat Saudara menyembah Dia.

Berapa banyak dari Saudara yang mengerti apa yang saya maksudkan? Saudara bisa beli apa saja, punya apa saja, pergi ke mana saja,tapi rasa penuh itu hanya akan terisi pada saat Dia hadir, dan itu terjadi pada saat Saudara menyembah Dia. Dan hanya manusia yang merasakan itu.

Saudara tidak akan temukan ciptaan yang lain merasakannya. Bahkan manusia primitif pun, bahkan mereka yang mengaku tidak percaya adanya Tuhan pun, sebenarnya kalau mau jujur, ada pertanyaan yang paling mendalam dalam diri mereka: Siapa aku? Dari mana aku datang? Ke mana aku pergi? Kenapa aku ada di sini?

Kalau mau dijawab “karena tabrakan (Big Bang Theory?)”— suatu tabrakan terjadi, alam semesta ini terbentuk—menurut saya, sulit untuk kita mengerti, bahwa tabrakan itu bisa menghasilkan tatanan galaksi dan alam semesta yang rapi, dan tabrakan ini bisa menghasilkan Saudara dan saya yang sempurna.

Halo? Ada kebutuhan dalam diri kita untuk menyembah, dan kita diberi kemampuan untuk menyembah, karena pada saat itulah Tuhan bahagia, Tuhan disenangkan. Ada beberapa elemen tentang penyembahan yang saya ingin bagikan pada Saudara dengan waktu yang saya miliki.

Sepanjang bulan ini, kita akan belajar tentang penyembahan. Semua yang berbagi akan memberi kontribusi untuk melengkapi pelajaran Saudara tentan gaya hidup penyembahan yang kita maksudkan. Namun hari ini, saya ingin memakai kata “worship” dalam bahasa Inggris.

Ada tujuh huruf yang membentuk kata “Worship” yang akan saya gunakan dalam memberikan tujuh elemen yang saya yakini adalah bagian dari penyembahan kita kepada Tuhan.

Apakah ini secara utuh menggambarkan penyembahan? Tentunya tidak. Namun dari kata “worship” ini, ada tujuh elemen yang saya ingin bagikan pada Saudara pada hari ini.

Huruf yang pertama adalah huruf W dalam bahasa Inggris,yang saya pakai untuk kata “Whole”, artinya “utuh, seluruh”.

Penyembahan kepada Tuhan menuntut seluruh keberadaan kita. Katakan, “seluruh”. Tidak bisa hanya sebagian. Seluruh hidup kita. Bukan hanya hari Minggu saja, melainkan hari Senin sampai Minggu. Bukan hanya hati kita saja, bukan hanya sebagian dari hidup kita, melainkan seluruh keberadaan kita.

Jawaban Yesus kepada orang Yahudi yang bertanya,“Hukum manakah yang paling utama?” adalah seperti berikut.

Supporting Verse – “Hukum yang terutama ialah:— Dia katakan—: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.  Kasihilah Tuhan, Allahmu,— dengan apa?— segenap hatimu— dengan apa?— dan dengan segenap jiwamu— dengan apa?—  dan dengan segenap akal budimu— dan dengan apa?—segenap kekuatanmu. Markus 12:33 (TB)

Kata kuncinya di sini apa? Segenap. Bukan sebagian hatimu, bukan sebagian jiwamu, bukan sebagian akal budimu, bukan sebagian kekuatanmu, melainkan segenap. Itu sebabnya beberapa Saudara yang baru bertobat sering berkata, “Kenapa sih, saya sudah lepaskan banyak, tapi kenapa yang satu ini Tuhan masih kejar?”

Karena Dia ingin segenap dirimu. Segenap. Di dalam Perjanjian Lama, Dia berikan perintah kepada bangsa Israel. TUHAN telah mengadakan perjanjian dengan mereka dan memberi perintah kepada mereka dari 2 Raja-raja 17.

