An Honoring Community By Ps. Johannes Thelee

JPCC Online Service (25 June 2023)

Shalom Saudara, apa kabarnya? Saya mau kasih disclaimer sedikit. Beberapa hari lalu saya ke dokter lalu dibilang katanya perut saya atau lambung saya lagi mengeluarkan asam yang sedikit lebih daripada biasanya sehingga menciptakan sensasi kering di tenggorokan saya. Jadi, kalau saudara melihat saya minum berkali-kali mohon dimaklumi ya. Bulan ini kita masih ada di dalam seri pengajaran kita tentang “I love my Church“.

Seri pengajaran ini seperti yang saudara ketahui tentunya dilakukan menjelang ulang tahun JPCC yang ke-24 tahun yang akan dilakukan dalam beberapa minggu ke depan untuk merayakan kebaikan Tuhan, kesetiaan Tuhan di dalam dan melalui kehidupan kita semua.

Bagi saudara juga yang menyaksikan secara online, saya berdoa supaya apa yang disampaikan hari ini bisa memberkati kita semua. Kita akan coba merekap sedikit apa yang sudah kita pelajari selama beberapa minggu terakhir ini. Dimulai dari sebuah ayat yang menjadi ayat kunci dari seri pengajaran ini, yaitu dari Efesus 1 ayat 22-23.

Opening Verse – Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu. Efesus 1:22-23 TB

Jadi, Kristus Yesus adalah Kepala dari gereja dan kita semua, jemaat yang adalah TubuhNya yaitu Kepenuhan Dia yang memenuhi semua dan segala sesuatu. Jadi, saudara dan saya sebagai orang percaya sebagai Jemaat, kita adalah kepenuhan Kristus di dalam tubuhNya, dimana ketika dunia melihat gerejaNya, melihat jemaatNya, dunia bisa melihat The fullness Of Christ dari karakter Kristus yang terpancarkan dari kasihNya, dari berkatNya, janji-janjiNya yang dapat dilihat melalui gerejaNya yaitu saudara dan saya.

Itu sebabnya di minggu pertama atau di bagian pertama. Kita belajar bahwa gereja adalah sebuah komunitas, saudara dan saya adalah sebuah komunitas yang mewakili Kerajaan Allah di dunia. Di dalam komunitas tersebut, di dalam gereja, you can come as you are.

Saudara dan saya bisa datang sebagaimananya sebagaimana adanya kita, but you cannot stay as you are, saudara dan saya seharusnya tidak tetap tinggal begitu saja dan tidak mengalami perubahan, karena di dalam rumah Tuhan atau di dalam komunitas Kristus in the house of God, saudara dan saya akan terus menerus mengalami perubahan, pembaharuan serupa dan segambar dengan Kristus.

Itu sebabnya di minggu yang kedua atau di bagian yang kedua kita mulai belajar tentang salah satu nilai inti yang kita percaya dan kita pegang di JPCC yaitu “Spirit-led“, karena kita semua sebagai orang percaya. sebagai anak-anak Allah diberikan Roh Kudus sehingga Roh Kudus memimpin kita untuk menjalani kehidupan ini, membantu kita melakukan kehendak Allah.

Seseorang yang dipimpin oleh roh hidupnya seharusnya tidak menjadi aneh, tidak menjadi “nggak nyambung” atau irrelevant, tetapi justru sebaliknya, seharusnya hidupnya dilihat dan merasakan dirasakan bahwa dia hidup dengan menjalankan tujuan di dalam kehidupan.

Salah satu hal yang juga terjadi kepada diri saya sewaktu saya menerima Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat, yang pertama kali saya rasakan adalah kehidupan saya ini ternyata berarti, ternyata kehidupan saya ini ada tujuannya, tidak sembarangan saja. Itu sebabnya dampaknya ketika seseorang dipimpin oleh roh seharusnya hidupnya penuh dengan tujuan dan di dalam kehidupannya memiliki hikmat, akal sehat dan juga memiliki kreativitas, karena kita semua diciptakan untuk jadi produktif, menjadi seseorang yang bisa menghasilkan buah dan buahnya itu dinikmati oleh banyak orang.

