JPCC Sutera Hall 2nd Service (1 November 2026)
Selamat pagi di Sutera Hall tanggal 1 November! Atau selamat siang, selamat malam, jam berapa pun juga semua yang beribadah secara online. Dan saat ini tentunya ada sangat banyak dari teman-teman yang dari The Kasablanka yang akan bergabung secara online. Karena satu dan lain hal, tadi pagi kami harus mengumumkan bahwa terjadi pembatalan atau peniadaan ibadah di The Kasablanka sepanjang hari ini karena terjadi kerusakan di panel listrik yang menyebabkan penerangan dan AC di The Kasablanka tidak berfungsi sama sekali.
Jadi dengan berat hati, tadi pagi jam 5, kita harus mengambil keputusan meniadakan ibadah di The Kasablanka dan minta maaf buat saudara semua yang harus mengikuti ibadah secara online termasuk anak-anak saudara. Dan saya berdoa biar berkat Tuhan hari ini juga tidak terhalang dan dapat dialami dan dirasakan oleh semua teman-teman yang ada di rumah. Bagaimana kalau kita dari Sutera Hall, kita beri salam buat semua teman-teman yang bergabung secara online, Amin?
Dan sekaligus kita ucapkan terima kasih kepada teman-teman yang sudah melayani kita, JPCC Worship. Sekali lagi, terima kasih juga kepada semua tim The Kasablanka yang tetap bertugas. Mereka, tadi saya dikasih tahu ada banyak Usher yang tetap bertugas, ada parking ministry yang menunggu mobil-mobil yang merapat di The Kasablanka supaya mereka tidak perlu parkir dulu, kemudian susah payah naik sampai ke atas karena tidak semua memperhatikan notifikasi di MyJPCC maupun email yang dikirimkan.
Jadi sekali lagi, kita meminta maaf atas semua ketidaknyamanan yang terjadi dan semoga minggu depan kita bisa beribadah secara normal kembali. Amin. Kita doakan juga, walaupun di Sutera Hall tidak terdampak, selain mungkin ada banyak yang mungkin “walk in” karena terjadi pembatalan di The Kasablanka.
Baik, Saudara siap belajar? Yang di rumah siap belajar? Keluarkan catatan Saudara.
Kita memasuki bulan November dengan seri pembelajaran yang baru, judulnya adalah “One Generation to Another“. Kita akan belajar tentang apa yang perlu kita teruskan atau wariskan kepada generasi berikutnya. Kita sudah sempat belajar tentang Kasih bulan lalu, Love lives here. Dan bulan ini kita akan belajar bagaimana supaya kasih Tuhan yang sudah kita alami dapat kita teruskan atau lanjutkan dari generasi ke generasi berikutnya.
Karena setiap generasi adalah pengelola bagi generasi berikutnya. Ada Amin?
Setiap kita dipercayakan untuk apa yang kita kelola, baik itu materi, baik itu budaya, baik itu nilai, termasuk alam semesta yang Tuhan wariskan pada kita. Kita adalah pengelola bagi generasi berikutnya. Nah, pertanyaannya adalah, generasi seperti apa yang sedang kita persiapkan ke depan atau untuk masa depan? Generasi seperti apa yang sedang dibangun di rumah tangga Saudara, anak-anak seperti apa? Dan secara rohani, kerohanian seperti apa yang anak-anak saudara atau sedang saudara persiapkan? Generasi seperti apa yang akan mewarisi apa yang telah kita bangun?
Kira-kira 10 tahun yang lalu saya sempat, perhatian saya terbawa kepada data yang dikeluarkan oleh Fortune 500 Companies pada waktu itu, kira-kira setahun yang lalu. Dikatakan bahwa hanya 40% dari 100 perusahaan Fortune 500 yang mana anak mereka berhasil meneruskan perusahaan yang didirikan oleh orang tuanya. Hanya 40%.
Dari 100 perusahaan, hanya 40 yang anak-anak mereka berhasil teruskan dengan baik. Artinya 60% nya tidak berhasil diteruskan dengan baik. Kalau itu di generasi pertama dibawa oleh anak. Dan kalau itu diteruskan kepada generasi cucu, angka itu turun hanya tinggal 5%. Artinya, dari 100 perusahaan yang didirikan oleh Opa, hanya 5 bisa diteruskan dengan baik oleh sang cucu.
Jadi, di dalam setiap generasi ada perusahaan-perusahaan yang baru, ada generasi yang baru yang berjuang untuk membangun sesuatu yang orang tuanya tidak pernah wariskan, itu sesuatu yang positif, tapi di sisi yang lain ada tantangan buat kita untuk mewariskan apa yang Tuhan ijinkan kita bangun.
