Ruang Untuk Pulang By Ps. Jose Carol

JPCC Sutera Hall 2nd Service (20 September 2026)

Keluarga ini punya masalah besar karena hutang yang begitu besar dan harus mereka tanggung. Pertanyaan yang sangat penting adalah memang betul, apakah mereka akan mampu menutupi semua hutang yang disebabkan oleh si adik (Bungsu)?

Namun mungkin pertanyaan yang jauh lebih penting adalah apakah meja ini akan pernah lengkap kembali setelah ditinggal oleh si kakak (sulung)? Akankah si kakak suatu hari akan bersedia duduk kembali menerima sang adik ada di meja tersebut?

Saudara, keluarga bukan tempat yang mudah kadangkala untuk didatangi, karena keluarga adalah tempat yang paling sering luka seperti itu terjadi, Betul ga? Keluarga adalah tempat di mana kita paling dalam bisa terluka, bahkan mungkin cedera hidup kita yang paling dalam sering kali terjadi dalam keluarga, baik itu hubungan suami istri, baik itu hubungan orang tua dan anak, baik itu hubungan antara sesama saudara kandung.

So, pertanyaannya yang akan menjadi pembuka daripada apa yang kita perlu bahas atau kita pelajari hari ini, melengkapi pelajaran kita sepanjang bulan ini, “At the Table”, bicara tentang keluarga adalah akankah keluarga ini akan pernah utuh dan meja ini akan pernah utuh, dan kakak akan pernah mau menerima adik untuk kembali ke meja ini.

Kisah yang baru saja ditampilkan oleh teman-teman di Performing Arts terinspirasi dari kisah yang Yesus sering ceritakan yang saudara mungkin tahu di Lukas 15 tentang anak yang hilang. Kisah anak yang hilang ini adalah salah satu bagian daripada tiga kisah yang Yesus ungkapkan pada waktu Yesus ditanya tentang pertanyaan yang sangat menarik, karena waktu itu Yesus ditemukan duduk makan bersama dengan orang berdosa.

Mari kita lihat kisahnya di Lukas pasal 15.

Opening Verse – “Pada suatu hari para penagih pajak dan banyak orang lain yang juga dikenal sebagai orang berdosa berdatangan kepada Yesus untuk mendengarkan pengajaran-Nya. Melihat itu, para ahli Taurat dan orang Farisi bersungut-sungut, “Apa-apaan ini! Dia menerima orang-orang berdosa, bahkan makan bersama mereka!” Karena itu Yesus menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka:”
Lukas 15:1-3 TSI

Memang makan bersama dan duduk bersama di meja seringkali diasosiasikan dengan “approval” atau penerimaan, betul kan? Dan Yesus makan dengan orang berdosa, dan Yesus dianggap “approved”, setuju dengan tingkah laku dan kehidupan mereka yang berdosa.

Berarti ketika dikatakan, “karena itu”, karena complain, karena sungut-sungut daripada orang Farisi dan orang Taurat, maka kemudian Yesus menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka. Dan kemudian di dalam perumpamaan Yesus cerita tentang domba yang hilang.

Kalau kita punya, kataNya, Yesus bilang punya 99 dan satu saja hilang, Dia akan pergi meninggalkan 99 untuk mencari yang satu. Kemudian Dia cerita tentang koin perak atau dirham yang hilang, kalau saudara dikatakan seorang wanita kehilangan koinnya, uangnya, Dia akan bangunkan semua rumah, nyalakan semua lampu untuk kemudian mencari yang hilang. Baru kemudian di bagian ketiga dari perumpamaan ini, Yesus cerita tentang anak yang hilang.

Nah, kalau saudara tidak kenal kisah anak yang hilang, kalau saudara mungkin baru di dalam Tuhan, kisah daripada atau perumpamaan yang diceritakan baik itu anak yang hilang, dirham atau uang yang hilang, maupun domba yang hilang, adalah kisah bagaimana Yesus menjelaskan betapa Allah mengasihi orang berdosa. Betapa Dia cinta dan mengasihi orang berdosa dan rela mengampuni mereka, at any cost, berapapun harganya, Tuhan bersedia.

