The Cry of The Heart By Ps. Kenny Goh

JPCC Sutera Hall 2nd Service (29 March 2026)

Liburan sudah berakhir waktunya untuk kita kembali produktif. Amin, saudara? Kita akan mengakhiri series kita, seri pengajaran kita yang berjudul “Rooted in the Word, berakar di dalam Firman”, dan buat saudara yang ingin mencatat, judul kotbah hari in adalah “The Cry of the Heart“, Seruan atau Teriakan dari Hati.

Saya ingin mengajak kita semua untuk membaca Ayat Renungan kita, utamanya untuk beberapa ayat setelah itu. Ini adalah delapan ayat terakhir di Mazmur 119, cukup panjang ya Mazmurnya. Dan kita sudah belajar dari beberapa ayat-ayat minggu terakhir ini.

Opening Verse – [169] Biarlah teriakku sampai ke hadapan-Mu, ya Tuhan; berilah aku pengertian sesuai dengan firman-Mu. [170] Biarlah permohonanku datang ke hadapan-Mu; lepaskanlah aku sesuai dengan janji-Mu. [171] Biarlah bibirku mengucapkan puji-pujian, sebab Engkau mengajarkan ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku. [172] Biarlah lidahku menyanyikan janji-Mu, sebab segala perintah-Mu benar. [173] Biarlah tangan-Mu menjadi penolongku, sebab aku memilih titah-titah-Mu. [174] Aku rindu kepada keselamatan dari pada-Mu, ya Tuhan, dan Taurat-Mu menjadi kesukaanku. [175] Biarlah jiwaku hidup, supaya memuji-muji Engkau, dan biarlah hukum-hukum-Mu menolong aku. [176] Aku sesat seperti domba yang hilang, carilah hamba-Mu ini, sebab perintah-perintah-Mu tidak kulupakan. Mazmur 119:169-176 TB

Beberapa minggu terakhir ini kita belajar dari Mazmur 119, betapa sang pemazmur ini begitu mencintai dan menjunjung tinggi Firman Tuhan. Nah, ini tentu harapan kami semua di JPCC supaya kita bersama-sama mengembangkan sebuah “appetite” atau gairah, atau kedinginan yang sangat besar untuk belajar, membaca, dan mendalami Firman Tuhan yang bikin luar biasa ini.

Nah, saudara, dalam perjalanan hidup saya pribadi, my personal journey, saya punya ekspektasi terhadap diri saya sendiri. Saya itu mau menjadi pribadi atau orang yang mandiri, kuat dan tidak suka merepotkan orang lain. Tetapi semakin dewasa, semakin saya sadar, bahwa bisa saja saya kelihatan seperti orang yang selalu punya arah, seperti saya tahu arahnya begitu. I know what to do.

Karena orang datang berkonsultasi, meminta nasihat, kayak “Wah pastor, saya minta nasihat, tell me what is my next step, langkah berikutnya saya apa”. Tetapi, sejujurnya, untuk saya pribadi aja, kadang kalau boleh jujur sama saudara semua, kadang saya masih bingung.

Terkadang saya masih tidak tahu, “What is my next step?”, Saya takut salah, apalagi semakin banyak tanggung jawab, semakin orang berpikir kamu sudah expert banget dalam bidang ini. Padahal saya berusaha untuk yang tidak kelihatan panik saja sebenarnya. Karena kelihatannya kayak, “Oh I know what to do”, karena seorang pemimpin harus tenang, kalau tidak yang lain ikut panik juga.

“What’s the direction? What do you think?”

Setiap hari sebagai seorang pemimpin selalu ditanya, what do you think? Menurut kamu kita harus bagaimana? Menurut kamu gimana? Saya kadang, I have no idea. Tetapi saya tidak boleh kelihatan, sebenarnya kayak, “I have no idea”, begitu. Kalau enggak, gimana caranya memimpin, saudara? Ini boleh saya jujur sama saudara, gpp ya?

Mungkin Pastor-pastor lain tahu “What’s next” buat mereka. Tetapi “I don’t really know sometimes” begitu ya. I don’t know. Tetapi kalau saya baca Mazmur ini, ini memberikan saya kekuatan sebenarnya. Karena Mazmur 119:169 tadi tidak dimulai dengan kekuatan.

