JPCC Sutera Hall 2nd Service (12 July 2026)
Wow, selamat siang, atau pagi menjelang siang, sutera hall dan juga saudara semua yang sedang menonton dimanapun saudara berada. You may be seated. Sembari saudara duduk, Boleh saudara kasih high five ke kanan, kiri, saudara.
Can we appreciate our volunteers? Semua yang sudah melayani Tuhan dari pagi, Luar biasa. Betul saya diimpor, tidak jauh dari sini. Saya selalu terkejut dengan ibadah yang tadi pagi mulai jam 7.15 ya. Karena siap-siapnya lumayan, lumayan lebih pagi. Kami di Upper Room selalu terlalu agak dimanja. Ketika semua orang sudah siapin anak-anaknya, datang ke gereja. Kami masih tertidur dengan lelap.
Tapi hey, Alkitab berkata, “diberkatilah mereka yang sedang tidur”. Salah satu ayat favorit saya itu. But hey, look at you guys, Full House! Who loves the house of God? Siapa yang bersyukur ada di rumah Tuhan pagi hari ini?
Opening Verse – Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah – sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur. Mazmur 127:2 TB
Minggu lalu, Kita merayakan ulang tahun ke-27 JPCC, dan saya bersyukur untuk gereja lokal ini, saudara bersyukur untuk komunitas ini? Kita sedang ada dalam seri atau tema pembelajaran “Blessed Beyond Measure”, dan minggu lalu kita belajar salah satu wujud berkat Tuhan yang luar biasa yang seringkali kita “overlook”, kita gak sadar atau terlewatkan dalam hidup kita, yaitu apa? The gift of community.
Komunitas yang Tuhan tempatkan untuk kita berada. Saya ingat, Pertama kali saya datang ke JPCC, saya berusia 19 tahun. Saya masih kuliah waktu itu, kebetulan kuliahnya di luar negeri. Saya mampir pulang liburan. Saya datang ke JPCC waktu itu, belum ada The Kasablanka ataupun Sutera Hall saat itu, masih di Upper Room. Dan saya bersyukur bahwa saya menggembalai kampus itu (Upper Room).
Di sini ada Pastor Ribka, Ribka orang pertama yang saya ketemui, saya ingat banget. Itu 21 tahun lalu, sekarang anda tahu umur saya. Saya bersyukur karena saya bisa ada, atau bisa menjadi seperti saya hari ini, itu karena bukan kehebatan saya seorang, tetapi karena ada orang-orang yang Tuhan taruh di komunitas ini, di gereja lokal ini yang membentuk saya, yang menjadi “role model” buat saya.
Pastor Sidney, Pastor Jeffrey, Pastor Jose, semua Pastor yang ada. DATE leader saya dulu. Jadi jangan lupa cobain DATE yuk. Banyak selipannya ya. Tapi apa yang saya coba katakan adalah bahwa saudara kita harus sadar bahwa kita diberikan sebuah berkat yang luar biasa yang disebut dengan gereja lokal. Jadi, jangan lupa, jangan terlewatkan, jangan lupa, karena Tuhan mau bekerja dengan luar biasa di dalam dan melalui komunitas di mana kita berada.
Jadi, saya harap anda tidak lupa atau melewatkan ini, saya benar-benar berterima kasih untuk setiap orang yang Tuhan taruh. Saya menikah, saya bertemu dengan suami saya di gereja ini, saya dimentori oleh para PT Facilitator, tadi di Ibadah 1 ada Ko Markus dan Ci Adhika. Waktu saya ikut R-Rated pada jaman itu ya, mereka usia pernikahannya sudah 23 tahun. Ya, tadi saya tanya berapa sekarang tahun ini? 35 tahun.
You know, I didn’t grow up with that. Saya tidak lahir dari keluarga yang harmonis. I came from a broken home background. Jadi saya tidak punya contoh, saudara. Dan saya bersyukur ada orang-orang yang menjadi contoh. So, Itu yang ingin saya katakan, Jangan rindukan dan lewatkan berkat itu. Amin.
