JPCC Sutera Hall 2nd Service (8 February 2026)
Selamat datang di Sutera Hall! Apa kabar saudara semua? Saudara pasti adalah orang yang paling bertekad dan cinta Tuhan, berani menembus badai dan hujan untuk berasa disini.
Salam untuk semua yang bergabung secara daring (online). Saya percaya juga berkat yang sama menyertai Saudara semua di manapun Anda berada. Amin!
Saudara diberkati oleh lagu baru yang baru kita nyanyikan tadi? Saya diberkati karena saya merasa ada “living spirit of the song” bekerja: “Ku berlari kepada-Mu”, “Ku berani karena-Mu”. Saya berpikir bahwa lagu itu akan menjadi kekuatan bagi banyak orang.
So, thank you, semua teman-teman JPCC Worship yang sudah menulisnya, thank you! Dan akan ada waktunya kita akan merekam dalam waktu dekat ke depan, di tengah-tengah kebaktian juga akan merekam. Dan saya percaya itu akan menjadi berkat bagi banyak orang di mana-mana.
Kita melanjutkan tema besar kita di tahun 2026, yaitu “Flourish”. Sepanjang bulan Februari kita fokus mau belajar tentang relationship. Dan kita tahu bahwa kehidupan yang bertumbuh dan sehat selalu lahir dari hubungan-hubungan yang sehat yang kita bina.
Sejak minggu lalu, kita mendedikasikan tahap awal daripada pelajaran ini untuk hubungan yang vertikal yang kita bina dengan Tuhan. Karena kalau kita punya hubungan vertikal dengan Tuhan yang sehat, maka kita akan punya hubungan horizontal yang sehat pula.
Dan minggu lalu kita belajar bahwa “flourishing” bukan soal berapa banyak yang kita miliki, tetapi dengan siapa kita akan hidup. Hidup kita yang bisa bertunas seperti yang Tuhan janjikan, bukan karena materi, jabatan, posisi, dikatakan yang dijanjikan bertunas atau “flourish”, bukan orang hebat, tetapi orang benar.
Orang benar adalah orang yang terhubung dengan Sang Benar. Dan, sejak minggu lalu kita belajar bahwa hubungan vertikal akan mempengaruhi hubungan yang horizontal. Nah, mulai minggu depan kita akan belajar bagaimana kita mengelola hubungan horizontal.
Tapi hari ini, kita masih fokus kepada hubungan vertikal yang kita miliki dengan Tuhan. Saya mau mengulang sedikit yang minggu lalu kita pelajari, kalau Saudara masih ingat, bagaimana kita belajar tentang, bagaimana hubungan bangsa Israel dengan Elohim menjauh? Bagaimana mereka meninggalkan Tuhan yang seharusnya sebagai sumber air yang hidup, “the Living Water” dalam kehidupan mereka, dan mereka menggantikan sumber mata air, atau sumber kehidupan itu dalam kehidupan mereka, dengan sumber alternatif, ini minggu lalu kita belajar.
Yaitu dengan menggali kolam buatan mereka sendiri. Mengutip salah satu ayat yang minggu lalu kita pelajari, Yeremia 2:13, Tuhan sebenarnya menegur bangsa Israel.
Opening Verse – [13] Sebab dua kali umat-Ku berbuat jahat: mereka meninggalkan Aku, sumber air yang hidup, untuk menggali kolam bagi mereka sendiri, yakni kolam yang bocor, yang tidak dapat menahan air. Yeremia 2:13 TB
Mereka bukan hanya meninggalkan Tuhan, dan mereka juga menggantikan Tuhan dengan ini, membuat kolam sendiri. Minggu lalu kita belajar bahwa mereka bukannya lari kepada Tuhan, sumber kehidupan, mereka mengelola sedemikian rupa supaya air itu yang datang kepada mereka. Mereka mau mengendalikan, mereka mau kenyamanan, minggu lalu kita belajar ini.
