JPCC Sutera Hall 2nd Service (23 August 2026)
Kita akan melanjutkan, ini adalah bagian keempat dari series pengajaran yang kita berikan judul “Resilience in Crisis“. Tadi Ps. Ivan sempat bertanya apakahs sudara semua diberkati dan jawabannya sangat positif. Suatu hal yang baik, karena Tim kami bekerja keras untuk tidak hanya menghibur lewat sermon, tetapi justru berguna untuk hidup saudara dan juga memuliakan Tuhan, membawa kita masuk dalam Rencana Tuhan.
Bagian keempat ini, kami beri judul “You are not alone“. Tahun lalu, tahun 2025, World Organization, WHO, bagian Commission on Social Connection, mengeluarkan laporan global yang menyatakan bahwa sekitar satu dari enam individu di dunia kita, Satu dari setiap individu terpapar oleh loneliness, rasa kesepian, one out of six, di dunia ini.
Nah, hal ini membawa dampak besar terhadap kesehatan dan kesejahteraan manusia. Secara estimasi, rasa kesepian ini, loneliness, dikaitkan dengan sekitar 100 kematian setiap jam di dunia ini. 100 kematian, ada kaitannya juga dengan loneliness. Jadi, kalau dihitung-hitung, ada total sekitar 871.000 kematian per tahun.
Jadi kesepian dinyatakan sebagai sebuah ancaman kesehatan global oleh WHO, sebuah krisis. Karena hal tersebut membawa dampak fisiologis, daya tahan tubuh menurun, metabolisme kita kacau, penurunan kognitif dan lainnya.
Bahkan sebenarnya 20 tahun lalu, para psikolog di awal tahun 2000-an menyatakan bahwa dunia memasuki sebuah wabah kesepian atau “loneliness epidemic”, itu prediksi 20 tahun lalu.
Dalam konteks lokal, di sini ada sebuah survei yang dilakukan oleh Health Collaborative Center Indonesia. Survei ini dari 3 tahun yang lalu, 2023, yang menyatakan bahwa 50% warga DKI Jakarta mengalami kesepian, sekitar 44% mengalami kesepian derajat sedang atau moderate loneliness, dan sekitar 6% mengalami kesepian derajat berat atau “deep loneliness”.
Ini bisa dibayangkan kalau DKI Jakarta sekitar 12 juta orang, dan ada 6 juta orang yang mengalami kesepian, banyak sekali. Ini suatu hal yang ganjil karena sebagai orang Indonesia, kita menjunjung tinggi nilai komunitas.
Kita biasa dekat dengan saudara, keluarga, kerabat, dibandingkan banyak budaya-budaya barat. Kita di tengah keramaian dan selalu ada dekat dengan orang lain.
Bahkan, ada orang-orang yang mungkin sudah tertanam di JPCC, di gereja lokal masing-masing, di komsel atau DATe mungkin, bisa aja tetapi merasa kesepian, merasa lonely. Punya koneksi banyak, punya relasi banyak tetapi merasa kesepian.
Jadi, kita bisa simpulkan bahwa koneksi tidak sama dengan intimacy. Punya koneksi tidak sama dengan punya hubungan yang intim atau dekat.
Dan hanya karena seseorang punya banyak relasi, bukan berarti dia punya hubungan-hubungan yang dia merasa aman dan bisa dipercaya.
Nah karena intimacy bukan sekedar koneksi. Intimacy is about about someone else seeing and knowing you for who you truly are.
Keintiman adalah tentang orang melihat diri kita apa adanya, yang baik ataupun yang buruk. Dan kita mengijinkan orang lain untuk melihat dan mengenal kita sesungguhnya.
Dari perspektif Alkitab, Manusia tidak diciptakan untuk seorang diri saja. Manusia adalah mahluk relasional. Manusia diciptakan untuk diterima, untuk dihargai, untuk dihormati, dan untuk dikasihi oleh orang lain. Dan tidak hanya menjadi penerima, tetapi juga memberi, menerima, menghormatu dan menghargai orang lain.