Pada bagian yang ketiga atau minggu lalu kita belajar tentang Core value yang lain yaitu “Mature“, dimana tujuan hidup kita sebagai orang percaya adalah menjadi dewasa, yaitu menjadi serupa dengan Kristus karena Kristus adalah gambaran yang sempurna dari kedewasaan.  Itu sebabnya orang yang dewasa mampu untuk mengutamakan orang lain, meninggalkan sifat kekanak-kanakan dan membedakan serta melakukan apa yang benar.

Nah, hari ini atau di bagian keempat ini saya ingin menyampaikan sebuah pesan Firman Tuhan tentang value yang lain yang dipegang oleh JPCC, judul khotbahnya adalah “An Honoring Community“, dan nilai yang akan kita bahas hari ini adalah tentang “Honoring“, karena kita mau membangun gereja membangun jemaat yang membangun komunitas yang mengerti apa artinya menghormati Tuhan dan juga menghormati sesama.

Kalau saudara lihat di dalam website sebenarnya akan temukan salah satu nilai itu, yaitu “Honoring”, dengan statement atau pernyataannya adalah seperti ini “Kita semua sebagai gereja secara terbuka mau mengekspresikan penghormatan, respect, dan penghargaan kita kepada Tuhan dan juga kepada satu sama lain”.

Dan doa kita tentunya ini bukan cuma dipraktekkan di dalam pertemuan hari Minggu seperti ini, ibadah seperti ini, tetapi juga di dalam saat teduh kita, di dalam keseharian kita dan juga hubungan kita dengan satu sama lain.

Itu sebabnya tadi waktu kita mulai ibadah bersama-sama, kita ikut menyanyi meninggikan Tuhan, menyembah Tuhan lewat lagu puji-pujian kita, lewat saling salam kepada satu sama lain, karena kita mau datang untuk merayakan kebaikan Tuhan, menghormati kehadiran Tuhan di dalam kehidupan kita sebagai Jemaat.

Supporting Verse – Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai. Ketahuilah, bahwa Tuhanlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya. Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur,  ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya. Mazmur 100:2-4 TB

Sikap inilah yang kita mau sewaktu kita datang menjunjung tinggi, menghormati Tuhan yaitu datang dengan bersyukur dan dengan puji-pujian karena namaNya yang besar itu.

Nah, salah satu hal lain juga yang kita junjung tinggi dan hormati di dalam jemaat ini adalah kita ingin menghormati pernikahan, karena pernikahan adalah idenya Tuhan. Pernikahan yang sehat menggambarkan hubungan antara Kristus dengan jemaatNya melalui atau yang dilandasi dengan Kasih dan juga saling menghormati.

Supporting Verse – Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu f seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya. Efesus 5:33 TB

Lalu hal lainnya lagi adalah itu sebabnya kita juga datang biasanya ke dalam rumah Tuhan, ke dalam kumpulan orang-orang percaya dengan membawa persembahan kita, persepuluhan kita karena kita mau menghormati Tuhan dengan berkat yang Tuhan percayakan kepada kita.

Supporting Verse – Hormatilah Tuhan dengan mempersembahkan kepada-Nya yang terbaik dari segala harta milik dan hasil tanahmu, maka lumbung-lumbungmu akan penuh gandum, dan air anggurmu akan berlimpah-limpah sehingga tidak cukup tempat untuk menyimpannya. Amsal 3:9-10 BIMK

Jadi, untuk saudara dan saya datang membawa persembahan, membawa persepuluhan kita, lakukanlah itu bukan karena peraturan tetapi lakukan itu karena saudara ingin menghormati Tuhan, memuliakan Tuhan dengan harta, berkat yang Tuhan percayakan kepada saudara, bertanggung jawab terhadap harta yang Tuhan berikan sehingga kita juga bisa bertumbuh di dalam pemberian kita dan kita memakai itu bagi kemuliaan nama Tuhan, dan tentunya siapa yang setia kepada perkara-perkara yang kecil akan dipercaya untuk perkara-perkara yang lebih besar lagi.