Dan sekaligus, Yesus menyindir orang-orang Farisi yang merasa hidupnya baik, yang kemudian komplain tentang apa yang Yesus lakukan. Nah, kisah anak yang bungsu atau anak yang hilang memang betul cerita tentang si anak bungsu, kalau saudara enggak tahu, tentang si adik.

Kalau di Alkitab cerita tentang si anak bungsu minta harta dari bapa-nya. Saudara, bukan hanya dia minta harta yang kemudian dia hambur-hamburkan dan dia habis-habiskan, dan Alkitab mencatat dia berfoya-foya dengan pelacur dan lain sebagainya, juga sesuatu yang sangat kurang ajar dilakukan karena meminta harta sebelum bapa-nya meninggal.

Dia ambil bagiannya, dan kemudian Alkitab mencatat, dia pergi ke negeri asing, dia hamburkan uangnya, kemudian kelaparan terjadi di negeri asing itu, dia bahkan makan saja tidak bisa karena uangnya udah tidak ada. Dia kemudian bekerja di tempat peternakan babi, dan ampas babi karena laparnya dia pingin makan, itu pun tidak dikasih. Tepat di suasana seperti itulah dia sadar. dan dia terpikir untuk kembali ke rumah bapa-nya. Memang betul akhirnya dia pulang ke rumah bapa-nya.

Tetapi dia berpikir mau pulang balik ke rumah bapa-nya, bukan karena ingat bapa-nya baik. Dia cuman ingat orang upahan, orang kerja di rumah bapa-nya, makanannya lebih baik dari makanan dia. Namun, apapun alasannya dia kemudian pulang, mengambil perjalanan pulang.

Alkitab mencatat dari jauh sang Bapa melihat anaknya dan kemudian datang memeluk dia dan mencium dia. Terjemahan bahasa Inggrisnya bilang “He fell, the Father fell on his neck”, bukan cuma mencium, saya bisa membayangkan bapa-nya itu sebenarnya terisak mungkin, jatuh di dalam pelukan anaknya.

Dan dia kemudian memulihkan karena dia bilang “Bapa, aku sudah berdosa, I don’t deserve, aku tidak layak, tidak pantas diterima jadi anakmu, jadikan aku orang upahan saja, minimal aku bisa makan”.

Tidak menjawab permintaan dia, tidak menanggapi rasa tidak layaknya, Bapa kemudian memulihkan statusnya, kasih jubahnya, dikenakan kasutnya, dikembalikan cincinnya.

Kisah itu berbicara tentang bagaimana hati seorang Bapa yang selalu rindu untuk anak-anak-Nya pulang ke rumah. Pulang dalam hal ini bukan hanya kembali kepada sebuah lokasi, pulang bukan hanya sekedar kembali kepada sebuah meja, tetapi pulang berbicara soal bagaimana hubungan itu bisa dipulihkan kembali.

Saya tidak tahu hari ini hubungan apa yang dalam kehidupan saudara perlu dipulihkan. Hubungan antara saudara dengan bapamu kah? Hubungan antara engkau dengan anakmu kah? Hubungan antara saudara dengan adikmu kah? Hubungan antara engkau dengan kakakmu kah?

Judul khotbah hari ini adalah “Ruang untuk Pulang” karena selalu akan ada ruang, there will always be space, ruang untuk kita bisa pulang ke rumah.

Dan Bapa di Surga juga menantikan kita pulang, kalau ada di antara kita yang sedang terhilang pada hari ini, terjadi rekonsiliasi dalam kisah ini antara Bapa dengan si anak bungsu. Jadi, seberapapun juga kalau saudara punya anggota keluarga yang tersesat, selama anggota keluarga saudara masih mau pulang, maka selalu akan ada kesempatan untuk terjadi pemulihan.

