prayer, bible, christian

Love Transform By Jonny Herjawan

JPCC Sutera Hall 2nd Service (11 October 2026)

Apa kabar semua? sutera hall ibadah yang kedua, sambil saya menunggu beberapa orang sampai mendapatkan tempat duduknya disini. Masih di dalam topik pembahasan kita di dalam tema “Love lives here”, Kasih tinggal di sini. Jadi, kita bisa love one another as Christ loved us. Saudara siap belajar sesuatu pakai ini? Catat apa yang Tuhan wahyukan dalam kehidupan Saudara.

Silakan duduk semua sutra k ibadah yang kedua sambil saya menemu beberapa orang sampai mendapatkan tempat duduknya masih di dalam ee pembahasan kita di dalam tema love lives here kasih tinggal di sini jadi kita bisa love one another as Christ love us. Saudara siap belajar sesuatu pakai ini? Siap. Bekerja tentang Saudara, catat apa yang Tuhan wahyukan dalam kehidupan Saudara.

Minggu lalu kita sudah belajar kalau Kasih itu adalah buah dari kelahiran baru. Kalau kedewasaan rohani tidak diukur berdasarkan pengetahuan kita tentang Tuhan, bukan seberapa banyak kita tahu tentang Tuhan, seberapa banyak kita memperkatakan Firman Tuhan, seberapa, baik kelakuan kita, seberapa merdunya pujian kita, seberapa besarnya pelayanan yang kita lakukan, tetapi kedewasaan rohani diukur dari seberapa dalam kita mengasihi seperti Tuhan.

Kasih bukan syarat yang menjadikan kita muridNya. Bukan karena kita, Kasih itu bukan syarat untuk kita jadi muridNya, tetapi bukti bahwa kita adalah milikNya. Jadi, Kasih itu bukan tiket masuk saudara supaya saudara dipanggil, tetapi Kasih itu adalah akibat yang keluar dari dalam diri saudara sebagai bukti kalau kita semua adalah milik Tuhan. Sampai sini oke saudara?

Nah, let me take this point.

Untuk belajar mengasihi, saudara mau belajar mengasihi? Siapa yang mau belajar mengasihi?

Untuk belajar mengasihi seperti yang Tuhan ajarkan kepada kita, kita perlu berjumpa dulu sama Tuhan.

Saudara mau les matematika, ya ketemu dulu sama guru matematikanya, bukan? Nah, kalau saudara mau belajar hidup mengasihi seperti yang Tuhan ajarkan, mula-mulanya diperlukan apa?

Perjumpaan dengan Tuhan.

Nah, kalau kita mengatakan kita berjumpa dengan Tuhan, Sesungguhnya kita itu berjumpa dengan Kasih Tuhan. Waktu kita bilang, “saya ketemu Tuhan”, artinya sebetulnya, sesungguhnya, Kasih Tuhanlah yang kita temui. Sebab Tuhan itu Kasih adanya. Seperti dituliskan dalam 1 Yohanes 4 ayat 8.

Opening Verse – “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. ” 1 Yohanes 4:8 TB

Jadi kalau saudara mau belajar mengasihi Tuhan, saudara harus berjumpa dulu sama Tuhan. Kalau saudara bilang, “Oh, saya berjumpa dengan Tuhan.” Sebetulnya saudara berjumpa dengan Kasih Tuhan.

Nah, saya mau ajak saudara berpikir sebentar sebagai landasan dari apa yang ingin saya sampaikan. Seolah-olah ada dua paradoks yang sering saya temui.

Di satu sisi namanya Kasih, apa namanya? Love. Di satu sisi namanya Truth, kebenaran. Nah, seringkali kita lihat kayaknya dua ini nih berseberangan, kesannya.

“Ya sudah, kalau mau dikasihi, kasihi saja”, tapi “Terus kapan dia berubah kalau cuma dikasihi doang?”, “Kita mesti sampaikan kebenaran secara brutal! the brutal truth”.

Ada kasih, ada kebenaran. Terus kita suka lihat gini, kadang orang begitu diperhadapkan dengan kebenaran, malah dia menarik diri.