Manusia diciptakan sebagai penerima dan pemberi. Dan hubungan pertama yang Allah berikan kepada manusia pertama, Adam adalah hubungan dengan istrinya, Hawa, seorang manusia lain, manusia lain yang berbeda dengan dia, yang bisa melihat, menerima, menghargai, menghormati, dan mengasihi Adam apa adanya.
Itu sebabnya Alkitab menulis “mereka telanjang”, telanjang itu tidak hanya bicara soal fisik saja, tetapi juga telanjang soal relasional dan emosional, mereka punya keintiman.
Opening Verse – [25] Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu. Kejadian 2:25 TB
Tetapi karena dosa di Kejadian 2 dan 3, yang terjadi antara 2 orang yang tadinya begitu dekat dan mengenal satu sama lain, mereka saling menyalahkan dan bahkan saling mencurigai, dan juga sampai menyakiti satu sama lain. Yang terjadi adalah yang tadinya mereka dekat dan intim satu sama lain, mereka menjadi “isolated” dari satu sama lain. Mereka terisolasi dari satu sama lain.
Dan Alkitab menceritakan bahwa mereka berdua merasa malu. Mereka harus menutupi. Dan mereka mencari akal, mereka ada di taman eden, dan selanjutnya mengambil daun untuk menutupi dirinya sendiri, rasa malu mereka. Seolah-olah mereka berusaha menutupi kesalahan dan dosa mereka dengan upaya mereka sendiri.
Dan yang luar biasa adalah Alkitab mencatat (paraphrase saya), bahwa Allah berkata “Jangan menutupi dengan ide kamu yang brilian itu, Tapi Tuhan menyembelih binatang dan menutupi rasa manusia dengan kulit binatang”.
Untuk menyatakan bahwa untuk menutupi rasa malu manusia, diperlukan pertumpahan darah, darah yang dicurahkan, sebuah korban. Dan Tuhan mulai menyatakan sebuah janji, bahwa ada seorang Juru selamat yang akan datang untuk menuntaskan dosa dan juga rasa malu mereka.
Dan kita mendalami pengharapan ini dengan membaca sebuah kisah yang sangat dikenal dalam catatan Injil Markus.
Supporting Verse – [21] Sesudah Yesus dan murid-murid-Nya menyeberang dan tiba di sebelah barat danau Galilea, banyak orang datang mengelilingi Dia di pinggir danau. [22] Seorang pemimpin rumah pertemuan orang Yahudi yang bernama Yairus juga datang. Waktu melihat Yesus, dia langsung berlutut di kaki-Nya [23] dan memohon dengan sungguh-sungguh, “Tuhan, anak perempuan saya yang masih kecil sakit parah dan hampir mati. Tolong datanglah ke rumah saya dan sentuhlah dia supaya dia sembuh dan tidak mati.” [24] Lalu Yesus dan murid-murid-Nya pergi bersamanya. Dalam perjalanan, banyak orang mengikuti mereka bahkan sampai berdesakan di sekeliling Yesus. [25] Di antara kerumunan itu, ada seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita sakit pendarahan. Markus 5:21-25 TSI
Jadi, Skenarionya ada seorang pemimpin Yahudi, namanya Yairus. Anaknya sakit sebegitu parahnya sampai sudah mau mati, dan dia sudah desperate dan bingung harus apa. Dia datang kepada Yesus dan dia berlutut di depan Yesus karena dia yakin Yesus bisa menyembuhkan anaknya.
Dia bilang, “Yesus, tolong datang ke rumah saya, please touch my chilld”. Yesus melihat itu dan tentu Dia mengiyakan. Mereka mulai berangkat ke rumahnya Yairus, dan Yesus tidak bepergian sendirian tentunya.
Saat Yairus melakukan itu, tentu cukup dramatis dan di hadapan banyak orang, dan saat Yesus memutuskan untuk pergi, semuanya mendengar. Semua tahu bahwa Yesus akan melakukan sebuah mukjizat. Yesus akan menyembuhkan anaknya.