Jadi, sepanjang bulan ini kita belajar tentang bagaimana kita mewariskan iman, bukan hanya tradisi, bagaimana kita mewariskan Kasih Setia Tuhan, mewariskan kesetiaan kita kepada Tuhan, dan bukan hanya sekedar kebiasaan agama saja.
Bayangkan, kalau generasi berikut kita, anak-anak kita, tumbuh dalam keluarga Kristen, mungkin, rajin ke gereja, mengenal Alkitab, mengenal kisah Alkitab, ikut sekolah minggu dengan rutin, bahkan mungkin aktif pelayanan. Tetapi apakah jaminan kalau suatu hari mereka tidak menjauh kepada Tuhan?
Pertanyaan yang perlu kita renungkan. Mereka mungkin masih ingat lagu-lagu rohani. Mereka mungkin ingat cerita Alkitab dan hafal. Namun ketika menghadapi tekanan hidup, mereka tidak lagi menjadikan Firman Tuhan menjadi pedoman. Mereka mungkin tahu tentang Tuhan, tapi tidak lagi mempercayai Tuhan dan merasa membutuhkan Tuhan di dalam kehidupan mereka.
Kita bisa memberikan kesempatan kepada anak-anak kita sesuatu yang tidak kita miliki, kita berjuang keras supaya mereka punya kesempatan itu. Tetapi pada waktu yang bersamaan kita bisa saja gagal membekali mereka dengan landasan rohani yang perlu mereka miliki untuk menghadapi masa-masa sulit dalam hidup mereka.
Sepanjang bulan ini, kita mau belajar bagaimana menghadapi, mengantisipasi, apa yang Tuhan ijinkan kita jalani. Kita bisa meninggalkan warisan yang besar bagi generasi mendatang, namun gagal mempersiapkan mereka untuk mengelolanya seperti yang saya tadi katakan banyak dialami oleh banyak perusahaan besar. Jadi tolok ukur keberhasilan kita atau tolok ukur warisan rohani kita ini bukan sekedar apa yang kita capai di generasi kita, tetapi siapa yang kita persiapkan untuk generasi berikutnya.
Apakah generasi mendatang akan mengenal Tuhan, mengasihi Tuhan, dan melayani Tuhan dengan setia?
Itu adalah tolak ukur daripada keberhasilan pelayanan kita, bukan hanya apa yang berhasil kita wariskan. Jadi kalau kita tarik itu kepada pelayanan kita di JPCC, tolok ukur keberhasilan kita bukanlah gedung yang berhasil kita bangun dan kita wariskan. Bukan hanya berapa besar ibadah dan berapa jumlah kebaktian, dan apalagi hanya orang yang berkumpul di dalamnya.
Tetapi dampak daripada generasi bintang yang bisa bersinar terang di tengah-tengah kegelapan dunia. Dan itulah ukuran daripada keberhasilan kita. Kira-kira sudah jelas?
Bukan gedungnya, bukan ibadahnya, bukan ramainya, bukan jumlah komsel atau DATE-nya, tetapi seberapa tangguh mereka pada waktu mereka ada di dalam kehidupan, berdampak menjadi generasi bintang yang menerangi kegelapan dunia.
Nah, belajar dari pengalaman bangsa Israel. Ada salah satu momen paling kritis yang dihadapi dalam sejarah perjalanan bangsa Israel di mana terjadi kesenjangan generasi atau kesenjangan rohani di dalam generasi yang ada dalam pengenalan mereka akan Tuhan.
Dicatat di Hakim-Hakim pasal ke-2, Kalau saudara mau mengikuti di ayat 8 sampai 12.
Opening Verse – Dan Yosua bin Nun, d hamba TUHAN itu, mati pada umur seratus sepuluh tahun; 2:9 ia dikuburkan di daerah milik pusakanya di Timnat-Heres, di pegunungan Efraim, di sebelah utara gunung Gaas. 2:10 Setelah seluruh angkatan itu dikumpulkan kepada nenek moyangnya, bangkitlah sesudah mereka itu angkatan yang lain, yang tidak mengenal TUHAN ataupun perbuatan yang dilakukan-Nya bagi orang Israel. 2:11 Lalu orang Israel melakukan apa yang jahat di mata TUHAN dan mereka beribadah kepada para Baal. 2:12 Mereka meninggalkan TUHAN, Allah nenek moyang mereka yang telah membawa mereka keluar dari tanah Mesir, lalu mengikuti allah lain, dari antara allah bangsa-bangsa di sekeliling mereka, dan sujud menyembah kepadanya, sehingga mereka menyakiti hati TUHAN. Hakim-hakim 2:8-12 TB
Bayangkan, generasi sebelumnya, papa-mama mereka, mengalami pertolongan Tuhan yang luar biasa, orang tuanya melihat laut terbelah, melihat bagaimana Tuhan menurunkan tulah, tetapi kemudian muncul generasi yang kemudian tidak mengenal Tuhan sama sekali, tidak mengenal pekerjaan Tuhan, kok bisa? I’m glad that you asked.