Memang Mereka, mereka bukan berhenti percaya kepada Tuhan, tetapi mereka berhenti menjadikan Tuhan menjadi sumber terutama, dan satu-satunya dalam hidupnya. Mereka masih percaya Tuhan, mereka tidak membuang Tuhan, cuma mereka merasa, rasanya perlu ditambah, ada sumber yang lain dalam hidupnya mereka.
Bukankah, mungkin kita kadangkala juga mengalami hal seperti itu, kan? Kalau mau jujur, betul enggak sih? Kita masih percaya sama Tuhan, tidak meninggalkan Tuhan, tetapi, apakah benar, kalau Tuhan sudah cukup untuk segala-galanya?
Apa betul percaya sama Tuhan sesungguhnya cukup? Saya percaya kalau semua disini pasti penuh dengan orang-orang yang tidak akan meragukan bahwa Tuhan cukup dalam kehidupannya, bukan? Amin! Pasti dalam segala keadaan, percaya dan bergantung sama Tuhan cukup, bukan? Dunia sering senggol sikap kiri-kanan, kita percaya tanpa harus macam-macam, Tuhan pasti bisa membela, bukan? Saudara yang sudah setia, terbang atau menerjang segala kesulitan, pasti bisa berkata, “Ya, Tuhan cukup satu-satunya dalam kehidupan saya.” Semoga yang menonton di rumah juga punya keputusan yang sama.
Nah hari ini, kita mau lihat bagaimana sebenarnya Tuhan, sebenarnya merindukan hubungan yang eksklusif ini antara Dia dengan kita. Jadi, dipulihkan ke dalam keadaan semula, Karena sebagaimana kedalaman akar sebuah pohon yang menebus ke batang air, sedemikian berpengaruh kepada keberlangsungan hidup sebuah pohon.
Demikian pula hubungan vertikal kita dengan Tuhan sangat amat menentukan keberlangsungan kehidupan kita. Banyak kita ini mengalami panas yang terik, mengalami badai, dan kita kemudian tidak bisa bertahan, bukan karena kondisinya berat, tapi karena tidak ada kedalaman kita terhubung kepada sumber kehidupan, dan bahkan kita menggantikan sumber kehidupan itu dengan mencari alternatif, mata air yang lain untuk menghidupkan kita. Nah hari ini kita mau belajar bagaimana Tuhan ingin memulihkan hubungan itu, hubungan yang vertikal antara kita dengan Dia, yang eksklusif.
Dan, teks yang kita akan pelajari hari ini, diambil dari perjanjian lama, yaitu di Yehezkiel, pasal ke-47, ayat 1 sampai 12. Ini perikopnya, kita akan “OIA”, kita akan membedah 12 ayat ini bersama-sama. Kita akan melakukan observasi, kita akan interpretasi, kemudian kita bisa melakukan aplikasi atas perikop yang kita pelajari, bagaimana Tuhan rindu memulihkan hubungan-Nya dengan kita. Inisiatifnya bukan kita, tetapi Tuhan yang ingin kemudian memulihkan hubungan itu.
Kalau Saudara tidak tahu, Yehezkiel itu disebut sebagai imam-nabi atau “Priestly prophet”, Dia adalah seorang Imam Nabi, tapi dia bekerja dan melayani konteks yang bait suci, jadi seorang imam yang melayani bait suci. Dan kitab Yehezkiel, penuh dengan banyak hal, salah satunya adalah penglihatan. Yehezkiel banyak dikasih “visions”, penglihatan, yang dia terima. Kemudian, ada banyak sekali di dalamnya “actions” atau tindakan-tindakan yang sifatnya simbolik, bukan harafiah. Simbolik dan kemudian memakai alegori, atau kiasan. Jadi, banyak kiasan yang tidak harafiah, untuk menyampaikan pesan tentang penghakiman ilahi, bagaimana Tuhan sedang mendatangkan penghakiman atas sikap bangsa Israel, karena mereka menyembah berhala.
