The Purpose of Blessing By Ps. Sidney Mohede

JPCC Sutera Hall 2nd Service (19 July 2026)

Selamat pagi semuanya, selamat datang juga untuk teman-teman, selamat bergabung teman-teman yang ada secara online. We welcome you to our JPCC online church. Sebelum bapak dan ibu semuanya duduk, coba lihat kiri kananmu, katakan, aku senang banget loh kamu ada di sebelah aku hari ini. Senang banget.

Silahkan duduk bapak dan ibu sekalian, Good to have you! Selamat pagi, Good afternoon, good evening untuk teman-teman juga yang bergabung secara online. Kita masuk ke dalam minggu yang ketiga kita dalam tema bulan ini tentang “Berkat”.

Judul daripada tema bulan ini adalah “Blessed Beyond Measure“. Bahwa kita semua diberkati lebih daripada semua yang bisa kita harapkan, semua yang kita bisa bayangkan. Ada Amen?

Tetapi kita belajar selama beberapa minggu ini bahwa ternyata Tuhan mempunyai definisi tentang berkat yang jauh lebih besar, jauh lebih dalam daripada apa yang sering kita pahami dan kita pikirkan. Karena sering kali kalau kita berbicara, terutama di gereja modern kita berbicara tentang berkat. Banyak dari kita berpikirnya selalu tentang harta, tentang tahta, atau posisi atau apapun yang bisa kita nikmati.

Tetapi kita sudah pelajari bahwa bahkan komunitas yang Tuhan berikan adalah salah satu berkat terbesar dalam kehidupan kita. Betul?

Kita bahas ini di minggu pertama bahwa keluarga rohani yang ditempatkan di sekeliling kita adalah salah satu daripada berkatnya Tuhan dalam kehidupan kita.

Minggu lalu kita juga belajar bahwa ternyata bukan hidup tanpa masalah itu yang disebut Berkat. Bukan itu. Karena banyak orang minta diberkati supaya masalahnya hilang dalam kehidupannya.

Setiap kali ada anak-anak muda yang berkata, “Pastor, doakan supaya saya tidak punya masalah-masalah lagi dalam hidup saya”. Saya bilang kepada mereka, saya tidak mau saya doakan itu. Karena kalau saya doakan itu, kamu mati. It’s the truth.

Bahwa pada saat kita tidak lagi mempunyai masalah, adalah pada saat kita kembali ke rumah Bapa. But as long as we live, kita pasti akan ada yang namanya pergumulan. Artinya berkat terbesar bukanlah hidup tanpa masalah. Tetapi berkat terbesar kita adalah Hadirat Tuhan di tengah-tengah semua pergumulan kita. Ada Amin?

Semakin saya mengikuti Tuhan, semakin “Om” menjadi lebih tua, saya belajar bahwa hidup kekristenan bukanlah tentang mengejar kehidupan yang diberkati. Semakin saya mengerti Firman Tuhan, mengenal pribadi Tuhan, saya menyadari bahwa di dalam Kristus Yesus, saudara dan saya sudah sangat amat diberkati, betul?

Dan ini adalah kesadarannya, saya tulisnya begini. Orang yang dewasa dalam Tuhan, yang dewasa yah, yang dewasa dalam Tuhan, tidak lagi sibuk mengejar berkat. Karena dia belajar melihat semua berkat Tuhan yang sudah ada dalam hidupnya.

This is the maturity, kedewasakan rohani yang harus kita miliki. Bahwa semua dari kita sudah sangat amat diberkati oleh semua pemberian Tuhan. Dari tadi kita udah nyanyikan. “Your goodness is chasing us”. Nyanyinya gampang. Tetapi menyadarinya dari Senin sampai Sabtu itu susah.

Kalau kita menyanyikan dari Minggu kita gampang. Karena kita tahu bahwa kita sudah diberkati. Dan ini yang juga yang saya pelajari. Bahwa bahkan seringkali semua rasa sakit kita, semua kegumulan kita, semua lembah-lembah kita. Itu pun menjadi bagian dari berkat Tuhan dalam kehidupan saudara dan saya.

Nah, ini tidak banyak yang mau nih, “Saya berdoa untuk meminta ada beban, ada pergumulan”. Tetapi ini yang saya perhatikan dalam hidup saya, semua beban yang saya lewati, semua loss, semua grief yang saya lewati, semua pergumulan yang saya lewati, membentuk saya untuk bisa percaya kepada Tuhan sampai detik ini. That’s the blessing. Itu adalah berkat daripada Tuhan.