Kalau saudara perhatikan juga, kita cukup menaruh nilai yang tinggi kepada generasi muda untuk memperlengkapi mereka, untuk mendidik mereka sehingga mereka bertumbuh menjadi masa depan dari gereja dan juga dari dunia ini.

Supporting Verse – Angkatan demi angkatan akan memegahkan pekerjaan-pekerjaan-Mu dan akan memberitakan keperkasaan-Mu. Mazmur 145:4 TB

Itulah sebabnya kita menaruh bobot yang cukup tinggi untuk melayani generasi muda supaya mereka bisa bertumbuh dan memegahkan pekerjaan Tuhan.

Supporting Verse – Treat everyone you meet with dignity. Love your spiritual family. Revere God. Respect the government. 1 Peter 2:17 MSG

Itulah sebabnya tadi kita seringkali melakukan bagaimana kita mengapresiasi satu sama lain, para volunteer yang sudah melayani kita di hari minggu maupun di tengah minggu, bahkan juga dikatakan bahwa “love your spiritual family”, kita mendorong saudara-saudara semua yang untuk tertanam di dalam komunitas date saling membantu, saling menolong satu sama lain.

Takutlah akan Tuhan yang merupakan figur dari otoritas, menghormati Tuhan dan juga respek terhadap pemerintah. Makanya kita seringkali di dalam ibadah, di dalam pertemuan date atau di manapun, kita seringkali tidak lupa untuk mendoakan bangsa dan negara ini mendoakan pemerintahan yang ada karena Tuhanlah yang menentukan atau menetapkan pemerintahan di dalam suatu negara. Bagi kita, bagiannya adalah menghormati keputusan-keputusan tersebut.

Ada dua landasan sebenarnya yang kita bisa mengerti atau pelajari tentang mengapa kita melakukan semuanya ini atau apa yang menjadi motivasi kita untuk melakukan semuanya ini.

Pertama-tama adalah karena Hormat adalah perintah Tuhan.

Hormat adalah perintah Tuhan, Itu sebabnya kita perlu melakukannya. Roh kuduslah yang membantu kita untuk melakukan apa yang menjadi perintah dan kehendakNya di dalam kehidupan kita. Tetapi pertama-tama yang penting saudara dan saya ketahui juga, Tuhan sendiri yang pertama-tama sudah menaruh bobot, menaruh nilai kepada kita untuk menjadi orang-orang percaya yang hidup di dalam kehormatan.

Itu sebabnya kalau kita lihat di dalam salah satu ayat Firman Tuhan yang tadi kita baca, Tuhan memerintahkan kita juga melalui ayat firman Tuhan ini untuk saling mendahului di dalam memberi hormat.

Supporting Verse – Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. Roma 12:10 TB

Kata hormat di sini dalam bahasa yunaninya, dalam bahasa aslinya itu adalah “tee-may”, memiliki arti sebagai memberikan respek, penghargaan dan juga dilihat sebagai perceived value, nilai yang diberikan atau dilihat oleh seseorang yang menghormati pribadi tersebut.

Ada penjelasannya, worth especially as perceived honor, kelayakan yang dilihat sebagai hormat yang diberikan. Makanya dari sini kita dapat kata “honor”, jadi kalau seseorang datang melakukan sesuatu dan kita hormati biasanya kita kasih dia honor atau penghargaan, berkat persembahan kasih dan seterusnya.

Nah, kalau saudara ingin meningkatkan honor yang saudara terima atau upah yang saudara terima, pastikan jangan datang dengan tuntutan tetapi justru saudara sendiri yang harus mengerjakan dan meningkatkan nilai yang ada di dalam diri saudara sehingga setiap orang yang bertemu dengan saudara bisa perceived honor di dalam kehidupan saudara.

