HadiratNya di dalam kita by Ps. Kaleb Lucman

JPCC Sutera Hall 2nd Service (24 May 2026)

Silahkan duduk, saudara semua. Kita sudah masuk di minggu Ke-empat dengan tema Hadirat Tuhan atau “Abiding in God’s Presence”. Sebelum saya mulai berkotbah, saya meminta bantuan saudara boleh? Jadi saya ini dan istri saya. kita kemarin berdua baru melayani pemberkatan nikah di Bali. Kita pulang flight paling malam kemarin. Jadi, baru sampai di rumah itu sekitar jam 11-an, dan lalu kita sudah harus standby lagi dari pagi di sini pada hari ini. So, I need some energy from you guys. Jadi, respon saudara sepanjang khotbah akan memberikan saya energi. Can you do that? Alright!

Saya mau rekap sedikit apa yang kita sudah pelajari di minggu-minggu terakhir, Kita sudah belajar bahwa yang membedakan anak-anak Tuhan dan yang bukan, itu bukanlah dari hasil akhirnya, bukan dari outcome. Tetapi yang membedakan kita adalah hadirat Tuhan yang ada di tengah-tengah kita.

Jadi, jangan salah berpikir bahwa yang namanya anak Tuhan kalau ikut Tuhan, badai pasti berhenti, penyakit pasti sembuh, bisnis pasti berhasil, mertua langsung jadi baik. Tentu, saudara, tetapi yang membedakan kita adalah Hadirat Tuhan di tengah-tengah kita, The greatest blessing is God himself.

Melebihi dari semua pemberian yang Tuhan bisa berikan, Hadirat Tuhan, itulah berkat terbaik kita. Nah saudara, Hadirat Tuhan itu ada di mana-mana. Tuhan itu maha hadir. Tapi meskipun Dia maha hadir, belum tentu kita sadar sama HadiratNya. Meskipun Dia maha hadir, belum tentu kita menjalin hubungan bersama Dia.

Secara proximity, Dia ada dan hadir. Tetapi belum tentu secara intimacy, kita dekat dengan Dia. Bisa ngerti saudara? Yang Tuhan mau bukan cuma Dia secara proximity dekat dengan kita, tapi Dia mau intim dengan kita.

Dia mau bangun hubungan yang dekat dengan kita. Itu sebabnya Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang selalu mau mendekat. Selalu mau membangun hubungan. Tetapi yang namanya hubungan saudara, itu selalu dua arah. Tidak pernah ada hubungan satu arah saja.

Jadi, kita pun perlu merespon, Kita pun perlu juga mau mendekat kepada Tuhan. Dua minggu lalu kita belajar dari kisah hidupnya Musa. Dia bilang, “Show me your glory!”, Musa haus akan hadirat Tuhan.

Kita pun perlu merespon dan kita pun juga perlu mencari dan menikmati dan merasakan hadirat Tuhan, Nah, hari ini kita masuk di minggu keempat, dan judul kotbah saya hari ini adalah, “Hadiratnya dalam kita“.

Saudara, kalau kita betul-betul mau meresponi Tuhan, Kita betul-betul juga mau mendekat dan membangun hubungan yang intim dengan Tuhan. Maka, Hadirat Tuhan tidak bisa kita cuman cari di hari minggu. Betul tidak?

Saudara, yang namanya hubungan yang dalam, hubungan yang intim, tidak akan pernah bisa dibangun dari koneksi yang jarang, tidak akan pernah bisa dibangun dari koneksi yang dangkal. Kedalaman sebuah hubungan selalu lahir dari kehadiran dan koneksi yang terus-menerus. Yang konsisten. Karena Tuhan mau menginginkan hubungan yang dalam dengan kita, Dia tidak mau cuma sesekali visit di hidup kita. Dia mau tinggal di dalam kita.

God desires Habitation, more than visitation.

Tuhan bukan hanya mau datang berkunjung sekali dalam seminggu. Tetapi Dia mau tinggal di dalam kita. Dia mau hadir, Dia mau terlibat, Dia mau bertahta di keseharian kita. Itu sebabnya saya rasa kita perlu ubah mindset kita sedikit. Jangan merasa kita hanya bisa mencari hadirat Tuhan itu di hari Minggu. Jangan merasa bahwa saya hanya berjumpa dengan Tuhan di hari minggu, sampai ada yang komplain.

“Ini gereja ribet banget sih, pakai sistem booking kursi, sampai menghalangi saya ketemu sama Tuhan.”

Sebenarnya kalau hadirat Tuhan bisa kita alami di setiap harinya kita, harusnya tidak perlu tunggu jam-jam ibadah tertentu untuk mengalami Tuhan. Harusnya di setiap harinya kita pun, kita mengalami Tuhan. Kita melibatkan Tuhan. Bukan berarti apa yang kita lakukan hari ini tidak penting. Ini penting saudara, beribadah setiap minggu. Tetapi ini saja tidak cukup. Kalau kita tidak melibatkan Tuhan di keseharian kita.

