JPCC Sutera Hall 2nd Service (2 August 2026)
Apa kabar saudara semua? Happy Sunday! Kita akan melakukan hal yang berbeda hari ini, Kita akan berdoa untuk beberapa orang, hari ini nanti di akhir, kita akan berdoa untuk satu sama lain.
Iya. Kita harus tinggal di sini ya? Kita akan kembali ke kampung. Ya, teman-teman SMA. Sampaikan tangannya, saudara. Saya tahu Anda di sini. Ya, ya, ya. Kita sayangkan Anda. Dan hari ini, dari kemarin sampai hari ini, kita akan kembali ke kampung. Iya gak sih? Kanaknya lebih tinggi. Iya, semua ibu-ibu yang sedang ditinggal sama suaminya.
Having a day off. But kita berdoa. Ketika hubungan ayah dan anak-anak dipilihkan. Mereka boleh sama-sama mengatakan. Saya dengar ada banyak testimoni juga datang. Dari apa yang terjadi. Lalu berpercaya untuk hal yang sama tahun ini. Aamiin. Iman yang dibangkitkan, ada anak-anak yang semakin dekat dengan ayahnya, dan kita tahu bahwa Tuhan bisa melakukannya. Dan saya ingin menyapa juga yang beristirahat orangtaya di mata saudara berada, percaya firman Tuhan hari ini bisa menyentuh saudara di mata saudara berada, amin.
Jadi, gimana Sutra Hong? Sudah siap belum? Iya, sudah siap. Oh, tahu juga ya ternyata ya. Benar-benar banyak yang mulai tertekan kalau saya kota ya, takut diseluruh ngobrol sama segelanya. Bahwa kita akan melakukan hal yang berbeda hari ini, saya gak akan minta saudara untuk ngobrol selama satu menit. Kita akan berdoa untuk beberapa orang, hari ini nanti di akhir kita akan berdoa untuk satu suami lain.
Kita sudah masuk bulan Agustus, tidak berasa, hari ini tanggal 2 Agustus, Puji Tuhan hari ini kami merayakan ulang tahun pernikahan ke-12, saya dan Carlo, God is Good, and there’s more to come. Praise God, I love him. Dan sepanjang bulan ini kita akan belajar sebuah seri pembelajaran yang baru, berjudul “Resilience in Crisis“. Sepanjang bulan ini kita akan belajar tentang bagaimana memiliki daya tahan, kegigihan di tengah-tengah berbagai macam krisis yang mungkin kita akan alami atau bisa alami dalam hidup ini.
Tahukah saudara, bahwa hanya karena kita pengikut Kristus, bukan berarti kita tidak akan pernah mengalami yang namanya krisis. Tetapi kita bersyukur, we are so privileged, bahwa terlepas dari kenyataan hidup dimana terkadang kita bisa mengalami krisis, kita punya Tuhan yang ada senantiasa berserta dengan kita. Ada Amin?
Sepanjang bulan lalu kita sudah belajar tema yang luar biasa. Kita belajar bahwa Berkat Tuhan tidak ditentukan oleh kondisi eksternal kita, bukan? Tetapi Berkat Tuhan sudah diberikan kepada kita, first and foremost, Tuhan sendiri hadir di tengah-tengah kita. That’s the greatest blessing that we’ve ever received.
Bahwa Tuhan yang luar biasa, yang sanggup melakukan apapun. Dia pencipta langit dan bumi ini. Dia ada bersama dengan Kita. Tetapi saudara, mungkin hari ini ada diantara saudara semua, kita di tempat ini atau yang nonton di rumah. Mungkin ada dari kita yang sedang mengalami “gap” yang besar antara apa yang kita imani dengan kenyataan hidup yang sedang kita alami.
Mungkin ada beberapa dari kita yang sedang mengalami bukan sekedar kondisi yang tidak baik-baik saja. Mungkin dalam Finansial saudara, kesehatan saudara, hubungan saudara, bahkan mungkin bukan hanya sekedar tidak baik-baik, tetapi kondisinya sedang mengkhawatirkan atau sedang dalam kondisi krisis.
Apa itu krisis?
Menurut kamus besar, bahasa Indonesia, saya coba cari, krisis adalah keadaan yang berbahaya, yang mengkhawatirkan, sebuah kondisi yang genting dan kritis. Ketika seorang sedang mengalami krisis, maka ia sedang kehilangan yang namanya balance, kestabilan atau kontrol. Yang kemudian kalau kita tidak responi dengan benar, maka kita bisa kehilangan atau bisa masuk ke dalam bahaya yang lebih jauh yang bahkan sifatnya bisa menghancurkan atau mematikan keseluruhan hidup kita.