In example, what has value in the eyes of the beholder, yaitu dilihat apa yang menjadi nilai atau bobot yang ada di mata orang yang melihat kita atau pribadi yang dihormati tersebut. Nah, seperti yang tadi saya katakan, bahwa Tuhan sendiri yang menaruh hormat di dalam kehidupan manusia.

Supporting Verse – Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Mazmur 8:4-6 TB

Saudara dan saya sebagai orang percaya sebagai tubuhNya, gerejaNya memang diciptakan untuk hidup di dalam kemuliaan dan kehormatan, bukan diri kita sendiri tetapi kemuliaan dan kehormatan yang diberikan dan dikaruniakan Tuhan kepada kita.

Itu sebabnya kehormatan seringkali berbicara lebih dalam kepada diri kita sendiri daripada kepada orang lain. Sebenarnya penting untuk kita belajar untuk terlebih dahulu tahu dan mengerti bagaimana cara menghormati sebelum kita menuntut hormat dari orang lain diberikan kepada kita.

Karena hormat lebih berbicara tentang bagaimana kita hidup, memberikan hormat di dalam diri kita sendiri. Itu sebabnya menghormati adalah sebuah keputusan untuk taat kepada perintah Tuhan. It’s a decision and a choice.

Kedua, adalah Kasih sebagai fondasi dari rasa hormat. 

Supporting Verse – Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Yohanes 14:21a TB

Jadi, Kasih seharusnya menjadi fondasi dari rasa hormat kita supaya rasa hormat yang kita berikan kepada Tuhan untuk memegang perintahNya dan melakukanNya bukanlah hasil dari kewajiban belaka, bukanlah hasil dari sebuah ritual agamawi saja tetapi hormat yang sejati seharusnya lahir dari kasih.

Jadi, kalau saudara dan saya bilang bahwa kita adalah orang-orang yang cinta Tuhan, Cinta Tuhan itu biasanya diwujudkan dengan sikap hormat dan takut akan Tuhan. Tidak meremehkan FirmanNya, tidak menganggap enteng hadiratNya, kita tunjukkan dengan menjunjung tinggi FirmanNya.

Kita tunjukkan dengan sikap menghormati kehadiranNya dengan melakukan segala sesuatu yang Dia perintahkan dengan keinginan untuk menyenangkan hati Tuhan.

Rasul Paulus mengerti ini, bahkan tadi di dalam Kitab Roma kita pelajari dibilang
“saling mengasihi dulu baru saling mendahului dalam memberi hormat”, karena kasih adalah landasan dan kekuatan fondasi untuk kita memberikan hormat yang benar kepada Tuhan dan juga kepada sesama.

Supporting Verse – Meskipun semua yang saya miliki, saya sedekahkan kepada orang miskin, dan saya menyerahkan diri saya untuk dibakar, tetapi saya tidak mengasihi orang-orang lain, maka semuanya itu tidak ada gunanya sama sekali. 1 Korintus 13:3 BIMK

Tidak ada gunanya, bisa jadi malah semuanya itu hanya sekedar pencitraan saja tetapi semua penghormatan yang kita berikan seharusnya datang dari kasih kepada Tuhan dan juga kepada sesama.

Saya tahu bahwa mungkin beberapa dari antara saudara berpikir bahwa “Oke, saya mengerti hormat adalah perintah Tuhan dan kasih seharusnya menjadi fondasi dari rasa hormat yang kita berikan tetapi semuanya itu seakan-akan lebih mudah memang untuk kita lakukan di lingkungan gereja aja seperti ini”.

Saudara lihat dari depan saudara datang dilayani dan dihormati, kita datang memuji dan menyembah Tuhan tetapi bagaimana dengan ketika kita keluar dari  4 dinding gereja ini, masuk dalam kehidupan kita sehari-hari di keluarga, di dalam pertemanan, di dalam persahabatan kita, apalagi ada budaya-budaya yang seakan-akan menyulitkan untuk kita hidup di dalam kehormatan.

