From Healing to Loving By Ps. Sidney Mohede

JPCC Sutera Hall Service 2 (15 February 2026)

Berikan tepuk tangan buat teman-teman yang sudah melayani baik di atas mimbar atau yang tidak kelihatan. Welcome to JPCC! Untuk teman-teman yang juga bergabung secara online, we welcome you to church.

Kita masih masuk di bulan February yang terkenal dengan bulan cinta. Happy Valentine’s day everyone! Yang merayakan maupun yang tidak merayakan. Tadi pagi di kebaktian pertama, karena kebanyakan dari mereka sudah menikah, banyak dari mereka bukan pergi “dinner” tetapi mereka pergi ke supermarket dan belanja untuk makanan. It’s a different thing, it’s a different kind of Valentine’s.

But this month kita masih dalam tema bulan ini yaitu “The Flourishing Heart”. Minggu lalu Ps. Jose dengan sangat luar biasa, one of his best sermons, Dia mengatakan bahwa kita semua Bertumbuh dan berakar dalam Tuhan dan Tuhan mau untuk kita disegarkan kembali. Tuhan mau untuk kita bertumbuh dan berbuah. Tetapi tujuannya bukan sekedar untuk diri kita sendiri, tetapi supaya dari kita, dari saudara dan saya yang sudah bersama dengan Kristus, Kasih Tuhan bisa mengalir.

Bahwa Tuhan tidak hanya memulihkan kita supaya kita hidup kembali segar tetapi memulihkan kita supaya kasihNya bisa mengalir melalui kita semua dan salah satu tempat pertama yang bisa kelihatan dimana kasih itu bisa terpancar adalah dalam hubungan. It’s always in relationship.

Minggu lalu, Ps. Jose, selama beberapa bulan juga dia sudah menggambarkan sebuah diagram. Ada circle, tiga circles tepatnya, di mana manusia terdiri dari tiga, yaitu tubuh, jiwa, dan roh.

Tetapi seringkali kita sebagai manusia, kita lebih prioritaskan yang ada di kanan, yaitu yang tubuh.

Dengan semua panca indera kita, “the taste, smell”, semuanya yang kita anggap jasmani, itu yang kita rawat, itu yang membuat kita sehat. “There is nothing wrong” untuk membuat tubuh jasmani kita sehat, tetapi kalau kita mempelajari firman Tuhan, kita akan menemukan bahwa Tuhan lebih prioritaskan yang ada di dalam daripada yang di luar. Betul kan?

Sebelum kita bisa mengasihi orang lain dengan semua yang ada di secara jasmani, yang Tuhan mau lakukan adalah memulihkan yang ada di dalam, yaitu apa? Rohnya, yaitu apa? Jiwa kita, perasaan kita, kehendak kita, pikiran kita, Itulah yang harus ditundukkan kepada Tuhan.

Bukan berarti bahwa artinya perasaan kita menjadi prioritas, “We live in a generation dimana everything is always about feelings”. “I feel”, saya merasa, saya merasa. No, seperti yang lalu tadi kita nyanyikan, “We live our lives in surrender”. Kita hidup dengan berserah kepada Tuhan.

Dan yang berserah tidak cuma sekedar tubuh, tidak cuma sekedar ketaatan secara jasmani, panca indera kita, tetapi yang paling terutama adalah Tuhan mau memulihkan kita dari dalam, yaitu perasaan kita yang ditundukkan kepada Tuhan, kehendak kita, kita tundukkan kepada kehendak Tuhan, pikiran kita, kita tundukkan kepada pikiranNya Tuhan. Because, Let’s face it, apa yang dunia ajarkan, apa yang dunia minta untuk manusia pikirkan, sangat amat berbeda dengan apa yang kerajaan Tuhan mau kita pikirkan.

Opening Verse – [1] Mazmur Daud. Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. [2] Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; [3] Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. [4] Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. [5] Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. [6] Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah Tuhan sepanjang masa. Mazmur 23:1-6 TB

Mazmur 23 yang dikutip sama Ps. Jose minggu lalu berbicara tentang “flourishing”, bahwa kita ini bertumbuh menjadi segar dan berbuah. “Aku tidak kekurangan”, Tuhan membuatku berbaring di padang rumput yang hijau, DIa membimbingku ke tepi air yang tenang. “It’s a beautiful picture of flourishing”.