Nah, kalau kita sungguh-sungguh percaya akan hal ini, Maka cara kita melihat kehidupan kita akan menjadi sangat berubah. Sehingga pertanyaan saudara dan saya bukan lagi pertanyaannya seperti ini, “Bagaimana Pastor, supaya hidup saya bisa diberkati?”

Itu tidak lagi menjadi pertanyaan kita. Pertanyaan kita menjadi, Kalau saya sudah diberkati, kalau kita sudah yakin bahwa kita diberkati oleh Tuhan, semua pemberian Tuhan sudah ada dalam kehidupan kita.

“Kalau saya sudah diberkati, pertanyaannya adalah apa tujuan dari semua berkat yang sudah saya terima dalam hidup ini?”.

Itu pertanyaan yang lebih baik. Tujuannya untuk apa ya?

Karena saya sangat yakin bahwa semua pemberian Tuhan dalam kehidupan saudara, semuanya, tadi kita nyanyikan. “Karena semua yang baik dalam hidupku, itulah karyaMu”.

Tidak ada satupun itu yang karya saudara dan saya. Kita datang ke dunia dengan telanjang, kita akan kembali ke rumah Bapa dengan tidak membawa apa-apa. Betul kan?

Artinya semua ini yang kita pelajari bulan lalu dalam penyembahan. Sumber segala-galanya adalah Tuhan. Itu yang kita sebut sebagai penyembahan. Nah, kalau kita yakin bahwa semua berkatNya itu bukan untuk diri kita saja, berarti tujuannya apa?

Karena saya sangat yakin bahwa tujuan kita diberkati bukan supaya kita hidup nyaman, bukan supaya kita hidup sukses, bukan supaya kita lebih kaya, tetapi saya percaya Tuhan memiliki tujuan yang jauh lebih dalam dan lebih besar daripada itu.

Sharing Ps. Sidney – Ada begitu banyak anak-anak muda yang selalu berkata, pas didoakan saya, saya baru pulang dari trip saya bersama dengan tim, pergi ke Papua, tiga malam, tiga kota. Dan hampir setiap malam pasti ada begitu banyak orang-orang yang berkata, “Pastor, tolong doakan saya”.

Dan semua orang doanya sama, 99% pasti semuanya minta diberkati oleh Tuhan. Saya yakin juga kita sama. “Doakan keluarga saya diberkati, Pastor. Pernikahan saya diberkati. Doakan supaya bisnis saya diberkati, Pastor. Doakan supaya semua perusahaan saya diberkati”.

Pertanyaan saya, kalau Tuhan sudah menjawab semua doa tersebut, dan kita semua, semua yang kita minta Tuhan berikan, semuanya setelah kita minta ini, Tuhan berikan. Pertanyaan saya, and then what? Terus apa?

Terus saudara timbun semua yang saudara dapatkan. Ini adalah pertanyaan yang lebih baik. Apa tujuan berkat kita? What’s the purpose of our blessing?

Karena sayangnya ini yang saya temukan, masih begitu banyak dari kita hidupnya sibuk mengejar berkat. Pertama di gereja modern, kita sibuk mengejar berkat. Doakan pekerjaan, doakan saya diusaha, saya diberkati, keluarga saya.

Pernahkah kita bertanya, kalau Tuhan menjawab itu semua, apa yang berikutnya? Apakah langkah berikutnya?

Karena jika kita tidak memahami tujuan daripada berkat, tujuan berkat kita, “the purpose of our blessing” yang menjadi judul daripada kotbah saya hari ini. Jika kita tidak memahami tujuan kenapa kita diberkati oleh Tuhan, maka setiap dari kita akan mulai berpikir bahwa semua yang Tuhan berikan memang hanya untuk kita nikmati untuk diri kita sendiri saja.

Tanpa sadar, kita akan mulai mengukur kehidupan kita dari apa yang kita miliki dan apa yang kita tidak miliki. Betul kan?

Dan ini yang terjadi dengan semua sosmed kita, menjadi sarana kita membanding-bandingkan.

“Hidup dia koq kayak gitu, hidupku belum. Oh, aku lebih baik karena aku punya ini. Dia masih belum punya ini”.

Kalau kita tidak memahami tujuan daripada semua yang Tuhan sudah berikan dalam kehidupan kita, kita akan sibuk mengejar berkatNya saja. Kita akan mengukur hidup kita dari apa yang kita miliki, dan bukan dari bagaimana hidup kita bisa dipakai oleh Tuhan Sang Pemberi.

Dan inilah inti dari persoalannya, kenapa kita begitu sibuk mengejar berkat. Bukan karena berkatNya salah, don’t get me wrong.

