The Sound of Remembrance By Ps. Sidney Mohede

JPCC Sutera Hall 2nd Service (7 June 2026)

Terima kasih banyak-banyak teman-teman yang sudah melayani disini. Sebelum kalian duduk, berikan senyuman yang paling ramah kepada saudraa saudari yang ada di sebelah kalian. Selamat datang di JPCC! Saudara merasa tidak kalau waktu ini berjalan dengan sangat luar biasa cepat?

Sepertinya baru kemarin nih, kita merayakan New Year 2026, dan tahu-tahu sudah, selamat datang di bulan Juni. Dan kita masuk ke dalam tema yang baru. How many of you were super blessed sama seperti saya bahwa bulan lalu, tema kita tentang “The presence of God” sangat memberkati, you learned something?

Kita belajar bahwa mukjizat terbesar kita bukanlah sekedar apa yang Tuhan bisa berikan dalam kehidupan saudara dan saya. Tetapi berkat terbesar, mukjizat terbesar Tuhan adalah bahwa “the presence of God”, hadirat Tuhan itu bersama dengan kita senantiasa. That’s the biggest blessing in our lives.

Bukan apa yang Tuhan bisa berikan, bukan apa yang Tuhan bisa curahkan. Tetapi bahwa Tuhan bersama dengan kita. Tetapi kita masuk ke dalam tema yang baru tentang penyembahan, tentang worship, “the sound of Heaven“, kita sebutnya selama sebulan ini, kita akan belajar bahwa kita tidak cuma sekedar berhenti di menikmati hadirat Tuhan saja, just to enjoy God’s presence yang bersama dengan kita, tetapi kita juga dipanggil untuk bisa membawa hadirat Tuhan kemanapun kita pergi.

We are called not only to experience His presence, we are called to carry His presence.

Kita juga dipanggil untuk membawa hadirat Tuhan kemana pun kita pergi. Kita membawa hadirat Tuhan kemana pun kita pergi. Artinya setiap kita berkumpul dan beribadah, kita merasakan Hadirat Tuhan yang sangat luar biasa, tetapi senin sampai sabtu, tugas kita membawa Hadirat Tuhan kemanapun kita pergi. Dimanapun kita berada, kita membawa hadirat Tuhan di dalam Kehidupan kita.

Kita harus sadar bahwa segala sesuatu yang ada dalam kehidupan kita berasal dari Tuhan dan untuk Tuhan. Itulah salah satu kunci terbesar, ada sebuah kesadaran. Rasa dimana kita sangat tahu dan yakin bahwa Tuhan adalah sumber darimana segala sesuatu.

Artinya semua talenta dan kemampuan kita, apapun yang kita miliki, berasal dari Tuhan dan semuanya untuk Tuhan, betul?

Roma, Paulus mengatakan begini dengan sangat luar biasa. Dia menyimpulkannya begini.

Opening Verse – [36] Karena Allah sendirilah yang menjadikan segala sesuatu, dan segala sesuatu berlangsung melalui Dia dan untuk Dia. Berikanlah segala kemuliaan kepada-Nya sampai selama-lamanya! Amin. Roma 11:36 TSI

[36] Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Roma 11:36 TB

Siapa yang menjadikan segala sesuatu? Tuhan. Bukan kita, dan bukan AI yang menciptakan. Tetapi Tuhan yang menciptakan. Karena Tuhan sendirilah yang menjadikan segala sesuatu. Dan perhatikan segala sesuatu berlangsung melalui Dia. Through him are all things. Melalui Dia, dan untuk Dia, from Him, through Him, and for Him, are all things.

Karena semua dari Dia, semua yang kita lakukan adalah melalui Dia, artinya semua pekerjaan kita, semua yang kita lakukan sehari-hari adalah melalui Dia, through Christ, melalui Yesus, melalui Roh Kudus yang ada dalam kita, dan semuanya adalah untuk Tuhan. But it doesn’t stop there, dikatakan begini, “Berikanlah segala kemuliaan, give Him all the glory kepadaNya sampai selama-lamanya, to God be all the glory, segalanya.