Tetapi yang Daud katakan begini, “Dia memulihkan bukan tubuh, bukan healing, “Aku capek dari tol tiap pagi yang aku harus lewati kemacetan, aku lelah Tuhan”. Jasmano kita lelah, tetapi yang dipulihkan oleh Tuhan is “inside”, Jiwa.

Dan ini yang menjadi “the big idea” untuk hari ini. Di minggu kedua di bulan Februari ini, bahwa “the flourishing relationship”, semua hubungan yang berkembang, berbuah.

Flourishing relationship don’t begin with finding the right people, But with becoming a healed person.

Menjadi orang-orang yang sudah dipulihkan, dan terus dipulihkan. Dipulihkan oleh apa?

Oleh kasih Tuhan, Tidak ada yang lain selain kasih Tuhan. Karena itu yang Daud sadari, Daud menyadari bahwa Tuhan bukan sekedar gembala tubuhnya, tetapi Tuhan adalah gembala dan pemulih dari jiwanya. Bahwa kedamaian dan ketenangan kita bukan selalu karena tidak ada badai, Betul?

Tetapi karena roh dan jiwa kita sudah dipulihkan dan terus dipulihkan oleh Tuhan. Pada saat itu semua sudah “healed”, pada saat kita disembuhkan dan dipulihkan, pada saat itulah Kasih Tuhan bisa mengalir dari kita dengan sehat. Itu sebabnya judul kotbah saya hari ini adalah “From healing to loving“.

Jadi kita yang terus menerus dipulihkan dan disembuhkan, kita menjadi bangsa, menjadi orang-orang yang bisa mengasihi satu dengan yang lain. Karena ini, ketika jiwa saudara dan saya dipulihkan, jika jiwa saudara sudah disembuhkan, Hidup Tuhan bisa mengalir melalui saudara dan saya.

Karena hubungan vertikal, perhatikan, Hubungan vertikal selalu mempengaruhi hubungan yang horizontal.

Hubungan saudara dengan Tuhan akan menentukan bagaimana kita mengasihi satu sama lain di dunia jasmani. Hubungan kita secara vertikal selalu mempengaruhi hubungan kita kepada orang-orang lain, dan ini bukan hanya berbicara tentang pasangan atau “couples” saja, dalam percintaan saja.

“We’re talking about family”, di tempat kerja kita, di kampus kita, dan dimanapun kita berada, kita bisa menunjukkan kasih Tuhan pada saat hubungan kita dengan Tuhan itu baik dan sehat.

Kenapa message ini penting sekali untuk kita bagikan di hari ini?

Karena kita melihat bahwa generasi ini adalah generasi yang “connected”, tetapi generasi ini juga adalah generasi yang paling “emotionally exhausted”. Generasi yang saling terhubung secara digital tetapi generasi ini adalah generasi yang paling merasa “loneliness” dibanding generasi sebelumnya.

“Deeply lonely”, Ada begitu banyak orang yang hidupnya “always on”. Mode-nya itu always on, Hidup yang terus membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain, Hidup yang lelah dalam semua hubungan karena selalu mencari kasih di dalam manusia dan bukan di dalam Tuhan.

Dan di tengah semuanya ini, “flourishing relationship” ini membongkar sebuah kebohongan besar, ada sebuah kebohongan besar di dunia pada saat ini. Kebohongannya adalah ini, “Kalau saya menemukan orang yang tepat, saya akan merasa utuh”, That’s one of the biggest lies the world can offer you.

So, today, we are reminding you.. Saya ingin mengingatkan saudara kembali bahwa kita semua, termasuk saya, masih dalam sebuah proses pemulihan dari hari ke hari. Pemulihan dari semua “baggage” di masa lalu, Supaya apa?