Mereka menghadirkan ilah yang lain di hadapan Tuhan. Dan peringatan akan kejatuhan Yerusalem, karena Israel adalah pasangan yang tidak setia. Tidak ada Tuhan yang lain yang menyebut Diri-Nya sebagai Tuhan yang cemburu, selain Tuhan yang kita sembah. Oleh sebab itu, Tuhan tidak menginginkan ada yang lain dan Dia menuntut Israel menjadi pasangan yang setia. Dan kemudian di Yehezkiel juga dicatat tentang bagaimana Tuhan mengecam gembala yang palsu, dan kemudian juga bagaimana tanah Israel dan bait suci sudah tercemar. Jadi, itu kira-kira rangkuman dari kitab Yehezkiel, kalau Saudara belum pernah tahu.
Tetapi berita baiknya adalah, bukan cuma Tuhan menghakimi, Tuhan mendatangkan judgment, atau hukuman. Berita baiknya adalah, Yehezkiel juga menyampaikan janji-janji akhirNya, tentang pemulihan. Karena Tuhan bukan cuma menghakimi, tapi Tuhan ingin mendatangkan pemulihan, restorasi pada bangsa Israel.
Kalau Saudara baca, ada ayat-ayat yang mencatat bahwa Tuhan ingin memberikan hati yang baru, Saudara baca Yehezkiel juga yang mencatat tentang tulang-tulang yang mati yang dihidupkan kembali. Jadi, ada berita tentang kehidupan kembali, pemulihan yang baru, dan memberikan segala sesuatu yang baru. Bait Suci di masa depan juga digambarkan, ke depannya, bait suci seperti apa. Jadi, Yehezkiel sebenarnya sedang menekankan kedaulatan dan kekudusan Tuhan atas kehidupan manusia. Dan itu sebabnya, karena kita ambil dari perikop ini, judul khotbah saya hari ini adalah “Revived, Renewed, Restored“.
Dihidupkan kembali, diperbaharui, dan dipulihkan atau dikembalikan kembali. Saya berharap ada banyak hubungan dengan Tuhan yang dikembalikan, atau tahun-tahun yang hilang dikembalikan, ada hati yang dipulihkan atau diperbaharui, hati yang baru, dan ada mimpi-mimpi yang dibangkitkan.
Supporting Verse – [1] Kemudian ia membawa aku kembali ke pintu Bait Suci, dan sungguh, ada air keluar dari bawah ambang pintu Bait Suci itu dan mengalir menuju ke timur; sebab Bait Suci juga menghadap ke timur; dan air itu mengalir dari bawah bagian samping kanan dari Bait Suci itu, sebelah selatan mezbah. [2] Lalu diiringnya aku ke luar melalui pintu gerbang utara dan dibawanya aku berkeliling dari luar menuju pintu gerbang luar yang menghadap ke timur, sungguh, air itu membual dari sebelah selatan. Yehezkiel 47:1-2 TB
I wish, kita bisa bedah lokasinya, arahnya timur, dan lain sebagainya. Ada banyak saat observasi yang bisa kita dapatkan, tapi kita akan lewati itu semua, kembali kepada beberapa kata kunci di dua ayat ini. Bait suci itu tanda tempat kehadiran Tuhan, betul kan? Tuhan hadir. Dan ada air, dan sejak beberapa minggu terakhir, ekosistem untuk kita hidup, sebuah pohon bisa “flourish”. Ada air, dan kita tidak mau menggantikan “living water” dengan kolam atau air gantian, atau air pengganti. Ada air, yang kemudian mengalir keluar.
Kata berikutnya adalah, “Air itu membual,” ada kehidupan yang mengalir dari tempat suci. Yang kemudian air itu bukan cuma menetes, tapi membual, artinya ada “abundance”. Air itu banyak sekali mengalir keluar. Are you okay so far? Sekali lagi, bait suci tempat kehadiran Tuhan dan air, “living water” yang menggambarkan “life” mengalir keluar, “abundantly”. Lanjut ke ayat berikutnya.