Supporting Verse – Perintahnya begini: “Janganlah berbakti kepada allah lain, janganlah sujud menyembah kepadanya, janganlah beribadah kepadanya dan janganlah mempersembahkan korban kepadanya. 2 Raja-raja 17:35 (TB)

Dengan kata lain, Dia berkata: “Aku tidak ingin ada yang lain di antara kamu dan Aku.” Dia tidak inginkan ada yang lain— apa pun itu, siapa pun itu. Yang Tuhan inginkan: seluruhnya. Sering kali kita berusaha ingin memberikan yang terbaik, tapi tidak seluruhnya.

Kita berusaha memberi yang terbaik, tapi bukan seluruhnya. Janda Sarfat berikan dua peser, yang dibandingkan dengan persembahan orang-orang kaya, tidak ada artinya, tidak signifikan. Namun Saudara tahu apa yang menarik perhatian surga? Yang dia berikan itu adalah segalanya. Mungkin tidak sempurna, tapi itu segalanya.

Pada saat kita mempersembahkan segalanya, Tuhan senang. Kalau dalam konteks menyanyi, sebagai bagian dari penyembahan kepada Tuhan, sering kali saya ingatkan diri saya untuk memberikan segalanya (all-out) walau saya tahu “all-out”-nya saya tidak ada apa-apanya dibandingkan sekadar gumaman Sidney Mohede.

Dia hanya mengguman saja hasilnya sudah bagus. Saya sudah berusaha memberikan yang terbaik, tetap tidak ada apa-apanya dibandingkan Alvi, Sidney, Jussar, atau penyanyi andal yang lain. Namun saya tahu, yang penting “all-out.” Walaupun mungkin musik di kunci G, saya nyanyinya di kunci C. Saya tahu surga tidak akan berkata, “Berhenti, berhenti!”

Tidak. Tuhan akan berkata, “Teruskan Jose, teruskan. Saya tahu beda kunci, tapi karena kamu ‘habis-habisan’, Aku senang.” Berapa banyak yang merasakan hal yang sama? Kita merasa apa yang kita bisa berikan bukan yang terbaik— persembahan kita, pelayanan kita, hidup kita—tapi kita tahu dan berkata, “Tuhan, ini semuanya yang aku punya.”

Tuhan senang sekali, karena kita memberikan segenap hati kita, segenap hidup kita.

Pertanyaan saya, sebelum saya lanjut ke poin berikutnya: Apakah Anda mengizinkan sesuatu, selain Tuhan dan kehendak-Nya, tersembunyi di dalam hati dan hidup Saudara? Apakah Saudara masih mengizinkan sesuatu, yang bukan datang dari Tuhan,masih ada dalam hidup Saudara? Hari ini Tuhan ingin Saudara datang kepada Dia, untuk memberi seluruhnya.

Supporting Verse – Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain,—dia katakan:  lakukanlah semuanya—bukan sebagiannya—  semuanya itu—apa? untuk kemuliaan Allah. 1 Korintus 10:31 (TB)

Bukan hanya hari Minggu, bukan hanya melayani, bukan hanya pada saat kita ada di ibadah hari Minggu, melainkan, setiap Senin sampai Sabtu, sampai Minggu lagi, di pekerjaan kita, di karir kita, di bisnis kita, di hubungan berpacaran kita, di dalam kehidupan sederhana sehari-hari, makan-minumnya kita, semua yang kita lakukan, itu adalah bagian dari penyembahan kita kepada Tuhan. Ada amin? Itu yang pertama, “semua”.

Yang kedua, huruf O: ”Obedience” (taat).

Nabi Samuel menegur raja Saul, karena Saul sudah melakukan ketidaktaatan— diperintahkan apa, dia lakukan apa. Ini teguran Tuhan melalui Samuel kepada dia.

Supporting Verse – Tetapi jawab Samuel: “Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan. 1 Samuel 15:22 (TB)

Saul tidak taat kepada perintah, dan dia berusaha menebus kesalahannya dengan memberikan korban. Kalau pakai bahasa saya di zaman sekarang, dia berusaha “menyogok” Tuhan untuk menebus ketidaktaatannya.

Kemudian Samuel berkata bahwa mendengarkan lebih baik daripada memberikan korban. Dengan kata lain, taat pada Dia lebih baik daripada mencoba memberi sesuatu untuk menebus ketidaktaatan.

Terjemahan bahasa Inggris memakai kalimat: “obedience is better than sacrifice”.