Supaya kita bisa menjadi salur berkat, menjadi salur kasih bagi orang lain. Artinya ini yang saya terus katakan kepada teman-teman di gereja, saudara tidak harus datang ke JPCC dengan sembuh, saudara tidak harus datang ke gereja ini sempurna, tetapi ini yang saya selalu minta , saudara perlu berada dalam proses pemulihan dan penyembuhan di dalam Tuhan dan yang bisa memulihkan saudara dan saya hanya satu, Kasih Tuhan, the love of God, and nothing else.

ijinkan saya membagikan kebenaran dari Firman Tuhan, ayat yang tadi kita baca mengatakan begini. Sebelumnya izinkan saya menceritakan sedikit tentang Hosea. Nabi Hosea hidup, Kitab ini ditulis kira-kira 700an tahun sebelum Yesus lahir. Pada waktu itu bangsa Israel sudah mulai melenceng.

Mereka mulai menyembah ilah-ilah atau Tuhan-Tuhan yang lain. Dan Nabi Hosea itu ada, kalau saudara baca dari pasal yang pertama sampai ke 13. Ada begitu banyak “warning” yang diberikan kepada bangsa Israel. Ada begitu banyak peringatan yang cukup keras untuk menunjukkan bahwa kita sebagai umat Tuhan harus selalu kembali kepada hadiratNya.

Untuk selalu kembali menyembah Tuhan yang jealous, Tuhan yang cemburu pada saat kita beralih kepada Ilah atau Tuhan yang lain. Dan kita masuk dalam pasal yang ke-14, dimana ini menjadi pasal yang terakhir.

Supporting Verse – [5] Aku akan memulihkan mereka dari penyelewengan, Aku akan mengasihi mereka dengan sukarela, sebab murka-Ku telah surut dari pada mereka. [6] Aku akan seperti embun bagi Israel, maka ia akan berbunga seperti bunga bakung dan akan menjulurkan akar-akarnya seperti pohon hawar. [7] Ranting-rantingnya akan merambak, semaraknya akan seperti pohon zaitun dan berbau harum seperti yang di Libanon. [8] Mereka akan kembali dan diam dalam naungan-Ku dan tumbuh seperti gandum; mereka akan berkembang seperti pohon anggur, yang termasyhur seperti anggur Libanon. Hosea 14:5-8 TB

This is what God wants, bahwa umatNya, saudara dan saya bertumbuh, bermekar, menjadi harum bagi orang-orang di sekeliling kita. Saya mau saudara perhatikan urutannya.

Urutannya adalah Tuhan memulihkan, Tuhan menyembuhkan, setelah itu Tuhan mengasihi dengan unconditional love, dan setelah itu baru umatnya bertumbuh.

Loved us first. Dan kalau saudara baca Alkitab, saudara baca firman Tuhan, This is the recurring theme. Tema ini akan terus ada, Bahwa meskipun kita yang salah, meskipun kita yang berdosa, Tuhan yang terlebih dahulu mengasihi saudara dan saya. There’s no other love like that.

Artinya ini, healing always comes before flourishing.

Selama sepanjang tahun ini kita akan berbicara tentang bertumbuh, berakar, berbuah. Tetapi ingat bahwa sebelum itu bisa terjadi, saudara dan saya harus dipulihkan terlebih dahulu. Dan satu-satunya cara adalah menerima Kasih Tuhan. That we are worthy of God’s love.

Truth yang pertama, kebenaran yang pertama adalah ini. Flourishing relationships dimulai dari hati yang dipulihkan.

Tidak bisa tidak. Tuhan tidak pernah meminta kita untuk berbuah sebelum Dia terlebih dahulu memulihkan akar kita dengan mengasihi kita. That’s How God works. Ayat-ayat di Hosea 14 ini tidak dimulai dengan sebuah commandment, tetapi dimulai dengan pemulihan yang penuh Kasih. He says I will heal you and I will love you, what an amazing thing!

Saya menemukan begitu banyak pasangan, saya counseling dengan begitu banyak pasangan, orang-orang muda yang mencoba untuk mengasihi orang lain pada waktu mereka sendiri belum pulih. Dan seringkali itu yang menjadi masalah terutama, fondasi dari semua kegoyahan yang terjadi dalam relationship mereka. Karena apa?