Jadi karena saat itu merupakan suatu yang spektakuler, mereka mau melihat bagaimanas Yesus menyembuhkan anaknya yang sudah mau mati dan berbondong-bondong ingin menyaksikannya.
Dan saya yakin Yairus juga tidak akan “nyantai” jalannya, Yairus pasti, “Let’s go, let’s go, please, bantu anak saya!” Dia pasti terburu-buru dan lari menuju rumahnya Yairus, kita baca ayat berikutnya.
Supporting Verse – [25] Di antara kerumunan itu, ada seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita sakit pendarahan. Markus 5: 25 TSI
Jadi, di tengah “crowd” ini ternyata ada seorang wanita yang sedang menderita. Nah konteks sedikit saudara, bahwa ada aturan yang diberikan pada bangsa Israel mengenai perempuan yang menderita sakit pendarahan.
Ada hukumnya yang diberikan pada bangsa Israel. Kita tidak akan mendalami kenapa aturan ini diberikan, tapi intinya adalah ini supaya mereka menjaga kekudusan saat mereka menyembah Tuhan.
Supporting Verse – [25] “Ketika seorang perempuan mengalami pendarahan dalam waktu lama yang bukan pada masa haidnya, atau jika pendarahannya berlanjut sesudah masa haidnya berakhir, dia tetap najis selama pendarahan itu, sama seperti pada saat haid. [26] Setiap tempat tidur di mana dia berbaring dan benda apa pun yang dia duduki selama pendarahan menjadi najis, sama seperti saat dia sedang haid. [27] Siapa pun yang menyentuh benda-benda itu harus mencuci pakaiannya lalu mandi, dan dia menjadi najis sampai matahari terbenam. [28] “Setelah pendarahan itu berhenti, dia harus menunggu tujuh hari, sesudah itu barulah dia tidak najis lagi. [29] Besoknya, yaitu hari yang kedelapan, dia harus membawa dua ekor burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati kepada imam di depan kemah-Ku. [30] Imam akan mempersembahkan yang seekor untuk kurban penghapus dosa, dan yang lainnya untuk kurban yang dibakar habis. Dengan demikian imam memulihkan hubungan perempuan itu dengan-Ku. Imamat 15:25-30 TSI
Nah, bayangkan saudara akan aturan ini, timeframenya tidak mudah saat seseorang mengalami itu. Tetapi wanita yang ada di kerumunan itu sudah mengalaminya selama 12 tahun. Dia tidak bisa bertemu dengan orang-orang, komunitas yang semuanya pada saat itu menganut agama yahudi.
Dia gak bisa ngumpul. Dia gak bisa dekat dengan siapapun. Karena siapapun dekat sama dia juga akan menjadi “najis”. Keluarga dan seisi rumahnya juga menjadi “najis”. Tidak bisa beribadah, dekat dengan Tuhan. Dan banyak ahli Alkitab menyatakan bahwa penderitaan yang dialami oleh wanita dengan penyakit pendarahan hampir setara dengan penderita kusta.
Kusta nomor satu, dan ini nomor dua urutannya. Dikucilkan dan dijauhi oleh masyarakat. Sakit berdasarkan kondisi fisiknya. Tapi kita bisa bayangkan kondisi mental dan emosionalnya. Dia tidak punya pilhan dan tidak bisa mendekat ke masyarakat. Ini konteks sedikit ya, Kita kembali ke wanita ini.
Supporting Verse – [26] Dia sudah menghabiskan semua uangnya untuk berobat ke banyak dokter, tetapi mereka tidak mampu menyembuhkannya. Segala pengobatan itu membuat dia tersiksa. Namun penyakitnya tidak membaik dan malah semakin parah. Markus 5:26 TSI
Uang habis. Semua ahli tidak bisa bantu. Saya pikir, it’s safe to assume, bahwa Dia sudah tidak memikirkan alasan untuk hidup lagi. Bisa jadi, saudara… lonely and isolated dari semuanya.