Supporting Verse – [3] Sedang orang itu pergi ke arah timur dan memegang tali pengukur di tangannya, ia mengukur seribu hasta dan menyuruh aku masuk dalam air itu, maka dalamnya sampai di pergelangan kaki. [4] Ia mengukur seribu hasta lagi dan menyuruh aku masuk sekali lagi dalam air itu, sekarang sudah sampai di lutut; kemudian ia mengukur seribu hasta lagi dan menyuruh aku ketiga kalinya masuk ke dalam air itu, sekarang sudah sampai di pinggang. [5] Sekali lagi ia mengukur seribu hasta lagi, sekarang air itu sudah menjadi sungai, di mana aku tidak dapat berjalan lagi, sebab air itu sudah meninggi sehingga orang dapat berenang, suatu sungai yang tidak dapat diseberangi lagi. Yehezkiel 47:3-5 TB
Kalau Saudara tidak tahu satuan hasta, hasta itu kira-kira 440 sampai 520 meter, kira-kira setengah kilometer. Nah, kalau kita observasi dan interpretasi, tentunya kita bisa mulai menyelami bahwa ada kehidupan yang mulai mengalir, yang menjamah mezbah tempat orang membawa bakaran, atau korban. Kemudian menjamah kehidupan, dan dikatakan pada waktu disuruh ukur, pertama-tama airnya semata kaki. Kemudian selutut, sepinggang, sampai kemudian siapapun yang ada di dalamnya tidak lagi bisa mengendalikan keberadaannya, kecuali tenggelam dikendalikan oleh kehidupan yang datang ke dalamnya.
Kalau interpretasi, bisa bicara soal “our surrender”, penyerahan kita, seberapa jauh kita mengalami kehidupan itu datang dan seberapa jauh kita mengalami kehidupan yang datang dan seberapa jauh kita menyerah kepada air kehidupan yang datang melawat kita. Tetapi bisa juga saudara interpretasi dengan kondisi Jakarta yang airnya semata kaki, selutut setelah hujan di kompleks kita. Bisa saja Saudara interpretasi seperti itu.
Supporting Verse – [6] Lalu ia berkata kepadaku: ”Sudahkah engkau lihat, hai anak manusia?” Kemudian ia membawa aku kembali menyusur tepi sungai. [7] Dalam perjalanan pulang, sungguh, sepanjang tepi sungai itu ada amat banyak pohon, di sebelah sini dan di sebelah sana. Yehezkiel 47:6-7 TB
Ingat, sungai itu baru terjadi. “It’s a new river” yang mengalir dari bait suci. Tentunya ini secara kronologi sebuah kejadian yang panjang dipercepat karena sungainya pun baru saja terjadi. Tiba-tiba penglihatan itu menunjukkan bahwa pohon sudah muncul.
Kesimpulannya adalah, di mana ada kehidupan dan di mana ada air, kehidupan dipulihkan dan dibangkitkan. “Life comes back”. Pohon mulai muncul. Pohon bicara soal flourishing, “Life started to come back. God is reviving something”, kalau kita bahas dan telusuri ayat-ayat ini.
Supporting Verse – [8] Ia berkata kepadaku: ”Sungai ini mengalir menuju wilayah timur, dan menurun ke Araba-Yordan, dan bermuara di Laut Asin, air yang mengandung banyak garam dan air itu menjadi tawar, Yehezkiel 47:8 TB
Jadi sungai ini bermuara, berujung di Laut Mati. Airnya mengandung banyak garam. Makanya namanya Laut Mati. Karena di situ tidak ada satu hal pun yang bisa hidup, karena tingginya kadar garam, tidak ada yang bisa hidup. Kuman mati, ekosistem mati, semua mati.
Dan kemudian dikatakan, “Sejak sungai ini datang ke Laut Mati, di mana sungai, atau air kehidupan ini menyentuh itu.” Laut Mati menjadi tawar. Bahasa aslinya “tawar” memakai kata “rafah”, menjadi sembuh. Ini luar biasa. Sungai ini membawa kesembuhan kepada kematian. Sungai ini membangkitkan apa yang mati. Sungai ini mulai mendatangkan kehidupan, bahkan mulai menumbuhkan pohon, “start bringing flourishing life”. Lanjut ke ayat berikutnya.