Saya bukan pendeta yang berkata, “Saudara tidak boleh diberkati”. Bukan itu. Berkat adalah hadiah yang baik dari Bapa kita. Itu adalah hadiah yang baik. Semua sebagai seorang ayah, saya ingin memberikan yang terbaik kepada anak-anak saya. Tetapi kita harus mengerti makna atau tujuan daripada berkat tersebut.

Masalahnya adalah hati kita yang sudah dirusak oleh dosa. Ketika dosa masuk ke dalam kehidupan kita, kita, dosa membuat hati kita tertuju kepada berkatNya dan bukan lagi kepada sang pemberi berkat. Sehingga kita, dosa membuat kita menjadi orang-orang yang self-centered. Pusat kehidupan kita menjadi me, me, me. Padahal Tuhan memberikan berkat dalam kehidupan kita, supaya kita bisa melayani Dia.

Sampai sini semuanya oke? Karena dosa, saya tulisnya begini.

Kita mulai mencari rasa aman kita, security kita, mencari identitas kita, identitas kita, mencari hope kita, perharapan kita, dan bahkan masa depan kita, melalui berkat Tuhan dan bukan melalui Tuhan sendiri.

Padahal kita sudah berminggu-minggu mengajarkan bahwa Berkat terbesar dalam hidup kita adalah hadirat Tuhan sendiri.

Berkat terbesar, Berkat yang terindah dalam kehidupan kita adalah Yesus. Masalahnya ini, bahkan kita sudah bikin lagu loh buat saudara. “Yesus, you are more than enough for me”.

Masalahnya apakah kita benar-benar percaya?

Kalau memang kita berkata Yesus itu lebih dari cukup, terus kenapa kita terus mengejar berkat-Nya dan bukan wajah-Nya? Kita berpikir, manusia berpikir, kalau pekerjaan saya berhasil, Pastor, pasti hidup kita akan lebih tenang. Manusia akan berpikir, oh kalau tabunganku cukup, Pastor, maka masa depanku terasa lebih aman. Kalau kita berpikir, oh… Pernikahanku, keluarga ku baik-baik saja, maka hidup kita akan bahagia. So we keep looking for the wrong things.

Dan tanpa kita sadar. Kita mulai meminta dan fokusnya kepada berkatNya Tuhan. Apa yang seharusnya kita minta daripada sang pemberi berkat itu sendiri, yaitu Tuhan. Are you getting me? Oh church, I pray we understand this. I pray. Saya sangat berdoa agar kita semua mengerti tujuan daripada semua pemberian daripada Bapa kita yang baik ini.

Ketika kita tidak memahami tujuan daripada berkat, dengarkan saya baik-baik. Ketika pemberianNya yang menjadi sumber rasa aman kita, menjadi sumber identitas kita, menjadi pengharapan kita, maka dosa akan membelokkan hati kita. Ini yang disebut sebagai keserakahan, yang disebut sebagai korupsi, ketidakjujuran, ada begitu banyak orang yang rela kehilangan relationship mereka, kehilangan integritas mereka, bahkan kehilangan iman mereka, hanya karena mereka minta more, lebih, lebih, padahal yang Tuhan minta adalah “Aku cukup bagi engkau, Aku cukup bagi engkau”.

Greed starts, yang namanya keserakahan itu dimulai dari hati yang tidak mengerti tujuan daripada semua pemberian Tuhan. Sehingga kita manusia mulai menimbun apa yang seharusnya kita salurkan untuk bisa menjadi berkat bagi orang lain, bagi orang-orang di sebelah kita, bagi misi dari para kerajaan Tuhan. Kita timbun untuk diri kita sendiri. That’s greed. That’s corruption. Itu yang disebut sebagai korupsi. Dengarkan saya baik-baik.

Kita mungkin tidak suka dengan korupsi yang ada di luar sana, tetapi dengarkan saya baik-baik, kita pengikut Tuhan pun melakukan hal yang sama kepada Tuhan. Kita pun menimbun semua yang Tuhan sudah berikan tanpa kita mengerti tujuanNya untuk apa.

Itu sebabnya setiap KKR, setiap acara, setiap kebaktian saya diminta untuk mendoakan berkat, tetapi kita tidak mengerti, setelah ita diberkati oleh Tuhan, and then what?

Dan ini yang ingin saya bagikan kepada saudara. Masalahnya adalah kepada siapa kita menaruh pengharapan kita. Kepada siapa atau apa yang menjadi sumber rasa aman kita. Yang menjadi sumber identitas kita dan juga pengharapan kita. Karena sejak awal kita akan baca firman Tuhan. Sejak awal Tuhan tidak pernah bermaksud menggantikan DiriNya dengan berkat. Bukan itu tujuannya.

