JPCC Sutera Hall 2nd Service (30 August 2026)
Kita sudah ada di minggu terakhir, 30 Agustus hari ini. Minggu terakhir dari seri pengajaran tentang “Ketangguhan dalam Krisis“. Siapa yang sedang mengalami Krisis pada pagi hari ini? Berbahagialah saudara yang ada dalam Krisis, Amen. Ada yang bengong, mukanya koq begitu amat sih.
Because Crisis never meant to break you, Krisis tidak pernah datang sebetulnya untuk menghancurkan saudara. Krisis datang untuk memberitahu saudara, apa yang perlu saudara perbaiki. Dan kalau saudara punya cara berpikir yang benar, saudara harus tahu bahwa kalau ini saya perbaiki, maka saya bisa naik ke level yang berikutnya.
Hanya menolong saudara, bahwa Krisis merupakan sebuah kepastian dalam kehidupan kita karena kita tidak hidup dalam keadaan yang sempurna. Kalaupun keadaan kita sempurna, kita yang tidak sempurna. Jadi, adalah hal yang bisa jika kita bertemu dengan sebuah krisis, asal jangan keseringan tentunya.
Jadi, kita tidak dikecualikan dari Krisis. Justru itu merupakan sebuah kesempatan untuk kita untuk memperkuat hubungan kita dengan Tuhan, memperdalam atau memperbanyak pengalaman kita pribadi berjalan bersamaNya.
Nah, Hari ini kita akan belajar “spiritual crisis”, Krisis Rohani. Siapa yang masih ingat tema kita tahun 2026?
Flourishing.
Atau berbuah dan berkembang. Tahukah saudara, pada saat kita menerima pernyataan ini, biasanya semua pastor dan gembala di tempat ini, bersama dengan pasangan masing-masing. Kira-kira di awal mei atau akhir april, kita sudah berkumpul bersama dan berdoa, mencari tahu kehendak Tuhan untuk tahun berikutnya.
Jadi sebetulnya tema tahun ini kita sudah dapat kira-kira, katakanlah bulan Mei, awal Mei tahun lalu. Dan karena sekarang juga bulan Agustus, berarti tema tahun depan pun kita sudah tahu. Karena kita sudah ketemu bersama selama 2-3 hari, mencari Hadirat Tuhan.
Dan ketika kita dapatkan tema tahun ini yaitu “Flourish”. Dalam pikiran manusia, “Wah tahun 2026 ini asik nih kira-kira, segala sesuatu akan berjalan baik dan kondunsif.”
Tetapi kemudian, kita masuk ke tahun 2026 dan disambut dengan perang Amerika dengan Iran, Israel dan lain sebagainya, sampai harga-harga pada naik, minyak, dolar. Belum lagi selain kondisi global, kondisi domestik juga mengalami begitu banyak tantangan, boleh dibilang demikian. Belum lagi ditambah dengan gempa yang terjadi beberapa waktu yang lalu di NTT, dan juga kebakaran hutan yang masih terjadi di beberapa daerah.
Pertanyaannya, ketika yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, apakah kita masih tetap bisa berbuah? flourish?
Atau mungkin siapa tahu kita, all the pastors salah terima dari Tuhan. Harusnya judulnya bukan “flourish”, kita semua bersama keliru. Atau mungkin sudah banyak yang di antara saudara yang kecewa. Karena mungkin harapannya kira-kira seperti itu. Tahun ini kayanya akan begitu luar biasa. Ternyata kenyataannya mungkin tidak seperti yang saudara hadapi.
Atau lebih personal lagi, saudara kecewa karena doa yang saudara pikir pasti akan dijawab Tuhan, karena tanda-tandanya sudah kelihatannya bakalan “oke” nih, ternyata tidak dijawab. Pintu yang kita pikir ini akan dibukakan, sebab ini yang terakhir sih. Yang sulit itu sebetulnya pintu pertama atau pintu kedua. Dan Ini sudah pintu terakhir. Biasanya kalau pintu pertama atau pintu kedua kita lewati, yang terakhir biasanya gampang. Ternyata tidak terbuka juga.
