Worship that forms the Heart By Ps. Sidney Mohede

JPCC Sutera Hall 2nd Service (21 June 2026)

Thank you, team. Thank you for leading us to the presence of God. Good morning, everyone. Semua dalam keadaan yang baik? Semua dalam keadaan yang sehat? All good? Piala dunia, semuanya aman? Saya sendiri nggak nonton, sih. Tidak kuat bangunnya. Selama dua minggu terakhir, kita masih dalam tema besar kita di bulan Juni yaitu “Worship, the Sound of Heaven“.

Sebagai seseorang yang lebih dari separuh hidupnya berkecimpung di dalam dunia pujian dan penyembahan, I sangat menyukai saat dimana gereja membahas tema ini, dan selama dua minggu ini kita belajar hal-hal yang buat saya sederhana, fundamental, tetapi sangat amat luar biasa.

Di minggu pertama kita belajar bahwa worship dimulai, menyembah dimulai ketika kita mengingat bahwa Tuhan adalah sumber segala-galanya. Betul kan? Setiap kali kita berkumpul, setiap kali kita bernyanyi bersama, kita diingatkan kembali “in remembrance of God’s goodness, God’s faithfulness” dalam kehidupan kita.

Dan minggu lalu kita juga belajar bahwa kehidupan yang sungguh-sungguh mengalami Tuhan akan menghasilkan sebuah ekspresi, menghasilkan sebuah “sound”, menghasilkan nyanyian. Minggu lalu Ps. Jose sangat luar biasa menjelaskan bahwa “singing is good for us”, setuju?

Bahkan bagi kita yang suaranya biasa-biasa saja, Menyanyi itu membawa benefit dalam kehidupan kita. Suara kita adalah instrumen pertama yang ada dalam budaya manusia. Sebelum adanya piano, gitar, dan lain sebagainya. Manusia menggunakan suara. Dan saudara akan temukan di budaya manapun, di seluruh benua, di dalam bumi ini. Pasti semua budaya ada yang namanya budaya bernyanyi. Betul kan?

Artinya “God created singing”, menciptakan suara kita untuk bermazmur, Bernyanyi kepada Dia untuk mengembalikan segala sesuatu karena hanya Dialah yang layak menerima segala pujian kita. Tapi hari ini di minggu yang ketiga, saya ingin mengajak kita lebih dalam lagi untuk kita belajar bahwa worship bukan sekedar apa yang keluar dari hidup kita, ekspresi yang kita lakukan.

Karena jujur, seringkali terutama di gereja modern kita selalu berpikir bahwa worship itu identiknya dengan lagu, dengan lagu cepat, atau dengan lagu lambat. Tetapi hari ini kita akan belajar bahwa penyembahan kita juga menentukan apa yang sedang dibentuk di dalam hati dan kehidupan kita. Worship forms the heart. Itu sebabnya hari ini judul saya berkotbah adalah “Worship that forms the Heart”. Penyembahan yang membentuk atau mengubah atau mentransformasikan hati kita dan kehidupan kita.

Karena kalau kita berbicara tentang Worship, seringkali yang kita berpikir hanya bagaimana atau “how” kita berekspresi. Kita berpikir tentang lagu yang kita nyanyikan, kita berpikir tentang doa yang kita naikkan, karena doa adalah penyembahan. Kita berpikir tentang momen yang kita rasakan, “experiencing the worship moment”. Dan biasanya hanya itu yang kita fokuskan. Tetapi sebenarnya yang jauh lebih penting lagi adalah, Apakah kita mengizinkan pada saat kita sedang bernyanyi, pada saat kita sedang memuji dan menyembah, seperti yang baru saja kita lakukan selama 20 menit, Apakah kita mengijinkan hati kita diubahkan dengan apa yang kita katakan?

Karena kalau saudara hanya sekedar mengeluarkan kata-katanya atau menyanyikan kata-kata yang tepat, Itu gampang. Semua lirik sudah tertulis, Saudara tidak perlu menghafal liriknya, bahkan. Artinya ya, sedikit mirip dengan karaoke rohani lah, kita bisa menyanyikan kata-katanya dengan tepat, teologianya tepat, kata-katanya puitis dan indah, tapi jujur, apakah kita benar-benar, we meant what we sing. Betul kan?