Bukan karena saya mengenal Tuhan, Saya tahu betul apa langkah berikutnya. Saya tahu betul keputusan yang tepat berikutnya. Tidak dimulai seperti itu. Tetapi Mazmur 119 ayat 169 tadi dimulai dengan sebuah jahitan, sebuah teriakan. Bukan dari sebuah strategi seperti “I know what to do now or next, atau kendali, tenang, semuanya ada dalam perkiraan saya dan forecast saya. Saya sudah tahu semuanya.”

Bukan strategi buat kendali, buat control, tetapi sebuah jeritan dan teriak. Dan ini yang kita hadapi sebenarnya.

We want confidence and independence. But God invites dependence.

Kita mau percaya diri, kita mau mandiri, tetapi Allah mengundang kita untuk terus bergantung kepada Dia. We want confidence and independence, but God invites dependence.

Nah, tentu “independence and confidence” ini hal yang baik dalam konteks hubungan-hubungan dengan manusia. Tetapi Allah mengundang kita untuk terus bergantung kepada Dia Sebagai sumber kehidupan kita. Sumber hikmat kita, Sumber segala pengetahuan kita, Cara kita melihat dunia, Lensa dunia kita, Cara kita menafsirkan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan kita.

Dia mau agar kita bergantung sama Tuhan. Mungkin ada orang-orang di sekeliling kita yang terlihat punya karir yang bagus, sukses, followernya banyak, hidupnya “wah on track deh” dia gitu ya. Tetapi mungkin banyak orang lain juga gak tahu bahwa orang yang sama sebenarnya mengalami “anxiety”. Sebenarnya mereka overthinking. Sebenarnya mereka takut gagal. Sebenarnya mereka memikul beban hidup yang cukup berat.

Dan hal ini juga bisa terjadi dalam kehidupan Rohani kita. Ada orang-orang yang mau terlihat hidup benar tanpa dia harus bergantung sama Tuhan. Ada orang yang mau hidup damai, penuh damai, tetapi mereka gak mau datang kepada Tuhan, mereka maunya cari metode dan cara-cara yang lain. Ada orang juga yang mau mencari arahan hidup, menentukan arah hidupnya tanpa harus mendengar apa yang Tuhan katakan.

Orang-orang mau nih hidup benar, mau hidup damai, mau punya arahan yang jelas ke depan. Mereka mau hasil dari dependence, tetapi mereka tidak mau hidup dependence. Mereka mau hasil dari hidup bergantung sama Tuhan, tetapi sebenarnya tidak mau bergantung sama Tuhan. Mereka mau memakai cara sendiri, Mereka tidak mau terlihat beda dengan dunia. Mereka hanya mau melakukan segala sesuatu sesuai dengan aturannya sendiri.

Karena kalau kita lakukan sendiri, ada rasa bangga gitu kan, saudara, I made it on my own. Ini aku berjuang loh, Ini hasil kerja keras saya loh. Nah itu bagus tentu saudara. Tetapi kalau hubungan dengan Tuhan, kita perlu dia sebagai sumber kehidupan.

Bukan karena Tuhan insecure dan selalu mau mau kita bergantung sama Dia, Bukan itu saudara, tetapi karena kita jatuh dalam dosa dan kita tidak sempurna dan karena kita ciptaanNya, dan kita terbatas dalam segala sesuatu yang kita lihat dan kita nilai.

Kadang kita tidak bisa melihat segala peristiwa dari perspektif yang lebih luas sehingga kita butuh pencipta kita untuk menuntun kita. Kita diundang untuk terus dependent dan bergantung kepada Tuhan.

Hari ini akan sedikit beda. Saya akan berikan dulu poin utamanya dan baru setelah itu, kita bahas ayat-ayatnya. Hari ini saya kasih poinnya dulu, saudara, supaya, karena musim liburan kali ya, jadi untuk saudara yang mau istirahat, contoh poinnya “udah, gue udah tau” gitu ya. So, trick for you guys.

Key point hari ini adalah, hidup yang bertumbuh dibangun bukan dengan berdiri sendiri. Tetapi dengan terus berseru kepada Tuhan melalui FirmanNya. Saya ulangi sekali lagi. Hidup yang bertumbuh dibangun bukan dengan berdiri sendiri, tetapi dengan terus berseru kepada Tuhan melalui FirmanNya.