Pertanyaannya. apakah kita aware atau tidak dengan hadirat Tuhan di setiap hari kita? Apakah kita melibatkan Tuhan atau tidak di keseharian kita?

Sebenarnya salah satu tanda kita menjadi semakin dewasa kerohanian kita adalah begini, kita tidak hanya sekedar mencari “spiritual high” di momen-momen tertentu. Kita tidak cuman mencari “spiritual high” di hari minggu atau ketika di momen tertentu seperti acara worship bareng di “overflow worship night”. Kita tidak hanya mencari hadirat Tuhan ketika ikut marriage getaway, ikut KKR, ikut seminar. Tidak ada yang salah dengan itu semua, saudara.

Tetapi orang dewasa mengerti ini, lebih dari sekedar mengejar “spiritual high”, kita perlu membangun “spiritual habit”.

Kita perlu membangun kebiasaan sehari-hari, daily, focus on habits. Saudara, ada bedanya makan tiga kali satu sama makan satu kali tiga, bener tidak? Ada bedanya, saudara, setiap hari makan tiga kali satu, breakfast, lunch, dinner. Sama saudara makan satu kali doang satu hari, tetapi langsung tiga porsi.

Ada bedanya saudara, secara kalori mungkin sama, secara energi jumlahnya mungkin sama. Tetapi efeknya ke kesehatan saudara pasti berbeda, Tenaganya menjadi fluktuatif, mungkin saudara jadi bloated, Begitu juga kalau sodara dikasih obat sama dokter, disuruh minum, ini tiga kali satu.

Tidak mungkin saudara disuruh minum tiga kali satu, terus saudara minumnya satu kali tetapi langsung tiga butir. Bener tidak? Karena saudara tahu bahwa yang sehat adalah konsistensi secara terus-menerus.

Nah, kita bisa mengerti ini mengenai kesehatan tubuh jasmani kita, tetapi kenapa seringkali kita tidak melakukan itu mengenai kesehatan rohani kita?

Kita hanya “geber” sekali seminggu. Hari Minggu ikut kebaktian Sutera Hall kedua, pulang dari sini, aduh tidak puas, pengen dengar pandangan pastor lain. Pergi ke Upper Room, dan pulang dari Upper Room, tidak puas, nonton lagi online service dari Kokas, setelah itu pulang, baca Alkitab langsung lima pasal. Tidak ada yang salah dari itu semua, saudara. Tetapi akan berbahaya kalau hanya itu yang saudara lakukan, lalu Senin sampai Sabtu, saudara melupakan hadirat Tuhan.

Saudara merasa sudah cukup, merasa sudah kenyang, that will not make your spirit healthy. Saya seringkali ditanya sama couple yang lagi counseling sama kita. Dia mungkin pernikahannya sudah di ambang perceraian, pertanyaan yang cukup sering saya terima adalah begini,

“Pastor, pernikahan kita sudah diambang perceraian, kalau saya ikut marriage getaway, kalau kami ikut marriage seminar, kira-kira bisa membantu tidak? bisa memulihkan pernikahan kami tidak?”

Saya selalu jawab, bisa saja. Tuhan bisa bekerja lewat mana pun. Tuhan bisa bekerja, memulihkan dan merestorasi, me-reset pernikahan saudara. Lewat marriage getaway, lewat marriage seminar, lewat momen-momen tertentu. Tetapi kalau setelah pernikahan saudara di-reset, habitnya tidak diganti, tinggal tunggu waktu menuju kehancuran lagi. Am I making sense to you all?

Kita sudah menuju kehancuran karena habit yang jelek yang kita bangun, bisa banget di-reset sama Tuhan, balik ke sini. Tapi habitnya pun perlu diganti, karena kalau tidak, kita menuju ke sini lagi. Kita perlu ganti dengan habit yang baru, spiritual habit sehingga kita menuju ke kehidupan, supaya kita bisa sehat.

Perlu sadar begini saudara, the same God who moves in breakthrough also walks with us in the ordinary.

Kalau kita hanya mencari dan merindukan hadirat Tuhan di momen-momen yang memberikan kita terobosan, breakthrough, kita akan justru kehilangan banyak sekali kesempatan menikmati Tuhan di keseharian kita, di hari-hari rutinitas kita.

Karena goal kita dalam hidup ini, the goal is not to have more God moments. The goal is to build a God-centered life. Target kita, tujuan kita bukan hanya sekedar “spiritual high”, momen ini, KKR, seminar. Pulang, merasa rejoice. Tetapi tujuan kita adalah to build a God-centered life. Kalau kita cuma mencari Tuhan di momen-momen tertentu, kita bakal kehilangan banyak sekali kesempatan untuk mengerti dan menikmati Tuhan di keseharian kita.