Tadi lagu yang kita nyanyikan, “Mengiringmu seumur hidupku, pikiranku, kehendakku. Kuserahkan padaMu”. “Ah, masa?”

Dan ini yang selalu menjadi “tension” buat kita, terutama kita yang menulis lagu, yang kita yang membuat album pujian penyembahan dari tahun ke tahun. I’ve been doing this for 36 years. Seringkali kita menyanyikannya, namun belum tentu kita menghidupinya.

Dia layak menerima segala pujian dan penyembahan. It’s a given. Dia layak. Tetapi untuk kita membuka hati kita, supaya kita yang diubahkan dan ditransformasi, Itu tanggung jawab saudara dan saya. Are you getting what I’m trying to say?

Dan ini yang sedang kita coba untuk bahas pada minggu ini, bahwa jika kita mengijinkan kehidupan penyembahan kita akan sangat mengubah hidup saudara dan saya, itu yang penting. Yang penting adalah kita diubahkan untuk menjadi lebih serupa dengan Kristus. Betul kan? Ngapain kita nyanyi? Percuma, kita cuma sekedar menyanyikan kata-kata yang indah tetapi kita pulang dan hidup kita tidak diubahkan sama sekali.

Itu sebabnya kami tulisnya begini.

Penyembahan bukan hanya sesuatu yang menyentuh hati saudara dan saya. Karena kebanyakan dari kita, itu yang kita kejar. “Wah, merinding sekali pastor”, “Wah, lagunya mengetuk saya”. Hey, our worship is not for us. Tetapi penyembahan adalah sesuatu yang membentuk dan mengubahkan. Kata kuncinya, “it forms you”. Mengubahkan saudara dan saya.

Artinya inti dari penyembahan bukanlah Hati kita yang dipuaskan. “Oh, aku suka banget kalau WLnya tadi si dia. Wah, seneng banget. Aku merasa diangkat. Bukan untuk kita dipuaskan, tetapi supaya hidup saudara dan saya diubah. Dan saya rasa ini sangat relevan. Kenapa message ini sangat relevan buat generasi kita di hari-hari ini.

Karena saya belum pernah menemukan jaman atau waktu atau musim dimana setiap hari dan setiap saat ada begitu banyak hal di luar kita yang sedang mencoba untuk membentuk saudara dan saya. Betul kan? So many options. Dari media sosial, dari semua marketing dan iklan, dari semua entertainment yang ada. Semuanya berlomba-lomba untuk membentuk cara saudara berpikir, and ultimately cara kita hidup akan membentuk identitas kita, siapa diri kita.

This hustle culture pada zaman ini, membentuk cara begitu banyak anak muda mengukur nilai hidup. Apa yang penting dan apa yang tidak. “Oh Pastor, umurku 30, uangku masih segini”.

Seakan-akan uang yang menentukan nilai dan identitas kehidupan mereka. Are you okay with this? Ada begitu banyak hal setiap hari yang kita lihat yang mencoba untuk mengambil semua perhatian kita. Saudara pernah nggak? Kalau Saudara lagi mau nonton TV, saudara bingung mau nonton apa karena saking banyaknya opsi. Atau hanya saya aja?

Saya sama istri biasa begitu. Nonton apa ya? Semuanya ada. Jaman Om masih kecil, hanya ada TVRI. Betul kan? Hanya satu loh. Jaman dulu, TV saja cuma ada di hari Sabtu dan Minggu. Saya ingat jaman saya masih kecil tuh itu. Hanya satu doang. Betul. Pilihan cuma satu, nonton unyil. Bagi yang, unyil itu apa? Bagi teman-teman SMA yang hadir pada hari ini, yang ikut Youth Camp minggu lalu, welcome, welcome.

Dan, and I know some of you don’t even know what I’m talking about. Karena sejak kalian lahir, ada begitu banyak opsi, entertainment, social media. “We scroll day in, day out, and it steals our focus and our attention”. Setiap hari ada algoritme yang dibuat khusus untuk saudara dan saya, yang membentuk perhatian kita. Ada berita-berita yang dibentuk untuk terus membesarkan kekuatiran saudara dan saya.

Ada iklan-iklan yang terus menerus muncul yang membuat dan membentuk keinginan saudara. Sehingga saudara, di keranjang kuning saudara ada banyak hal-hal yang saudara masukkan, yang tadinya saudara gak kepengen beli, ternyata saudara beli juga. Yang ketawa cuma di ibu-ibu di tempat ini. You know what I’m trying to say, right?

