Kasih yang Melindungi By Ps. Kenny Goh

JPCC Sutera Hall 2nd Service (25 October 2026)

Syalom Saudara! Disaat kita menyanyi dan menyembah Tuhan, ini bukan kita “nonton konser” ya, Saudara. Tetapi kita semua berpartisipasi sebagai ibadah kita di hadapan Tuhan, kita semua bawa yang terbaik. Mereka yang punya talenta, punya kemampuan dan memakai kemampuan itu untuk kita memuliakan Tuhan. Kita mengakhiri series “Love is here” hari ini, dengan judul kotbah, “Kasih yang melindungi“.

Mari kita mulai dengan baca dari Mazmur 62 ayat 8 sampai 9.

Opening Verse – “Pada Allah ada keselamatanku dan kemuliaanku; gunung batu kekuatanku, tempat perlindunganku ialah Allah. Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita. Sela”
Mazmur 62:8-9 TB

Saudara, Allah mau dikenal sebagai tempat perlindungan buat umat manusia. Allah mau dikenal sebagai tempat yang aman, di mana kita bisa berlindung, dan di mana kita bisa menemukan keselamatan, seperti dalam ayat ini. Kita bisa menemukan Kemuliaan. Apa itu maksudnya?

Dimana kita kembali dipulihkan identitas kita, kita kembali menjadi utuh, kita menerima kemuliaan dari Tuhan dan kita juga menerima kekuatan dari Allah. Allah mau jadi tempat yang aman. Nah, hal ini semakin penting untuk kita sampaikan. Hari-hari ini penting untuk kita mengerti dan penting juga untuk kita juga saling mengingati satu sama lain. Karena kita hidup dalam dunia yang semakin hari semakin terasa tidak aman. Tentu ada banyak laporan kejadian tentang bencana alam dan situasi ekonomi yang terjadi, dan seringkali respon berupa penghakiman, atau bahkan respon berupa “nyinyir” yang sering muncul.

Semakin kita berjarak dengan orang yang kita tidak kenal, semakin mudah kita menghakimi dan dunia jadi tempat yang tidak aman saudara, tidak aman untuk kita menjadi diri sendiri. Semakin lama semakin tidak sehat. Jadi saudara, semakin berjarak dengan orang lain, semakin mudah untuk menghakimi. Sebaliknya, semakin dekat kita dengan seseorang, semakin besar empati kita.

Karena kalau dari jauh, dan kita tidak kenal atau kita tidak terlalu dekat, dan pada saat dia selingkuh… “Wah, kayaknya banyak sekali teorinya, soalnya karena ini dan itu, lalu jejak-jejaknya banyak sekali, karena ini dan itu, gue tahu dia pasti ini dan lain-lain” tetapi kalau dari dekat sebalinya, saudara dengar dan bisa bilang bahwa “Yah, saya kenal dia sih, dan saya tahu bahwa dia memang berasal dari keluarga yang broken home, dan dia sangat struggle untuk mengatasi apa yang sudah diwariskan oleh keluarganya”.

Berbeda respon, Saudara.

Atau kalau misal ada yang berkata, “Wah, orang itu suka berbohong! Fake banget ya!”, tetapi jika saudara kenal dan dekat, mungkin saudara berpikir, “Yah, Dia bertunbuh besar dan tidak diterima sama keluarganya, sama teman-temannya saat dia menjadi diri dia sendiri. Jadi dia harus membangun persona yang berbeda, dan berbohong.”

Hurt people, hurt people.

Yang sering buat drama, kenyataannya memang begitu besar tidak mendapat perhatian dari orang tua dan dari sekelilingnya. Nah, tentu kita tidak membenarkan perilaku-perilaku yang salah. Kita akan membenarkan itu karena perilaku-perilaku itu adalah sebuah problem yang harus ditangani dan harus dicari solusi, saudara.

Namun, dalam kita melakukan itu, “solving the problem”, kita bisa berempati dan mengerti the person. Kita bisa tahu dan mengerti konteksnya. Kita mengerti apa yang menjadi issue sebenarnya dalam orang, untuk memisahkan antara “the problem and the person”.

Saudara, Setiap hati manusia merindukan adanya tempat yang aman untuk berlindung agar menemukan keselamatan, kemuliaan, dan kekuatan. Setiap hati manusia, mari kita observasi sebentar, bagaimana Yesus menanggapi dan melayani seorang pribadi yang mengalami krisis dalam hidupnya. Mungkin banyak saudara yang sudah lama di gereja sudah tahu kisah ini, dan sebenarnya 4 tahun yang lalu saya sempat bahas lebih detail tentang kisah ini di Sutera Hall ini. Tapi it’s been 4 years, mungkin banyak saudara yang belum pernah mendengar atau sudah lupa.