Supporting Verse – [27] Perempuan itu sudah mendengar tentang Yesus. Jadi dia mengikuti-Nya dari belakang di tengah orang banyak dan menyentuh jubah Yesus, [28] karena pikirnya, “Kalau aku menyentuh ujung jubah-Nya saja, aku pasti sembuh.” [29] Sewaktu dia melakukannya, pendarahannya langsung berhenti dan dia merasakan bahwa tubuhnya tidak sakit lagi. Markus 5:27-29 TSI
Dia mendengar kabar tentang Yesus. Saat itu dia tidak punya Alkitab, saudara. Tidak ada nama Yesus yang disebut dalam pengajaran-pengajaran agama. Tidak ada nama Yesus yang ditulis di literatur buku dan lain-lain, Tidak ada, saudara. Saat itu dia cuman dengar, “Oh ya, ada yang namanya Yesus ya? Oh, katanya Dia bisa menyembuhkan? Banyak orang sakit dibawa ke Dia dan disembuhkan”.
Itu yang dia dengar. Dan dia pikir, I’ve tried everything. Mungkin dia juga dengar, “Free of Charge!”. Karena uangnya sudah habis, dia tidak punya uang dan tidak punya teman, dan dia juga sudah tidak punya harapan. Untuk dia keluar saja dan bergaul dengan orang di sekelilingnya, banyak orang yang bersentuhan dengan dirinya akan menjadi “najis”. Sungguh sebuah resiko besar untuk perempuan itu karena bila ketahuan, dia akan dirajam mati. So, last hope untuk Dia test apakah ini benar atau tidak. It’s either “healed or die” untuk dia.
Supporting Verse – [30] Saat itu juga Yesus mengetahui bahwa ada kekuatan yang keluar dari diri-Nya. Jadi Dia berbalik dan bertanya kepada orang banyak itu, “Siapa yang baru saja menyentuh jubah-Ku?” [31] Murid-murid-Nya menjawab, “Guru, Engkau melihat sendiri, begitu banyak orang yang berdesak-desakan di dekat-Mu. Tentu saja banyak orang yang tidak sengaja menyentuh jubah-Mu!” [32] Tetapi Yesus terus melihat sekeliling untuk mencari orang yang sudah menyentuh jubah-Nya.” Markus 5:30-32 TSI
Saudara, bayangkan skenario ini. Jangan lupa bahwa ini adalah cerita Yairus, yang anaknya sudah mau mati. Dan saat sudah terburu-buru dan di tengah itu, Yesus tiba-tiba berhenti dan menanyakan akan siapa yang menyentuh JubahNya. Ada satu sentuhan yang berbeda, ini tentunya bagian “paraphrase” saya. Karena mungkin yang berbondong-bondong mengikuti ya itu sedang mengejar sebuah “story”, ibaratnya sedang mengejar “reels”.
Tetapi ada satu yang mengharapkan, yang berharap, yang seluruh hidupnya bergantung kepadaKu. Only one. Yairus mulai panik karena waktunya terbuang. Sementara Yesus ingin berhenti dan mencari orang yang beriman kepadaNya.
Menurut saya, Yesus sebenarnya tahu. Ini ditulis untuk kita baca, dia mencari orang, dia mencari orang yang berharap kepadaNya.
Supporting Verse – [33] Saat menyadari bahwa dirinya sudah sembuh, perempuan itu pun bersujud di kaki Yesus dengan gemetar dan takut, lalu menceritakan apa yang sudah dia lakukan. [34] Maka Yesus berkata kepadanya, “Karena kamu percaya penuh kepada-Ku, kamu sudah sembuh. Sekarang pulanglah dengan hati tenang, karena kamu benar-benar sudah sembuh dari penyakitmu.” Markus 5:30-34 TSI
Yesus tidak bilang gini, “Karena kamu menyentuh jubahKu yang ajaib, Karena kamu ikut “conference-ku”, Dia tidak bilang, “Karena kamu didoain sama pastor yang sangat diurapi”. Dia tidak bilang, “Karena kamu, Wah kamu berani ya, Kamu ambil risiko”, fokusnya bukan disitu, saudara.
