JPCC Sutera Hall Service 2 (18 February 2024)
Selamat pagi dan Selamat datang di JPCC, di area Alam Sutera. Berikan terima Kasih kepada teman-teman yang sudah melayani kita dengan luar biasa. Apa kabar saudara semua? Hari ini saya akan meneruskan apa yang sudah menjadi pembahasan kita selama beberapa minggu yaitu tentang “The God-kind of Love“.
Dimana kita sudah belajar bahwa Kasih adalah fondasi dari semua hubungan yang sehat dan kuat. Di minggu pertama kita belajar bahwa Kasih Tuhan, Kasih yang rela berkorban demi kepentingan orang lain. Inipun kalau kita teliti, dan lakukan, banyak yang sulit. Karena sebagai manusia kita tidak mudah untuk berkorban demi kepentingan orang lain.
Dan di minggu kedua Tuhan memakai pernikahan untuk menggambarkan KasihNya kepada manusia. Pernikahan adalah cetak biru atau blueprint daripada Kasih Tuhan kepada jemaatnya, bayangkan Dari semua hal yang Tuhan bisa pakai untuk menggambarkan KasihNya, Dia memakai pernikahan kita.
No wonder, tidak heran kalau si jahat berusaha untuk menghancurkan pernikahan, karena itulah yang Tuhan pakai, dan kalau blueprintnya rusak, kalau pernikahannya hancur, maka siapapun yang ada di dalamnya, berhubungan langsung dengan pernikahan itu akan terpengaruh disekitarnya dan tidak akan bisa melihat gambaran tentang Kasih Bapa dengan jelas.
Itu sebabnya kita harus ekstra hati-hati dalam menghadapi pernikahan kita, Dan itu sebabnya JPCC berusaha memperlengkapi sehingga saudara semua punya modal yang kuat untuk menjalani pernikahan saudara.
Minggu ini saya juga akan berbicara tentang pernikahan karena kita semua adalah produk dari sebuah hubungan antara suami Dan istri. Kasih Ilahi adalah fondasi yang akan menghasilkan the God’s kind of marriage, dan itu akan menghasilkan keluarga-keluarga yang kuat dan bangsa yang kuat.
Kalau saudara mengerti cara bekerja sesuatu maka saudara akan mengerti cara memperbaikinya saat itu rusak.
Opening Verse – Hal itu sesuai dengan yang tertulis dalam Kitab Suci, “Dalam pernikahan, seorang laki-laki akan meninggalkan orangtuanya dan bersatu dengan istrinya, sehingga mereka berdua menjadi satu.” Efesus 5:31 TSI
Pertama, konteks yang sesuai dengan Firman di pernikahan adalah antara pria Dan wanita. Tujuannya adalah bukan untuk menjadi bahagia, tetapi tujuannya agar mereka menjadi satu, Dua itu menjadi Satu, Unity is the goal of Marriage, not Togetherness. Kesatuan adalah tujuan Dari pernikahan, Oneness.
Tentunya pernikahan yang sehat akan mengalami kebahagiaan, ini adalah hasil dari dua menjadi satu, jadi jangan kejar hasilnya tetapi diusahakan akarnya.
Pernikahan yang sehat dan bukan sempurna karena tidak ada yang sempurna. Yang kita tuju dan inginkan adalah pernikahan yang sehat, Sehat bukan kondisi yang permanen, kalau kita sehat, kita perlu menjaganya agar besok tetapi menjadi sehat.
Kalau kita tidak sehat, kita harus berusaha agar kita menjadi sehat. Kalau kita tidak hati-hati dan menjaganya, besok bisa jadi kita menjadi tidak sehat. Dari pernikahan yang sehat, kita bisa mendapakan kebahagiaan dan kesenangan, itu adalah hasil Dari pernikahan yang sehat.
Usahakan kesatuan, tetapi perlu diakui bahwa Dua orang dengan Jenis, pengalaman, budaya, pekerjaan, kehidupan sosial, dan karakter yang berbeda, kemudian menjadi satu bukanlah perkara yang mudah. Sangat susah bahkan, belum lagi ditambah dengan era media sosial dimana sangat mudah melihat kehidupan sosial masing-masing pasangan, belum lagi kalau jemaatnya besar, tentu bertambah berat.
Jadi kalau pernikahan saya bisa bertahan sampai hari ini dan enjoy, itu karena Kasih Karunia Tuhan, belum lagi juga karena masing-masing juga punya kekuatan dan kelemahan sendiri. Masing-masing juga masih manusia, dan bergumul dengan kekuatan dan kelemahannya, serta rentan akan dosa.
Semakin banyak perbedaan maka semakin besar tantangan untuk menjadi satu. Dan sejak mereka dipersatukan Tuhan dalam pernikahan, ada usaha-usaha dan begitu banyak faktor baik disengaja atau tidak, ada faktor internal maupun external yang mencoba untuk melepaskan ikatan tersebut, menarik mereka ke arah yang berbeda.