Karena mereka mencoba untuk memulihkan atau mencari pemulihan dari orang lain dan bukan mencarinya di dalam Tuhan. Dalam bahasa Indonesia masa kini, ayat yang sama mengatakan begini.

Supporting Verse – [5] Tuhan berkata, “Umat-Ku yang menyeleweng, Kuambil kembali dan Kukasihi dengan sepenuh hati; mereka tak akan Kumarahi lagi. Hosea 14:5 BIMK

Sangat berbeda dengan kasih manusia yang conditional. Aku bisa mengasihi kamu kalau kamu tidak pernah berbuat salah kepadaku, Itu manusia. Tuhan berbeda, Kau berbuat salah pun, dan setiap dari kita pasti berdosa, Bahkan saya. Tetapi ini Janji Tuhan yang terus menerus memulihkan saya sampai hari ini bahwa meskipun saya punya trauma masa lalu, rasa sakit di masa lalu, semua ketakutan dan kekhawatiran di masa lalu. Jika saya menerima kasih Tuhan dan mengijinkan Tuhan untuk menolong, menyembuhkan dan memulihkan saya, saya bisa menjadi salur kasih bagi orang lain, saya bisa menjadi seorang suami yang lebih baik untuk istri saya, saya bisa menjadi seorang ayah yang lebih baik untuk anak-anak saya, saya bisa menjadi seorang teman yang lebih baik untuk sahabat-sahabat saya.

Sharing Ps. Sidney – Meskipun, mungkin saudara sudah pernah dengar kisah cerita saya. I did not come from…, sebuah keluarga yang utuh, Saya pun punya trauma masa lalu. Saya bertumbuh tanpa seorang ayah sejak saya kelas 4 SD. I’ve never seen, saya tidak pernah melihat seorang suami itu seperti apa ya? Karena saya tidak pernah melihatnya dalam keluarga saya. Saya tidak pernah melihat seorang ayah itu fungsinya seperti apa. I have my own baggage.

Tetapi saya tidak pernah mengambil itu semua, masa lalu saya, trauma saya, ketakutan saya, kekhawatiran saya sebagai “victim mentality”. Tetapi saya akan terus berkata, God loves me.

Saya yang bersalah pun, saya yang punya banyak dosa pun, Tuhan masih mengasihi saya. He loves me and He heals me, sehingga saya bisa bertumbuh, sehingga saya bisa menjadi sumber kasih.

Artinya begini, mengasihi orang lain bukan dimulai dari usaha manusia, tetapi terpancar dari sebuah hati yang dipulihkan oleh Tuhan kita sendiri. Because the simple truth adalah ini, kita tidak bisa memberikan kasih yang sehat jika hati kita sendiri belum dipulihkan. Are we okay with this?

Yang kedua, kebenaran yang kedua, Flourishing relationship bersumber dari kasih Tuhan dan bukan kasih manusia.

I’m gonna let this sit for some of you today. Kita baru saja melewati Valentine’s, dimana ada banyak orang-orang, para jomblo yang berkata “Mana pasanganku, Pastor?”, “Nothing wrong with that, I’m so glad I found mine”, tetapi satu hal penting yang saya tahu adalah ini, Saya tidak akan pernah bisa mengisi kekosongan di hati saya melalui orang lain dimana kekosongan tersebut hanya bisa diisi oleh Tuhan.

And it’s not fair, tidak adil kalau saya meminta istri saya yang mengisi kekosongan tersebut. Karena ada hal-hal yang hanya Tuhan yang bisa mengisinya dalam kehidupan kita. Ketika Kasih Tuhan yang memenuhi kita, bukan kasih manusia, kita bisa mengasihi dari sebuah “overflow” dan bukan dari sebuah kekurangan.

Artinya begini, saya tulisnya bahwa relationship tidak disembuhkan oleh orang yang paling kuat secara emosi, tetapi oleh orang yang paling jujur dengan semua proses pemulihan dalam hidupnya. Dan ini yang saya terus-terus coba lakukan dari sejak saya masih muda sampai sekarang sudah menjadi “Om-om”, saya selalu mencoba untuk jujur di hadapan Tuhan.