Itu sebabnya saudara, kalau saudara ada dalam kondisi kritis atau krisis, biasanya dibutuhkan ada keputusan-keputusan yang cepat dan tepat supaya bisa menolong kita bertahan bahkan bangkit kembali dari kondisi tersebut.
Nah saudara, kabar baiknya, seperti yang tadi saya sudah bilang, saudara dan saya punya Tuhan yang ada di tengah-tengah kehidupan kita, yang tidak pernah meninggalkan kehidupan kita barang sedetikpun.
Artinya apa? Buat kita anak-anak Tuhan, buat saudara yang adalah anak-anak Tuhan, krisis bukan hanya sekedar tempat dimana kita itu sekedar bertahan, tetapi krisis mungkin bisa menjadi sebuah tempat dimana kita ini bisa mengalami Hikmat Tuhan, bisa mengalami Provisi dari Tuhan, bisa mengalami Transformasi dari Tuhan, karena seringkali Tuhan justru sering melakukan karyaNya di tengah-tengah keterbatasan yang ada.
Saudara baca Alkitab, Seringkali mujizat terjadi ketika ada keterbatasan. Itu sebabnya kenapa hari ini dan sepanjang bulan ini, kita akan belajar bagaimana kita bisa menyikapi, menavigasi kehidupan ini sebagai anak-anak Tuhan, kalau kita sedang dalam krisis.
Dan minggu ini secara spesifik kita akan belajar tentang bagaimana menyikapi tantangan atau salah satu krisis yang mungkin kita alami dalam hidup ini yaitu keterbatasan fisik.
Keterbatasan fisik, saya beri judul khotbah hari ini, “More than healing“. More than healing, dalam bahasa Indonesianya, “lebih dari kesembuhan”. Nah, saudara, bicara tentang fisik, tentu kita semua ingin punya tubuh yang sehat, bukan?
Ya, kita semua mau punya tubuh yang sehat. Kita bayar mahal untuk bisa punya tubuh yang sehat, bukan? Saya bersyukur, ya. Sepanjang JPCC ini ada, Gereja kita bangun, kita juga diajarkan mengenai stewardship, mengelola, bertanggung jawab atas salah satunya tubuh kita, kesehatan kita. Saya juga bersyukur hari-hari ini kita semua sudah lumayan dikelilingi dengan lifestyle yang sehat. Makanan sehat mulai dijual di mana-mana. Hari-hari ini banyak yang bahkan kompetisi. Kompetisi fitness, ada penggemar HYROX di sini mungkin? yang ikut kompetisi HYROX. Saya baru ikut beberapa bulan lalu, kalau ditanya gimana pastor soal HYROX? capek! Thank God we made it till the finish line.
Ya, kesehatan menjadi sebuah lifestyle and it’s good. Saya senang, itu sudah menjadi sebuah lifestyle. Tapi terkadang saudara, kita bisa mengalami tantangan kesehatan atau keterbatasan fisik. Mungkin ada diantara dari kita disini yang sepertinya semuanya baik-baik saja, tiba-tiba menerima hasil lab karena baru habis check up tahunan, “Wah Kolesterolnya naik”, atau semuanya oke tapi ada yang merah.
Kita mengalami tantangan kesehatan atau mungkin bahkan lebih serius, tiba-tiba saudara menerima laporan dokter yang mengatakan saudara menderita penyakit kronis tertentu. Atau mungkin, saudara yang lagi gemar olahraga, saking serunya berolahraga, tiba-tiba saudara harus ngalamin yang namanya cedera.
Ya, tidak satupun dari kita yang terhindar. Apalagi satu hal ini. Satu hal yang saya juga harus, Embrace, setiap dari kita pasti akan mengalami yang namanya penuaan.
I know I look 20, thank you buat saudara yang berpikir itu beneran. I’ll be 40 this month, Saya harus embrace yang namanya aging, saya baru 40 tahun ini dan ada beberapa hal yang saya sadari bahwa ternyata ada hal-hal yang saya harus perhatikan, saya tidak bisa main badminton seperti dulu waktu saya usia belasan tahun, karena sekali main, lama dikit, pijetnya harus 3 jam, saudara.
Ya, setiap hari kita, Sekarang dan kemudian, bisa jadi kita mengalami keterbatasan fisik. Saya mengalami ini lebih dari sekali. Saya pernah cedera. Saya pernah juga tahun lalu saya mengalami satu kondisi, di mana cukup kritis yang saya tidak pernah menyangka, Saya akan mengalami itu.