“Eh, gw kasih tahu sama you ya? Dia menarik diri, dia bersembunyi, menjadi defensif.” Saudara, sering lihat hal seperti ini? Di luar sana banyak, di sini nggak ada, saya tahu. Ketika dikonfrontasi dengan kebenaran, tetapi sebaliknya malah dia mendekat, merapat, dan flourish ketika mereka dikasihi.

Nah, pemikiran ini yang saya, kita mau explore pagi hari ini, antara kasih dan kebenaran yang kita sedang pertemukan sekarang. Sehingga seolah-olah Love and Truth itu bertentangan seolah-olah. Padahal tidak demikian sesungguhnya.

Nah, memang saat seseorang bertemu dengan Yesus, waktu seseorang bertemu dengan Yesus, bukankah dia Jalan, dan kebenaran dan hidup? Karena Yesus bilang, akulah jalan, kebenaran dan hidup, tidak ada seorangpun datang kepada Bapa kalau tidak melalui aku.

Supporting Verse – “Kata Yesus kepadanya: ”Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. ” Yohanes 14:6 TB

Jadi, waktu seseorang ketemu Yesus, seseorang ketemu jalan, kebenaran dan hidup. Nah, Kebenaran ini menyingkapkan dosa. Kebenaran akan menyingkapkan dosa dan Kebenaran akan menunjukkan jalan.. “Ke sini loh, jangan ke sana”, dan Kebenaran ini akan memberikan kepada kita sebuah pilihan untuk memilih hidup, seperti dikatakan sebagai berikut.

Supporting Verse – “Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, ” Ulangan 30:19 TB

Jadi saat kita ketemu kebenaran, kita diajak, dikasih pilihan untuk mengalami yang namanya kehidupan. Kita dipanggil keluar dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib. Sampai sini oke, Saudara? Jangan memandang saya seperti itu. Jadi saya ulangi sekali lagi, Kebenaran ini menyingkapkan dosa, menelanjangi dosa. Kebenaran ini menunjukkan jalan yang harus kita tempuh, Kebenaran ini memberi kita sebuah pilihan untuk memilih kehidupan, Kebenaran ini memanggil kita keluar dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib. Simply said, Kebenaran yang memerdekakan.

Saudara mau keluar dan menjadi orang yang dimerdekakan?

Kita harus “embrace” kebenaran. Meskipun demikian, Kebenaran ini menyingkapkan dosa, menunjukkan jalan, memberikan kehidupan, memanggil kita keluar dari kegelapan kepada terang yang ajaib, dan memerdekakan.

Kebenaran ini, Kasih dan Kemurahan Tuhanlah yang menuntun kita pada pertobatan. Membuat kita mau untuk “embrace” kebenaran ini untuk mendapatkan pertobatan. Jadi, kasih dan kemurahan Tuhanlah yang menuntun kita pada pertobatan untuk kemudian kita mengalami transformasi kehidupan.

Dan ini bukan teorinya saya. “Om saya” yang tulis namanya Rasul Paulus, dia tulis sama orang di Roma.

Supporting Verse – “Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya? Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan?” Roma 2:4 TB

Kemurahan Tuhan, Kebaikan Tuhan, kelapangan hati-Nya, Tuhan maha pengampun, Tuhan maha pemurah, Tuhan maha pengasih, Yes, Jesus loves me. Jangan anggap sepele. Tidakkah engkau tahu bahwa maksud kemurahan Tuhan ialah untuk menuntun engkau kepada pertobatan?

Di satu sisi ada Kasih, di sisi lain ada Kebenaran. Kebenaran menelanjangi kita, tetapi KasihNya menuntun kita kepada pertobatan karena ketemu Kebenaran. Apa ini masuk di pikiran saudara? Tujuan dari Kasih dan Kemurahan adalah untuk membawa kita pada pertobatan saat kita ketemu dengan Kebenaran.