Supporting Verse – [9] sehingga ke mana saja sungai itu mengalir, segala makhluk hidup yang berkeriapan di sana akan hidup. Ikan-ikan akan menjadi sangat banyak, sebab ke mana saja air itu sampai, air laut di situ menjadi tawar dan ke mana saja sungai itu mengalir, semuanya di sana hidup. Yehezkiel 47:9 TB
Kata tawar di sini bukan kehilangan rasa seperti garam dunia yang Tuhan meminta kita “jangan jadi tawar”. Ini konteksnya berbeda. Tawar disini dikatakan yang tadinya mati menjadi sembuh. Dan ke mana saja sungai itu mengalir, Semuanya di sana “hidup”.
Pagi hari ini, saya tidak tahu bagian mana dari hidup saudara yang perlu dihidupkan, Membuat hidup saudara betul-betul hidup, karena Saudara terhubung kembali dengan sang sumber kehidupan. Saya tidak tahu siapa yang selama ini sudah mencari alternatif, berpikir bahwa “you’ll do better”, dan hari ini, “It’s the time for you to come back to Him”.
Supaya Dia datang dalam kehidupan Saudara, menghadirkan “flourishing life” atas pernikahan, kesehatan, atas keuangan, atas mimpi-mimpi, atas doa-doa Saudara. Karena sumber kehidupan itu datang dari dalam kehidupan saudara. Laut asin, lambang kematian. Tapi Tuhan bisa membangkitkan kembali apa yang mati. Ikan mulai ada. Dead comes alive. Putus asa bisa hidup kembali menjadi harapan. Rahim yang mandul bisa melahirkan. Hidup yang sudah lama tidak menghasilkan bisa mulai berkreasi dan proaktif. Bahkan yang cemas dan takut, bisa mendapatkan damai dan sukacita di dalam hati dan hidup kita.
Karena sumber kekuatan kita sebagai orang benar adalah air kehidupan yang mengalir dari tempat yang maha tinggi, hubungan vertical yang Tuhan ingin pulihkan dalam hidup kita. Nah, pertanyaannya adalah, “Bagaimana Tuhan mengerjakannya dalam kehidupan kita?”
Kita ini adalah manusia rohani yang tinggal di tubuh jasmani. Kenapa kematian, tantangan bisa datang dalam kehidupan kita? Saya ingin membawa saudara belajar sedikit, agar saudara mulai mengerti bagaimana Tuhan memulihkan atau Tuhan menghadirkan restorasi dan pembaharuan itu di dalam hidup kita.
Karena kita adalah manusia rohani yang tinggal di tubuh jasmani. Sewaktu Tuhan ciptakan kita, Tuhan bentuk tubuh kita dengan tanganNya. Dan kemudian Dia hembuskan nafas kehidupan. Dan kemudian roh kita menjadi hidup. Dan sewaktu manusia jatuh ke dalam dosa, hubungan terputus, maka Yesus perlu menebus kita, sehingga Roh Tuhan datang menghidupkan dan menguduskan kita. Kita adalah manusia rohani yang tinggal di tubuh jasmani.
Nah, transisi daripada keduanya ini, yang kita sebut dengan manusia jiwani, dimana pikiran kita berada. Disini perasaan, kehendak kita juga berada. Ada pikiran, perasaan, dan kehendak yang menjadi “interface” transisi antara jasmani dan rohani.
Pikiran kita pakai otak yang ada di tubuh, tapi buah pikiran kita adalah apa yang tidak terlihat, yang ada di dalam manusia batiniah kita. Sekedar kasih contoh saja, misalnya sewaktu Daud berkata, “Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku, Dia membaringkan aku di rumput yang hijau, Dia menuntun aku ke air yang tenang.” Rumput yang hijau, air yang tenang, dengan kata lain, Tuhan “flourishing” me, Dia menyegarkan, Tuhan menyegarkan jiwaku.