Karena untuk kita dihormati, Biasanya kita harus melakukan sesuatu dulu, mencapai sesuatu dulu kalau tidak, kita tidak dihormati bahkan kita dijelek-jelekan dan dipermalukan oleh orang lain, atau mungkin ada budaya yang berpikir bahwa memang sudah seharusnya seperti itu :

  • Memang sudah seharusnya seorang Istri masak di rumah, untuk apa saya berterima kasih?
  • Sebagai suami memang sudah seharusnya seorang suami bekerja keras atau menjemput istrinya di kantor atau dijemput istrinya di mana untuk pulang, ngapain saya berterima kasih?
  • Atau kepada anak, memang sudah seharusnya dia belajar, dia bereskan kamarnya, dia ikut bantu bersihkan rumah, ngapain saya berterima kasih?
  • Memang sudah seharusnya dia dapat nilai ulangan bagus, ngapain saya berterima kasih?
  • Memang sudah seharusnya orang tua menyekolahkan anaknya, saya nggak perlu berterima kasih dong?

Tetapi anehnya kalau sama tukang ojek online diantar makanan atau sama paket aja, kita bilang “Thank you ya Mas!”, seakan-akan mereka lebih dekat dengan kita, seakan-akan lebih baik untuk menghormati orang yang tidak terlalu dekat daripada orang yang ada di sekitar kita.

Padahal kebahagiaan istri kita, kebahagiaan suami kita, kebahagiaan orang tua kita, kebahagiaan anak kita adalah kebahagiaan kita juga harusnya, Sementara kebahagiaan bapak ojek online, belum tentu kebahagiaan kita juga karena belum tentu kita ketemu dia lagi kan?

Atau mungkin juga karena budaya lain, hari-hari ini kita kenal dengan culture shaming atau di dalam social media kita sering mengejek, mempermalukan orang lain serta menjatuhkan atau menyalahkan orang lain. 

Di Australia dan di New Zealand, ada sebuah terminologi yang mereka pakai untuk culture seperti itu juga yaitu Tall Poppy Syndrome, dimana ada banyak orang yang sukses itu kehidupannya dikritik dan dicoba untuk dijatuhkan karena orang-orang tersebut ingin kelihatan lebih tinggi atau paling tidak sama tinggi dengan cara menjatuhkan orang lain.

Saya yakin kondisi-kondisi seperti ini adalah kondisi yang tidak kita sukai benar, saya yakin tidak ada orang yang suka dipermalukan. Seumur hidup saya baik sebelum jadi pendeta sama sudah jadi pendeta, belum pernah ada orang yang datang sama saya bilang begini “Aduh gua bersyukur banget tadi dipermalukan orang”, “Aduh saya Seneng banget tadi diejek-ejek sama dia”.

Bahkan tidak usah seperti itu,  belum ada yang ngomong begini “Saya bersyukur banget bulan ini gaji saya turun”, tidak ada, semuanya rata-rata komplain sebaliknya. Karena pada dasarnya, semua dari kita, we don’t like dishonor. Kita tidak suka dengan Ketidakhormatan. Kita tidak suka dengan hal-hal yang berhubungan dengan mempermalukan orang, menjelek-jelekkan orang apalagi kalau kita adalah orangnya.

Supporting Verse – Ketika Yesus sampai di Yerikho, Ia berjalan terus melintasi kota itu. Di kota itu ada seorang kepala penagih pajak yang kaya. Namanya Zakheus. Ia ingin melihat siapa Yesus itu, tetapi karena orang terlalu banyak dan ia sendiri pendek, maka ia tidak berhasil melihat Yesus. Lukas 19:1-3 BIMK

Sedikit background saja, penagih pajak pada zaman itu adalah orang-orang Yahudi yang bekerja untuk kekaisaran Romawi. Mereka biasanya mengambil pajak dan tidak jarang mereka juga mengambil atau meminta lebih untuk keuntungan diri mereka sendiri.