Nah, kita masih akan terus belajar dari kisah Musa dan umat Israel hari ini. Minggu ini kita belajar dari Keluaran 40. Kita mungkin tidak ada waktu untuk baca semua ayatnya karena ada 38 ayat. Saya mau kasih recap sedikit buat saudara. Dari Keluaran 40 ini, 33 ayat pertama berisi instruksi dari Tuhan untuk Musa dan umat Israel.

Mengenai secara detail mereka harus bangun yang namanya kemah suci. Secara detail Tuhan kasih instruksi, kamu harus lakukan ini, supaya apa? Supaya hadiratKu turun memenuhi kemah suci itu. Jadi kalau saudara baca 33 ayat pertama, ribet banget. Kapan kemahNya dibangun harus spesifik. Di dalam kemah itu perlu taruh tabut 10 perintah Allah di ruangan Maha Kudus. Lalu perlu bangun tirai pemisah antara ruangan Maha Kudus dengan yang di luar.

Ada meja khusus, ada lampu khusus, ada bejana, ada minyak urapan yang harus dipercik di setiap furniture. Lalu yang boleh masuk, hanya orang-orang tertentu. Hanya boleh harum sama keturunannya. Maksudnya pun, perlu pakai baju tertentu. Dibasuh dengan air, diurapi dengan minyak. So many details, saudara. So many details. Tetapi menariknya, Musa melakukan itu semua dengan taat.

Opening Verse – [16] Musa melakukan segalanya seperti yang diperintahkan Tuhan. Keluaran 40:16 BIMK

Mau ribet pun, Musa tetap jalankan. Musa prepare yang terbaik secara intentional, secara sengaja, dan secara excellent. Memberikan yang terbaik. Sesuai dengan apa yang Tuhan mau.

Supporting Verse – [34] Kemudian turunlah awan menutupi Kemah Tuhan, dan Kemah itu penuh dengan cahaya kehadiran Tuhan. Keluaran 40:34 BIMK

Setelah segala sesuatu dipersiapkan dengan baik, baru Hadirat Tuhan turun atas kemah tersebut. Saudara, kita sudah hidup di perjanjian baru, Yesus sudah menebus kita, jadi kita tidak perlu lagi membangun kemah suci seperti Musa untuk merasakan Hadirat Tuhan. Tetapi secara prinsip, Kita perlu belajar dari Musa, yaitu mempersiapkan secara intentional dan secara excellent.

Karena the Glory of God fills what its prepared. Hadirat dan Kemuliaan Tuhan akan turut menguasai kalau kita mempersiapkan wadahNya. Hadirat Tuhan Akan turun menguasai Kalau kita mempersiapkan wadahnya, Secara intentional dan secara excellent.

Mengapa ini penting? Karena banyak orang mengaku bahwa mereka perlu Hadirat Tuhan tetapi sedikit yang mau mempersiapkan seperti Musa. Dari keseharian kita, kelihatan apakah kita mau mempersiapkan untuk Tuhan atau tidak. Kita mau Damai Sejahtera Tuhan tetapi kebiasaan kita hanya sibuk scrolling media sosial dan melihat berita-berita negatif, rupiah lagi turun, saham lagi turun, kita tidak pernah siapin baca firman Tuhan.

Kita tidak pernah membawa keadaan kita ke Firman Tuhan dan biarkan Firman Tuhan berkata-kata atas keadaan kita. Bagaimana bisa dapat damai sejahtera Tuhan, saudara?

Karena yang kita ijinkan kita selalu mengkonsumsi berita-berita di dunia, Kita bilang kita mau tuntunan Tuhan tetapi setiap harinya habitnya sibuk terus dari aktivitas satu ke aktivitas lain. Tidak pernah slow down, punya waktu khusus dengan Tuhan dan biarkan Dia berbicara pada kita.

Kita bilang kita mau punya hubungan personal sama Tuhan, tetapi kita hanya lebih suka baca postingan atau rangkungan kotbah di social media, di Instagram, di threads. Saya updated, saudara mengenai Threads. Dibandingkan doa dan membaca Firman Tuhan secara langsung.

Saya tidak masalah sama sekali dengan saudara memcatat kotbah, Saya suka sekali bahkan kita sangat menganjurkan saudara mencatat kotbah. Saudara mau post, saudara mau berkati orang lain, Puji Tuhan banget! Tetapi boleh tidak saya minta tolong kalau ada di antara saudara yang hari ini mau mencatat rangkuman kotbah, terus mau post di social media, Boleh tidak tolong tambahin satu kata, Bilang gini, semoga ini memberkati, Tetapi jangan lupa Saat teduh setiap hari. Karena rangkuman kotbah itu tidak cukup, Rangkuman kotbah itu tidak bisa menggantikan setiap harinya kita mencari Tuhan.

