JPCC Online Service (15 April 2022)
Apa kabar saudara semua? Selamat memperingati hari Jumat Agung bersama dengan kita semua disini dan juga dengan banyak orang atau jemaat yang bergabung secara daring. Welcome to Church!
Bagi saudara yang mungkin baru pertama kali bergabung dengan kami di dalam hari Jumat Agung ini, dimanapun anda berada baik virtual ataupun on-site, di sepanjang bulan ini kami sedang berbicara tentang sebuah tema yang luar biasa, yaitu tentang Gembala yang baik serta bagaimana kita bisa mengenal dan taat kepada TuntunanNya.
Mengenal SuaraNya agar kita bisa ada dalam rencana dan kehendakNya, sehingga bisa memuliakan nama Tuhan di atas segalanya.
Minggu lalu, Ps. Jeffrey mengatakan bahwa seperti domba, kita memerlukan seorang gembala, dan Yesus adalah gembala yang baik bagi kita. Ps. Jeffrey membahas bahwa bagaimana kita punya karakteristik yang mirip dengan karakteristik seekor domba.
Dia tidak hanya menyediakan tetapi juga selalu mengarahkan, mengoreksi dan melindungi. Di hari jumat agung ini, saya ingin melanjutkan apa yang disampaikan Ps. Jeffrey minggu lalu, khususnya tentang karakteristik atau pribadi Gembala kita yang agung dalam hal melindungi.
Opening Verse – Akulah gembala yang baik; maka gembala yang baik itu menyerahkan nyawanya ganti segala domba itu. Yohanes 10:11 TB
Bukan hanya di ayat ini, tetapi Dia juga mengulanginya, dimana setelah Dia berbicara tentang keberadaan Pihak lain yang bukan gembala melainkan orang-orang upahan.
Supporting Verse – Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku. Yohanes 10:14-15 TB
Itulah yang sedang kita bicarakan bulan ini, bagaimana kita bisa mengenal suaraNya, serta bagaimana Tuhan sendiri -dan sampai sekarangpun masih- berkomunikasi atau berbicara dengan kita lewat begitu banyak hal yang ada di sekitar kita.
Dikatakan bahwa “sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa”, ini menggambarkan suatu keintiman yang luar biasa yang Yesus gambarkan bagaimana Bapa adalah satu dengan Dia, dan Dia juga satu dengan Bapa dan oleh karena keintiman dan kasih tersebut, dikatakan bahwa “Aku memberikan nyawaKu bagi domba-dombaKu”.
Demikian juga Dia mengasihi kita, ingin berbicara dengan kita, mengenal kita, dan Dia juga ingin kita bisa mengenalNya. Dalam ayat ini, Yesus sedang berbicara kepada orang-orang percaya, khususnya di antara kerumunan orang yang sedang mendengarkan Yesus ini adalah orang Yahudi.
Sharing Ps. Johannes – Sekitar bulan yang lalu, di dalam rumah dan keluarga saya, kami kedatangan dua anggota keluarga baru. Dua anggota baru yang sangat lucu, mungil dan polos. Sangat menggemaskan, mereka adalah Vani dan Nila (Vanila), mereka adalah hamster binatang piaraan kami.
Sekitar dua hari yang lalu, ada sebuah kejadian yang menghebohkan di pagi hari, anak saya khususnya yang perempuan, dia berteriak dan sedih sekali karena salah satu dari vanila ini hilang dan tidak ada di kandangnya. Setelah beberapa waktu kita mencari dan juga mencoba untuk menenangkan anak perempuan kami yang bernama Savanna. Akhirnya, singkat cerita kami bisa menemukan hamster yang hilang ini.
Nila ternyata ada di belakang lemari kecil yang ada di ruang keluarga kami. Uniknya, yang menemukan juga adalah Savanna. Sampai hari ini, dia selalu membanggakan diri atas kejadia ini dan suka berkata “Aku punya telinga yang sangat baik, aku bisa mendengar suaranya Nila”.
Saat mendengar ini, saya jadi teringat akan Yesus sebagai gembala yang mengenal domba-dombaNya dan bagaimana dombaNya juga mengenal Dia. Sama seperti Savanna, anak saya yang mengenal suara Nila dan Nila juga mengenal suara anak saya ini.