Dan hari ini kita akan melanjutkan pembelajaran kita tentang Berkat Tuhan, saya beri judul “Blessing beyond Prosperity“. Berkat yang melampaui kemakmuran. Saya mau tanya, apa yang ada di pikiran anda saat mendengar kata prosperity atau kemakmuran?
Beberapa dari saudara, Saya bisa baca pikiran saudara. Saudara bilang, “Amen Pastor!. Akhirnya JPCC bicara tentang prosperity!”.
I hear you, I hear you. Ini saatnya bicara tentang berkat yang sesungguhnya, chill. Ada yang komentar beberapa waktu yang lalu, “Kok JPCC bicaranya tentang suffering terus gitu ya?”. Hari ini adalah harimu. Well, that’s one, atau many of you. Kata seperti itu dalam pikiran saudara. Tapi juga saya tahu ada orang-orang yang berpikir “on the other extreme”. Seharusnya kita sebagai orang Kristen, kita tidak bicara dong ya tentang kemakmuran.
Bukankah Yesus bilang, berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah. Karena merekalah yang punya kerajaan surga. Sudah seharusnya dong, orang Kristen itu hidupnya susah, miskin, menderita. Suffering for Jesus.
Supporting Verse – “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Matius 5:3 TB
Oke, I hear you too. Tetapi saudara, saya mau berikan beberapa hal sebelum kita belajar lebih jauh mengenai berkat yang sesungguhnya. Ada hal yang perlu kita pahami bahwa pertama, ada perbedaan antara hidup sederhana dan hidup menderita.
Pertama, Hidup sederhana berarti kita ini belajar untuk belajar berkata “cukup” atas apa yang Tuhan sudah percayakan sama kita.
Hidup sederhana artinya mampu membedakan antara kebutuhan dengan keinginan. Tahu prioritas. Hanya karena kita mampu melakukan sesuatu atau membeli sesuatu, bukan berarti kita perlu atau harus melakukannya atau memilikinya. Apalagi hidup di atas kemampuan finansial yang Tuhan percayakan sama kita. Alkitab mengajarkan hidup sederhana. Yesus sendiri meneladani hidup yang sederhana. Kita tidak melihat Yesus hidupNya itu punya lifestyle yang mengejar kemewahan, atau menjadikan kenyamanan hidup tujuan hidupNya.
Tetapi di saat yang bersamaan, kesederhanaan Yesus bukan berarti Dia menolak yang namanya sukacita hidup, atau kebaikan-kebaikan yang Tuhan berikan di dalam hidup ini. Kita bisa lihat dalam Injil, Yesus menikmati kehidupanNya, enjoying life. Dia ada bersama dengan sahabat-sahabatNya, kita temukan Dia sering makan dengan orang-orang yang memiliki latar belakang sosial yang berbeda-beda.
Kita baca bagaimana Yesus hadir di dalam pernikahan, having a good time. Dia makan sama sahabat-sahabatNya, sama murid-muridNya. Yesus menunjuki dan meneladani kehidupan yang sederhana. Tapi Dia tidak hidup dengan cara yang menolak kebaikan-kebaikan yang Tuhan berikan. Itu yang pertama.
Kedua, kita juga perlu mengerti bahwa Yesus tidak pernah menolak atau menghardik orang kaya hanya karena mereka kaya. Dia tidak pernah lakukan itu.
Yang Yesus peringatkan adalah bahaya ketika kekayaan mulai mengambil tempat Tuhan dalam hati seseorang. Itu sebabnya Dia berkata bahwa orang kaya itu lebih sukar masuk ke dalam kerajaan Allah. Kenapa?