Tetapi saudara, poinnya adalah ini. Firman Tuhan, saya percaya firman Tuhan bisa menolong kita untuk menyikapinya dengan baik. Dan bahkan, Melalui setiap kondisi yang kita lewati dalam hidup ini, terkadang Tuhan ijinkan karena Dia mau mengajarkan sesuatu. Karena Dia mau membentuk karakter kita. Dia mau bekerja melalui setiap hal yang kita alami. Dan saya berdoa, firman Tuhan hari ini bisa menolong saudara kalau saudara sedang ada di tengah-tengah kondisi yang seperti ini. Amen?
Hari ini kita akan melihat sebuah kisah di Alkitab tentang seseorang yang sedang mengalami keterbatasan fisik. Orang ini namanya Naaman. Saya tidak tahu saudara pernah dengar kisahnya atau baca kisahnya. Tetapi saya mau ajak saudara untuk buka alkitab saudara. Dan kita mau baca kisahnya di 2 Raja-Raja 5 ayat 1 sampai 14.
Saya akan bacakan semua kisahnya dan setelah itu kita akan menarik beberapa prinsip Firman Tuhan melalui kisah ini yang bisa menolong kita menyikapi tantangan fisik yang mungkin kita sedang alami. Are you ready?
Opening Verse – [1] Pada waktu itu, kerajaan Aram memiliki panglima militer bernama Naaman. Dia sangat terhormat dan menjadi orang kepercayaan raja. Naaman seorang pahlawan perang yang tangguh. Melalui pimpinannya, TUHAN membuat kerajaan Aram menang perang. Akan tetapi, Naaman terkena penyakit kulit yang parah. [2] Pada masa itu juga, kelompok-kelompok kecil tentara Aram sering datang menjarah Israel. Dalam salah satu penjarahan, mereka menangkap seorang anak perempuan muda. Anak itu kemudian dijadikan budak istri Naaman. [3] Mengetahui penyakit Naaman, gadis itu berkata kepada nyonyanya, “Kalau tuan Naaman pergi kepada nabi Israel di kota Samaria, nabi itu pasti bisa menyembuhkan tuan.” [4] Maka Naaman pergi menghadap raja Aram untuk meminta izin, “Budak istri saya berasal dari Israel. Dia mengatakan ada nabi di Israel yang bisa menyembuhkan saya. Mohon izinkanlah saya pergi menemui nabi itu.” [5] Raja Aram menjawab, “Pergilah. Saya akan memberikan surat pengantar untuk disampaikan kepada raja Israel.” Sesudah itu Naaman pergi dengan membawa hadiah berupa 300 kilogram perak, 72 kilogram emas, dan sepuluh pakaian bagus. [6] Naaman menyampaikan surat raja Aram kepada raja Israel. Isinya, “Dengan surat ini saya mengantarkan panglima saya, Naaman, kepadamu agar dia disembuhkan dari sakit kulitnya.” [7] Setelah membaca surat itu, raja Israel merobek pakaiannya sebagai tanda kegusaran sambil berkata, “Surat macam apa ini! Saya bukan Allah yang bisa memberi atau mencabut nyawa! Apa-apaan raja Aram mengutus orang kepada saya untuk disembuhkan dari penyakit kulit! Dia pasti hanya mencari-cari alasan untuk menyerang kita lagi!” [8] Kabar bahwa raja merobek pakaiannya sampai kepada Nabi Elisa. Lalu Elisa mengirimkan pesan kepada raja, “Yang Mulia tidak perlu merobek pakaian. Suruh orang itu datang kepada saya, agar dia tahu bahwa ada nabi di Israel.” [9] Maka Naaman datang ke rumah Nabi Elisa dengan rombongan kereta kudanya. Dia berdiri di depan pintu. [10] Elisa menyuruh seorang pelayannya keluar untuk menyampaikan pesan kepada Naaman, “Pergilah mencelupkan diri tujuh kali di sungai Yordan. Kulitmu akan kembali pulih dan kamu akan bersih dari penyakit itu.” [11] Naaman pergi dengan tersinggung sambil berkata, “Aku kira dia akan keluar menemui saya, berdoa kepada TUHAN Allahnya dengan mengangkat tangan di atas penyakitku, lalu kulitku langsung sembuh seketika. [12] Kalau hanya dengan mandi di sungai aku bisa sembuh, lebih baik aku mandi di sungai negeriku sendiri! Ada sungai Abana dan Parpar di