Kasih adalah Bukti By Ps. Johannes Thelee

JPCC Sutera Hall 2nd Service (4 October 2026)

Syalom Saudara! Apa kabarnya hari ini? Baik dan sehat? Puji Tuhan, tadi pagi ada yang bilang “yes, yes yes!”. Tidak terasa kita sudah sampai di minggu pertama di bulan Oktober ini saudara, dan tinggal 3 bulan lagi tahun 2026 ini akan berarkhir, tetapi kita percaya bahwa kita akan menyelesaikan tahun 2026 ini dengan kekuatan yang dari Tuhan, Amin.

Well, seperti yang tadi disampaikan oleh Pastor Ivan Setiawan, bahwa kita memulai seri pembelajaran yang baru di sepanjang bulan Oktober ini, yaitu tentang “Kasih”, yaitu judulnya “Love Lives Here“. Itu judul seri pembelajaran, bukan judul khotbah pada hari ini. Nah, tetapi saya ingin kasih overview dulu terhadap apa yang kita akan pelajari di sepanjang bulan ini, di sepanjang 4 minggu ke depan ini.

Kita akan belajar bahwa Kasih adalah bukti dari kedewasaan rohani. Kita bukan berbicara hanya tentang kasih antara pasangan, kasih yang mungkin sifatnya melankolis atau kasih yang lemah lembut saja, tetapi kasih sebenarnya adalah bukti dari kedewasaan rohani, dari pertumbuhan kita di dalam Kristus sebagai orang percaya.

Karena Kasih tidak hanya berbicara tentang apa yang kita percayai, tetapi kasih juga terlihat justru dalam bagaimana atau cara kita memperlakukan satu sama lain, memperlakukan orang lain. Bukan hanya di rumah, tapi juga waktu kita di kantor, waktu kita di sekolah, waktu kita di tempat kuliah, waktu kita sedang ada di mall, waktu kita sedang ada di jalanan, dan seterusnya.

Kasih sebenarnya justru terlihat di dalam bagaimana cara kita memperlakukan orang lain. Kasih juga, kita juga akan belajar bahwa kasih memiliki kuasa untuk mengubahkan kehidupan seseorang, untuk membawa transformasi dalam kehidupan seseorang, baik itu dalam konteks kondisi hati kita, maupun transformasi di dalam hubungan yang kita bangun, dan seterusnya.

Karena itu, Kasih menjadi bagian dari misi kita sebagai orang percaya. Makanya Tuhan memberikan perintah kepada kita untuk saling mengasihi, karena Kasih merupakan bagian misi kita sebagai orang percaya, yaitu Kasih yang melampaui batas, Kasih yang beyond border, Kasih yang bukan hanya sekedar menjangkau hanya tetangga atau orang-orang yang dekat dengan kita, tetapi Kasih yang juga menjangkau mereka yang mungkin terlihat berbeda dengan kita, berbeda pendapat, berbeda preferensi, kesukaan, dan seterusnya.

Bahkan Kasih juga menjangkau mereka yang kita anggap sebagai musuh. Makanya Alkitab berkata bahwa “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu”. Susah atau mudah, Saudara? Susah ya.

Kalau mudah, saudara boleh maju depan dan mendoakan kami semua di sini. Karena sulit saudara, untuk mengasihi musuh saja sulit, apalagi suruh berdoa bagi orang yang membuat kita menderita gitu ya. Nah, that’s hard, tapi, that’s why, justru karena itu susah dan bahkan cenderung mustahil, kadang-kadang kalau dilihat dari luarnya, justru karena itu kita butuh Tuhan. Kita butuh pribadi Kristus yang datang dan akan menjadi teladan buat kita untuk mengasihi tanpa syarat, mengasihi di luar batas.

Tapi kita akan mempelajari itu di minggu-minggu berikutnya. Dan pada akhirnya tentunya kita akan belajar bahwa Kasih mampu untuk menciptakan sebuah komunitas yang menjadi tempat yang aman, a safe place, tempat yang aman untuk kita bisa diterima, dipulihkan, dan bahkan mengalami perjumpaan dengan Kristus. Nah, semuanya itu akan kita pelajari di sepanjang bulan Oktober ini.