Kita deep-dive Mazmur ayat-ayat terakhir ini yang tadi sudah kita baca.

Pertama, dependence dimulai dengan teriakan.

Dependence dimulai dengan teriakan. Seorang anak kecil kalau butuh sesuatu, anak kecil tuh tidak overthinking. Dia cuma langsung, “Pa!Ma! Dia tidak mikir, wah aku perlu sesuatu dari bapak. Aku bikin business plan dulu deh. Saya bikin proposal dulu ini buat dia. Saya antisipasi segala macam skenario dulu, baru saya datang ke dia.

Saya harus tahu semua details, baru saya datang dan meminta kepada bapak saya. Anak kecil tidak seperti itu. Mereka tidak analisa, mereka tidak overthinking. Mereka hanya tahu, “aku butuh, aku minta”. Itu anak kecil. Dan anak kecil juga tidak kayak gini, “Wah, aku kayaknya sudah tidak layak datang ke mereka”. Mereka bisa buat kesalahan, bisa bandel dan lain-lain, lalu setiap kemudian bisa langsung meminta lagi. Mereka tidak akan merasa, aku sudah tidak layak lagi menjadi anakmu.

Tidak mungkin, saudara, kalau mereka datang seperti ini, “Karena dosaku 5 menit yang lalu, sepertinya aku tidak layak, Ibu, untuk meminta… Bolehkah aku minum soda?”

Gak ada begitu. Mereka langsung, “Pa, aku ini boleh gak? Pa, aku ini boleh gak?” Mereka langsung minta. Mereka berteriak, mereka berseru. Mereka tidak overthinking. Namun semakin kita beranjak usia dewasa, kita kehilangan kesadaran itu.

Dan kita ganti menjadi analisa, overthinking, dan keinginan untuk memegang kendali. Pemazmur mengajak kita untuk kembali punya postur seorang anak saat kita berhubungan dengan Tuhan, dan itu terlihat dari cara kita berseru kepada Tuhan saudara, dependence dimulai dengan teriakan.

Ketergantungan kepada Allah dimulai saat kemampuan dan suara kita sendiri sudah tidak cukup. Kita sudah kehabisan kata-kata. Saudara harus tahu ya, ini bukan doa yang rapi yang disusun saat dia datang kepada Tuhan.

Ini berteriak. “Ah, Tuhan, Yesus, Allah!”. Ini teriakan. Bukan doa yang dirancang dengan indah, ada saatnya untuk itu. Tetapi ini dimana kata-kata sudah habis, sudah tidak tahu mau doa apa lagi. Alangkah baiknya saudara, Tuhan mendengar seluruh tanda dan Teriakan anda. Kita kadang, “Ah Tuhan, kita tidak tahu harus ngapain”. Tetapi itu menunjukkan bahwa aku sudah tidak mampu, tetapi aku yakin Tuhan bisa dan disini, dan kita mau bergantung sama Dia.

Terkadang sebenarnya situasi kita memojokkan kita, menurut kita “No Choice”, Tetapi untuk kita lari kepada Tuhan. Tetapi seringkali itu terjadi sebagai opsi terakhir.

Bagaimana kalau kita kembangkan Itu sebagai opsi utama kita sehari-hari, Kita datang kepada Tuhan sebelum apa-apa. “Tuhan!”, kita menjerit berteriak kepada Tuhan. Kabar baiknya adalah kalau kita berteriak, kita tidak harus bergantung kepada diri kita sendiri saja, kita tidak harus stress karena kita tidak punya kendali dan kita tidak tahu harus ngapain, kita bisa bergantung kepada seorang yang adalah Pribadi di luar diri kita saudara, yang mengasihi kita dan tahu betul apa yang terbaik buat kita semua.

Perhatikan ini saudara, dia gak hanya minta solusi yang mudah dan instan, dia gak berteriak seperti ini, “Tuhan, get rid of this problem!”, dia gak ngomong begitu. Dia juga tidak bilang, “Tuhan udah hilangkan aja rasa sakit ini”, tetapi doanya begini, saudara:

“Berilah aku pengertian sesuai dengan FirmanMu”, itu jeritan dia, jeritannya bukan sekedar “Tuhan, do your magic!”, tidak begitu, saudara.. atau “Tuhan lenyapkan masalah ini”, No! Tetapi jeritan Dia adalah..

