JPCC Sutera Hall 2nd Service (6 September 2026)
Shalom saudara, Apa kabarnya? Semoga saudara berada dalam keadaan baik dan sehat. Puji Tuhan sebelum saudara duduk, mungkin bisa bilang kiri dan kanannya, “Senang bisa duduk di sebelah anda”.
Saya ingin menyambut juga saudara semua yang bergabung mengikuti ibadah ini secara online. Saya berdoa dimanapun saudara berada, saudara diberkati dan tahu bahwa Tuhan mengasihi saudara. Nah, seperti yang tadi dikatakan, bulan ini kita akan belajar banyak tentang “Keluarga“.
Wah, belum apa-apa. Sudah sampai bulan September ya, Saudara. Selamat datang di minggu pertama bulan September. Bulan yang ke-9. Sebentar lagi sudah mau siap-siap pasang pohon natal yah. Wah, waktu berlalu begitu cepat.
But, bulan ini, sekali lagi kita akan sama-sama belajar banyak tentang keluarga. Seri pembelajaran ini menjadi sangat penting karena sadar atau tidak sadar, bahkan suka atau tidak suka, kita semua adalah bagian dari sebuah keluarga, benar saudara? Baik itu bentuknya keluarga kandung, keluarga angkat, ataupun keluarga rohani seperti di gereja, seperti ini.
Tapi kita semua bahkan dilahirkan ke dalam sebuah keluarga. Nah, pesan firman Tuhan hari ini, di semua kampus di JPCC, kami beri judul yang sama dengan judul dari seri pembelajaran di sepanjang bulan ini yaitu “At The Table“, di meja makan biasanya, yang menjadi gambaran dari apa yang kita akan pelajari bersama-sama.
Tetapi pertanyaannya adalah, why? Mengapa “at the table”?
Kenapa waktu kita berbicara tentang keluarga, belajar tentang kehidupan berkeluarga, kita melihat apa yang terjadi di sebuah meja makan. Karena suka atau tidak suka, sadar atau tidak sadar, seringkali apa yang terjadi di meja makan rumah tangga kita juga menggambarkan atau bisa menggambarkan dinamika atau kondisi keluarga kita.
Baik itu kita sebagai suami istri atau pasangan, sebagai ayah, ibu, sebagai orang tua, atau kakak, adik, sebagai saudara di dalam sebuah keluarga, atau juga sebagai anak.
Seringkali apa yang terjadi di meja makan, makanya di atas panggung ini sekarang ada meja makan. Ada yang lapar, saudara?
Tetapi seringkali apa yang terjadi di meja makan benar-benar bisa menggambarkan dinamika atau kondisi keluarga kita. Siapa yang kita undang untuk ikut duduk di meja makan rumah kita? Atau dengan siapa biasanya kita berkumpul di meja makan rumah kita? Atau bahkan pertanyaannya mungkin pertama-tama adalah berkumpul atau enggak?
Karena ada yang membiasakan budaya di dalam keluarganya kalau makan bersama kita kumpul di meja makan ya. Tapi ada juga yang mak dalam waktu yang berbeda-beda dan masing-masing. Ada yang berkata bahwa kalau di meja makan kita jarang berkumpul atau jarang ngobrol, bisa jadi memang di dalam kehidupan berkeluarga kita juga jarang berkumpul atau jarang ngobrol satu sama lain.
Sadar atau enggak sadar?
Siapa yang biasanya kalau kita sebagai seorang anak gitu ya, sudah berani mengundang pacar kita gitu untuk datang ke acara atau ritual makan bersama dengan keluarga kita, biasanya itu hubungannya sudah lebih serius. Sudah langsung mulai memperkenalkan dan seterusnya.
Tetapi apa yang terjadi di meja makan memang seringkali menggambarkan kondisi atau dinamika dari keluarga tersebut. Kita ngobrol atau tidak di meja makan. Ada yang memang kalau makan, yuk kalau makan, semuanya kumpul di meja. Tetapi di meja tidak ngobrol. Masing-masing sibuk dengan HP-nya. Masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri.
Tahukah saudara bahwa keluarga bukan hanya tentang siapa yang tinggal serumah dengan kita. Tetapi keluarga adalah tentang bagaimana kita bisa belajar membangun hubungan yang sehat.
