Gembala yang Baik By Ps. Jeffrey Rachmat

JPCC Online Service (10 April 2022)

Salam damai sejahtera untuk Saudara, JPCC DATE member yang dikasihi Tuhan, dan semua Saudara yang mengikuti ibadah daring JPCC pada hari minggu kedua di bulan April ini. Kiranya kasih karunia dan kebaikan Tuhan menyertai Saudara semua. Puji Tuhan untuk keadaan yang semakin membaik sehingga kita juga sudah dapat melakukan kebaktian secara on-site, baik di The Kasablanka, Sutera Hall, dan Upperroom— masing-masing dengan dua kali kebaktian, jam 9 dan jam 11.15 pagi.

Namun untuk dapat hadir, Saudara harus melakukan pendaftaran di MyJPCC App yang mulai dibuka setiap hari Kamis jam 12 siang. Untuk yang berhalangan hadir, Saudara tetap dapat mengikuti kebaktian daring setiap hari Minggu dimulai dari jam 9 pagi.

Beberapa tahun yang lalu, Doctor AR. Bernard memperkenalkan pada kita sebuah kata yang belum pernah saya dengar sebelumnya, yaitu “anthropomorphize”. Mungkin Saudara pernah mendengarnya, tetapi buat saya ini adalah kata yang baru.

Secara sederhana, “antropomorfis” adalah suatu kecenderungan melekatkan karakteristik, motif, dan perilaku manusia kepada entitas lain, seperti kepada hewan atau kepada Tuhan. 

Meskipun istilahnya terdengar baru, tetapi sebenarnya sedari dulu, manusia sudah sering melakukan “antropomorfis”, terutama dalam cerita dongeng dan kartun. Contohnya Mickey Mouse, Tom and Jerry, Donald Duck, Sponge Bob, dan lain sebagainya.

Kita semua tahu bahwa tikus, kucing, bebek, bahkan sponge kuning yang biasa ditemukan di laut itu tidak dapat berbicara dan tidak berkelakuan seperti manusia, tetapi kita melekatkan karakteristik dan perilaku manusia kepada mereka untuk tujuan tertentu—seperti hiburan, pendidikan atau untuk menyampaikan pesan.

Tujuan dari antropomorfisme adalah untuk membantu kita menyederhanakan dan lebih memahami entitas yang rumit. Alkitab sering memakai antropomorfisme untuk membantu kita mengerti tentang Tuhan dan karakter-Nya. Contohnya dalam Mazmur 91:4 (TB).

Opening Verse – Dengan kepak-Nya Ia akan menudungi engkau, di bawah sayap-Nya engkau akan berlindung, kesetiaan-Nya ialah perisai dan pagar tembok. Mazmur 91:4 (TB)

Bukan berarti Tuhan itu burung. Melainkan, seperti seekor burung yang melindungi anak-anaknya dari semua bahaya yang mengancam, demikianlah Tuhan melindungi kita, anak-anak-Nya.

Kesetiaan Tuhan itu digambarkan seperti perisai dan pagar tembok yang mampu untuk melindungi kita dari setiap serangan si jahat, seperti tembok pertahanan yang kuat dalam menghadapi bahaya.

Baru di bulan lalu kita membahas tentang Yesus sebagai pokok anggur dan kita sebagai ranting-rantingnya. Bukan berarti Tuhan itu tanaman; melainkan, Yesus memakai tanaman anggur sebagai gambaran dari dinamika hubungan antara Dia dengan orang-orang yang percaya kepada-Nya, supaya kita tahu apa yang kita bisa harapkan dan apa yang Tuhan harapkan dari kita, yaitu supaya kita berbuah dan supaya buah kita tetap.

Supporting Verse – “Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku,  ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput.” Yohanes 10:9 (TB)

Pintu adalah tempat orang masuk ke suatu tempat. Pintu bicara mengenai akses. Dengan mengatakan “Akulah pintu,” Yesus menyatakan bahwa :

  • Melalui Dia kita beroleh akses kepada Bapa di Surga
  • Melalui Dia kita bisa masuk ke dalam Kerajaan Allah
  • Melalui Dia kita bisa menerima berkat dan janji-janji Tuhan.