Bahkan di media sosial, YouTube, TikTok, Instagram. Ada yang disebut sebagai the recommendation algorithm. Algoritma rekomendasi.

And how it works adalah ini. Semakin sering kita menonton sesuatu, semakin sering kita like atau follow, atau fokus kepada sesuatu, semakin banyak konten yang muncul yang mirip dengan apa yang saudara follow. Betul kan? And it’s design, itu didesign oleh orang-orang yang jauh lebih pintar dari kita untuk mencuri perhatian saudara. Sehingga akhirnya seluruh “feeds” kita, disebutnya feeds, betul kan ya?

Seluruh feeds kita dibentuk oleh apa yang kita beri perhatian. And it’s interesting bahwa mereka menyebutnya “feeds”. Sesuatu yang kita beri makan, dicekokin untuk makan setiap hari. Sudah pernah mikir tidak? Why is it called feeds? Karena setiap hari kita konsumsi, kita makan. It feeds us. Makan. Dan apa yang kita makan, apa yang kita kasih makan, itu yang akan bertumbuh besar. Apa yang menjadi fokus mata dan pandangan kita, itu yang akan membesar. And that’s how our heart also works.

Hati kita pun bekerja dengan cara yang sama. Apa yang terus kita beri perhatian, akan semakin memenuhi kehidupan saudara dan saya. Sehingga tanpa kita sadari, setiap hari ada sesuatu yang sedang membentuk cara kita berpikir, membentuk cara kita merasa, feel, dan membentuk cara kita menjalani hidup.

Artinya pertanyaan kita bukanlah, apakah hari ini aku sedang dibentuk oleh sesuatu, am I being shaped? Bukan itu pertanyaannya, karena jawabannya sudah pasti yes. setiap hari kita sedang dibentuk, pertanyaan yang lebih penting adalah ini.

Apa atau siapa yang sedang membentuk saudara setiap harinya?

Itu pertanyaan yang lebih baik. Dan jujur, inilah sebabnya kehidupan penyembahan, lifestyle worship, menjadi sangat penting karena setiap kali kita menyembah Tuhan, focus kita kembali kepadaNya, kita diingatkan, remembered, remind us again, bahwa Tuhan sudah sangat baik dalam kehidupan kita.

The simple truth adalah ini, apa yang kita pandang terus-menerus pada akhirnya akan membentuk identitas saudara dan saya. Identitas kita. Who we are in Christ. Siapa atau apa yang memakan perhatian kita setiap hari. Nah, Pemazmur menuliskan begini dalam Mazmur 135. Hari ini kita akan melihat ada dua perbandingan tentang apa yang kita pandang dan kita fokus. Perhatikan di Mazmur 135.

Opening Verse – [15] Berhala bangsa-bangsa adalah perak dan emas, buatan tangan manusia, [16] mempunyai mulut, tetapi tidak dapat berkata-kata, mempunyai mata, tetapi tidak dapat melihat, [17] mempunyai telinga, tetapi tidak dapat mendengar, juga nafas tidak ada dalam mulut mereka. [18] Seperti itulah jadinya orang-orang yang membuatnya, semua orang yang percaya kepadanya. Mazmur 135:15-18 TB

Artinya sesuatu yang dianggap berharga. Betul kan? Emas dan perak. It’s worth something, it cost something. Dan itu adalah buatan tangan manusia. Dia mempunyai mulut, tetapi tidak dapat berbicara. Dia mempunyai mata, tetapi tidak dapat melihat. Dia mempunyai telinga, namun tidak dapat mendengar. Perhatikan di ayat diatas juga dikatakan bahwa nafas tidak ada dalam mulutnya. In other words, Semua yang dianggap berhala itu mati.

Tidak ada yang hidup. Betul kan? Dia punya mata, tidak bisa melihat. Dia punya mulut, tapi tidak bisa berbicara. Tidak ada nafas bahkan. It’s dead. Pemazmur pun menulisnya begini. Seperti itulah. Artinya sama dengan apa yang diciptakan. Seperti itulah jadinya orang-orang yang membuatnya, dan semua orang yang percaya kepadaNya. Kepada semua orang yang menyembahNya, yang menjadi perhatian dan fokusnya. Semuanya dikatakan, ini yang kami tulis. Kita akan menjadi seperti apa yang kita sembah.