Saya selalu mencoba untuk berkata, “I don’t know how to do it God I don’t know how to handle this, I need you to help me”. Bukan oleh, diisi oleh, orang siapapun di sekeliling kita. Kalau saudara melihat yang diagram yang tadi, tiga lingkaran tadi, perhatikan bahwa iblis selalu menyerang yang di bagian kanan, dalam arti aspek tubuh dan yang kelihatan (jasmani). Itu yang selalu diserang, dari “loneliness”, dari “circumstance”, dari semua “hurt”, dari semua trauma, itu semua ada di tubuh.

Tetapi Tuhan selalu mau pemulihan dimulai dari dalam, dari roh kita dan jiwa kita. It’s always from the inside.

Supporting Verse – [7] Ranting-rantingnya akan merambak, semaraknya akan seperti pohon zaitun dan berbau harum seperti yang di Libanon. Hosea 14:7 TB

It’s a beautiful picture. Berbau harum, bahwa hidup yang dipulihkan oleh Tuhan tidak hanya sekedar bertumbuh, tetapi hidupnya mengeluarkan keharuman. You can smell the fragrance, saudara pernah masuk ke dalam sebuah lift atau sebuah ruangan dimana perfumenya baunya “Enak banget, wow! that’s nice, it’s a nice smell and you notice it”.

Saudara bisa mencium sebuah harum yang luar biasa, orang-orang yang hidupnya sudah dipulihkan oleh Tuhan pasti akan mengeluarkan bau yang harum. Other people can feel it. Mereka tidak perlu merabah-raba. Mereka tidak perlu “guessing game”.

“Oh dia anak Tuhan bukan ya?”

Pasti ketahuan!

“Dia pasti anak Tuhan!”

Karena apa? Ada “fragrance” yang tercium, ini yang seharusnya terjadi. We can smell the fragrance. Healing itu selalu terasa bahkan sebelum dijelaskan. You can sense it in a person just like fragrance. Karena presence of God reveals healing. Tetapi pressure, tekanan reveals “pain”. Dan ini yang luar biasa di ayat yang ke-9.

Supporting Verse – [9] Efraim, apakah lagi sangkut paut-Ku dengan berhala-berhala? Akulah yang menjawab dan memperhatikan engkau! Aku ini seperti pohon sanobar yang menghijau, dari pada-Ku engkau mendapat buah. Hosea 14:9 TB

[8] O Ephraim, I do not want to have anything to do with idols anymore! I will answer him and care for him. I am like a luxuriant cypress tree; your fruitfulness comes from me. Hosea 14:8 NET

Because your fruitfulness comes from me. Seperti yang saya katakan beberapa minggu yang lalu, Tugas kita bukan “producing fruit”, tetapi kita dipanggil “to bear fruit”. Bahwa yang memberikan buah itu Tuhan melalui kehidupan saudara dan saya sehingga saya tidak lagi “under pressure” untuk terus menerus berbuah.

“No, the pressure is not mine. The pressure is always on Jesus” Dia yang akan mengeluarkan buah itu. Apart from me, Yesus katakan, Keluar daripada Aku, engkau tidak bisa melakukan apa-apa.

Dan ini yang luar biasa dan Truth Nomor tiga, Bahwa Flourishing relationship itu selalu dibangun melalui sebuah praktik yang disengaja.

Ada sebuah habit, saudara akan terus mendengar kata-kata ini, “habit formation” selama satu tahun ke depan. Kita akan terus-terus mengatakan bahwa kalau kita mau berubah, harus ada sesuatu yang kecil setiap hari yang kita lakukan untuk diubahkan, yang harus kita lakukan secara sengaja. It has to be intentional.