Ini yang kita lakukan, ini harusnya melengkapi habit kita, dan bukan menggantikan. Bisa mengerti, saudara?

So, Hadirat Tuhan memenuhi wadah yang sudah dikuduskan buat Dia.

Supporting Verse – [35] Oleh karena itu Musa tak dapat masuk ke dalam Kemah itu. Keluaran 40:35 BIMK

Saking kudusnya “The glory of God”, Musa pun tidak bisa masuk. Sekali lagi, kita sudah hidup di perjanjian baru, Tuhan sudah menebus kita, Tuhan sudah menguduskan kita, Tuhan sudah menyucikan kita. Kita dianggap sebagai orang benar.

Nah, berarti kudus yang dimaksud ini berasal dari kata bahasa bahasa Ibrani, yaitu berasal dari kata “Kadosh“, artinya to set apart, dipisahkan, dikhususkan, disendirikan untuk tujuan kudus.

The Glory of God, Hadirat Tuhan memenuhi wadah yang sudah dikuduskan buat Dia, artinya gini saudara, sekarang kalau kita mau mengalami hadirat Tuhan setiap hari, tidak ditentukan dari seberapa sucinya kita, kita berdosa atau tidak, kita tanpa cacat celah atau tidak, tetapi apakah kita sudah mempersiapkan kita? set apart, kita mengkhususkan waktu dan energi yang terbaik untuk mengalami Hadirat Tuhan.

Kita mengkuduskan waktu terbaik, energi terbaik, tempat terbaik. Kalau kita mau Hadirat Tuhan di setiap aspek kehidupan kita, we must make room for Him because the Glory of God fills what is prepared, Kalau kita tidak lakukan itu, saudara, kita berharap, “Oh secara otomatis aja hubungan saya sama Tuhan bakal baik-baik aja”.

Percayalah, tidak akan terjadi, saudara. Karena kita harus belajar satu prinsip mengenai hubungan. Ini berlaku buat hubungan apapun. Segala sesuatu hubungan yang dijalankan secara otomatis, akan Grow apart. Selalu seperti itu.

Distance grows automatically. Intimacy grows intentionally.

Kalau kita mau hubungan dengan Tuhan, hubungan dengan suami istri, hubungan dengan pertemanan kita, mau tetap intim, kita mau tidak mau, kita harus menjaga dan merawat secara intentional. Tidak bisa hanya jalanin otomatis. Tidak ada orang yang tiba-tiba otomatis saya dekat sama Tuhan. Perlu disengajakan dan perlu memberikan yang terbaik.

Nah, kita seringkali sadar mengenai ini, kita mesti prepare waktu yang terbaik. Tetapi kenapa seringkali kita sudah tahu, tapi kita susah untuk melakukannya?

Menurut saya saudara, karena kita terkadang belum memahami betul “the beauty of God’s presence”. Kita belum memahami betul keindahan, keuntungan, dan benefit mendapatkan Hadirat Tuhan di dalam setiap harinya kita.

Dua minggu lalu di Campus Upper Room, Pastor Kenny berkotbah, dia sampaikan seperti ini.

Mengikut Tuhan itu bukan melulu mengenai menyangkal diri, bukan melulu mengenai berkorban, Tetapi mengikut Tuhan juga ada kenikmatannya, juga ada keuntungannya, juga ada benefitnya. Tuhan sama sekali tidak anti dengan yang namanya kenikmatan. Tetapi dia tawarkan solusi yang lain, bahwa kenikmatan yang Saya berikan dengan hadiratKu, lebih besar, lebih baik dari apapun yang dunia punya dan Tuhan bisa tawarkan.

So, saya berharap kita punya pemahaman yang benar, kita tidak ke ekstrim kiri maupun ekstrim kanan, kita gak ke ekstrim sini, memakai Tuhan untuk mendapatkan kenikmatan buat kita, tetapi kita juga gak ekstrim sini, seakan-akan mengikut Tuhan itu kesengsaraan dulu, padahal merasakan adanya Tuhan membawa benefit tersendiri buat saudara, ada keuntungannya, sama seperti kalau saudara tiap hari bisa nikmat makan junk food, enak ya. Tetapi kalau saudara sadar bahwa lebih nikmat lagi kalau punya tubuh yang sehat, lebih nikmat lagi kalau saudara bisa punya waktu lebih untuk keluarga, saudara akan dengan lebih mudah mengubah habit kita, meninggalkan yang ini dan memilih yang ini, dan itu yang Tuhan tawarkan buat kita, kalau kita bisa merasakan Hadirat Dia, mengalami Hadirat Dia setiap hari.