Dan saya bersyukur, Yesus tidak bilang, “Karena kamu memenuhi KPI kamu, sudah mendekat kepadaKu sesuai SOP yang ada, menerapkan langkah-langkah formal dan prinsip dll”.
No, Yesus bilang, “Karena kamu percaya penuh kepada-Ku“
Kamu percaya penuh, bukan dengan hal-hal lain, metode dan sebagainya. Karena kamu percaya penuh, I am your answer. Dan Yesus bilang, sekarang kamu pulang. Bukan dengan kesaksian yang luar biasa. Dia bilang, sekarang kamu pulang dengan hati tenang.
Yesus tahu yang dicari wanita ini. Tentu saja, dia mau sembuh dari isu fisiknya dia. Tetapi Yesus katakan bahwa “You go home dengan hati yang tenang”.
Kenapa?
Karena penderitaanmu yang tidak dilihat, kamu dikucilkan oleh orang lain, Yesus melihatnya.
See, Ini poin kita hari ini.
Jesus is the hope and answer for every lonely soul.
Yesus adalah harapan dan jawaban untuk setiap jiwa yang merasa kesepian. Tidak ada yang melihat aku, tidak ada yang mau melihat aku. Untuk orangnya, untuk perempuan ini, tidak ada yang mau lihat, bersentuhan, tidak ada yang mau dengan aku.
Yesus stop, berbalik, mana dia? Mana? Enggak ada yang melihat, “Dimana Tuhan, tidak ada siapa-siapa disini?”.
“Ada”, kata Yesus. Dia melihat, saudara.
Supporting Verse – [34] Maka kata-Nya kepada perempuan itu: ”Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!” Markus 5:34 TB
Yesus berbalik dan dia berkata, anak-Ku.
Bahasa Inggrisnya Yesus sebut, “Daughter”. Yesus tidak menyebutnya, “Hai, Pendosa, atau Hai, Perempuan Najis”. Yesus, the first thing yang Dia lakukan, dia cabut label wanita sakit pendarahan, dia cabut label najis, dia pasang label “anak”.
Saya pernah dengar orang tua yang protektif yang dia bilang, “don’t mess with my kid”. Dia mau semua orang tahu disitu.
“Eh, ini reputasinya dulu najis ya? Semua dengar ya? “Daughter, My Daughter, Anak-Ku.”
Labelnya dicabut, dan diganti yang baru, pulang dengan tenang. Melalui karya Yesus, Allah menjawab kebutuhan relasi dalam jiwa manusia, dengan memberikan identitas baru, sebagai “anak-anak Allah”.
Karena Dia tahu itu yang dibutuhkan oleh banyak orang lonely, orang yang kesepian, merasa tidak dimengerti dan tidak dilihat. Takut kalau mereka tahu tentang ini, tidak ada yang mau temenan sama aku. Kalau mereka tahu soal kelemahan ini, kalau mereka tahu gue berasal dari mana, kalau mereka tahu aku gagal, tidak ada yang mau temenan.
Kalau mereka lihat, barang gue cuma segini doang, kalau mereka tahu prestasi saya hanya segini saja, atau tidak ada apa-apanya, Jika mereka tahu ini dan mereka tahu itu, tidak ada orang yang akan mau temenan sama saya. Kepada orang-orang seperti itu, Yesus menyatakan, “anak-Ku, sang daughter”, dan yang bisa melakukannya hanya Yesus, nobody else.
Beberapa tahun setelah kejadian ini, Rasul Paulus yang menulis begitu banyak surat di perjalanan baru. Hidupnya begitu drastis diubahkan oleh Tuhan. Dan dia menuliskan instruksi kepada orang-orang percaya di gereja dan jemaat Efesus.