Oleh karena itu makanya mereka seringkali dianggap sebagai penghianat dari bangsa Yahudi karena mencoba untuk memeras bangsanya sendiri. Jadi bisa dibayangkan, di dalam masyarakat, mereka adalah orang-orang yang tidak menghormati dan tidak menyukai Zakheus.

Supporting Verse – Jadi, ia berlari mendahului orang-orang, lalu memanjat sebatang pohon, supaya dapat melihat Yesus yang sebentar lagi akan lewat di situ. Ketika Yesus sampai di pohon itu, Ia melihat ke atas lalu berkata, “Zakheus, turunlah cepat! Sebab Aku harus berkunjung ke rumahmu hari ini.” Lukas 19:4-5 BIMK

Nah, di dalam budaya pada saat itu, Yesus sengaja melakukan ini untuk memberikan gesture, menghormati Zakheus dimana tidak ada orang yang suka sama dia apalagi bergaul dengan dia, apalagi datang berkunjung ke rumahnya. Tetapi Yesus dengan sengaja tanpa memikirkan pendapat orang lain atau bahkan tidak dipengaruhi oleh reputasinya Zakheus, Yesus memberikan hormat dengan berkata bahwa dia ingin berkunjung ke rumahnya.

Supporting Verse – Zakheus cepat-cepat turun dan menyambut Yesus dengan gembira. Semua orang yang melihat hal itu mulai menggerutu. Mereka berkata, “Cih! Ia pergi bertamu di rumah orang yang tidak baik!” Kemudian di rumahnya, Zakheus berdiri dan berkata kepada Yesus, “Tuhan, separuh dari harta saya akan saya sedekahkan kepada orang miskin; dan siapa saja yang pernah saya tipu, akan saya bayar kembali kepadanya empat kali lipat!” Lalu kata Yesus, “Pada hari ini engkau dan seluruh keluargamu diselamatkan oleh Allah dan diberikan hidup yang baru, sebab engkau juga keturunan Abraham. Lukas 19:6-9 BIMK

Bayangkan, orang yang tadinya suka mengambil lebih bahkan untuk keuntungannya diri sendiri tiba-tiba hatinya berubah oleh karena gestur dan hormat yang diberikan Yesus kepada dia. Suatu perubahan hidup yang luar biasa yang terjadi kepada Zakheus oleh karena hormat atau nilai bobot yang diberikan oleh Yesus kepada dirinya.

Bayangkan jika anda menjadi seorang Zakheus, orang yang merasa bahwa dirinya
di-“despise”, dianggap sampah masyarakat tiba-tiba mendengar perkataan ini dari seorang nabi yang terhormat, bahkan yang dianggap sebaga Tuhan, bahwa dia atay Zakheus juga adalah keturunan Abraham, seperti Yesus memulihkan kembali citra diri dan kehormatan Zakheus, memulihkan kehidupannya, harga dirinya dan martabatnya kembali, bahkan juga martabat keluarganya.

Supporting Verse – Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan orang yang sesat.” Lukas 19:6-10 BIMK

Itulah yang Yesus lakukan. Dia datang untuk menyelamatkan Zakheus, orang yang selama hidupnya dipermalukan, tidak dihormati oleh karena pekerjaannya. Mungkin selama ini dia berkata bahwa “Aduh, udah deh percuma.. Apakah harus berhenti ya? Tetapi kalau berhenti sudah kadung terjerumus terlalu dalam”, tetapi tiba-tiba Yesus datang dalam kehidupannya, menunjukkan gestur dan hormat sehingga dia akhirnya diselamatkan.

Apa saja yang kita bisa pelajari?

Pertama adalah hormat harus dinyatakan dan diwujudkan.

Sebab hormat itu bukan cuma perasaan saja, bukan cuma ungkapan saja. Hormat seharusnya ditunjukkan.

Pertanyaannya apakah sikap perkataan dan perilaku kita selama ini sudah membuat orang lain merasa dihargai dan dihormati?