Jangan satu pun yang kita anggap bahwa, “Oh, karena saya yang hebat. Karena saya yang melakukan, karena ini semua achievement saya, karena ini semua kesuksesan itu berhasil dari saya. Tidak, tidak, tidak. Dari Tuhan, untuk Tuhan, setiap kali.”

Kalau orang berkata kepada saya, “Ps. Sidney, I love your song, I love your recording, I love this album, I love your preaching. Saya selalu hanya berkata hal yang sama, kalau saudara pernah ngobrol sama saya, pasti saya ucapkan kata yang sama, “Semua dari Tuhan, dan semua untuk Tuhan”. Because that’s the truth. Dan kesadaran akan ini, bahwa Tuhan adalah sumber dari segala-galanya, ini yang bisa membawa kita, bukan hanya sekedar menikmati hadirat Tuhan yang senantiasa bersama dengan kita, tetapi kita bisa membawaNya di mana pun kita pergi, kemana pun kita berada.

Karena kalau kita menyadari bahwa segala sesuatu berasal dari Dia, ditopang oleh Dia, dan ditujukan kepada Dia, maka respon yang paling natural, maka respon yang paling alami adalah menyembah Dia dan memuliakan Dia. Betul kan? Itu yang Paulus katakan.

If we understand that everything comes from Him, through Him, and for Him. Untuk itulah. Give all the glory to our God. Sampai sini semuanya oke? Worship dimulai ketika kita menyadari bahwa Tuhan adalah sumber dari segala sesuatu. Worship dimulai pada saat kita mengerti that this is not about us.

Dan manusia itu diciptakan untuk menyembah. It’s wired in our DNA. Artinya worship ini bukan hanya sekedar momen atau lagu yang tadi saja kita nyanyikan, 20 menit sebelum kebaktian, “Oh, ini pemanasan sebelum khotbah, It’s not!”.

There is a purpose in what we do. Ada tujuan mengapa kita berkumpul setiap hari minggu. Kita menyembah Tuhan sebagai satu suara bersama-sama. Itu sebabnya kita butuh partisipasi dari semua. Bahwa saudara datang bukan sebagai penonton. Saudara datang bukan untuk sekedar menyaksikan apa yang tim pujian penyembahan lakukan. Tetapi kita bersama-sama memuliakan Tuhan yang dari segalanya adalah dari Dia, melalui Dia, dan untuk Dia.

Saya sangat rindu melihat Jakarta Praise Community Church menjadi gereja yang senantiasa memuji Tuhan. Saya tahu bahwa pujian penyembahan itu lebih dari sekedar lagu cepat atau lagu pelan. Seringkali kalau saya mengajarkan seminar praise and worship. Biasanya kalau saya tanya apakah pujian penyembahan, “Oh pujian itu lagu cepat pastor. Penyembahan itu lagu pelan.”

Kita mengkotak-kotakan atau menyederhanakan pujian dan penyembahan menjadi sesuatu yang kita lakukan dan kita nyanyikan. But this is more than that. Worship is more than dari sekedar momen atau lagu yang kita nyanyikan di hari minggu. Worship is more than just our voice and our music. Tetapi penyembahan adalah sebuah respon hati, respon kasih, perhatian kita, postur kita kepada Tuhan, sikap hati kita, yang harus terjadi setiap hari and not just on Sunday.

Artinya begini, mungkin penyembahan terbesar yang saudara bisa lakukan di hari selasa adalah untuk memaafkan orang lain yang berbuat salah pada saudara. Mungkin penyembahan terbesar yang bisa saudara lakukan di hari rabu, adalah pada saat saudara meletakkan semua kehendak saudara, meletakkan semua keinginan saudara. Dan saudara berkata begini, “Let your will be done. Not my will be done.”

Sehingga kita tidak lagi terjebak kepada cuman sekedar lagu. Sesuatu yang kita suka, “Oh lagunya enak, Worship Leadernya jago, dan lain sebagainya”.

It’s not. Worship dimulai dari sebuah kesadaran penuh bahwa dalam hidup saudara dan saya 24 jam sehari, Senin sampai Senin, Tuhan adalah sumber segalanya. Dan semua yang kita kerjakan adalah melalui Dia. Dan semua yang kita lakukan adalah untuk Dia. Sampai sini semuanya oke?