Orang yang kita doakan, kita pikirin bakalan sembuh nih, karena setelah kita doakan, dari yang tidak bisa apa-apa dan sekarang mulai menunjukkan tanda-tanda kesembuhan, mulai segar lagi, dan lain sebagainya. Tapi ternyata dipanggil Tuhan.
Hubungan yang kita pikir, bisa bertahan karena lebih banyak happy-nya daripada sedih-nya. Ternyata berakhir juga.
Pekerjaan atau bisnis yang kita pikir akan berkembang atau berjalan dengan baik, tetapi justru mengalami kemunduran. Kita kemudian bertanya-tanya, kenapa bisa begini? God, where are you?
Nah, semuanya ini, kalau kita tidak hati-hati, bisa mengantarkan kita ke dalam “Krisis Rohani”.
Terutama kalau kita tidak punya fondasi iman yang kuat. Dan kalau kita tidak punya sudut pandang yang benar sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. Di akhir daripada kotbah Yesus di Bukit, Dia kasih sebuah perumpamaan tentang 2 macam dasar. Ada orang yang mendirikan rumah di atas batu dan ada orang yang mendirikan rumah di atas pasir. Kemudian datanglah hujan, banjir dan angin melanda.
Opening Verse – 7:24 “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. 7:25 Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. 7:26 Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. 7:27 Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.” Matius 7:24-27 TB
“Kemudian datanglah” dikatakan, berarti merupakan sebuah kepastian. Dan itu semua datang untuk menguji dasar, karena orang yang menjadikan rumah di atas batu tetap tegak, meskipun dilanda oleh banjir, hujan dan badai, tetapi orang yang mendirikan rumah di atas pasir. Hancur dan hebatlah kerusakannya. So it’s all about the foundation, tentang dasar.
Makanya kita harus sadar bahwa flourish dimulai dari dalam, dimulai dari dasar. Dimulai dari inti, the core of our being, yaitu dimulai dari hati. Itu yang kita harus pastikan untuk bisa flourish lebih dahulu. Yaitu dimulai dari hubungan kita dengan Tuhan yang harus berkembang lebih dahulu.
Sebab yang di luar boleh saja gonjang-ganjing, boleh saja berubah-ubah. Tetapi selama hubungan kita dengan Tuhan di dalam ini, selama hati kita protected and flourish, maka kita akan punya sudut pandang yang berbeda tentang apa yang sedang terjadi dan kita tidak akan kehilangan iman dan percaya kita. Dan kita justru akan tetap tegak berdiri meskipun kena badai, hujan atau banjir. Dan biasanya justru di masa-masa yang sulit, Tuhan menjadi sangat nyata.
Kalau saudara kenal Tuhan saudara, Mazmur 34, ayat ke-19 berbunyi seperti ini.
Supporting Verse – TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya. Mazmur 34:19 TB
Nah, sekarang saya mau untuk saudara lihat kitab Lukas pasal yang ke-24. Ada sebuah kisah disini yang sebetulnya sangat menarik. Karena ini bicara tentang dua orang murid Yesus sendiri. Dua orang murid yang sedang mengalami kekecewaan yang luar biasa besar. Dan yang membawa mereka pada krisis rohani.
Supporting Verse – 24:13 Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem, 24:14 dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. 24:15 Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. 24:16 Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia. 24:17 Yesus berkata kepada mereka: “Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?” Maka berhentilah mereka dengan muka muram. 24:18 Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: “Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?” 24:19 Kata-Nya kepada mereka: “Apakah itu?” Jawab mereka: “Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami. 24:20 Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. 24:21 Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi. Lukas 21:31-21 TB
Dari percakapannya, kita bisa lihat bahwa kedua murid ini sebenarnya menaruh pengharapan yang sangat besar kepada Yesus. Kenapa? Bukan tanpa bukti, karena tanda-tandanya sudah mereka lihat. Bahwa Dia adalah seorang Nabi, artinya Dia memenuhi kriteria seorang Nabi. Dan bukan hanya itu, Dia berkuasa dalam pekerjaanNya. Dia mengadakan mukjizat demi mukjizat dan mereka melihat sendiri. Dan dikatakan bukan cuma di hadapan mereka, tetapi juga di depan seluruh bangsa, Dia lakukan hal tersebut.