Keluarga adalah tentang bagaimana kita bisa memuridkan generasi bahkan di dalam keluarga tersebut. Bahkan juga di dalam keluarga kita bisa menghadirkan Kasih Kristus di tengah-tengah setiap hubungan yang Tuhan percayakan kepada kita.
Keluarga yang kuat tidak hanya dibangun melalui komunikasi saja, atau bahkan melalui teknik parenting yang hebat, tetapi keluarga yang sehat adalah keluarga yang memilih untuk berkumpul di meja yang tepat.
Meja seperti apa yang tepat?
Meja di mana Allah menjadi tuan rumah atas keluarga tersebut. Meja dimana tempat firmanNya membentuk setiap percakapan yang ada di dalam setiap hubungan di dalam keluarga tersebut. Tempat dimana kasih karuniaNya memulihkan hubungannya. Tempat dimana kerajaanNya bahkan dinantikan.
Kalau kita pelajari bahkan di Alkitab, kita akan dapat melihat bahwa Allah seringkali membentuk umatNya di sekeliling meja makan. Ada begitu banyak pelayanan-pelayanan penting dari Yesus terjadi di seputar meja makan.
Seperti mungkin yang terjadi di rumah Martha dan Maria. Atau yang terjadi di rumah Zakheus yang kemudian bertobat, berubah kehidupannya 180 derajat setelah makan bersama Yesus. Perhatikan dong, bukan setelah dengar kotbah Yesus, bukan. Tetapi setelah dia merasa bahwa Yesus mau makan sama dia, bercakap-cakap dengan Yesus, lalu kehidupannya berubah total. Dia langsung mau menyerahkan harta kekayaannya kepada orang-orang yang memerlukan dan juga bahkan mengembalikan kalau ada yang pernah dia tipu untuk mengembalikan sampai berkali-kali lipat.
Belum lagi kalau kita sampai kepada “The last supper”. Perjamuan makan malam yang terakhir dimana akhirnya itu menjadi kebiasaan yang dilakukan oleh kita semua sebagai gereja, sebagai orang percaya. Dimana tubuh Yesus dipecah-pecahkan melalui roti yang kita pecah-pecahkan dan makan bersama dan juga anggur yang kita minum sebagai lambang Persekutuan dengan darah Yesus.
Semuanya dimulai dari perjamuan makan malam terakhir antara Yesus dengan murid-muridNya sebagai peringatan akan Dia. Bahwa kita bersekutu dengan Dia. Kita berasal dari keluarga kerajaan Allah. Lalu kalau saudara ingat, minggu lalu kita juga belajar tentang murid-murid yang berjalan pergi menuju Emmaus. Mereka disadarkan dan mengalami pewahyuan setelah mereka makan bersama dengan Yesus.
Kita dapat melihat bahkan mulai dari Taman Eden sampai ke perjamuan kawin anak domba yang kita temukan di dalam Kitab Wahyu. Kitab terakhir di dalam Alkitab. Meja seringkali menjadi gambaran tentang hubungan, Hubungan yang dibangun. Pemuridan yang terjadi. Ada dinamika di mana kita belajar dan menjadi teladan bagi satu sama lain.
Gambaran tentang rekonsiliasi yang mungkin diperlukan terjadi di dalam hubungan kita antara satu dengan yang lain, apalagi di dalam keluarga. Tempat dimana kita belajar untuk bermurah hati dan saling mengampuni satu sama lain.
Meja juga adalah gambaran tentang nilai yang kita yakini. Bukan hanya diyakini, tapi kita ajarkan kepada satu sama lain, kepada keluarga kita. Meja juga menjadi gambaran dari budaya yang dikembangkan, gambaran tentang pertobatan, bahkan gambaran tentang perjanjian antara Tuhan dengan umatNya.
Pertanyaan yang perlu kita pikirkan hari ini adalah begini, siapa yang menjadi tuan rumah di tengah meja keluarga kita? Siapa yang menjadi pusat atau apa bahkan yang menjadi pusat di dalam kehidupan keluarga kita?