So kita lihat kembali, kisah pada saat Yesus bersama-sama dengan murid-murid-Nya, memutuskan untuk berjalan berangkat dari provinsi Yudea menuju provinsi Galilea.

Supporting Verse – “Jadi Dia bersama kami meninggalkan provinsi Yudea dan kembali ke provinsi Galilea. Dalam perjalanan ke sana Dia harus melewati daerah Samaria. Sewaktu di Samaria, Yesus dan kami sampai di sebuah kampung bernama Sikar, dekat dengan tanah yang dulu diberikan Yakub kepada Yusuf, anaknya. Di tanah itulah terletak sumur Yakub. Karena perjalanan jauh, Yesus merasa sangat lelah lalu duduk di pinggir sumur itu. Saat itu kira-kira tengah hari. Kemudian datanglah seorang perempuan Samaria ke sumur itu untuk menimba air. Yesus berkata kepadanya, “Ibu, tolong beri saya air untuk diminum.” Yohanes 4:3-7 TSI

Konteksnya, si perempuan samaria yang datang ke sumur untuk menimba air, dia datang tengah siang karena biasanya mereka mengambil air itu sewaktu pagi. Tetapi dia datang siang karena dia mau menghindari segala macam interaksi dengan wanita-wanita lain. Dan saat itu terjadi, murid-murid Yesus sedang tidak ada disana.

Supporting Verse – Waktu hal itu terjadi, kami sudah pergi ke kampung Sikar untuk membeli makanan. Lalu perempuan itu berkata kepada-Nya, “Saya heran! Bagaimana mungkin Bapak, seorang Yahudi, minta air minum kepada saya, seorang Samaria!” Dia berkata begitu karena orang Yahudi menganggap orang Samaria najis. Yohanes 4:8-9 TSI

Nah, Saudara Minggu lalu, Saudara sudah dengar nih tentang Yesus memberikan perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati, ya kan?

Dan saya mau ajak kita telusuri, sebenarnya apa sih akar konflik orang Samaria dan orang Yahudi, supaya Saudara bisa lebih appreciate apa yang sedang terjadi. Dua kali Yesus menyebut tentang orang-orang Samaria. Sedikit sejarah, Saudara. Sekitar 722 tahun sebelum masehi, sebelum Yesus datang, ada seorang raja, namanya Raja Sargon dari kerajaan Asyur, dia menjajah Israel bagian utara. Jadi, zaman dulu Israel dibagi menjadi dua bagian, utara dan selatan, bagian selatan disebut namanya Yudea, bagian atasnya.

Ada beberapa wilayah lain lagi. Jadi, begini, Raja Sargon, dia dari kerajaan Asyur, dia menjajah bagian utara ini, dan dia melakukan etnosida. Dia menghilangkan ras Yahudi dari sejarah Timur ini. Jadi, dia suruh semua ini, bangsa Asyur ini, untuk menikahkan orang Yahudi. Nah, Raja Sargon ini berhasil, karena dalam beberapa generasi aja, tidak ada satupun orang Samaria yang bisa mengklaim dirinya. Sedangkan di Israel bagian selatan, mereka berhasil untuk melawan Raja Sargon.

Tetapi dalam beberapa waktu kemudian Raja Nebukadnezar menyerang. Nah, Nebukadnezar berhasil menaklukkan Israel selatan tetapi dia tidak memaksa penduduknya untuk menikah dengan orang Yahudi. Jadi, mereka berhasil menjaga garis keturunan Yahudi yang murni. Jadi, bagian selatan ini murni, bagian utara sudah hybrid semua. So, beberapa abad setelah itu ya, pada saat Yesus datang, orang-orang Yahudi dan orang Samaria ini saling membenci satu sama lain, karena, orang yahudi menganggap orang samaria seperti “Half-Breed”.

Kenapa ini big deal, Saudara?

Kenapa ini big deal, Saudara?

Karena Janji Allah itu “eksklusif” untuk orang Yahudi. Jadi, buat mereka ya, soalnya Allah yang sama tapi “Kamu kan bukan Yahudi”.

Sayang sekali karena Tuhan justru mau bangsa Israel dan orang Yahudi menjadi berkat buat bangsa-bangsa. Tetapi yang terjadi mereka menjadi sombong, dan yang terjadi adalah mereka malah memandang rendah bangsa-bangsa lain. “Kita punya Tuhan, dan kalian tidak” gitu yah.