Supporting Verse – Kata Yesus kepada mereka: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.” Yohanes 6:35 (TB),

Ini bukan berarti Tuhan itu roti yang bisa dimakan, melainkan Yesus menggambarkan bahwa seperti manusia butuh roti,— yang adalah gambaran dari kebutuhan pokok manusia, terutama bagi mereka yang hidup pada zaman itu— demikian juga kita butuh Tuhan dalam kehidupan kita. Bila kita makan roti, kita hanya kenyang sesaat saja. Namun Tuhan sanggup memuaskan kita sehingga kita tidak akan pernah merasa lapar lagi— lapar akan kebenaran, kasih sayang, lapar akan ketenangan, perhatian, dan lain sebagainya.

Yesus sanggup memenuhi segala kelaparan pada jiwa kita, sehingga kita bisa berkata, “Kristus saja cukup bagiku.” Setelah kita mengerti antropomorfis, mari kita membaca Yohanes 10:11-13 (TB).

Supporting Verse – “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu. Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu.” Yohanes 10:11-13 (TB).

Di sini Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai seorang gembala domba. Bahkan Dia menyatakan bahwa Dia bukan sembarang gembala, melainkan seorang gembala yang baik. Ini bukan suatu bentuk kesombongan atau tinggi hati; melainkan, Yesus memang tahu jelas siapa diri-Nya serta tugas dan kewajiban-Nya sebagai seorang gembala dari kawanan domba.

Kemudian Yesus menguraikan perbedaan antara seorang gembala yang baik dan seorang yang terlihat seperti gembala, tetapi dia hanyalah seorang upahan— seseorang yang disewa untuk menjaga kawanan domba. Seorang gembala yang baik memperhatikan keberadaan domba-dombanya.

Dia selalu memperhatikan keamanan domba-dombanya. Sedangkan seorang upahan hanya ada di sana untuk kepentingan diri sendiri. Dia tidak merasa memiliki domba-domba tersebut, sehingga bila serigala datang, atau bahaya lain datang, dia akan menyelamatkan dirinya dan meninggalkan kawanan domba.

Sharing Ps. Jeffrey – Saya berulang kali mengingatkan para staf di kantor atau para Volunteer, dan sekarang saya juga ingin mengingatkan Saudara, untuk jangan mempunyai semangat sebagai orang sewaan, tetapi punyailah semangat layaknya seorang pemilik—seolah Saudara yang memiliki semua yang dipercayakan di tangan Saudara.

Jangan berkelakuan seperti orang sewaan. Meskipun yang di tangan Saudara bukan kepunyaan Saudara sendiri, tetapi bila Saudara memperlakukannya seperti milik Saudara sendiri, maka sang pemilik barang pasti akan merasa diberkati. Itulah yang disebut dengan setia dengan barang orang lain seperti yang Yesus katakan dalam Lukas 16:12 (TB).

Supporting Verse – “Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?” Lukas 16:12 (TB)

Inilah yang saya percayai: kalau kita setia, bertanggung jawab, memperlakukan harta orang lain dengan tidak sembarangan, merawatnya seperti kepunyaan sendiri, maka kita akan dipercayakan Tuhan harta yang sesungguhnya.

Dengan kata lain, perlakuan kita terhadap harta milik orang lain di tangan kita adalah ujian untuk kita menerima harta kita yang sesungguhnya.

Supporting Verse – “Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku.” Yohanes 10:14-15 (TB) 

Di sini Tuhan digambarkan sebagai gembala yang baik, yang mempunyai hubungan dengan domba-domba-Nya, dan domba-domba-Nya pun mempunyai hubungan dengan Dia. Kita melihat keinginan Tuhan untuk membangun hubungan dengan kita yang percaya kepada-Nya. Bukan hanya Dia yang mengenal kita, melainkan juga—jelas dikatakan di sini—kita, sebagai domba-domba-Nya, perlu mengenal Dia, sang gembala.

Gembala yang baik selalu melindungi domba-dombanya dari terkaman serigala, bahkan rela bertarung dan memberikan nyawanya agar domba-dombanya terselamatkan. Demikian juga Yesus akan selalu melindungi kita dari tipu muslihat si jahat, dan bahkan Dia sudah membuktikan kasih-Nya kepada kita dengan mati di atas kayu salib sebagai korban penebusan untuk menyelamatkan kita dari kuasa dosa dan maut.