Nah, salah kaprah yang sering terjadi adalah “He loves me”. Jadi, Tuhan itu kan penuh kasih. Jadi saya boleh bikin apa saja. Kan dia penuh kasih. Kan kasih itu katanya keterlaluan. Jadi saya boleh apa saja. Benar kan?

Sampai ada orang yang bilang bahwa Ini Kasih yang “kelewatan”, yang di exercise kelewatan, yang namanya katanya “Hyper Grace”. Kelebihan. Kita boleh apa saja. Kan Tuhan mengasihi.

Atau sebaliknya ada “self-centeredness”, hanya melihat dari diri kita sendiri, bahwa peraturan dan hukum berlaku itu buat orang lain. Sama seperti orang yang masih suka merokok, Saudara. Merokok berbahaya bagi kesehatan, merusak janin, menyebabkan kanker paru-paru, “tetapi itu kan buat dia, saya tidak”. Self-centeredness.

Supporting Verse – “ Karena itu, hai manusia, siapa pun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab, dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama. Tetapi kita tahu, bahwa hukuman Allah berlangsung secara jujur atas mereka yang berbuat demikian. Dan engkau, hai manusia, engkau yang menghakimi mereka yang berbuat demikian, sedangkan engkau sendiri melakukannya juga, adakah engkau sangka, bahwa engkau akan luput dari hukuman Allah? ” Roma 2:1-3 TB

Firman Tuhan itu seperti pedang bermata dua. Jadi, apa yang berlaku untuk orang lain juga berlaku untuk saya. If He loves me, He also loves others. If He is just with others, dia juga akan adil and just terhadap saya. Kita maju lagi.

Supporting Verse – “Tetapi oleh kekerasan hatimu yang tidak mau bertobat, engkau menimbun murka atas dirimu sendiri pada hari waktu mana murka dan hukuman Allah yang adil akan dinyatakan. ” Roma 2:5 TB

Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya, yaitu hidup kekal buat mereka yang berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan, dan ketidakbinasaan. Tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran melainkan taat kepada kelaliman.

Jadi, saudara kita perlu melembutkan hati kita, membuka diri kita, merendahkan hati kita, dengan kata lain, supaya kita bisa menerima Kebenaran itu. Sampai di sini, you get the sense?

Jadi, Kebenaran yang menelanjangi dosa, Kebenaran yang menunjukkan jalan, Kebenaran yang memberikan kehidupan, Kebenaran yang memanggil kita keluar dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib, tetapi Kasih yang menuntun kita kepada Kebenaran itu.

Kita tidak bisa dituntun kepada Kebenaran itu kalau kita tidak melembutkan hati kita, kalau kita tidak membuka diri kita, kita merendahkan hati kita supaya kita bisa “embrace the truth”.

Apa yang memberanikan kita untuk mendekat, mendatangi The Truth?

Because Jesus loves me.

Masuk ke pikiran saudara? Oke. Nah, Kasih Tuhan, yes, Jesus loves me. Kasih Tuhan tidak mengabaikan Kebenaran. Nah, kita manusia suka berpikir, “Sudahlah, kita kasihi saja”, seolah-olah kita abaikan Kebenaran.

Kasih Yesus tidak mengabaikan Kebenaran, tetapi Dia menciptakan lingkungan yang aman, a safe ground, a safe environment, supaya orang merasa aman waktu ditelanjangi dosanya.

Halo, jangan cuman menelanjangi dosa orang, “Kasih” dulu, a safe ground, sehingga waktu Kebenaran itu datang, dia sudah sempat membuka dirinya untuk terima Kebenaran itu.

Dan kebenaran itu yang mengubahkan orang itu. Nah, kita kalau kita analogikan sekarang, Kebenaran itu benih. Perubahan itu, transformasi itu pohon. Benih mesti ditaruh di mana? di tanah kan? Kasih itu tanahnya.

Love is the soil. So as Jesus loves you, Jesus gives you the soil. Sehingga Kebenaran bisa ditaburkan. Lalu kebenaran ini tumbuh menjadi pohon yang namanya perubahan hidup, namanya transformasi. So love is the soil where truth be sown and transformation grow.