Justru melalui berkat Tuhan, Tuhan ingin membawa manusia kembali kepadaNya. Kita melihatnya dengan jelas. Mari kita dalam kejadian pasal yang ke-12. Ada ayat disini waktu Tuhan memberkati Abraham. Dan dikatakan begini.

Opening Verse – [1] Kemudian TUHAN berkata kepada Abram, “Tinggalkanlah negerimu, rumah ayahmu, dan kaum keluargamu. Pergilah ke negeri yang akan Aku tunjukkan kepadamu. [2] Aku akan memberkatimu dan memberikan kepadamu keturunan yang banyak hingga menjadi bangsa yang besar. Aku akan membuat namamu dikenal oleh banyak orang dan kamu akan menjadi berkat. [3] Aku akan memberkati orang-orang yang memberkatimu dan mengutuk siapa pun yang mengutukmu. Semua suku bangsa di bumi akan diberkati melalui kamu.” Kejadian 12:1-3 TSI

Itu polanya Tuhan. Itu urutan Tuhan selalu. I will bless you and then you will be a blessing. Betul kan? I will bless you. Tetapi Dia tidak berhenti di sana. You will be a blessing.

Artinya, sejak awal berkat yang Tuhan berikan tidak pernah dimaksudkan untuk berhenti kepada penerimanya. It’s never supposed to stop with us. So here’s the big idea pada hari minggu ini.

Every blessing from God comes with a purpose beyond ourselves, setiap berkat daripada Tuhan memiliki tujuan yang melampaui kepentingan kita sendiri. Saya mau saudara bawa pulang ini.

Kemanapun, saudara yang lagi online pun. Semua yang Tuhan sudah berikan dalam kehidupan saudara dan saya, semua berkat, keluarga saudara, anak saudara, semua posisi saudara, harta saudara, semua talenta saudara, semua kemampuan saudara, itu semua pemberian Tuhan.

Tuhan berikan, memiliki tujuan yang melampaui kepentingan kita sendiri. Hari ini saya mau kita melihat dua saja. Dua tujuan yang ingin saya bagikan kepada saudara-saudara dari semua berkat Tuhan.

Yang Pertama adalah, God blesses us to reveal His heart and participate in His mission.

Tuhan memberkati saudara dan saya untuk bisa mengungkapkan isi hatiNya dan supaya kita ikut serta berpartisipasi dalam misi daripada kerajaan Tuhan. Itu tujuan kenapa Tuhan memberkati saudara dan saya. Itu tujuan kenapa Tuhan memberikan kepada saya, talenta demi talenta, kemampuan demi kemampuan, semua yang saya miliki bahkan komunitas yang ada dalam kehidupan saya, to reveal His heart, kehendak Tuhan.

Dan supaya saya bisa berpartisipasi dalam apapun yang menjadi kehendak daripada kerajaan Tuhan. See, pola ini kita bisa melihat dalam Alkitab. Tuhan memberkati Abraham supaya bangsa-bangsa mengenal Tuhan. Tuhan memilih bangsa Israel menjadi terang supaya bangsa-bangsa lain bisa mengenal Yesus. Tuhan memberikan karunia, kekuatan kepada gereja demi gereja, kepada JPCC untuk bisa membangun tubuh Kristus.

Roma 15 mengatakan kami yang kuat, kita yang kuat wajib menolong yang lemah. Kita yang sudah diberkati wajib menolong yang belum. Itu tujuannya.

Supporting Verse – [1] Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri. [2] Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya. Roma 15:1-2 TB

Sharing Ps. Sidney – Saya baru pulang dari Papua, kami pergi ke Jayapura, Timika, Sorong, bersama dengan tim, berkolaborasi dengan teman-teman dari Relevant Leadership. Tujuan utama kami sebenarnya di siangnya, malamnya itu worship night, itu sesuatu yang buat kami, sesuatu yang pasti kita lakukan untuk memuji dan menyembah Tuhan, tetapi tujuan terutama adalah kita datang untuk mengumpulkan para hamba-hamba Tuhan di setiap kota, dan kita membagikan tentang hatiNya Tuhan Yesus, tentang persatuan daripada Tubuh Kristus.

Setiap kota ada puluhan hamba-hamba Tuhan. Kota sorong ada berapa puluh hamba Tuhan dari gereja-gereja. Dan mereka berkata begini, “Pastor, bertahun-tahun belum pernah ada hamba-hamba Tuhan yang mengumpul seperti ini”. Bertahun-tahun! Kami datang, Saya sampai bilang begini sama para Hamba Tuhan itu,

“Masa sih butuh kami datang dari Jakarta untuk kalian semua bisa bersatu?”