Unfortunate, tetapi orang samaria juga kesal karena mereka tidak suka ditindas dan diperlakukan dengan buruk. Nah, belum lagi ada tambahan satu isu soal agama, sebenarnya mereka tuh saling menolak lokasi yang sah untuk beribadah. Jadi, orang Yahudi menganggap tempat yang paling benar untuk menyembah Tuhan itu di Yerusalem. Bait Allah di Yerusalem.

Sedangkan orang Samaria bilang, “tidak, kita harusnya malah menyembah Allah di Bukit Gerizim”. Kenapa Bukti atau Gunung Gerizim penting?

Gerizim adalah tempat pertama dimana kemah Allah didirikan. Jadi, sebenarnya dua-duanya signifikan tetapi sering debat gitu ya. Makanya di minggu lalu kita diskusikan bahwa sewaktu Yesus bilang sama orang Yahudi, Orang Samaria itu lebih “okay” daripada merek. Mereka pikir, “What are you talking about?”.

Lalu ini, Yesus ketemu dan berbicara dengan wanita Samaria. Nah, one last piece of information, saudara-saudara. Kalau saudara perhatikan, ada peta perjalanan dari Yudea ke Samaria. Bisa ditampilkan?

Nah, ini satu map besar. Semua kelihatan dari belakang, ya kan? Yes, oke. Di bawah itu adalah Yudea, dan Galilea diatas, dan di tengah adalah Samaria. Jadi, mereka mau berangkat dari Yudea dan mereka mau kembali ke Galilea. Nah, kalau saya perhatikan, orang Yahudi kalau mau jalan dari Yudea ke Galilea, mereka akan menghindar dari Samaria dan saya lihat di sebelah kanan ada area (garis hijau atau hitam), dimana mereka bisa lewat disitu, jadi mereka lewat pinggirnya saja.

Itu adalah keputusan semua orang Yahudi yang “waras”. Jadi, disini Yesus sebenarnya tidak harus lewat Samaria, tapi semua Alkitab kita mencatat bahwa Yesus “harus”. Jadi, the only reason dia lewat samaria adalah kalau Dia punya tujuan yang spesifik dan Dia punya keyakinan, dan Dia harus lewat sana.

Allah kita adalah Kasih, dan Yesus tidak memilih untuk tidak melewati. Dia tahu dia berurusan dengan wanita ini di Samaria. Karena yang tercatat, kejadian ini saudara, di Samaria. Kasih tidak akan menjauh dan menghindar, tetapi Kasih akan mendekat. Yesus tidak menghindari pertemuan dengan perempuan ini. Yesus tahu misinya adalah untuk mencari yang sesat, terhilang dan untuk membawa mereka kembali kepada rasa aman, Allah. Di tengah semua kerepotan, resiko dan ancaman, Yesus memilih untuk mendekat kepada perempuan samaria ini.

Dan perhatikan bagaimana cara Yesus mendekat dan membangun koneksi dengan perempuan samaria ini. Dia mulai berbicara tentang air, haus dia, mau minum. Kenapa?

Karena perempuan ini sedang menimba air. Nah, saya sangat appreciate ini, saudara, Karena Yesus punya agenda dan Dia tahu tentang wanita ini, Dia tahu tentang perempuan ini. Yesus tidak mengira-ngira dan menerka-nerka perempuan ini.

Dia tidak datang dengan sikap seperti, “Oh itu dia, datang ke sumur, menemui Yesus. Ibu, bertobatlah. I know your issues, saya sudah baca semua detailnya di press. Saya sudah dapat semua informasi, dan informasi saya benar. Ibu harus bertobat!”

Yesus sebaliknya berkata, “Ibu, tolong beri saya air untuk diminum.” Dia membuat ibu ini merasa dibutuhkan. “Can you do something for me?”.

Poin pertama, Yesus membangun koneksi sebelum koreksi.

Yesus membangun koneksi sebelum koreksi. Yang tidak langsung koreksi, yang tidak langsung kasih tahu.

Supporting Verse – Lalu Yesus menjawab, “Seandainya Ibu tahu hadiah apa yang hendak Allah berikan kepadamu, dan seandainya Ibu tahu siapa saya ini yang sedang meminta minum darimu, pastilah engkau yang akan lebih dulu minta air hidup dari saya. Dan saya bersedia memberikannya kepadamu.” Yohanes 4:10 TSI

Yesus ini luar biasa, bisa langsung switch topik dan sebegitu “smooth-nya”, padahal tahunya diawal hanya mau minta air kan?