Betul kan? Ini yang pemazmur sedang katakan. Semua yang diciptakan oleh tangan manusia, Itu mati. Sifatnya sementara. Semua yang saudara anggap itu emas atau perak, berharga, tetapi buatan manusia, kalau itu yang menjadi pusat perhatian kita, kalau itu yang kita sembah, perlahan-lahan tanpa kita sadari, kita akan menjadi mirip dengannya.

Seperti itulah jadinya orang-orang yang membuatnya dan orang yang percaya kepadanya. Here’s the simple truth, dengarkan saya baik-baik. Segala hal yang tidak bisa menyelamatkan kita tidak layak untuk disembah. Let me say it again. Segala hal yang tidak bisa menyelamatkan saudara dan saya tidak layak untuk disembah.

Dan jujur, semua yang ada dalam dunia ini, semuanya, termasuk diri kita sendiri, tidak bisa menyelamatkan diri kita sendiri. Hanya satu juru selamat, namanya, Yesus. I hope you get this. Berhala itu tidak harus selalu bentuknya berupa patung atau jimat-jimat. Karena saya yakin, kalian semua tidak ada jimat atau patung, betul kan?

Tetapi berhala adalah apapun atau siapapun yang kita jadikan sumber identitas kita. Apapun yang menjadi rasa aman, security kita, dan nilai diri kita, identitas kita, selain daripada Tuhan. Itu yang disebut berhala.

Bukan sekedar sesat, semuanya sesat. Jaman “Om” terima Tuhan. Dulu saya terima Tuhan umur 17 tahun, itu 36 tahun yang lalu. Saya ingat banget, segala benda yang ada di kamar saya itu dianggapnya sesat. Saya tidak tahu kalau sekarang sih, Puji Tuhan, kita tidak lakukan itu kepada saudara. Tetapi saya ingat banget, komik saya dibakar, gambar-gambar saya dibakar, Poster saya dibakar, kaset semuanya, album-album semua dibakar karena dianggapnya sesat.

Berhala, itu berhala, berhala. See, berhala tidak cuma sekedar benda-benda seperti itu. Karir saudara bisa menjadi berhala, karena itu menjadi identitas saudara. Rekening saudara di bank, berapa banyak uang bisa menjadi berhala untuk saudara. Pencapaian saudara, kenyamanan kita, reputasi bahkan, validasi dan penerimaan, acceptance by other people, itu bahkan bisa menjadi berhala dari saudara dan saya.

Karena apa?

Berhala adalah segala atau apapun yang bisa kita jadikan sumber identitas, security kita, atau nilai kita, worth kita selain daripada Tuhan. Bahkan, dengarkan saya baik-baik, pelayanan-pun bisa menjadi berhala untuk kita. Kalau kita menganggap pelayanan kita lebih penting daripada Tuhan yang kita layani.

Apapun yang kita jadikan sumber identitas lain Tuhan pada akhirnya akan menjadi berhala.

So how do we get this identity?

Kebenarannya adalah ini. Sederhananya adalah ini. Bahwa kita bisa menerima nilai diri kita dari siapa yang paling kita hormati dan percaya. Betul kan? Kita akan selalu menganggap diri kita dihormati jika kita diberikan hormat dari orang yang kita hormati, dari orang yang paling kita percaya. We will find the most security, dari orang yang kita anggap paling secure dalam hidup kita.

Jika saya menganggap bahwa istri saya adalah orang terpenting di dalam dunia ini selain daripada Tuhan, artinya opini daripada istri saya menjadi opini yang paling utama dalam hidup saya. Betul kan?

We can only receive esteem from the person we most highly esteem.

Dan itulah sebabnya manusia terus-menerus suka dengan media sosial. Karena manusia akan terus membandingkan diri kita dengan sekelilingnya. We feel good. Ketika kita menjadi lebih baik daripada orang lain. Kami merasa buruk. Ketika semua orang lebih baik daripada kami. Apakah kamu mengerti ini?

Kita terus mengejar pengakuan dan validasi dari orang lain, karena semua dari kita sedang mencari identitas, “worth”, tetapi pencarian itu tidak akan pernah kita dapatkan sampai kita menerima bahwa Tuhan Yesus yang terlebih dahulu menyayangi dan mengasihi kita.

