JPCC Sutera Hall 2nd Service (13 Sept 2026)
Kita ada di minggu kedua dari seri pengajaran “At The Table“. Kalau saudara melihat meja, kita berbicara tentang keluarga. Dan saat bicara tentang keluarga, kita perlu ingat ada dua konteks keluarga.
Yang pertama adalah keluarga jasmani, keluarga biologis. Saudara tidak bisa memilih di keluarga seperti apa saudara lahir, berasal, dan dibesarkan. Keluarga yang kedua, setiap kali kita berbicara tentang keluarga, adalah keluarga rohani. Itu komunitas sosial, keluarga spiritual, di mana saudara menjadi bagian di dalam JPCC. It’s a Jakarta Praise Community Church.
Sebuah gereja yang menganggap pentingnya komunitas rohani sebagai bagian dari pembentukan Tuhan atas iman kita juga terjadi di keluarga rohani. Minggu yang lalu kita belajar bahwa keluarga dan kehidupan kita akan dibentuk oleh “Suara”. Suara yang paling kita percayai.
Pertanyaannya, suara siapa yang paling besar terdengar di benak saudara, di hati dan pikiran saudara?
Uang-kah, karir-kah, hobikah, prestasi-kah, portfolio-kah, gawai-kah, trend-kah, opini orang-kah, suara sumbang diri sendiri-kah, tradisi keluarga-kah, yang mengepihi Firman Tuhan.
Pertanyaannya tentang suara, suara siapakah yang memegang otoritas tertinggi, semua katakan tertinggi disini, suara siapa yang saudara pilih untuk membawa otoritas tertinggi yang berbicara begitu keras di dalam keluarga saudara?
Kita juga belajar bahwa ada kabar baik buat kita semua, bahwa memang tidak ada keluarga yang sempurna, yang ada hanya keluarga yang sehat. Keluarga yang sehat bukan keluarga yang sempurna tapi keluarga yang selalu kembali kepada Suara Allah.
Keinginan dari kami, tim penggembalaan, adalah setiap keluarga, baik keluarga jasman dan rohani, akan terus memilih untuk kembali kepada Suara Allah. Karena Suara Allah-lah yang harusnya, selayaknya memegang otoritas tertinggi, yang menjadi suara yang paling selalu kita datangi lagi dan lagi, minta dan cari dan harapkan lagi dan lagi.
Seorang futuris yang termasuk dalam 100 pemikir global teratas namanya “Jamais Cascio”, Dia perkenalkan sebuah fenomena yang menjelaskan tentang tantangan dan ancaman dunia hari ini. Fenomena yang dia temukan adalah akronim BANI.
BANI yaitu Brittle (Rapuh), Anxious (Cemas), Non-linear (gak ada polanya), dan Incomprehensible (atau sulit dimengerti), ini adalah kondisi dunia yang kita hidupi hari-hari ini. Terutama kondisi pasca pandemi, dimana kita hidup di dunia yang keliatannya cool, keliatannya keren, tetapi fragile dan rapuh.
Dunia yang dengan begitu banyak kebisingan di sana-sini bukan membuat kita makin beriman tapi makin penuh dengan kecemasan. Banyak pola-pola yang tidak pernah terjadi sebelumnya, Kebingungan-kebingungan, mulai dari kebingungan gender dan kebingungan-kebingungan yang lainnya yang membuat kita berpikir, ini tidak linear banget, agak lain, tidak ada polanya. Akhirnya apa? Pusing kita. Sulit untuk kita memahami “what is this happening around us”.
Dan akibatnya saudara, proses menjadi murid Kristus dan menjadikan orang lain murid Kristus menjadi begitu menantang hari-hari ini. Memuridkan orang lain jadi tidak begitu mudah, semakin tidak mudah bahkan. Karena orang cara pikirnya makin lama makin kompleks, makin “out of the box”, out of kewarasan, di luar kewarasan. Belum lagi begitu banyak standar yang ditawarkan oleh dunia yang pastinya tidak selaras dengan kebenaran.
Batasan antara kebenaran dan setengah kebenaran jadi makin kabur. Belum lagi ada kepalsuan-kepalsuan yang berkedok kebenaran dan kita tidak punya filter yang tepat untuk mem-filter itu. Sehingga kita terkondisi untuk mempercayai setengah kebenaran itu atau bahkan kepalsuan.
Karena dalam kita menjadi murid dan memuridkan orang lain, kemungkinan cuma dua. We’re either discipled by The Word or by the world.