Saya menceritakan kejadian ini karena di dalam suatu pertemuan, Yesus berbicara di tengah-tengah begitu banyak orang. Ada pemungut cukai dan orang berdosa lainnya, mereka dipisah secara kategori karena mereka dianggap lebih berdosa daripada orang berdosa lainnya pada jaman itu. Ada juga orang-orang farisi, para ahli taurat, serta beberapa perempuan yang ada di tempat Yesus sedang berbicara. Pada saat itu, Yesus melihat sebuah peluang atau kesempatan untuk menceritakan 3 perumpamaan yang sangat terkenal, tentang sesuatu yang hilang dari pemiliknya.
Supporting Verse – “Andaikata seorang dari kalian mempunyai seratus ekor domba, lalu ia kehilangan seekor — apakah yang akan dibuatnya? Pasti ia akan meninggalkan domba yang sembilan puluh sembilan ekor itu di padang rumput, dan pergi mencari yang hilang itu sampai dapat. Dan kalau ia menemukan kembali domba itu, ia begitu gembira sehingga dipikulnya domba itu di bahunya, lalu membawanya pulang. Kemudian ia memanggil kawan-kawan dan tetangga-tetangganya, dan berkata, ‘Mari kita bergembira. Dombaku yang hilang sudah kutemukan kembali!’ Nah, begitulah juga di surga ada kegembiraan yang lebih besar atas satu orang berdosa yang bertobat, daripada atas sembilan puluh sembilan orang yang sudah baik dan tidak perlu bertobat.” Lukas 15:4-7 BIMK
Mungkin ini sesuatu yang tidak lumrah saat ini karena mungkin tak ada dari antara kita yang hadir disini maupun secara daring, yang punya 100 ekor domba di rumah. Namun bagi orang yahudi yang saat itu mendengarkan ini, ini merupakan sesuatu yang biasa terjadi dalam kehidupan mereka sehari-hari. Ini konsep yang mudah dimengerti, dimana jika ada 1 domba yang hilang, dari 100 domba yang ada, maka mereka akan meninggalkan yang 99 dan mencari 1 domba yang hilang itu.
Saudara bisa pikirkan seperti contoh tadi, dimana saat Nila hilang, tidak mungkin anak saya berpikir, “Yah tidak apa-apa, masih ada Vani”. Anak saya tidak berpikir demikian. Atau kita bisa berpikir dengan konsep diatas secara relevan dalam keseharian hidup kita, kalau misal kita punya dua atau tiga mobil, terlepas dari seberapa mahalnya mobil itu, lalu jika satu mobil kita hilang, kita tidak akan berpikir “Ah masih ada dua mobil lagi di rumah”. Saudara pasti akan fokus dan pergi mencari mobil yang hilang itu, bukan?”
Belum lagi jika berpikir tentang anak kita, misal ada dari kita yang punya 5 orang anak, dan saudara sedang pergi ke mall dan saat mendengar ada satu anak yang hilang, maka saudara tidak mungkin berpikir “Ah ya sudah tidak apa-apa, masih ada 4 anak lagi di rumah”.
Mengapa?
Karena ketika kehilangan sesuatu yang sangat bernilai, kita pasti akan berusaha untuk pergi mencarinya.
Ketika kita kehilangan sesuatu yang sangat bernilai, kita tidak akan fokus kepada apa yang masih ada. Kita akan tiba-tiba fokus kepada yang hilang, karena yang hilang itu sangat bernilai. Sama seperti perumpamaan yang sedang kita pelajari hari ini. Itu sebabnya judul kotbah saya hari ini adalah “Sangat Bernilai”.
Supporting Verse – Dan kalau ia menemukan kembali domba itu, ia begitu gembira sehingga dipikulnya domba itu di bahunya, lalu membawanya pulang. Kemudian ia memanggil kawan-kawan dan tetangga-tetangganya, dan berkata, ‘Mari kita bergembira. Dombaku yang hilang sudah kutemukan kembali!’ Nah, begitulah juga di surga ada kegembiraan yang lebih besar atas satu orang berdosa yang bertobat, daripada atas sembilan puluh sembilan orang yang sudah baik dan tidak perlu bertobat.” Lukas 15:5-7 BIMK
Sama seperti kalau saudara pergi ke “Counter penemuan barang” atau “Lost and Found”, kalau saudara pergi kesana, itu menggambarkan berharganya barang yang hilang dari anda, lalu kalau saudara berhasil menemukan barang yang hilang itu, seperti misalnya handphone, maka saudara akan senang dan bergembira sekali karena sesuatu yang bernilai yang hilang dari pemiliknya akhirnya berhasil ditemukan kembali.