Tetapi hari ini kita akan mengambil waktu untuk melihat lebih dalam dan tentang hal yang mendasar di dalam kehidupan kita sebagai pengikut Kristus, yaitu bahwa Kasih adalah bukti dari kedewasaan rohani. Oleh sebab itu pesan firman Tuhan hari ini di semua campus di JPCC kami beri judul “Kasih adalah bukti”, “Love is a proof”.

Nah, pertanyaannya begini saudara untuk memulai topik kita ini, Pernahkah saudara melihat atau mengenal sesorang yang bukan cuma sekedar sudah aktif di dalam pelayanan tetapi begitu aktif, sangat aktiflah di dalam pelayanan, bahkan bisa dibilang sudah jadi leader lagi di gereja, gitu ya? tidak harus di gereja ini tapi di mana-mana, kelihatan punya karunia rohani yang luar biasa gitu dan, memiliki pengetahuan tentang firman Tuhan yang begitu banyak kelihatannya. Tetapi di dalam praktik kehidupannya sehari-hari, di dalam keseharian dia, terlihat masih sangat bergumul ketika berbicara tentang mengasihi orang lain, mengasihi satu sama lain.

Jangan lihat kiri kanan saudara, apalagi mencari DATE Leader saudara. Karena pertanyaan yang kedua begini, Saudara.

Atau mungkin saudara tergabung di dalam sebuah komunitas pelayanan, atau tergabung di dalam sebuah kelompok kecil di JPCC, kita sebut dengan date, which is good, di mana saudara tergabung di dalam date, karena tidak ada satupun dari kita yang bisa menjalani kehidupan rohani kita, perjalanan kekristenan kita sendirian, kita perlu satu sama lain makanya kita harus saling mengasihi. Tetapi pernah nggak saudara ada di dalam komunitas pelayanan seperti itu atau kelompok kecil seperti itu, lalu saudara merasa bahwa hubungan yang terjadi di dalamnya seperti “transactional”.

Seperti “oh harus ini, baru begitu, harus itu baru begitu”, dan seterusnya. Atau bahkan saudara mungkin menjalani dan hadir di dalam DATE saudara, di dalam kelompok kecil saudara, komunitas cell saudara, kalau saudara dari JPCC. Mungkin saudara hadir di situ hanya untuk “checklist”, yang penting saya sudah centang. Yang penting saya sudah centang, yang sudah centang saya sudah checklist.

Rapornya bagus kalau di aplikasi MyJPCC, gitu ya. Bahkan tidak jarang dari antara kita kadang-kadang sudah ada yang titip absen. Di dalam kelompok kecil atau di dalam kelompok seperti itu terasa seperti “transaksional”, checklist dan saudara merasa bahwa, tidak terjadi kepedulian satu sama lain yang organik, yang asli, yang alami.

Bahkan bisa dibilang tidak terjadi pemuridan yang sejati yang dibangun di atas dasar hubungan yang dekat dengan satu sama lain. Mungkin cuma “have fun” saja, tapi begitu ada yang kesusahan, masing-masing ragu atau sungkan mau membantu. Padahal Tuhan Yesus sendiri berkata di dalam Yohanes 13 ayat 34-35, Tuhan Yesus berkata begini.

Opening Verse – “Aku memberikan perintah baru kepada kalian: Kasihilah satu sama lain. Sama seperti Aku sudah mengasihi kalian, begitulah kalian harus saling mengasihi. Kalau kalian saling mengasihi, semua orang akan tahu bahwa kalian adalah murid-murid-Ku.” Yohanes 13:34-35 TSI

Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi, sama seperti Aku telah mengasihi kamu.

Karena perintah yang pertama yang didengar oleh khususnya orang Israel waktu itu adalah, “Kasihilah Allah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap akal budimu, dengan segenap kekuatanmu dan kasihilah sesamamu manusia seperti engkau mengasihi diri-mu sendiri.”

Tapi sewaktu Yesus datang ke dalam dunia, Dia memberikan perintah baru supaya kita saling mengasihi, standarnya adalah sama seperti Dia menjadi teladan mengasihi kita. Demikian pula kamu harus saling mengasihi, ayat 35 dikatakan dengan demikian, yang penting saudara, khususnya untuk topik yang kita pelajari saat ini. “Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-muridKu, yaitu jikalau nama kamu terdaftar di aplikasi “MyJPCC”, atau jika kamu hafal semua ayat yang tertulis di Alkitab, Tidak begitu tentunya saudara.