Kemungkinan cuma dua. Kalau kita tidak dimuridkan oleh firman Tuhan, pasti kita dimuridkan oleh dunia. Sudah pasti. There’s no middle ground. Tidak ada area tengah-tengah. You’re either discipled by the word or by the world. Dimuridkan oleh perkataan Allah atau dimuridkan oleh apa yang dunia ini katakan.
Dari 359 orang tua yang ikut 2 parenting seminar di JPCC yang terakhir. Banyak yang menyebut yang namanya gawai atau gadget, pornografi, media sosial, dan dunia itu yang semakin kompleks. Akhirnya ini menjadi salah satu kekhawatiran utama mereka. Kekompleks-an itu semua menjadi kekhawatiran mereka. Banyak juga yang bilang kita sebagai orang tua, “we don’t know where to start”. When it comes to our kid, kita maka mau mulai dari mana? Dari gadget-kaj, dari mana?
Menariknya juga saudara, dalam survei kepada jemaat youth pada SMP dan SMA, this is the good news. Orang tua masih menjadi pengaruh terbesar untuk iman mereka. Bahkan pengaruh orang tua itu skornya masih lebih tinggi daripada kakak-kakak SGL atau small group leader mereka, dan juga lebih tinggi skornya daripada teman.
Tetapi, waktu mereka punya masalah, mereka lebih sering memilih teman ketimbang orang tua. Ironisnya ada yang memilih untuk berbicara kepada AI-AI, Artificial Intelligence. Bahkan ada yang saya pernah menemukan artikel, anak ini bunuh diri karena selama ini menjadikan “AI” pacarnya, only to realize that it’s Artificial Intelligence dan mengakibatnya bunuh diri.
Nah, mari kita lihat pola pemuridan yang sudah terjadi sejak zaman perjanjian lama yang akan kita baca di kitab ulangan. Sedikit konteks tentang kitab ulangan. Isinya dari kitab ini adalah perkataan Musa kepada bangsa Israel yang sudah keluar dari Mesir, sudah melewati perjalanan panjang di padang gurun dan baru mau masuk tanah kanaan, tanah perjanjian. Dimana di tanah yang baru itu mereka akan bangun rumah, mereka juga kerja, mereka besarin anak-anak mereka di tanah yang ditulis “penuh susu dan madu”, tanah yang lebih nyaman, kalau dulu di gurun.
Mereka juga akan hidup berdampingan dengan bangsa-bangsa yang tidak kenal Tuhan. Budayanya beda, nilainya beda, Tuhan yang mereka sembah pun beda. Salah satu yang menjadi perhatian Musa adalah dia berpikir bagaimana supaya umat Israel ini tetap bisa jadi umat Tuhan di tengah-tengah ketika kenyamanan dan di tengah-tengah tatanan sosial yang tidak kenal Tuhan.
Opening Verse – [4] Saudara-saudara, ingatlah! Hanya Tuhan, dan Tuhan saja Allah kita! [5] Cintailah Tuhan Allahmu dengan sepenuh hatimu: Tunjukkanlah itu dalam cara hidupmu dan dalam perbuatanmu. Ulangan 6:4-5 BIMK
Kasih kita kepada Tuhan akan terlihat dari gaya hidup kita dan dari tindakan dan perbuatan kita. Waktu Tuhan berbicara kepada bangsa Israel tentang bagaimana cara untuk memelihara dan membentuk iman anak-anak mereka. Menariknya Tuhan tidak kasih mereka tiket ke parenting seminar di JPCC. Mereka tidak dikasih Tuhan tiket “Reserved Seats” di hari Minggu. Tetapi Tuhan memberikan mereka sebuah ritme, atau sebuah pola bagaimana firman Tuhan berkuasa untuk membentuk iman.
Kita lihat pola yang pertama di ayat ke-6.
Supporting Verse – [6] Tanamkanlah di dalam hatimu perintah-perintah TUHAN yang saya sampaikan hari ini. Ulangan 6:6 TSI
[6] And these words which I am commanding you this day shall be [first] in your [own] minds and hearts; [then] Deuteronomy 6:6 AMPC
Jadi, Firman Tuhan, pola yang pertama dalam memuridkan orang lain, mulai dari anak-anak kita, firman Tuhan itu pertama-tama kudu tertanam dalam hati dan pikiran orang tua. Dalam hati dan pikiran kita yang memuridkan orang lain. Itu sebabnya perlu sebuah pola yang konsisten dalam membiarkan firman Tuhan terpatri, terukir di dalam hati dan pikiran kita.