Supporting Verse – Kata perempuan itu, “Bapak tidak punya timba dan sumur ini sangat dalam. Bagaimana mungkin Bapak bisa memberikan air hidup itu kepada saya? Yakub, nenek moyang kita yang memberikan sumur ini kepada kami. Dulu dia dan anak-anaknya serta semua ternaknya minum dari air sumur ini. Apakah Bapak lebih besar daripada Yakub, sehingga bisa memberikan air yang lebih baik?” Lalu Yesus menjawab, “Setiap orang yang minum air dari sumur ini akan haus lagi. Tetapi siapa saja yang minum air yang akan Aku berikan, dia tidak akan haus lagi untuk selama-lamanya. Karena air itu akan menjadi seperti mata air di dalam dirinya, yang akan terus mengalir dan memberinya hidup yang kekal.” Kata perempuan itu, “Bapak, berilah saya air itu, supaya saya tidak haus lagi dan tidak usah kembali menimba air di sini!” Yohanes 4:10-15 TSI

Yesus tahu betul apa yang dibutuhkan oleh wanita ini. Untuk saudara yang sudah baca cerita ini dan saudara tahu, you know the spoiler. Mereka tahu kenapa wanita ini ada di sini. Kenapa dia jalan menimba air di jam 12 siang? Karena dia ada isu dalam hidup dan dirinya sendiri kan, dan sampai titik ini Yesus masih belum bahas itu, karena akar-akar masalahnya bukan disitu.

Yesus, yang dia bahas adalah apa?

Kehausan dalam jiwa. See, Kasih melihat pribadinya, Kasih tidak hanya sekedar melihat “the problem”. Kasih tidak hanya melihat masalah. Kasih melihat cara apa yang dibutuhkan oleh orang itu. Yesus tidak menilai dari apa yang terlihat di luar, tetapi Yesus melihat kebutuhan yang ada di dalam.

Manusia biasanya terkecoh dalam mengenali kebutuhan. Yang kita lihat dan coba atasi adalah buahnya. Padahal, permasalahan terletak di akarnya.

Yesus tidak membahas soal air lagi, Dia membahas soal kehausan dari jiwa perempuan tersebut.

Supporting Verse – Yesus berkata kepadanya, “Pergilah, panggillah suamimu dan kembalilah bersama dia ke sini.” Jawab perempuan itu, “Tetapi saya tidak punya suami.” Lalu Yesus berkata kepadanya, “Apa yang kamu katakan tepat sekali. Kamu tidak mempunyai suami, karena kamu sudah lima kali kawin cerai dengan laki-laki yang berbeda. Dan laki-laki yang hidup bersamamu sekarang bukanlah suamimu. Ya, perkataanmu itu memang benar.” Yohanes 4:16-18 TSI

Yesus menyatakan alasan kenapa kamu (wanita ini) never work it out and always with the wrong guy, adalah tidak ada yang bisa menguasai kamu. Kamu mencari sesuatu yang tidak akan bisa dikuasai oleh laki-laki manapun. Siapa yang mau therapy session dengan Yesus? See, Kasih mengungkapkan Kebenaran.

Meskipun Yesus tahu tentang informasi tentang wanita ini, bahkan Yesus mengungkapkan informasi yang menjadi titik berat dari rasa malu perempuan ini. Dia tidak filter sama sekali, saudara. Saya curiga ini alasan kenapa Yesus melakukan ini disaat murid-muridNya tidak ada, Karena kalau ada murid-muridnya, wah sudah pasti heboh dan ribut, saudara.

Yesus pastikan ini tempatnya aman. Dan perempuan ini mungkin menyadari bahwa meskipun Yesus tahu tentang semua ini, Yesus tetap mendekat sama dia, tetap membangun koneksi sama dia, mau berinteraksi dengan dia, mau berurusan dengan dia. Bahkan kalau boleh saya tambahkan, mau sampai sengaja lewat samaria untuk bertemu wanita ini.

Yesus tidak menyembunyikan dan mengabaikan masalah dan isu itu tetapi dia mengangkat isunya ke permukaan supaya Dia bisa tangani, saudara. Dia tidak membiarkan perempuan ini menjadi nyaman dalam dosa tetapi Yesus tidak mempermalukan dia. Yesus penuh dengan kasih karunia tetapi Yesus juga mengatakan Kebenaran.