Bahkan Yesus berkata begini, Yesus bilang begini dalam Matius 15.

Supporting Verse – [8] ‘Begini kata Allah: Orang-orang itu hanya menyembah Aku dengan kata-kata, tetapi hati mereka jauh dari Aku. Matius 15:8 BIMK

Yesus katakan begini, “Oh ada orang-orang yang jago nyanyinya. Musiknya keren. Wow! productionnya bagus. Lampunya, atmosfernya bagus.”. Tetapi mereka sebenarnya jauh daripada Aku. Kami berdoa. Kami sangat-sangat berdoa bahwa gereja ini tidak menjadi gereja demikian.

Bahwa kita bukan cuma sekedar berhasil membuat lagu yang indah. Berhasil membuat orang-orang datang sekedar untuk menonton sebuah production yang bagus atau ibadah yang keren. Tetapi kita menghasilkan jemaat yang sangat amat mengerti bahwa hidup ini sumbernya dari Tuhan dan untuk Tuhan. Sehingga semua yang kita lakukan dalam sehari-harian kita adalah penyembahan. Semua yang kita lakukan adalah memuliakan Tuhan dengan kehidupan kita.

Dikatakan begini. Percuma Yesus berkata. Percuma, Oh paling takut kalau Yesus ngomong begitu. Percuma mereka menyembah aku. Sebab peraturan manusia yang mereka ajarkan seolah-olah itu. “Peraturanku”.

Seseorang bisa menyembah dengan bibirnya. Saudara bisa membaca seperti kita karaoke rohani. Liriknya saudara baca. Tapi sebenarnya hati sudara sedang memikirkan makan siang apa. Betul kan?

Worship is not about what comes out of our mouth. Tetapi tentang siapa yang menjadi pusat daripada hati dan kehidupan kita. Artinya worship adalah respon penyerahan diri dan juga ucapan syukur. Yang tadi 20 menit kita lakukan, kita mengucap syukur, kita diingatkan kembali akan semua kebaikan Tuhan.

There is this remembrance, ada sebuah pengingatan akan apa yang Tuhan sudah kerjakan. Pengingatan bahwa kita tidak perlu khawatir, bahwa ada Tuhan yang memegang kendali. Termasuk “singing” kepada Tuhan yang menciptakan kita, yang menopang kita. Bernyanyi atau memuji dan menyembah. Itu adalah bagian daripada kita sedang “turning our hearts”.

Kita sedang shifting our hearts kembali karena Senin sampai Sabtu, jujur kebanyakan dari kita suka lupa bahwa Tuhan adalah sumber segalanya. Betul kan?

This is why so important. Ini sebabnya kami selalu berkata kepada jemaat, ambil bagian dalam penyembahan bersama.

Mungkin saudara sudah tahu, mungkin saudara bilang begini, “Ah aku gak usah nyanyi, biar tim PW aja yang nyanyi”. Dengarkan saya baik-baik. Mungkin jemaat di sebelahmu perlu mendengar suaramu untuk mengingatkan mereka akan kebaikan Tuhan. I hope you understand this.

Karena setiap kali kita menyembah bersama, setiap kali kita bernyanyi bersama meninggikan Tuhan, kita sedang mengingat kembali siapa Tuhan dan apa yang telah Dia lakukan.

Tadi lagu yang ketiga kalau tidak salah. Dikatakan, if my days tell a story. Jika hari-hariku menceritakan sebuah kisah. Let it be all about you. Mengingatkan saya kembali tujuan mengapa “I’m doing all this”, that if my life tells a story. Jika hidup saya menceritakan sebuah kisah. Semoga kisah saya itu selalu menceritakan satu nama. Yaitu Yesus.

Karena apa yang kita lupakan, apa yang saudara dan saya lupakan, perlahan-lahan akan kita berhenti untuk syukuri. Saya katakan lagi, apa yang sudah kita tidak dengan sengaja mengingat kembali, perlahan-lahan hati kita akan berhenti untuk mengucap syukur. Ini ada dalam segala hal dalam hidup saya. Dalam pernikahan, pekerjaan. Pada saat kita lupa bahwa dulu, everything that we have today were once our prayers. Think about that.

