JPCC Sutera Hall 2nd Service (31 May 2026)
Hari ini saya akan berbicara tentang “The Presence that Transforms“, HadiratNya yang mengubahkan Kehidupan kita, dan diberi judul untuk kotbah hari ini adalah “Selubung Hati“. Mari kita mulai dari Keluaran 34.
Opening Verse – [29] Ketika Musa turun dari Gunung Sinai membawa Sepuluh Perintah itu, mukanya bercahaya sebab ia telah berbicara dengan Tuhan, tetapi Musa sendiri tidak tahu bahwa mukanya bersinar. [30] Harun dan seluruh rakyat melihat bahwa Musa bercahaya mukanya, dan mereka takut mendekatinya. Keluaran 34:29-30 BIMK
[29] Ketika Musa turun dari gunung Sinai – kedua loh hukum Allah ada di tangan Musa ketika ia turun dari gunung itu – tidaklah ia tahu, bahwa kulit mukanya bercahaya oleh karena ia telah berbicara dengan Tuhan. [30] Ketika Harun dan segala orang Israel melihat Musa, tampak kulit mukanya bercahaya, maka takutlah mereka mendekati dia. Keluaran 34:29-30 TB
Saudara perlu tahu bahwa ini adalah kali kedua Tuhan memerintahkan Musa untuk membuat dua loh batu yang isinya sepuluh perintah Allah. Nah, yang menarik adalah, pada saat Tuhan menyuruh Musa untuk pertama kali menulis Hukum Tuhan, Musa juga menghabiskan waktu selama 40 hari dan 40 malam di atas Gunung Sinai.
Namun pada saat Musa turun dari Gunung Sinai, tidak diberitakan bahwa mukanya bercahaya. Tidak ada penulisan bahwa muka Musa bercahaya. Tetapi yang baru kita baca ini, adalah untuk kedua kalinya, Musa turun setelah dia untuk kedua kalinya menuliskan sepuluh perintah Allah pada dua loh batu yang baru.
Mengapa demikian?
Semakin hari saat saudara belajar Firman Tuhan, saya secara pribadi merasa itu semakin menarik, apalagi kalau saudara suka misteri. Firman Tuhan itu sangat menarik, karena setiap paragraf, setiap perkataan ada kaitannya, ada layer demi layer, ada lapisan demi lapisan dan kalau saudara bisa menemukannya, itu kayak ada sesuatu, suatu pencapaian yang luar biasa. Pertama kali Musa turun gunung setelah dia mendapatkan perintah untuk menulis sepuluh perintah Allah, saudara harus tahu bahwa pada saat itu, Bangsa Israel sudah memberontak terhadap Tuhan.
Karena mereka menunggu Musa yang tidak turun-turun dari gunung Sinai, mereka tidak tahu apa yang terjadi sama Musa sehingga mereka datang ke Harun. Dan meminta untuk mereka diijinkan untuk membuat patung dari anak lembu emas untuk mereka sembah, Dan Tuhan yang sudah bertemu dengan Musa di gunung Sinai, Dia melihat hal tersebut dan Dia kasih tahu sama Musa. Jadi sewaktu Musa turun gunung, Musa tahu bahwa bangsanya yang dia wakili sedang memberontak terhadap Tuhan. Dan Musa turun gunung dalam keadaan emosi. Dalam keadaan marah, sewaktu dia lihat betul-betul bahwa bangsanya menyembah patung anak lembu emas, Musa kemudian membanting dua loh batu tersebut sehingga terbelah, pecah, juga merupakan sebuah simbolik bahwa pecahnya perjanjian Tuhan dengan umatNya, makanya Tuhan kemudian mengundang lagi untuk dia menuliskan pada dua loh batu yang baru.
Dan ketika dia turun, keadaan sudah berubah, karena Musa sudah bersyafaat kepada Tuhan, meminta ampun dan maaf atas pemberontakan bangsanya. Kalau tadi, di kali pertama Tuhan sudah menurunkan penghakimannya. Kali ini, di kali kedua, di kesempatan kedua, Tuhan sudah menunjukkan pengampunanNya.