Saudara, Kasih karunia dan Kebenaran harus bekerja sama dalam kita melayani sesama.

Supporting Verse – Kata perempuan itu kepada Yesus, “Sekarang saya sadar bahwa Bapak seorang nabi. Nenek moyang kami selalu menyembah Allah di atas gunung yang di sana itu, tetapi kalian orang Yahudi mengatakan bahwa satu-satunya tempat yang benar untuk menyembah adalah Yerusalem. Manakah yang benar?” Yohanes 4:19-20 TSI

Yesus lagi berurusan dengan jiwanya yang haus, dengan masalah hubungan-hubungan dia, dia switch topic, Saudara.

Karena daripada berurusan dengan personal problem, si perempuan ini seolah-olah berkata “Yuk kita bahas agama saja, yuk. Yuk kita bahas teologi aja, yuk. Yuk kita bahas soal metode ibadah aja, yuk.” Sekali lagi, kita belajar melihat dari Yesus. Yesus tidak bilang, “Eh, eh, perempuan samaria, halo, fokus, fokus, fokus. Boleh tidak kembali to the subject? I wanna talk about your husbands.” Yesus sebaliknya berkata.. “Oh, you want to talk about religion? Let’s go.

Yesus terus, terus menciptakan tempat yang aman buat dia. Tetapi Yesus tidak menyembunyikan kebenaran. Pertama, dia nyatakan, “Benar, kamu bilang tidak punya suami, karena yang sekarang bukan suami, dan kamu sudah kawin cerai selama 5 kali sebelumnya.” Kedua, Yesus membahas soal ini, Yesus ajarin, saudara, kasih Kebenaran. Perhatikan apa yang Yesus katakan.

Supporting Verse – Yesus menjawabnya: Percayalah pada perkataan-Ku ini: Di kemudian hari kalian boleh menyembah Allah Bapa di mana saja dan tidak usah lagi naik ke gunung itu atau pergi ke Yerusalem. Kalian orang Samaria memang menyembah Allah, tetapi tidak mengenal Dia. Sedangkan kami orang Yahudi menyembah Allah yang sudah kami kenal. Karena Allah sudah berjanji bahwa keselamatan akan diberikan kepada manusia melalui orang Yahudi. Yohanes 4:21-22 TSI

Saudara, Yesus tidak bilang gini, “Aduh, gimana ya, saya tidak mau menghakimi”, atau kesannya seperti tidak mempunyai pendirian dan terkesan “plin-plan”. Tetapi sebaliknya Yesus langsung kasih tahu mereka, “Oh, cara kalian beribadah salah, seharusnya adalah seperti ini”. Amazing bagaimana Yesus bisa melakukan itu, saudara. Seringkali karena kita mungkin tidak mau “offend” seseorang, dan yang ada jadinya kita takut untuk memberikan kebenaran, saudara. Lanjut lagi.

Supporting Verse – Tetapi waktunya akan datang dan sebenarnya sudah tiba sekarang, yakni waktu di mana setiap orang yang benar-benar mau menyembah Allah akan menyembah-Nya melalui persatuan dengan Roh Kudus dan sesuai dengan ajaran benar dari Allah. Karena Allah menginginkan orang-orang yang seperti itu untuk menyembah Dia. Allah adalah Roh. Oleh sebab itu setiap orang yang mau menyembah Dia harus menyembah-Nya melalui persatuan dengan Roh Kudus dan sesuai dengan ajaran benar dari Allah. Yohanes 4: 23-24 TSI

Yesus tidak mempermasalahkan “tempat”, Dia bilang “In this case, you guys are wrong, dan Yahudi benar”. But, saya punya kabar baik untuk yang Yahudi dan juga yang samaria, karena tidak akan lagi isu tentang lokasi tapi isunya akan menjadi tentang hati. Tidak pusing, saudara mau menyembah di mana tetapi Tuhan akan melihat hatimu. Apa engkau sungguh-sungguh mau menyembah-Nya? Dan mau menerima Roh-Nya, dan mengerti ajaran-Nya. Amazing, Saudara. Itu kabar baik yang Yesus berikan.

Supporting Verse – Lalu perempuan itu berkata kepada Yesus, “Saya tahu bahwa Mesias akan datang nanti. Waktu dia datang, dia akan memberitahukan semua kehendak Allah kepada kami.” (‘Mesias’ dalam bahasa Ibrani artinya ‘Kristus.’) Kata Yesus kepadanya, “Aku, yang sedang berbicara denganmu ini, adalah Mesias.”” Yohanes 4:23-26 TSI

Mesias dalam bahasa Ibrani. Kristus dalam bahasa Yunani, dan dalam bahasa Indonesia adalah Raja.