Ada Benefit yang datang dengan hadirat Tuhan, Di keluaran 40 juga dimention. Sebenarnya banyak manfaat yang kita bisa dapatkan dengan Hadirat Tuhan tetapi di Keluaran 40 disebutkan dua, dan itu yang akan kita bahas bersama.

Supporting Verse – [36] Setiap kali awan itu naik dari atas Kemah Tuhan, bangsa Israel membongkar perkemahan mereka untuk pindah ke tempat lain. [37] Tetapi kalau awan itu tidak naik, mereka tidak berangkat dari situ. Keluaran 40:36-37 BIMK

Benefit apa yang Hadirat Tuhan melalui awan ini kasih buat Umat Israel, Yang pertama, His presence brings guidance and His presence brings wisdom.

Hadirat Tuhan akan memberikan kita petunjuk, Bagaimana kita perlu hidup, akan kasih kita hikmat. Kalau Hadirat Tuhan bertahta di hidup kita sehari-hari, kita pasti akan jadi orang yang jauh lebih bijaksana dari sebelumnya. Kita jadi tahu setiap pintu yang terbuka, belum tentu semua dari Tuhan. Kita nggak selalu ambil kesempatan yang ada. Kita bisa discern, kita bisa membedakan, mana yang dari Tuhan, mana yang bukan dari Tuhan.

Kita bisa dengan lebih bijaksana memilih pertemanan kita. Mana pertemanan yang harusnya kita dekati, yang harus kita bangun, mana pertemanan yang cukup sampai pelataran saja. Karena kamu justru akan membuat saya semakin jauh dari Tuhan. Dalam memilih pasangan hidup pun begitu, saudara. Saudara akan bisa tahu mana pasangan yang membawa saudara semakin dekat dengan Tuhan. Atau justru pasangan yang cuma bikin saudara happy-happy saja, tapi jauh dari Tuhan.

His presence brings guidance. Memberikan kita petunjuk dan hikmat. Tetapi seringkali kita salah mengerti cara kerja Tuhan. Kita maunya Tuhan kasih HikmatNya buat kita dengan cara kasih “complete map”, Peta yang menyeluruh, peta yang full.

Seperti kalau misalnya kita lagi nyetir, kita pengennya hikmat dari Tuhan itu seperti kayak Google Maps atau kayak Waze, langsung lengkap. Dia bisa memberitahu, ini lurus 500 meter, habis itu belok kanan, belok kiri, terus sampai di tujuan.

Tapi seperti kita belajar di ayat tadi, cara kerja Tuhan bukan seperti itu, saudara. Cara kerja Tuhan memberikan hikmat dan tuntunanNya buat umat Israel, Dia tidak pernah kasih complete mapNya, Dia tidak pernah bilang selama 40 tahun kamu harus belok sini dan seterusnya.

Dia hanya bilang, awanKu akan menaungi kamu, Saudara tahu betapa repotnya mereka mesti bongkar semua kemah ketika awanNya naik. Ketika awan berhenti, berhenti, Itu cara kerja Tuhan. Dia mau guide every step of our ways. Kenapa?

Karena kalau kita tahu complete mapNya, kita tidak lagi mengandalkan Tuhan. Kita mengandalkan pemahaman kita sendiri. Karena saya sudah tahu kok begitu caranya. Saya biasanya kalau nyetir gitu, kalau sudah tahu lewat jalan yang saya sudah tahu, saya matiin google mapsnya. Tuhan tidak pernah mau kita matiin, saudara. Dia mau guide kita every step of the way.

Karena, saudara, guidance bagi Tuhan bukan hanya sekedar mengenai informasi. Bagi Tuhan, guidance sifatnya relational. Justru lewat guidance Dia, hubungan kita justru semakin dekat sama Dia. Kita tidak perlu tahu complete map, tetapi kita tahu siapa yang memimpin langkah kita. Kita tahu dengan siapa kita berjalan. That’s the first benefit. His guidance and his presence brings wisdom.

Benefit kedua, kalau ada hadirat Tuhan di hidup kita. Mari kita buka ayat berikut.

Supporting Verse – [38] Selama bangsa Israel mengembara, Tuhan ada di Kemah itu dalam rupa awan pada waktu siang dan dalam rupa api pada waktu malam. Keluaran 40:38 BIMK

Selama bangsa Israel mengembara, berarti selama 40 tahun, selalu ada ini. Rupa awan pada waktu siang, dan rupa api pada waktu malam. Benefit kedua, kalau hadirat Tuhan ada di hidup kita adalah hadirat Tuhan menaungi kita, melindungi kita. His Presence brings covering and protection.

Padang gurun mungkin tidak selesai, 40 tahun umat Israel berjalan di Padang gurun. Tetapi naungan Tuhan selalu ada bersama mereka. Ada perlindungan Tuhan, memberikan mereka rasa aman.