Semua yang saudara miliki hari ini. Dulu. Pernah saudara minta. Dan saudara doakan kepada Tuhan. Tapi kalau kita lupa. Kita akan lupa mengucap syukur dalam segala hal. Pernah gak saudara? Saya gak tahu kalau dengan HP saudara, tapi kalau di HP saya itu biasanya muncul foto-foto yang keluar tulisannya ada begini. “On this day, five years ago.”

Saudara pernah? Saya tidak tahu kalau di Android, tapi kalau di handphone saya ada. Dan biasanya muncul nih, foto-foto nostalgia kita yang tiba-tiba tidak tahu kenapa si handphone kita mencoba untuk mengingatkan kita. Whether it’s, mungkin foto zaman kita masih jauh lebih kurus, lebih muda. Foto keluarga kita, foto anak-anak kita waktu kecil. Atau bahkan, beberapa kali ini terjadi, foto pergumulan kita. Sehingga pada waktu kita melihat foto-foto itu, saudara pernah kan kayak gitu kan? And you start to remember.

Saudara mulai mengingat kembali kepada zaman-zaman itu, dan saudara mulai mengucap syukur. Pernah gak kayak gitu? Am I the only one?

Dan itu sama dengan penyembahan kita bersama. Saat kita sedang bernyanyi, saya sering banget mengalami ini, bersama-sama dengan para jemaat dan tiba-tiba Tuhan mengingatkan kepada saya sebuah momen. Apalagi kalau itu lagu yang saya tulis. Dan ini halnya, Saya tidak mengagung-agungkan penyembahannya, karena penyembahannya atau foto yang keluar, foto itu tidak menciptakan memorinya, bukan foto itu menciptakan memori, tetapi dia hanya sekedar mengingatkan akan apa yang sudah terjadi sebelumnya.

It’s the same thing with our worship. Worship does not create God’s goodness. Worship reminds us of God’s goodness.

Penyembahan tidak menciptakan kebaikan Tuhan, nah don’t get this wrong, saya tahu banyak orang bilang, pastor aku suka banget nyanyi lagu-lagu Rohami, hey it’s not about the songs, tetapi tentang siapa yang memberikan semua yang ada dalam kehidupan kita hari ini. Are you okay with this?

Itu sebabnya worshipping together itu penting dalam gatherings kita. Karena ini adalah salah satu fungsi penyembahan. To be reminded of God’s goodness through the sound of our songs and gratitude. Itu sebabnya hari ini judul kotbah saya adalah “The sound of remembrance.” Sound of remembrance.

Sharing Ps. Sidney – Tadi malam saya iseng setelah menyelesaikan kotbah. Saya iseng buka Youtube dan saya ketik karena tiba-tiba saya teringat akan kota dimana saya grew up di Amerika. Bagi saudara yang tidak tahu. dulu saya pernah waktu zaman saya masih kecil sampai saya remaja dan sampai saya kuliah, saya dulu tinggal di California. Dan saya iseng, saya cuman ketik “La Mirada, California, yaitu kota dimana I grew up”.

Karena saya cuman ingin melihat kota yang dulu saya pernah tinggal itu kayak gimana sekarang. Tiba-tiba dari semua video yang keluar dari search YouTube tersebut, tiba-tiba ada satu video yang tulisannya “La Mirada High School 1990-1991”. Bener kan? Ada my wife di sini yang ngeliat juga.

Dan saya langsung kaget, wow! Ini tahun di mana saya SMA. Bukan saya kuliah, saya SMA. Bayangkan itu 36 tahun yang lalu, Syalom. Nah saya puter, sambil saya fast forward, Tiba-tiba saya melihat wajah saya, dan saya sangat excited. Saya panggil istri saya dan bilang, Loh, itu aku dulu! cuman dua detik sih, cuma sekilas lewat itu kan. Si cungkring kurus gitu kan, yang sudah hitam gitu kan. Tapi waktu saya melihat itu, jadi tadi malam itu kayak Tuhan bilang, “Nih, bahan buat kotbah besok”.