Yesus juga lanjut menceritakan perumpamaan yang kedua, dan sebelumnya dia juga menggambarkan proses bagaimana jika sesuatu yang bernilai terpisah dari pemiliknya, ketika ditemukan, pasti akan terjadi kegembiraan, begitulah juga di surga, kataNya. Sama seperti di surga dan sesuai dengan Kehendak Bapa, ada kegembiraan yang lebih besar atas satu orang berdosa yang bertobat, yang tadinya hilang lalu tersambung kembali dengan PemilikNya, yaitu Bapa di Surga, daripada atas 99 orang yang sudah baik dan tidak perlu bertobat.
Supporting Verse – “Atau kalau seorang perempuan mempunyai sepuluh keping uang perak, dan satu di antaranya hilang, tentu dia akan menyalakan pelita dan menyapu rumahnya, lalu mencari sekeping uang itu dengan teliti sampai ketemu. Sesudah menemukannya, dia akan memanggil teman-teman dan para tetangganya serta berkata, ‘Bersukacitalah denganku, karena aku sudah menemukan uangku yang hilang itu!’” Kata Yesus, “Aku beritahukan kepadamu: Begitu juga para malaikat di hadapan Allah Bapa selalu bersukacita saat menyaksikan seorang berdosa yang bertobat!” Lukas 15:10 TSI
Melalui kedua perumpamaan ini, semua orang yang mendegarkan Yesus sudah mulai menangkap bahwa Yesus sedang berbicara tentang sesuatu yang bernilai yang terpisah dari pemilikNya. Lalu Yesus menggalinya jauh lebih dalam lagi, dan sampai ke dalam perumpamaan ketiga yang begitu terkenal, dimanapun kita berada dari kecil sampai sekarang, yaitu perumpamaan tentang anak yang hilang.
Supporting Verse – Anak yang bungsu berkata kepadanya, ‘Bapak, berikanlah kepadaku harta warisan yang menjadi bagianku. Tidak usahlah aku menunggu sampai Bapak meninggal.’ Lalu orang itu membagikan harta warisannya kepada kedua anaknya itu. “Beberapa hari kemudian, si bungsu menjual semua hartanya itu lalu berangkat ke negeri yang jauh. Di sana dia menghambur-hamburkan uangnya dengan segala macam kesenangan duniawi, sampai akhirnya habislah semua uangnya. Lalu terjadilah bencana kelaparan yang luar biasa di seluruh negeri itu, sehingga dia jatuh miskin dan kelaparan. Lukas 15:12-14 TSI
Kenapa orang itu mau memberikan harta warisannya kepada kedua anaknya itu? Padahal kalau dari cerita ini sepertinya mereka sangat kurang ajar. Kalau ini terjadi kepada kita semua, mungkin kita akan marah dan berpikir bahwa anak kita ini begitu kurang ajar dan ingin menyumpahi kita meninggal.
Dalam bahasa indonesia, perumpamaan ini kita kenal sebagai perumpamaan tentang anak yang hilang, di dalam bahasa inggris tetapi disebut sebagai “The Prodigal Son”. Prodigal ini sebenarnya bukan artian anak yang hilang, melainkan anak yang pemboros. Coba bayangkan saat Yesus menceritakan perumpamaan ini, Dia bahkan tidak memberikan judulnya. Tetapi orang-orang yang mendegarkan Yesus mengerti bahwa perumpamaan ini sama dengan dua perumpamaan yang pertama bahwa ada sesuatu yang bernilai dan terpisah dari pemiliknya.
Melalui terjemahan bahasa indonesia dari ayat diatas, kita bisa mengerti bahwa sesuatu yang hilang itu bukanlah harta, melainkan sebuah hubungan.
Bagi anak yang ada dalam perumpamaan itu, yang penting adalah warisan dan hartanya. Jadi pada saat Yesus menceritakan perumpamaan ini, Yesus sedang menekankan bahwa ada hubungan yang hilang. Ada anak yang terpisah dari Bapanya, walaupun anak itu berada di depan mata Bapanya.
Anak yang bungsu begitu menikmati kesenangan duniawi, menghamburkan semua uangnya sampai benar-benar habis. Saudara bisa bayangkan betapa tegangnya suasana saat Yesus menceritakan perumpamaan ini. Anak yang begitu kurang ajar, lalu pergi membawa harta orang tuanya dan menghamburkannya sampai habis dan dia jatuh miskin dan kelaparan. Tidak ada yang akan membantu dia lagi.