Jadi, untuk supaya ini bisa terjadi semua, harus ada Love, yang adalah tanahnya, lalu supaya benih bisa ditaburkan yang namanya Kebenaran. Kemudian ada sesuatu yang tumbuh, jadi pohon namanya, Transformasi.

Saya kasih sebuah cerita di Alkitab yang kita kenal semua. Nama orang ini adalah Zakheus.

Supporting Verse – “Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu. Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya. Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek. Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ. Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: ”Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: ”Ia menumpang di rumah orang berdosa.” Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: ”Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Kata Yesus kepadanya: ”Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”” Lukas 19:1-10 TB

Orang banyak, dia punya limitation untuk melihat Yesus itu. Maka ia tidak berhasil menemui Yesus. Simply put, bayangkan, Yesus itu cuman mau lewat Yerikho. Dia tentunya sudah dengar cerita tentang bahwa “Yesus adalah Jalan Kebenaran dan Kasih”, dia pengen lihat “Si Kasih” ini lalu karena dia tidak berhasil lihat, dia lari ke pohon, dia curi start dan duduk di atas pohon agar dapat melihat Kasih itu.

Tanah bisa masuk karena dia membuka hatinya, merendahkan hatinya, membuka dirinya dan melembutkan hatinya. This love is going to visit me. Love is coming to my home.

Kemudian di rumahnya, Zakheus berdiri dan bertemu dengan Yesus, yang adalah jalan, kebenaran, dan hidup, itulah Yesus. Di tanah yang sudah dia persiapkan yang namanya Kasih, yang dia sambut dengan gembira Kasih itu. Sehingga dia terima Yesus di rumahnya. Lalu kebenaran dipresentasikan, Kebenaran menelanjangi dosa, Kebenaran menunjukkan jalan, Kebenaran membawa pada kehidupan, memerdekakan dia, membawa dia keluar dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib.

Tidak dicatat apa yang dikatakan memang, tetapi lihat responsnya dari ayat diatas. Kebenaran itu tumbuh menjadi pohon yang namanya transformasi kehidupan lalu kata Yesus padanya, “Pada hari ini engkau dan seluruh keluargamu diselamatkan oleh Allah dan diberikan hidup yang baru sebab engkau juga keturunan Abraham. Anak manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan orang yang sesat”.

Saya parafrase 8, 9, 10. Dalam konteksnya, Love, truth, and transformation. Ayat 10 saya parafrasekan jadi begini, Kasih mencari, Kebenaran menyelamatkan yang sesat, Transformasi yang mengubahkan.

Kasih mencari. Dia memanjat pohon, Kasih siapkan tanahnya, terjadi interaksi antara kebenaran, jalan dan hidup ini dengan dia, kebenaran yang menelanjangi dia, benih itu ditaburkan di tanah kasih ini, lalu dia tumbuh menjadi pohon yang tengah bertransformasi.. Separuh yang saya punya, saya kasih sama orang miskin, semua yang pernah saya tipu, saya kembalikan empat kali lipat.

Bahkan orang yang tidak pernah ditipu pun kebagian, selama dia miskin. Karena setangahnya-kan dibagikan sama orang miskin, pernah tidak pernah ditipu, dia kasih orang itu dan luar biasa, itu yang terjadi akibat transformasi kehidupan.

Simply said, kalau minggu lalu saudara belajar bahwa Kasih itu Bukti, sekarang saudara belajar bahwa Kasih ini yang Mengubahkan.

Minggu lalu saudara belajar buktinya. Sekarang saudara lihat dia bikin apa kiprahnya. Kasih yang mengubahkan. Simply said, Love transform. Itu judul sharing saya pagi hari ini. Love transform. Kasih yang mengubahkan.

Nah, sampai di sini oke? Oke, sekarang kita kembali ke paradoks tadi. Love and Truth.

Love and Truth precedes transformation.

Kebenaran dan Kasih mendahului Transformasi. Yesus datang sebagai Kasih, diterima sama Zakheus, lalu Dia taruh kebenaran, terjadilah transformasi. Love and Truth precedes transformation, dua-dua diperlukan.