Tetapi dikatakan bahwa semua orang di dunia ini akan tahu bahwa kita atau kamu adalah murid-muridKu, yaitu jikalau kamu apa, Saudara? Saling mengasihi.

Yang kita bisa perhatikan di sini, yang kita bisa pelajari di sini adalah Kasih bukanlah syarat yang menjadikan kita murid, tetapi Kasih adalah bukti bahwa kita adalah milik-Nya, Saudara. Bukan Syarat.

Dia tidak hanya sekedar memberikan syarat untuk kamu saling mengasihi, baru Aku mengasihi kamu. Tetapi Dia, Tuhan Yesus turun ke dalam dunia ini menjadi teladan terlebih dahulu oleh karena Kasih Allah kepada dunia ini, maka Ia mengutus anak-Nya itu, supaya manusia percaya kepada-Nya, tidak binasa, tetapi beroleh hidup yang kekal. Jadi, oleh karena Kasih, Dia datang ke dalam dunia ini, bahkan menyatakan, menunjukkan, menjadi teladan bagi kita semua, bagaimana kita harus saling mengasihi, sama seperti Dia sudah menyatakan Kasih-Nya kepada kita semua.

Dan pada saat kita lakukan itu, itu bukan syarat, tetapi justru itu adalah bukti bahwa kita adalah milikNya. Kita semua adalah bagian dari keluarga kerajaan Allah. Bagi kita yang sudah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, kita telah menerima dan mengalami Kasih Allah serta belajar untuk saling mengasihi sama seperti Allah mengasihi kita. Itu sebabnya bulan lalu ditutup dengan sesuatu yang kita pelajari bahwa keluarga yang flourish tidak dimulai dari orang tua yang sempurna.

Tidak dimulai dari kekuatan kita sendiri, pengetahuan kita sendiri, kehebatan kita sendiri, kesempurnaan yang kita pikir kita punya. Tetapi keluarga yang flourish dimulai dari setiap anggota keluarga yang belajar untuk menerima kasih dari Bapa yang sempurna. Sebab kita tidak bisa memberikan apa yang kita tidak pernah punya, apa yang kita tidak pernah terima. Kita hanya bisa memberikan apa yang kita pernah terima terlebih dahulu.

Tapi justru karena kita telah menerima kasih dari Bapa yang sempurna, Kasih itu diberikan kepada kita bukan untuk kita simpan bagi diri kita sendiri. Lagi pula tidak bisa Kasih itu kita simpan. Karena the language of love, karena bahasa dari Kasih adalah selalu memberi. Selalu ingin memberi. Kalau saudara punya Kasih, enggak mungkin saudara simpan. Kalau saudara punya kasih, pasti saudara memberi.

Makanya kadang-kadang kalau di pertemuan pra-nikah gitu ya, saya suka bilang, kita tidak perlu ajari memberi kepada anak kita, selama kita mengajarkan kepada mereka tentang kasih.

Karena kalau mereka mengerti dan bahkan mengalami kasih, mereka pasti memberi. Tetapi kalau kita cuman ajari memberi saja, dia bisa saja memberi tanpa kasih. Bisa saja dia memberi kepada saudara sebagai orang tua, Tetapi, He or She doesn’t love you. Dia memberi karena kewajiban. Itu sebabnya kita butuh Tuhan, karena Dia adalah sumber kasih tersebut.

Pada saat kita mengalami Kasih Tuhan, maka kita selalu punya kecenderungan ingin memberi dan membagikan kasih itu kepada orang lain. Walapun tentu saja kenyataannya secara realita, seringkali tidak semua orang mudah untuk dikasihi. Betul saudara?

Kalau saudara merasa bahwa kayaknya orang-orang di sekitar saya mudah dikasihi, berarti mungkin saudara yang susah dikasihi (Just Kidding).