Saya hanya teringat karena di video YouTube tersebut, waktu tahun 1990, ada yang sudah lahir? Belum. God bless you. It’s okay, tidak usah angkat tangan buat saya lebih feel so bad. Tapi waktu saya melihat anak umur 16 tahun itu di layar TV saya, I just, I was so grateful.

Karena ada Tuhan yang baik, yang membawa saya dari umur 16 itu, si anak bodoh yang ada di video tersebut, yang melakukan begitu banyak kesalahan demi kesalahan. Tetapi saya mempunyai Tuhan yang sangat amat setia dan Dia membawa saya sampai hari ini. 53 tahun saya bisa duduk bersama dengan istri saya hari ini.

That’s what worship does. Ketika kita bernyanyi bersama, ketika kita datang beribadah bersama. Pada waktu kita menyanyikan sebuah lagu pujian bersama-sama kepada Tuhan, bukan untuk kita yang diangkat dan disenangkan. Sehingga pemikiran kita hanya ini, bahwa Tuhan sangat baik.

Saya sadar, saya sangat sadar. Hidup mempunyai banyak cara untuk bisa membuat kita lupa akan kebaikan Tuhan. Tagihan kartu kredit di akhir bulan bisa membuat kita lupa akan kebaikan Tuhan. Semua pekerjaan, semua problema, semua masalah, apa yang kita lihat sehari-hari dari berita demi berita bisa membuat kita lupa bahwa kita mempunyai Tuhan yang sudah sangat amat setia dalam hidup saudara dan saya.

Deadline pekerjaan saudara, kekecewaan saudara, beban hidup saudara, kesibukan saudara, kekhawatiran saudara tentang masa depan, tentang anak-anak saudara, itu semua bisa membuat kita lupa dan tanpa sadar kita bisa perlahan-lahan, hanya lebih sering melihat apa yang Tuhan belum lakukan dan kita lupa apa yang Tuhan sudah lakukan dalam kehidupan kita.

Karena kebenarannya adalah Dia sudah sangat, sangat, sangat baik untuk kita. Betul?

Berapa di sini yang yakin dan percaya Tuhan sudah sangat amat baik dalam hidup kita? Kenapa kita harus khawatir? Kita memuji Tuhan. Bukan karena Tuhan lupa siapa Dia. Ada anak-anak muda yang berkata, Why do we need to worship him? Kan Dia adalah Tuhan, Dia sudah tahu dong, jadi Dia tidak perlu disembah. No, no, no. We worship him not because God forgot. Dia lupa Dia itu siapa. We worship him because we, kita yang sering lupa Dia siapa.

Dan perhatikan, Ketika kita melupakan perbuatan tangan Tuhan, pasti kita akan mulai mengandalkan kekuatan tangan kita sendiri. Berapa banyak dari saudara yang mengerti ini?

Pada saat kita melupakan perbuatan tangan Tuhan, pasti kita akan mulai mengandalkan kekuatan tangan kita sendiri. Dan ini adalah tensi yang saya akan baca dari apa yang dikatakan Musa kepada bangsa Israel. Kalau bulan lalu kita belajar tentang perjalanan bangsa Israel melewati padang gurun. Bagaimana Musa mengingatkan mereka bahwa Tuhan menyertai mereka. Ini kita akan membaca dari kitab Ulangan pasal 8. Kelanjutan daripada yang kita pelajari. Dimana Musa tahu bahwa sebentar lagi bangsa Israel akan masuk ke tanah perjanjian, dan Musa ingin memberikan wajangan. Dia ingin Memberikan nasihat kepada mereka. Karena dia tahu 40 tahun di padang gurun sudah selesai, dan sekarang bangsa Israel akan masuk ke tanah perjanjian. Dan ini yang Musa sedang ingin kita ingat terus-menerus.

Worship is the sound of remembrance as we keep turning our hearts to the source.