Sewaktu Tuhan berkata, “Dia tidak ingin satu jiwa pun binasa, yang Tuhan selamatkan adalah jiwa kita, roh dan jiwa kita.” Karena tubuh ini akan kita tinggalkan di dunia ini. Kekayaan kita sesungguhnya adalah apa yang ada di sini. Termasuk buku Alkitab ini. Karena kekayaan sesungguhnya adalah apa yang pikiran ini mengerti, apa yang hati ini paham, dan apa yang keputusan diambil berkaitan dengan perintah-Nya, bukan bukuNya. BukuNya akan ditinggal, tetapi semua ingatannya, perjalanan rohaninya akan dibawa bersama kembali ke Bapa di surga. Jadi, kekayaan kita bukan dari jam tangan kita, apalagi dari raket padel kita.
This is your real wealth. Nah, kenapa Tuhan ingin memulihkan, Tuhan ingin memperbarui, ada salah satu kisah pada waktu Tuhan mau memulihkan, bahkan mau menghidupkan kita, approach yang Tuhan lakukan, pendekatan Tuhan adalah Tuhan menjamah batin kita, dan kemudian mempengaruhi kehidupan kita yang ada di luar. “Flourishing”, mulai dari dalam, Tuhan revive us, Tuhan renew our heart. Tuhan memperbaharui hati kita, Tuhan memulihkan kembali manusia batiniah kita, dan itu akan kemudian mempengaruhi. Karena orang benar yang bertunas tidak terdampak panas terik. Bukan di luar tidak ada panas, tetapi karena kekuatan di dalamnya, tidak kemudian menyebabkan dia menjadi korban daripada panas yang ada di luar.
Jadi Tuhan kalau mau memulihkan Saudara, menghidupkan Saudara, memperbaharui Saudara, Tuhan bekerja dari dalam. Sementara musuh kita. Saya bahkan tidak mau sebut namanya, karena dia tidak pantas dan tidak perlu disebutkan dalam rumah Tuhan. Dia berusaha mencuri apa yang saudara punya, dan approachnya dia adalah selalu dari luar. Kondisi, keadaan, apa yang kasat mata, seperti panca indra kita, sehingga pikiran kita kacau, perasaan kita takut dan cemas, dan kita tidak bisa mengambil keputusan apa-apa, sehingga iman tidak bisa “flourishing” dan kehidupan kita tidak bisa mengalir.
Dia berusaha taruh apa yang ada di depan mata dan indra Saudara, mata Saudara, telinga Saudara, dipakai untuk mempengaruhi Saudara. Dia tidak punya akses ke sini (Roh Tuhan), karena di situ hanya Tuhan yang bisa bekerja. Oleh sebab itulah, laporan kesehatan, cek darah, surat dari kantor pajak, termasuk, sekali pun, reconcile saham dan crypto Saudara, bikin cemas! Tetapi kalau Saudara punya “strength for within”, Panas boleh datang, Badai boleh datang, Orang benar “shall flourishing”. Karena kita punya sumber mata air.
Tuhan selalu menghampiri jiwa kita melalui Roh, kedalaman hati kita. Apa yang terjadi kalau hidup kita bergantung kepada tubuh dan indra kita? Bergantung dengan apa yang ada di luar, Tidak heran kalau kita cemas.
Ada contoh di perjanjian lama, seorang nabi bernama Elia. Saya ceritakan singkat. Ada dua perikop yang saya rangkum. Perikop pertama atau pasal pertama adalah 1 Raja-raja 18 yang mencatat kehebatan Elia. Dia melawan ratusan nabi Baal dan menang, melihat itu bangsa Israel yang tadinya sudah berdosa, balik bertobat, dia juga memanggil api dari surga, api turun, dan dia meminta hujan turun dimana sebelumnya selama 3 tahun, tidak turun hujan. Dia suruh hujan, dia bisa memanggil hujan, dahsyat! Jadi, kalau teologi mencatat, 1 Raja-raja 18 itu seperti “victory lap-nya” Elia.
Nah, yang saya mau ajak Saudara lihat adalah juga, bahwa satu pasal kemudian, 1 Raja-raja 19, ahli teologi berkata bahwa, Ini bahkan hitungan jam, mungkin tidak sampai satu hari. Terjadi anticlimax dalam kehidupan Elia yang baru saja hebat, tiba-tiba nabi yang berani dan perkasa ini, tiba-tiba menjadi takut. Dalam hitungan jam saja.