Supporting Verse – “Saudara-saudari yang saya kasihi, marilah kita saling mengasihi. Karena kasih itu berasal dari Allah, dan setiap orang yang mengasihi sudah mendapat kelahiran baru dari Allah dan mengenal Dia. Kalau seseorang tidak mengasihi saudara seimannya, berarti dia tidak mengenal Allah, karena Allah itu mahakasih. ” 1 Yohanes 4:7-8 TSI

Kasih itu berasal dari Allah, bukan berasal dari definisi yang dunia berikan kepada kita. Makanya kita perlu mengenal Allah, kalau kita tidak mengenal Allah, maka bisa jadi definisi kasih yang kita punya tidak benar. Artinya kita dimampukan untuk mengasihi karena kita diselamatkan, ditebus, dilahirkan kembali melalui pengorbanan Kristus di atas kayu salib.

Kelahiran baru dari Allah dan mengenal Dia. Kalau seseorang tidak mengasihi saudara seimannya, berarti dia tidak mengenal Allah, karena Allah itu maha kasih. Atau dalam terjemahan baru dibilang, karena Allah itu, sebab Allah itu kasih.

God is love, perhatikan, bukan love is God. Karena ada bedanya disini. Allah adalah kasih atau Allah maha kasih, artinya kasih merupakan sifat dari Allah. Bahkan Allah yang mendefinisikan seperti apa kasih yang benar itu. Bukan kasih yang mendefinisikan siapa Allah, bukan.

Allah adalah Kasih.

Jadi kalau kita mau mengenal Kasih, maka kita perlu mengenal Allah. Karena Dialah inisiator dari Kasih. Dialah sumber Kasih tersebut. Tanpa Allah, kita tidak bisa mengasihi dengan benar. Sudah pasti tidak sempurna, bahkan cenderung Kasihnya menyimpang, salah. Kasih yang bisa jadi hanya untuk kepentingan diri kita sendiri, yang sebenarnya bukan kasih atau bukan love, tetapi biasanya itu adalah lust, hawa nafsu.

Kasih selalu ingin memberi tetapi hawa nafsu selalu ingin menang atau mengambil. Itu sebabnya kita perlu selalu kembali kepada Allah supaya kita bisa mengenal Kasih yang benar.

Jadi bagaimana kita bisa mengasihi? Atau bagaimana seharusnya kita mengasihi satu sama lain? Atau mungkin lebih tepatnya, kenapa kita harus mengasihi satu sama lain? Why should we love one another?

Karena Allah terlebih dahulu mengasihi manusia, mengasihi saudara dan saya. Dan Allah menyatakan kasih itu secara konkret, secara solid melalui Yesus Kristus, Tuhan kita yang datang ke dalam dunia, memberikan nyawa-Nya sebagai ganti dosa kita.

Orang yang mengenal Allah dipanggil untuk hidup dalam Kasih kepada sesamanya. Kasih kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari kasih kepada sesama manusia. Jadi tidak mungkin orang bilang, saya mengasihi Allah, tetapi membenci sesama manusia. Karena Allah adalah Kasih, kasih selalu ingin memberi kepada satu sama lain. Kasih adalah buah dari kelahiran baru di dalam Kristus.

Seperti yang dikatakan oleh teks firman Tuhan, makanya sulit bagi kita mengasihi kalau kita belum benar-benar dilahirkan kembali melalui penebusan Tuhan Yesus Kristus di atas kayu salib. Melalui iman percaya kita kepada apa yang Tuhan lakukan. Oleh karena itu kita diselamatkan dan dilahirkan kembali dan oleh karena itu juga kita dimampukan untuk mengasihi, sama seperti kita juga telah menerima Kasih yang tanpa syarat.

Kita juga dulu tidak layak dikasihi, kita berdosa, saya sudah pasti begitu, saya salah satu orang yang akan angkat tangan pertama untuk berkata bahwa saya sebenarnya tidak layak menerima kasih karunia Tuhan, bandel dan sudah ke mana-mana dan melakukan hal-hal yang tidak berguna. Tetapi, kok Tuhan mau datang ke dalam dunia ini, bahkan sebelum saya dilahirkan, datang ke dalam dunia ini untuk menyerahkan jiwaNya, mati di atas kayu salib untuk orang yang hina seperti saya ini dan juga sebenarnya kita semua.