Dan selama satu bulan ini, ini akan terus-menerus kita ingatkan kepada kita. Saudara ingat bahwa selama 40 tahun bangsa Israel sudah merasakan pemeliharaan Tuhan. Mereka belajar bergantung kepada Tuhan. And the presence of God was with them. Tetapi sekarang mereka sedang ada di ambang musim yang baru, brand new season untuk masuk ke tanah perjanjian dan musim kelimpahan. Dan ini yang Musa katakan kepada para jemaat atau kepada warga Israel.

Supporting Verse – [10] Nanti di sana, saat kalian makan sampai kenyang, hendaklah kalian memuji TUHAN karena segala kemakmuran yang kalian nikmati di negeri subur yang diberikan kepadamu itu! Ulangan 8:10 TSI

Nanti disana saat kalian makan, saat, bukan dikatakan “if”, but “when”. Are you hearing this? Bahwa Tuhan, ada sebuah promise, ada sebuah janji, bukan nanti kalau. Tetapi when, saat, bahwa yang namanya kemakmuran, yang namanya keberhasilan, itu sudah Tuhan berikan kepada kita. Nah bentuknya seperti apa, itu terserah Tuhan. Jangan selalu kita berpikirnya, oh itu uang. Uang. Tidak.

Kemakmuran yang Tuhan berikan adalah kemurahan Tuhan. Iya kan? Jadi perkataan begini, saat kalian makan sampai kenyang, hendaklah kalian apa? Come on. Memuji, Praise, Praise God! Lanjut.

Supporting Verse – [12] Di negeri Kanaan kamu akan makan dengan puas dan membangun serta menempati rumah yang bagus. [13] Jumlah ternakmu akan bertambah banyak. Kamu juga akan mengumpulkan banyak emas, perak, dan harta kekayaan lainnya. Ulangan 8:12-13 TSI

Perhatikan, pada waktu Musa memberikan wejangan kepada bangsa Israel masuk ke Tanah Perjanjian, ancaman yang dia bicarakan bukanlah tentang penyerangan daripada bangsa-bangsa yang lain. Tetapi yang dia katakan malah ancamannya adalah hati-hati kalau kamu makmur. Hati-hati pada saat engkau nyaman. “Comfort” pada saat engkau nyaman, jangan lupa untuk menyembah dan memuji Tuhan. Are you getting this?

Supporting Verse – [14] Saat itu terjadi, berhati-hatilah agar kamu tidak menjadi sombong dan melupakan TUHAN Allah yang sudah membawa kamu keluar dari perbudakan di Mesir! Ulangan 8:14 TSI

Siapa disini yang tahu bahwa dulu kita adalah orang yang berdosa dan sekarang kita sudah diselamatkan. Angkat tanganmu tinggi-tinggi. That’s you. Kita sudah dikeluarkan dari perbudakan mesir. Jangan pernah lupa itu. Jangan pernah kita menjadi sombong dan melupakan Tuhan.

Supporting Verse – [15] Jangan lupa bahwa Dia menuntunmu menempuh perjalanan melalui padang belantara yang sangat luas dan mengerikan. Di sana ada banyak kalajengking dan ular berbisa. Tanahnya sangat kering dan tidak ada air untuk diminum, tetapi Dia membuat air mengalir dari batu yang sangat keras. Ulangan 8:15 TSI

Berhati-hatilah, berjaga-jagalah, jangan lupa kenapa Musa terus-menerus memberikan kejaman itu. Karena dia sangat mengerti hati manusia yang “prone to forget when things are doing well”. Biasanya itu tidak terjadi dalam semalam, Bapak dan Ibu sekalian. Betul kan? Yang namanya lupa itu tidak terjadi dalam semalam. It takes a long time to happen. Sampai akhirnya kita bisa menikmati berkatNya Tuhan tetapi tidak lagi hidup dengan kesadaran Tuhan yang memberkati.

Itu sebabnya ancaman terbesar daripada kehidupan penyembahan itu bukanlah penderitaan. Ancaman terbesar buat kita para worshippers itu bukan penderitaan. Tetapi ancaman terbesar adalah kita melupakan akan kebaikan Tuhan yang selama ini setia memelihara hidup kita. Itu ancaman terbesar kita.