Tuhan sudah menunjukkan Kasih karuniaNya, atau Kasih setiaNya, memperbaharui perjanjian yang ada, dan Musa membawa dua loh batu yang baru, dan pada saat itu, kemuliaan Allah nyata melalui wajahnya. Dia baru turun dari Gunung Sinai, Bukan baru pulang dari “Korea”.
Mukanya penuh dengan sinar kemuliaan Tuhan, dan ini menandakan bahwa Belas kasihan Tuhan jauh lebih mulia, jauh lebih besar daripada penghakiman Tuhan.
Supporting Verse – [13] Sebab penghakiman yang tak berbelas kasihan akan berlaku atas orang yang tidak berbelas kasihan. Tetapi belas kasihan akan menang atas penghakiman. Yakobus 2:13 TB
Dalam terjemahan bahasa Inggris dikatakan “Mercy triumphs over judgment, God’s mercy is always greater than glory, than God’s judgment”. Kasih dan Kemurahan Tuhan selalu lebih besar daripada penghakiman Tuhan. Dan juga jadi pembelajaran buat kita bahwa tidak ada kemuliaan dalam amarah, dalam emosi, tetapi ada kemuliaan dalam Kasih Karunia dan pengampunan.
Pada saat Musa turun gunung untuk kedua kalinya ini, perubahan dilihat dengan sangat jelas oleh Harun dan seluruh orang Israel. Tetapi, ditulis di Alkitab, bahwa Musa sendiri tidak tahu. Karena kalau saya boleh pakai bahasa kita sehari-hari, dia “tempelan” cahaya kemuliaan Tuhan. Dia tidak tahu.
Artinya, bukan sesuatu yang dia bisa banggakan. Seperti “Lihat gua nih, baru pulang dari Korea, bagus gak? Bagus gak?”
Dia tidak bilang begitu, Dia tidak tahu, absolutely no clue, tetapi orang bisa melihat perubahan yang ada, dan memperhatikan dia. Mukanya bersinar.
Nah, kalau kita pelajari di Alkitab, baik di perjanjian lama apapun di perjanjian baru. Kita lihat bahwa orang yang benar-benar, setiap orang yang benar-benar berjumpa dengan Tuhan secara pribadi, pasti akan mengalami sebuah perubahan. Terjadi pada Abraham ketika bertemu dengan Tuhan, pada Musa, pada Yesaya, mereka menerima panggilan yang baru.
Ada juga seorang penakut seperti Gideon ketika berjumpa dengan Tuhan berubah menjadi seorang pemberani, pahlawan yang gagah perkasa. Di perjanjian baru, kita bisa lihat orang-orang bertemu dengan Yesus, seorang perempuan Samaria yang punya masa lalu yang sangat kelam, punya suami lima, orang yang hidupnya penuh dengan malu sehingga sengaja menimbak air di siang hari bolong pada saat panas lagi teriknya.
Di luar kebiasaan semua orang yang mengambil air di waktu pagi pada saat hari sedang sejuk, tetapi dia terjumpa dengan Yesus. Dari seorang perempuan yang malu, yang punya masa lalu yang gelap, dia berubah menjadi seorang wanita yang menceritakan kabar baik yang terjadi pada dirinya. Dia menjadi seorang penginjil yang luar biasa.
Dari seorang yang suka memeras seperti yang namanya Zakheus. Orang yang “corrupt”, orang yang memeras bangsa dia sendiri. Penjumpaan dengan Yesus membuat dia menjadi orang yang murah hati, yang generous. Belum dengan banyak yang lain lagi, yang terima mukjizat, yang terima kesembuhan, yang terima pelepasan.
Satu hal yang pasti bahwa tidak seorang pun bertemu Tuhan secara pribadi akan tetap sama.
Nah, kalau kita kembali ke cerita Musa nih. Kita baca terus ayat 31-35.