Jadi dua-duanya diperlukan. Kasih harus ada. Tanahnya harus ada supaya Kebenaran bisa diterima, supaya benihnya bisa ditabur. Karena di satu sisi kita ada Kasih, di satu sisi ada Kebenaran.

Seolah-olah kalau ngomong kasih, “Sudah kasihin aja. Jangan bawa-bawa kebenaran. Nggak bisa! ini sistem brutal truth and he or she needs to know.”

But how about kasih? Kasih harus ada, supaya tanahnya siap. Dan benih kebenaran itu bisa ditanamkan. Tetapi kebenarannya juga harus ada, supaya ada yang tumbuh namanya transformasi kehidupan.

Kasih sama Kebenaran itu bukan lawan, tetapi kawan. Kasih dan Kebenaran itu dua sekawan. Kasih tanah saja, tapi tidak ada benih yang ditabur, apa yang ada? Nggak ada apa-apa.

Kasih tanpa Kebenaran, Pembiaran namanya. Jadi if you just love, you did not bring the truth, saudara sedang biarkan dia. But if you just bring the truth, oh ini salah nih, ini begini, ini begini, ditelanjangi terus tanpa dikasihi, namanya Legalisme, hanya berbicara melulu mengenai hukuman, konsekuensi, dan sanksi.

Tuhan ajar kita, dua-duanya harus ada, Kasih dan Kebenaran, baru ada Transformasi. Saat Kasih Tuhan dan KebenaranNya bertemu dan berjalan beriringan di dalam hidup saya dan saudara, Transformasi kehidupan terjadi.

Karena ada tanahNya, karena ada kasihNya yang menuntun kita kepada pertobatan. Kenapa bisa cuma menuntun? Karena Kasih bukan pertobatan itu sendiri, tetapi menuntun kita kepada pertobatan.

KebenaranNya-lah yang mempertobatkan kita. Kasih dan Kebenaran yang berjalan beriringan membawa kita kepada Transformasi. Sebuah proses migrasi mulai terjadi. Dan ini bukan yang instan.

Sharing Ko Jonny – Saya bertemu Tuhan, dijamah Tuhan di tahun 90-an (1995). Itu yang saya ingat. Since then, transformasi mulai terjadi dalam sebuah pertumbuhan rohani. Nah, transformasi, migrasi. Tetapi yang kita ingat konversinya. Saudara mengerti apa yang saya maksudkan?

Kita tidak terlalu aware karena ini terjadi sehari, lepas sehari, tapi lepas hari. Kalau saudara ketemu saya di tahun 95, saya sudah bertobat, sudah lahir baru. But I might not be a person yang menarik untuk saudara temui. I’m very tough. ikit-dikit ngomongnya the brutal truth.

There is no love at all. Nah, tetapi seringkali waktu kita mengejar orang, memperkenalkan Kebenaran, kita lupa kalau kita ini pernah ngelewatin migrasi. Kita berharap dia ngalamin konversi dengan cepat dalam proses transformasi. Kita harus bawa transformasi, kita harus bawa konversi dalam bentuk pengenalan akan Tuhan, penelanjangan dosa, namanya pertobatan. Setelah itu, ya dia harus berjalan di dalam migrasi transformasinya.

Buat saudara yang menjadi DATE leader, kalau DATERS-nya saudara sudah bertobat, “halo, sudah empat kali diomongin!?”, kita juga dulu begitu. Saudara tanya sama Pastor Jeffrey waktu dia mulai kenal saya di tahun 95, ini orang model apa sih? Tapi dia bisa melihat “What I could be, not what I have been and what I did.”

Nah, believing di dalam orang-orang yang saudara kasih, supaya dia bisa melakukan transformasi kehidupannya. Karena bertobat itu instan, menerima Tuhan Yesus itu serta-merta, tetapi tidak langsung membuat perubahan di dalam kehidupannya.

Hanya karena seorang terima Tuhan Yesus dan bertobat, tidak langsung tiba-tiba dia jadi orang sabar dan suka makan sayur. Betul nggak? Perlu waktu, itu perlu.