And by the way, kata hati disitu dari bahasa Ibrani-nya “lev”, atau “levav”. Ternyata it’s more than just a feeling. Ternyata lebih dari sekedar hati. Tetapi apa? Pusat kendali. Pusat pikiran. Tahukah saudara kita berpikir dengan hati kita juga. Pusat kehendak. Pusat motivasi. Dan pusat keputusan-keputusan kita.
No wonder tadi ayatnya bilang, kalau kamu cinta Tuhan, pasti terlihat dari cara hidupmu dan perbuatanmu. Tuhan tahu, by default, “lev” kita tidak membuat kita punya cara hidup dan perbuatan yang selaras dengan firman. Itu sebabnya kudu diukir dulu, kudu ditanam dulu di dalam hati dan pikiran kita.
Apa perilaku orang waktu firman Tuhan tertanam dalam hatinya? ada dua kata kunci.
Yang pertama, orang ini bergaul, karib, dia akrab dengan Firman Tuhan. Dia tahu fase yang mana firman Tuhan ngomongnya apa. Dia tahu aspek kehidupan yang mana firman Tuhan bicara apa di situ.
Kata kunci yang kedua, waktu firman Tuhan tertanam di dalam hati seseorang, dia tidak cuma akrab, tapi karena keakrabannya, karena kekaripannya dia bergaul dengan firman Tuhan, firman Tuhan itu menjadi nyata dalam kesehariannya. Pertanyaan saya sejauh ini, suara siapa yang kau sering dengarkan? Suara siapa selama ini kau paling karip dengannya? Suara siapa yang kau paling akrab dengannya?
Karena keakraban kita dengan suara yang paling kita dengar akan terlihat dalam kenyataan dan realita hati kita hari ini. Realita kita hari-hari ini. Kalau realita kita hari-hari ini kurang kita sukai, mari kita tanyakan, Apakah saya sudah bergaul akrab dan karip dengan firman Tuhan? Apakah setiap hari saya dengar firman Tuhan, ada yang lompat di hati saya? Apakah saya punya gairah? Dan gak lagi menjadi terlalu terbiasa ketika mendengarkan kotbah.
Saudara, kita gak mungkin menanamkan kepada anak dan murid kita sesuatu yang tidak lebih dulu hidup dalam diri kita. Karena kita sebenarnya bukan dalam usaha transfer informasi, bukan transfer pengetahuan tetapi meneladani kehidupan.
Dan yang terlihat dari sikap, cara bicara, dari pilihan kita, keputusan kita, itu yang dicontoh, itu yang ditangkap, lebih dari sekedar kita ngomongin ke anak-anak kita, atau ke orang-orang yang kita muridkan.
Sharing Ps. Alvi – Suatu saat saya pernah ngomong sama Tiara, Tiara anak saya disini. “Dek, kalau ngomong sama Mami jangan gitu, jangan kasar-kasar…”, Dia merespon dengan, “Daddy juga!”.
Saudara, kabar baiknya adalah saudara tidak perlu mencontohkan kesempurnaan. Saudara hanya perlu mencontohkan perubahan. Ada harapan buat saya. Kadang-kadang kotbah saya sendiri menuduh saya. Kadang-kadang saudara perubahan progresif-lah yang kita contohkan, yang kita pelajari.
Karena prinsipnya begini saudara. More is caught than taught, Lebih banyak yang ditangkap oleh anak-anak kita, oleh orang-orang kita muridkan, ketimbang, “Aku kan gak pernah bilang, mama kan gak pernah ngomong, papa kan gak pernah ngomong, dsb”… More is caught than taught, lebih banyak yang ditangkap dari sekedar diingetin, diajarin.
Pertanyaannya bukan cuma apa yang sudah saya ajarkan ke anak, tapi pertanyaannya, Apa yang setiap hari anak-anak saya lihat dan tangkap lewat hidup saya?
Saya berdoa firman Tuhan hari ini tidak menuduh saudara. Tapi akan menantang saudara untuk bilang begini.
“Oke, saya masih belum sempurna. Tapi saya mau berjalan dalam kesempurnaan makin serupa seperti Yesus, hari ini, saya mau menjadi lebih baik daripada kemarin. Besok saya lebih baik daripada hari ini. Besok lebih baik lagi, sedikit demi sedikit, lama-lama jadi bukit.”
Saudara, kalau saudara contohkan itu, anak-anak saudara akan lihat. Ada harapan buat dia juga, saudara, untuk menjadi versi yang lebih baik di mata Tuhan. Berikan kasih karunia buat diri saudara sendiri. Jangan biarkan suara-suara itu menuduh saudara, itu bukan dari Tuhan.