Kalau saudara punya anak yang sudah hilang, suatu hari dia pulang, atau saudara punya saudara yang hilang dan mungkin dia belum minta maaf, belum sadar mungkin, tapi kalau dia mau pulang, saya mau beri tahu saudara, jangan lepaskan kesempatan itu, karena selama dia masih pulang, selama suamimu masih pulang, selama istrimu masih pulang, selama anakmu masih pulang, selalu ada harapan dan kesempatan untuk pertobatan bisa terjadi, pemulihan bisa terjadi, ada Amin?

Saya berharap ini memberikan pengharapan buat saudara yang bukan hanya di Sutera Hall ini, tetapi kepada setiap saudara yang sedang mengikuti ibadah ini di rumah, dimanapun engkau berada. There’s hope, untuk restorasi daripada kehidupan saudara masing-masing. Dan saya percaya suasana yang kita rasakan di tempat ini bisa dirasakan oleh setiap saudara yang ada di rumah.

Namun hari ini kita tidak akan fokus kepada hubungan antara bapak dan anak bungsu, kita justru mau memperhatikan apa yang dialami oleh si kakak, si anak sulung. Mari kita lihat ayat 25 dari Lukas pasal 15, kisah tentang si Sulung.

Supporting Verse – “Sementara itu, anaknya yang sulung sedang bekerja di ladang. Ketika dia pulang dan sudah dekat rumah, dia mendengar suara musik dan gaduhnya orang menari. Lalu dia memanggil seorang pelayan yang bekerja di rumahnya dan bertanya, “Kenapa ada pesta di rumah ini?” Pelayan itu menjawab, “Adik Tuan sudah pulang. Dan ayah Tuan menyuruh kami memotong anak sapi yang gemuk, karena dia sudah mendapatkan anaknya kembali dengan selamat.” Lalu anak sulung itu sangat marah dan tidak mau masuk ke rumah. Kemudian ayahnya keluar dan membujuk dia supaya masuk. Tetapi anak itu menjawab, “Tidak mau! Bertahun-tahun lamanya aku bekerja untuk Bapak dan selalu menaati perintahmu. Tetapi Bapak belum pernah memberiku seekor anak kambing pun supaya aku bisa berpesta dengan teman-temanku! Tetapi baru saja kembali anak bungsumu itu, yang sudah menghabiskan harta Bapak dengan para pelacur, Bapak langsung memotong anak sapi yang terbaik untuk dia!” Jawab ayahnya, “Benar, Nak, kamu selalu bersamaku, dan semua milikku adalah milikmu juga. Tetapi sudah seharusnya kita bersukacita dan merayakan kepulangan adikmu! Karena dulu Bapak pikir adikmu ini seakan sudah hilang dan mati, tetapi ternyata dia masih hidup dan sekarang berkumpul kembali dengan kita di sini.”” Lukas 15:25-32 TSI

Sangat lumrah kalau si kakak marah, betul kan? Banyak yang tadi ikut berempati dengan kakak. Harta Bapa sudah dihabiskan bukan untuk investasi, bukan untuk kerja. Kalau dia investasi, rugi mungkin kita masih bisa terima. Tetapi kata anak Sulung, dia malah sia-siakan kerja keras kita. Dia juga bilang, mungkin, kalau perlahan-lahan mungkin, aku masih bisa diterima.

Dari ayat terakhir, bagaimana “seharusnya”, mengampuninya saja susah. “Sudah seharusnya”, Wow, I think itu standar yang mustahil untuk si anak sulung.

Karena dulu Bapa pikir adikmu ini seakan sudah hilang dan mati, tapi ternyata dia masih hidup dan sekarang berkumpul kembali dengan kita di sini. Kisah ini bukan hanya cerita tentang seorang anak yang hilang, yang tidak layak terima pengampunan, menerima anugerah pengampunan dari seorang Bapa yang bisa membebaskan kesalahan tanpa syarat seperti seorang Bapa yang baik.

Tetapi juga kisah seorang kakak yang bergumul dengan hubungan yang juga belum dipulihkan dan hari ini saya tidak tahu saudara bapak, saudara anak yang sulung atau saudara anak yang bungsu karena menurut saya kisah anak yang hilang, yang terhilang bukan yang cuman si bungsu, karena si sulung sama terhilangnya, saudara.