Supporting Verse – [20] Betapa limpahnya kebaikan-Mu yang Kausediakan bagi orang takwa! Setiap orang melihat kebaikan yang Kaulakukan, bagi mereka yang berlindung pada-Mu. Mazmur 31:20 BIMK

[20] You hide them in the shelter of your presence, safe from those who conspire against them. You shelter them in your presence, far from accusing tongues. Psalms 31:20 NLT

“You had them in the shelter of your presence”. Tuhan menyembunyikan kita, menaungi kita, lewat hadiratnya. “Safe from those who conspire against them”. Aman dari orang-orang yang berusaha melukai kita. “You shelter them in your presence, far from accusing tongues”. Orang-orang yang conspire, orang-orang yang accusing tongues, Masalah, danger, tetap ada saudara. Tetapi naungan Tuhan menyertai kita. Melindungi kita. Keep us safe.

Daud bahkan berkata seperti ini di Mazmur 34 ayat 4.

Supporting Verse – [4] I prayed to the Lord, and he answered me. He freed me from all my fears. Psalms 34:4 NLT

Dia tidak bilang, “He freed me from all my problems”. Dia membebaskan saya dari semua ketakutan saya. Tuhan tidak selalu menghilangkan masalah, tetapi menghilangkan panik. God’s presence may not always remove problems, but it removes panic. Hadirat Tuhan mungkin tidak langsung membuat kita “problem free”, tetapi yang pelan-pelan diubah adalah tidak lagi ada rasa takut, ada damai sejahtera diberikan, ada perkenangan, ada perlindungan Tuhan, diberikan buat saudara dan saya. Kita jadi orang-orang yang tidak gampang digoyahkan.

Sharing Ps. Kaleb – Saudara, saya ini menyampaikan berkotbah, bukan hanya sekedar berkotbah, saudara. Karena saya pun juga sudah mengalami ini. Saya mau cerita sama saudara, mungkin sedikit dari saudara yang tahu, karena saya tidak terlalu banyak cerita mengenai ini. Beberapa tahun yang lalu, saya kena sebuah phobia, namanya aviophobia.

Saudara, ini adalah rasa takut naik pesawat terbang. Itu cukup mengagetkan buat saya, karena dari kecil saya terbiasa terbang. Bahkan saya ingat ketika saya kuliah di luar negeri, saya terbang sendiri selama belasan jam. Tidak pernah menjadi masalah buat saya. Tetapi saya ingat beberapa tahun yang lalu, sempat ketika saya terbang bersama dengan istri saya, istri saya lagi hamil, anak kita yang paling besar ada di situ juga.

Dan sepanjang jalan ada heavy turbulence. Turbulensi tidak berhenti-berhenti, mungkin 30 menitan. Dan saya merasa helpless, saya nggak sanggup menolong anak saya, saya nggak sanggup menolong istri saya. Dan ketika landing, somehow ada yang terjadi di sini dan menjadi traumatic experience buat saya.

Dan saya mulai jadi takut. Saudara, ketika ketakutan melandas kita, kadang-kadang reaksi kita ada dua, either kita fight atau kita flight, bener tidak? Either kita lawan atau kita justru kabur. Reaksi pertama saya saat itu adalah saya pilih kabur, saya pilih tunda, jangan terbang-terbang dulu deh. Mungkin kalau saya istirahat, kalau saya menghindari terbang, saya menjadi lebih tenang.

Tetapi apa yang terjadi saudara? semakin saya menghindari, ketakutannya semakin besar, semakin compounding. Semakin saya hindari tanpa sadar, tiba-tiba sudah satu tahun lewat, bertahun-tahun saya menghindari terus terbang. Dan itu tidak sembuh-sembuh, malah makin besar. Lalu saya merasa, saya tidak bisa terus kabur, saya tidak bisa terus flight atau kabur, saya mau coba fight, saya mau lawan.

Oke, saya tidak mau menghindari lagi dari jadwal terbang saya. Tapi saya ingat, tiga hari sebelum saya terbang, ketika saya mau coba fight. Kaki saya sudah gemetaran, perut saya sudah sakit, saya tidak bisa tidur, keringetan terus, mau bangun saja susah, badan saya shaking, uncontrollably shaking terus, sudah sebegitu menakutkannya, rasa takut itu saudara, di hidup saya.

Saudara tahu ketika rasa takut sudah menguasai hidup saudara, dia datang berserta dengan teman-temannya, karena yang saat itu saya rasakan bukan lagi hanya takut, saya mulai merasa malu, saya mulai merasa bersalah sama istri saya, sama anak saya karena saya menyusahkan mereka, saya mulai merasa tidak layak, mana layak kamu jadi pemimpin, mana layak kamu menguatkan iman orang lain, orang kamu saja juga takut.