Jadi di pikiran mereka, “This it, This the man, ini orangnya.” Bahkan mereka kemudian sudah menentukan skenario sendiri, apa yang harus Yesus lakukan. Yaitu bahwa sebagai Mesias, Dia harus membebaskan bangsa mereka dari Kekuasaan Romawi dan memulihkan bangsa mereka dan mungkin menegakkan kerajaan untuk bangsa mereka.
Namun kenyataannya, Yesus malah ditangkap, disiksa, dijatuhi hukuman mati dan disalibkan. Jadi, saudara bisa bayangkan kekecewaan mereka yang begitu besar. Boleh dibilang, Apa yang mereka lihat dalam diri Yesus selama ini, menunjukkan bahwa ini Dia, Mesias kita, tetapi kok Dia mati di atas kayu salib.
Jadi dalam pikiran mereka, tamat sudah, selesai, harapannya hancur. Berarti kita masih harus nunggu yang lain lagi. Siapa yang bisa mengalahkan kematian? Pernah nggak saudara merasakan kekecewaan yang sama, yang kira-kira begitu berat?
Yang saudara pikir, “Wah, ini bakalan goal nih, ini bakalan masuk nih..”, tetapi kemudian tidak terjadi dan pintu tetap tertutup. Kita padahal sudah memprediksi sesuatu akan berjalan sesuai apa yang kita harapkan. Tetapi kenyataannya berbeda. Padahal sebetulnya sudah 98 persen sudah oke semua.
Sama seperti orang main bola sudah bakalan menang. Sudah menit ke-89, masa cuma tinggal 2-3 menit, paling tambah berapa ekstra menit lagi deh. Ini sudah menang 2 gol, nggak mungkin lah. Kita bungkus deh ini… eh dalam waktu 2-3 menit, lawannya berhasil membuat 2 gol. dan kemudian extra time, dan akhirnya mereka kalah.
Bisa dibayangkan betapa kecewanya mereka dengan keadaan karena apa yang mereka harapkan tidak terjadi. Karena buat mereka, Salib adalah tanda kekalahan. Padahal sebenarnya bagi Yesus salib adalah tanda menuju kemenangan. Jalan menuju penebusan. Jalan yang mereka pikir, merupakan akhir dari segalanya justru di hadapan Yesus, Itu adalah permulaan dari segala sesuatu.
Nah sekarang, ke-2 murid ini meninggalkan Yerusalem, pergi ke kampung, suatu tempat yang bernama Emaus. Mereka meninggalkan Yerusalem, tempat dimana harapan mereka hancur. Mereka meninggalkan Yerusalem, tempat dimana mereka mengalami kekecewaan yang luar biasa. Sepertinya ini gambaran yang sering kali terjadi dengan orang-orang percaya yang sedang mengalami kekecewaan alias krisis rohani, yang harapannya kandas.
Perhatikan, banyak orang yang harapannya kandas, yang mengalami kekecewaan berat, ini dan itu. Mungkin juga kecewa sama hamba Tuhan, mungkin juga kecewa sama Tuhan, mungkin juga kecewa sama gerejanya. Perhatikan, banyak diantara mereka yang mulai menjauh dari komunitas, menjauh dari pemimpin, menjauh dari pelayanan, menjauh dari gereja.
Bukan karena mereka tidak percaya Tuhan lagi, tapi karena mereka sedang kecewa. That’s the point. Bukan karena mereka tidak percaya Yesus lagi, mereka masih percaya, hanya mereka sedang kecewa. Dan yang menarik dari cerita ini adalah pada saat mereka menjauh dari Yerusalem, tempat dimana pengharapan mereka hancur menuju kepada Emaus, pada saat mereka menjauh, Yesus justru mendekati mereka.