“Gimana sih? katanya udah bertobat, sayur nggak dimakan-makan. Perlu transformasi.”

Yang kita ingat proses waktu kita konversi, kita lupa kita pun mengalami Migrasi, ijinkan orang di sekeliling saudara mengalami migrasi. We just have to love them, kasih safe environment, supaya transformasinya terjadi terus-menerus.

Kita mengasihi karena Tuhan yang pertama mengasihi kita. Memungkinkan kita untuk memampukan hukum yang terutama dari Tuhan.

Supporting Verse – “ Jawab Yesus: ”Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” ” Markus 12:29-31 TB

Ingatlah hukum ini. Kasihilah Tuhan dengan segenap-segenapnya, dan kasihilah sesamamu manusia seperti kamu mengasihi dirimu sendiri.

Supporting Verse – “ “If you love me, keep my commands. ” John 14:15 NIV

Saat kita mengasihi Tuhan, kita akan melakukan perintahNya, bukan? Itu Yesus berkata, those who love me will obey my command. Yang mengasihi Aku akan melakukan perintahKu.

Nah, saat kita melakukan perintah-perintah Tuhan itulah, we go beyond our own salvation. Into our transformation of life. Jadi, kalau saudara hanya mau bertobat, you just need salvation, kenal Tuhan, masuk surga. Tetapi waktu saudara mengasihi Tuhan, saudara masuk melakukan perintah Tuhan, transformasi kehidupan mulai terjadi di dalam hidup Saudara.

Kasih Tuhan membawa kita kepada Keselamatan. Hidup mengasihi Tuhan membawa kita pada Transformasi kehidupan. Transformasi kehidupan kita bukan terjadi karena Kasih Tuhan. Kasih Tuhan itu membawa kita kepada pertobatan, pada Keselamatan. Tapi kita hidup mengasihi Tuhan, yang artinya kita melakukan perintah-Nya, itu yang membawa kita kepada Transformasi Kehidupan.

Saudara belajar sesuatu pagi hari ini?

Nah, transformasi kehidupan yang kita alami itu ketika surat terbuka yang menarik dan mudah dibaca orang, bahkan mungkin sebelum mereka sempat membaca Alkitab atau Injil. Halo?

Our transformed life become interesting and easy to read open letter for others to see.

Sharing Ko Jonny – Saya lahir dari kecil Kristen, Saudara. Meskipun ya begitu, Kristen gitu-gitu aja. Ada orang macam-macam lagi SMA ya, ditabok juga. Tahun 1995 baru saya benar-benar lahir baru, mengalami Tuhan.

Jadi saya lahir dari kecil Kristen, di dalam rumah tangga yang Kristen. Tetapi papa saya tidak pernah ke gereja. Tetapi saya harus ke gereja karena untuk keharusan dari aturan orang tua saya. Orang tua saya pengusaha. Bukan pengusaha besar, dan dua kali dalam perjalanan usahanya, ditipu besar sama teman sekolahnya yang dua-duanya menjadi pendeta.

And my dad knows me well. Berapa banyak pipi yang sudah ditabok sama anak-nya yang satu ini, perkelahian yang dia lakukan, menjadi jagoan di sana dan disini. Dan kemudian perlahan dia melihat, ada sebuah transformasi kehidupan. Ada surat yang terbuka yang dia baca sebelum dia membaca Alkitab. Dan itu, tiba-tiba suatu hari mami saya bilang, “Jon, Bisa nggak pulang? Papi mau dibaptis.”

Saya nggak pernah ngomong apa-apa sama orang saya. Saya sudah di JPCC pada waktu itu. Dan saya nggak pernah memperkatakan Firman kepada ayah saya. But he reads my transformed life. Saudara mengerti apa yang saya maksudkan?

Kita semua bisa menjadi surat terbuka, waktu kita mengalami transformasi kehidupan. Karena life is lived from the inside out ketika kita hidup, kita bertransformasi karena kita hidup mengasihi Tuhan, kita jadi mampu membawa transformasi ini kepada orang lain, karena hidup kita ini menjadi surat yang terbuka.