Terus saudara harus tahu, kami datang tidak diundang. Tetapi kami sebagai gereja, JPCC, ini semua yang kita lakukan bersama-sama, You are a part of this, this is the mission of the kingdom. Misi daripada Tuhan adalah kita pergi, menjadi berkat.

Kami datang, berjumpa dengan para hamba-hamba Tuhan. Dan kami bertanya ini, apa yang bisa kami bantu, Bapak dan Ibu sekalian, Para Hamba Tuhan di Timika, Jaya pura, di Sorong. Kami lakukan ini pula di bulan market kemarin di Palembang, di Medan, di Batam.

How can we serve? Ada harga yang harus dibayar. Ada harga yang harus kita bayar. Kami pergi tanpa diundang, artinya kami pun yang membayar semuanya. But that’s the mission of the kingdom. Kita diberkati, kita diberikan kekuatan supaya kita bisa memberkati gereja-gereja lain yang mungkin tidak mungkin bisa mengundang kami untuk datang. Are you getting this church?

Dan ini yang seharusnya menjadi tujuan daripada semua berkat yang Tuhan berikan dalam kehidupan saudara. Saya sebagai seorang pendeta, saya bisa melakukan apa yang menjadi tugas saya dalam misi kerajaan Tuhan.

Tapi saudara, mungkin di kantor saudara, di sekolah saudara, di keluarga saudara, di pabrik saudara, di apapun yang sedang saudara kerjakan, ada misi dari pada hati Tuhan yang Tuhan mau saudara kerjakan. The Great Commission, Amanat agung, itu bukan saja sekedar untuk kita para hamba-hamba Tuhan, “Pergilah. Jadikanlah semua bangsa-bangsa muridKu. Baptislah mereka dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus. Ajarkanlah mereka semua yang sudah Kuajarkan kepadamu”.

Itu bukan cuma tugas instruksi kepada pendeta. Saudara pun mempunyai the mission of the kingdom. “For the glory of your name”. Itu sebabnya saya menulis lagu tersebut. “For the beauty of the kingdom. For the mission of the kingdom”. Supaya kita diingatkan. Tugas kita, kita diberkati oleh Tuhan, Kita minta Tuhan berkati kita. Bukan untuk ditimbun untuk diri sendiri. Ada orang-orang di luar sana. Berikan Kemuliaan buat Tuhan.

Capek enggak? Tentu iya. “Om” juga maunya di rumah. Tetapi kami selesai kebaktian malam. Balik ke hotel malam, jam 4 pagi, jam 4.30 sudah dibangunkan karena kita harus pergi ke kota berikutnya. Tiga kota, tiga malam, setiap kota gak sampai 24 jam. Capek gak? Capek!

etapi saya juga mau menunjukkan kepada yang muda-muda yang saya bawa. Saya bilang, “Kalau om aja bisa, masa kalian gak bisa?” Ada harga yang harus kita bayar. I am blessed beyond measure. I, saya, Sidney Mohede, diberkati oleh Tuhan sedemikian rupa. Itu sebabnya saya tetap mau melakukan ini semua. Supaya kita bisa mengerti isi hati Tuhan, menjalani semua misi daripada kerajaan Tuhan.

The blessing of God. It’s the tool, it’s not the goal. Berkat dalam Alkitab bukanlah tujuan akhir, tetapi semua hanya alat. Dalam perjanjian baru, Rasul Paulus mengajarkan prinsip yang sama. Tadi, ayat yang kita baca bersama-sama dalam 2 Korintus 9, dikatakan begini.

Supporting Verse – [8] Ingatlah bahwa Allah sanggup menunjukkan kebaikan hati-Nya kepadamu dalam segala hal, sehingga keperluanmu selalu tercukupi, bahkan lebih dari cukup! Dengan begitu kamu lebih mampu lagi melakukan hal-hal yang baik. 2 Korintus 9:8 TSI

Wah, aku dicukupi, diberkati. Perhatikan, Rasul Paulus gak berhenti disitu. Dengan begitu, supaya apa? Kamu lebih mampu lagi melakukan hal-hal yang baik. Itu polanya kan? I will bless you, so you can be a blessing. That’s the purpose. Itulah tujuannya.