Tahukah Saudara bahwa Tuhan tidak bisa dibeli dengan apa pun yang Saudara bawa? Halo, halo? Tuhan menginginkan keseluruhan diri Saudara, dan menginginkan ketaatan Saudara. Kalau di dalam Perjanjian Lama, korban bakaran yang kita bawa adalah binatang yang disembelih, di dalam Perjanjian Baru, yang Tuhan inginkan adalah diri kita, hidup kita secara utuh.

Kalau di dalam Perjanjian Lama, binatang itu dibunuh dulu. Setelah mati, baru ditempatkan di atas altar untuk dibakar sebagai korban. Di dalam Perjanjian Baru, bukan hanya tidak memakai binatang, melainkan juga kita yang diminta mempersembahkan diri kita.

Selain itu, kita dipersembahkan dalam kondisi hidup. Dikatakan “living sacrifice”, persembahan yang hidup. Binatang yang dikorbankan di dalam Perjanjian Lama tidak punya pilihan. Di dalam Perjanjian Baru, semua yang mempersembahkan hidup dan diri mereka adalah manusia-manusia yang hidup tetapi memilih untuk berada di atas altar, sehingga pada waktu mereka dikorbankan atau mempersembahkan diri mereka, mereka memilih untuk tidak lari dan turun dari mezbah.

Di ibadah hari ini, boleh saya dapatkan ‘Amin’ yang kuat dari setiap Saudara, yang berkata: “Aku siap memberikan hidupku, dan aku tidak akan lari dari pengorbanan yang aku berikan di hadapan Tuhan”? Amin? Kita bukan lagi korban yang tidak punya pilihan, melainkan, kita adalah “living sacrifice”, persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan di hadapan Tuhan.

Korban bakaran tidak dapat menggantikan ketaatan, tetapi penyembahan yang sepenuh hati di dalam ketaatan membutuhkan pengorbanan. Ada amin? Pada saat kita mau taat pada Tuhan, sering kali kita harus membuat pengorbanan di dalam pilihan dan keputusan yang kita ambil. Di mana pun kita berada, pada saat kita mau taat, ada harga yang harus kita bayar.

Elemen ketiga dari huruf yang ketiga adalah “Relationship” (hubungan).

Penyembahan adalah sebuah pertemuan antara Tuhan dengan umat-Nya, yang membentuk hubungan yang kita bangun dengan Tuhan. Saya ingin mengutip sebuah kejadian di dalam Perjanjian Lama, pada saat Musa menyembah Tuhan, Musa datang kepada Tuhan, dicatat di Keluaran 33:13, Musa berkata begini.

Supporting Verse – Maka sekarang, jika aku kiranya mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, beritahukanlah kiranya jalan-Mu kepadaku, sehingga aku mengenal Engkau, supaya aku tetap mendapat kasih karunia di hadapan-Mu. Ingatlah, bahwa bangsa ini umat-Mu.” Keluaran 33:13 TB

Sebenarnya pada waktu Musa berkata, “Beritahukanlah jalan-Mu kepadaku”, Musa tidak sedang berkata bahwa dia menginginkan arahan, tuntunan, pewahyuan, atau informasi dari Tuhan. Dia tidak sedang berkata seperti itu. Namun dia sedang datang dengan kerinduan hati yang mendalam sebagai seorang penyembah, yang ingin berkata: “Aku ingin berjalan bersama dengan Engkau seumur hidupku. Tunjukkanlah jalan-jalanku.”

Dia tidak sedang datang mengharapkan arahan, tuntunan dari Tuhan saja, tetapi dia merindukan perjalanan dan hubungan bersama dengan Tuhan. Dia berbicara tentang sebuah hubungan.

Musa lapar akan Tuhan. Musa merindukan Tuhan. Musa menyadari bahwa tidak ada yang lain di dunia ini yang dapat menandingi pengalamannya berada di dalam hadirat Tuhan dan berada bersama dengan Tuhan. Dia haus akan keberadaan Tuhan.

Perkataan Musa: “Beritahukanlah jalan-Mu kepadaku sehingga aku mengenal Engkau”, dalam terjemahan bahasa Inggris menggunakan frasa “I may know You”, yang berarti: “secara progresif menjadi makin dalam dan makin intim dalam pengenalan akan Engkau.”