Kedua pertanyaan ini sangat penting untuk kita pikirkan, karena siapa yang menjadi tuan rumah akan menentukan budaya dan nilai seperti apa yang akan membentuk dan membangun kehidupan keluarga kita.
Siapa atau apa yang menjadi pusat dalam kehidupan keluarga kita adalah gambaran tentang siapa atau apa yang sebenarnya kita sembah dan yang suaranya paling kita percaya. Bahkan bukan hanya sekedar kita sembah. Tetapi Dia menjadi otoritas tertinggi di dalam menentukan arah dan masa depan kehidupan keluarga kita.
Nah, saya ingin menarik perhatian saudara bersama-sama untuk melihat apa yang terjadi di dalam kehidupan keluarga pertama di muka bumi ini. Tentunya setelah Tuhan Allah menciptakan seluruh alam semesta. Lalu Dia mengambil debu tanah dan menciptakan manusia pertama dari debu tanah tersebut. Membentuknya, lalu mengembuskan nafas kehidupanNya, lalu manusia itu hidup. Nah, sampailah kita kepada kejadian 2 ayat 15 sampai 17.
Opening Verse – [15] Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. [16] Lalu Tuhan Allah memberi perintah ini kepada manusia: ”Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, [17] tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” Kejadian 2:15-17 TB
Kalau kita perhatikan disini bahwa Tuhan yang mendirikan pertama kali
“the first table”. Meja yang pertama Tuhan dirikan dan Dialah yang menjadi Tuhan rumah di tengah meja keluarga pertama tersebut. Memberikan arahan, memberikan perintah. Dalam konteks ini dikatakan bahwa supaya buah yang dilarang tersebut jangan dimakan. Karena kalau dimakan pastilah mereka akan mati.
Tentunya mati di sini, kita sudah pelajari sebelumnya. Bukan berarti langsung mati secara jasmani, tapi mati secara rohani. Tetapi menariknya adalah begini, saudara. Kalau kita maju di satu pasal setelahnya.
Supporting Verse – [4] Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: ”Sekali-kali kamu tidak akan mati, [5] tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” Kejadian 3:4-5 TB
Ada suara lain yang mampir ke meja tersebut, meja keluarga yang pertama. Dia bilang, tidak, kamu tidak akan mati. Bahkan dilanjutkan, Allah berkata begitu karena Dia tahu bahwa kalau kalian memakan buah dari pohon yang di tengah taman itu, mata dan pikiran kalian akan terbuka. Sehingga kalian menjadi seperti Dia, yaitu mengetahui hal yang baik dan yang buruk.
Menariknya disini saudara, saya cuma berpikir gini, kalau saja Adam dan Hawa waktu itu benar-benar mengerti dan mengenal perkataan Tuhan, pribadi Tuhan, mungkin waktu itu Hawa khususnya bisa menjawab waktu ular berkata kamu akan menjadi seperti Dia, mungkin Hawa akan menjawab begini, “Loh, memang aku sudah diciptakan sesuai dengan gambaran Dia, what are you talking about?”
Tapi sayangnya, sayangnya waktu itu mereka mungkin tidak benar-benar mengerti dan mengenal siapa Allah yang menciptakan mereka. Padahal mereka sudah diciptakan serupa dan segambar dengan Dia.
Kalau kita perhatikan bahwa krisis pertama dalam sejarah kehidupan umat manusia sebenarnya bukanlah sekadar tentang makan buah terlarang atau ketidaktaatan. Tetapi isu utamanya adalah karena mereka memilih suara yang dipercayai dan disembah.
Manusia jatuh ke dalam dosa karena memilih mendengarkan suara yang salah. Seperti apa yang terjadi kepada Adam dan Hawa. Tahukah saudara bahwa keluarga kita juga di dalam keseharian kita dipenuhi oleh berbagai suara yang berkompetisi untuk menjadi suara yang paling kita percayai. Berkompetisi untuk mendapatkan kepercayaan.
Semua “props” yang ada di atas meja ini bisa melambangkan suara-suara yang bersaing, berkompetisi untuk mendapatkan perhatian kita di dalam atau di tengah-tengah meja keluarga kita.
Pertanyaannya, suara seperti apa? Atau suara siapa? Atau suara apa yang mendominasi meja makan kita?