Supporting Verse – [31] Tetapi Musa memanggil mereka, maka Harun dan segala pemimpin jemaah itu berbalik kepadanya dan Musa berbicara kepada mereka. [32] Sesudah itu mendekatlah segala orang Israel, lalu disampaikannyalah kepada mereka segala perintah yang diucapkan Tuhan kepadanya di atas gunung Sinai. [33] Setelah Musa selesai berbicara dengan mereka, diselubunginyalah mukanya. [34] Tetapi apabila Musa masuk menghadap Tuhan untuk berbicara dengan Dia, ditanggalkannyalah selubung itu sampai ia keluar; dan apabila ia keluar dikatakannyalah kepada orang Israel apa yang diperintahkan kepadanya. [35] Apabila orang Israel melihat muka Musa, bahwa kulit muka Musa bercahaya, maka Musa menyelubungi mukanya kembali sampai ia masuk menghadap untuk berbicara dengan Tuhan. Keluaran 34:31-35 TB
Bisa mengerti ya, menyelubungi itu artinya dia “cover”, dia tutupi mukanya dengan kain. Ada beberapa alasan kenapa dia menutupi mukanya dengan kain. Tetapi saya kasih tahu akibatnya dulu. Kalau dia menutupi mukanya dengan kain, akibatnya orang jadi tidak bisa melihat cahaya kemuliaan Tuhan dengan jelas. Orang tidak bisa melihat secara langsung cahaya kemuliaan Tuhan.
Alasan kenapa dia menutupi mukanya itu juga karena cahaya kemuliaan itu tidak selamanya ada disitu, over time, dia akan hilang. Kembali ke muka aslinya, kelihatan lagi jerawatnyam keriputnya, pigmentnya dan lain sebagainya. Sampai kapan? sampai dia masuk menghadap Tuhan lagi, masuk menghadap Tuhan lagi, mulai lagi dia bisa bersinar.
Kisah Musa ini kemudian diambil oleh Rasul Paulus untuk membandingkan perjanjian yang lama dan perjanjian yang baru.
Supporting Verse – [11] Sebab kalau perjanjian lama yang tidak kekal pun diberikan dengan kemuliaan, maka perjanjian baru yang kekal pasti jauh lebih mulia. [12] Jadi, karena kami sangat yakin pada janji Allah ini, maka kami sangat berani memberitakan perjanjian yang baru. [13] Kami tidak seperti Musa yang menutupi mukanya dengan kain supaya orang-orang Israel tidak bisa melihat sinar kemuliaan itu menghilang. [14] Tetapi pikiran nenek moyang orang Israel sudah tertutup. Bahkan sampai sekarang pun, ketika anak-anak mereka membaca kitab Perjanjian Lama, sepertinya kain selubung itu masih menutupi pikiran mereka sehingga tidak dapat mengerti maksudnya. Kain selubung itu hanya disingkirkan ketika seseorang percaya kepada Kristus. [15] Sayangnya, sampai hari ini ketika mereka membaca hukum Taurat, seolah masih ada kain yang menutupi pikiran mereka. 2 Korintus 3:11-15 TSI
Jadi, “selubung” yang dikenakan musa ini dipakai oleh rasul Paulus untuk menggambarkan kondisi hati manusia yang tertutup, yang tidak mampu untuk melihat kebenaran. Jadi, sampai hari ini meskipun mereka membaca kebenaran Firman Tuhan tetapi mereka tidak mampu melihat kebenaran. Karena hati dan pikiran mereka “terselubung”.
Jadi, yang menjadi masalah besar hari-hari ini sama sebetulnya. Bukan karena kita kurang informasi, bukan karena kita kurang kotba yang baik, tetapi karena kalau hatinya masih tertutup dan pikirannya masih terselubung, mereka masih belum bisa melihat kebenaran yang sesungguhnya.
Jadi, jangan heran kalau saudara mendapati orang yang mengerti firman Tuhan, bahkan hafal kotbah-kotbah yang mereka dengar melalui Podcast, YouTube dan lain sebagainya. Tetapi karena hati mereka tertutup, mereka tidak taat dan tidak melakukan kebenaran firman Tuhan. Jangan heran, karena kita bisa saja mendengar kotbah berkali-kali, tetapi tidak taat kepada Firman tersebut.
Kita bisa saja tahu apa yang benar, tetapi tetap memilih hidup dosa. Saya ketemu sama orang-orang yang seperti itu, Ngomong kebenaran Firman Tuhan, tetapi sambil berbuat dosa. Bisa saja orang tahu Firman, tapi dia tidak melihat Kristus. Karena pikiran hatinya ada selubungnya.