Supporting Verse – [11] Kamu akan diperkaya dalam segala hal, sehingga kamu selalu sanggup memberi dengan murah hati. Pemberian yang kamu salurkan melalui kami akan membuat semakin banyak orang bersyukur kepada Allah. 2 Korintus 9:11 TSI

Perhatikan, kamu akan diperkaya dalam segala hal, sehingga ada tujuannya, kamu selalu sanggup memberi dengan murah hati. I am not just talking about money, sehingga kita bisa melihat sekeliling kita dan an bertanya, what else can I do? Apa lagi yang bisa saya kerjakan, Tuhan?

Tuhan memang memberkati dan mencukupi kita. Seringkali Tuhan memberikan kepada kita lebih dari cukup. Tetapi tujuanNya, tujuannya Dia memberkati kita supaya kita semakin mampu mengasihi Dia, mengasihi orang lain, melayani Tuhan, memberi, membawa orang lain untuk mengenal Kristus Yesus melalui kehidupan kita.

Karena berkat bukan hanya berguna untuk dinikmati. Tapi berkat Tuhan yang digunakan untuk menjaga kebenaran-Nya. Dan ini membawa saya kepada tujuan yang kedua. Yaitu ini. Bahwa Tuhan memberkati saudara dan saya supaya kita bisa menjadi lebih serupa dengan Kristus Yesus.

Kedua, God blesses us to become more like Christ.

Bukan ada yang lain. Tuhan memberkati saya dengan keluarga, dengan istri yang luar biasa, dengan anak-anak. Ingat, we are owners of nothing, but we are stewards of everything.

Betul kan?

Semua yang Tuhan berikan dalam kehidupan saya, semua kemampuan itu untuk membuat saya belajar lebih menjadi seperti Kristus. Anak-anak saya membuat saya menjadi lebih seperti Kristus. Keluarga saya, pernikahan saya, di mana saya belajar pengampunan. Dimana saya belajar mengasihi tanpa pamrih. Itu semua adalah pemberian daripada Tuhan. Bahkan penyakit saya pun, “Om” sudah menjadi tuli. Karena itu semua adalah berkat daripada Tuhan. Supaya saya bisa lebih lagi menjadi seperti Kristus. Lebih lagi bergantung dan percaya kepada kebaikan Tuhan dan bukan kepada kemampuan daripada tubuh saya.

I hope you getting this. God blesses us to become more like Christ. Semua berkat, semua pemberian tersebut sedang membentuk saudara dan saya mempunyai hati yang semakin serupa dengan dia.

Karena perhatikan, jika ada role model dalam Alkitab. Jika ada satu sosok manusia yang bisa kita lihat. Seseorang yang sangat amat diberkati yang memiliki segala kuasa, kemuliaan, semua kekayaan daripada surga. Semua Dia miliki. Namanya satu, cuman Yesus. Dia contoh paling luar biasa dalam kehidupan kita. Dia memiliki segala-galanya. Segala kemuliaan, kuasa, kehormatan. Itu ada dalam Yesus. Perhatikan apa yang Yesus lakukan dengan semua yang Dia milikinya. Mari kita baca Filipi 2 ayat 5.

Supporting Verse – [5] Jadi hendaklah kamu mengikuti sikap Kristus Yesus! [6] Biarpun Yesus mempunyai semua sifat Allah, Dia tidak pernah menganggap kedudukan-Nya sebagai Allah adalah sesuatu yang harus dipertahankan. [7] Tetapi Dia merendahkan diri dan meninggalkan semuanya, lalu mengambil kedudukan paling hina seperti budak yang melayani kita, dan datang ke dunia ini sebagai manusia biasa. [8] Dalam keadaan sebagai manusia, Yesus lebih lagi merendahkan diri-Nya untuk taat pada kehendak Allah, hingga Dia menyerahkan tubuh-Nya sampai mati, bahkan sampai mati disalibkan. Filipi 2:5-8 TSI

Artinya, if you wanna find an example, lihatlah kepada Yesus, contohilah Yesus. Ikutilah sikap Yesus-Yesus. Biarpun Yesus mempunyai semua. Dia punya semua sifat Allah. Dia tidak pernah menganggap kedudukanNya sebagai Allah adalah sesuatu yang harus dipertahankan.

“Pastor, berkati saya. Pastor, buat saya kaya. Pastur, supaya bisnisku cuan”. And then what? Supaya saudara-saudara mati dengan harta kekayaan yang triliunan. So what? Apa tujuannya?

Tuhan lebih dari cukup. Tuhan lebih dari mampu. Tuhan lebih dari mau untuk memberkati kehidupan saudara dan saya. I can tell you stories after stories, ada istri saya disini yang bisa melihat kesaksian kehidupan saya, dan yang benar-benar tidak punya apa-apa, tanya sama istri saya. Tetapi setiap kali Tuhan percayakan, saya tahu, saya tahu bahwa ini hanya sekedar dipinjamkan oleh Tuhan untuk saya bagikan kepada hal-hal yang lain.