Karena di atas meja makan kita, bisa ada suara seperti ini. Suara dari gadget yang seringkali melambangkan bahwa kita lebih mempedulikan gadget kita, apa yang sedang populer, apa yang sedang ngetrend, apa yang ada di threads, apa yang sedang dikatakan oleh banyak orang, suara itu ternyata yang bisa mengaruhi meja makan keluarga kita.
Mempengaruhi setiap nilai, setiap keputusan yang kita ambil. Bahkan memenuhi setiap jadwal kehidupan kita. Atau mungkin suara lainnya adalah yang melambangkan uang.
Apakah uang menjadi suara yang paling mendominasi kehidupan kita? apakah uang menjadi ukuran dari setiap keputusan yang kita ambil? Apakah uang yang menentukan identitas dan nilai di dalam keluarga kita?
Bahkan ini ada uang yang jarang banget dilihat nih sekarang. Uang 75 ribu sebenarnya. Ini memang ada. Tapi setahu saya dikeluarkan dalam jumlah yang terbatas, apakah uang yang jumlahnya terbatas ini yang menentukan your self-worth?
Atau mungkin suara lain? Ini bisa jadi tantangan dalam kehidupan keluarga saya juga. Raket ini melambangkan hobi saudara. Bisa jadi bagi saudara bukan rakyat bulutangkis, raket padel. Bisa jadi bagi saudara adalah mahjong, tenis, atau apapun, motor.
Hobi menjadi suara yang paling besar untuk menentukan kehidupan keluarga saudara. Makanya tidak heran masing-masing bisa terpisah karena hobinya berbeda-beda.
Atau mungkin suara lainnya. Suara laptop ini yang menampangkan karir dan pekerjaan kita. Nah, karena laptop ini ada lambang JPCC-nya, jangan-jangan ini meja makan saya nih. Tapi bisa jadi suara dari pekerjaan atau karir kita paling berdengung begitu kencang sehingga menentukan seperti apa kehidupan keluarga kita dijalankan.
Agenda kita, jadwal kita penuh dengan semuanya itu, mungkin bisa jadi dengan alasan kita harus mengelola berkat yang Tuhan berikan. Tapi jangan sampai karir atau bahkan kita bisa pakai istilah rohaninya, panggilan Tuhan dalam kehidupan kita, jadi berubah menjadi Tuhan atas kehidupan kita.
Jangan sampai karir, pekerjaan, panggilan, malah jadi Tuhan atas kehidupan kita. Suara mana yang paling mendominasi? Atau mungkin suara yang lain?
Cermin ini melambangkan suara diri kita sendiri. Bahkan, Sebenarnya yang kita baca tadi, di dalam kejadian Adam dan Hawa, yang dicobai oleh ular adalah tentang keyakinan mereka kepada Tuhan atau keyakinan mereka kepada diri mereka sendiri.
Yang mulai berkata bahwa, “Oh karena sekarang saya bisa menentukan mana yang baik dan mana yang buruk buat saya, mungkin saya lebih tahu apa yang baik buat saya daripada Tuhan.”
Apakah suara itu yang mendominasi meja dikeluarga kita? Atau mungkin yang ini? “Mama”. Ini saya harus hati-hati diomongin nih. Foto mungkin yang melambangkan keluarga besar saudara. Foto orang tua, foto mertua. Apakah jangan-jangan suara keluarga kita, keluarga besar kita, yang mendominasi kehidupan keluarga kita? Suara yang melambangkan tradisi, adat istiadat, yang harus dipenuhi, melebihi firman Tuhan.
Suara mana yang paling mendominasi? Kalau suara ini yang paling mendominasi, maka keluarga saudara ada di meja yang tepat. Alkitab. Apakah suara firman Tuhan, perkataan Tuhan, menjadi suara yang paling mendominasi kehidupan keluarga saudara? Suara yang paling punya otoritas tertinggi di meja keluarga saudara?
Suara mana yang paling mendominasi? Menariknya kalau kita lihat di dalam ayat-ayat sebelumnya di pasal 3 tadi, kita dapat melihat bahwa ketika ular datang membawa suara yang lain, dia tidak datang dengan suara yang langsung lantang, keras, melarang kita percaya kepada Tuhan. Dikatakan begini di dalam ayat yang pertama.