Rasa takut itu berdatangan satu paket dengan teman-temannya dan itu terus-terus condemn, menyerang pikiran saya. Saya datang kepada Tuhan, dan berkata, “Saya jujur tidak sanggup Tuhan, saya tidak sanggup”, dan Tuhan cuma menjawab begini, “kamu merasa gak sanggup, memang kamu tidak sanggup, That’s why you need me, focus on me, focus on me”.

Ketika kita berusaha mau fight, mau flight, Tuhan kasih solusi terbaik, focus on the presence of God. Karena itu yang akan membantu kita mengalahkan rasa takut kita. Mazmur 118 ayat 6a, ayat yang singkat tapi sangat merema di hidup saya.

Supporting Verse – Tuhan bersamaku, aku takkan takut. Mazmur 118:6a BIMK

Solusi dari setiap ketakutan kita adalah sadar bahwa Tuhan bersama kita, Focus on the presence of God, Tahukah saudara lawan kata takut bukan berani, lawan kata takut itu beriman.

Dan kita bisa tumbuh iman kalau kita sadar Tuhan selalu beserta dengan kita, Fokus pada hadirat Tuhan. Dan itu yang terus saya praktekkan, Saya mau terus fokus sama hadirat Tuhan dan pelan-pelan saya dipulihkan.

Pelan-pelan saya diubahkan, saya disembuhkan. Bahkan sekarang, saya terbang lebih sering dibandingkan sebelumnya. Semua karena Hadirat Tuhan. Dan saya bahkan tidak malu bercerita ini sama saudara. Tidak malu bercerita mengenai kelemahan saya, Kenapa? Karena saya sadar justru dalam kelemahan saya, Kuasa Tuhan sempurna.

Bukan berarti jalannya tiba-tiba langsung lancar, Saudara. Sepanjang saya berkali-kali terbang dan sesudahnya-pun, kadang-kadang saya masih ketakutan. Kadang-kadang saya masih kehilangan fokus. Saya mulai lupa sama Hadirat Tuhan, Saya mulai fokus sama masalah yang terjadi. Saya mulai fokus akan “Jangan-jangan”, Tetapi benefit ketika hadirat Tuhan sudah tinggal dalam hidup saudara adalah Dia tidak ijinkan sekalipun saudara fokus sama masalah saudara, Dia alihkan fokus saudara selalu kepada Tuhan.

Saya ingat sekali ketika saya mau mulai terbang, Saya mulai takut lagi, saya mulai lihat lagi, saya mulai fokus lagi sama masalah, Eh tiba-tiba di samping saya, ada yang tap saya, “Selamat pagi Pastor, saya jemaat JPCC”. Langsung buyar fokus saudara, Nggak bisa fokus sama masalah lagi, Mulai fokus jaga image.

Dia tidak ijinkan sekalipun kita kehilangan fokus, Saudara. Fear grows when God’s presence is forgotten but Fear fades when God’s presence becomes our focus.

Ketakutan akan selalu datang dan pergi di hidup kita, Tidak bisa dihindari. Selama kita hidup di dunia ini Iblis akan selalu menyerang saudara dengan ketakutan, Pilihan ada di tangan kita. Maukah kita fokus sama hadirat Tuhan, Karena Hadirat Tuhan membawa damai sejahtera, brings covering, brings protection.

Dua minggu yang lalu, saya melayani ibadah kedukaan salah satu jemaat JPCC, Suami Istri namanya Bene dan Ucha. Saya udah minta ijin kepada dia, Boleh ga saya kasih cerita ini dan dia bilang boleh. Bene dan Ucha ini adalah sepasang suami istri. Ucha dari 7 tahun yang lalu mengalami penyakit ginjal yang langka yang mengakibatkan dia perlu setiap hari ganti cairan. Dan setiap hari selama 7 tahun Mereka terus berdoa minta kesembuhan dari Tuhan.

Bahkan saya ingat 7 tahun yang lalu, Ucha sempat DM saya lewat Instagram, dia bilang, bolehkah saya minta tolong didoakan ko, mengenai penyakit saya, saya bilang saya akan doakan kamu, tapi yang menarik buat saya, di message dia, begitu panjang menjelaskan mengenai kondisi dia, penuh dengan emoticon smiley face, dia kasih smiley face terus, smiley face terus, dan itu menarik perhatian saya.

Saya tanya balik sama dia, kok kamu bisa tetap suka cita meskipun apa yang kamu alami ini berat loh, langka loh. Kok kamu bisa tetap suka cita, dan dia cuma jawab,

“Saya begini, karena saya tahu saya gak perlu jalani ini sendirian, karena saya tahu Tuhan beserta saya, saya tahu ada teman-teman di DATE, saya tahu ada keluarga saya, ada suami saya, dan Tuhan beserta dengan saya”.