“Aku mengenal Engkau” artinya “makin dalam, makin intim aku bisa mengenal diri-Mu, mengerti kebenaran atau keinginan-Mu” —ini bicara tentang hubungan. Awal-awal pendekatan mungkin belum terlalu kenal. Makin dalam kita mengenal seseorang, makin kita tahu kepribadian dan keberadaannya. Amin? Demikian juga dengan Tuhan.

Pertanyaannya adalah, apakah Anda menghampiri Tuhan karena merindukan diri-Nya, atau menginginkan apa yang dimiliki-Nya? Ada banyak orang datang kepada Tuhan karena menginginkan apa yang dimiliki-Nya.

Hari ini saya yakin setiap Saudara yang ada di tempat ini datang pada Tuhan karena merindukan diri-Nya, bukan apa yang dimiliki-Nya, betul? Kalau Saudara rindu kepada Tuhan, ketika Saudara bertemu dengan Tuhan, menyembah Dia, Saudara mengenal Dia, maka Saudara akan mengerti jalan-jalan-Nya, dan apa yang ada di hati dan pikiran-Nya untuk setiap Saudara. Ada amin?

Yang keempat, huruf S. ”Spirit and Truth”.

Supporting Verse – Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” Yohanes 4:24 (TB)

“Allah itu roh” artinya adalah “tidak ada tempat di mana Dia tidak hadir, tidak ada masa di mana Dia tidak ada”. Dengan kata lain, tidak seorang pun di antara kita yang bisa bersembunyi dari-Nya. Dia Maha Hadir, Dia Maha Tahu, dan Dia adalah kebenaran.

Oleh sebab itu, pertanyaan saya pada Saudara adalah, apakah Saudara menyembah Dia dengan kesadaran akan keberadaan Dia dalam kehidupan Saudara?

Karena salah satu hardikan Yesus kepada orang Farisi adalah perihal keberadaan mereka yang tidak jujur di hadapan Tuhan dan manusia. Dikatakan, di hadapan orang, mereka berusaha menutupi diri dengan keagamaan.

Penyembahan bukan agamawi. Saudara tidak bisa bersembunyi di balik kesalehan agamawi, karena yang Saudara perlu persembahkan adalah hidupmu, dan penyembahan Saudara bersifat spritual. Yesus berkata pada orang-orang Farisi pada waktu itu.

Supporting Verse – Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik,— Dia katakan, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. Matius 23:27 (TB)

Banyak yang berusaha menutupi keberadaannya dengan identitas agamawi: rajin beribadah di hari Minggu, angkat tangan tinggi sekali, hafal lagu-lagunya, bahkan aktif melayani, tapi di hari Senin sampai Jumat, hidupnya tidak menunjukkan ada Tuhan di situ, apalagi rasa hormat kepada Tuhan dan takut akan Tuhan.

Apa yang dia lakukan di gereja berbeda dengan apa yang dia lakukan dalam kehidupannya sehari-hari. Yang Tuhan inginkan dari kita adalah melayani Dia dan menyembah Dia di dalam roh dan kebenaran.

Pertanyaannya, siapa Saudara di hadapan Tuhan, pada saat tidak ada orang lain di sekitar Saudara? Waktu Saudara sedang terpepet, sedang menghadapi tantangan, sedang terjebak macet, sedang marah, pertanyaannya: Adakah kebenaran hadir di mana engkau berada?

Oleh sebab itu, penyembahan melibatkan kejujuran kita di hadapan Tuhan, menyadari bahwa Tuhan ada di mana pun kita berada, dan kebenaran hadir di mana pun kita berada.

Yang kelima, “Honor” dari huruf H.

Sujud dalam penyembahan adalah sikap tubuh pada saat kita berhadapan dengan keilahian dan kemuliaan Tuhan yang Mahakuasa. Bahasa ibraninya “shachach”, artinya “bersujud, pengagungan kepada Ilah”.

Kita bersujud menyembah, menghormati keilahian Tuhan dalam kehidupan kita. Pengungkapan rasa hormat kita dalam penyembahan harus mengalir tanpa paksaan, keluar dari hati kita yang terdalam, saat kita berhadapan dengan Tuhan.