Supporting Verse – [1] Ular merupakan binatang yang paling licik di antara semua binatang liar yang diciptakan TUHAN Allah. Suatu hari, ular datang kepada perempuan dan bertanya, “Apa benar Allah berkata kepada kalian bahwa kalian tidak boleh makan buah-buahan dari pohon mana pun di dalam taman ini?” Kejadian 3:1 TSI
Saudara diperhatikan bahwa ular tidak langsung datang dan berkata, “Jangan percaya sama Tuhan ya!”, Ular datang dengan kata-kata yang lebih lembut, lebih halus, bahkan menanamkan sebuah pertanyaan atau pemikiran untuk mempertanyakan Tuhan.
Seakan-akan ular bilang begini, “Did God really say this? Apakah Tuhan benar-benar bilang begitu? Emang benar Tuhan bilang begitu?” Atau dengan kata lain, seolah-olah ular atau iblis ini sedang berbisik.
Apakah kamu benar-benar yakin? Tuhan tahu apa yang terbaik buat kamu. Hanya benih pemikiran saja, benih pemikiran untuk meragukan Tuhan. Dan disinilah kita dapat melihat akar masalah dibalik kejatuhan manusia ke dalam dosa. Masalah utamanya bukan buah telarang. Bahkan bisa jadi bukan ketidaktaatannya. Tetapi masalah utamanya adalah ketidakpercayaan.
Adam dan Hawa mulai meragukan kebaikan Tuhan. Sehingga sebelum tangan mereka menyentuh buah telarang itu. Sebenarnya hati mereka sudah bergerak menjauhi Tuhan.
Mungkin pertanyaan-pertanyaan ini seringkali muncul dalam kehidupan kita. Mungkin Tuhan tidak sebaik yang aku pikir ternyata. Mungkin saya tahu apa yang lebih baik buat saya. Mungkin saya tidak lagi perlu mengikuti Tuhan. Mengikuti apa yang Tuhan katakan karena saya kayaknya sudah lebih baik di kondisinya, dan saya lebih tahu apa yang paling baik buat saya.
Setiap hari di dalam kehidupan kita, keseharian kita, kita mendengar begitu banyak suara, begitu banyak kebisingan, “noises” di sekeliling kehidupan kita, dari budaya yang ada di sekitar kita, dari teman-teman di sekeliling kita, dari suara-suara yang muncul di grup WhatsApp kita, grup WhatsApp keluarga besar, grup WhatsApp hobi kita, dan seterusnya. Bahkan bisa jadi dari suara yang muncul dari dalam diri kita sendiri yang berkata bahwa kita lebih bisa, lebih tahu daripada Tuhan.
Dan bahkan ada beberapa perkataan atau suara tersebut datang dalam kehidupan kita yang kedengarannya baik. “Kalau mau bahagia, kamu harus punya ini nih. Kalau mau diterima, kamu harus jadi seperti ini.”
“Atau mungkin anakmu harus sekolah di sini supaya lebih pintar, Karena sekolahnya terkenal lah. Karir makin lama harus makin tinggi. Kamu gak boleh kalah dari orang lain. Follow your heart, ikuti kata hatimu, do whatever makes you happy. Lakukan apa yang membuat kamu senang, membuat kamu bahagia.”
Semua perkataan tersebut kedengarannya seperti baik. Tapi masalahnya begini, apa yang baik belum tentu benar. Apa yang biasanya kedengaran baik, belum tentu semuanya berasal daripada Tuhan. Bahkan terkadang, kalau kita tidak hati-hati, justru bisa membawa petakan dalam kehidupan kita.
Supporting Verse – [12] Ada pilihan hidup yang tampaknya baik dan benar, namun ternyata berakhir pada kebinasaan. Amsal 14:12 TSI
Menunjukkan bahwa kita tidak bisa gak kenal Tuhan. Karena tanpa Tuhan dalam kehidupan kita, sulit kita untuk membedakan mana yang berasal dari Tuhan dan mana yang bukan.