Tetapi kalau hari ini saya bisa berdiri di depan saudara dengan semua apa yang bisa saya kerjakan, itu semua karena pemberian daripada Tuhan. Betul kan?

Saat ini, saudara. Coba saudara lihat ke belakang. Anda bisa berada di mana-mana hari ini, itu semua karena karya Tuhan Yesus yang baik dalam hidup Anda.

Pertanyaannya adalah untuk apa?

Luar biasanya, itulah Yesus kita memakai semua yang dimilikiNya untuk mengasihi, untuk melayani, mengampuni, bahkan menyerahkan hidupNya bagi kita semua. Artinya, semua pemberian Tuhan yang ada dalam kehidupan kita adalah untuk mengubah kita, To transform us to be more like Christ.

Itulah sebabnya sekarang Yesus yang berkata begini dalam kitab Markus pasalnya yang ke-10.

Supporting Verse – [45] Kalian harus mengikuti teladan-Ku. Biarpun Aku Sang Anak Adam, Aku datang ke dunia ini bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani dan memberikan hidup-Ku sebagai kurban untuk menebus banyak orang dari dosa-dosa mereka.” Markus 10:45 TSI

See, Yesus tidak hanya sekedar mengajarkan kehidupan yang diberkati itu seperti apa. Yesus meneladani kehidupan yang penuh dengan berkat itu seperti apa. He modeled it, bahwa a blessed life is a life given away in love. Selalu dasarnya adalah kasih. Mengasihi, melayani, mengampuni, mengasihi, itu tujuan daripada semua berkat dan pemberian Tuhan dalam kehidupan kita. Itu sebabnya kami tulisnya begini.

God never blesses us merely to increase our standard of living. He blesses us to increase our standard of loving.

Tuhan memberkati saudara bukan supaya standar hidup kita jadi naik. Tuhan memberkati kita untuk meningkatkan standar mengasihi kita. Mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. Itu standarnya Tuhan Yesus.

Bukan supaya Kita punya 2 mobil, Rumah bertambah dan company bertambah besar, itu semua baik, tetapi untuk apa?

Mengasihi itu menjadi fondasinya. Don’t get me wrong. Kalau begitu yang penting aku berdonasi saja dan “ngasih” saja. Aku donasi kok Pastor. Company-ku banyak kok “CSR”, Corporate Social Responsibility.

Saya kenal banyak orang, yang memberikan kepada yayasan, kepada NGO dengan jumlah yang besar. Tapi dengarkan saya baik-baik. Bukan itu yang Tuhan cari. Bukan segera kita melakukannya.

“Oh saya sudah pelayanan, saya sudah pelayanan dari dulu”.

Tetapi apakah saudara melakukannya dengan kasih atau tidak. Bukan berarti kita hanya sekedar melakukan lebih banyak. Memberi lebih banyak lagi. Tetapi kita diberkati supaya kita bisa mengasihi lebih dalam lagi.

Karena perhatikan apa yang Paulus katakan dalam 1 Korintus 13. Ini adalah pengajaran Paulus tentang kasih. Dikatakan begini.

Supporting Verse – [3] Atau kalau pun aku memberikan semua hartaku untuk orang miskin, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar sebagai kurban, tetapi kalau aku tidak mengasihi sesama, semua itu tidak ada artinya! 1 Korintus 13:3 TSI

Luar biasanya adalah ini, saya tidak bisa melihat motivasi hati saudara. Hanya Tuhan yang bisa. Artinya, kita bisa memberi semua yang kita miliki. Bahkan kita semua bisa pelayanan tanpa henti. Tetapi tanpa motivasi hati yang mengasihi Tuhan, Hati yang mengasihi semua ciptaan Tuhan, maka semuanya akan kehilangan makna.

Karena banyak, saya ketemu banyak orang yang memberi atau pelayanan. Tetapi semuanya itu transaksi. Artinya begini. Kalau saya lakukan “A”, ya Tuhan kamu lakukan “B” dong. Kalau saya berikan ini, saya sudah berikan banyak kepada pelayanan itu. Saya berdoa supaya bisnis saya diberkati oleh Tuhan.

Dengarkan saya baik-baik, kalau kita melakukan itu untuk mendapatkan sesuatu, apa bedanya kita dengan pergi ke Dukun? Apa bedanya kita dengan pergi ke gunung Kawi? Sorry buat yang pergi ke Gunung Kawi. Karena perbedaan, Kasih adalah memberi, tanpa meminta apapun.