“Tuhan Aku menghadapi sesuatu yang aku tidak mengerti. Aku gak tahu caranya untuk mengatasi ini. Tetapi Tuhan, Bapa dalam surga. Berilah aku pengertian!”

Dia tahu apa yang penting. Pengertian dan tidak hanya pengertian sesuai dengan kepandaian manusia. Tetapi sesuai dengan FirmanMu. Kita lanjut. Ayat 170.

Supporting Verse – [170] Biarlah permohonanku datang ke hadapan-Mu; lepaskanlah aku sesuai dengan janji-Mu. [171] Biarlah bibirku mengucapkan puji-pujian, sebab Engkau mengajarkan ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku. [172] Biarlah lidahku menyanyikan janji-Mu, sebab segala perintah-Mu benar. Mazmur 119:170-172 TB

Poin yang kedua, Dependence akan membentuk hidup kita saat kita bergantung sama Tuhan. Ketergantungan itu membentuk hidup kita.

Kita sudah belajar ini di bagian kedua dari series bulan ini, Rooted in the Word. Apa yang kita simpan dalam hati kita akan membentuk siapa diri kita dan menentukan keputusan dan perilaku kita.

Jadi, kalau yang kita simpan, yang kita konsumsi adalah narasi-narasi dunia, saudara. Narasi itu akan membentuk kita. Kalau setiap hari, saudara, kerjaan kita adalah kita “doom scrolling”, dan kita mengkonsumsi narasi demi narasi demi narasi yang menceritakan kepada kita “Oh dunia sekarang seperti ini, Oh ekonomi sekarang seperti ini, Oh sekarang isu kesehatan seperti ini”, atau kita juga konsumsi. “Oh sekarang yang pria modern itu seperti ini, Wanita modern itu seperti ini, Keluarga modern itu seperti ini”.

Narasi itu yang akan membentuk kita, saudara. Karena itu kita konsumsi setiap hari. Karena kita lakukan itu seolah-olah kita bergantung. Saudara lihat orang yang bangun tidur dan dia kayak gak bisa bergerak sampai dia baca handphone. Dia gak bisa bergerak sampai dia tahu “What’s going on today.”

Seperti, mungkin kita gak pikir dalam konteks itu, tetapi seperti ketergantungan. Seperti kalau kita tidak baca itu, kita tidak tahu cara ebrinteraksi dengan orang lain. Tetapi kita tanpa sadar, Narasi-narasi itu akan membentuk Hidup kita. Tetapi kalau yang kita konsumsi adalah Firman Tuhan, kalau yang kita konsumsi adalah kebenaran, Jalan-jalanNya Tuhan, Kalau yang kita konsumsi adalah kesaksian orang-orang yang mengalami Tuhan. Kita terinspirasi oleh orang-orang yang ikut Tuhan, dan dimana kita akan mengalami Firman yang kita simpan dalam hati kita. Dependence akan membentuk Hidup kita.

Supporting Verse – [173] Biarlah tangan-Mu menjadi penolongku, sebab aku memilih titah-titah-Mu. [174] Aku rindu kepada keselamatan dari pada-Mu, ya Tuhan, dan Taurat-Mu menjadi kesukaanku. [175] Biarlah jiwaku hidup, supaya memuji-muji Engkau, dan biarlah hukum-hukum-Mu menolong aku. Mazmur 119:173-175 TB

Sementara Pemazmur ya, kalau pada satu kata bisa kita pakai untuk menggambarkan dia, dia obsesi dengan firman Tuhan. That’s the word. Obsesi.

Saudara pernah gak sih tulis lagu tentang Padel? Karena dia begitu obsesi dengan teks yang dia baca. Dia berpikir pagi, siang dan malam, dia cari tahu, karena apa ya Tuhan taruh hukum ini di sini? Untungnya apa? Dia obsesi. Dan itu membentuk hidupnya dia. Itu membentuk diri dia.

Saudara, saya tahu di sini, saudara setiap minggu kumpul di DATE ya. Ada yang dua minggu sekali atau setiap minggu, saudara selalu ngumpul di DATE. Terkadang saya berpikir, obsesi DATE itu apa? ada DM yang obsesi cuma tahu urusan kehidupan orang lain.