kota Damsik yang lebih bagus daripada semua sungai di Israel!” Demikianlah Naaman berbalik dan pergi dengan marah. [13] Para pelayan yang mengantar Naaman mendekati dia lalu berkata, “Tuan, seandainya pun nabi itu meminta engkau melakukan syarat yang sulit, Tuan pasti mau melakukannya demi bisa sembuh. Tetapi dia hanya menyuruh Tuan untuk mandi di tempat tertentu agar sembuh. Mengapa tidak dicoba saja, Tuan?” [14] Maka Naaman pergi ke sungai Yordan dan mencelupkan dirinya tujuh kali di sana, sesuai perintah Nabi Elisa. Tiba-tiba kulitnya langsung pulih semulus kulit bayi. Demikianlah Naaman dibersihkan dari penyakitnya. 2 Raja-raja 5:1-14 TSI
Mengetahui penyakit Naaman, gadis itu berkata kepada nyonyanya, kalau tuan Naaman pergi kepada Nabi Israel di kota Samaria, Nabi itu pasti bisa menyembuhkan tuan. Maka Naaman pergi menghadap Raja Aram untuk meminta izin. Budak istri saya berasal dari Israel. Dia mengatakan ada nabi di Israel yang bisa menyembuhkan saya. Mohon izinkanlah saya pergi menemui nabi itu. Raja Aram menjawab, pergilah.
Wow! What a story! Saudara senang kisah-kisah yang dituliskan di Alkitab, luar biasa banget, saudara! Kalau kita kembali ke ayat 1, saya senang bagaimana Alkitab memulai kisahnya. Karena dikatakan seperti ini, kalau kita baca di ayat pertama, kita ini kayak lagi baca profil seorang superstar di zamannya, bener ya?
Naaman, seorang panglima perang, disayang sama raja, terhormat. Kalau zaman sekarang mungkin kalau Naaman punya LinkedIn profile ya. Dia itu mungkin seperti Top CEO, highest performer, centang biru, verified. He got it all. Dia punya semua yang semua orang inginkan dan dambakan. He got it all. Dia orang yang sangat sukses di zamannya. Tetapi ada satu kalimat di ayat pertama yang mengubah segalanya.
Kalimat itu apa? Walaupun Naaman sekeren itu, saudara. Kalimatnya adalah, akan tetapi Naaman terkena penyakit kulit yang parah, dia terkena kusta. Di zaman itu, sakit kulit yang seperti itu bukan hanya sekedar dikasih obat oles ya. That is a terrible sickness. Saudara bisa diasingkan karena saudara sakit ini. This changes Naaman’s life. Di tengah semua prestasinya yang gemilang, kondisi fisik Naaman membuat Naaman hidupnya tidak sama lagi.
Satu hal pertama yang kita bisa pelajari dari kisah ini adalah bahwa krisis menyebabkan kita berdependensi, Crisis exposes our dependence. Krisis menyingkapkan kepada siapa kita bergantung.
You see, Krisis fisik yang Naaman alami membuat dia sadar tentang satu hal, bahwa tidak semua hal dalam hidupnya itu bisa dia kendalikan. Disini Naaman, seorang panglima perang yang sukses, saudara. Bahkan dibilang di Alkitab, Tuhan bikin kerajaan aram menang melalui pimpinannya. Wow! Dia sukses. Dia panglima perang yang luar biasa. Ada musuh, dia kalahkan. Ada perang, dia menang. Tetapi kali ini dia menghadapi sebuah kondisi dimana musuhnya bukan ada di luar sana. Musuhnya ada di dalam dirinya. Dan di saat itu dia sadar bahwa ternyata “I don’t get it all”.
Ternyata saya tidak pegang kendali atas semua hal. Ternyata untuk pertama kalinya semua yang dia punya, harta, kekayaan, kuasa, kemampuannya menjadi tidak berguna. Terkadang dalam hidup ini bukankah kita bisa mengalami apa yang Naaman alami. Terkadang kita berpikir we got it all, kita berpikir kita memegang kendali semua kehidupan kita, terutama waktu kondisi sepertinya baik-baik saja, kita susun target, kita punya deadline and we made it, di bisnis kita, di karir kita, it feels like everything is okay, we got it all, sampai satu hari tiba-tiba mungkin tubuh kita bilang tidak.