Sharing Ps. Sidney – Waktu kami pergi, dalam trip kami. Ada hamba Tuhan yang bertanya kepada saya. Ini tujuan kalian apa? JPCC tujuannya apa? Melakukan ini semua, Kalian diuntungkan apa?

Tidak ada, Kita gak buka cabang dimana-mana. Kita gak mau menjadi “Sorong Praise Community Church”. Kami datang untuk melayani. Nothing in return.

Untungnya apa? Untungnya satu, Tubuh Kristus. Tubuh Kristus dipersatukan. Tubuh Kristus diberkati. That’s love, Mengasihi Tuhan dan sesama. Paulus, setelah dia berbicara panjang lebar, tentang kemurahan hati dan memberi, menutup pengajarannya sambil berkata begini.

Closing Verse – [15] Syukur kepada Allah atas hadiah terbesar yang diberikan-Nya kepada kita, yaitu Kristus sendiri! Begitu berharganya berkat itu hingga tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata! 2 Korintus 9:15 TSI

Ultimately, berkat terbesar Tuhan dalam kehidupan kita bukanlah kesehatan atau kekayaan, bukan pekerjaan, bahkan bukan keluarga atau keberhasilan. Berkat terbesar Tuhan dalam kehidupan kita adalah Kristus sendiri. Dan ini luar biasanya, waktu Tuhan berbicara tentang memberkati kita, Dia tidak memberikan barang pada kita. Tetapi Tuhan memberikan bagian dari diriNya sendiri kepada saudara dan saya, yaitu putraNya. Yesus, Yesus, hanya Yesus.

Dan sampai kita memahami tujuan daripada semua pemberian Tuhan yang baik ini, semua berkat yang Tuhan sudah berikan dalam hidupnya. Maka kita tidak akan pernah bisa mengerti isi hati Tuhan. Maka kita tidak akan pernah berpartisipasi dalam misi daripada kerajaan Tuhan. Maka kita tidak akan pernah mau hidup kita diubahkan, ditransformasi untuk bisa menjadi lebih serupa dengan Kristus.

Mari kita mulai hari ini, mulai dengan berhenti melihat semua berkat atau pemberian Tuhan sebagai milik untuk kita nikmati saja. God wants us to enjoy, yes. Tuhan mau, Bapa mau kita menikmati semua pemberianNya. Tapi jangan berhenti disitu, jangan berhenti disitu.

Karena ini semua adalah sesuatu yang Tuhan percayakan untuk kita jaga, untuk kita kelola. Kita bukan pemilik apa-apa, tetapi steward atau penjaga segalanya. Pekerjaan saudara itu berkat. Betul? Bisa menjadi tempat dimana Tuhan mengutus saudara dan saya. Rumah saudara, keluarga saudara itu berkat, Betul? Bisa menjadi tempat dimana banyak orang mengalami kasih Tuhan.

Talenta saudara, kemampuan saudara, semua itu adalah berkat Tuhan, Amin? Bisa menjadi alat untuk membangun kerajaan Tuhan lebih luas lagi. Bahkan, ini penting, bahkan luka saudara, pergumulan saudara, masa lalu saudara bisa dijadikan Tuhan, diputar-balikan, menjadi penghiburan bagi banyak orang dan menjadi berkat bagi orang lain.

Jika kita mulai melihat blessing dan berkat di mata ini, tujuan, tujuan berkat, menunjukkan hatiNya, ambil bagian dalam misi daripada kerajaan Tuhan, dan mau diubah untuk menjadi lebih serupa dengan Kristus, maka kita akan menyadari prinsip ini. Setiap berkat Tuhan memiliki tujuan yang melampaui kepentingan kita sendiri, sehingga kita tidak lagi berpusat kepada our own selfishness untuk aku timbun, untuk aku simpan.

Tetapi untuk aku bagikan, untuk bisa mengasihi orang-orang di situ. Loving more. Artinya pertanyaan yang kita bisa bawa pulang hari ini. Teman-teman yang sedang online pun. Pertanyaannya yang kita bisa renungkan minggu ini.

Siapa yang bisa mengalami kasih Kristus melalui hidup saya hari ini? Minggu ini. How can I be a blessing for others? Today, this week, this month, this year, this season of my life, tidak lagi berpusat pada diri kita sendiri.

Ps: Hi friends! If this blog has blessed you and you feel led to help keep it running, you can support us below. Thank you, and God bless! Link: https://saweria.co/316notes