Supporting Verse – [10] Hendaklah Saudara-saudara saling mengasihi satu sama lain dengan mesra seperti orang-orang yang bersaudara dalam satu keluarga, dan hendaknya kalian saling mendahului memberi hormat. [11] Bekerjalah dengan rajin. Jangan malas. Bekerjalah untuk Tuhan dengan semangat dari Roh Allah. [12] Hendaklah Saudara berharap kepada Tuhan dengan gembira, sabarlah di dalam kesusahan, dan tekunlah berdoa. [13] Tolonglah mencukupi kebutuhan orang-orang Kristen lain dan sambutlah saudara-saudara seiman yang tidak Saudara kenal, dengan senang hati di dalam rumahmu. [14] Mintalah kepada Allah supaya Ia memberkati orang-orang yang kejam terhadapmu. Ya, minta Allah memberkati mereka, jangan mengutuk. [15] Turutlah bergembira dengan orang-orang yang bergembira, dan menangislah dengan mereka yang menangis. [16] Hiduplah rukun satu sama lain. Janganlah bersikap tinggi hati, tetapi sesuaikanlah dirimu dengan orang yang rendah kedudukannya. Jangan menganggap diri lebih pandai daripada yang sebenarnya. [17] Kalau orang berbuat jahat kepadamu, janganlah membalasnya dengan kejahatan. Buatlah apa yang dianggap baik oleh semua orang. [18] Dari pihakmu, berusahalah sedapat mungkin untuk hidup damai dengan semua orang. Roma 12:10-18 BIMK

Intentional, Praktik yang harus kita bangun hari demi hari. And how do we do this? Roma 12 yang tadi kita baca bukan sebuah teori, tetapi sebuah praktek yang dilakukan secara sengaja dalam kehidupan kita sehari-hari.

This is not about chemistry. Seringkali kita berpikir bahwa love atau hubungan, relationship is about chemistry, No, it’s not. Tetapi ini berbicara tentang membangun karakter, dan untuk membangun karakter, kita harus dibentuk dari hati yang mau dipulihkan.

Dari hati yang mau menerima kasih Tuhan yang sudah Dia terlebih dahulu berikan kepada kita. So here’s the thing that I’ve realized, Banyak dari kita sudah tahu bahwa Tuhan mengasihi kita, we sang it, kita sudah nyanyi lagunya sejak kita kecil.

The problem adalah ini, banyak dari kita belum mau menerima kasih Tuhan tersebut. Karena apa?

Yang saya temukan adalah begitu banyak dari kita yang menganggap bahwa kita tidak layak untuk dicintai, That we are not worthy of that love. Hari ini, Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan dengan cepat.

Yang Pertama adalah Berhenti mengharapkan orang lain menyembuhkan apa yang hanya bisa disembuhkan oleh Tuhan.

Listen to me carefully, no one, and I mean no one, can fill the space in your heart that only God can fill. Dan kalau kita minta orang lain, memberikan tekanan kepada orang lain untuk mengisi “that hole”, orang lain tersebut akan “break-down”. Tidak ada seorangpun yang dapat mengisi ruang di hati kita yang hanya dapat diisi oleh Tuhan.

Yang kedua, kita harus mengizinkan Tuhan, izinkan Tuhan menyembuhkan dan memulihkan.

Kita yang harus belajar untuk menerima Kasih Tuhan meskipun kita merasa bahwa kita tidak layak. Pada waktu saya masih jauh lebih muda dari sekarang, saya selalu merasa saya tidak layak karena saya berasal dari keluarga yang hancur berantakan.

I didn’t feel that I am worthy of God’s love. Tetapi pada saat saya mulai belajar untuk menerima, “just” menerima, bukan saya yang memberi. Karena itu yang selalu kita lakukan. Aku yang cinta Tuhan. No, no.. sometimes, kadangkala yang dibutuhkan adalah cuman kita berkata begini.

“Aku menerima Kasih Tuhan. I’m gonna let God heal me. I’m gonna let God love me. Meskipun aku yang salah dan berdosa”.

Meskipun umat Israel yang menyeleweng, Tuhan berkata dalam Hosea 14, “Aku akan memulihkan mereka dan aku akan mencintai mereka tanpa pamrih”. What a love, what a God.

We are not called to be healers, but we are called to be wounded healers – Henri Nouwen.