Karena seringkali mereka jadi lebih mengandalkan kekayaan mereka dibandingkan mengandalkan Tuhan. Itu sebabnya kalau saudara ingat ada cerita atau kisah di Injil ketika seorang kaya masih muda, kaya. Dan dia datang sama Tuhan Yesus, dia bilang, guru bagaimana aku bisa masuk dalam kerajaan Allah? Lalu Yesus bilang, jual semua kekayaanmu dan ikutlah Aku. Dan kita kalau baca ceritanya, apa yang terjadi saudara? Akhirnya orang muda kaya ini sedih, sedih hatinya dan pergi meninggalkan Yesus. Ternyata anak muda itu, dia lebih mengasihi kekayaannya dibandingkan mengasihi Tuhan.
Supporting Verse – 19:16 Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” 19:17 Jawab Yesus: “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.” 19:18 Kata orang itu kepada-Nya: “Perintah yang mana?” Kata Yesus: “Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, 19:19 hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” 19:20 Kata orang muda itu kepada-Nya: “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?” 19:21 Kata Yesus kepadanya: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” 19:22 Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya. Matius 19:16-22 TB
Tapi sekali lagi, Tuhan tidak pernah menghardik orang kaya hanya karena mereka kaya. Tuhan dengan jelas berkata di Genesis, jadi kejadian, Dia janji sama Abraham, Dia bilang seperti ini, Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang apa? Yang besar dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur dan engkau akan menjadi apa saudara? menjadi berkat.
Perhatikan bahwa Tuhan tidak memberkati Abraham supaya berkat itu hanya untuk dirinya sendiri.
Supporting Verse – Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Kejadian 12:2 TB
Tetapi berkat itu diberikan dengan sebuah purpose. Sebuah tujuan. Yaitu supaya melalui hidupnya, bangsa-bangsa yang tidak kenal Tuhan bisa melihat Tuhan bekerja dalam hidupnya. Dia bisa memberkati banyak orang melalui apa yang Tuhan berikan. Sama dengan saudara dan saya. Saudara dan saya diberikan. Dipercayakan banyak, tetapi kepada siapa dipercayakan banyak, juga dituntut banyak.
There’s a purpose, atas setiap sumber daya yang Tuhan berikan di dalam hidup kita. Itu sebabnya kemakmuran dapat menjadi salah satu bentuk atau wujud daripada berkat Tuhan, dimana kita tidak perlu menjadi anti atau memusuhi atau merasa bersalah ketika Tuhan kasih kita kelimpahan, tetapi, perhatikan, kelimpahan atau provision yang kita terima dari Tuhan tidak boleh menggantikan posisi sang provider, the provider di dalam hidup kita. Amen?
Prosperity is a possible expression of God’s blessing, but its never the full definition of God’s blessing.
Jadi kemakmuran adalah ekspresi yang bisa dikatakan sebagai berkat Tuhan, tetapi tidak pernah menjadi definisi penuh dari berkat Tuhan. Kemakmuran adalah salah satu wujud berkat Tuhan, tetapi kemakmuran tidak pernah menjadi definisi penuh dari berkat Tuhan.
Anda lihat, seringkali yang jadi masalah itu bukan bentuk berkatNya. Tetapi seringkali yang jadi masalah adalah perspektif kita tentang berkat itu sendiri. Itu yang jadi akar masalah kita. Kita seringkali mengukur berkat dari apa yang sedang terjadi kepada kita. Dan bukan dari siapa yang hadir bersama dengan kita. Saya ulangi.
Seringkali masalah yang kita hadapi adalah kita itu mengukur Berkat Tuhan dari apa yang sedang terjadi kepada kita, kalau suasana atau situasi lagi baik-baik saja, bisnis kita lagi going well, kita lagi sehat, baru kita merasa diberkati. Kita mengukur berkat Tuhan dari situasi yang terjadi kepada kita. Dan bukan dari siapa yang sedang ada atau sudah ada bersama dengan kita. Kalau keadaan buruk, kita mulai bertanya, “Tuhan, di mana berkatMu? Katanya aku anak Tuhan. Katanya Tuhan memberkati saya. Benar gak sih?”