Hanya bedanya yang bungsu terhilang di luar rumah, si sulung terhilang di dalam rumah. Si bungsu tersesat di luar rumah, si sulung tersesat di dalam rumah. Si sulung bergumul untuk melepaskan pengampunan kepada adiknya, si bungsu.

Pengampunan adalah obat utama bagi semua perdamaian. Pengampunan adalah obat untuk semua rekonsiliasi hubungan yang terjadi. Pengampunan, bukan pertobatan.

Mungkin sang kakak berkata, “Kalau loe bisa berubah, kalau loe hidupnya sudah lurus, kalau loe dapat pekerjaan… mungkin”. Tetapi tahukah saudara bahwa kadang kala pertobatan belum datang kalau saudara belum mengampuni. Ketika kita menolak melepaskan pengampunan, kita bukan hanya sedang menghukum orang lain sebenarnya. Melainkan kita sedang mengikat diri kita sendiri pada luka yang pernah terjadi.

Banyak kita terikat pada luka yang pernah terjadi pada kita, bukan karena salah kita, betul. Tetapi karena kita belum rela melepaskan pengampunan atas apa yang terjadi.

Saudara, Bayangkan kalau stress dalam pikiran bisa bikin lambung saudara terganggu… Bayangkan kalau saudara masih menyimpan amarah, menyimpan sakit hati, menyimpan kepahitan, menyimpan dendam.

Dampak apa pada tubuh kita yang mungkin dunia kedokteran belum temukan dan belum menyadari yang bisa saja banyak kita alami. Sekarang ini banyak sekali semua gangguan kesehatan, autoimun, hormon, dan lain sebagainya, ada banyak infeksi yang medis belum bisa jelaskan.

Nah, kalau sampai stres bisa menyebabkan lambung saudara teriritasi, saya rasa ada banyak sekali emosi kita yang bisa menyebabkan semua gangguan yang terjadi di dalam tubuh kita dan hari ini saya rasa Tuhan mau membebaskan saudara dan saya karena Tuhan mau saudara sembuh.

Tuhan mau saudara bukan hanya sembuh jiwanya, Tuhan mau saudara sembuh rohaninya, Tuhan mau saudara sembuh jasmaninya. Dan masalahnya adalah kita sering kali membuat akses ke meja ini “bersyarat”, saudara.

“Gue bakal mau makan sama loe “kalau”, Gue bakal terima loe kembali “kalau”, Gak! enak aja”.

Kita bisa mengerti apa yang sang kakak rasakan dan seringkali kita mungkin juga ada di posisi yang sama. “Gak, enak aja loe! sakit tahu yang loe ambil, yang loe makan tuh, semua yang gue kerja keras itu, enak aja”.

Masalahnya adalah kepahitan adalah luka yang kita pelihara dengan harapan orang lain yang merasakan sakitnya.

Padahal kita yang paling menderita, betul enggak sih? Setuju enggak sih? Pengampunan bukan mengatakan bahwa apa yang terjadi itu benar, bahwa apa yang kamu lakukan itu benar, Pengampunan adalah menolak membiarkan apa yang terjadi mengendalikan hidup kita.

Kalau aku duduk makan sama kamu bukan berarti “approve” apa yang kamu lakukan. Hanya aku cuma mau bilang apa yang kamu lakukan tidak lagi punya dampak dan pengaruh dalam hidup aku. Itulah dahsyatnya pengampunan saudara.

Hari ini banyak di antara saudara yang harus mengampuni, atau bahkan mungkin melepaskan ego untuk bisa meminta maaf mungkin, mememinta pengampunan supaya “at the table”, rekonsiliasi bisa terjadi.

Efesus 4 ayat 22 dan 23, memberitahukan kita bahwa kita melepaskan pengampunan seperti melepaskan baju yang rombeng, yang rusak. Paulus menulisnya begini.