Supporting Verse – “Karena semua orang sudah berbuat dosa dan tidak layak menikmati kemuliaan Allah. ” Roma 3:23 TSI

Kita ada on the same playing field. Kita semua berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Tetapi oleh karena kasih karunia, oleh karena anugerah-Nya, kita menerima apa yang seharusnya kita tidak layak terima. Itu sebabnya Kasih adalah buah dari kelahiran baru di dalam Kristus. Kasih adalah bukti bahwa hidup kita telah ditebus oleh kasih Allah melalui Yesus Kristus, sehingga hidup kita ini bukannya kita lagi, tapi Kristus yang hidup di dalam kita, Saudara.

Paulus menyatakan itu. Kasih adalah bukti bahwa hidup kita bersatu dengan Kristus, bahwa kita tinggal di dalam Dia dan Dia tinggal di dalam kita. Jadi, kalau orang mau lihat bahwa apakah benar, seperti yang dikatakan bahwa Kristus tinggal di dalam dia dan Dia tinggal di dalam orang tersebut, itu biasanya terlihat melalui kasih yang kita nyatakan kepada satu sama lain. Ayat 9 sampai ayat 11 dalam 1 Yohanes 4 tadi, dikatakan begini.

Supporting Verse – “Dan beginilah cara Allah menyatakan kasih-Nya kepada kita: Dia mengutus Anak-Nya yang satu-satunya ke dalam dunia ini supaya kita bisa menerima hidup kekal melalui Anak-Nya itu. Dalam tindakan itu, nyatalah kasih yang luar biasa: Bukan ketika kita mengasihi Allah, tetapi ketika Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, yaitu dengan mengutus Anak-Nya menjadi kurban yang menghapus dosa kita, sehingga kita tidak akan dihukum oleh-Nya. Saudara-saudari yang saya kasihi, kalau Allah sudah begitu mengasihi kita, maka kita juga harus saling mengasihi. ” 1 Yohanes 4:9-11 TSI

Makanya kalau saudara baca di ayat-ayat akhir di dalam pasal ini, saudara akan temukan bahwa bahwa di dalam Kasih tidak ada ketakutan, artinya bahwa karena kita tahu bahwa Allah sudah menyatakan Kasih yang begitu luar biasa kepada kita, kita tidak lagi hidup sebagai orang-orang yang takut menerima hukuman dari Allah. Kenapa?

Karena Allah sudah menyatakan kasih-Nya kepada kita. Kita yang tadinya harusnya dihukum, tidak lagi dihukum oleh karena Kasih Allah yang sudah dianugerahkan kepada kita semua. Kalau saudara-saudara bersukacita, boleh tepuk tangan buat Tuhan Yesus.

Karena itu, sebagai orang percaya yang sudah menerima kasih itu, kita saling mengasihi satu sama lain.

Sudah begitu mengasihi kita, sudah menyelamatkan kita dari umpah dosa, dari hukuman dosa, maka kita juga harus saling mengasihi. Maka untuk tanya begitu, Allah adalah sumber kasih, Allah menyatakan kasih-Nya melalui pengutusan-Nya. Orang yang mengenal Allah, menerima dan mengalami kasih itu. Karena itu, sebagai orang percaya yang sudah menerima kasih itu, kita saling mengasihi satu sama lain.

Sebab Kasih adalah bukti nyata yang terlihat bahwa Kristus tinggal dan bekerja di dalam diri kita sebagai pengikut Kristus. Sebab melalui tindakan Kasih yang nyata, orang lain dapat melihat dan mengalami kasih Allah yang sempurna. Ini sangat penting, Saudara. Menjadi Kristen bukan hanya tentang percaya kepada Yesus tetapi menjadi semakin serupa dengan Yesus. Kita tidak sedang bermain agama-agama di sini, it’s not just about percaya saja, percaya tetapi enggak ada yang berubah.

Tapi kalau kita benar-benar percaya, sungguh-sungguh percaya, bahkan kita bisa berkata seperti apa yang Paulus katakan, “hidupku bukannya aku lagi, tapi Kristus yang hidup di dalamku.” Maka menjadi Kristen, menjadi pengikut Kristus adalah bukan cuma sekedar tentang percaya, tapi menjadi semakin diubahkan, semakin serupa dengan Yesus.