Selubung hati ini bisa membuat kita melihat semua kecuali Kristus. Nah, tapi kalau kita percaya kepada Dia, Selubung ini diambil daripada kita. Karena itu, transformasi yang sejati tidak dimulai dari sekedar mencoba untuk berkelakuan lebih baik. Tetapi transformasi terjadi sejak hati kita ini berbalik kepada Kristus. Itulah awal terjadinya sebuah perubahan dan transformasi.
Supporting Verse – [16] Tetapi apabila hati seorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari padanya. [17] Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan. 2 Korintus 3:16-17 TB
Artinya, setiap kali orang memilih, selubung kebutaan rohani itu diambil, sehingga kita yang bisa melihat Tuhan dengan jelas, kita bisa mengenali kebenaran dengan jelas. Kita bisa mendekat dengan bebas tanpa rasa takut, kita bisa mendekat seperti kita apa adanya dan diubahkan oleh kehadiran RohNya yang kita terima di dalam kita karena kita percaya betul.
Jadi, kita tidak bisa mengubah hati kita sendiri, kita butuh Roh Kudus. Kita tidak bisa membebaskan diri kita dari dosa, dari kepahitan, dari ketakutan, dari rasa malu. Tetapi itu bisa dimungkinkan kalau roh kudus bekerja di dalam kita. Jadi dengan kehadiran Tuhan di dalam kita, melalui roh kudusNya. Maka sudah seharusnya hidup kita sebagai orang percaya Yesus mulai mencerminkan pikiran dan hati Tuhan dalam kehidupan kita.
Dan kita tidak lagi hidup sama seperti sebelum kita mengenal Yesus, pada saat kita masih terselubung. 6 minggu lalu di Kota Kasablanka, saya kasih perumpamaan, saudara mungkin sudah dengar melalui Youtube.
Bandingkan antara bola basket yang tidak ada anginnya, dan bola basket yang ada anginnya. Bahannya sama, warnanya sama, tetapi yang tidak ada anginnya pada saat dibanting ke bawah, berbeda rasa dan suaranya, tidak punya kemampuan apa-apa. Tetapi kalau bola basket yang ada anginnya, kalau saudara banting ke bawah, dia naik ke atas. Semakin kencang saudara banting, semakin tinggi dia naik ke atas. Apa yang membedakan? Cuman sederhana. Yang satu tidak ada anginnya, dan yang satu ada anginnya.
Maka responnya terhadap apa yang terjadi berbeda. Nah, seharusnya ini yang membedakan kita dengan orang yang belum percaya Yesus karena kehadiran Roh Kudus di dalam kita, Nah itu yang berbeda. Bukan karena apa yang ada di luar, bukan karena hitung-hitungan berkat, bukan karena hitung-hitungan kekayaan. Bukan karena hitung-hitungan sukses. Itu semua adanya di luar, tetapi, perbedaan kita ada yang di dalam.
Sehingga kita bisa saja mengalami hal yang sama dengan mereka, mengalami bantingan, mengalami krisis, mengalami dolar yang naik sesuka hatinya, tetapi kalau kita punya Roh Kudus di dalam kita, kita merespon dengan berbeda. Kalau mereka tidak punya pengharapan, kita punya pengharapan.
Bukan karena kita jago, Bukan karena kuat dan gagah kita. Tetapi karena siapa yang berada bersama kita, Roh Kudus, itu adalah perbedaannya.
Nah, kemudian dikatakan di dalam ayat ke-14, dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak bersembunyi. Dan karena kemuliaan itu datang dari Tuhan yang adalah roh, maka kita diubah, menjadi serupa dengan, gambarNya dalam kemuliaan, yang semakin besar.
Pertama, kita semua, yang sudah percaya Yesus, kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan. Kalau dulu, hanya dosa. Hanya pemimpinnya saja yang mencerminkan kemuliaan Tuhan. Sekarang, di perjanjian yang baru, saudara semua. Bukan hanya pendetanya saja.
Dalam Kristus, kita semua diundang untuk mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak terselubung. Dan ketika kita menjadikan Kristus sebagai pusat kehidupan kita, Roh Kudus mulai mengubahkan kita menjadi serupa dengan Tuhan. Perhatikan, dikatakan, maka kita akan diubah. Yang diubah bukan keadaannya. Yang diubah siapa? Kita. Yang diubah bukan yang di luar, yang diubah kita.