Bagaimana dia takutnya, saking takutnya, dia melarikan diri dan menyelamatkan nyawanya. Lah, kok bisa? Kalau Saudara baca 1 Raja-raja 19 dikatakan bahwa dia dikirim sebuah ancaman oleh ratu Izabel, melalui utusan yang bahkan tidak dikenal namanya. Bayangkan, ancaman itu datang, menghapus semua ingatan Elia akan hal-hal besar yang Tuhan lakukan di Gunung Karmel, dalam hitungan hari, semua itu hilang.
Pertanyaan kita, “Kok bisa keberanian, iman, panggilan yang ada dalam kehidupan dia, cinta kasih dia terhadap umat Tuhan, melayani, semuanya lenyap. Digantikan dengan rasa takut dan putus asa.
Bagaimana mungkin itu terjadi? Kalau saudara biarkan apa yang datang dari luar seperti utusan, suara, pesan, ancaman, dan kalau Elia bisa terdampak, apa yang menjadi jaminan kalau itu tidak terjadi kepada kita semua? Ini bisa terjadi kalau kita tidak terhubung dengan sumber kehidupan.
Menariknya adalah Tuhan kemudian memulihkan dan membangkitkan kembali, memperbaharui Elia. Kalau saya singkat saja, interaksi surga dengan Elia di Gunung Horeb. Salah satu hal yang Tuhan tanyakan sama dia, setelah Tuhan kasih dia makan, Tuhan kasih dia istirahat, Tuhan suruh dia tidur, betul bahwa makan, istirahat, semua itu seperti kecapean atau kelelahan jasmani.
Tetapi setelah dia makan, dia sudah selesai, Tuhan bertanya kepadanya, “Elia, apa yang kau lakukan di sini?”
Yang Tuhan tanya bukan keberadaan jasmaninya, geografi, location-nya, bukan. Yang Tuhan tanya adalah, “Apa yang kamu lakukan di sini?” Apa yang terjadi sehingga jiwamu dan hatimu bisa terdampak sampai sejauh ini? Apa yang datang? Ancaman apa? Suara apa? Pesan apa? Data apa? Fakta apa yang datang sehingga kamu terdampar, takut, cemas?
Mungkin bagi Saudara yang mengalami seperti itu. Saudara, perlu bertanya kepada diri Anda sendiri, Kok aku bisa terdampar takut, cemas? Tidak pengen hidup seperti Elia. Elia yang tadinya pernah mendoakan seorang anak yang mati untuk bangkit. Elia yang sama meminta Tuhan mengambil nyawanya, kok bisa?
Kalau Saudara ke terapis, hal pertama kali yang terapis minta Saudara lakukan adalah, tulis apa yang a anda rasakan. Itu sebabnya Journaling bisa menenangkan pikiran kita. Kemudian tanya, koq bisa saya tiba disini? Terjebak di rasa cemas, takut, khawatir, putus asa, tidak punya pengharapan seperti itu?
Dan kalau Saudara izinkan Tuhan hadir disitu, Tuhan memulihkan dan membangkitkan Elia, dan Tuhan juga bisa memulihkan dan membangkitkan saudara dan saya. Waktu Allah menanyakan itu, Allah ingin Elia merenungkan apa yang ditanyakan itu, merenungkan mengapa dia berada dalam keadaan spiritual seperti itu dan menjauh dari panggilanNya. Kapan dan di mana? Semua ketidaksesuaian itu mulai terjadi.
Journal, ijinkan Tuhan hadir dalam hidup saudara.
Supporting Verse – [26] Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. Yehezkiel 36:26 TB
Hati yang baru, Roh yang baru dalam batinmu. Tuhan tidak janji kasih rumah yang baru. Tuhan tidak janji kasih apa yang kasat mata yang ada di dimensi jasmani yang baru. Tetapi Tuhan janji untuk memberikan hati yang baru, roh yang baru dalam batin kita.