Validasi itu tidak akan pernah kita dapatkan dari manusia sampai kita mengerti bahwa Tuhan yang terlebih dahulu sudah menerima kita padanya. And that changed my life. Itu mengubah cara saya berpikir, mengubah cara saya menulis lagu bahkan.

23 tahun yang lalu saya menuliskannya, “Dan ku ingin mengenal-Mu Tuhan”, aku yang mengejar hadirat Tuhan, sampai saya realized bahwa hey, bukan tentang usahaku. Karena kalau aku yang mengejar terus, saya tidak akan pernah bisa. Tetapi yang terpenting adalah Tuhan yang terlebih dahulu mengenal aku paling dalam. Tuhan yang terlebih dahulu mencari aku bahkan sampai Dia rela, mengirimkan anakNya, putraNya, Yesus Kristus, bagi saudara dan saya.

Sharing Ps. Jose – Last week, saya ada di Kupang bersama dengan beberapa teman-teman, beberapa keluarga. Ada seorang anak muda yang saya sudah kenal dari dia kecil. Dia berkata kepada saya malam-malam sebelum kita pas balik ke hotel. Dia berkata, “Uncle, can I have a word with you? Boleh saya ngobrol sebentar? I said, okay. I’ll give you, sebelum kita masuk, ngobrol sebentar yuk di hotel.” Dan dia bertanya begini, Uncle, dia panggil saya Uncle karena dia dari kecil kenal saya. “Uncle, bagaimana caranya saya bisa menyenangkan Tuhan? How can I please God? Karena setiap hari I fall into temptation. Tiap hari saya pasti jatuh dalam godaan dosa dan lain sebagainya.”

Bagaimana caranya saya bisa menyenangkan Tuhan?

Saya ingat banget malam itu saya cuma bilang sama dia, Maybe we should think about it from a different perspective. Bukan bagaimana cara kita harus berusaha menyenangkan Tuhan. Tetapi kita yang harus terlebih dahulu menerima bahwa Dia adalah seorang Bapa yang baik. Dia pakai kata Bapa. Dia Bapa yang baik yang unconditionally love us. Sehingga apapun yang kita lakukan, He loves us still. Meskipun kita tetap jatuh dalam dosa. Meskipun kita tetap masuk dalam pencobaan.

Dia tetap menyayangi saudara dan saya. Dan pada saat kita menerima itu, menjadikan itu fondasi hidup kita, dengarkan saya baik-baik. Kita tidak akan menyia-nyiakan semua anugerah yang Tuhan berikan. Waktu saya bilang itu sama dia, dia berkata, that makes sense uncle, that makes sense.

And I think this is what everyone needs. Ini yang sedang kita coba lakukan setiap hari. We try so hard, membandingkan diri kita untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain. Mencoba untuk menyenangkan Tuhan dengan usaha kita sendiri. Padahal Tuhan sudah membuktikan, Tuhan sudah buktikan bahkan bahwa Dia yang terlebih dahulu mengasihi saudara dan saya.

Kita menerima bahwa kita sudah dikasihi. Kita menerima bahwa kita sudah diterima oleh Tuhan. Ini alasan kenapa worship itu penting Bapak dan Ibu sekalian. Karena penyembahan yang sejati selalu mengalihkan fokus kita kembali kepada kebaikan Tuhan. Selalu. Sehingga kita kembali mengingat Dia, siapa Dia dalam kita. Whatever we focus will grow and shape us. Karena kita menjadi seperti apa yang kita sembah, we become what we worship.

Saya juga sering memperhatikan bahwa ada orang-orang pada saat mereka menghabiskan waktu bersama-sama, Mereka akan dibentuk menjadi lebih mirip dengan orang tersebut. Betul kan?

Saya melihat ini dalam pernikahan saya, dengan istri saya sudah 22 tahun menikah. Ada kebiasaan atau ada hal-hal yang saya sudah tahu dia maunya apa, saya sudah tahu dia sukanya apa. Kenapa? Karena kita menghabiskan waktu bersama. Ada suatu kedekatan yang terjadi. Saya melihat ini dalam keluarga yang hangat, keluarga yang dekat.