Pada saat itu terjadi, mungkin orang yang mendengar perumpamaan ini akan mensyukuri keadaan sang anak yang kurang ajar dan tidak tahu diri ini. Lalu diceritakan selanjutnya bahwa anak ini meminta pekerjaan kepada salah seorang di negeri itu, dan dia diberikan pekerjaan sebagai pemberi makan babi.
Bayangkan, dari status seorang anak orang yang begitu kaya sampai akhirnya sekarang karena belum pernah bekerja sebelumnya, dan harus bekerja sembagai pemberi makan babi di kandangnya. Saking laparnya dia, bahkan dia pun sampai tergiur dengan makanan babi itu. Makanan yang kotor dan khusus untuk seekor babi saja.
Supporting Verse – “Akhirnya dia sadar akan keadaannya dan berkata dalam hatinya, ‘Semua pekerja upahan ayahku mendapatkan makanan yang cukup, bahkan sampai berlimpah-limpah, sedangkan aku di sini hampir mati kelaparan! Aku akan berangkat pulang kepada ayahku, lalu berkata kepadanya, “Bapak, maafkanlah aku! Aku sudah bersalah kepada Bapak dan berdosa kepada Allah. Aku tidak pantas lagi disebut anak Bapak. Aku mohon supaya Bapak menerimaku sebagai pekerja upahan saja.”’ “Lalu dia pun bangkit dan kembali kepada ayahnya. Tetapi ketika anak bungsu itu masih jauh dari rumah, ayahnya sudah melihat dia datang dan merasa kasihan kepadanya. Saat itu juga dia langsung berlari menemui anaknya itu, lalu memeluk dan menciumnya. Kemudian si bungsu berkata kepada ayahnya, ‘Bapak, maafkanlah aku! Aku sudah bersalah kepada Bapak dan berdosa kepada Allah. Aku tidak pantas lagi disebut anak Bapak.’ “Tetapi ayahnya berkata kepada pelayan-pelayannya, ‘Ambilkan segera jubah saya yang paling bagus dan pakaikanlah kepada anak saya ini! Pasanglah salah satu cincin saya pada jarinya dan sepasang sandal pada kakinya. Kemudian bawalah anak sapi yang gemuk dan potonglah. Biarlah kita makan dan bersukacita! Karena dulu anak saya ini seakan sudah hilang dan mati, tetapi ternyata dia masih hidup dan kembali kepada saya!’ Lalu mulailah mereka berpesta. Lukas 15:17-24 TSI
Kata Sadar dalam ayat ini ibaratnya kita yang sadar akan keadaaan kita, dan kita tidak mau lagi tinggal dalam kehidupan yang saat ini kita hidupi. Anak yang bungsu ini mengalami hal yang sama dan sadar bahwa bukan seharusnya dia hidup seperti itu. Saudara yang sedang menonton ibadah ini juga mungkin ada yang merasa diingatkan bahwa kita tidak puas dengan kehidupan yang sekarang, dan mau mendengar serta datang kepada Tuhan.
Akhirnya si bungsu sadar akan keadaannya, bahwa ada kehidupan yang lebih baik sewaktu dia masih bersama Bapa-nya. Namun saat dia terpisah dari Bapa-Nya dan hanya berpikir tentang harta saja, dia malah kehilangan kehidupannya. Mirip dengan apa yang Yesus pernah katakan bahwa buat apa seseorang memiliki semua yang ada di dunia ini, tetapi kehilangan jiwanya sendiri.
Anak bungsu ini sadar bahwa dia sudah bersalah dan berdosa, dan itulah yang membuat dia terpisah dari Bapa-nya. Dia datang kembali kepada Bapa-nya dan kehilangan identitas dirinya, mengatakan bahwa dia mau jadi pekerja upahan saja karena dia tidak pantas lagi disebut sebagai anak.
Melalui perumpamaan ini, Yesus menceritakan bagaimana respon Bapa di surga ketika milikNya hilang dan kembali kepada dia. Dia tidak merasa marah dan ingin balas dendam disaat melihat anaknya kembali, sebaliknya sewaktu melihat anaknya yang sudah jatuh miskin dan kelaparan, Bapanya merasa kasihan.