Itu yang kita sebut sebagai spiritual amnesia. Amnesia rohani, lupa ingatan atau lupa ingatan rohani. Amnesia rohani adalah gambaran tentang keadaan ketika seseorang atau suatu generasi kehilangan ingatan yang hidup tentang Tuhan, karyaNya dan nilai-nilai firman-Nya. Orang tuanya mungkin mengalami, anak-anaknya sama sekali tidak ingat apa yang Tuhan lakukan di kehidupan orang tuanya.
Sepanjang bulan ini kita mau belajar supaya ini tidak terjadi di dalam kehidupan mereka. Orang Israel yang dicatat di Hakim-Hakim pasal 2, mereka mungkin pernah diajar tentang Taurat, mereka pernah diajar tentang firman Tuhan, sama seperti anak-anak kita, mungkin pernah diajar untuk beribadah, diajar untuk terlibat pelayanan, diajar untuk melayani, diajar untuk memberi. Namun pada waktu kemudian mereka beranjak dewasa, Firman itu tidak mempengaruhi cara mereka berpikir, apalagi mengambil keputusan dalam menjaga kehidupan.
Saya tahu hari ini ada banyak anak-anak high school, you among us, can you make some noise so that we know they’re on? I know you will not make any noise. Orang tua yang membawa anak-anak, bisakah orang tuanya yang bersuara?
Saya tahu you guys are too shy to shout, right? But orang tua kalian tidak “too shy to shout”. We’re glad you’re here. So even though kalian tidak berteriak, we want you to feel welcome. We love you. We really appreciate you. Dan kita berdoa supaya bukan hanya mom and dad yang mengalami Tuhan, tetapi kalian juga mengalami Tuhan secara pribadi. You have your own personal experience sama Tuhan. Kalian mengenal bahwa orang tua kalian tidak hanya cuma sekedar percaya, tapi kalian tahu dan belajar bagaimana dan mengapa mereka percaya ke Tuhan. Mengapa Tuhan menjadi begitu penting dalam hidup mereka, dan kalian punya kesempatan untuk percaya kepada Tuhan yang sama.
Hari ini kita akan belajar dari Mazmur 78. Ada 8 ayat yang akan menolong kita, di mana Mazmur 78 ini memperkenalkan kita langsung kepada tanggung jawab ini sebagai generasi yang perlu mempersiapkan generasi berikutnya, karena kita adalah generasi juga yang belajar dari generasi sebelumnya.
Setiap kita ini, terjepit di antara dua generasi, generasi di atas kita dan generasi di bawah kita. Ada banyak kita yang generasi di atas kita belum mengenal Tuhan dan kita menjadi generasi pertama. Tapi anak-anak kita akan menjadi generasi yang sudah mengenal Tuhan atau punya kesempatan mengenal Tuhan karena kita mengenal Tuhan.
Jadi, setiap kita selalu datang dari generasi sebelumnya dan sedang mempersiapkan generasi selanjutnya. Mazmur 78, ayat ini apa menolong kita untuk belajar bagaimana kita meresponi tanggung jawab ini.
Supporting Verse – Hai jemaat sekalian, dengarkanlah pengajaranku. Perhatikanlah baik-baik perkataanku. Aku akan menyampaikan pepatah dan menyingkapkan pengetahuan yang dirahasiakan sejak awal zaman. Pengajaran ini sudah kita dengar dan ketahui dari orang tua dan kakek nenek kita, dan kita pun meneruskannya kepada anak cucu kita. Akan kita ceritakan dari generasi ke generasi bahwa TUHAN sangat terpuji karena kuasa-Nya dahsyat dan perbuatan-perbuatan-Nya ajaib! Mazmur 78:1-4 TSI
Kalau saudara bedah, Saudara bayangkan itu berapa generasi. Kita, orang tua kita, kakek-nenek kita dan kita pun meneruskannya kepada anak dan cucu kita. Itu lima generasi di situ. Dari kakek, orang tua, kita, anak, dan cucu kita. Bangsa Israel baru satu generasi sudah hilang. Ada tantangan kepada kita, dari kakek, dari orang tua, kita, anak, bahkan ke cucu kita, bisa terpelihara iman dan setia kita, kalau kita belajar daripada apa yang diajarkan di sini.