Kita harus share kehidupan tetapi terkadang “borderline”, saudara, saya tidak lanjutin ya. Tetapi saudara harus tahu, bagus kita share kehidupan kita, kita share struggle kita, tetapi tahu gak saudara, bahwa disaat kita berkumpul, ada kuasa pada saat kita sama-sama membahas Firman Tuhan.

Karena begini, I have news for you, kalau saudara tahu informasi ini, either saudara tersinggung atau saudara semangat. Masalah saudara tidak unik,

Karena saudara datang, kami tidak mengecilkan masalah yang kita alami, kita semua mengalami masalah-masalah yang sukar. Karena kita datang, kita penuh tempat untuk kita curhat, dimana ada orang yang mendengarkan masalah kita.

That’s good, kita selalu sailing menguatkan satu sama lain. Tetapi jangan berpikir bahwa saya doang yang mengalami ini. Kalian tidak tahu penderitaan saya. Iya sih. Memang, tetapi sebenarnya kalau boleh jujur, masalah kamu sama apa yang pernah saya alami sama. Kita tidak berani ngomong itu, karena rasanya kita sombong. Tetapi sebenarnya justru karena masalah kita tidak jauh-jauh beda sebenarnya, maka ada harapan.

Berarti apa yang sudah di”solved” disini, kamu bisa coba juga. Berarti prinsip Firman Tuhan berlaku untuk situasi apapun. Jadi, kalau kita share masalah kita, Tujuannya apa?

Pertama, tentu kita mau didengar Tetapi saya berharap tujuannya adalah kita berkumpul karena kita mau diubah oleh Firman Tuhan. Dalam arti saudara datang dan saudara curhat, dan semua pada mendukung, that’s good, tetapi setelah itu, bersiaplah untuk ada yang berkata “Tetapi cara kamu menafsirkan ini sepertinya keliru”.

Sepertinya ada perspektif Firman Tuhan yang jauh lebih baik. Dan sepertinya kamu harus “metanoia”. Sepertinya kamu harus mengubah cara kamu melihat, Sepertinya kamu harus pakai lensa yang berbeda, Sepertinya kamu harus bertobat.

Kalau pertobatan tidak terjadi regular dalam DATE saudara, maka “you are a social club”, hanya terapi grup saja, tetapi kalau saudara izinkan kebenaran Firman Tuhan untuk mengubah lensa saudara, cara berpikir saudara dan saudara siap gak “Baperan” saat ditegur, tidak merasa dicancel saat ditegur, maka saudara akan berubah, and that’s the point.

Disitulah saudara berkata begini, saya tidak mau bersandar pada pengertianku sendiri. Aku share, aku bisa curhat, dan lain-lain, “Oh ternyata ada perspective, oh here’s the thing, mungkin aku salah”.

Kalau saudara ke DATE dan saudara tidak pernah ditegur berarti saudara gak pernah berubah. Dan kalau saudara gak pernah berubah, saudara luput dari proses pengudusan. Dan saat Tuhan mau mengubah saudara menjadi lebih seperti Yesus.

So, bahas Firman Tuhan sama-sama di dalam DATE. Dan, tahukah sebenarnya akar dari semua permasalahan dalam hidup kita? I know masalah kita kompleks. Tapi kalau kita mau tarik akarnya, ujungnya adalah kita tidak mau bergantung sama Tuhan. Kita tidak mau percaya sama Firman Tuhan. Buat kita it doesn’t make sense.

Coba kalau kita ber-dependence sama Tuhan. Kita katakan bahwa penilaian kita mungkin salah, Aku ikuti Firman deh.

Yang ketiga, Dependence menghasilkan Ketaatan.

Dependence menghasilkan Ketaatan.

Supporting Verse – [173] Biarlah tangan-Mu menjadi penolongku, sebab aku memilih titah-titah-Mu. Mazmur 119:173 TB

Aku memilih, saudara, mau taat adalah sebuah pilihan. Karena begini, ada orang yang bilang, “Yah.. Tuhan kan Tuhan ya? Kalau Tuhan mau ubah aku, Ya aku sih silahkan Tuhan ubah aja”.