Karena sesuatu yang kelihatannya baik, bisa jadi sebenarnya tanpa kita sadari tetap sedang memimpin kita untuk bergerak menjauh dari Allah. Seringkali suara yang paling berbahaya bukan suara yang berkata bahwa “lakukan sesuatu yang jelas-jelas salah”, tetapi justru suara yang berbahaya adalah suara yang pelan-pelan berkata begini, “Kamu tidak perlu Tuhan untuk menentukan apa yang baik bagi kamu lagi. kamu sudah tahu apa yang bagus, kamu kan sudah dewasa, sudah besar, kamu tahu apa yang baik buat kamu.”
Mungkin hari ini kita perlu tanyakan ini kepada diri kita sendiri. Suara siapa yang paling mempengaruhi kehidupan saya? Siapa yang menjadi tuan rumah di dalam meja kehidupan keluarga saya.
Supporting Verse – [1] Nyanyian ziarah Salomo. Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan Tuhan yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga. Mazmur 127:1 TB
Kalau Tuhan, kalau bukan Tuhan yang menjadi Tuan rumah di dalam kehidupan kita, maka pengetahuan kita, kehebatan kita, semua apa kata orang, segala sesuatunya tidak bisa membawa kita kepada hidup yang kekal. Bahkan bisa jadi berujung kepada kebinasaan.
Setiap kehidupan keluarga yang “flourishing”, yang berakar, bertumbuh, bahkan berbuah dan berdampak dibangun di atas dasar percaya kepada rencana dan kebaikan Allah, serta hidup di bawah otoritasNya yang penuh kasih.
Itu sebabnya ketika bangsa Israel, orang-orang Yahudi, hendak masuk ke dalam tanah perjanjian, Musa berulang kali menyampaikan hal ini kepada mereka. Bahkan kita temukan hal ini di dalam kitab yang namanya Ulangan. Karena ini berulangkali disampaikan supaya mereka tidak lupa kepada Tuhan yang telah membawa mereka keluar dari Mesir masuk ke Tanah Perjanjian.
Supporting Verse – [5] Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. [6] Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, [7] haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Ulangan 6:5-7 TB
Artinya setiap keputusan, setiap pemikiran, setiap langkah dan rencana yang kita buat, seharusnya kita pertimbangkan perkataan Tuhan. Tuhanlah yang menjadi yang terutama, Dialah yang harusnya kita junjung tinggi, kita kasihi dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dan dengan segenap kekuatan.
Jadikan firman Tuhan sebagai otoritas yang paling tinggi, yang memenuhi bahkan membentuk setiap percakapan kita. Membentuk setiap pertimbangan kita. Keputusan yang kita hadir.
Nah, pada kesempatan ini izinkan saya juga ingin berbicara mungkin secara spesifik kepada para ayah yang ada di dalam ruangan ini ataupun yang sedang mendengarkan saya secara online.
Hari ini saya ingin mengajak saudara semua sebagai kepala keluarga untuk mempertimbanhkan salah satu aspe yang sangat penting dalam pertumbuhan kehidupan kita sebagai manusia terutama di dalam kehidupan diri anak-anak kita, istri, dan anggota keluarga kita, orang-orang yang dipercayakan Tuhan untuk berada di dalam kepemimpinan kita, yaitu aspek tentang identitas diri.
Tahukan saudara bahwa identitas diri dibangun di meja makan. Saudara dan saya sebagai kepala keluarga punya kesempatan untuk membangun itu di meja makan keluarga kita.
Karena keluarga, suka atau tidak suka, adalah komunitas pertama, tempat dimana kita belajar dan mengenal siapa kita. Who we are. Keluarga adalah tempat pertama dimana saudara dan saya diberikan nama. Diberikan identitas.
Kita belajar mengenal siapa sih diri kita sebenarnya. Who we belong to. Where we belong. Dimana kita merasa memiliki dan dimiliki. Menjadi bagian dari suatu keluarga. Di meja makan itu, kita punya kesempatan untuk menanamkan.
“My son, my daughter, my wife. Kamu adalah anakku dan istriku. Kamu tidak perlu mencari kasih di tempat lain karena aku mengasihi engkau.”