Ada yang pernah mengatakan kepada saya bahwa tubuh ini seringkali adalah guru yang paling jujur. Waktu dia capek, dia akan bilang capek. Dia gak bisa disuap, dia gak bisa disogok, dia gak bisa bohong. Kalau dia capek, dia akan bilang capek. Waktu dia sakit, dia akan bilang sakit. Dia gak peduli jabatan kita, dia gak peduli berapa saldo kita atau berapa banyak followers kita. Kalau dia sudah sampai pada limitnya, dia akan bilang Stop, dan saya alami ini tahun lalu.
Everything seems okay. I’m doing well. Sampai suatu hari, saya harus terbaring di atas hospital bed. Dan di saat itu saya sadar, actually, I don’t get it all. Crisis exposes kepada siapa kita bergantung. Seringkali Tuhan ijinkan keterbatasan fisik kita alami untuk mengingatkan kepada kita bahwa kita ini adalah ciptaan dan kita bukan pencipta.
Krisis juga menghancurkan ilusi terbesar manusia bahwa kita ini bisa memegang kontrol atas kehidupan kita. Kita hidup di dunia yang mengajarkan independence, be strong, make your own man. Kita perlu berdiri pada kehidupan kita sendiri. Kita tidak memerlukan orang lain. Tetapi Kekristenan mengajarkan hal yang berbeda bahwa setiap hari kita tidak hidup di luar Tuhan dan harus bergantung kepadaNya. Tidak hanya saat kita sedang lemah, tetapi pada saat kita sedang kuatpun, kita harus bergantung kepada Tuhan setiap hari.
Dan kalau hari ini saudara sedang mengalami keterbatasan fisik, saudara sedang merasa lemah secara jasmani, dengarkan ini, terkadang Tuhan mengijinkan tubuh kita melemah, supaya kita berhenti bersandar pada kekuatan yang selama ini kita kira milik kita, dan kita mulai belajar untuk bergantung kepadaNya.
Supporting Verse – [9] Tetapi jawab Tuhan kepadaku: ”Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. 2 Korintus 12:9 TB
Perhatikan, Tuhan tidak berkata, Aku akan menghilangkan semua kelemahanmu. Tuhan tidak bilang begitu. Tetapi, yang Dia bilang adalah, di dalam, di tengah-tengah kelemahan yang engkau rasakan, KuasaKu akan menjadi sempurna.
Jadi, biarkan kata-kata ini berbicara kepada anda hari ini. Kalau saudara sedang merasa lemah, ijinkan kasih karunia Tuhan. KuasaNya menopang saudara, ijinkan Dia menggendong saudara, karena ketika saudara merasa lemahlah, kuasa Kristus menjadi sempurna, amin.
Jadi pagi hari ini, pertanyaannya adalah, kepada siapa kita bergantung?
Saya berdoa, kita memilih untuk bergantung bukan pada kehebatan kita. Kekuatan kita sendiri, tetapi kita bergantung kepada Tuhan.
Kembali ke cerita Naaman. Setelah Naaman mengalami kondisi fisik yang dialami, kemudian dikatakan dia dengar dari salah satu budak istrinya, yang adalah orang Israel. Dia dengar ada nabi di Israel katanya, yang bisa menyembuhkan dia. He found hope.
Akhirnya apa yang terjadi? Dia segera pergi ke rajanya. Minta letter of recommendation. Lalu dia pergi ambil semua harta miliknya. Dia siapkan the gifts. The best of the best gifts, yang dia bisa pikirkan. Lalu pergi ke Israel mencari nabi itu.
You see? Menariknya saudara, sepanjang hidupnya, dia terbiasa menyelesaikan persoalan dengan sumber daya yang dia miliki. Dia segera pergi mengambil yang semua dia punya, koneksi yang dia punya. Bukannya kadang seperti itu dalam hidup kita?
Sewaktu kita menerima laporan yang kurang mengenakan, terkadang kita seperti itu. “Instead of”, kita pergi mencari Tuhan, kita segera sibuk cari ai-ai. Maksudnya AI (Artificial Intelligence). Kita tanya sama teman kita, siapa dokter yang terbaik? Kita lakukan opinion pertama, opinion kedua, opinion ketiga. Kita melakukan semua terapi. Dan saya tidak bilang itu tidak boleh ya. Itu hal yang baik untuk dilakukan. Tapi sebenarnya terkadang, terkadang kita lebih sibuk mencari cara untuk sembuh daripada mencari Tuhan yang adalah penyembuh.
Saya tidak mengatakan itu semua salah, itu semua baik untuk dilakukan. Tetapi jangan sampai kita terlalu sibuk mencari cara sehingga kita terlalu fokus kepada metodenya dibandingkan mencari Tuhan yang sanggup melakukan, mungkin jauh lebih daripada apa yang kita expect untuk lakukan.