There is now no more condemnation for those who live in Christ Jesus. Sekarang tidak ada lagi penuduhan bagi mereka yang tinggal di Kristus Yesus.
Pola yang kedua, Firman Tuhan perlu diajarkan berulang-ulang.
Ayat 7a bilang gini, ajarkanlah perintah-perintah ini berulangkali.
Supporting Verse – [7] Ajarkanlah perintah-perintah ini berulang kali kepada anak-anakmu setiap waktu, baik pada waktu berada di rumah maupun dalam perjalanan, baik waktu beristirahat maupun waktu bekerja. Ulangan 6:7 TSI
Disinilah pentingnya memperkatakan firman Tuhan.
Supporting Verse – [17] Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus. Roma 10:17 TB
Firman Kristus akan lebih mudah kita perkatakan kalau sudah lebih dulu terpatri, terukir dalam hati dan pikiran kita. Kalau kita jarang baca firman, apa Firman yang akan otomatis muncul waktu kita mengalami masalah dan tantangan dalam keseharian kita?
Iman timbul dari pendengaran. Mulut ngomong Firman, telinga dengar Firman, dan dalam hati timbul iman. Mulut perkatakan Firman, telinga dengar Firman, hati muncul Iman. Tidak cuman mengajar, ternyata ada frekuensinya berulang kali. Ternyata saudara, memang kita ini tidak cukup untuk cuman sesekali ngomongin, ngobrolin, bahas tentang Firman Tuhan.
Hanya karena saudara pernah mendengar ayat tertentu dikutip di beberapa seri pengajaran yang lalu, bukan berarti kita sudah mengerti dan bahkan melakukannya, bukan?
Itu sebabnya kita perlu berdamai dengan yang namanya ini, pengulangan.
Nanti kita akan lihat bagaimana di zaman itu pengulangan terjadi. Kita juga perlu berdamai dengan apa, saudara? Kebosanan. “Sudah gue kasih tahu, kasih tahu lagi.”
Kenapa, saudara?
Supporting Verse – [5] Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus, 2 Korintus 10:5 TB
Ternyata pikiran saudara dan saya itu seperti benteng. Bricks upon bricks, layers upon layers. Sadar atau tidak, setiap kita punya benteng pemikiran. Firman Tuhan yang kasih tau, ada loh benteng pemikiran yang dibangun untuk menentang pengenalan akan Kristus.
No wonder kalau kita baca ayat, kagak ngerti-ngerti. Betul ya? Kenapa? Bentengnya itu lebih kuat. Bukan benteng firman Tuhan yang lebih kuat, tapi benteng selain firman Tuhan sudah begitu kuat.
Itu sebabnya saudara perlu baca lagi, baca lagi, perkatakan lagi. Kenapa?
Saudara, sewaktu saudara baca. Itu seperti batu bata yang salah, saudara cabut, you unlearn, saudara ambil, saudara hancurkan, selapis demi selapis, selapis demi selapis, 10 tahun kemudian, ayat yang sama, baru kita, “Ah, ini toh artinya!”
Supporting Verse – [7] You shall whet and sharpen them so as to make them penetrate, and teach and impress them diligently upon the [minds and] hearts of your children, and shall talk of them when you sit in your house and when you walk by the way, and when you lie down and when you rise up. Deuteronomy 6:7 AMPC
Perhatikan sekali, ada deskripsi yang begitu, ada terminology yang begitu deskriptif, saudara, dalam mengajarkan Firman Tuhan berulang-ulang. Engkau harus mengasah, ibaratnya pisau, ibaratnya anak panah, dan menajamkan Firman Tuhan, saya terjemahkan dalam bahasa sehari-hari, supaya dapat penetrate, supaya bisa menembus ke hati dan pikiran anak-anakmu, lalu ajarkanlah dengan tekun, teach and impress them, ajarkan dan tanamkan Firman-Firman Tuhan itu dengan rajin ke dalam pikiran dan hati anak-anak Saudara.
Jadi kadang-kadang saudara, baru sekali kesekian, itu baru menembus hati dan pikirannya. Tugas orang tua dan pemurid bukan cuman kasih anak dan murid banyak informasi tentang Tuhan. Tetapi tugas kita dalam mengajarkannya berulang-ulang, perlu apa? Mengasah firman. Mempertajam firman Tuhan.