Jadi transformasi dalam Kristus. Itu perubahan yang terjadi dari dalam ke luar dan bukan secara instan.
Bukan secara instan, bukan terjadi hanya segera tetapi yang dimaksudkan adalah yang diubah secara terus-menerus dan merupakan semua proses yang berkelanjutan. The glory of God is God’s character made known. Apa sih yang dimaksud kemuliaan Tuhan itu? Kemuliaan Tuhan itu merupakan karakter Tuhan yang dimanifestasikan melalui kehidupan kita, thats the Glory of God.
Kehadiran Tuhan adalah Roh kudus yang diam dalam kita. Itulah kehadiran Tuhan. Kehadiran Tuhan adalah kehadiran Roh Kudus dalam hidup kita. Itu yang kita bawa kemana kita pergi, yaitu Hadirat Tuhan. Itu yang kita bawa kemana kita pergi. Mau ke sekolah, mau ke mall, mau nonton konser F4, mau main padel, mau belajar, mau ke bright spot, mau ke manapun. Itu yang kita bawa. That’s what we carry, wherever we go. Kehadiran Tuhan adalah Roh Kudus di dalam kita.
Tetapi kemuliaan Tuhan adalah apa yang dilihat orang karena siapa yang kita bawa Dan ada di dalam kita. Kita tidak bisa memisahkana keduanya, karena dimana ada Hadirat Tuhan, disitu juga ada Kemuliaan Tuhan.
Hidup yang dimandang Kristus akan dibentuk menjadi hidup yang serupa dengan Kristus. Jadi, kita tidak hanya mencari hadirat Tuhan di gedung gereja, atau ketika kita merinding.
“Wih, merinding banget yah tadi, Hadirat Tuhan kenceng banget ya, gua sampai nangis gitu.” Tidak usah nangis, saudara menonton bioskop juga kita bisa nangis, kalau mau merinding saja, jalan malam-malam dekat kuburan mungkin lebih merinding, saudara.
Saya tidak bilang itu salah, kadang-kadang emosi memang bisa terpengaruh oleh karena itu semua, tetapi jangan kita kemudian jadikan itu merupakan benchmark, karena itu tidak dlihat orang, itu sesuatu yang saudara rasakan sendiri.
Namun melalui Roh Kudus, kita membawa kehadiranNya dalam kehidupan sehari-hari, termanifestasi dalam keseharian kita, pada waktu itulah kemuliaan Tuhan dinyatakan, semua transformasi yang terjadi di hati dan pikiran kita yang membawa perubahan dalam diri kita.
Otomatis dong, kalau hati dan pikirannya diubah, kalau softwarenya diubah, maka hasilnya juga bisa berubah. Kenapa bisa berubah? Karena softwarenya diganti dan diperbaharui.
Supporting Verse – [13] Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang. [14] Itulah sebabnya dikatakan: ”Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu.” Efesus 5:13-14 TB
Karena terang itu sudah masuk, Menelanjangi semua hal yang bersembunyi dalam kegelapan, Perhatikanlah dengan seksama bagaimana terangKu ini.
Jadi jangan sibuk memperhatikan hidup orang lain, Itu yang seringkali kita lakukan, Kita sibuk memperhatikan hidup orang lain, Padahal Firman Tuhan katakan “Perhatikanlah dengan seksama bagaimana kamu hidup”.
Kamu tidak disuruh memperhatikan hidup orang lain, makanya kamu iri, karena kamu sibuk memperhatikan hidup orang lain. Makanya kamu merasa tidak ada yang salah sama kamu. Semua salah orang lain. Padahal yang salah kamu.
Supporting Verse – [15] Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, [16] dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Efesus 5:15-16 TB
Jadi ada perubahan gaya hidup, karena terang itu sudah masuk. Apa yang dimaksud perubahan gaya hidup?
Ketika kita mengampuni seseorang yang menyakiti hati kita. Sebelumnya kita tidak bisa lakukan, tapi karena adanya Roh Kudus di dalam kita, Belas kasihan Tuhan sudah dinyatakan melalui kita, maka sekarang kita bisa mengampuni kesalahan orang yang bersalah pada kita.
Ketika kita menggunakan kekuasaan, kekayaan, jabatan bukan untuk kepentingan kita sendiri melainkan untuk melayani orang lain karena kita sudah melihat kerendahan hati Tuhan dinyatakan melalui kita, maka kita bisa melakukan hal tersebut.