Kesannya rohani, saudara. Tetapi itu cuman alasan, I wonder seberapa banyak dari kita bisa ngomong sama temen kita yang sedang curhat ya, lalu kita bilang, “ah itu mah cuma alesan doang, bro”. Aku berdoa supaya mereka punya keberanian, Tuhan. Karena mau berubah dan mau taat adalah sebuah pilihan.

It’s a choice. Kita tidak bisa bilang, “kan aku udah rajin ke gereja, kan aku sudah melayani, kalau Tuhan mau ubah, ya ubah saja”. Aku mau diterima apa adanya di tempat ini.

Tetapi sang Pemazmur menunjukkan bahwa kita, dia memilih titah-titah Tuhan, dia memilih untuk hidup sesuai jalan-jalan Tuhan. Tahukah saudara, kita harus memilih untuk jujur. Mau jujur atau enggak, itu pilihan loh saudara.

Kita memilih untuk jujur, bisa memilih untuk jujur walaupun ada resikonya. Kita bisa memilih untuk mengampuni walaupun sakit.

Ada yang bilang, “Ayo lepaskan pengampunan Aku gak bisa, bukan gak bisa, gak mau” Bukan tidak bisa, tidak mau, Memilih untuk tidak mau. Tetapi kan itu tiak adil, that’s the point of pengampunan!

Kalau adil, tidak perlu mengampuni. Kita bisa memilih untuk mengampuni. Kita bisa memilih untuk setia, walaupun tidak ada niat. Itu sebuah pilihan. Dan semua ini kita lakukan, tentu bukan melalui kekuatan kita sendiri. Justru saat kita memilih, itulah keputusan kita untuk tidak bersandar pada kekuatan kita sendiri.

“Tuhan, aku kejebak nih, kalau aku pilih untuk jujur, aku kehilangan deal ini, Kalau aku ngaku kesalahan, aku kehilangan klien ini, Jadi pilihannya apa? Untuk aku bohong? Masa Tuhan mau aku kehilangan berkat? Masa Tuhan mau aku kehilangan kesempatan ini? Kan toh Tuhan yang kasih nih? Kalau aku jujur, aku kehilangan semua itu.”

Kalau saudara bersandar pada pengertianmu sendiri, ya itu flow-nya. Tapi kalau saudara bersandar kepada Tuhan, flow-nya adalah, “Tuhan, aku kalau jujur, aku kehilangan bisnis dan klien ini. Tapi aku tahu FirmanMu berkata, Tuhan menghargai kejujuran. So, aku akan jujur dan nasib financialu, aku serahkan kepadaMu, dan aku pilih untuk jujur”.

Pilihan. Tuhan aku pilih untuk setia sama keluargaku. Aku pilih untuk setia. Sisanya, kadang kita, dalam pikiran kita, “if I don’t do this, kalau saya gak kompromi, saya gak akan happy”. Tidak masuk akal, tetapi kita memilih untuk percaya kepadaNya. Kita memilih hidup yang bertumbuh dibangun bukan dengan berdiri sendiri, tetapi dengan terus berseru kepada Tuhan melalui FirmanNya.

Yang Keempat, Dependence mengundang Pertobatan.

Menarik sekali di mazmur yang begitu panjang ini tentang betapa besar dan luar biasanya Firman Tuhan. Endingnya buat saya agak anti-klimaks, saudara.

Supporting Verse – [176] Aku sesat seperti domba yang hilang, carilah hamba-Mu ini, sebab perintah-perintah-Mu tidak kulupakan. Mazmur 119:176 TB

Menarik, saudara. Pemazmur mengibaratkan dirinya sebagai seekor domba. Domba ini tidak punya kemampuan navigasi, saudara. Domba ini tidak mampu mencari jalan pulang. Dia menjadi tersesat karena mengejar makanan sedikit demi sedikit. Sama halnya dengan manusia. Manusia tidak langsung terjerumus dalam drama. Tetapi sedikit demi sedikit.

Tahu gak istilah maut dalam manusia, saudara?

“Ya, sekali ini saja koq”.

Trust me, saudara. Saya tahu betul cobaan itu. Karena saya sering berusaha diet, saudara. “It’s okay. Kali ini aja kok, ya. Terus besoknya, sudah lama ga makan disini, ya sudah lah- just this one time.” Tapi saudara tahu bahwa perlu itu perlahan-lahan dan sedikit-sedikit, saudara, tidak langsung tersesat.