Dia sudah tidak lagi memikirkan perbuatan anaknya yang salah, dosa dan pelanggarannya. Bapanya merasa kasihan karena tahu ini bukan jati diri anaknya. Bukan sekedar merasa kasihan, tetapi Dia langsung berlari dan memeluk serta mencium anaknya, tidak peduli seberapa kotor dan bau anaknya yang sudah menjadi pekerja pemberi makanan babi.
Bapa segera menyuruh pelayannya untuk memberikan Jubah yang paling bagus untuk mengembalikan status anaknya, terlepas dari kesalahan dan dosa yang dia sudah lakukan. Lalu juga Dia memberikan cincin kepada anaknya, untuk mendeklarasi bahwa ini adalah anakNya. Dan sepasang sandal yang diberikan juga kepada anaknya untuk merestorasi anaknya. Pada saat itu, hanya seorang anak yang bisa memakai sandal, dimana pelayan dan hamba tidak memiliki hak untuk memakai itu. Dia juga menyuruh pelayan untuk membawa anak sapi yang gemuk dan bersukacita bersama atas kepulangan anaknya.
Supporting Verse – He was lost, but now he is found. Luke 15:24b (NLT)
Itulah respon Allah Bapa ketika Dia menemukan kembali yang terhilang. Namun kisahnya tidak selesai disini karena masih ada si sulung. Si sulung yang masih bekerja di ladang dan tiba-tiba pulang dan melihat ada pesta. Disaat dia mendengar adiknya yang bungsu sudah kembali ke rumah, respon dia adalah marah dan tidak mau masuk ke rumah.
Kemudian Bapanya menghampiri dia dan berkata “Ayo masuk, bergabung dengan kami, karena adikmu sudah kembali. Namun dia berkata seperti ini.
Supporting Verse – Tetapi anak itu menjawab, ‘Tidak mau! Bertahun-tahun lamanya aku bekerja untuk Bapak dan selalu menaati perintahmu. Tetapi Bapak belum pernah memberiku seekor anak kambing pun supaya aku bisa berpesta dengan teman-temanku! Tetapi baru saja kembali anak bungsumu itu, yang sudah menghabiskan harta Bapak dengan para pelacur, Bapak langsung memotong anak sapi yang terbaik untuk dia!’ “Jawab ayahnya, ‘Benar, Nak, kamu selalu bersamaku, dan semua milikku adalah milikmu juga. Tetapi sudah seharusnya kita bersukacita dan merayakan kepulangan adikmu! Karena dulu Bapak pikir adikmu ini seakan sudah hilang dan mati, tetapi ternyata dia masih hidup dan sekarang berkumpul kembali dengan kita di sini.’” Lukas 15:29-32 TSI
Jadi dalam pikirannya, untuk mendapatkan status sebagai anak, dia harus bekerja. Fokusnya adalah bekerja supaya dia diaggap sebagai anak. Kalau dipikir-pikir, sebenarnya dia “hilang” juga. Dia lupa kalau dia adalah anak, justru karena dia anak seharusnya dia berpikir dan bekerja sebagai seroang anak, namun selama ini dia mencoba untuk mendapatkan status anak dengan cara bekerja. Tetapi Bapanya berkata, “Kamu selalu bersamaku, karena kamu adalah anak, semua milikku adalah milikmu juga”.
Supporting Verse – “He was lost, but now he is found!” Luke 15:32b (NLT)
Begitulah reaksi Bapa di surga kepada kita, karena ketika kita kehilangan sesuatu yang sangat bernilai, kita pasti akan berusaha untuk pergi mencarinya. Ini juga yang dilakukan Yesus ketika dia ada di dunia ini.
Ini juga yang dilakukan oleh Yesus ketika Dia ada di dunia ini. Kembali kepada Yohanes 10 (TSI) tadi, di ayat selanjutnya setelah Dia katakan, “Domba-dombaku mengenal Aku, dan Aku menyerahkan nyawa-Ku untuk domba-domba-Ku”.
Dia seketika menyebutkan, ada domba lain yang belum ada di kawanannya— domba-domba yang terhilang, yang adalah Saudara dan saya, pada suatu masa dalam hidup kita. Di dalam suatu waktu dalam kehidupan kita, kita menjadi domba-domba yang seperti itu.