Ketika kita tahu dan menyadari bahwa kita dikasihi terlebih dahulu, diterima dan tidak pernah ditinggalkan oleh Tuhan kita, kita jadi belajar memberi Kasih yang sama kepada orang lain. Kita jadi belajar untuk mengampuni. Kita jadi belajar berlatih untuk sabar. Belajar untuk tetap memiliki pengharapan. Bahkan ketika hubungan kita yang kita bangun baik dalam pernikahan, dalam keluarga, dalam pertemanan, dalam hubungan kerja, bahkan di dalam bergereja maupun bermasyarakat sedang berjalan tidak sempurna.

Kasih yang kita terima dari Tuhanlah yang memberikan keyakinan dan pengharapan bahwa ini masih ada kesempatan untuk bisa dipulihkan, untuk menemukan masa depan yang penuh dengan pengharapan. Sebab 1 Yohanes 4:12 dikatakan begini.

Supporting Verse – “Tidak seorang pun pernah melihat Allah. Namun, bila kita saling mengasihi, maka Allah bersatu dengan kita, dan kasih-Nya nyata dengan sempurna melalui kita.” 1 Yohanes 4:12 TSI

Bapak-bapak, Saudara-saudara, bahwa akan ada orang-orang di sekitar kita yang mungkin tidak punya kesempatan untuk membaca Alkitab. Saudara dan saya bisa jadi satu-satunya kesempatan bagi mereka untuk melihat seperti apa kasih Kristus itu, karena Saudara dan saya adalah Alkitab yang terbuka buat mereka, suratan yang terbuka kalau kata firman Tuhan. Kita bisa jadi satu-satunya platform di mana mereka bisa mengalami Kristus, satu-satunya wadah di mana mereka bisa mengalami Kristus dan mengenal seperti apa Tuhan Yesus Kristus, dan bahkan dunia bisa merasakan seperti apa kalau Tuhan memerintah menjadi raja atas dunia ini.

Sebab Allah terlebih dahulu mengasihi manusia. Allah menyatakan Kasih itu melalui Kristus. Manusia menerima kasih Allah dan manusia kemudian mengasihi Allah dan sesamanya. Ayat yang ke-16 juga dikatakan demikian.

Supporting Verse – “Kita sudah mengenal dan percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah itu mahakasih. Jadi, bila kita terus mengasihi saudara-saudari kita, berarti kita tetap bersatu dengan Allah, dan Allah bersatu dengan kita. ” 1 Yohanes 4:16 TSI

Mari kita putuskan untuk tetap menyalurkan Kasih yang kita terima dari Tuhan kepada sesama, walaupun kadang-kadang tidak mudah untuk mengasihi orang lain. Kadang-kadang ada orang yang sulit memang untuk dikasihi, sulit untuk menerima kebaikan kita.

Sharing Ps. Johannes – Beberapa waktu yang lalu, anak saya yang kedua sempat bertanya kepada saya, kita lagi ngobrol tentang kebiasaan untuk tidak mengucapkan kata-kata yang buruk, bad words. Tetapi dia bilang, “Aku sudah berusaha untuk say good words, mengucapkan kata-kata yang baik, tapi aku melihat teman-teman aku, teman-teman aku say bad words, tetapi nothing bad happen to them. Tidak ada sesuatu yang buruk terjadi sama mereka, gitu ya, istilahnya. Kok kelihatannya mereka malah begitu-begitu aja, gitu. Mereka melakukan hal ini, mereka kayaknya tidak layak terima perlakuan yang baik, mereka nggak layak terima dikasihi, tapi kok, kenapa kita harus… saying good things about them dan mengasihi mereka?”

Saya bilang sama anak saya, saya bilang bahwa keputusan kita untuk mengasihi orang lain and saying good things bukan karena orang tersebut layak untuk dikasihi atau orang tersebut pantas untuk menerima kebaikan kita, kata-kata kita yang baik, tetapi kita melakukan itu because of who you are.