Pertanyaannya, apakah kita menunjukkan gestur hormat hanya saat kita di gereja saja?

Pada saat kita memberkati pernikahan di JPCC, sering kali saya ingatkan kepada pasangan yang mau menikah, karena dalam pernikahan ada salah satu komponen, atau bagian di mana mereka akan memberikan penghormatan pada orang tua, karena itu perintah.

Perintah firman Tuhan yaitu: “Hormatilah ayahmu dan ibumu karena itu yang menjadikan kita berumur panjang.” Yang muda-muda, ada amin?

Saya katakan pada yang muda, kalau mau mati muda, tidak perlu gaya hidup tidak sehat, cukup dengan berlaku kurang ajar terhadap orang tua. Biasanya di dalam liturgi pemberkatan pernikahan, kami tanya, “Kamu mau mengungkapkan hormat seperti apa?”

Karena gestur bahasa kita berbeda-beda. Orang Jawa terbiasa sungkem, orang Cina juga terbiasa berlutut di hadapan orang tua, orang Belanda tidak mengerti gestur berlutut; mereka berpelukan, cium pipi, bahkan sampai tiga kali—itu di Belanda.

Saya bilang sama mereka, “Pilih gaya bahasa yang paling cocok untuk kamu tunjukkan hormat pada orang tuamu. Ini hari yang paling penting, karena kamu akan mandiri, jadi keluarga sendiri.”

Yang saya selalu ingatkan adalah ini: “Jangan lakukan apa pun juga hanya karena basa-basi, supaya fotonya bagus. Kalau kamu biasanya tidak pernah peluk mama-papamu, dan cium, jangan lakukan itu hanya karena mengikuti orang Belanda.

Mamamu bingung nanti saat dicium suamimu.”Betul tidak Saudara? Jangan lakukan itu hanya karena basa-basi. Kalau yang di sini, saat yang lain sedang menyembah Tuhan, angkat tangan, kalau Saudara tidak merasa ingin lakukan, ya, jangan maksa: “Oh dia angkat ya, saya ikut.” Jangan. Buat apa angkat tangan di gereja, tapi besok main tenis, kata-kata binatang keluar dari mulut, tidak ada hormat pada Tuhan di situ, tidak ada rasa hormat akan kehadiran Tuhan di situ.

Halo? Jangankan besok main tenis, bahkan ke luar parkir saja sudah adakah rasa hormat kepada Tuhan di situ? Jadi sunyi sekali. Saat Saudara di kantor— baik swasta, maupun pemerintah—dan Saudara mau mengambil keputusan, hormatkah Saudara pada Tuhan dalam pengambilan keputusan Saudara? Itu pertanyaannya. Karena itu penyembahanmu, yang kudus, yang hidup, dan yang berkenan kepada Tuhan.

Huruf keenam, “Intimate” (intim).

Supporting Verse – Percayalah kepada TUHAN— ini nasihat Amsal— dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. Amsal 3:5-6 TB

Kita suka sekali klaim, menginginkan Tuhan meluruskan jalan kita, menyertai kita dalam segala sesuatu. Selain percaya pada Tuhan, dan tidak bergantung pada pengertian kita sendiri, kunci yang ketiga di ayat tadi adalah mengakui Tuhan, melibatkan Tuhan.

Di dalam seluruh hidupmu, seluruh keberadaanmu, akui Tuhan. Kata “akui” di situ bukan hanya “acknowledge”, bukan hanya “lihat, hadirkan”. Kata “mengakui” di situ punya pengertian yang sangat mendalam, karena kata “mengakui” di situ, bahasa aslinya memakai kata “yada”.

“Yada” adalah kata yang dipakai di Kejadian 4:1, di mana dikatakan bahwa Adam “yada” dengan Hawa, lalu Hawa hamil. Adam tidak hanya lihat dan hadirkan Hawa di sekitar dia,bukan dipelototi saja, lalu hamil— Saudara tahu itu. Adam punya hubungan “yada” dengan Hawa, baru Hawa bisa hamil.