Kita bisa mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri kita sendiri karena kita sudah menerima kasih Tuhan yang menuntut kita kepada pertobatan, sehingga kita ketemu sama kebenaran, sehingga kita mengalami transformasi kehidupan, sehingga kita hidup mengasihi Tuhan, sehingga kita melakukan perintah-Nya, sehingga hidup kita menjadi suratan yang terbuka, hidup kita jadi tanah yang aman buat orang-orang yang ada di sekeliling kita.

Seseorang yang sudah mengalami transformasi baru bisa menjadi agen kasih karunia yang memberdayakan transformasi bagi orang yang ada di sekelilingnya. Saudara dan saya bisa jadi agen itu.

Because God loves you, memampukan saudara untuk membuka hati dan bertemu dengan Kebenaran, memampukan saudara untuk bertransformasi di dalam kehidupan, memampukan saudara untuk mengasihi Tuhan, melakukan perintah-Nya, memampukan saudara untuk mengasihi sesama, seperti saudara mengasihi diri saudara sendiri.

Nah, kalau kita lakukan ini dan terus, very soon, orang akan bilang ini, ini beda nih, JPCC Sutera Hall, ibadah dua nih. Indeed, Love Lives.

Saudara mau jadi agen-nya itu? Nanti saudara pulang di depan sana ada instalasi, saudara ambil kartu itu. Baca kartu itu, “love lives here challenge”. Baca apa yang diminta saudara lakukan, lakukan sebuah perbuatan baik kepada orang yang tiba-tiba seperti halnya mengampuni, memberi, memperhatikan apapun yang saudara itu, yang diminta oleh kartu itu.

Share kan ini di date, si orang bisa bilang, love lives here. Kasih tinggal di sini.

Bagaimana kita mengaplikasikannya? Sekarang kita bisa lihat bahwa perbuatan baik, pengendalian diri, generosity, bukan syarat mengikuti Tuhan, tapi hasil atau buah dari transformasi kehidupan kita.

Karena kita dikasihi Tuhan dan kita embrace the truth, kasih dan kebenaran. Kita melihat orang di sekeliling kita sekarang sebagai, bukan lagi orang yang menyebalkan dan mengganggu, yang kalau DATE, “ditanya suruh daftar, enggak daftar, disuruh tulis siapa datang, siapa enggak datang, supaya bisa saya atur makannya, yang enggak ngasih laporan, yang menjengkelkan banget.”

Saudara melihat mereka sebagai beneficiary. Buat saudara yang biasa jual asuransi, penerima manfaat. Penerima manfaat, beneficiary of your transformed life, karena saudara ketemu dulu sama Tuhan. God loves us first.

Memampukan kita untuk “to live loving God”. Karena Tuhan mengasihi kita, membuat kita bisa ketemu dengan kebenaran sehingga kita bisa hidup mengasihi Tuhan.

Mengasihi Tuhan adalah kita melakukan perintah-Nya, membawa transformasi dalam kehidupan kita, membuat kita sanggup mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri kita sendiri, mengkondisikan lingkungan yang aman, kasih, damai, ground yang aman supaya orang-orang yang ada di sekeliling saudara, supaya pengemudi di rumah saudara, supaya “ART saudara”, supaya atasan saudara, supaya kolega saudara di kantor, supaya pegawai restoranmu, supaya bawahanmu, semua ketemu tanah yang aman, sehingga benih Kebenaran mudah untuk ditaburkan. dan transformasi terjadi di dalam kehidupan mereka.

As it transforms you, it transforms others.

Saya berharap ini memberkati saudara. Love transforms people. It transforms me, it transforms you, it transforms others.

Karena kasih datang, membuat kita bisa menerima kebenaran, membuat kita bertransformasi, membuat kita bisa mengasihi Tuhan melakukan perintah-Nya, membuat kita bisa kasih “safe ground” buat orang-orang di sekeliling kita, yang pada waktunya orang-orang ini bisa bertransformasi. Love transforms people, transforming you, and transforming others. Tuhan memberkati.