Di ayat ketiga, dikatakan bahwa Pengajaran ini sudah kita pertama dengar. Pertama, tentunya kita minimal harus mendengar dulu, setelah didengar, dikatakan dan ketahui, jadi kita mengerti setelah kita dengar lalu kita mengerti, kalau cuma mendengar, tidak mengerti. Biasanya apa yang kita tidak mengerti, tidak kita ingat dan kita tidak bisa praktek-kan.
Makanya di dalam Matius pasal 13, Yesus bicara soal pengertian.
Supporting Verse – Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti. Matius 13:13 TB
Kalau kita tidak punya pengertian, maka seperti burung bisa mengambil apa yang kita tahu. Demikian juga dalam kehidupan kita, kalau firman tidak kita mengerti, tidak akan bisa berakar di dalam kehidupan kita. Waktu Saudara belajar di SMA, kalau Saudara hafal dua hari setelah ujian walaupun dapat 10, biasanya hafalan Saudara nggak akan Saudara ingat. Tetapi kalau Saudara mengerti apa yang Saudara pelajari, Sampai tua pun apa yang saudara mengerti tidak akan pernah bisa diambil dari kehidupan saudara.
Jadi, selain kita dengar, yang kita mengerti atau kita ketahui dari anak atau dari orang tua dan kakek nenek kita, dan kita pun meneruskannya, maka kita akan bisa meneruskannya kepada anak cucu kita. Perkembangannya adalah apa yang kita dengar, apa yang kita ketahui, apa yang kita pahami, dan kemudian kita ceritakan.
Memang bukan cuma sekedar melestarikan budaya rajin ke gereja, tetapi meneruskan iman dan kesetiaan kita kepada anak-anak kita, kepada generasi berikutnya. Ada amin?
Meneruskan ketaatan kepada Tuhan. Jadi bahaya amnesia rohani itu bukan hanya ketika anak-anak kita atau seseorang berhenti mau pergi ke gereja. Bahayanya adalah ketika Tuhan tidak lagi menjadi pusat kehidupan dan firman-Nya tidak menjadi pedoman dalam hidup orang itu. Itu bahaya yang harus dihindari.
Jadi, sebelum generasi berikut kita bisa mengembangkan keyakinan dan iman mereka, mereka harus diajarkan apa yang menjadi dasar daripada keyakinan tersebut. Terutama kita, apa yang kita yakini.
Sharing Ps. Jose – Waktu saya mempersiapkan kotbah ini, saya hari jumat ada kesempatan bicara sama anak saya, Nathan. Saya jadi tanya sama dia, “Nat, kamu percaya gak sama Tuhan?”, Dia bilang, ya.
Saya bilang, bukan sekedar percaya-percaya begitu. Kamu yakin, seyakin-yakinnya kalau Tuhan itu hidup dan ada? Dia bilang, “yes”. Dan saya bilang, kenapa? Kamu percaya di atas dasar apa? Kalau Dede, kalau Joanne, keyakinan dia atas dasar karena pernah ada kejadian yang ekstra-kurikuler, kalau saya boleh bilang. Sesuatu yang tidak biasa.
Karena Dede umur 7 berdoa, pernah berdoa meminta anjing. Dia ngotot tiap malam minta anjing. Dan dia spesifik minta anjingnya, minta yang tipe golden retriever. Yang golden, not the brown one. Tiap malam dia doa. Sampai tiba-tiba suatu hari ada jemaat JPCC yang menghubungi kami dan kemudian berkata.
“Pastor, anjing kami, anjing kami A dan B. Berkeluarga, punya anak, karena mereka orang JPCC, dan saat berdoa dan mau memberikan persepuluhan, Ps. Jose yang muncul di pikiran kami.”
Saya mau beritahu saudara, 27 years of JPCC, that was the only time ada orang kasih persepuluhan anjing. Kalau tiap bulan ada orang kasih persepuluhan anjing, maybe that’s normal. Tapi dalam pengalaman 27 tahun kami, nggak ada yang pernah kasih anjing.
Dan memang bukan sesuatu yang normal. Dan waktu persepuluhan atau anjing itu diberikan, itu persis seperti yang Joanne doakan. Golden Retriever and Indonesian champion, dan betul kalau tiap bulan ada juga-juga di sekretariat ada tipe Shih Tzu, ada French Bulldog atau apa mungkin ini ya just sekedar kebetulan saja, tetapi selama 27 tahun ini tidak pernah kejadian, jadi pasti ini pekerjaan dari Tuhan.