Karena kita adalah penerima Kasih Karunia Tuhan. Karena kita adalah penerima kebaikan Tuhan. Bahkan kita diciptakan serupa dan segambar dengan Allah. Karena Allah baik, Dia hanya melakukan hal yang baik. Bahkan untuk orang-orang yang tidak layak menerima kebaikan. Kalau kita menerima kasih karunia itu, kita percaya bahwa Dia adalah Tuhan dan Juru Selamat kita, Maka, seperti tadi, Kekristenan bukan hanya tentang percaya, tapi tentang menyerahkan diri kita untuk mau diubah dan menjadi serupa dengan Allah.

Kita melakukan itu bukan karena menunggu faktor eksternal diberikan kepada kita. Kita melakukan itu sebagai keputusan bahwa kita tahu siapa kita. Kita tahu identitas kita. Kita tahu bahwa kita semua dikasihi dan diterima oleh Tuhan. Makanya kita membagikan itu kepada orang lain.

Supporting Verse – “seperti juga doaku untuk semua orang lain yang sudah Engkau sucikan karena percaya kepada Yesus. Kiranya kasih-Mu menjadi dasar kehidupan mereka, agar mereka mengerti betapa lebar, panjang, tinggi, dan dalamnya kasih Kristus kepada kami. Ya Bapa, aku tahu bahwa kasih Kristus terlalu sulit untuk kami pahami. Tetapi ajarlah kami mengerti kasih itu, supaya kami selalu menikmati kehadiran dan kuasa-Mu bersama kami.” Efesus 3:18-19 TSI

Makanya seringkali, karena menurut pengetahuan dunia, seringkali kalau kita mengasihi orang yang tidak layak terima kasih kita, kita berbuat baik kepada orang yang tidak layak terima kebaikan kita, bahkan bukan cuma itu yang tadi ya, mengasihi musuh kita, dan berdoa bagi orang yang menganiaya kita, dunia biasa bilang gini, “bodoh banget sih. That’s stupid. Masa sudah digituin kamu masih berbuat baik sama dia. Sudah digituin kamu masih berbuat kasih kepada dia.”

Tapi bukankah kita juga menerima hal yang sama dari Tuhan, Saudara? Emang kita layak terima kasihNya Tuhan? Emang kita layak terima kenyataan bahwa Dia meninggalkan surga untuk datang ke dalam dunia ini? Mati bagi kita di atas kayu salib, bahkan sebelum mati sudah menderita dulu, sudah dicaci maki, sudah dicampakan, Sudah dipukul, ditusuk, dan dikhianati.

Kita juga tidak layak. Jadi kalau ada orang bilang, “Ah, itu bodoh. Kenapa kamu lakukan itu?” Katakan bahwa, “Karena saya juga dulu seperti itu. Karena saya juga tadinya tidak layak, tapi saya menerima Kasih. Saya menerima pengampunan. Saya menerima anugerah. Saya menerima apa yang saya tidak layak terima. Bahkan saya juga tidak menerima apa yang seharusnya saya terima.

That’s grace and mercy. Grace adalah kita menerima apa yang seharusnya kita tidak terima. Kita menerima berkat, menerima pengampunan, kemurahan yang seharusnya kita tidak layak terima. Tetapi mercy. membuat kita tidak menerima cuman yang seharusnya kita terima. Nah, kalau kita sudah menerima itu semua, mengenal kasih itu. Mari kita juga lakukan itu, tularkan itu kepada satu sama lain sebab kasih yang sejati mendatangkan kesembuhan.

Kasih yang sejati menciptakan rasa aman bukan mendatangkan penghakiman. Kasih yang sejati meneguhkan nilai diri kita serta memulihkan bahkan luka akibat penolakan atau penderitaan di masa lalu kita, rasa malu yang pernah terjadi di dalam kehidupan kita.

Mari kita menjadi orang-orang yang bisa menyalurkan Kasih itu, menjadi tempat yang aman untuk seseorang bisa mengalami pemulihan. Sebegian besar kehancuran batin atau jiwa dari manusia, bermula dari luka yang datang dalam hubungan dengan orang lain. Kasih yang tulus memang tidak dapat menghapuskan apa yang terjadi di masa lalu. Tetapi Kasih yang tulus mampu untuk menciptakan pengalaman baru, kesempatan yang baru untuk melihat dimana kepercayaan, martabat, harga diri manusia dan hubungan kita dipulihkan melalui kasih yang sejati tersebut.