I love this. Artinya, saya tidak dipanggil untuk tampil sempurna, mencoba untuk menyembuhkan dan memulihkan orang lain, no, no, no! Memperbaiki orang-orang di sekeliling saya, tetapi saya dipanggil untuk selalu berjalan dan berserah dalam semua proses pemulihan.

Dari tempat tersebut, pada saat saya yang dipulihkan, When I am healed, When I am still healing, Then I can love others.

We are all wounded.

Yang ketiga, Yang bisa kita lakukan adalah Kita harus mempraktekan Kasih ini secara konsisten.

Yang tadi, saudara baca Roma 12, praktekan itu. Kalau saudara bingung, where do you start, Pastor? Firman Tuhan sudah memberikannya dengan sangat sederhana. Lakukan itu saja dulu.

Pada saat kita mempraktekannya secara konsisten, kita tidak perlu lagi mencari orang yang tepat dalam hidup kita karena kita sudah mempunyai Tuhan yang sempurna.

Flourishing relationship do not begin with finding the right people, but with becoming a healed person.

Dan yang bisa menyembuhkan dan memulihkan saudara dan saya. Hanya satu. The perfect love of God. The unconditional love of God.

Sharing Ps. Sidney – Beberapa waktu yang lalu beberapa hari yang lalu sebenarnya saya melihat sebuah video yang tampil, ada seorang aktor dari Amerika yang baru saja meninggal dunia setelah dia “battling cancer” selama beberapa tahun.

Usianya masih muda, dia lebih muda dari saya. Saya tahu karya dia, film dia, beberapa TV seri dia seperti Dawson’s Creek, dan ternyata sebelum dia meninggal dia membuat sebuah video yang sekarang cukup viral.

Dan di video tersebut, dia sedang sendirian berbicara dengan kameranya dan dia mengatakan, intinya begini, but you take away all the acting, dia udah tidak bisa menjadi actor lagi, dia bahkan sudah tidak bisa ada dirumah karena dia harus sendirian di rumah sakit dengan semua terapi, dia sudah tidak bisa menjadi seorang suami lagi karena dia sendirian, dia tidak bisa menjadi seorang ayah lagi. Dia diberhentikan dari semua hal yang telah dia lakukan sebelumnya.

Dan dia bertanya begini, dan dia bilang ini dalam videonya.

“Saya mulai bertanya, aku ini siapa? Dan dia mendapatkan satu pewahyuan atau sebuah “insight”, Saat saya sudah tidak bisa menjadi itu semua, saat saya tidak bisa melakukan apa lagi, Dia berkata begini,

Dan saya menyadari bahwa saya berharga, “I am worthy of God’s love, simply because I’m exist” That’s it.

At the end of his life, dia baru saja meninggal dunia. Sewaktu saya menyaksikan video tersebut, langsung saya kirimkan kepada keluarga, kirimkan kepada anak-anak, seperti yang biasanya kita lakukan di grup WhatsApp kita kan yah.

But then I realized, Same thing happened to me beberapa tahun yang lalu. Pada saat kita sadar bahwa despite everything, satu-satunya kebenaran yang ada dalam hidup kita ini “God loves me”.

Hanya itu. You take away semua pekerjaan saudara, kesuksesan saudara, jabatan saudara, semua, semuanya. Jika itu semua dihilangkan, tidak ada lagi yang kita miliki. Yang kita miliki cuman satu, God’s love.

5 tahun yang lalu saya menulis sebuah lagu judulnya “This Truth Remains“. Lagunya bukan lagu gereja yang dinyanyikan di hari minggu. Saya menuliskan lagu ini, saya rekam 5 tahun yang lalu sebagai curhat saya pada waktu saya sedang memproses meninggalnya mama saya di tahun 2019. Dan tidak lama setelah itu, my little sister, adik saya perempuan juga meninggal dunia.

And throughout that sorrow, I was trying to process, saya seperti seorang penulis lagu, saya hanya bisa mengungkapkannya dalam sebuah lagu, lahirlah sebuah lagu yang namanya “This Truth Remains”. Kata-katanya simple. Despite all my sorrows, this truth remains that I am loved by you. Itu lirik yang saya tulis, dan saya post di Youtube.