Dan bukan hanya mendekati, tetapi Yesus juga berjalan bersama dengan mereka. Tetapi mereka tidak menyadari bahwa itu Yesus. Ada beberapa teori, ada yang bilang bahwa mereka “overwhelm” dengan kekecewaan mereka sampai tidak sadar bahwa itu Yesus. Tetapi bisa juga karena Yesus tidak mau dirinya dikenali terlebih dahulu.
Tetapi apapun itu, ini pelajaran buat kita. Hanya karena kita tidak merasakan, bukan berarti Tuhan tidak hadir. Hanya karena kita tidak merasakan, bukan berarti Tuhan tidak hadir. Hanya karena kita tidak memahami, bukan berhenti Tuhan tidak bekerja.
The absence of awareness is not the absence of God.
Hanya karena kita tidak paham, bukan berarti Tuhan tidak bekerja. Dan kemudian dikatakan di ayat 22. Mereka melanjutkan cerita mereka. Lucu aja kalau saya perhatikan. Waktu saya baca ini, saya ketawa sendiri. Karena mereka menceritakan tentang apa yang Yesus alami kepada Yesus. Lucu kan? kaya orang-orang yang umpamanya begitu ya ceritain. Lu kenal Jeffrey Rachmat ga sih? Tapi dia ngomongya ke saya. Kan lucu.
Supporting Verse – 24:22 Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, 24:23 dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup. 24:24 Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat. Lukas 24:22-24 Tb
Jadi, kedua murid ini tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bahwa tubuh Yesus sudah tidak ada lagi di kuburnya. Mereka dapat informasi dari para wanita yang menjenguk kesitu, bahwa mereka ketemu malaikat yang mengatakan bahwa Yesus sudah bangkit, tetapi mereka belum melihat Yesus sendiri.
Harusnya mereka senang, tetapi Alkitab katakan bahwa dalam perjalanan ini muka mereka murung.
Artinya apa?
Artinya mereka tetap memilih berada dalam kekecewaan. Daripada percaya pemberitaan para malaikat. Karena mereka belum melihat sendiri dengan mata mereka bahwa Yesus hidup. Ayat berikutnya.
Supporting Verse – 24:25 Lalu Ia berkata kepada mereka: “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! 24:26 Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?” 24:27 Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. Lukas 24:25-27 TB
Ini sebetulnya cukup menusuk sih perkataannya. Sebab dikatakan tadi, bahwa dia sendiri yang mengatakan bahwa Yesus adalah Nabi di ayat 19. Tiga ayat ini begitu penting untuk kita mengerti.
Menurut saya, mereka ini gak ngerti, gak fully understanding, tidak mendapat pengertian yang utuh, ibaratnya mereka nonton film, mereka ketinggalan chapter. Maksud saya gimana?
Berapa lama yang lalu, Saya dan istri naik pesawat dan kita duduk bersampingan. Kalau kita naik pesawat duduk ekonomi, kita bisa saling intip apa yang sedang kita tonton. Saya nonton satu film, dan kira-kira selang 15-20 menit, istri saya ternyata nonton film yang sama. Nah, saya masuk di satu adegan di mana jagoannya sudah mulai menang nih, sedangkan saya lihat dia lagi ngelihat dimana jagoannya lagi kalah.
Saya lihat muka dia, lagi serem gitu mukanya. Padahal saya sudah tertawa, karena dia terlambat nontonnya, terlambat chapternya. Kira-kira kayak gini nih, murid-murid ini, kedua murid ini sedang terlambat, terlambat mengerti, slow of heart.
Lamban, Hati yang lamban adalah hati yang lebih cepat percaya keadaan daripada Firman Tuhan.
Hati yang lamban bukannya tidak punya informasi, karena kalau kita lihat, mereka ini punya semua informasi. Tetapi tidak mempunyai apa? Interpretasi yang benar. Karena apa yang ada dalam kepala mereka lebih menguasai daripada apa yang ada di dalam hati mereka.