Contohnya, Jika saudara punya anak, hal itu bisa menjadi faktor. Seharusnya anak itu menjadi berkat tetapi pada saat anak itu hadir di rumah saudara, kebanyakan suami istri menaruh anak itu bukan di ranjangnya sendiri tetapi di ranjang ayah dan ibunya, memisahkan pasangan itu. Tetapi akibat dia ada di tengah-tengah, keintiman saudara jadi terganggu. Ada yang lupa angkat sampai SD, dan ada di tengah-tengah terus. Semakin lama dia tidak diangkat dan dipindahkan, semakin dianggap itulah tempat tinggal dia dan susah untuk dipindahkan. Padahal dia datang sebagai berkat.
Saya masih ingat anak perempuan saya ketika saya dan istri saya sedang bergandengan tangan, dia selalu mengejar, memisahkan dan ingin berada di tengah kami berdua. Dan itu dilakukan bertahun-tahun sampai dia sudah besar dan malu sendiri akhirnya.
Belum lagi faktor lain seperti dengan sebuah kesibukan masing-masing seperti bisnis, orang tua, pekerjaan dan pelayanan, Ada begitu banyak faktor yang menjauhkan dan menarik ikatan tersebut, Dan kalau tidak ada usaha secara sengaja untuk mempertahankannya, maka tidak heran akibatnya meskipun masih menikah, tetapi pertumbuhan suami istri terpisah dan bukan di dalam kesatuan.
Jadi perlu ada usaha secara sengaja, membangun kebiasaan yang merajut kesatuan. Jangan berhenti pacaran meski sudah menikah. Baik itu liburan bersama keluarga, Dan juga utamanya liburan bersama pasangan saja. Harus ada rencana untuk merajut kesatuan, sebab harga yang dibayar untuk merajut kesatuan jauh lebih murah daripada harga yang harus dibayar ketika terjadi perceraian atau perpisahan.
Kalau bercerai segala sesuatu akan menjadi lebih mahal, apalagi jika sudah punya anak. Anak yang ulang tahun biasanya hanya diperlukan 1 kado, tetapi disaat perpisahan terjadi tentu akan menjadi double biaya semuanya.
Diperlukan begitu banyak usaha untuk merajut kesatuan dan keintiman, diperlukan komitmen untuk terus mau belajar dan mempelajari pasangan masing-masing, komunikasi, dan kompromi. Kompromi itu perlu, tidak bisa mau menang sendiri terus. Sekali-kali harus mengalah mesti tidak suka supaya yang kita cintai bisa mendapatkan apa yang dia mau.
Kita perlu terus belajar karena kita selalu berubah, secara fisik juga demikian. Itu sebabnya kita harus terus belajar, dan ini sebabnya pernikahan tidak ada sekolahnya, kita tidak akan pernah bisa lulus dan akan terus belajar sampai maut memisahkan kita.
Contohnya, semakin saya menjadi tua, pendengaran saya makin berkurang. Menjadi lebih kurang peka apalagi kalau istri saya ngomong sambil jalan atau sambil memakai hairdryer. Kalau saya tidak bisa tangkap omongannya yang pertama atau kedua kali, maka dia akan mulai complain.
Itu sebabnya kita harus punya komitmen untuk terus belajar. Love is a commitment based on a decision. You don’t fall in love, you choose to love. Love is a decision.
Saudara tidak jatuh cinta begitu saja, saudara memutuskan untuk mencintai, dan saudara juga tidak membenci begitu saja, itu karena saudara sudah memutuskan untuk tidak mencintainya. Perasaan hanya mengikuti keputusan yang saudara buat.
Masalahnya banyak pasangan ketika masuk dalam pernikahan tidak menyadari betapa pentingnya ketiga hal yang saya sebutkan diatas yaitu komitmen, kompromi dan komunikasi. Mereka pikir karena sudah saling cocok dan “so in love” juga, mengapa tidak boleh menikah?
Tetapi setelah menikah, mereka menemukan bahwa yang menyulitkan mereka karena begitu banyak ketidak-cocokan, dan karena sebelum menikah dan saat pacaran, mereka sibuk mencari kecocokan agar mendapat approval dari orang tua dan tidak konsentrasi akan hal-hal yang tidak cocok.
Oleh karena itu orang tua juga seharusnya sadar, Dan bertanya kepada anak mereka apakah ada ketidak-cocokan yang ada disaat anaknya berpacaran, apa saja yang tidak disukai dari pacar mereka. Karena itu yang akan membuat susah disaat mereka menikah.