Supporting Verse – “Kalian semua sudah diajar untuk meninggalkan sifat-sifat hidupmu yang lama. Hidup yang lama dibutakan oleh hawa nafsu dan semakin lama semakin rusak, seperti baju rombeng yang tidak bisa dipakai lagi. Buanglah hidupmu yang lama itu. Biarlah hati dan pikiranmu diperbarui oleh Roh Allah. ” Efesus 4:22-23 TSI

Dikatakan disuruh buang, bukan diperbaiki, dibuang. Biarlah hati dan pikiranmu yang diperbaharui oleh Roh Allah. So, we have to let go, kita harus membuang kehidupan yang lama, hati yang lama seperti baju rombeng yang rusak.

Supporting Verse – “Buanglah semua sakit hati, dendam, dan kemarahan dari hidupmu. Jangan bertengkar dan saling menghina. Berhentilah melakukan segala macam kejahatan. Sebaliknya hendaklah kamu selalu baik hati, saling mengasihi, dan saling memaafkan, seperti Allah sudah mengampuni kita ketika kita percaya kepada Kristus.” Efesus 4:31-32 TSI

Bapa di surga merindukan rekonsiliasi dan restorasi dalam kehidupan saudara dan tidak hanya peduli pada pemulihan status dan reputasi. Dia tidak hanya peduli untuk mengembalikan sang anak bungsu kembali ke meja tetapi Dia rindu hubungan kakak dan adiknya juga pulih kembali.

Nah, masalahnya adalah sekali lagi, pengampunan yang kita lepaskan, tidak menjamin adanya rekonsiliasi atau pertobatan. Seringkali begini, “Gue enggak bisa ngampunin loe, karena gua enggak yakin loe bakal bertobat, enak aja!”.

Pengampunan tidak menjamin adanya rekonsiliasi dan pertobatan tetapi tidak akan ada pertobatan tanpa pengampunan.

Bagaimanakah mereka bisa punya kesempatan untuk bertobat kalau tidak ada yang menunjukkan kasih dan pengampunan pada mereka.

Itu sebabnya ayat Mingguan kita tadi, Minggu ini memberikan kita arahan kalau saudara mau belajar. Dikatakan seperti ini.

Supporting Verse – “Padahal Allah sangat baik dan sabar kepadamu. Dia sudah menunggumu untuk bertobat, tetapi kamu tidak mempedulikan semua kebaikan-Nya. Ketahuilah bahwa kebaikan hati-Nya yang Dia tunjukkan kepadamu adalah untuk membimbing kamu supaya bertobat.” Roma 2:4 TSI

Kebaikan dulu, pengampunan dulu, kasih karunia terlebih dahulu ditunjukkan sebelum pertobatan. Masalahnya adalah kita sering mempersyaratkan pertobatan sebagai syarat untuk kita melepaskan pengampunan. Betul enggak sih?

Kayaknya hanya saya ya, kalau saudara begitu rohaninya, saudara bisa mengampuni orang yang belum bertobat. Tetapi Alkitab berkata bahwa justru pengampunan kita-lah yang bisa memberi kesempatan untuk membimbing mereka supaya mereka bisa bertobat.

Jadi, poin utama hari ini. pelajaran kita adalah, Keluarga flourish bukanlah karena tidak pernah ada luka, tetapi karena selalu ada ruang untuk “pulang”.

Keluarga yang flourish bukanlah keluarga yang tidak pernah saling menyakiti. Keluarga yang flourish adalah keluarga yang tidak terbatas ruang untuk anaknya pulang.

Ada pengampunan yang tidak terbatas. Ada kasih karunia yang tidak bersyarat. Saya tahu tidak mudah kadangkala karena di keluarga kita tersakiti sangat dalam. Bapa mengampuni anak yang bungsu yang melanggar, tetapi anak sulung pun harus mengampuni si bungsu yang melanggar, karena ketika kita menggenggam kesalahan orang lain terlalu erat maka tangan kita tidak lagi terbuka untuk menerima apa yang Tuhan ingin berikan kepada kita.

Ada banyak sekali saudara yang Tuhan ingin berikan damai, But because your unwillingness to let go of the pain, Tuhan mau kasih damai sejahtera, sukacita tetapi karena tangan saudara yang begitu erat menggenggam sakit, dendam, marah, pahit sehingga tangan saudara tidak terbuka untuk bisa menerima apa yang Tuhan sediakan bagi saudara.