Masalahnya, apakah kita percaya bahwa Yesus adalah seorang gembala yang baik? Pertanyaan berikutnya adalah, sadarkah kita akan keberadaan kita sebenarnya

Supporting Verse – Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Matius 9:35-36 (TB)

Waktu Yesus melihat orang banyak itu, Ia kasihan kepada mereka, sebab mereka kebingungan dan tidak berdaya, seperti domba yang tidak punya gembala. Matius 9:36 (BIS)

Saya rasa keadaan orang-orang saat itu tidak berbeda dengan keadaan banyak orang di zaman sekarang. Banyak orang yang kebingungan, diombang-ambingkan oleh beragam pengajaran atau tren.

Akibatnya, mereka menjadi lelah, tidak berdaya, terlantar, tidak punya arah dan tujuan dalam hidup mereka. Seperti itulah gambaran domba yang tidak punya gembala. Mereka mudah dipermainkan dan terjerat tipu muslihat si iblis. Pasti ada maksudnya Alkitab menggambarkan manusia seperti seekor domba.

Apa saja persamaan yang kita bisa temukan? Berikut ini ada beberapa hal menarik tentang karakteristik seekor domba yang mungkin dapat memperjelas tujuan Alkitab mengumpamakan kita, manusia, seperti domba.

Yang pertama, domba itu binatang sosial.

Mereka suka bergerombol, berkerumun. Itu sebabnya Yesus mengatakan, saat serigala datang untuk menerkam dan mencerai-beraikan kawanan domba, domba yang tercecer sendirian dapat dengan mudah menjadi mangsa serigala.

Demikian juga, siasat yang dipakai oleh iblis adalah untuk memecah-belah persatuan, sehingga anak-anak Tuhan—entah karena kecewa, sakit hati, atau kepahitan— mulai meninggalkan persekutuan atau perkumpulan orang benar, dan menjadi sendirian, menyebabkan iman mereka mudah ditaklukkan.

Yang kedua, domba itu mudah panik.

Pada dasarnya, domba itu binatang penakut.

Yang ketiga, domba adalah binatang yang bodoh, bila dibandingkan dengan binatang yang lain.

Beberapa waktu yang lalu, sempat beredar video tentang seekor domba yang kepala dan badannya terjepit di sebuah selokan, dan gembalanya segera membebaskannya dengan menariknya keluar. Namun baru saja domba itu dibebaskan, dia lari dan melompat, kemudian masuk lagi ke sebuah selokan, beberapa meter di depannya.

Saya rasa semua yang melihat video itu akan berkomentar yang sama: “Bodoh betul, sih!” Memang domba adalah binatang yang bodoh. Namun bukankah sering kali itu pun menggambarkan kehidupan manusia? Jatuh ke dalam dosa yang sama berulang-ulang? Sudah berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatannya, tapi tidak lama kemudian kembali berbuat kesalahan atau dosa yang sama?

Yang keempat, domba tidak punya mekanisme untuk mempertahankan diri.

Dia tidak punya cakar yang kuat, taring, ataupun gigi yang bisa membantu dia untuk mempertahankan diri. Yang domba bisa lakukan hanyalah lari. Itu sebabnya, tanpa seorang gembala, domba tidak mempunyai banyak harapan untuk hidup.

Yang kelima, domba pandangannya terbatas— hanya mempunyai jarak pandang sekitar enam meter.

Artinya, domba selalu membutuhkan bimbingan untuk berjalan ke suatu tujuan.

Yang keenam, domba binatang keras kepala— suka semaunya sendiri.

Yang ketujuh, domba tidak dapat menahan beban yang berat.

Bahkan kalau bulunya bertumbuh terlalu tebal, akan menjadi beban tersendiri buat seekor domba. Jika tidak segera dicukur, domba akan mudah jatuh terbalik dengan kaki di atas dan tidak mampu berdiri lagi.

Jika tidak ditolong atau dikoreksi oleh gembalanya, maka domba akan mati kelaparan dalam posisi kaki di atas.

Yang kedelapan, domba adalah binatang yang paling membutuhkan perawatan dari semua jenis ternak.

Seorang gembala harus mengoleskan minyak pada wajah domba untuk mencegah lalat masuk ke hidungnya dan bertelur di sana. Sebab apabila hal itu terjadi, maka domba akan merasa tidak nyaman dan mulai membenturkan-benturkan kepalanya ke batu, sehingga menyebabkan kematiannya sendiri.