Itu sebabnya pentingnya untuk kita jadi pembelajar penyuka Firman. Bagaimana caranya? Kita mengasah dan mempertajam itu melalui kehidupan sehari-hari sampai pada akhirnya apa yang kita ajarkan atau ditangkap itu benar-benar bisa menembus hati anak-anak kita atau murid-murid kita, dan membentuk pola pikir mereka.
Artinya saudara, kita tidak bisa membawa Firman Tuhan dan kita tidak bisa menyampaikan Firman Tuhan dengan asal-asalan. Main kutip-kutip ayat hanya untuk supaya “Tuhan kan ada ayatNya, minta Acc dong”, NO!
Atau bahkan kita memakai Firman untuk menyerang pasangan.
“Nggak ada di sini, nggak ada, nggak ada. Nggak ada yang ngaku.”
Kita perlu membuat Firman Tuhan itu dengan apa? Dengan jadi jelas. Menjadi relevan untuk fase-fase hidup mereka. Dan bicara tentang membuat Firman Tuhan menjadi begitu jelas, JPCC memberikan alat-alat untuk Anda.
Ada yang bernama “Parent Cue”. Para orang tua, Parent Cue itu adalah Cue, pemicu untuk yang membantu saudara untuk punya obrolan tentang Firman Tuhan. Kalau di MyJPCC, saudara cuma klik ikon Parenting, langsung ketemu Parent Cue.
Buat saudara benar-benar memuridkan, supaya kita cinta Firman Tuhan, mengasah Firman Tuhan, ada yang namanya “OIA” loh, siapa yang masih ingat? Observasi, Interpretasi dan Aplikasi.
Ada juga yang namanya DATE Meeting Guidelines, supaya apa yang dibicarakan Firman Tuhan, Komposisi Firman Tuhan yang perlu mendominasi pembicaraannya. Tetapi kan kadang-kadang yang kita ngomongin kan “gospel”, gossip seputar pelayanan. Bukan Gospel, bukan Injil.
Pola yang ketiga. Tadi yang pertama apa? Firman Tuhan tertanam dan terulis dalam hati dan pikiran kita terlebih dahulu. Betul ya? Yang kedua, kita kudu ngajarin berulang-ulang.
Yang ketiga, kita lihat polanya, saudara. Ada di ayat ke-8-9.
Supporting Verse – [8-9] Tuliskanlah perintah-perintah ini pada tiang pintu rumahmu, pintu gerbang kotamu, bahkan ikatkanlah tulisan perintah-perintah ini pada tanganmu dan dahimu, agar kalian selalu ingat dan melakukannya. Ulangan 6:8-9 TSI
Kebenaran yang kita lakukanlah yang mengubahkan kehidupan kita. Kebenaran tidak mengubahkan kehidupan sampai kebenaran itu dilakukan. Jadi tidak cukup untuk saudara hanya posting di threads, “Bagus nih pengajaran hari ini”.
Beberapa terbantu dari postingan saudara. Buat saya sendiri, mohon maaf kalau saya gak akan pernah repost khotbah saya sendiri. Karena kemenangannya bukan waktu kita dimention orang, tapi waktu Firman yang kita bagikan, sama-sama kita lakukan.
Karena kebenaran yang dilakukanlah yang akan mengubahkan kehidupan. Ada kata “tulis” disitu, bener ya? Saudara tahu kan, saya kan pendeta yang paling gemes sama orang yang tidur waktu kotbah. Bener ya?
Itu sebabnya saya mengajarkan saudara untuk mulai mencatat. Saudara masih inget kenapa Adam jatuh dalam dosa? Dia tidak mencatat. Hello?
Menarik sekali, saudara. Tadi yang pertama pintu rumah. Pintu rumah adalah tempat keluar masuk keluar keluarga. Firman Tuhan memang dimaksudkan untuk menjadi nuansa atau atmosfer yang selayaknya di rumah.
Tempat yang kedua, pintu gerbang kota. Orang keluar dari kota, masuk ke kota, Firman Tuhan perlu dibawa ke ruang publik. Firman Tuhan yang mulai terpatri, tertanam, dan saudara hidupi, perlu saudara bawa ke tatanan sosial di mana Tuhan tempatkan saudara.
By the way, tahukah saudara bisa jadi Alkitab pertama yang orang lain baca sebelum orang kenal Alkitab yang saudara baca. Orang kenal Tuhan atas Alkitab yang saudara baca. Itu sebabnya firman Tuhan bilang gini, “jadilah suratan Kristus yang terbuka.”
Pertanyaannya, apa yang orang lain baca dari hidup saudara, sewaktu dia melihat sikap saudara saat mengambil makanan di pesta?