Supporting Verse – [16] Jangan lupa bahwa di padang belantara, Dia memberi manna kepada kalian, makanan yang belum pernah dimakan oleh kita maupun nenek moyang kita. Dengan begitu, Dia menguji kalian demi kebaikanmu, karena Dia ingin kamu semua menjadi rendah hati. [17] Oleh sebab itu, berjaga-jagalah supaya kamu tidak pernah berpikir, “Aku memperoleh semua harta ini dengan kekuatan dan kemampuanku sendiri.” Ulangan 8:16-17 TSI

Dia memberikan manna, Roti yang turun dari surga. Oleh sebab itu, perhatikan, berjaga-jagalah. Berjaga-jagalah supaya kamu, supaya JPCC, semua saudara dan saya tidak pernah berpikir begini, “Aku memperoleh semua harta ini dengan kekuatan dan kemampuanku sendiri”. Tuhan memberikan Manna setiap pagi, Tuhan memberikan Manna, Bergizi, Gratis lagi. Manna Bergizi Gratis.

Tuhan lakukan itu setiap hari, setiap pagi. 40 years, 40 tahun. Bayangkan saudara bangun setiap pagi. Sudah ada, Manna Bergizi Gratis di depan rumah. Dan Musa berkata begini, Jangan lupa untuk ingat siapa yang memberikan itu semua. Jangan lupa siapa sumbernya.

Berjaga-jagalah supaya engkau tidak berpikir begini, “Aku memperoleh semua hartanya dengan kekuatan dan kemampuanku sendiri”. Itulah budaya “hustle” hari ini, bukan? Kerja keras! Make your own future! Bangun kemampuanmu sendiri, berusaha lebih kuat, push harder! The world celebrate self-reliance. Itu yang dunia ucapkan.

Tetapi Alkitab mengingatkan kalau kita lupa siapa sumbernya, maka kita akan perlahan-lahan melupakan Tuhan dan kuasaNya. Musa mengingatkan lagi ayat yang ke-18, ingatlah.

Supporting Verse – [18] Ingatlah selalu bahwa kemampuanmu untuk menjadi kaya berasal dari TUHAN saja! Dia memberikan itu untuk memenuhi perjanjian-Nya yang Dia sahkan dengan nenek moyang kita. Ulangan 8:18 TSI

Semuanya katakan ingatlah, Ingat, ingatlah. Bahwa kemampuanmu untuk menjadi kaya, artinya semua yang ada dalam tangan saudara untuk bisa menghasilkan apapun itu. Ingatlah bahwa kemampuanmu untuk menjadi kaya itu berasal dari Tuhan saja. Dari Tuhan, melalui Dia, dan untuk Dia.

Dia memberikan itu untuk memenuhi perjanjiannya yang Dia sahkan dengan nenek moyang kita. Dia memberikan kekuatan, kebijaksanaan, kemampuan. Dia memberikan kesempatan, Dia memberikan kreativitas, bahkan nafas yang saudara dan saya hirup setiap hari berasal daripada Dia. Semuanya berdasarkan rahmatNya. Masalahnya kenapa kita lupa. Masalahnya kenapa kita takut. Padahal Dia yang sudah menyediakan segalanya.

Dan ketika, pada saat kita hidup, in this constant remembrance, pada saat kita hidup dengan this awareness, this remembrance yang selalu mengingatkan kita, tidak hanya di hari minggu, tapi di Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, bahwa, “Hey, Ini semua dari Tuhan, ini semua melalui Tuhan, dan ini semua untuk Tuhan”. Pada saat itulah respon yang paling natural adalah hidup kita menyembah Dia. Are you getting this?

Kita tidak lagi menjadi audience. Kita tidak lagi menjadi penerima, tetapi kita yang selalu berkata, To God be all the glory, hidupku, if my days tell a story, let it be telling a story about Jesus. Sama seperti waktu saya menonton YouTube tadi malam, saya melihat 36 tahun God has carried me through. Dan tidak ada satupun yang bisa saya banggakan selain Kristus, apapun semua karya yang Dia sudah kerjakan di kayu salib dalam hidupku. Sehingga saya bisa berdiri di depan saudara.

Karena tanpa Yesus, That little boy, That young man yang saya tonton tadi malam, tidak mungkin, tidak mungkin survive. Itu sebabnya Musa katakan ingatlah. Remember. Fokus.