Saya melihat anak-anaknya tumbuh dan perilaku anak-anaknya tambah mirip dengan orang tuanya. Bukan cuma mukanya, itu mah DNA. Iya kan? Sudah pasti mukanya mirip, kan bukan anak tetangga. Tetapi tingkah laku, cara mereka berbicara, cara nge-jokesnya, bahkan tambah lama tambah mirip. Kenapa? Karena kedekatan menghasilkan pembentukan. You’re close. Ada sesuatu yang intimate, ada sesuatu yang dekat.

Dan menariknya, ada sebuah kata yang namanya, katanya adalah skeptik, skeptis, orang-orang yang skeptis, kata skeptik itu diambil dari kata aslinya dalam bahasa Inggrisnya, artinya distance, jarak jauh, artinya orang yang skeptis itu hanya bisa mengobservasi dari jauh. Dan itu biasanya kita lihat di threads dan lain sebagainya, orang kritik ini, komen ini, segala macem. Kenapa? Mereka tidak mengenal dengan dekat.

But worship by the very nature of the word, kata penyembah dalam bahasa aslinya artinya adalah proskuneo. Mencium seperti seekor anjing, mencium majikannya. Itulah worship by the very nature of the word. Worship membuat kita dekat, kita tidak bisa mencium dari jauh, itu namanya “kiss by”, no no, that’s not kissing, real kiss intimate and close, real worship close, dan dalam kedekatan itulah kita dibentuk, worship that forms the heart, banyak orang ingin mengenal Yesus tapi hanya dari kejauhan.

Banyak orang hanya mau mendengar tentang Dia, belajar tentang Dia. Tetapi Worship mengundang kita untuk lebih dari sekedar mengetahui tentang Yesus. Kami tulisnya begini, Jarak membuat kita sekedar melihat dan observasi. Tetapi kedekatan yang menghasilkan perubahan.

Pertanyaan saya hari ini di JPCC Sutra Hall. Saudara hanya mau menjadi observant, yang melihat dan memandang dari jauh. Atau benar-benar saudara mengijinkan Tuhan untuk membentuk dan mengubah hati saudara.

Here’s the second truth. Kalau tadi kita melihat dalam Mazmur 135, menunjukkan apa yang terjadi Kalau kita memandangnya kepada yang berhala, kepada apa yang buatan tangan manusia yang mati. Rasul Paulus mengajarkan. Dalam 2 Korintus Pasal yang ketiga, apa yang terjadi ketika kita memandangnya Yesus. Perhatikan ayat yang 18 yang tadi kita baca.

Supporting Verse – [18] Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar. 2 Korintus 3:18 TB

Selubung apa yang dimaksudkan oleh Paulus? Mengajarkan dalam beberapa ayat sebelumnya di ayat 14 bahwa selubung itu berbicara tentang hati dan pikiran yang belum dapat menerima atau melihat kemuliaan Tuhan dengan jelas.

Supporting Verse – [14] Tetapi pikiran mereka telah menjadi tumpul, sebab sampai pada hari ini selubung itu masih tetap menyelubungi mereka, jika mereka membaca perjanjian lama itu tanpa disingkapkan, karena hanya Kristus saja yang dapat menyingkapkannya. 2 Korintus 3:14 TB

Tetapi pada waktu dia, kita mendatangi, mendekat kepada Tuhan Yesus, memandang Dia, selubung itu tidak lagi ditutupi. Dan perhatikan disini, kita memantulkan, dalam terjemahan bahasa Indonesia yang lain dikatakan kita mencerminkan, like mirror, kecemerlangan atau kemuliaan daripada Tuhan. Mencerminkan. Saudara perhatikan, kita tidak bisa memantulkan cermin bayangan dari jarak yang jauh.

Betul kan?

Saya taruh kacanya jauh, saya tidak bisa melihat apa-apa. Semakin mendekat saya kepada cermin tersebut, semakin my vision dipantulkan kembali. Dan ini yang Paulus sudah katakan. When you look upon Jesus. Waktu pandangan kita hanya kepada Yesus. Perhatikan ayat yang berikutnya. Ayat 18B. Oleh sebab itu. When that happened, Kita terus menerus diubah menjadi seperti Dia. Makin lama kita menjadi semakin cemerlang. Kemecemerlangan itu dari Roh, dan Roh itu adalah Tuhan.