Di zaman-zaman itu, ternyata tulisan ayat itu ditulis, ditaruh di kotak. Kotaknya itu diikat di tangan dan di dahi dengan tali kulit. Perhatikan gambarnya ini, namanya “Tefillin“.

Kenapa sih? Perlu ditaruh di tangan, perlu diikat di tangan. Tangan itu melambangkan aktivitas, tindakan, pekerjaan saudara. Supaya apa yang kita kerjakan, tindakan kita, sikap kita, dipengaruhi oleh Firman Tuhan. Kalian lihat gambarnya disitu. Gambar ketiga itu ada di bagian lengan. Ditaruh di bagian lengannya. Gak cukup di tangan, di dahi.
Perhatikan. Gambar itu di dahi. Di atas kepala anak itu. Dari melambangkan pikiran, kesadaran, dan world view atau cara kita melihat dunia. Firman Tuhan, bukan cuma iman hari minggu. Tetapi iman keseharian. Iman Senin sampai Sabtu. Dimana pola pikir kita ditantang. Dimana conscious level kita ditantang. Dimana cara kita menilai, membingkai ulang akan dunia ini ditantang.
Perhatikan. Gambar itu di dahi. Di atas kepala anak itu. Dari melambangkan pikiran, kesadaran, dan world view atau cara kita melihat dunia. Firman Tuhan, bukan cuma iman hari minggu. Tetapi iman keseharian. Iman Senin sampai Sabtu. Dimana pola pikir kita ditantang. Dimana conscious level kita ditantang. Dimana cara kita menilai, membingkai ulang akan dunia ini ditantang.
Perhatikan. Gambar itu di dahi. Di atas kepala anak itu. Dari melambangkan pikiran, kesadaran, dan world view atau cara kita melihat dunia. Firman Tuhan, bukan cuma iman hari minggu. Tetapi iman keseharian. Iman Senin sampai Sabtu. Dimana pola pikir kita ditantang. Dimana conscious level kita ditantang. Dimana cara kita menilai, membingkai ulang akan dunia ini ditantang.
Di zaman yang belum banyak gangguan dan kebisingan saja. Di zaman itu Girman Tuhan terpampang nyata di rumah, di gerbang kota, di dahi, di tangan. Visually visible. Terlihat jelas secara visual, pertanyaannya. Bagaimana dengan kita di zaman now? Bagaimana? Begitu banyak gangguan, begitu banyak kebisingan di sana sini.
Itu sebabnya saudara. Saya ingin tawarkan tiga langkah untuk saudara bisa membawa pulang Firman Tuhan hari ini.
Pertama, Jadikan kehidupan sehari-hari ruang pembentukan rohani.
Semua bilang sehari-hari. Tuhan tidak ingin pemuridan hanya terjadi di gereja. By the way, saudara yang punya anak di JPCC Next Gen. Gereja bukan tempat titip anak. Mohon maaf (gak maaf juga sih), karena anaknya anak saudara. Saudara punya ribuan jam dalam setahun untuk memuridkan anak-anak saudara. Saudara gak cuma perlu tunggu momen-momen di mana mereka ketemu dengan SGL-nya. Tidak, saudara bisa ciptakan momen-momen dalam ritme keseharian saudara. Jadikan membahas Firman, mengutip Firman, mempelajari Firman Tuhan sesuatu yang normal. #bisakarenabiasa
Meskipun mungkin tadi anak-anak ABG saudara berpikir, “gak usah sok rohani, lah Dad!”.. It’s okay. It’s alright.
Tujuannya bukan supaya anak-anak saudara hanya tahu ayat Alkitab, apa bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan temen-temennya waktu mereka tanya tentang Alkitab. Sasarannya lebih dalam, supaya kebenaran Allah menembus hati dan menembus dan membentuk cara pikir mereka. Menariknya ayat yang ke-7 tadi sudah dikasih tahu. Gak cuma lokasinya, tapi juga dikasih tahu periodenya.
Supporting Verse – [7] Ajarkanlah perintah-perintah ini berulang kali kepada anak-anakmu setiap waktu, baik pada waktu berada di rumah maupun dalam perjalanan, baik waktu beristirahat maupun waktu bekerja. Ulangan 6:7 TSI
Baik pada waktu berada di rumah, di jalan, waktu istirahat. Waktu bekerja. Terjemahan barunya pakai empat kata sederhana. “Duduk, jalan, berbaring, bangun”. Tidak ada yang spektakuler dengan keempat lokasi atau posisi ini. “Very everyday”. Sangat sehari-hari. “Very usual.”