Supporting Verse – Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa, isterinya, dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Kain; maka kata perempuan itu: ”Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN. Kejadian 4:1 TB

Kalau Saudara mengakui Tuhan dengan keintiman “yada”, maka Dia pasti meluruskan jalanmu.

Pertanyaannya, Dia hadir sebagai pengunjung, pengamat dalam kehidupanmu, atau Saudara punya hubungan yang mengizinkan Dia “yada” dengan Saudara. Kalau Saudara izinkan Dia “yada” dengan engkau, dan Saudara taat, saya yakin Dia akan meluruskan jalanmu di dalam nama Yesus. Ada amin?

Terakhir tapi tidak kalah penting, “Proclamation”.

Penyembahan berarti menyatakan kebaikan dan kehebatan Tuhan. Penyembahan kita adalah proklamasi. Setelah kita berikan semuanya, setelah kita taat, setelah kita bangun hubungan, setelah kita hidup dalam kejujuran dalam roh dan kebenaran, kita menghormati Dia dan membangun keintiman, tiba saatnya di mana kita menyatakan bahwa Dialah sang Pembuat jalan, Pembuat mukjizat, Penepat janji dalam kehidupan kita. Ada amin?

Pada saat Paulus dan Silas melakukannya, saat mereka di dalam penjara, dikatakan bahwa pintu penjara terbuka, dan semua rantai yang membelenggu lepas. Saudara, ada kekuatan spiritual saat Saudara memproklamirkan kebenaran dalam kehidupan Saudara.

Supporting Verse – Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka. Akan tetapi terjadilah gempa bumi yang hebat, sehingga sendi-sendi penjara itu goyah; dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semua. Ketika kepala penjara itu terjaga dari tidurnya dan melihat pintu-pintu penjara terbuka, ia menghunus pedangnya hendak membunuh diri, karena ia menyangka, bahwa orang-orang hukuman itu telah melarikan diri.  Tetapi Paulus berseru dengan suara nyaring, katanya: “Jangan celakakan dirimu, sebab kami semuanya masih ada di sini!” Kepala penjara itu menyuruh membawa suluh, lalu berlari masuk dan dengan gemetar tersungkurlah ia di depan Paulus dan Silas. Ia mengantar mereka ke luar, sambil berkata: “Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?” Jawab mereka: “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.” Lalu mereka memberitakan firman Tuhan kepadanya dan kepada semua orang yang ada di rumahnya. Pada jam itu juga kepala penjara itu membawa mereka dan membasuh bilur mereka. Seketika itu juga ia dan keluarganya memberi diri dibaptis. Lalu ia membawa mereka ke rumahnya dan menghidangkan makanan kepada mereka. Dan ia sangat bergembira, bahwa ia dan seisi rumahnya telah menjadi percaya kepada Allah. KIS 16:25-34 TB

Pertanyaannya, Saudara hari ini datang untuk mendapatkan sesuatu, atau Saudara hari ini datang karena rindu Tuhan, dan ingin mempersembahkan sesuatu, terutama hidup Saudara, kepada Tuhan?

Sekali lagi penyembahan bukan kebaktian, bukan lagu, apalagi kalau perdebatan kita hanya sekadar: “Saya tidak suka lagunya, terlalu cepat, terlalu lambat.” Saudara mungkin tidak suka lagunya, tapi Tuhan tetap suka sikap dan hormat Saudara yang Saudara persembahkan pada Tuhan. Tuhan suka ketika Saudara datang bukan untuk ambil sesuatu, melainkan, Saudara datang ingin membawa sesuatu untuk Tuhan. Dan bahkan usai kebaktian, Saudara menghormati Tuhan di mana pun kau berada, dan menghadirkan Tuhan di mana pun kau berada. 

P.S : Dear Friends, I am open to freelance copywriting work. My experience varies from content creation, creative writing for an established magazine such as Pride and PuriMagz, web copywriting, fast translating (web, mobile, and tablet), social media, marketing materials, and company profile. Click here to see some of my freelancing portfolios – links.

If your organization needs a Freelance Copywriters or Social Media Specialist, Please contact me and see how I can free up your time and relieve your stress over your copy/content needs and deadlines. My contact is 087877383841 and vconly@gmail.com. Sharing is caring, so any support is very much appreciated. Thanks, much and God Bless!