Perhatikan. Rasul Paulus tidak pernah berkata begini. You change yourself. Ubahlah dirimu sendiri. Paulus tidak mengajarkan. You try harder. No! He simply says, Keep looking on Jesus. Terus pandang. Terus mendekat. Keep your eyes focus on Jesus.

Maka kita tidak lagi ditutupi oleh selubung. Kita akan terus menerus diubahkan. Menjadi serupa dengan gambarNya. And this is what we do dalam kehidupan penyembahan kita sehari-hari. Karena penyembahan tanpa pengenalan. Sekali lagi. Penyembahan tanpa pengenalan adalah sebuah pertunjukan atau performance. Karaoke doang.

Tetapi penyembahan dengan pengenalan akan Kristus Yesus. Pada waktu kita fokusnya hanya kepada Tuhan membawa kita ke dalam sebuah perubahan, Transformasi kehidupan. Artinya, Sidney yang 36 tahun yang lalu, sudah harus berubah di jaman sekarang. Karena setiap hari saya terus menerus diubahkan untuk menjadi seperti Yesus. And this has been my prayer.

Saya ingat banget waktu saya bertobat ada sebuah lagu di tahun-tahun itu. “Change my heart, oh God”. Ada yang tahu lagu itu?

Change my heart oh God, May I be like you, You are the potter, and I am the clay. Mold me and make me. This is what I pray, Ini menjadi doa saya, Sejak umur 17 tahun, sampai sekarang umur 53. Berubah, berubah. Aku bisa berpikir seperti Tuhan Yesus. Aku bisa melihat seperti Tuhan Yesus. Supaya aku bisa mengasihi seperti Tuhan Yesus.

Karena kalau kita menyembah tampa pengenalan hanya akan menjadikan sebuah performance. Tapi dengan mengenal Dia, membawa kita kepada sebuah transformasi. Dua contoh yang Alkitab tulis. Apa yang terjadi ketika kita memandang yang salah dan apa yang terjadi ketika kita fokus kepada Yesus. One deforms you and the other one transforms you. Idol deforms. Mengkorupsi semua yang ada dalam dunia ini, semua yang kita anggap penting, semua yang kita anggap keren, yang kita berkata, “oh aku mau beli, the latest gadget, the latest movie, the latest whatever”, semua itu sifatnya sementara. Dan itu pada ujung-ujungnya tidak bisa menyelamatkan kita. Saya tidak berkata bahwa saudara tidak boleh menikmati apa yang dunia tawarkan.

Saya tidak mau kita pun menjadi legalistik, menjadi agamawi. Semuanya sesat, semuanya sesat. Nggak boleh pakai baju warna merah, nggak boleh pakai rambutnya kayak begini. Dulu Om juga pernah gondrong. Ada yang pernah lihat saya gondrong? Anak-anak saya tiap kali lihat saya gondrong kayak, “Eww, Dad, what were you thinking?”

Meskipun saya menyanyi lagu rohani, tetap dicap sesat. Semuanya sesat. Saya juga tidak mau kita hidup demikian, tapi pertanyaannya adalah apakah Yesus menjadi pusat perhatian dalam kehidupan saudara dan saya? Dalam kitab Titus dikatakan begini, pasal yang kedua.

Closing Verse – [11] Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. [12] Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini [13] dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus, [14] yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik. Titus 2:11-14 TB

The grace that we receive, seperti yang saya bilang kepada anak muda itu. We receive the grace, bukan artinya kita malah menyia-nyiakannya, tetapi malah sebaliknya Dia mendidik kita untuk meninggalkan yang lama. Ini percuma, kita menyanyikan lagu-lagu yang indah, percuma kita katakan. Pikiranku, kehendakku, kuserahkan padaMu. Tapi ternyata hati saudara jauh daripada Tuhan. Percuma kita mengeluarkan kata-kata itu. Tetapi malah kita mikirinnya empek-empek nanti siang kita mau makan jam berapa.

Percuma saya ngomong kepada istri saya. I love you, I love you. Tapi saya malah memikirkan wanita yang lain. Dalam dunia itu disebutnya selingkuh. 2 Pertanyaan refleksi sebelum kita lanjut ke dalam penyembahan.

  1. Apa yang sedang membentuk hati saudara lebih daripada Yesus hari-hari ini?
  2. Area apa dalam hidup saya yang Tuhan ingin ubah agar semakin serupa dengan-Nya?