Ketika kita tetap jujur sementara orang lain berkompromi. Karena kita sudah melihat kekudusan turun dinyatakan melalui kita. Ketika kita membawa damai ke situasi yang sedang kacau, bukan karena kita sok jago, bukan karena kita hebat, tetapi karena kita mengalami damai sejahteraNya.
Ketika kita menghadapi krisis dan tidak ada kepastian, Dengan iman, dengan pengharapan, bukan dengan ketakutan. Karena kita sudah melihat, kalau Tuhan sudah pernah menolong di krisis-krisis yang sebelumnya, Tuhan yang sama juga pasti akan menolong saya.
Ketika kita melihat bahwa, “Hei keadaan ke depan ini semakin susah, apalagi ada orang-orang yang saya dengar beberapa waktu kemarin dari pastoral, hasil daripada permintaan prayer request, sebagian prayer request, prayer request terbesar yang masuk ke JPCC adalah ada banyak orang yang mengalami financial crisis karena mereka terlibat hutang atau pinjol. Atau hutang bank dan lain sebagainya, atau hutang teman. dan lain sebagainya.
Nah itu saudara, itu kenyataan, itu yang dilaporkan kepada saya juga, kalau kita sudah tahu seperti itu. Harusnya kita ngomong dengan orang-orang lain juga untuk merubah gaya hidup kita. Paling tidak turunkanlah standar saudara, tidak lagi menuruti semua yang kita mau, kita harus lakukan dan lain sebagainya.
Kenapa kita bisa lakukan itu? Karena kita diajar, kita menghadap kepada Tuhan karena kita melihat kebenaran Firman Tuhan, mulai mulai mengerti yang namanya God’s Stewardship, Karena Roh Tuhan ada dalam hidup kita itu yang memungkinkan kita untuk merespon dengan berbeda, Bukan mencari hutang yang lebih gede supaya bisa menutupi hutang yang lama, bukan.
Nah, itulah gambaran dari kemuliaan Tuhan dalam hidup kita sehari-hari. Lebih dari sekendar merinding, lebih dari sekedar menghitung berkat melalui pendapatan, melalui kekayaan, melalui kesuksesan. Karena hari-hari ini banyak sekali, apalagi melalui tiktok dan lain sebagainya, dimana orang mengukur, kemungkinan Tuhan hanya melalui berkat, hanya melalui kekayaan aja, hanya melalui kesuksesan saja. Sehingga ada banyak orang yang belum merasakan kesuksesan, seolah-olah dia tidak punya Tuhan dalam hidupnya.
Transformasi kehidupan itu dimulai dari dalam ke luar, bukan dari luar ke dalam.
Kalau saudara bisa diberkati dengan kekayaan, promosi dan lain sebagainya, semua itu dari luar. Tapi kalau dalamnya tidak benar, maka semuanya itu tidak akan jadi benar. Karena ada banyak orang yang tadinya mencari Tuhan, rajin ke gereja, kemudian melayani Tuhan. Berdoa supaya usahanya maju, sekarang usahanya mulai maju, dan mulai maju terus, mulai sibuk kiri kanan, mulai buka cabang kiri kanan, mulai traveling kemana-mana, mulai punya banyak mobil ganti, ini ganti, dan lain sebagainya, sekarang malah jadi jarang ke gereja, tidak lagi pelayanan.
Nah, saya justru bertanya-tanya besar, apakah itu betul berkat Tuhan?
Karena, Firman Tuhan katakan begini, The blessing of the Lord makes a person rich, and He add no sorrow with it.
Supporting Verse – [22] The blessing of the Lord makes a person rich, and he adds no sorrow with it. Proverbs 10:22 NLT
Jadi kalau berkat Tuhan itu yang membuat orang menjadi kaya, Dan Tuhan tidak menampakkan kepedihan, tidak menambahkan trouble sedikitpun juga.
Jadi tidak mungkin dong, kalau Tuhan memberkati kita, kemudian kita malah meninggalkan Dia. Tidak mungkin dong, Dia memberkati kita supaya kita kemudian jadi lepas dari Dia, menjadi semakin jauh. Harusnya Dia memberkati kita, supaya kita lebih dekat dengan Dia. As simple as that. Kalau itu berkat, kalau saya kasih berkat sama seseorang, sama anak saya, saya mau anak saya menjadi lebih dekat sama saya dong. Bukan kemudian tidak pernah nongol lagi.