Yang kesembilan, domba suka dengan hal-hal yang rutin.

Artinya, domba tidak suka dengan perubahan.

Dan yang kesepuluh, domba mempunyai pendengaran yang sangat baik.

Inilah kekuatan dari seekor domba, yaitu telinganya yang sensitif, sehingga mempunyai kemampuan untuk membedakan suara gembalanya dari suara yang lain.

Setelah mengetahui sebagian besar karakteristiknya, saya harap Saudara mulai mengerti mengapa kita digambarkan seperti domba, yang sangat memerlukan gembala yang baik. Dan kita, sebagai domba, juga perlu belajar mengenali suara gembala kita.

Supporting Verse –  “Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya. Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari dari padanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal.” Yohanes 10:4-5 (TB)

Sharing Ps. Jeffrey – Beberapa hari yang lalu, dalam pertemuan doa staf, kami semua menonton sebuah video yang memperlihatkan kawanan domba yang cukup banyak di sebuah ladang. Kemudian ada beberapa orang yang diminta meniru suara gembala untuk memanggil domba-dombanya yang sedang berkerumun untuk makan di ladang tersebut.

Dan tidak ada satu orang pun, walau sudah meniru teriakan sang gembala, yang berhasil memanggil domba-dombanya tersebut untuk mendekat. Setelah itu, giliran sang gembala memanggil domba-dombanya, dan, dengan segera, domba-domba itu menegakkan kepalanya kemudian satu per satu mereka datang mendekat pada gembalanya.

Suatu jaminan yang diberikan Yesus kepada kita semua, bahwa kalau kita menjadikan Dia gembala kita, maka kita akan mampu untuk mendengar dan mengenali suara-Nya. Minggu lalu, Pastor Jose sudah menerangkan pada kita dengan baik cara mendengar dan mengenali suara Tuhan.

Namun yang saya temukan—selama bertahun-tahun melayani di ladang Tuhan— bahwa masalahnya bukan Tuhan tidak berbicara, atau kita tidak dapat mengenali suara atau kehendak-Nya. Melainkan, sering kali masalahnya adalah kita tidak taat pada suara Tuhan. Kita semua pasti pernah mendengar suara lembut yang mengingatkan kita sebelum kita berbuat dosa. Suara siapakah itu? Apakah itu suara si jahat? Atau suara Roh Kudus? 

Tentu tidak mungkin suara si jahat sebab dia justru mau kita berdosa, sehingga dia dapat menuduh kita dan menaruh rasa bersalah. Inilah bisikan yang selalu dipakai oleh iblis: “Ah, tidak apa-apa, tidak dosa. Semua orang juga melakukannya.”

Iblis selalu mencoba agar kita memandang enteng dosa. Namun, setelah kita melakukannya, suara iblis menjadi yang paling keras untuk menuduh kita dan menaruh perasaan bersalah ke mana pun kita pergi. Jadi sebenarnya, masalahnya bukan apakah kita bisa mendengar suara Roh Kudus atau tidak; melainkan, apakah kita mau taat atau tidak.

Saya yakin kita semua pernah mendengar bisikan atau suara Roh Kudus. Ingat bagaimana manusia jatuh di dalam dosa? Bukankah karena ketidaktaatan satu orang dosa masuk ke dalam dunia?

Jadi isunya bukan kita bisa atau tidak mendengar suara Tuhan, melainkan, isu yang lebih besar adalah apakah kita mau taat setelah kita mendengar suara tersebut?

Supporting Verse – Tetapi Samuel berkata, “Manakah yang lebih disukai TUHAN, ketaatan atau kurban persembahan? Taat kepada TUHAN lebih baik daripada mempersembahkan kurban. Patuh lebih baik daripada lemak domba.” 1 Samuel 15:22 (BIS)

Ketaatan jauh lebih baik dari persembahan korban. Ketaatan merupakan masalah yang sangat besar buat kita semua. Dalam kehidupan sehari-hari pun, kita menemukan begitu banyak orang yang mengalami kesulitan untuk sekadar taat pada peraturan yang sudah jelas harus ditaati untuk keselamatan diri sendiri.