Sebuah pertanyaan untuk kita renungkan dan kita mulai ubah atau kalau sudah berarti sudah bisa teruskan di dalam kehidupan saudara dan saya sehari-hari.

Kedua, adalah hormat mendahului pengaruh.

Hormat seharusnya mendahului pengaruh. Ada begitu banyak orang ingin hidupnya berpengaruh tetapi mereka tidak mengerti bagaimana caranya untuk menghormati dan akhirnya yang terjadi malah sebaliknya, kehidupan mereka semakin tidak berpengaruh dan tidak disukai.

Ada begitu banyak orang yang mungkin ada di sekitar kehidupan Zakheus tetapi tidak berhasil membawa pengaruh di dalam kehidupannya karena mereka tidak tahu bagaimana caranya menghormati tetapi Yesus, pribadi yang muncul dalam kehidupan Zakheus datang bukan dengan ceramah, datang juga bukan dengan mempermalukan dia, atau menunjukkan kesalahannya tetapi Yesus datang dengan memberikan gestur hormat dan instantly, pada saat itu juga hatinya terbuka dan bertobat.

Itu sebabnya hormat mendahului pengaruh. Pertanyaannya adalah apakah kehadiran kita di dalam kehidupan orang lain sudah membawa pengaruh yang baik bagi kehidupan orang tersebut?  

Sesuatu yang perlu kita refleksikan dalam kehidupan kita. dan yang terakhir yang ketiga adalah Hormat mengeluarkan yang terbaik dari orang lain.

Apa yang Yesus lakukan, memulihkan citra diri, mengeluarkan potensi yang terbaik dari dalam diri Zakheus untuk menjadi orang yang murah hati orang yang generous melalui gestur hormat yang Dia berikan kepada orang tersebut.

Apakah kehadiran kita sudah membantu orang lain mengeluarkan yang terbaik dari dalam diri mereka? Apakah kehadiran kita sudah membantu dia menggali potensi yang ada di dalam dirinya atau justru sebaliknya malah membuat orang tersebut hidup dalam ketakutan dan tidak berani mengeluarkan potensinya, tidak berani mencoba sesuatu yang baru?

Tetapi sebenarnya yang harus kita lakukan adalah selalu menghargai, menaruh bobot, nilai dalam kehidupan seseorang supaya yang terbaik dapat keluar melalui kehidupan orang tersebut.

Gereja seharusnya menjadi tempat dimana seseorang merasa diterima, dan dihargai. Seseorang merasa dikasihi apa adanya bahkan didorong untuk mengeluarkan yang terbaik dari dalam dirinya sebab gereja adalah tempat dimana kita belajar untuk saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat karena gereja, jemaat komunitas Kristus ini seharusnya menjadi komunitas yang tahu dan mengerti bagaimana caranya menghormati Tuhan dan menghormati satu sama lain.

Let’s choose to do that, karena saudara bayangkan kalau kita semua melakukan hal ini, menjadi jemaat, menjadi gereja, menjadi orang percaya, menjadi perwakilan Tuhan Kerajaan Allah di dunia ini tahu bagaimana saling mengasihi dan tahu bagaimana saling menghormati bahkan mendahului berlomba-lomba untuk memberikan hormat kepada satu sama lain.

Terlepas dari keadaan apapun yang mungkin ada di sekitar kita, dunia paling tidak, saya yakin dunia paling tidak akan dapat melihat gambaran kira-kira seperti apa kalau tuhan memerintah atas kehidupan seseorang, kalau Tuhan menjadi raja atas kehidupan kita dan dunia paling tidak bisa merasakan seperti apa ketika surga hadir di dunia ini, di bumi ini karena di sekitar kehidupan mereka ada orang-orang yang tahu bagaimana saling mengasihi dan memberi hormat kepada satu sama lain.

Saya berdoa supaya firman Tuhan ini memberkati kita semua, Amin.

P.S : If you like our site, and would like to contribute, please feel free to do so at : https://saweria.co/316notes