Berkat Tuhan itu adalah, “Hey, Kita lupa bahwa siapa yang sudah ada bersama dengan kita adalah berkat yang paling sejati dan berharga yang kita miliki”. Kita memiliki Tuhan bersama kita. Tuhan yang sudah menciptakan langit, bumi dan semua isinya. Our King and Our Savior is with us, itu adalah berkat yang paling indah yang bisa kita miliki, saudara.
Itu sebabnya hari ini kita mau belajar agar kita bisa menjadi pribadi yang tidak mengukur keadaan kita sama dengan berkat kita, tetapi kita melihat kehadiran Tuhan yang bersama-sama dengan kita.
Nah, itu sebabnya saya mau ajak saudara untuk melihat salah satu teks dalam Alkitab. In fact, this is a song that we’re going to look together, yang ditulis oleh seorang bernama “Asaf”. Kita akan melihat sebuah lagu yang ditulis oleh Asaf, seorang pemimpin pujian di jaman perjanjian lama di Bait Allah. Dia menulis cukup banyak lagu di Mazmur.
Dan ada satu bagian yang sangat terkenal, yang seringkali banyak penulis lagu hari ini, referensinya dari sini. Now you know. Kita baca bersama di Mazmur 73, ayat 25-26.
Supporting Verse – Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya. Mazmur 73:25-26 TB
Siapa yang sering mendengar lagu seperti itu? Now you know dari Alkitab bagian mana referensinya. Saudara, Asaf, dalam lagunya, dalam liriknya ini. Dia memberikan sebuah pernyataan yang sangat-sangat luar biasa. Kalau saudara baca ini, saya waktu membaca ini, saya berpikir, “Wow, this guy has an amazing faith! Bener gak? Imannya luar biasa banget!
Tapi saudara, kalau kita baca dari awal lagunya, ternyata Asaf gak selalu jadi orang yang seperti ini. Mazmur 73 tidak dimulai dengan sebuah pernyataan iman yang kuat. Bahkan, in fact, lagu ini menceritakan sebuah perjalanan iman Asaf yang sebenarnya dia ngalamin yang namanya “krisis iman”.
Dia sempat hampir meninggalkan keyakinannya. It’s amazing. Kita mau sama-sama ikuti. Saya mau ajak saudara untuk mengikuti perjalanan Asaf melalui lagu yang dia tulis. Kita baca dari ayat yang pertama, tetapi tentu dengan waktu yang terbatas. Saya tidak baca semua ayat-ayatnya. Nanti saudara bisa membaca sendiri di rumah. Akan ada berapa milestone yang akan saya coba bacakan. Ayat yang pertama dikatakan seperti ini.
Supporting Verse – Mazmur Asaf. Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya. Mazmur 73:1 TB
Tulus hatinya, dan bersih hatinya. Nanti saya akan kembali ke ayat ini, karena sebenarnya ayat ini dimulai dengan sebuah kesimpulan. Jadi, sama seperti banyak penulis lagu, terkadang perjalanannya disimpulkan lalu ditaruh di awal lagunya. Kira-kira seperti itu yang terjadi. Tapi saya mau teruskan lebih dulu ke ayat 2 dan 3. Karena ini yang dialami oleh Asaf.
Supporting Verse – Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir. Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik. Mazmur 73:2-3 TB
Ternyata orang yang menyimpulkan bahwa Allah itu baik, pernah hampir meninggalkan pernyataan iman itu. Asaf sempat ngalamin yang namanya cemburu. Dia sempat iri hati sama orang-orang yang jahat, orang-orang yang fasik, tapi hidupnya mujur. You see the thing is, cemburu ini bukan hanya sebuah emosi. Cemburu itu sebenarnya sebuah kondisi hati seseorang.