Seperti aturan berlalu lintas di jalan— berapa banyak di antara kita setiap hari melihat kendaraan bermotor yang melawan arus, atau yang jalan terus padahal lampu lalu lintas masih berwarna merah.

Kalau yang terlihat saja sulit ditaati, apalagi yang tidak terlihat?

Itu sebabnya kita harus mengerti keberadaan kita, bahwa pada dasarnya, karakteristik kita ini sedikit banyak sama dengan domba dan kita sangat membutuhkan seorang gembala yang baik untuk menuntun dan memelihara kita.

Supporting Verse – Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu. 1 Petrus 2:25 (TB) 

Ini yang kita perlu lakukan, yaitu kembali kepada gembala dan pemelihara jiwa kita. Puji Tuhan Daud menulis pengalamannya berjalan bersama Tuhan, dan, dari pengalamannya itu, dia mengambil sebuah kesimpulan bahwa benar, Tuhan adalah gembala yang baik. Mari kita baca apa yang Daud tulis tentang Tuhan sebagai gembala.

Supporting Verse – Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Mazmur 23:1(TB)

Ini datang dari pengalamannya. Selama Daud berjalan dengan Tuhan, dia tak pernah kekurangan. Semua yang dia perlu, Tuhan cukupkan, seperti seorang gembala yang memperhatikan kebutuhan domba-dombanya. Kemudian di ayat ke-2 dia katakan.

Supporting Verse – Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Mazmur 23:2-3 (TB)

Padang rumput yang hijau dan air yang tenang adalah tempat yang ideal untuk domba beristirahat dan mendapatkan makanan. Ke sanalah seorang gembala yang baik menuntun domba-dombanya. Dengan cara yang sama, Daud mengalami Tuhan memperhatikan dan sangat mengasihi dia. Perhatikan yang berikut ini.

Dikatakan, “Ia membaringkan, Ia membimbing, Ia menyegarkan, Ia menuntun,”—semuanya kata kerja. Seorang gembala yang baik mau repot untuk kesejahteraan dan keberadaan domba-dombanya, dan itulah yang kita bisa harapkan dari Tuhan kita, kalau kita menjadikan Dia gembala kita.

Percayakah Saudara akan hal tersebut?

Supporting Verse – Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. Mazmur 23:4 (TB)

Pertama, ayat ini mengajarkan bahwa kita bisa saja berjalan dalam lembah kekelaman. Hidup sebagai orang percaya bukan berarti kita tidak akan pernah jalan melewati lembah kekelaman.

Namun dari pengalaman Daud, sebagai gembala yang baik, Tuhan selalu beserta dengan dia, ketika dia berada dan berjalan dalam lembah kekelaman. Itu sebabnya dia tidak takut akan bahaya sebab gembala yang baik tidak pernah meninggalkan domba-dombanya pada saat mereka berada di dalam bahaya.

Keamanan domba ada pada gembalanya. Yesus selalu beserta kita, selalu siap dengan gada dan tongkat-Nya. Tongkat dipakai oleh gembala untuk menyelamatkan domba dari situasi yang sulit dan berbahaya. Seorang gembala menggunakan ujung tongkat yang bengkok untuk menarik seekor domba dari semak-semak yang lebat atau untuk mengangkatnya kalau dia jatuh ke selokan dan terluka.

Tuhan menyelamatkan kita dengan cara yang sama. Setiap kali kita mengalami masalah, Dia ada di sana untuk menyelamatkan kita, mengeluarkan kita dari permasalahan kita, dan membawa kita ke tempat yang aman. Tongkat juga dipakai untuk menuntun kawanan domba. Sedangkan gada adalah alat pemukul, digunakan untuk melindungi domba dari pemangsa, karena domba bergantung pada gembala untuk membela kawanannya.

Jadi gada dipakai sebagai senjata yang kuat untuk melawan musuh yang kemungkinan datang untuk menerkam mereka. Gada dan tongkat itulah yang menjadi penghiburan buat domba, karena selama gembalanya beserta dengan mereka dan membawa gada dan tongkat, mereka tahu bahwa mereka selalu aman.

Supporting Verse – Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu?  Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Roma 8:31 (TB) 

Gembala yang baik bukan hanya menyediakan, melainkan juga menuntun dan mengarahkan, juga mengoreksi dan melindungi.