Tetapi justru saudara, iman dibentuk, iman dikembangkan justru melalui ritme-ritme biasa dalam keseharian ini. Lagi makan habis gereja, lagi makan malam. Salah satu pertanyaan yang sering kali saya tanyakan sama Rayya dan Tiara adalah begini.
“Kak Dek, tadi waktu di Youth, satu poin apa yang adek atau kakak tangkap?”
Kadang-kadang bisa langsung ngomong, kadang-kadang, hmm, apa ya, enggak daddy, hari ini aku gak nyatet, atau kadang-kadang dia buka dulu catatannya, oke, dilihat dulu.
Lagi macet di jalan, lagi anterin anak les, lagi gandengan tangan di mal, lagi liburan, lagi leye-leye di rumah. Tapi sulit memang, saudara ya. Di masa, di momen, di masa dimana banyak gangguan dan kebisingan di sana-situ. Tapi saudara perlu ingat, kenapa sih perlu diulang-ulang?
Iman dibangun melalui repetisi. Bukan inspirasi sesekali. Tidak bisa tuh, saudara. Hanya sesekali, gak bisa. Iman dibangun melalui repetisi. Makanya sudah jelas. Sudah jelas banget. Ngapain perlu diketahui? Di rumah, di jalan, beristirahat. Repetisi.
Tantangan bagi kita untuk tidak menunggu tetapi menciptakan momen. Tantangannya adalah kehadiran kita. Badannya disitu, tetapi roh dan jiwanya entah dimana.
Itu sebabnya, penawaran saya yang kedua, Belajar untuk hadir seutuhnya.
Kalau perlu saudara kasih aturan main yang baru di rumah. Sewaktu makan malam, gadget tidak boleh dilihat. Bikin aturan main yang baru. When it’s a together time, nobody looks at their gadget.
Dulu saya, saudara, orang jam 10, jam 11, telpon masih saya angkat. Sampai istri saya suatu hari bilang gini, “Saya mulai gak suka dengan apa yang kamu lakukan di pelayanan.”
Saudara, sekarang kalau orang di atas jam 9 telpon, saya tanya gini, ini tentang hidup dan mati bukan ya? Enggak ya? Bye, good night, selamat tidur. Karena saya tahu saya gak perlu jadi juru selamat buat orang itu, Tuhan yang jadi juru selamat. Saya gak perlu jadi juru selamat buat siapapun. I don’t need to prove anything to anyone. Termasuk dalam pelayanan saya. I am not my ministry.
Jadi poin yang kedua, bangun disiplin untuk saudara hadir seperti apa? Seutuhnya. Kenapa sih perlu hadir seutuhnya? Karena kehadiran akan memicu kepekaan. Kadang-kadang kepekaan kita sudah tumpul. Kalau Yesus tidak hadir seutuhnya. Dia tidak akan tergerak oleh karena belas kasihan, sehingga waktu dia tergerak oleh belas kasihan, Yesus menjawab kebutuhan mereka.
Kalau Yesus tidak hadir seutuhnya, hanya beberapa hari sebelum disalibkan, Dia tidak akan menonton makan malam di rumah Zakheus, yang Zakheus cuma ingin memeriksa siapa Yesus ini. Kalau Yesus tidak hadir seutuhnya, Yesus tidak akan menangisi kematian Lazarus. Karena Dia tahu ujungnya akan Dia bangkitkan. Tapi karena Dia hadir seutuhnya, Dia mulai peka. Dia mengidentifikasikan kesedihan yang ada dalam pikiran dan perasaan Maria dan Marta.
Itu sebabnya ayat terpendek di Alkitab, Yohanes 11, ayat 35.
Supporting Verse – [35] Lalu Yesus menangis. Yohanes 11:35 TSI
Kalau Yesus tidak hadir sebutuhnya, maka cerita beberapa minggu lalu, Yesus tidak akan berhenti bicara, tidak akan berhenti, hanya untuk berbicara, ngobrol dengan wanita pendarahan 12 tahun, dan menyebut dia, bukan dengan nama sakitnya, tapi “Kau anakKu”.
Dia kasih identitas baru. Kehadiranmu akan membuat engkau semakin peka akan kebutuhan orang-orang terdekatmu. Belajarlah untuk hadir seutuhnya. Termasuk yang lagi kotbah.
Yang ketiga, saudara. Jadikan Firman Allah pusat percakapan dalam keluarga.
Jadikan Firman Tuhan pusat percakapan. Kenapa firman?