Dan kita lihat bahwa ada sebuah kebenaran yang asaf coba selipkan di sini, bahwa ternyata kondisi hati kita ini mempengaruhi perspektif kita dalam kehidupan. Dari mana saya tahu? Karena dia bilang seperti ini, aku ini cemburu ketika aku melihat. Jadi, kondisi hati seseorang menentukan atau mempengaruhi perspektif seseorang.
Yesus pernah bilang seperti ini, mata adalah pelita tubuh. Kalau matamu baik, maka teranglah tubuhmu. Tapi kalau matamu jahat, gelaplah tubuhmu.
Supporting Verse – Matamu adalah pelita tubuhmu. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu, tetapi jika matamu jahat, gelaplah tubuhmu. Lukas 11:34 TB
Nah, saudara harus tetap ini. Karena dalam pikiran atau cara berpikir orang Yahudi, mata itu bukan sekedar organ untuk melihat. Tapi mata itu seperti jendela hati. Mata itu mencerminkan apa yang ada dalam hati seseorang. In other words, seperti ini. Perspektif kita tentang kehidupan, tentang Tuhan, tentang keuangan, tentang hubungan, tentang banyak hal dalam kehidupan seringkali ditentukan atau dipengaruhi oleh kondisi hati kita. Kalau kondisi hati kita ini tercemar, kondisi hati kita ini rusak, “distorted”, dan dosa menyebabkan hati kita “distorted”, maka seringkali cara pandang kita menjadi rusak juga, menjadi salah.
Asaf goes on, dari cemburu, lalu dia, mulai membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain. Sampai, kalau saudara baca sendiri nanti di ayat ke-4 dan seterusnya, sampai ayat 12, itu isinya dia membanding-bandingkan dirinya sama orang lain. Dari cemburu, dia membanding-bandingkan sama orang lain sampai di ayat 13 dia bilang seperti ini.
Supporting Verse – Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah. Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi. Mazmur 73:13-14 TB
Dari cemburu, dia mulai “comparing” hidup dia sama orang lain. Sampai dia mulai bilang, sia-sia, percuma aku jaga hatiku bersih, percuma aku gak ikut-ikutan. Orang lain, orang pasif, orang jahat, get away with things. Mereka tetap kaya, mereka tetap tidak bersalah, dan slowly but sure, hatinya kemudian menjadi pahit, saudara. You see, comparison turns blessing into competition.
Comparison turns blessing into a competition.
Saudara pernah gak sih, saudara? Ngalamin hidup saudara, saudara merasa cukup, saudara merasa gak ada yang kurang, sampai kemudian saudara melihat orang lain, rumahnya lebih besar, dipromosi, apalagi orang yang jahat, mereka kok get away with things, kemudian muncul di hati saudara, saudara mulai comparing hidup saudara sama orang lain.
Just a quick question, for a second. Apa yang muncul di hati kita ketika kita melihat orang lain diberkati?
Karena dari apa yang Asaf sedang alami, ternyata apa yang kita lihat itu memunculkan apa yang ada di hati kita. Sekarang, ini adalah pertanyaan yang baik untuk memerhatikan hati kita.
Kalau kita lihat orang lain diberkati, apa yang muncul? Apakah kita bersyukur dengan tulus atau yang muncul sebaliknya adalah cemburu? Yang iblis mau, tentu kita cemburu. Tetapi Tuhan mau kita tetap bersyukur atas apa yang Dia sudah berikan dalam hidup kita.
Nah, kita lanjut kembali ke Asaf. Di tengah-tengah, ketika dia mencoba untuk memahami apa yang sedang terjadi dalam hidupnya, saya bersyukur asaf tidak berhenti di ayat 14. Lagunya nggak berhenti di situ, saudara. Kalau nggak, nyanyiannya cuma separoh ya. Berhenti dengan sia-sia. Saya bersyukur bahwa dia meneruskan perjalanannya dengan Tuhan. Di ayat 16. Ini penting banget. Ayat 16 dan 17. Dia bilang seperti ini.