I believe I am speaking to some people today. Saya rasa Tuhan sedang bicara pada banyak orang hari ini. Tuhan mau saudara lepaskan genggamanmu supaya Tuhan bisa mendatangkan kesembuhan, berkat Tuhan, anugerah Tuhan.

Saudara, melepaskan pengampunan bukan karena saudara menyetujui apa yang dilakukan orang, tetapi Tuhan memutuskan bahwa apa yang terjadi tidak lagi akan mengendalikan hidupmu.

Pengampunan bisa memutuskan rantai, sehingga apa yang dilakukan orang lain kepada kita tidak harus menentukan apa yang kita lakukan pada orang lain.

Ada Amin?

Pengampunan membebaskan saudara, melepaskan rantai, sehingga apa yang pernah terjadi sama saudara tidak lagi mengendalikan apa yang saudara harus lakukan sama orang lain.

Saya ingin tutup dengan kesaksian saya. Pengampunanlah yang membebaskan saya. Pengampunanlah yang membebaskan ayah saya.

Sharing Ps. Jose – Saya kemarin malam meminta ijin ayah saya untuk bercerita. Pertama kali saya dipeluk oleh ayah saya, saya berumur 28-29 tahun. Pertama kali. Saya mengalami sesuatu yang memutuskan mata rantai yang mungkin membelenggu saya, tanpa saya pernah sadar ada rantai yang membelenggu saya sebelumnya.

Waktu dia pertama kali peluk saya dan bilang, “Maafkan Papa, Papa enggak pernah bilang Papa sayang.” Waktu kami mau berpisah, waktu dia mengunjungi saya di Jerman dan mau berpisah, pelukannya itu. Tiba-tiba pelukan dan bisikan itu membuat seperti Tuhan membedah jiwa saya, dan Tuhan mencabut sesuatu yang tidak pernah saya sadar ada di dalam hidup saya.

Seperti akar yang begitu mendalam, yang tidak pernah saya sadar ada di situ. Tiba-tiba akar itu seperti tercabut dan saya merasa seperti Tuhan melakukan “soul surgery into my heart”. Saya menangis, enggak terkendali, terisak, bahkan seperti mau kejang.

Karena mendengar kata papa, yang tidak pernah dibilang sebelumnya. Di tengah-tengah saya terisak sadar, tetapi saya mengalami sesuatu yang belum pernah saya sadari dan belum pernah saya alami sebelumnya.

Tiba-tiba Tuhan ingatkan kisah yang dialami papa saya di masa kecilnya. Dan kemarin malam saya telepon dia untuk konfirmasi kisah itu. Karena waktu dia peluk saya, saya juga bilang, “Papa, bukan hanya saya yang harus ampuni Papa. Papa harus ampuni Akong, Opa”.

Dan saya tiba-tiba ingat kisah yang Oma saya, Mama, Papa saya ceritan apa yang terjadi. Kemarin malam saya tanyakan ulang dan kejadian itu terjadi di usia dia begitu kecilnya. Setelah kami kemarin malam hitung, kira-kira usia dia di bawah 3 tahun.

Apa yang terjadi, dia diikat di pohon jeruk bali di depan rumah, dipukuli dengan kayu gara-gara dia mencuri makan roti yang menjadi jualan opa saya, Kopitiam begitu modelnya. Saudara mungkin berpikir, bapak seperti apa yang rela gebukin anaknya di umur 3 tahun, diikat di pohon, digebukin sampai harus ditolong oleh oma papa saya, buyut saya, mertua opa saya dan ditolong sehingga baru pukulan itu berhenti.

Bahkan tadi tante saya di krbaktian pertama dia bilang, “Kasihan papa kamu”. Berulang kali harus sembunyikan di rumah saudara karena takut digebukin sama papanya. He doesn’t have the love. Dia bilang, “Papa minta maaf, karena nggak pernah bilang “sayang” sama saya.