Karena bahan dasar Iman ya Firman. Ini tadi prinsipnya di awal. Kemungkinan dimuridkan oleh Firman atau dunia. Kalau bahan dasarnya bukan Firman, lalu apa?
Dan keluarga kita, baik jasmani maupun rohani, akan flourish, akan tumbuh subur dan berkembang dan selalu hijau daunnya waktu Firman Tuhan yang kita izinkan untuk membentuk perspektif kita, keputusan kita, dan nilai-nilai kita.
Bicara tentang nilai, nilai saudara akan terlihat dalam prioritas saudaranya. Alkitab mencatat bahwa Firman itu seperti pedang.
Supporting Verse – [17] Sadarilah bahwa Allah sudah menyelamatkan kamu, karena kesadaran itu ibarat topi perang bagimu. Dan peganglah semua perkataan Allah seperti memegang pedang, karena perkataan-Nya mempunyai kekuatan dari Roh Kudus. Efesus 6:17 TSI
Setiap saudara diberikan pedang. Setiap hari banyak kebisingan-kebisingan yang berusaha untuk mengusik kebenaran dari benak saudara, betul ya?
Kepada pedang roh. Setiap suruh diberikan pedang. Ini bunyi keberangan roh ini. Setiap hari banyak kebisingan-kebisingan yang berusaha untuk mengusik kebenaran dari benak saudara, betul ya?
Dari ke-6 senjata rohani yang dicatat di Efesios 6, cuman satu yang sifatnya menyerang, pedang. Yang lainnya apa? Ketopok, perisai, ikat pinggang, kasut, baju zirah, perisai, cuman satu. Yang menyerang. Hashtag pakai pedangmu. Pakai pedangmu.
Pakai pedang roh itu saudara dalam pertempuran rohani saudara. Waktu Firman Tuhan tidak jadi pusat percakapan dalam keluarga, dunia yang memuridkan kita. Hari ini adalah hari dimana seorang bisa mulai mengambil keputusan. Aku akan mengambil, belajar, mengambil keputusan setiap hari.
Sebelum aku dimuridkan oleh gawai-ku. Aku ijinkan Firman Tuhan memuridkan aku. Sebelum dunia memuridkan anak-anakku. Aku muridkan mereka dulu dengan Firman Tuhan yang terpatri, tertulis dalam hatiku. Aku pertajam, aku asah, aku lakukan. Mereka contoh itu.
Sebelum dunia membentuk hati, pikiran, keluarga, dan komunitas kita, ijinkan Firman Tuhan berbicara dan membentuk kita lebih dahulu. Judul pesan Tuhan hari ini, Word Before World. Firman sebelum dunia.
Saudara, Mami Yanti adalah teladan bagaimana firman Tuhan pegang otoritas tertinggi, yang menentukan realita kehidupannya. Mulai dari dia bolak-balik, diajak bercerai, dan sampai hampir dibunuh oleh suaminya sendiri di depan kami, anak-anaknya.
Sampai dia bergumul dengan kanker selama 13 tahun, payudara, tulang belakang, otak, dan paru-paru. Kami melihat sendiri bagaimana dia bergaul karib dengan Firman Tuhan. Dan kekaribannya dia dengan Firman Tuhan sangat terlihat nyata dalam keseharianinya.
Firman Tuhan selalu mendahului apa yang mata jasmaninya lihat, apa yang laporan medisnya katakan, dan apa yang dunia katakan. Mari kita lihat. This is my story yang pernah ditayangkan 8 tahun yang lalu dari Yanti Radjagukguk.
Kami adalah bukti. Firman yang hidup, yang berkuasa, yang dihidupi oleh Mami saya.
Itu yang kami tangkap setiap hari. Setiap saudara diberikan sebuah meja kehidupan. Siapa yang Tuhan sudah tempatkan di meja itu? Istrimu, suamimu, anak-anakmu. Ini settingan kami malam. Makan malam, Senin sampai Kamis, berempat.
Mungkin saudara bilang, aku tidak punya apapun yang aku bisa bawa ke meja itu. Tapi yang Tuhan minta bukan sesuatu yang besar. Yang Tuhan minta untuk saudara sekedar hadir dan mengijinkan firman Tuhan menjadi pusat di tengah meja kehidupan saudara. Dan saya berdoa, Tuhan akan memulihkan pernikahan dan keluarga saudara, Pola yang salah di masa lalu berhenti di generasi saudara, di dalam nama Yesus. Amin.
Ps: Hi friends! If this blog has blessed you, you can support us below. Thank you, and God bless! Link: https://saweria.co/316notes