Supporting Verse – Tetapi ketika aku bermaksud untuk mengetahuinya, hal itu menjadi kesulitan di mataku, sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Allah, dan memperhatikan kesudahan mereka. Mazmur 73:16-17 TB
That’s a turning point. Asaf mengambil sebuah keputusan yang penting untuk datang mendekat bersama Tuhan. Ada 2 hal yang terjadi ketika dia mendekat kepada Allah.
Yang pertama, dia mengalami adanya perubahan perspektif. Waktu Asaf masuk ke tempat kudus Allah. Dia mendekat sama Tuhan. Apa yang tadinya dia bilang sangat sulit untuk dia pahami. Kemudian menjadi sebuah pewahyuan buat dia. You see, some of you, beberapa dari saudara, mungkin hari ini hal terbaik yang saudara bisa lakukan adalah mendekat sama Tuhan.
I know it sounds so simple, tetapi saya percaya waktu saudara mendekat sama Tuhan, saudara akan mengalami perubahan perspektif dalam hidup saudara. Karena seringkali Tuhan tidak langsung mengubah kehidupan atau kondisi kehidupan kita. Tapi yang saudara mau ubah adalah kondisi hati kita.
Beberapa dari saudara berdoa dan bergumul akan beberapa area dalam kehidupan saudara. Tapi undangan yang sama diberikan kepada saudara hari ini untuk mendekat kembali kepada Tuhan. Tuhan mengerti apa yang sedang saudara alami. Kita terbatas, saudara. Tetapi Tuhan punya perspektif yang lebih tinggi dari kita.
Sharing Ps. Gea – Saya pernah tinggal di apartemen di lantai 15, saya sudah pindah ke lantai yang lebih rendah. Lantai 15 not bad, lumayan tinggi. Mungkin ga setinggi sama lantai 30 dan seterusnya. But it’s high enough untuk saya bisa melihat kondisi yang terjadi di sekitar apartemen saya.
Nah, dulu di jaman belum ada Google Maps atau maps online lainnya, saya sering tuh dapet telepon dari keluarga saya ataupun teman-teman terdekat saya yang ingin tahu kondisi jalanan di seputar apartemen saya. Karena saya tinggal di area yang lumayan strategis, jalan-jalan protokol di sekitar apartemen saya, karena mereka ingin tahu, macet enggak, lancar enggak, ya.
So, what a convenient way to do? Call Gea, right?
Literally, mereka cuma nanya, “Ge, jalan itu macet enggak? Like, Oke, How are you dulu kek, apa dulu kek, gitu ya.” Saya buka jendela saya, “Oh macet lah dikit, tapi bentar lagi lancar. Iya nih, di depan gue cuma macet doang, mau ngambil keputusan, mau belok sini atau lurus terus, aman-aman. Paling macet 5-10 menit abis itu lancar”. Atau sebaliknya ya. “Oh jangan-jangan lah disitu macetnya panjang banget. You better make a turn”.
I have a higher perspective. Saya punya perspektif yang lebih tinggi untuk bisa melihat kondisi yang ada. Dan Tuhan seringkali ajak kita untuk mendekat kepadaNya dan percaya bahwa Dia punya perspektif yang lebih tinggi. And He is in control of the future in this world.
There are many things that, like my friends earlier, are difficult to see because what we see in the future is only from our own eyes. But God has a much higher perspective. And the good news is that He not only has a higher perspective, but we worship a just God and a gentle God.
Asaf mengalami “A-ha” momen ini, Dia memperhatikan, dikatakan tadi, dia memperhatikan ternyata mereka-mereka ini yang bisa “get away with things”, end up-nya tidak seperti yang dia kira. Tuhan adalah Tuhan yang adil. Sedikit background, Mazmur-mazmur yang Asaf tulis, banyak temanya adalah tentang keadilan Tuhan. But you can do your own research, waktu saya terbatas hari ini.