Supporting Verse – [13] Tetapi walaupun dulu kalian sangat jauh dari Allah, sekarang kalian sudah dibawa dekat kepada-Nya karena kalian bersatu dengan Kristus Yesus dan sudah disucikan melalui kurban darah-Nya. Efesus 2:13 TSI
Paulus ingetin mereka, Yesus yang sudah mati untuk dosa-dosa kita dan bangkit lagi saat kita percaya kepada Dia. Kita diberi identitas-identitas yang baru, kita yang najis, berdosa, jauh dari Allah, dibawa dekat kepada Dia. Saat kita percaya penuh kepada Dia, menaruh harapan dalam Yesus. Kita diangkat menjadi anak-anak Allah. He is the hope and answer for every lonely soul.
Supporting Verse – [1] Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih [2] dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah. Efesus 5:1-2 TB
Jadi Paulus berkata, karena kamu sudah didekatkan, jangan seolah-lah kamu Masih jauh, jangan takut, merasa kamu akan kekurangan, ditinggalkan, tetapi sama seperti Yesus lakukan ini untuk kamu, kamu juga bisa melakukannya untuk orang lain.
Bahasa Inggris di ayatnya yang sama. Dikatakan seperti ini.
Supporting Verse – [1] Therefore be imitators of God, as beloved children; [2] and walk in love, just as Christ also loved you and gave Himself up for us, an offering and a sacrifice to God as a fragrant aroma. Ephesians 5:1-2 NASB1995
Dikatakan, walk in love just as Christ also loved you. Imitators, tiru dia. Saudara, sekarang Yesus sudah kita kenal dalam bentuk manusia, orang bisa tahu, “oh Tuhan tuh gitu toh, bisa ditiru”. Yesus “urgent” mau melakukan sesuatu, tapi hanya untuk satu, Dia mau berhenti, saudara.
Terkadang mungkin anak-anak Tuhan yang hidup di kota yang sibuk semua, sudah begitu efisien, dan semuanya sudah ter-schedule. Dan terkadang ada seorang yang minta tolong, “waduh… keep going”.
Tapi kadang ada orang-orang yang Tuhan taruh dalam perjalanan hidup kita yang mungkin akan membuat kita “Ah, karena kita mau meniru Kasih yang Tuhan tunjukkan kepada kita, meniru cara mengasihiNya untuk orang lain.”
Di JPCC dan harapannya di semua rumah Tuhan, kita mau membangun budaya dimana semua manusia akan menemukan jawaban dari kerinduan hati mereka dalam Yesus. Tetapi untuk ini bisa terjadi, kita harus belajar bagaimana caranya untuk menerima dan memberi pertolongan kepada satu dengan yang lain, meniru bagaimana cara Tuhan mengasihi.
Beberapa poin saja untuk kita semua. Tujuan utamanya, adalah rumah Tuhan dimana hadiratNya berada dan dimana firman Tuhan diberitakan. Kita mau menciptakan tempat yang aman. Kita mau membangun sebuah tempat yang aman buat semua orang. Create a safe place.
Supaya siapapun yang punya masalah, siapapun yang mungkin merasa malu dalam hidupnya, you feel safe. Karena saudara hanya akan mau terbuka dan rentang kalau lingkungan saudara aman. Dan kalau kita mau membagikan Kasih Yesus, kita harus menciptakan sebuah tempat yang aman ntuk orang-orang yang sedang mengalami sakit, kesepian.
Prinsipnya adalah “help the person before solving the problem“.
Bantu pribadinya sebelum menyelesaikan masalahnya. Kita harus memisahkan antara the person and the problem, kita harus memisahkan antara ini pribadinya, ini masalahnya, masing-masing ini perlu penanganan yang berbeda. Karena begini, the person needs Jesus, setiap pribadi perlu Yesus. Setiap masalah, the problem needs a solution.
Setiap pribadi perlu Yesus, dan setiap masalah harus ada solusi. Tetapi ini adalah 2 hal yang berbeda. Dan kita harus membantu pribadinya sebelum menyelesaikan masalahnya.