Dan ini yang seringkali menyebabkan kita mengalami krisis rohani. Perhatikan kata-kata ini.
Lalu, Dia menjelaskan kepada mereka apa yang ditulis tentang Dia.
Lucu kan kata-kata ini, Yesus menjelaskan kepada mereka apa yang ditulis tentang Dia dalam seluruh kitab suci. Dari mulai kitab-kitab Musa, sampai segala kitab nabi-nabi.
Kenapa saya bilang lucu? Diajak Bible Study, saudara.
Coba bayangkan, kenapa enggak lebih gampang Yesus bilang gini, “Ini gue!! Masa dari tadi loe ga tau?!”
Beneran, kan jauh lebih gampang kan? Menunjukkan siapa diriNya kan jauh lebih mudah daripada mengajak Bible Study. Ini yang saya mengerti. Yesus memakai Firman Tuhan, memakai Kitab Suci, memakai kekuatan Firman Tuhan untuk mengubah cara pandang mereka supaya mereka punya iman. Karena Iman datang dari pendengaran akan Firman Tuhan. Supaya mereka punya pegangan yaitu Firman Tuahn dan tidak berjalan dalam penglihatan mereka sendiri.
Karena Yesus sebentar lagi akan pergi meninggalkan mereka, dan kembali menuju kepada Bapa di surga. Dimana, mereka tidak bisa lagi melihat dengan mata. Itu sebabnya iman mereka tidak boleh berdasarkan penglihatan mereka, iman mereka harus berdasarkan sesuatu yang lebih solid yaitu Firman Tuhan yang tertulis.
Itu sebabnya Dia mengajak mereka untuk mempelajari firman Tuhan. Berjalan berdasarkan firman Tuhan, bukan karena apa yang mereka lihat. Yesus ingin mereka mempunyai pengertian yang benar, menurut Firman Tuhan.
Dan bukan hanya punya informasi dan percaya keadaan saja. Tahukah saudara bahwa spiritual flourishing terjadi bukan ketika Tuhan mengubah keadaan, tetapi ketika Tuhan mengubah sudut pandang kita tentang keadaan kita.
Karena dua orang bisa saja berada dalam keadaan yang sama, punya informasi yang sama, tapi kalau cara pandang mereka berbeda, maka keduanya akan bertindak berbeda.
Kenapa perlu Firman Tuhan?
Karena Firman Tuhan adalah dasar dari segala sesuatu. Firman Tuhanlah yang membuat kita punya iman, dan iman itu ibaratnya lift yang membuat kita naik keatas. Sehingga kita tidak melihat situasi kita dengan cara pandang dunia, dengan cara pandang manusia. Tetapi firman Tuhan itu seperti lift yang mengangkat kita sehingga kita punya cara pandangNya Tuhan sekarang terhadap keadaan kita.
itu sebabnya kenapa Yesus tidak menyatakan diriNya secara langsung tetapi Dia lebih suka menggunakan Firman Tuhan untuk menerangkan. Supaya mereka punya iman naik ke tempat yang lebih tinggi.
Supporting Verse – 24:28 Mereka mendekati kampung yang mereka tuju, lalu Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya. 24:29 Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: “Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam.” Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. 24:30 Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. 24:31 Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. 24:32 Kata mereka seorang kepada yang lain: “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?” 24:33 Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu. Mereka sedang berkumpul bersama-sama dengan teman-teman mereka Lukas 24:28-33 TB
Yesus mencoba mengingatkan mereka kembali akan apa yang sudah Dia perbuat sebelumnya. Bayangin, saudara, tamunya hilang tiba-tiba dari pandangan mereka. Dan selanjutnya sudah sampai kesana, balik lagi. Perhatikan, dari hati yang lamban, slow of heart, tetapi karena mereka sekarang mengerti tentang Firman Tuhan, terbuka matanya tentang Firman Tuhan, berubah perspektif mereka, dari hati yang lamban, sekarang hati mereka berkobar-kobar.