Dede punya pengalaman itu sehingga setiap kali dia ngalamin beban, tantangan, goncangan, she would fall back to that corner stone, karena Tuhan ada.
Kalau Nathan, dia bilang, that’s a really good question. Dia bilang, tetapi aku percaya betul walaupun tidak ada satu kejadian besar, sampai hari ini dia belum jawab based on what, tapi I guess akumulasi daripada, pengalaman dan apa yang mereka lihat atau dia lihat dari kehidupan kami berjalan bersama dengan Tuhan, yang constantly menghadirkan Tuhan yang hadir dalam hidup kami.
Sehingga walaupun Tuhan tidak kelihatan, kami constantly sedang bicarakan tentang takut kepada Tuhan lebih daripada takut pada manusia. Menyebabkan mereka sadar dan paham kalau Tuhan itu ada dalam kehidupan mereka. Iman, Seharusnya bukan warisan rahasia dan warisan yang mati bersama dengan generasi kita. Iman itu bisa menjadi warisan yang berharga, keyakinan yang berharga yang kita teruskan pada anak-anak kita.
Mengapa kita percaya Tuhan itu ada? Mengapa kita percaya Tuhan itu hidup? Halo! Dan itu adalah tanggung jawab kita. Sehingga bahwa Tuhan sang terpuji karena kuasa-Nya dahsyat, perbuatan-perbuatan yang ajaib bisa dialami oleh anak-anak kita juga. Ada amin?
Lanjut ayat ke-4, dan kita pun dikatakan meneruskannya kepada anak cucu kita. Bukan hanya kita dengar dari kakek dan orang tua kita, tapi kita bisa meneruskan kepada anak cucu kita.
Dan dikatakan, “Akan kita ceritakan dari generasi ke generasi bahwa Tuhan sangat terpuji karena kuasa-Nya dahsyat dan perbuatan-perbuatan-Nya aja. Akan kita ceritakan.” We will tell. Ini ada satu determinasi dan tekad yang sangat kuat. We will tell, kami akan ceritakan. Dia tidak katakan, somehow kita berharap anak-anak kita, suatu hari bisa kenal dan menemukan Tuhan. We will make sure, we will tell.
Jadi, menceritakan itu bukan hanya dengan perkataan, Saudara. Karena menceritakan itu harus dengan perbuatan. Ada amen? Atau ada aduh?
Francis Assisi bilang gini, “Preach the gospel, but open your mouth if you have to.”
Kotbahkan Injil dan buka mulutmu kalau perlu, berarti kotbah tentang Injil, tentang kasih, tentang kebenaran yang paling dahsyat bukan dengan perkataan tetapi tentang perbuatan hidup kita.
Every day, setiap hari kita ini mengkotbahkan Injil dan tidak hanya selalu dengan perkataan kita. Jadi kita tidak dapat mewariskan iman yang hanya sekedar kita bicarakan. Kita harus menunjukkan iman yang benar-benar kita hidupi sehari-hari. Ada amin?
Itu yang orang tua dan anak-anak kita lihat. Kesaksian kita harus mempersiapkan generasi berikutnya, bukan hanya untuk merayakan kebaikan Allah, tetapi juga mempercayai kebaikan-Nya saat hidup menjadi sulit.
Jadi, jangan hanya ceritakan kisah-kisah kemenangan, ceritakan juga tentang masa-masa ketidakpastian, saat-saat kelemahan, pelajaran yang dipetik dari kesalahan, serta kasih karunia yang menopang hidup Anda pada saat saudara sedang mengalami kesulitan.
Ceritakan dan ajarkan.
Ceritakan apa yang saudara alami, ajarkan apa yang saudara pelajari. Kita harus membantu generasi berikutnya memahami karakter Allah dan cara Allah bekerja dan itu Dua hal yang berbeda.
Karakternya tidak berubah. Siapa Tuhan itu nggak pernah berubah. Dia tetap sama dahulu, sekarang, sampai selama-lamanya. Tetapi cara kerja Tuhan tidak selalu sama. Karakternya sama, tetapi cara kerja Tuhan sedemikian rupa, seringkali tidak pernah sama. Dan bahkan pada saat kita tidak mengerti cara kerja Dia, kita tetap bisa memilih untuk percaya kepada karakter Dia.
Karena Dia tidak pernah berubah.