Seringkali kita, meskipun dengan niat yang baik, kita terlalu cepat mau fix the problem, solve the problem, tetapi kita gak bantu pribadinya ini untuk berharap kepada Yesus. Inilah yang harus menjadi fokus kita, saudara.
Karena sesungguhnya yang dibutuhkan pribadinya adalah Yesus. Mengarahkan seorang kepada Yesus bukan berarti doain aja. Bukan begitu, saudara. Mengarahkan seorang kepada Yesus adalah memperkenalkan dia kepada pribadi responnya Yesus terhadap situasi yang dia alami.
Contoh seperti ini. Prioritas kita adalah untuk kita hadir, Untuk kita mendengarkan, Untuk kita menerima, Menemani, Berjalan bersama, Mengingatkan akan Anugerah dan cinta Kasih Tuhan, Mengarahkan penrharapan kepada Yesus dan FirmanNya.
Dan ini artinya kita help the person. Setiap krisis dan masalah adalah kesempatan untuk seseorang bisa mengalami Tuhan. Jadi kita setiap ada masalah dan krisis, kita harus ganti cara kita melihatnya. It’s an opportunity untuk seseorang bisa mengalami Tuhan, kembali ingat sama Tuhan, berharap, dan mendekat sama Tuhan, itu gunanya.
Nah, Kalau bicara solusi, banyak solusi di luar. Tetapi untuk memperkenalkan seorang kepada Yesus, hanya anak-anak Tuhan yang bisa.
Mau cari solusi, informasi, kirim seminar, workshop, framework, semuanya bisa bantu dia. Tetapi untuk seorang bisa kenal Tuhan, That is up to us di tempat ini. Masalah akan tetapi bisa dicari solusinya, tapi solusi hanya akan efektif kalau pribadinya juga kuat dalam Tuhan.
Saya kasih contoh, Let’s say, saudara, ada seorang yang terjerat dengan Hutang. Nah, Solusi untuk hutang ini, banyak saudara bisa bantu. Harus perhatikan soal expense, pemasukannya, gaya hidupnya, dan lain-lain. Saudara bisa check di debt structuring, ada cicilan, dan lain sebagainya, saudara bisa bantu dia cari solusinya.
Tapi kalau pribadinya masih mengandalkan lifestyle, materi, untuk validasi dirinya, siklusnya akan terulang lagi. Dia akan terus jatuh dalam masalah yang sama. Yang dia butuhkan adalah untuk tahu bahwa apapun status finansial dia, bahwa punya apa atau tidak, dia tetap berharga di mata Tuhan. That’s helping the person. Dan gereja harus mahir dalam melakukan ini, bukan menggabaikan problemnya dia. Tetapi kita harus tahu akarnya disini dulu, saudara.
Contoh soal pernikahan. Kadang orang mencari solusinya. Solusinya adalah, “Oh, kamu kurang “Date Night” berdua, Oh, kamu harus belajar komunikasi, Oh, kamu harus belajar A, B, C, dan teknik lainnya.”
Semua itu baik, saudara, tetapi kalau hati mereka masih belum kenal bahwa Tuhan mengampuni mereka dan bahwa Yesus menerima mereka, sulit untuk mereka mengampuni pasangannya.
Solusi untuk setiap manusia itu Yesus. Harapan dan jawaban itu Yesus, solusinya praktis yang lain-lain bisa kita bantu. Mungkin Tuhan-pun bisa lakukan mukjizat untuknya.
The person yang Yesus bantu adalah seorang wanita yang kesepian, isolated, dan problem dia adalah sakit pendarahan, tetapi karena Yesus adalah Yesus, langsung saja sepaket. But You and I are not Yesus.
Tetapi Paulus mengajarkan, Belajar mengasihi sama seperti Yesus mengasihi kita. Let’s create a safe place. Because the person needs Jesus. The problem needs a solution, and Jesus is the hope and answer for every lonely soul.
Ps: Hi friends! If this blog has blessed you, you can support us below. Thank you, and God bless! Link: https://saweria.co/316notes