Karena jika tidak tahu bagaiman cara merespon ketidakcocokan disaat pacaran, maka tidak heran jika kita akan mengalami gelagapan disaat menemukan ketidakcocokan dalam pernikahan yang bisa berujung pada rasa frustrasi. Akan menjadi berat untuk mencintai disaat kita merasa frustrasi duluan.
Tujuan pernikahan adalah Oneness. Bicara soal oneness, bicara soal keintiman baik secara emosional, spiritual dan mental.
Mengapa kesatuan penting dalam pernikahan?
1. Karena kesatuan Dan kerukunan akan mendatangkan berkat
Kesatuan tidak terjadi secara sendiri dan harus secara sengaja dikerjakan. JPCC tidak menaruh Kotak kolekte karena saya sadar bahwa berkat itu adalah hasil daripada persatuan Dan kerukunan.
Makanya sampai hari ini, tidak ada perpisahan di antara kita para leaders. Tetapi sulit untuk merajut persatuan dan perlu banyak energi, tetapi saya tahu jika tidak dilakukan costnya akan jauh lebih besar.
Supporting Verse – Nyanyian ziarah Daud. Alangkah baiknya dan senangnya, kalau umat Allah hidup rukun! Itu seperti minyak wangi berharga yang dituangkan ke atas kepala Harun, lalu turun ke leher bajunya. Atau seperti embun di Gunung Hermon, yang turun ke bukit-bukit Sion. Di sanalah Tuhan menurunkan berkat-Nya, kehidupan untuk selama-lamanya. Mazmur 133:1-3 BIMK
Kerukunan itu seperti saudara punya alamat dimana akan membuat mudah dan gampang untuk orang mengirim paket ke alamat saudara. Karena kalau kita tidak ada alamat, paket tidak bisa dikirim dan kita harus keluar rumah dan mengambilnya, dimana seharusnya paket itu bisa dikirim dengan sendirinya.
Jadi kerukunan, kesatuan dan keintiman itu seperti kita ada alamat, kalau kita menjaga kerukunan seberat apapun juga, selama kita punya alamat maka Tuhan akan mengirim BerkatNya. Sebetulnya kita tidak perlu mengejar sesuatu yang bisa datang sendiri, itulah kerukunan, keintiman dan kesatuan. Fokus saudara mau mengejar berkat apa kerukunan? yang sebetulnya berkat bisa datang sendiri jika saudara ada alamatnya.
2. Kesatuan melipatgandakan Kekuatan (Kuasa)
Pernikahan merupakan sebuah hubungan yang interdependence, dua orang mandiri dan memutuskan untuk menjadi satu, ada saling ketergantungan, itu adalah sinergi, saya menjadi kita, “me” become “we”.
Confluence, the coming together of two streams. Jadi kalau sendirian saya bisa tetapi berdua saya menjadi luar biasa dan sulit untuk diputuskan, dan tiga bersama dengan Tuhan tidak mungkin untuk diputuskan.
3. Kesatuan mencerminkan Tuhan Dan hubungannya dengan Jemaat
Supporting Verse – Hal itu sesuai dengan yang tertulis dalam Kitab Suci, “Dalam pernikahan, seorang laki-laki akan meninggalkan orangtuanya dan bersatu dengan istrinya, sehingga mereka berdua menjadi satu.” Ajaran yang baru saja saya tuliskan itu sangat dalam artinya. Tetapi arti yang mau saya tegaskan adalah tentang Kristus dan kesatuan seluruh jemaat-Nya. Efesus 5:31-32 TSI
Menjadi satu bukan berarti menjadi sama, Unity is not Uniformity, Oneness is not “sameness”, menjadi satu artinya masing-masing membawa perbedaan untuk saling melengkapi satu dengan yang lainnya. Dalam pernikahan setiap pasangan membawa kekuatan masing-masing untuk menghasilkan kekuatan yang lebih besar.
Sepadan bukan berarti selalu harus sama. Sesuai, dan enak dipandang, saling melengkapi satu dengan yang lain, itulah goalnya. Unity is the goal of marriage, kesatuan adalah tujuan daripada pernikahan.
Efesus pasal kelima ini sering disebut saat pemberkatan pernikahan. Menariknya setelah Paulus menjelaskan apa yang terjadi melalui hubungan vertical antara kita dengan Tuhan, lalu Rasul Paulus menjelaskan hubungan yang horizontal. Di tengah surat ini dia menjelaskan aplikasi yang luar biasa tentang hubungan suami istri.