Dia setia. Dia Tuhan. Allah yang baik. Batu karang yang teguh. Ebenezer. Dia tidak pernah berubah. Tapi cara kerjanya, iya, kadang-kala kita tidak mengerti dan kita tidak mengerti kenapa Dia melakukannya. Makanya dia katakan, “Cara berpikirKu.” setinggi langit dari bumi, dari cara berpikir. Cara-caraKu beda dengan cara kamu. Jalan-Ku beda dengan jalanmu. Dan kita perlu membantu generasi berikutnya untuk mengerti dan memahami bahwa karakter Tuhan dan cara kerja Tuhan yang berbeda.
Biarkan mereka melihat bagaimana iman yang dewasa bukan berarti menjalani hidup tanpa pergumulan. Dan saudara perlu menyadari bahwa waktu kita terbatas. Karena Mazmur 127 ayat 4 bilang ini,
Supporting Verse – “[4] Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda.” Mazmur 127:4 TB
Seperti anak panah di tangan pahlawan. Seperti itulah masa muda anak-anak kita. Anak panah di tangan pahlawan, ada di busur pahlawan, hanya tujuannya dua.
Pertama, diarahkan. Kedua, diberikan dorongan.
Dan waktu untuk anak panah itu ada di busur seorang pahlawan, itu terbatas. Dia tidak selama-lamanya di situ. Dan saya temukan seringkali kita sebagai orang tua baru mulai panik pada saat anak busur itu sudah lepas dari tangan kita.
Dan kita temukan arahnya tidak seperti yang kita inginkan, kecepatannya tidak seperti yang kita harapkan. Pada waktu itu kita sering kali panik dan kita berteriak, “Oi! Jangan hidup seperti itu, oi!”, “Jangan pacaran sama yang ane, oi!, “Jangan bergaul seperti itu! Jangan hidup dengan cara seperti itu! Jangan mengambil keputusan seperti itu!”.
Pada saat itu kita baru menyadari bahwa dampak daripada arah dorongan yang kita punya sudah tidak lagi seperti pada waktu mereka masih kecil.
Itu sebabnya Amsal bilang, “Bentuklah anak-anakmu di masa mudanya.” Iman yang dewasa berarti belajar untuk tetap setia pada Tuhan pada setiap musim kehidupan. Generasi yang akan datang tidak membutuhkan kita berpura-pura kalau kita selalu kuat.
Boys and girls, orang tua kalian kadang-kadang tidak selalu kuat. Dan saya berharap mereka bisa tunjukkan sama kalian pada waktu mereka lemah. Walaupun waktu mereka lemah, Tuhan tetap setia dalam hidup mereka.
Jadi, orang tua, ceritakan pada anak-anakmu bagaimana Allah menyediakan kebutuhan pada waktu kalian membutuhkan. Tapi ajarkan juga mereka tetap percaya kepada-Nya pada saat penyediaan itu tertunda. Ceritakan pada mereka bagaimana Allah membukakan pintu, tetapi ajarkan pada mereka untuk tetap setia pada saat pintu-pintu tertutup.
Ceritakan pada mereka bagaimana Allah memberikan keberhasilan, tetapi ajarkan juga pada mereka bagaimana bersikap saat mereka gagal. Ceritakan pada mereka bagaimana Allah menjawab doa, tapi ajarkan juga pada mereka bagaimana menunggu ketika jawaban tidak datang seperti yang diharapkan.
Ceritakan dan ajarkan.
Mereka perlu mendengar dari Saudara. Dan mereka perlu diajarkan oleh Saudara. Masalahnya adalah kita menghadapi banyak tantangan dalam kehidupan kita.
Tantangan dalam merebut Perhatian.
Tantangan kita yang pertama adalah berebut perhatian dengan anak-anak kita. Atau berebut perhatian yang dialami oleh anak-anak kita. Kita bersaing dengan dunia yang tidak pernah berhenti bicara, Saudara.
Jaman kita ini sepi. Berita yang paling cepat masuk cuma koran. Itu pun kalau enggak telat dan enggak hujan. Betul enggak sih? Kalau enggak ada koran, enggak ada berita masuk ke hidup kita. Enggak ada HP. Kita tidak dapat feed.
Dunia di mana anak-anak kita hidup “so noisy”. Akses itu constantly, media sosial, hiburan, entertainment, influencer, teman, sekolah, sumber lain yang tidak bisa terhitung jumlahnya. Mereka terus-menerus diberi tahu definisi tentang apa yang mereka hadapi di dunia, definisi tentang kesuksesan, arti dari pada kebahagiaan, “just do whatever you want as long as you are happy”.