Di meja makan adalah kesempatan untuk seorang anak bahkan menemukan seberapa berharganya diri mereka, menemukan mereka punya gambaran diri. Self worth, self esteem. Sebab identitas diri yang salah akan menghasilkan kompas pribadi yang salah, identitas diri yang salah bahkan bisa menghasilkan kompas moral yang salah, bahkan pengertian rohani yang salah tentang siapa mereka di dalam Tuhan.
Tahukah saudara bahwa sebelum dunia memberikan label kepada kita semua atau kepada anak kita, keluarga terlebih dahulu yang memberikan nama, memberikan rasa memiliki, memberikan nilai-nilai, peneguhan, afirmasi, “well done, wah hebat banget, kamu dapat ulangan, nilainya bagus, oh kamu perlu lakukan ini, karena itu yang baik buat kehidupan kamu, dan seterusnya”, ada peneguhan, bahkan ada contoh atau teladan tentang bagaimana menjalin hubungan, bisa hubungan yang sehat, bisa hubungan yang tidak sehat.
Identitas yang mana yang sedang kita bangun di tengah meja keluarga? Siapa saya menurut kata dunia? Atau siapa saya menurut firman Tuhan? Menurut kata Tuhan. Fathers, ayah, daddy, papa, saudara dan saya punya kesempatan untuk membangun itu di tengah meja keluarga kita.
Sebab keluarga dan kehidupan kita akan dibentuk oleh suara yang paling kita percaya. Kehidupan keluarga kita akan dibentuk oleh suara yang paling kita percaya.
Pertanyaannya adalah, suara siapa yang paling dipercaya di keluarga kita? Siapa yang menjadi pusat dalam kehidupan keluarganya? Siapa yang kita sembah dan memegang otoritas tertinggi di dalam kehidupan keluarga kita. Saya ingin tutup dengan sebuah kesaksian pribadi saya.
Sharing Ps. Johannes – Sebagian saudara tahu beberapa waktu yang lalu, tangan saya cedera. Ada fracture di tulang tangan saya dan harus pakai gips selama 4 minggu. Perkara mengenai memakai gips selama 4 minggu sebenarnya, itu tentunya yang pertama-tama terpikir adalah menciptakan kerepotan tersendiri.
Karena tidak boleh dibuka selama 4 minggu. Tangan kanan lagi. Saya dominan, dominan tangan kanan. Artinya selama 4 minggu itu, saya harus belajar melakukan segala sesuatu dengan tangan kiri. Dan tidak enak, saudara. Karena otak saya bekerjanya lebih dominan tangan kanan. Sehingga ada begitu banyak hal yang susah untuk saya lakukan.
Saya ingin tarik saudara ke dalam konteks kehidupan saya sebentar. Saya yang sudah belasan bahkan mungkin berpuluh tahun gitu ya, Hidup sebagai laki-laki, sebagai pemimpin, sebagai suami, sebagai ayah yang seringkali merasa bahwa saya harus jadi orang yang paling bertanggung jawab, saya harus yang paling bisa diandalkan di keluarga saya dan sebagai anak sebelumnya, dipercaya untuk membangun dan melakukan segala sesuatu yang mungkin diperlukan oleh keluarga saya.
Tiba-tiba, karena cedera itu, ada banyak hal yang tidak bisa saya lakukan untuk keluarga saya. Bahkan jangankan untuk keluarga saya. Untuk diri saya sendiri pun susah untuk saya lakukan. Biasanya saya jadi orang yang dimintai bantuan. Tapi sekarang saya jadi orang yang selalu memerlukan bantuan. Bukan cuma bantuan untuk mereka melakukan segala sesuatu di rumah, tapi bantuan untuk melakukan sesuatu bagi saya.
Saya perlu bantuan istri saya, saya perlu bantuan anak-anak saya, di kantor saya perlu bantuan orang lain, dan seterusnya. Dan tanpa saya sadari itu menghantam jiwa saya secara psikologis.
Suatu saat, suatu malam, saya tiba-tiba tidak ada apa-apa menangis, menjadi “mellow” banget. Padahal tidak begitu sebenarnya saya. Tiba-tiba saya berasa kok saya lemah yah, kok saya jadi nyusahin orang yah.
Nah, singkat cerita, gara-gara itu saya mengajak omong istri dan anak-anak saya di meja makan. Memang kami punya kebiasaan untuk makan malam bersama di meja makan, lalu kalau mau ngobrol sesuatu yang penting, ya simple, ngobrol-ngobrol aja, kadang kita suka berkumpul di meja makan.