Supporting Verse – [4] Tetapi siapa yang termasuk orang hidup mempunyai harapan, karena anjing yang hidup lebih baik dari pada singa yang mati. Pengkhotbah 9:4 TB
Yang Tuhan hidupkan adalah manusia batiniah. Tanda-tanda orang yang hidup, yang ada roh Tuhan yang hidup, yang sumber air kehidupan terhubung kembali dalam hidupnya, adalah orang tersebut punya pengharapan. Karena pengharapan ini, anjing yang hidup lebih baik daripada singa yang mati.
Berpengharapan dalam kesulitan, bertekad dalam menghadapi tantangan, bisa berusaha mengatasi keterbatasan adalah akibat dari keputusan yang seseorang ambil dalam dirinya, dan bukan karena perubahan yang terjadi di luar dirinya. Waktu Saudara ambil keputusan menghadirkan Kristus yang menebus kehidupan kita, kita mulai akan menemukan kekuatan itu untuk menghadapi apapun yang ada di luar sana.
Supporting Verse – [10] Maka penangkap-penangkap ikan penuh sepanjang tepinya mulai dari En-Gedi sampai En-Eglaim; daerah itu menjadi penjemuran pukat dan di sungai itu ada berjenis-jenis ikan, seperti ikan-ikan di laut besar, sangat banyak. [11] Tetapi rawa-rawanya dan paya-payanya tidak menjadi tawar, itu menjadi tempat mengambil garam. [12] Pada kedua tepi sungai itu tumbuh bermacam-macam pohon buah-buahan, yang daunnya tidak layu dan buahnya tidak habis-habis; tiap bulan ada lagi buahnya yang baru, sebab pohon-pohon itu mendapat air dari tempat kudus itu. Buahnya menjadi makanan dan daunnya menjadi obat.” Yehezkiel 47:10-12 TB
Tiba-tiba di danau atau di laut mati yang tidak ada ikan, yang tidak ada orang pernah menangkap ikan, tiba-tiba penangkap-penangkap ikan mulai tinggal di situ. “Livelihood start coming”.
Dikatakan bahwa daerah itu menjadi penjemuran pukat. Artinya mereka tinggal di situ. Dan di sungai itu ada berbagai jenis-jenis ikan, seperti ikan-ikan yang di laut besar, sangat banyak. Restorasi masyarakat, restorasi ekonomi, restorasi sosial, restorasi kehidupan terjadi pada saat air kehidupan mulai mengalir.
Di ayat ke-12, Daunnya tidak layu, Kita sudah tahu bukan karena tidak ada panas terik. Panas terik boleh datang, tapi karena ada sumber air kehidupan yang di dalamnya, Panas boleh datang, kemarau boleh datang, Daunnya tidak layu dan buahnya tidak habis-habis. Sebab pohon itu mendapat air dari tempat kudus itu. Buahnya menjadi makanan. Dan daunnya menjadi obat.
“If you flourish”, saudara bisa menjadi pohon yang menjadi obat waktu Tuhan tempatkan engkau berada.
Closing Verse – [2] Di tengah-tengah jalan kota itu, yaitu di seberang-menyeberang sungai itu, ada pohon-pohon kehidupan yang berbuah dua belas kali, tiap-tiap bulan sekali; dan daun pohon-pohon itu dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa. Wahyu 22:2 TB
If God revive you, renew your heart, and restore your life.
JPCC, siap untuk flourish dan menjadi berkat? Bukan flourish supaya kita hebat tetapi “Flourish” supaya kita bisa memberitakan bahwa Tuhan itu benar, bahwa Dia adalah gunung batu-ku, dan tidak ada kecurangan daripadaNya. Amin? Hari ini, saya ingin Saudara penuh harapan dengan semua yang Tuhan janjikan, pernikahanmu, kesehatanmu, rumah tangga-Mu, keuanganmu, mimpi-mimpimu, dan masa depanmu? Amin.
P.S : If you like our site, and would like to contribute, please feel free to do so at : https://saweria.co/316notes