Hal kedua yang kita bisa pelajari dari kisah ini adalah, that often times, sering kali, God works beyond our expectation.
Tuhan itu bekerja melampaui ekspektasi kita. Menurut saya masalah banyak orang percaya, bukan karena mereka tidak percaya Tuhan sanggup melakukan mujizat. Tetapi masalahnya seringkali kita sudah tuliskan naskah buat Tuhan tentang cara bagaimana Dia harus bekerja. We prepare the script for God to move. Padahal Tuhan adalah Tuhan. Dia adalah penulis naskahNya dan bukan kita.
Ini yang terjadi dengan Naaman, dia sudah tulis skrip buat Tuhan. Dia pergi ke Israel. Dia pergi ke rumah Nabi Elisa, lalu apa yang terjadi? Dia sudah berpikir, “Oh nanti Nabi Elisa, cara bekerjanya adalah… harusnya dia keluar ketemu sama saya, karena saya panglima, orang terhormat. Harusnya dia keluar, dia tumpang tangan, dia angkat tangan, tumpang tangan, dan saya akan disembuhkan”. Tetapi apa yang terjadi di kisahnya?
Nggak seperti itu. Elisa nggak even keluar dari rumahnya. Dia cuma suruh siapa? Hambanya. Hambanya keluar kasih pesan, dan pesannya out of his expectation. Pesannya apa? Pergi mandi di Sungai Yordan, celupin dirimu tujuh kali. Naaman kayak, what?! By the way, kenapa Sungai Yordan? Sungai di tempat saya berasal jauh lebih indah. Kenapa harus di situ? Ini gue salah denger kali ya?
Dan dikatakan di firman Tuhan dia pergi tersinggung, dia pergi dengan panas hati, dia tidak terima, kok bisa Tuhan suruhnya seperti itu. Naaman berharap sesuatu yang spektakuler, tetapi Tuhan somehow memilih sebuah cara yang sangat sederhana, pergi ke sungai Jordan. Celupkan dirimu 7 kali.
You see, kuasa Tuhan tidak bergantung pada kemegahan metodeNya. Tuhan bisa pakai cara apapun. Dan Dia bekerja tidak tergantung dari bagaimana atau semegah apa caranya. Tuhan bisa bekerja melalui mujizat yang instant. Yes, definitely. Tetapi Tuhan juga bisa bekerja melalui proses yang kita harus lewati. Tuhan bekerja melalui setiap obat yang harus kita minum. Tuhan bekerja melalui setiap komunitas yang mendampingi kita, yang mendoakan kita. Hal-hal yang sederhana yang kita pikir, this is too simple. Tuhan bekerja melalui proses.
Jadi saudara, Alkitab tidak pernah mempertentangkan iman dengan hikmat. Artinya apa?
Artinya, waktu saudara berdoa untuk mukjizat kesembuhan, berdoalah dengan iman. Tetapi saudara juga perlu pergi ke dokter. Dengan iman juga. Minta mujizat, tetapi jangan pernah abaikan proses pemulihan yang Tuhan sediakan sehari-hari.
Kenapa Tuhan melakukan seperti itu?
Karena Dia mau mengajarkan bahwa iman kita tidak seharusnya terletak pada cara Tuhan bekerja. Tetapi pada pribadi yang sedang bekerja.
Iman kita tidak seharusnya terletak pada cara Tuhan bekerja. Tetapi pada pribadi yang bekerja. Kita perlu belajar percaya kepada Tuhan apapun cara yang dia pilih, karena Tuhan seringkali bekerja melampaui ekspektasi kita. So have faith. Tuhan bekerja. Tetapi caranya terserah Tuhan. Karena Tuhan adalah Tuhan. Kita bukan Tuhan.
Ceritanya belum selesai disitu. Saya bersyukur ceritanya tidak selesai dengan Naaman pergi tersinggung. Tetapi ceritanya dilanjutkan. Ada orang-orang di sekeliling Naaman, hamba-hambanya, yang berani speak up waktu Naaman sudah mau pulang, sudah panas hati, sudah tersinggung.
Orang-orang ini bilang, “Hei, hei, tunggu dulu, Tuan, jangan pulang dulu. Lagian, tuan , kalau Nabi Elisa kasih syarat yang lebih sulit, pasti Tuhan juga bakal lakukan. Kenapa gak dicoba aja?”