Asaf mengambil sebuah langkah yang sangat penting yang membuat dia mengalami perubahan perspektif, yaitu mendekat kepada Tuhan.
Hal pertama yang terjadi, dia mengalami perubahan perspektif.
Hal kedua yang terjadi, tidak hanya dia mengalami perubahan cara pandang, tapi yang lebih terpenting lagi dia mengalami yang namanya pemulihan hati dan pertobatan. Hatinya dipulihkan, yang tadinya cemburu, iri hati, dia comparing, hatinya mulai pahit. Ketika dia mendekat kepada Tuhan, hatinya dipulihkan, saudara. Amen.
Dia sadar, dia juga mengalami pertobatan. Dia sadar bahwa ada satu hal yang dia gagal, sempat gagal lakukan. Itu apa? Menjaga hatinya.
Menjaga hatinya, dia mengijinkan rasa iri hati atau cemburu itu menguasainya sehingga solw but sure, dia menjadi pahit, saudara. Tahu kan bahwa terkadang kepahitan itu gak datang tiba-tiba, saudara. Kepahitan itu menjadi sebuah kepahitan karena berasal dari satu rasa cemburu, dua rasa cemburu, tiga rasa cemburu. Dan kita terus menerus ijinkan terjadi dalam kehidupan kita. Dan itu menumpuk. Dan akhirnya hati seseorang menjadi pahit.
Kembali ke ayat 1 tadi, saya janji. Saudara sudah garis bawah yah. Menarik, karena dibilang sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang, apa saudara? Tulus hatinya. Bagi mereka yang bersih hatinya. Get this. Jaga hati saudara.
Supporting Verse – Mazmur Asaf. Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya. Mazmur 73:1 TB
Makanya Amsal bilang, Jagalah hatimu karena dari situ terpancar kehidupan.
Supporting Verse – Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. Amsal 4:23 TB
Kalau ada satu hal yang perlu kita jaga banget dalam hidup ini adalah hati kita. Jangan ijinkan rasa pahit, kekecewaan, terlalu lama mengendap di hati saudara. Kita manusia bisa terkadang kecewa, bisa terkadang menjadi sedih. But don’t let it sink. Jangan ijinkan dia bangun rumah di hati saudara. Asaf mengambil keputusan mendekat sama Tuhan. Dan dia mengalami perubahan hati. Hatinya dipulihkan. Perspektifnya dipulihkan. Dia bertobat. Dia kembali dekat dengan Tuhan.
Dan satu hal yang terjadi. Dia sadar bahwa ternyata Berkat yang terindah yang Tuhan bisa berikan dalam hidupnya adalah KehadiranNya dan HadiratNya sendiri. Ayat 23, sebelum that very famous line, dia bilang gini.
Supporting Verse – Tetapi aku tetap di dekat-Mu; Engkau memegang tangan kananku. Mazmur 73:23 TB
Lalu ayat 25, dia bilang begini.
Closing Verse – Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Mazmur 73:25 TB
Dia mengalami perubahan hati, saudara. Sekalipun dagingku dan hatiku lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya. Amen. You see, Asaf tidak mengalami perubahan kondisi eksternal. Kalau saudara pelajari, tidak ada yang berubah. Tidak ada yang berubah secara eksternal. Tetapi hatinya mengalami Tuhan. Berkat terbesar dalam hidup adalah memiliki Allah sendiri. Dan itu sebabnya berkat tidak seharusnya diukur oleh keadaan kita. Tetapi oleh kehadiran Tuhan bersama dengan kita. Amen.
Saudara belajar sesuatu pagi hari ini? Tutup catatan saudara.
Ps: Hi friends! If this blog has blessed you and you feel led to help keep it running, you can support us below. Thank you, and God bless! Link: https://saweria.co/316notes