Jadi, saya malam hari itu di meja makan, saya kumpulkan mereka, terus saya bilang, “Daddy minta maaf ya, sorry, kalau Daddy sudah gak sekuat dulu. Ada banyak hal yang dulu Daddy lakukan, sekarang sudah gak bisa dilakukan lagi. Sorry ya, Daddy merasa lemah sekarang”.
Jadi mellow banget, saudara. Bahkan sekarang menjadi agak “mellow” begitu.
Tapi tentunya waktu saya ngomong begitu, istri saya dan dua anak saya tiga-tiganya tidak ada yang terima. Istri saya tentunya langsung encourage saya, “Enggak, kamu tidak begitu lagi, dan seterusnya”. Tapi yang mengagetkan adalah dua anak saya. Karena saya dan istri sudah bersama-sama jauh lebih lama lagi daripada anak saya. Saya tahu kita sama-sama tumbuh di gereja, Firman Tuhan menjadi kesukaan kita dan sebagainya.
Tapi anak saya yang pertama ada di sini, jadi saya nggak bohong. Anak saya yang pertama ada di sini. Dia yang pertama ngomong gini, “Pa, ya, enggalah, kan Daddy lagi sakit. Kalau lagi sakit, ya wajar, orang merasa lemah. Tapi-kan, ada waktunya orang sakit, nanti ada waktunya orang sembuh. Nanti waktu sembuh, jadi pasti Daddy akan merasa kuat lagi. Wajar, Jadi segala sesuatu pasti ada waktunya.”
Saya pikir, kok jadi kaya firman Tuhan ya? Saya gak sadar bahwa selama ini nilai yang kita bicarakan di meja makan, firman Tuhan yang membentuk percakapan kita. Itu masuk dalam hati dan pikiran, dan bahkan membentuk bagaimana cara anak saya yang pertama memandang kehidupan, memandang pergumulan hidup, dan bahkan menasihati saya.
Anak saya yang kedua, ini lebih unik lagi sebenarnya, karena sebenarnya yang kenal kedua anak saya. Yang kedua ini, anak yang perempuan ini, memang lebih ekspresif orangnya.
Jadi dia bukan mengasihati, dia langsung marah, saudara. Anak saya yang kedua dia langsung begini, “That’s the biggest lie that I’ve ever heard in my life. Itu kebohongan terbesar yang saya, yang aku pernah dengar di seluruh hidup aku. Siapa bilang Daddy lemah? Daddy kuat kok, kan ada Tuhan.”
Malam itu saya seperti ditampar oleh perkataan firman Tuhan yang saya sering sampaikan ke mereka. That’s the point. Keluarga yang sehat bukanlah keluarga yang sempurna. Tetapi keluarga yang sehat adalah keluarga yang selalu kembali kepada suara Allah dalam kehidupan mereka.
Keluarga yang sehat, bukanlah keluarga yang sempurna, tapi keluarga yang sehat adalah keluarga yang selalu mau kembali pada suara Allah, kepada firman Tuhan yang membentuk dan menguatkan kehidupan kita.
Bahkan kita sendiri sebagai kepala keluarga bisa menuai hasilnya, kita sendiri bisa dikuatkan, padahal mungkin awalnya kita yang menanam firman Tuhan tersebut. Menjalankan apa yang Tuhan minta kita lakukan. Tetapi pada saatnya, you never know when you need it. Saudara nggak pernah tahu kapan Saudara butuhkan Istri Saudara, anak-anak Saudara yang justru bisa menguatkan Saudara ketika Tuhan menjadi Tuan rumah di dalam kehidupan Sudara.
Karena keluarga yang sehat, bukanlah keluarga yang sempurna, tapi keluarga yang selalu kembali kepada suara, kepada firman Tuhan yang memberikan kekuatan dan memberikan arah kepada masa depan yang penuh dengan pengharapan. Saya berdoa supaya ini memberkati kita semua.
Ps: Hi friends! If this blog has blessed you, you can support us below. Thank you, and God bless! Link: https://saweria.co/316notes