I don’t think that’s a good advice.
Identitas diri mereka, gambar diri mereka dibentuk oleh social media, values yang berlaku, kebenaran yang berlaku, sudah pasti suara atau anak-anak kita dibentuk oleh berbagai suara.
Pertanyaannya adalah, suara siapa?
Suara siapa yang membentuk keyakinan, terutama keyakinan dan kepercayaan mereka?
Generasi berikut di Hakim-hakim 2 itu tidak hanya tidak mengenal Tuhan, lebih parah lagi, mereka berbalik menyembah allah yang lain. Waktu kita pelajari kegagalan generasi pendahulunya, yang dialami oleh bangsa Israel adalah mereka tidak mempersiapkan anak-anak mereka dasar kerangka iman yang kuat untuk membedakan yang mana kebenaran Tuhan dan yang mana kebenaran duniawi atau ilah-ilah yang ada.
Sehingga mereka tidak bisa membedakan yang mana Tuhan, yang mana Baal. Saya rasa itu salah satu tanggung jawab yang sangat berat yang perlu kita hadapi. Karena zaman sekarang, anak-anak kita dicokoki sama kebenaran yang relatif.
Mereka berkata, “You know what? Truth is not absolute.” No, truth is absolute. Mereka bilang, “no, truth is not absolute. What is truth to you may not be truth to me”.
No, truth is a person. Boys, girls, His name is Jesus. Standard of truth.
Demikian juga dengan value. Masalahnya adalah, what kind of truth, kebenaran apa yang saudara atau you wanna believe atau you wanna hold on to. Saya kasih contoh.
Sharing Ps. Jose – Pada waktu saya cerita sama anak-anak saya, waktu mereka mulai dewasa umur 12-13 tahun waktu itu, I talk to them about sex. Saya enggak tahu kalian boys and girls, do your parents talk to you about sex? No? Maybe you should ask them about sex.
I talk to my boy and my girl about sex. I speak in English so that you would understand me. I know you don’t. “Bahasa Indonesia agak susah, right?”
So I talk to them about sex, and I say, “Sex is something beautiful God created.” And in sex, in intimacy, there’s something what we call orgasm. Orgasm is an experience when your brain is filled with all the hormones and your body is responding to something wonderfully beautiful. And your brain is full by all these hormones called oxytocin, dopamine, serotonin that make you feel amazingly wonderful and your brain will say, “Wow, that was great.” And that’s called orgasm.”
“And virginity is when, definition of virginity is when you experience this for the first time. So virginity, the definition of virginity, is not physical. Definition of virginity is when you experience this for the first time. And you do not want, boys and girls, listen to Om, sebentar. Listen, sebentar. You do not want to mix this beauty with guilt and shame. You don’t want it.”
When I told my kids, I said, “Mom and Dad will never be able to guard you 24/7, who comes into your room, which room you go into, especially one day when you fall in love. You are going to be tempted. But whether or not you’re going to keep your virginity is totally up to you, because you get to choose whether or not you want to wait until you’re blessed by God. After you have that blessings, and when you experience that for the first time, you get the opportunity to experience the beauty of that to the max without mixing it with guilt and shame.”
As if you are trying to eat the best wagyu steak. You want to try to enjoy it to the maximum, and you do not want to eat it di pinggir selokan atau di wc, because you want to enjoy the beauty of it to the maximum.
So, boys and girls, I know the world is saying, “What? You’re 25, you’re still a virgin? What? You’ve never tried? I think you should.”
Which truth? Because the world may be lying to you. Truth is not relative. Truth is absolute. And you gotta choose, and you gotta hold on to it. Dunia mungkin bilang, “Gila loe kolot banget.” But it’s your choice.
Berdoa supaya saudara punya kesempatan membesarkan anak-anak yang berpegang kepada Kebenaran. Tanpa akar iman yang dalam, generasi muda akan menjadi rentan terhadap daya tarik dunia yang menawarkan kepuasan yang instan. Makanya dikatakan sebagai berikut.
Supporting Verse – Ajarkanlah perintah-perintah ini berulang kali kepada anak-anakmu setiap waktu, baik pada waktu berada di rumah maupun dalam perjalanan, baik waktu beristirahat maupun waktu bekerja. Ulangan 6:7 TSI
Jadi, kita tidak dapat mewariskan Iman hanya sekedar kita bicarakan, kita harus menunjukkan iman yang benar-benar kita hidupi setiap hari. Ada amin?