Ada satu komentar di youtube channel saya yang sampai hari ini saya terus membacanya. Dan ijinkan saya membacanya bagi saudara. Saya berdoa di akhir daripada firman Tuhan hari ini, saudara bisa menemukan satu keyakinan bahwa Tuhan sangat amat menyayangi saudara dan saya.

Komentar ini 5 tahun lalu dia tulisnya begini.

“Secara jujur, hari ini saya baru benar-benar mendalami lagu ini. Saya sudah memutarnya berulang kali. Tetapi hanya untuk didengarkan tanpa benar-benar memperhatikan liriknya. Saya hanya hafal bagian -This truth remains despite my trouble. That I am loved by you- Hari ini ketika saya mendalami liriknya yang ternyata begitu memuatkan.”

“Di tengah masalah dan ketakutan yang sedang saya hadapi. Tuhan mengingatkan saya pada sebuah keajaiban yang pernah Dia lakukan dalam hidup saya. “You are my choir in the noise” -Salah satu lirik yang saya tulis-.

“Saya tahu Pastor menulis kalimat ini karena Tinitus yang Pastor alami. Tapi saya pun pernah mengalami noise yang sama namun dalam bentuk yang berbeda. Saya mengalami depresi sejak November 2018 dan Tuhan sudah memulihkan saya”.

“Saat membaca lirik ini saya teringat masa-masa ketika justru saat saya sendirian adalah waktu yang paling ribut dalam hidup saya. Memang tidak ada orang di sekitar saya. Saya juga bukan seorang pengidam “schizoprenia” yang bisa mendengar suara-suara khayalan”.

“Namun yang begitu ribut, (Perhatikan) Itu adalah diri saya sendiri, pikiran saya sendiri, dan jiwa saya sendiri. Saya masih ingat lelahnya mengkonsumsi obat-obatan tanpa tahu kapan semua ini akan berakhir”.

“Rasanya sangat melelahkan, Bangun di tengah malam dan menangis untuk hal-hal yang hanya ada di dalam pikiran saya sendiri, Berdebat dengan psikiater dan psikolog tentang kondisi jiwa saya. Semua tantangan itu telah saya lalui secara ajaib”.

“Begitu ajaibnya. Sampai Psikolog saya sering bertanya dengan sangat penasaran. Bagaimana kamu bisa sembuh dalam waktu sesingkat ini? Dia bahkan bertanya apakah saya diberi obat baru atau rutin meminum obat penenang. Mungkin psikiater saya pun bertanya hal yang sama. Karena suatu hari saya tidak pernah kembali lagi menemuinya. Padahal dulu saya selalu datang setiap dua minggu sekali”.

“Dan jawaban saya kepada sang Psikolog itu sederhana. Saya hanya jawab, “Yesus“.

“Saya selalu tersentuh dengan kalimat “then Jesus saved me”, Karena memang begitulah yang terjadi. Hidup saya hancur lalu Yesus menyelamatkan saya. Lagu ini bukan hanya mengajak saya untuk percaya bahwa saya dapat berdiri di tengah bagai kehidupan dan bukan hanya mengingatkan saya bahwa Tuhan mengasihi saya apapun yang terjadi. Bagi saya lagu ini adalah sebuah “throwback”.

“Sebuah praise report pribadi tentang bagaimana Tuhan sudah menolong dan memulihkan saya. So thank you for this blessing song. May God always bless you. And remember (dia tulis begini kepada saya), Remember, whatever happens, you are loved by God”.

Bukan untuk menemukan orang yang benar, bukan untuk menemukan pasangan yang tepat dalam hidup kita. Tapi mengizinkan Tuhan yang sempurna untuk mengasihi kita lebih dari pernah apa yang kita bisa bayangkan dan harapkan, lebih daripada apapun yang pernah kita terima dari manusia siapapun.

Tuhan mengasihi kita semua. Bahkan pada waktu kita masih berdosa. Tuhan Yesus datang untuk menyelamatkan kita semua, what kind of Love is that? Tutup catatan saudara dan mari kita tutup dengan doa.

P.S : If you like our site, and would like to contribute, please feel free to do so at : https://saweria.co/316notes