Supporting Verse – Aku juga mempunyai domba-domba lain yang belum tergabung ke dalam kelompok ini. Jadi Aku perlu memimpin mereka supaya bergabung ke dalam kelompok yang satu ini. Mereka juga akan mendengar suara-Ku. Dan akhirnya semua domba-Ku akan menjadi satu kelompok dengan satu gembala— yaitu Aku. Jadi, itulah sebabnya Bapa mengasihi Aku: Karena Aku sudah bersedia menyerahkan nyawa-Ku untuk menyelamatkan mereka. Tetapi setelah mati, Aku akan hidup lagi. Kematian-Ku bukan karena siapa-siapa. Sebaliknya, Aku sendiri yang menyerahkan nyawa-Ku. Karena Aku sendiri yang berhak atas nyawa-Ku— baik untuk menentukan waktu kematian-Ku maupun waktu Aku hidup kembali. Ini semua sesuai dengan perintah Bapa kepada-Ku.” Yohanes 10:16-18 TSI
Kata Yesus begini, Aku juga mempunyai domba-domba lain yang belum tergabung ke dalam kawanan ini— masih terhilang, tersesat. Jadi Aku akan memanggil mereka,— itu yang Yesus lakukan, keluar dan memanggil mereka, mencari yang terhilang.
Karena Dia adalah Gembala Agung. Kita butuh Penyelamat, sebab kita tak bisa menyelamatkan diri kita sendiri. Kita butuh Penyelamat yang luar biasa, Juruselamat kita. Tahukah, bahwa Tuhan kita, Gembala kita yang Agung itu, Dia bukan Tuhan yang lemah, Saudara!
Dia bukan Tuhan yang mati karena disalibkan oleh prajurit Romawi. Bukan, bukan! Dia yang menyerahkan nyawa-Nya untuk kita, untuk menyelamatkan kita. Dia tidak lemah. Dia adalah Allah yang Maha Perkasa, bahkan sangking perkasanya, Dia bisa menentukan kapan Dia mati dan kapan Dia akan bangkit kembali untuk menyelamatkan kita semua dari segala dosa dan pelanggaran kita.
Supporting Verse – “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” Lukas 19:10 (TB)
Pertanyaannya adalah, apa yang akan kita lakukan dalam hidup kita jika kita tahu bahwa kita sangat bernilai? Di hari Jumat Agung ini, apa yang akan kita lakukan kalau kita sadar bahwa hidup kita sangat bernilai? Bahkan lebih lagi, apa yang akan kita lakukan jika kita tahu bahwa kita sangat dikasihi?
Karena Dia datang ke dalam dunia ini— Gembala Agung kita datang ke dalam dunia ini—karena Dia begitu mengasihi kita.
Supporting Verse – Karena Allah begitu mengasihi manusia– Saudara dan saya–di dunia ini, sehingga Ia memberikan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan mendapat hidup sejati dan kekal. Sebab Allah mengirim Anak-Nya bukan untuk menghakimi dunia ini, tetapi untuk menyelamatkannya. Yohanes 3:16-17 (BIMK)
Kata “binasa” di situ sebenarnya dalam bahasa aslinya dalam bahasa Yunaninya adalah “apollumi”. “Apollumi” adalah kata yang sama yang digunakan dalam perumpamaan tadi, yang artinya adalah tersesat, terhilang.
Jadi artinya seperti ini, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak terhilang dari Tuhan, tidak tersesat dari Tuhan, karena kalau terhilang, tersesat dari Tuhan, kita akan binasa. Kematian Yesus Kristus, Gembala Agung kita, adalah bukti bahwa kita, Saudara dan saya, sangat bernilai dan dikasihi-Nya.
Saudara dan saya sangat bernilai dan dikasihi-Nya, makanya Dia rela mati bagi kita. Kembali pada pertanyaan, apa yang akan kita lakukan dalam hidup jika kita tahu bahwa kita sangat bernilai dan dikasihi-Nya; apa yang Saudara akan lakukan? bagi Saudara dan saya, orang-orang percaya, orang-orang yang sudah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, ini adalah sebuah pengingat buat kita.
Mari kita hidup dengan selalu mengingat bahwa kita sangat bernilai dan dikasihi oleh Tuhan. Itu alasan kita memperingati kematian Tuhan pada hari ini. Bukan sebuah kabar duka cita, melainkan sebuah kabar baik, bahwa kita—Saudara dan saya, sangat bernilai di mata Tuhan dan sangat dikasihi. Mari kita tidak menyia-nyiakan hidup kita. Selalu kembali kepada nilai, identitas, dan kasih yang sesungguhnya dari Allah Bapa di surga.