Kita perlu menunjukkan dan mencontohkan kehidupan. Masalahnya adalah banyak kita tidak bertanggung jawab dalam menjalani kehidupan sehingga generasi berikutnya mungkin menolak bukan Kristus yang dinyatakan, dalam Alkitab, melainkan gambaran kekristenannya menyimpang yang mereka lihat melalui kehidupan kita.
Dan banyak orang menolak bukan Tuhan yang dibicarakan di Alkitab, tetapi mereka menolak Tuhan yang kita coba contohkan. Dan mereka bilang, “Saya enggak mau Tuhan yang seperti itu.”
Tetapi saya berdoa hari ini kita bisa sadarkan bahwa Tuhan memberikan tanggung jawab pada kita semua. Ada amen?
Ayat ke-5 dan 6, saya harus ngebut ya karena waktu saya sudah hampir habis. Masih ada 4 ayat. Saudara masih oke? Yang di rumah masih aman?
Supporting Verse – TUHAN telah menetapkan hukum Taurat bagi Israel, bangsa keturunan Yakub. Di dalamnya, TUHAN menugaskan setiap orang tua untuk mengajarkan hukum itu kepada anak mereka masing-masing agar anak-anak itu kelak mengajarkannya lagi kepada generasi selanjutnya yang akan lahir. Begitulah seterusnya dari zaman ke zaman, Mazmur 78:5-6 TSI
Dari ayat ini dikatakan bahwa di dalamnya Tuhan menugaskan setiap… Siapa? Halo? Saya pikir Tuhan menugaskan setiap coach SGL, JPCC Kids and Next Gen, JPCC Youth untuk mengajarkan hukum itu. Saya coba baca sekali lagi, sama-sama. Tuhan menugaskan setiap orang tua untuk mengajarkan hukum itu pada anak mereka.
Masih. Masih. Agar anak-anak itu kelak apa? Mengajarkannya lagi. JPCC, all the marriage ministry, parenting ministry, Next-Gen kids, Youth, kita akan bersinergi dengan setiap saudara to raise this generation, agar anak-anak itu kelak mengajarkannya lagi kepada generasi selanjutnya yang akan lahir. Begitulah seterusnya dari zaman ke zaman. Begitulah, from one generation to another.
Kita tidak hanya bertanggung jawab atas apa yang terjadi selama masa hidup kita, kita juga harus memikirkan apa yang akan terus berlanjut setelah kita tidak ada. Bukan cuma gereja kita, tetapi kota kita, lingkungan kita, alam yang kita kelola. Kita yang bertanggung jawab. Ayat 7 dan 8. Sebelum saya baca, warisan kita bukan sekedar apa yang kita tinggalkan. Warisan kita juga mencakup apa yang telah kita bangun dalam diri orang-orang yang akan meneruskan misi tersebut dalam kehidupan kita. Dua ayat terakhir.
Closing Verse – agar setiap generasi tidak melupakan segala perbuatan Allah, melainkan bergantung penuh kepada-Nya dan menaati perintah-perintah-Nya. Dengan begitu, mereka tidak akan seperti nenek moyang Israel yang keluar dari Mesir, yang hatinya tidak setia kepada Allah, dan terus memberontak kepada-Nya. Mazmur 78:7-8 TSI
Bukan sekedar agar mereka memahami sejarah, Alkitabiah dan melestarikan tradisi orang tua mereka. Ayat 8 ini memberikan peringatan serius. Mereka tidak boleh menjadi seperti nenek moyang mereka yang keras kepala, pemberontak, hatinya tidak setia pada Allah.
Penulis disini, mengakui bahwa masa lalu mereka membuat kesaksian tentang kesetiaan Allah sekaligus contoh, kegagalan manusia. Alkitab itu hebatnya begitu. Enggak cuman tulis sisi baiknya. Alkitab penuh dengan kegagalan, kelemahan yang dituliskan dengan jelas. Last quotes.
The greatest legacy we can leave is not a generation that remembers our names, but a generation that knows the name of Jesus.
Warisan kita terbesar, Bukanlah meninggalkan sebuah generasi yang ingat nama kita, tetapi sebuah generasi yang ingat dan kenal nama Yesus. Saudara mau bangun bersama-sama generasi yang seperti itu? Saudara mau? Orang tua? Boys and girls, saya berharap saudara mau bertumbuh menjadi generasi yang mengenal siapa Tuhan, orang tua, dan kita bisa meneruskannya kepada generasi berikutnya. Amin. Saudara belajar sesuatu hari ini?
Ps: Hi friends! If this blog has blessed you, you can support us below. Thank you, and God bless! Link: https://saweria.co/316notes