Supporting Verse – Janganlah kamu mabuk-mabukan, karena mabuk menjerumuskanmu ke dalam berbagai dosa. Sebaliknya hendaklah hidupmu dikuasai Roh Allah dengan selalu bernyanyi kepada TUHAN dalam hatimu, dengan saling menguatkan lewat lagu-lagu pujian bagi Allah— baik lagu dari Kitab Mazmur, Firman Allah, maupun lagu rohani yang lain, juga dengan mengucap syukur atas segala hal kepada Allah Bapa melalui Penguasa kita Kristus Yesus. Efesus 5:18-20 TSI
Untuk kita bisa mengalami Gods kind of Love and marriage, kita perlu hidup dalam Kuasa Roh Kudus, itu sebabnya kita harus mengembangkan kebiasaan bahwa kita butuh Tuhan di pusat hidup kita dan salah satunya adalah melalui lagu. Supaya kita diingatkan akan Tuhan, dan di dalam atmosfer rumah kita juga selalu mengingatkan kita akan Tuhan dan KuasaNya.
Saudara bisa rasakan begitu memutar lagu penyembahan maka suasana hati kita juga akan berubah Dan mengingatkan kita bahwa kita perlu kekuatan Tuhan bersama dengan kita. Itu namanya kerendahan hati yang juga merupakan kunci Dari kesatuan. Humility is the key to Unity.
Supporting Verse – Hendaklah kamu rendah hati dan bersedia menghormati kemauan satu sama lain. Dengan begitu kamu juga menghormati Kristus. Efesus 5:21 TSI
Kerendahan hati adalah kunci utama dari keberhasilan God’s kind of marriage. Tidak mudah dan susah, karena kita tidak mau belajar untuk rendah hati terutama disaat ada argumen, tetapi jika kita bisa menghormati dan tunduk satu sama lain, itu sama saja dengan kita tunduk kepada Kristus.
Makanya kita harus memakai kekuatan Tuhan, belajar untuk menyenangkan orang yang kita cintai meskipun kita tahu kita benar. Firman Tuhan mengajarkan bahwa suami istri adalah Ahli Waris dari Kasih Kristus, Itu semua mudah untuk mencintai disaat semua sesuatu masuk akal, tetapi perlu kerendahan hati disaat sebaliknya, terutama disaat mereka menyebalkan dan tetap merasa benar, perlu kerendahan hati untuk tetapi bisa kompromi karena kita bukan lagi dua orang yang berseberangan, kita sudah menjadi satu tim, bukan musuh yang perlu dihadapi.
Seringkali saya perlu mengingatkan diri disaat ingin saling menang argumen, kita ini adalah satu tim dan untuk itu perlu kerendahan hati, apalagi disaat dapat konfirmasi oleh anak kita, tetapi biarkan saja, karena nanti pasangan juga akan sadar sendiri. Itu untungnya menjadi Hamba Tuhan, terus belajar untuk rendah hati dan berkorban apalagi jika disaat harus kotbah setiap minggu.
Tetapi kadang-kadang saya yang salah dan tidak masuk akal untuk istri saya dan dia mengalah untuk saya, we are human, dan kita tidak bisa bilang bahwa kita tidak pernah salah di depan anak kita, oleh karena itu diperlukan kerendahan hati untuk saling tunduk satu dengan lain, kesatuan adalah hasilnya.
Orang yang rendah hati sadar bahwa dia tidak selalu benar, butuh pertolongan dari Tuhan dan pasangannya, selalu mau belajar, mau merayakan kemajuan dan keberhasilan orang lain dan cepat mengampuni orang lain. Dia sadar bahwa hidupnya bukan untuk diri sendiri tetapi untuk menjadi berkat bagi banyak orang.
Your best day is ahead of you. We fight for our spouse and not against one another. Kita ini melawan evil forces, dan berbagai hal external yang mencoba memisahkan kita, tetapi ingat bahwa kita bukan melawan satu sama lain karena kita adalah satu tim di dalam kehidupan pernikahan kita.
Tidak mudah untuk mengajar pernikahan disini, karena apa yang kita ajar langsung diperhatikan oleh orang, apakah apa yang diajar sesuai, dan tentunya semakin banyak mata yang memperhatikan pernikahan kami, tetapi semua ini adalah tentang Tuhan yang memberikan kekuatan kepada kami, Roh Kudus yang memampukan kami, memang ada bagian yang harus kita lakukan tetapi bukan kekuatan kami, tetapi Roh Kudus, Dan kalau kita jadikan Tuhan di tengah pernikahan kita, maka semua hal menjadi mungkin dilalui.
With God, you can enjoy your marriage, Dan yang diberkati seterusnya juga banyak orang yang kenal dengan kita terutama anak-anak kita. Mari kita bersama-sama merajut kesatuan berapapun harga yang harus dibayar karena harga perceraian jauh lebih mahal.
P.S : Mau info aja bahwa aku baru2 ini join supplier daging untuk Restoran dan B2C bernama Beli Babi, Bli! (BBB). Bagi yang tertarik, Feel free to visit our retail store (utk area Alsut, Tangerang, dan sekitarnya) ya : https://tokopedia.link/SZAWN1pxNGb
Also, If you like our site, and would like to contribute, please feel free to do so at : https://saweria.co/316notes