Perempuan ini bilang “Wow that’s a good idea soal penyembahan di mana, itu great idea, tentang Tuhan melihat hati, tetapi butuh Raja untuk perform dan melakukan ini”. Yesus bilang, “Here’s looking at you”.

See, Kasih akan selalu menuntun kita kepada Kristus. Kasih menuntun kepada Kristus, Raja kita.

Saudara bisa lihat, pembicaraan berawal dari air, haus, menjadi isu hubungan dengan laki-laki, terus menjadi isu pengajaran tentang penyembahan, dan ujungnya tiba kepada Yesus.

What an amazing conversation, Saudara. Sebuah model yang harus kita pelajari, Saudara. Dan pengenalan akan Yesus sebagai Raja yang akan membawa keutuhan sejati dalam hidup manusia.

Kenapa begitu?

Karena kalau manusia mau kembali menjadi dipulihkan, kita harus sadar bahwa Dia adalah raja, dan saya bukan. Maka karena Dia raja, saya harus tunduk dan taat. Karena Dia raja, saya harus percaya apa yang Dia katakan tentang saya. Karena Dia raja, saya harus percaya dan yakin bahwa semua yang Dia ucapkan adalah benar. Segala macam keributan dan chaos di dunia terjadi karena kita kehilangan Raja yang sempurna dalam hidup kita.

Dan buat Yesus, you need to come to me as King. Kalau kau mau hidup meniadi utuh kembali, Kristus, Mesias, Raja. Dan hal ini tidak akan terjadi. Semua progress ini tidak akan terjadi kalau Yesus tidak terus menciptakan tempat yang aman, tidak akan terjadi kalau wanita ini tidak merasa aman untuk mendekati Yesus.

Saudara, poin utama kita hari ini adalah Kasih yang sejati menciptakan rasa aman yang membuka hati.

Yesus menyatakan, meskipun Dia tahu tentang semua masalah perempuan ini, Yesus tetap mendekat, mengerti kebutuhannya, menyatakan kebenaran, dan menuntunnya kepada keselamatan dan pemulihan, yang hanya ditemukan dalam Yesus sendiri.

Lihat apa yang terjadi pada perempuan ini, Saudara. Di ayat 39, agak sedikit jauh.

Supporting Verse – “Akhirnya, banyak orang Samaria dari kampung itu percaya kepada Yesus karena mereka mendengar kesaksian perempuan tadi yang berkata, “Yesus memberitahukan kepada saya tentang semua hal yang pernah saya lakukan!” ” Yohanes 4:39 TSI

Saudara, tahukah bahwa ini adalah sebuah testimoni karena dia sebut ada orang lain yang tahu. Saya pikir yang mendengar pada nanya, Everything, everything, The bad juga, perempuan itu berkata, especially the bad. Dan saya ingin kalian semua ketemu Dia.

Saudara, kita akhiri dengan ayat terakhir di sini.

Closing Verse – “Hendaklah kita semua saling menolong untuk meringankan beban saudara-saudari seiman yang mengalami kelemahan atau kesusahan. Dengan begitu kita menaati Hukum Kasih yang Kristus berikan. ” Galatia 6:2 TSI

Raja ini yang menyederhanakan semua hukum yang “jelimet” di perjanjian lama, menjadi kesatuan hukum Kasih, lebih simple dan lebih susah. Kita semua sebagai orang-orang yang telah mendapatkan perlindungan dari Allah, kitapun harus berupaya menciptakan tempat yang aman, untuk orang-orang yang susah ini, bukan membawa mereka bergantung kepada kita, tetapi supaya mereka bisa bergantung sama Tuhan dan hidup di bawah kuasa dan perintah Sang Raja yang baik untuk mereka.

Ayo kita bangun komunitas yang aman di mana kita berada, di tengah dunia yang sibuk menuduh, menghakimi, dan mempermalukan. Mari kita bersama-sama bertumbuh dalam kebenaran, menjadi komunitas di mana orang-orang yang tersesat, broken hearted, hilang, bisa bertemu dengan Raja yang mampu memuaskan dengan air yang tenang. Kasih yang sejati menciptakan rasa aman yang membuka hati.

Ps: Hi friends! If this blog has blessed you, you can support us below. Thank you, and God bless! Link: https://saweria.co/316notes