Pertanyaannya adalah apa yang kita ingat? Apa yang saudara ingat hari ini? Karena kita mudah, mudah, sangat mudah fokusnya kepada masalah. Setiap hari yang kita lihat di sosmed kita adalah masalah, masalah, masalah. Kita mudah fokus kepada masalah. Tetapi kita sangat mudah lupa untuk mengingat kesetiaan Tuhan.

Ada sebuah kutipan yang mengatakan begini.

What we focus on becomes bigger.

Apa yang kita fokuskan akan menjadi lebih besar. Kalau kita fokusnya kepada masalah, kekuatiran dan ketakutan kita akan terus membesar. Kalau kita melihatnya cuma sekedar diri kita sendiri, maka kesombongan kita akan terus menjadi besar. Tetapi kalau kita melihat perbuatan tangan Tuhan yang sudah sangat amat baik dalam kehidupan kita, dengarkan saya baik-baik, iman kita, pengharapan kita akan terus membesar dalam kehidupan kita.

Ingat, kata Musa, jangan lupa berjaga-jaga, berhati-hatilah. A grateful heart is a remembering heart. Hati yang bersyukur adalah hati yang mengingat.

Saya mau tutup, Tadi saya melihat, saya membaca, bulan lalu kita mendengar seperti yang saya katakan, Tuhan selama 40 tahun, Tuhan menyediakan Manna dari surga, menyediakan roti yang turun dari surga setiap paginya. Manna bergizi gratis, Tuhan sediakan bagi umat Israel. Tapi dengarkan saya. Meskipun Manna itu adalah constant reminder bahwa hidup bangsa Israel itu bukan karena kekuatan mereka sendiri. Tetapi karena Tuhan yang memelihara mereka.

Tetapi apa yang kita baca tentang Manna di padang gurun is only a foreshadow, adalah sebuah bayangan akan sesuatu yang jauh lebih besar yang Tuhan sudah sediakan. Atau mungkin lebih tepatnya Pribadi yang lebih besar yang Tuhan sudah tetapkan.

Karena dalam kitab Yohanes, Pasal yang ke-6. Yesus mengingatkan para murid-murid. Yesus secara spesifik mengingatkan. Nenek moyangmu telah makan Manna di padang burun. Tetapi Yesus berkata begini.

Supporting Verse – [35] Yesus menjawab, “Akulah roti yang memberi hidup. Setiap orang yang datang kepada-Ku tidak akan lapar lagi, dan setiap orang yang percaya kepada-Ku tidak akan haus lagi. Yohanes 6:35 TSI

Dimana Israel menerima Manna dari surga untuk bisa hidup hari demi hari. Yesus datang sebagai roti yang hidup sehingga kita tidak lapar dan mendapatkan hidup yang kekal. Sehingga kita tidak lagi haus dalam kehidupan.

Itu sebabnya ayat yang tadi kita baca. Ibrani 13 mengatakan begini.

Closing Verse – [15] Jadi, melalui Yesus, marilah kita memberikan persembahan rohani kepada Allah setiap saat, yakni memuji Dia melalui semua perkataan kita dan dengan berani memberitakan bahwa Yesus adalah Penguasa kita. Ibrani 13:15 TSI

Pesan hari ini adalah untuk beberapa saudara yang datang yang mungkin sudah mulai lupa, mulai hidup dengan kekhawatiran. Tetapi aku berdoa hari ini. Kami berdoa hari ini, saudara bisa pulang dengan suatu pengharapan, suatu iman yang baru yang bisa membuat kita tidak berhenti dari berkata begini, “Dulu aku ingat kalau aku”.

Tetapi kita bisa berkata begini, “Aku ingat dulu, Tuhan”. It’s not about me, bukan dengan apa yang bisa kulakukan tentang kekuatanku. Kita bisa lewat dari sekedar berkata, “Oh, aku dulu ingat aku yang mengenang. Aku ingat dulu Tuhan yag melakukan mujizat dalam hidupku”. Worship is a sound of remembrance, as we keep turning our hearts to our source.