Dari menjauhi Yerusalem, tempat dimana harapan mereka hancur, setelah perspektif mereka diperbaharui. Setelah mereka tidak melihat keadaan mereka dari sudut pandang manusia, tetapi mereka naik keatas, mulai mengerti firman Tuhan, dan melihat situasi dari sudut pandang Tuhan, mereka kembali ke mana? Mereka kembali ke Yerusalem.
Mereka kembali ke komunitas mereka. Dan inilah yang sebenarnya dibutuhkan oleh seseorang yang sedang mengalami krisis rohani. Ini yang mereka butuhkan. Pewahyuan dari firman Tuhan tentang keadaan yang sedang mereka hadapi. Itu saja yang mereka perlukan.
Sehingga mereka tadinya meninggal dari Yerusalem karena kecewa, sekarang mereka balik lagi. Mereka balik dengan pengharapan. Meskipun, keadaannya belum berunah. Kerajaan Romawi masih memerintah mereka, tetapi apa yang berubah?
Pengertian mereka, sudut pandang mereka, dan point of view mereka yang berubah, mereka tidak jalan berdasarkan mata mereka, apa yang mereka lihat, tapi sekarang mereka punya Firman Tuhan yang bisa mereka pegang.
Makanya saya katakan, Tuhan lebih tertarik untuk mengubah kita daripada mengubah keadaan kita.
Closing Verse – Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar. 2 Korintus 3:18 TB
Kayanya kita salah doa, kita seringkali berdoa sama Tuhan seperti ini.
“Tuhan ubahkan”, “Ubahkan Tuhan keadaan kami, “Tuhan ubahkan keadaan ekonomi”, “Tuhan ubahkan suamiku”, “Tuhan ubahkan istriku”, “Tuhan ubahkan waktu aku”, “Tuhan ubahkan bosku”, Tuhan ubahkan, kita minta Tuhan mengubah yang lain kecuali mengubah kita. I am guilty, saya-pun juga sering begitu.
Tapi sekarang saya mengerti bahwa Tuhan lebih senang mengubah kita daripada mengubah keadaan kita. Dan Dia mau kita punya pegangan yaitu Firman Tuhan. Jadi, Flourishing bukan berarti kita tidak pernah mengalami krisis, Flourishing dimulai ketika kita tetap memegang Firman Tuhan. Apa yang Firman Tuhan katakan meskipun kita belum mengerti apa yang kita lihat.
Flourishing adalah ketika krisis yang seharusnya membuat kita menjauh dari Tuhan, justru membawa kita mengenal Tuhan lebih dalam lagi. Jadi, saudara-saudara yang sedang mengalami krisis, jangan langsung menyimpulkan bahwa Tuhan meninggalkan kita.
Bawa kekecewaan saudara kepada Tuhan, atau jujur kepada orang-orang di sekitar, orang-orang beriman yang ada di sekitar saudara, dan kembalilah kepada Firman. Minta supaya Tuhan adjust kita punya sudut pandang.
Daripada kita berdoa, mengeluh bilang, “Tuhan, kok begini? Tuhan, where are you?
Daripada kita berdoa seperti itu, mending kita katakan begini, “Lord, buka mataku supaya aku bisa melihat, Let me see the way you see it. Ijinkan aku melihat seperti Engkau melihat”.
I think that is a better prayer. Ketahuilah ketika Tuhan terasa jauh, Dia sebenarnya lebih dekat dari apa yang kita sadari. Open my eyes to see that you are here with me. Jadi menurut saya, kita tidak salah dalam mengambil tema besar flourish, justru disitulah bukti bahwa Tuhan menyertai kita pada saat keadaan yang kata orang kurang baik. Disitulah kita bisa membuat perbedaan kalau kita bisa tetap flourish. Justru disaat kegelapan semakin pekat, maka terang akan semakin bersinar. Saya harap ini memberkati saudara semua hari ini.
Ps: Hi friends! If this blog has blessed you, you can support us below. Thank you, and God bless! Link: https://saweria.co/316notes