2 minggu lalu Ucha dipanggil Tuhan, di umur yang masih muda 40 tahun, Yang memorable buat saya di ibadah kedukaannya, suaminya Bene yang kasih testimonial depan kita dan itu sangat terngiang-ngiang di pikiran saya. Dia bilang seperti ini,

“Selama tujuh tahun kami sepakat berdoa meminta kesembuhan dari Tuhan. Tapi meskipun akhirnya kesembuhan itu tidak diberikan buat Ucha pun, kita sadar kita tidak kehilangan berkat terbesar yaitu hadirat Tuhan sangat nyata di hidup kita. Ketika Ucha masih baik-baik aja, hadirat Tuhan nyata. Ketika Ucha sakit, hadirat Tuhan semakin kami rasakan dan semakin kami alami. Bahkan sekarang pun ketika Ucha sudah dipanggil ke rumah Tuhan, dia sekarang bersama-sama dengan Tuhan. Dalam setiap momen hidupnya, Tuhan selalu beserta dengan dia”.

Mendengar itu benar-benar itu sangat menguatkan saya, saudara-saudara. Mau pesawat saya bagaimanapun ujung-ujungnya, mau hasilnya seperti apapun, saya tidak akan kehilangan berkat terbesar yaitu Tuhan beserta dengan saya.

Apapun outcome-nya, Apapun hasil akhirnya, Tidak ada yang bisa merebut hadirat Tuhan bersama dengan saya. He will be with me. Ada ketenangan ekstra, Damai sejahtera yang melampaui segala akal ketika kita sadar, Bahwa hidup kita tidak berada di luar perhatian Tuhan, Keluarga kita tidak berada di luar penjagaan Tuhan, Masa depan kita tidak berada di luar kedaulatan Tuhan, Hadirat Tuhan membawa protection. Saya mau tutup dengan ini saudara.

Saya mau cerita. Saya bisa disembuhkan Tuhan sampai hari ini, Betul karena Hadirat Tuhan yang terutama, Tetapi yang kedua juga yang saya sangat merasakan adalah karena hadirat istri saya, Ribka. Saya sangat bersyukur buat istri saya. Kenapa?

Karena dia selalu kasih saya encouragement. Dia selalu mendoakan saya. Ketika saya pertama kali terbuka sama dia mengenai ketakutan saya, saya takut dia malah merasa direpotkan, saya malu. Dia bilang gini,

“Kamu ada masalah ini atau enggak? Tidak mengurangi respek saya terhadapmu sedikitpun. Saya masih mencintaimu, saya masih menghormatimu. Ayo kita berusaha bersama. Ayo kita berjuang bersama, apa yang kita bisa lakukan”.

Dan semenjak itu dia buktikan, ketika saya perlu counseling, dia temani saya. Ketika setiap kali saya terbang, dia selalu menyiapkan waktu untuk temani saya. Sampai sekarang, saya selalu terbang, dab dia selalu ada bersama dengan saya. Setiap kali mau take off ataupun mau landing, dia pegang tangan saya.

Orang yang lewat mungkin berpikir, ini mesra banget sih suami istri? Mereka tidak tahu saja cerita aslinya. Saudara yang saya mau kasih tahu seperti ini. Ada orang-orang yang tertentu ketika hadir justru membawa drama, membawa kekacauan, membawa tekanan. Tetapi ada orang-orang lain seperti istri saya buat saya, ketika dia hadir, dia justru membawa damai, membawa rasa aman, membawa ketenangan, membangkitkan iman.

Sebagai anak Tuhan, sebenarnya itu panggilan kita, saudara. Karena ketika roh kudus, ketika Tuhan, ketika hadiratNya tinggal di dalam kita, kita ini jadi baitNya roh kudus. Berarti kemanapun kita pergi, kita harusnya bawa atmosfer kerajaan Tuhan. Berarti artinya kemanapun kita pergi, kita bawa hikmat Tuhan, kita bawa damai sejahtera Tuhan. Kita bukan malah bikin kekacauan, kita bawa perdamaian. Kita bawa kerukunan, kita bawa damai sejahtera, kita bawa ketenangan, kita bawa iman.

Itu panggilan kita, saudara. Di rumah kita bawa damai, di kantor kita bawa pengharapan, Di tengah kekacauan, kita bawa stabilitas. Di tengah ketakutan, kita membawa iman, bukan karena kita hebat, tetapi karena hadirat Tuhan tinggal di dalam kita. Saudara, We are called not only to experience His presence but to carry His presence.

Kita bawa hadiratNya, kita jadi solusi buat orang lain, Ketika orang lain kebingungan, kita bawa hikmat Tuhan, Ketika orang lain mulai hilang pengharapan, kita bawa pengharapan Tuhan, Ketika orang lain ketakutan, kita bawa wisdom Tuhan. We are called to carry His presence.

P.S : Semoga ini memberkati, Tetapi jangan lupa Saat teduh setiap hari.