Jadi, kita harus mengerti. Nah, perhatikan, kalau di jaman Musa, cahaya kemuliaan Tuhan itu semakin memudar sampai dia ketemu Tuhan lagi. Dan Tuhan harus diketemui senantiasa. Sekarang, di perjanjian yang baru, Paulus kayakan bahwa Roh Tuhan ada di dalam kamu, maka kemuliaan Tuhan itu, kamu dirubah. Kamu diubahkan menjadi serupa dengan gambarNya dalam kemuliaan yang semakin besar.
Jadi, bukan memudar. Malah di perjanjian yang baru, semakin besar, dengan berjalannya waktu.
Artinya apa?
Kalau saudara melihat saya 20 tahun yang lalu, dan saudara bandingkan dengan saya sekarang, Kemuliaan Tuhan yang tercermin lewat saya jauh lebih besar daripada dulu. Karakter Tuhan dalam hidup saya jauh lebih besar sekarang daripada dulu. Akibatnya, pernikahan saya pun sekarang jauh lebih baik daripada 20 tahun yang lalu.
Jadi, Kemuliaan Tuhan itu tercermin dari gaya hidup kita. Tidak akan memudar, semakin hari semakin besar. Artinya, gambaran Kristus dalam diri kita semakin hari semakin nyata. Dan kalau saudara hari ini merasa, “Kok saya tidak yah? Padahal saya sudah terima Yesus”. Bisa jadi, karena ini.
Closing Verse – [19] Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, – dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? [20] Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu! 1 Korintus 6:19-20 TB
So don’t stop there, aku sudah lunas dibeli, karena kalau kamu sudah dibeli lunas, Muliakan Allah dengan tubuhmu, artinya tunjukkan bahwa kau sudah dibeli lunas. Tunjukkan bahwa kau layak dibeli lunas. Itu saja. Selama ini, tolok ukur dan benchmarknya keliru, sehingga melihat orang yang diberkati secara materi dan lain sebagainya, kita merasa iri. Padahal, the real power is within you. Itu yang membedakan.
Pada saat saudara mengalami kesulitan yang sama, tapi saudara tidak mau seperti orang lain yang tabrak kiri dan kanan, salahkan pemerintah, salahkan presiden, menteri dan lain sebagainya. Tetapi yang keluar dari mulut saudara, hanya Pengagungan kepada Tuhan. Percaya bahwa kita bukan milik kita sendiri tetapi milikNya Tuhan.
Bukan karena kita mengada-ada, tetapi karena kita sadar betul siapa yang ada di dalam diri kita. Sehingga kita bisa meresponi dengan berbeda. Dan mungkin kita tidak sadari, tetapi orang di sekeliling kita melihat kita dan berdecak kagum, “Wow! Koq Dia berbeda yah?”.
Bulan lalu, di sebuah acara ada orang yang mau bertemu dengan saya. Lucu, waktu saya duduk, saya tanya, kenapa Dia mau bertemu dengan saya. Dia bilang bahwa saya sudah memperhatikan bapak cukup lama. Saya cuman pengen tahu, apa yang membuat bapak begitu tenang, saya ingin tahu, karena menggembalakan jemaat yang begitu, pasti stressnya bukan main.
Saya bilang bahwa ada benernya juga pertanyaan dia, tetapi bukan karena kuat dan gagah saya, tetapi karena siapa yang ada di dalam diri saya. See, Kadang-kadang saya tidak merasa, tetapi ada orang lain yang rupanya memperhatikan saya. Sama seperti Musa, dimana dia tidak merasa bahwa dia ketempelan cahaya kemuliaan Tuhan.
Tetapi orang lain bisa melihatnya, dan itu yang Tuhan mau, dan itu jauh lebih powerful daripada saudara memakai “bling-bling”, atau mobil yang begitu luar biasa keren. Tetapi disaat saudara keluar dari mobil, omongan saudara tidak ada buah Roh sama sekali, dan kelakuan saudara sama sekali tidak mencerminkan Kristus.