Hal kedua yang dapat dipelajari dari ayat ke-4 adalah kalau Saudara perhatikan, dari ayat pertama sampai tiga, Daud memakai kata “Ia” untuk menggambarkan Tuhan.

Tuhan digambarkan sebagai pihak ketiga di sini. Namun ketika Daud berjalan dalam lembah kekelaman, Daud tidak lagi memakai kata “Ia” untuk menggambarkan Tuhan. Ia memakai kata “Engkau”— Tuhan digambarkan sebagai orang kedua.

Ini menunjukkan bahwa hubungan Daud dengan Tuhan menjadi lebih dekat lagi justru ketika Daud berjalan dalam lembah kekelaman. Dan inilah yang Saudara bisa harapkan juga dari Tuhan. Ketika Saudara ada dalam kesulitan besar, krisis, kekelaman, Dia mau menjadi lebih dekat lagi sehingga Saudara bisa mengenal Dia lebih dekat lagi.

Supporting Verse – Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. Mazmur 23:5 (TB)

Kalau kita tidak berhenti di lembah kekelaman, kalau kita tidak menyerah, dan tetap percaya pada pimpinan Tuhan sebagai gembala kita, meskipun sedang berada dalam lembah kekelaman, Tuhan akan menyediakan hidangan bagi kita.

Saya melihat di sini bahwa Tuhan seolah ingin “pamer”— Tuhan ingin memamerkan kebaikan-Nya, Tuhan ingin memamerkan berkat dan kasih-Nya kepada kita di depan orang-orang yang memusuhi kita. Luar biasa bukan?

Itu sebabnya, jangan berhenti saat Saudara ada dalam lembah kekelaman. Terus jalan. Jangan berhenti, karena besar upah yang menanti Saudara.

Supporting Verse- Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa. Mazmur 23:6 (TB)

Inilah yang dialami Daud dalam pengalamannya berjalan bersama dengan Tuhan. Bila Daud melihat ke belakang, selama hidupnya, dia bisa bersaksi bahwa kebajikan dan kemurahan belaka yang mengikuti dia seumur hidupnya.

Bukan karena kuat dan gagahnya, melainkan karena Siapa yang memimpin hidupnya. Itu sebabnya dia dapat menulis kesaksian bahwa benar, Tuhan adalah gembala yang baik bagi seekor domba seperti dia.

Itu juga yang menjadi doa saya, yaitu agar kita semua mempunyai pengalaman pribadi berjalan bersama Tuhan, sehingga, sama seperti Daud, kita juga dapat bersaksi bahwa Tuhan Yesus adalah gembala yang baik untuk domba yang bodoh dan keras kepala seperti saya.

Jadi, apa saja yang kita bisa pelajari hari ini?

Kita sama seperti domba. Kita sangat memerlukan seorang gembala, dan Yesus sudah menegaskan bahwa Dialah gembala yang baik, satu-satunya yang kita perlukan. Kita perlu kembali pada Yesus sebagai gembala dan pemelihara jiwa kita, dan mulai belajar mengenal Dia, mengikuti Dia seperti domba yang berjalan mengikuti gembalanya, belajar mendengar suara-Nya, serta tetap berada dalam komunitas sehingga kita tidak terlepas dari kawanan dan tercecer, membuat kita mudah menjadi mangsa si jahat.

Closing Verse – “Tetapi siapa mendengarkan aku, ia akan tinggal dengan aman, terlindung dari pada kedahsyatan malapetaka.” Amsal 1:33 (TB) 

Doa saya agar Saudara mengerti dan diperlengkapi, dan Saudara mengalami Tuhan Yesus sebagai gembala yang sangat baik, yang Saudara perlukan setiap waktu. Tuhan Yesus memberkati Saudara semua.

P.S : Dear Friends, I am open to freelance copywriting work. My experience varies from content creation, creative writing for an established magazine such as Pride and PuriMagz, web copywriting, fast translating (web, mobile, and tablet), social media, marketing materials, and company profile. Click here to see some of my freelancing portfolios – links.

If your organization needs a Freelance Copywriters or Social Media Specialist, Please contact me and see how I can free up your time and relieve your stress over your copy/content needs and deadlines. My contact is 087877383841 and vconly@gmail.com. Sharing is caring, so any support is very much appreciated. Thanks, much and God Bless!