Ketika seseorang mengalami Kasih Karunia, mengalami pengampunan dari Tuhan, mengalami kesabaran, mengalami kemurahan hati, orang tersebut akan lebih mampu untuk menularkan Kasih tersebut, kualitas Kasih seperti itu kepada orang lain. Karena ini poin utamanya, Saudara. Because love is the public evidence that flourishing is taking place.

Karena Kasih adalah bukti yang nyata secara publik bahwa kehidupan yang bertumbuh, yang dipulihkan, yang berakar kuat di dalam Firman Tuhan bahkan berdampak mulai terjadi atau sedang terjadi di dalam kehidupan kita. Flourishing akan terlihat melalui cara kita memperlakukan orang.

Jadi, kalau kita mau melihat kehidupan seseorang, kehidupan kita flourishing atau tidak, akan tergantung dari bagaimana kita memperlakukan orang lain, dari kata-kata yang keluar dari mulut kita, dari tindakan kita, tingkah laku kita, dari bagaimana kita bertindak di dalam, dari bagaimana kita bersikap di rumah, di tempat kerja, dan seterusnya.

Sebab Kasih yang sejati tidak hanya membuat kita merasa lebih baik, tetapi menciptakan lingkungan yang menjadikan kita semua pribadi yang lebih baik. Kita bisa create environment, a safe place untuk orang-orang bisa mengenal kasih Tuhan.

Supporting Verse – If anyone boasts, “I love God,” and goes right on hating his brother or sister, thinking nothing of it, he is a liar. If he won’t love the person he can see, how can he love the God he can’t see? The command we have from Christ is blunt: Loving God includes loving people. You’ve got to love both.“ 1 John 4:20-21 MSG

Kalau ia tidak bisa mengasihi sesamanya yang terlihat, saudaranya yang terlihat, bagaimana mungkin dia bisa mengasihi Tuhan Allah yang tidak terlihat? Perintah yang tadi kita terima dari Tuhan Yesus Kristus, itu sangat di depan mata, di depan muka kita. Dikatakan bahwa loving God includes loving people. Mengasihi Allah sudah termasuk mengasihi orang lain. Datang dalam satu paket. You’ve got to love both.

Karena tidak mungkin saudara bilang saudara mengasihi Tuhan, tetapi saudara membenci sesama saudara. Kalau itu yang terjadi, berarti saudara belum mengasihi Tuhan. Karena kedewasaan rohani tidak diukur dengan pengetahuan tentang Tuhan tetapi seberapa dalam kita mengasihi sesama seperti Tuhan mengasihi kita. Let’s decide, mari putuskan untuk mengizinkan kasih Tuhan mengubahkan kehidupan kita, memulihkan luka masa lalu kita, supaya kita bisa bertumbuh menjadi dewasa secara rohani dan bahkan membagikan itu, menyatakan KasihNya kepada satu sama lain.

Kita mengasihi bukan sebagai respons terhadap orang yang layak dikasihi, tetapi kita mengasihi sebagai respons terhadap kasih Tuhan kepada kita. Bukti yang paling nyata keserupaan kita dengan Kristus adalah bagaimana Dia telah mengubah cara kita mengasihi orang. Mungkin kita sudah belajar bagaimana berperilaku, bagaimana mengasihi orang lain sebelumnya dari mana pun, dari lingkungan yang diajarkan kepada kita.

Tetapi ketika Kasih Kristus datang dalam kehidupan kita, maka Dia mengubah cara kita mengasihi satu sama lain. Sebab sekali lagi, Love is the evidence, is the public evidence that we flourish, Kasih adalah bukti yang nyata bahwa kehidupan yang flourish, yang bertumbuh, yang berbuah, itu terjadi di dalam kehidupan kita.

Masih banyak yang kita akan pelajari ke depannya di sepanjang bulan ini. Tetapi ini bisa menjadi dasar untuk kita bisa mengerti bagaimana kita dipanggil untuk saling mengasihi satu sama lain, sama seperti Kristus mengasihi kita. Amin.

Ps: Hi friends! If this blog has blessed you, you can support us below. Thank you, and God bless! Link: https://saweria.co/316notes