Dan respon dari pemazmur ini luar biasa, saudara. Dia tidak bilang gini, aku akan cari jalan pulang sekali. Enggak, saudara. Responnya dia adalah, “Carilah hambaMu ini. Look for me”. Pemazmur tahu bahwa dia tidak mampu bertobat sendiri. Dia butuh Tuhan untuk bawa dia kembali.

Dan kabar baik buat kita semua, saudara. Yesus menyatakan diriNya sebagai gembala yang baik. The good shepherd. Minggu depan kita merayakan Jumat Agung dan Paskah. Manusia yang berdosa seperti domba-domba yang tersesat, tidak bisa menyelamati dirinya sendiri. Dan untuk itu, Sang gembala datang. Tetapi Dia tidak hanya datang, Gembala agung kita, Dia memberikan nyawaNya intuk menebus dosa kita semua. Tahukah saudara? You gotta listen to this one.

Di atas kayu salib, Yesus ditinggalkan. Yesus berteriak berseru, Yesus mengalami keterpisahan dengan Allah Bapa. Supaya apa, saudara?

Tahukah saudara, di kayu salib, ada pertukaran yang terjadi. Dia yang tidak mengenal dosa, jadi dosa. Kita yang penuh dengan dosa, dibuat seolah-olah tidak ada dosanya. Ada pertukaran terjadi. Dan Yesus berteriak di kayu salib. Tetapi Dia terpisah dari Allah Bapa, supaya saat saudara dan saya berteriak kepada Allah Bapa, Kita pasti dibenarkan. Kita pasti dibenarkan.

Karena kalau Allah Bapa tidak mendengar teriakan kita, maka Yesus mati sia-sia. Dia mendengar kita semua. Dan itu yang dilakukan oleh gembala kit. Teriakan kita dijawab karena teriakan Yesus di kayu salib. Dia berteriak dan Dia ditinggalkan, Dia dipisah. Supaya saat saudara dan saya berteriak, Allah mendekat kepada kita dan Dia gak akan meninggalkan kita, saudara.

Dia mengundang kita untuk terus bergantung kepadaNya. Hidup yang bertumbuh dibangun bukan dengan berdiri sendiri, tetapi dengan terus berseru kepada Tuhan melalui FirmanNya.

Tiga hal yang harus kita lakukan sebagai “PR” kita.

Pertama, kita harus mulai dengan teriakan setiap hari.

Sebelum buka HP, sebelum check apa-apa, saudara tidak perlu doa sejam, dua jam untuk ngalakuin itu. Tetapi saya ajak saudara semua, sebelum kita ngapa-ngapain, doa pertama saat saudara bangun tidur adalahm:

“Tuhan, aku butuh engkau hari ini, arahkan aku lewat FirmanMu”.

Bangun kebiasaan ini, saudara. Bangun tidur, gak usah ngapa-ngapain dulu, “Tuhan aku butuh Engkau hari ini, Aku tidak mau hidup tanpa, aku tidak bisa jadi Bos yang baik tanpa Tuhan, Aku tidak bisa jadi suami yang baik tanpa firman Tuhan, Aku tidak bisa jadi istri yang baik tanpa Firman Tuhan, Aku tidak bisa jadi guru yang baik tanpa Firman Tuhan, Aku tidak bisa tanpa Firman.”

“Tuhan, aku gak bisa”, Itu postur yang sangat baik untuk kita mulai setiap hari.

Yang kedua, Perhatikan apa yang di-Konsumsi.

Perhatikan, Saudara. Saya dulu orangnya “sweet tooth” banget, saudara. Saya suka semuanya manis. Kalau tidak manis, tidak bisa saya pelan, saudara. Sampai Tuhan menyelamatkan saya melalui pernikahan, saudara. Karena istri saya sukanya “savory”, saudara. Rasanya yang asin, ya.

Dan dulu, dan dia pun tidak bisa suka yang manis sebenarnya, jadi waktu menikah sebenarnya saya juga menyelamatkan dia, gitu ya. Tapi saudara, seiring berjajang waktu, saya jadi suka yang savory. Saya mencari, saudara. Dan tentu sebaliknya juga dia, tapi nanti kesaksiannya dia gitu ya. Saya jadi suka yang savory, saudara. Saya menjadi nyari akan hal itu.