Saya nggak berusaha bikin saudara emosi. Saya sudah ceritain ini 20-an kali tetapi saya masih emosional. Kemarin malam dia masih emosi, dia cerita bagaimana dia dipulihkan bapa-nya, Tuhan bilang, “Dia nggak bisa mengasihi kamu dengan apa yang dia nggak punya”.

Dari kecil bahkan kejadian yang dia nggak ingat, dia menyimpan trauma kepada seorang bapa sehingga walaupun dia mungkin bersumpah dalam jiwanya, “Kalau anakku suatu hari mau makan roti, aku akan kasih sampai kapanpun juga.”

Kami tidak pernah kekurangan roti, tapi kami kekurangan banyak hal yang dia nggak punya. Banyak kita bersumpah kalau saya suatu hari menikah, saya nggak akan begini, saya nggak begitu. Tapi kita temukan kita mengulangi kesalahan yang sama, kenapa?

Karena kita tidak memutuskan rantai tersebut.

Saya bisa membayangkan di jaman Jepang itu, Opa yang bisnis, Opa dia yang bisnis, atau Opa saya, papanya dia yang bisnis kopitiam. Rotinya mungkin modal yang sangat besar yang menjadi andalan mereka jualan dan dimakan oleh anak-anak.

Mungkin kepanikan seperti sang kakak, kepanikan yang menyebabkan dia mungkin, dan mungkin juga dia tidak pernah punya kasih sayang daripada papanya sendiri, sehingga dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan.

So, Tuhan ingin memutus rantai itu supaya generasi bintang, generasi yang baru bisa bangkit dan dipulihkan oleh Tuhan. So, saya tidak tahu siapa saudara yang hari ini perlu Tuhan cabut akarnya itu, sembuhkan luka itu, bantu saudara buka pikiran untuk melepaskan pengampunan buat saudara-saudara kandung saudara yang mungkin menyakiti saudara.

Hari ini, wherever you are, whoever you are. Tuhan sedang mau melakukan restorasi dalam hidup saudara. Saya berdoa supaya di meja keluarga saudara, ada pengampunan yang berlimpah, ada anugerah yang berlimpah, sehingga di keluarga saudara juga, bahkan setiap anggota keluarga saudara bisa punya kepastian, rasa aman, No matter what happens, I can always come back to this place.

Selalu ada ruang untuk aku pulang ke rumah. Saya sering kasih tahu sama orang tua, saya bilang, nasihat terbaik yang aku bisa berikan buat kamu, anak-anakmu, kasih tahu sama dia, seperti kami kasih tahu sama anak-anak kami, Nathan & Joanne.

Kami selalu bilang, “Sebodoh apapun, sebesar apapun kesalahanmu, you can always come home. We will always accept you.”

Itu mungkin adalah nasihat yang terbaik yang saya bisa berikan pada saudara sebagai orang tua. Saya tidak tahu apakah saudara menutup pintu dan menutup meja saudara untuk orang yang bersalah kepada saudara tetapi saya rasa hari ini Tuhan ingin sembuhkan dan bebaskan saudara supaya apa yang terjadi tidak mengendalikan saudara.

Let me close with this statement one more time, Keluarga flourish bukan karena tidak pernah terluka tetapi karena selalu ada ruang untuk pulang.

Kalau saudara anak yang bungsu hari ini, BapaMu di surga menantikan engkau. Kalau saudara anak yang sulung, ini saatnya Saudara masuk ke rumah, Come Home.

Kalau Saudara seorang Bapa/Ayah, anak saudara mungkin kurang ajar, tapi saya berdoa supaya kasih Bapa di surga yang membesarkan hatimu untuk saudara datang memeluk anakmu. Mengasihi dia sebagaimana Bapa di surga mengasihi saudara, mungkin saudara tidak pernah bisa lakukan itu karena saudara tidak pernah kenal kasih itu. Peluk-pelukan ini bukan budaya barat. It’s not Western culture, it’s an expression of love.

Ps: Hi friends! If this blog has blessed you, you can support us below. Thank you, and God bless! Link: https://saweria.co/316notes