Disini kadang-kadang Tuhan bekerja memberikan jawaban sama kita di tengah-tengah pergumulan fisik kita melalui orang-orang yang di sekeliling kita. Itu sebabnya saya bersyukur saya punya orang-orang di sekeliling saya, di DATE, di ministry, yang bisa mengingatkan saya, yang berdoa buat saya, yang bilang, “Ge, ayo gue dampingin. I’m gonna go with you, I’m gonna stand with you, I’m gonna believe with you. What do you need?”
Tuhan bekerja melalui itu semua, Saudara. Dan saya bersyukur Naaman punya orang-orang seperti itu. Dan kalau dipikir-pikir, Saudara, sepertinya Tuhan lagi mau menyingkapkan sesuatu dalam kehidupan Naaman. Di saat itu, waktu dia menjadi tersinggung, menjadi panas hati, sebenarnya mungkin dia sudah lupa dia sakit kusta.
Mungkin karena sepertinya ada sakit yang lebih dalam yang Tuhan mau singkapkan, yaitu kesombongan yang ada dalam hidupnya.
You see, crisis exposes things in our heart. Seringkali krisis Tuhan pakai untuk menyingkapkan sesuatu yang ada di dalam hati kita yang lebih dalam, yang mungkin kita sendiri tidak tahu ada di situ. Krisis tidak menciptakan isi hati kita, tetapi krisis seringkali menyingkapkan apa yang ada di hati kita.
The real you is shown under pressure.
Saudara yang sesungguhnya itu terlihat ketika saudara lagi ada dalam tekanan. Krisis menyingkapkan itu. Apa yang sebenarnya ada yang mungkin selama ini kita tidak sadari. Dan Tuhan mau menyingkapkan itu melalui apa yang kita sedang alami. You see, ada orang yang ketika mereka mengalami krisis mereka justru menjadi semakin lembut. Mereka imannya semakin kuat. Semakin penuh iman, tetapi juga ada orang-orang yang ketika mereka menghadapi krisis, mereka menjadi semakin marah, mereka menjadi semakin pahit, menjadi semakin sinis, bahkan memilih untuk menjauh dari Tuhan.
You see, crisis exposes what’s within, menyingkapkan dan membawa itu keluar, sama dengan Naaman. Ternyata ada satu hal yang Tuhan mau bereskan dalam hidupnya, melebihi daripada kondisi fisiknya, yaitu kesombongan. Dan saya bersyukur Naaman memilih untuk merendahkan hatinya dan tahan.
Jadi, hal ketiga yang kita bisa pelajari dari kisah ini adalah that humility and obedience precedes transformation.
Kerendahan hati dan ketahatan itu mendahului transformasi. Langkah pertama menuju kesembuhan kesembuhan Naaman bukan waktu dia masuk ke sungai Yordan. Tetapi waktu dia merendahkan hatinya dan mau mendengar masukan dari hamba-hambanya. That’s the first step to his healing.
Nah, saya mencoba untuk membayangkan jadi orang-orang yang ada di sekelilingnya hari itu. Ketika panglimanya memilih untuk merendahkan hati. Saudara bayangkan jadi orang-orang di sekitarnya. Naaman kemudian masuk ke sungai Yordan yang sangat sederhana itu. Dia celupin dirinya sekali. Semuanya lagi melihat, tegang gitu ya. Muncul ke atas, tidak ada yang berubah. Sakit kustanya masih ada. Kedua kali, naik ke atas, masih sama, gak ada yang berkurang. Tiga kali, empat kali, lima kali. Enam kali, masih sama.
Saya sudah bayangkan kalau enam kali Naaman memutuskan untuk tidak jadi celup lagi. Ceritanya tidak ditulis, saudara. Mungkin, saya bayangkan jadi orang-orang di sekitarnya, terus berteriak dan mendukung dia. Tidak apa-apa, tadi Nabi-Nya bilang tujuh kali. Ada satu kesempatan lagi, ayo!
Dan saya mau berkata buat saudara yang mungkin hari ini, mungkin saudara tidak lagi ada dalam tengah-tengah kondisi fisik yang terbatas, tapi saudara punya orang-orang di sekeliling saudara yang sedang mengalami itu. Saudara menjadi orang-orang yang ada di sekeliling Naaman. You gotta keep on cheering on them, okay?
Kita mau terus berdoa buat mereka, bersorak buat mereka. Dan saya bersyukur Naaman punya orang-orang itu. Karena setelah 6 kali, dia akhirnya memutuskan untuk celup ke 7 kali.