Kenapa? Karena saya terus terekspos dengan itu. Banyak orang nggak suka firman Tuhan karena memang nggak mengekspos dirinya setiap hari. Tidak mengkonsumsi. Semakin lama, semakin bisa apresiasi Firman Tuhan. Oh iya, ternyata ini luar biasa. Jadi perhatikan apa yang dikonsumsi.

Yang Ketiga, bertobat atau kembali dengan cepat.

Bertobat atau kembali dengan cepat. Setiap kali kita mulai menjauh dari kebenaran, Jangan kelamaan berlarut-larut dalam kesedihan. “Oh, Aku sudah gagal, aku sudah jauh dari Tuhan, aku gak layak datang lagi!”. Kembali ke Tuhan. Come back to him.

Karena kalau saudara sadar, kalau saudara sadar, itu adalah suara gembala kita yang sedang memanggil. Selama saudara masih sadar, itu suara gembala masih memanggil, saudara. He is still calling you, saudara.

Jadi saat dia panggil, yang saudara sudah sadar, Emosi pertama yang saudara rasakan, jangan rasa bersalah. Emosi pertama yang saudara rasakan saat mendengar panggilanNya adalah “He still loves me, Dia masih mencari aku”.

Sehingga aku masih bisa mendengar suara yang sadar, lalu cepat kembali kepada Tuhan. Saya berdoa saudara akan semakin kenal Tuhan oleh FirmanNya. Dan punya “appetite” terhadap FirmanNya.

Saudara, saya akan tutup dengan ini. Beberapa ayat terakhir, stay sebentar saja. Sedikit overtime but I hope I’m okay.

Supporting Verse – [27] Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. Lukas 24:27 TB

Yesus memimpin Bible study. Jadi, dalam Bible studyNya Tuhan Yesus, saat Dia melakukan observasi, interpretasi yang Yesus berikan kepada MuridNya adalah, kamu tahu ga, bahwa semua yang ditulis di perjanjian lama ini adalah tentang Aku, loh. Tentang Yesus.

Kita baca satu ayat tadi. Yohanes 5 ayat 39 sampai 40.

Supporting Verse – [39] Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, [40] namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu. Yohanes 5:39-40 TB

Firman Allah diberikan bukan untuk dijadikan aturan-aturan agamawi, tetapi supaya kita mengenal siapa Allah sesungguhnya. Kita tahu apa yang Dia suka, apa yang Dia gak suka, Dia seperti apa. Kita bisa melihat Alkitab itu menuntut kesempurnaan dari kita, atau kita bisa lihat dan sadar bahwa ternyata Allah kita itu sempurna banget yah.

Dan, kalau Dia sempurna, Berarti Dia bisa diandalkan. Jadi, Firman Tuhan diberikan supaya kita kenal dengan Dia. Dan ini kabar baik. Saya tutup dengan ini.

Closing Verse – [1] Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. [14] Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. Yohanes 1:1,14 TB

Saudara, kita bisa kenal Firman sebagai teks, tulisan, atau catatan yang diturunkan turun-temurun untuk kita semua belajar prinsip, karakter Allah, tetapi firman itu tidak hanya teks saja, saudara.

Firman itu menjadi seorang Pribadi manusia yang hidup, yang hari ini, untuk kita yang mungkin merasa, “Teks ini sulit banget ya, aku tidak mengerti, What does it mean? What does he say about it?”.

Firman yang teks, yang tadinya mungkin menuntut kesempurnaan kita, yang kita pikir akan menyelamatkan kita kalau kita baik, dan kita cukup baik. Tetapi Firman sebagai manusia. Pribadi Tuhan berkata : Aku sudah menebus semua dosamu, Kau bisa datang tanpa takut dan rasa bersalah. Firman sebagai teks, mungkin membuat kita penuh dengan pengetahuan dan pengertian. Tetapi hanya Firman sebagai pribadi yang bisa menunjukkan Kasih dan Cinta kepada kita.

Advent adalah di akhir bulan ini, Saudara tidak hanya mengenal dan berakar di dalam Firman sebagai teks, tetapi saudara berakar di dalam Firman sebagai seorang Pribadi Allah, Rooted in the Word, not just as text, but as a Person in Jesus Christ. Amen.

P.S : If you like our site, and would like to contribute, please feel free to do so at : https://saweria.co/316notes