Dan firman Tuhan katakan, waktu dia bangkit setelah 7 kali celup, tubuhnya menjadi sembuh. Haleluya. Praise the Lord. Puji nama Tuhan. Mungkin ceritanya berbeda kalau Naaman tidak punya orang-orang itu. Saya bersyukur, Naaman memilih untuk taat dan merendahkan hatinya.
Jadi, saudara, hari ini mungkin dibutuhkan kerenahan hati dan ketaatan untuk terus percaya. Untuk terus pegang janji Tuhan. Bahwa kesembuhan itu ada dan sedang datang dalam kehidupan saudara. Amen.
If you are in the middle of this. Let’s believe together. Dan buat saudara yang mungkin sedang tidak mengalami ini. Hey, jadilah orang seperti yang ada di sekeliling Naaman untuk terus mendukung mereka. Oke? Dan menurut saya kesembuhan Naaman secara fisik bukanlah mukjizat terbesar dalam cerita ini. Naaman sembuh dan itu bagus. Tapi mujizat terbesar terjadi justru setelahnya. 2 Raja-Raja 5 ayat 15 dikatakan seperti ini.
Closing Verse – [15] Jadi, Naaman beserta seluruh rombongannya kembali kepada Elisa. Di depan Nabi Elisa dia berkata, “Saya yakin bahwa di seluruh bumi ini, Allah yang benar hanya Allah di Israel! Karena itu, mohon terimalah pemberian dari hambamu ini.” 2 Raja-raja 5:15 TSI
Ini mujizat terbesar yang Naaman alami bukan hanya sekedar kesembuhan tubuhnya. Tetapi dia mengalami Tuhan sendiri. Tubuhnya dipulihkan. And that’s great. Tapi ada satu hal yang lebih luar biasa yang terjadi. Hubungannya dengan Tuhan dipulihkan. Dan itu yang Tuhan selalu lakukan di dalam setiap karyaNya dalam kehidupan kita.
Waktu Dia melakukan mujizat, bukan hanya untuk kita menjadi hidupnya lebih nyaman saja, saudara. Setiap hal yang kita alami dalam hidup ini, Tuhan memakai setiap keadaan yang kita alami dalam hidup ini, untuk selalu membawa kita semakin mengenal dan bergantung kepadaNya. Biar saya tutup dengan ini. Saya teringat ada seorang teman yang cukup dekat dengan kami.
Sharing Ps. Gea – Dua tahun lalu dia tiba-tiba didiagnosa kanker stadium empat. Dia datang kepada kami dan minta didoakan. Dia sendiri masih mencoba untuk mencerna. Karena sama seperti Naaman, everything seems great sampai diagnosa itu datang. Dia nggak tahu apa yang harus dilakukan. Di saat itu, dia cuma tahu bahwa dia harus melakukan kemoterapi dan terapi lainnya.
Dia juga mengalami ketakutan juga. Kami hanya bisa doakan, kami bisa dukung dia. Dan semua beberapa teman-teman di Upper Room juga mendukung dia. Kami doakan dia bersama-sama, memberikan semangat. Tapi saya ingat saat dia terus menjalani proses yang ada, dan Puji Tuhan dia dinyatakan clear dari cancer within 2 years!
Dia sendiri bilang, this is beyond my expectation, karena dia tidak menyangka dia bisa clear secepat itu, tapi ada satu hal yang saya mau highlight disini, dia bilang sama saya bahwa, “Pastor, saya berdoa supaya Tuhan itu menghilangkan penyakit saya. Itu yang ada dalam doa saya”.
Tetapi ternyata di tengah-tengah apa yang dia harus lakukan. Sebelum Tuhan menghilangkan penyakitnya. Yang pertama-tama Tuhan hilangkan adalah Rasa takutnya.
Wow. Untuk saya. Itu adalah Mukjizat. Dia masih harus menjalani apa yang dia perlu jalani. Tetapi dia menjalannya dengan, bukan dengan takut dan ketakutan, dia menjalaninya dengan iman, dia tahu bahwa Tuhan menyertai dia, dia tahu bahwa “This one more cycle, I can do it because God is with me.“
Dan menurut saya itu adalah mujizat terbesar yang dia bisa alami di tengah-tengah apa yang dia sedang alami. Jadi pagi hari ini, saya mau kita semua berdoa bersama. khususnya buat teman-teman kita, saudara-saudari kita yang sedang di tengah-tengah pergumulan. Let’s pray together.
Ps: Hi friends! If this blog has blessed you, you can support us below. Thank you, and God bless! Link: https://saweria.co/316notes


