JPCC Upper Room (12 Feb 2017)
Tema besar tahun ini adalah ALIVE atau hidup berkelimpahan dalam segala aspek. Berkelimpahan dalam hal ini bukan persoalan materi saja. Cara berpikir kita jadi “hidup”. Paling kelihatan ketika kita menjalin hubungan dalam kehidupan sehari-hari.
Hidup kita adalah platform supaya Tuhan bisa salurkan hidupNya. Kita hidup di dunia ini untuk menjadi berkat bagi orang lain, bukan untuk diri sendiri. Diberkati untuk menjadi berkat. Kita hidup bukan untuk sekadar menimbun. Inilah “life giving relationship”, sebuah hubungan yang membangun kehidupan orang lain.
Dahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri (Efesus 2). Apakah selama ini hidup kita memberi hidup pada orang lain atau justru menyedot kehidupan dari mereka? Kita hidup untuk memberikan kehidupan bagi banyak orang, ke mana pun kita pergi.
Tiap hubungan harusnya jadi “life giving” dan inilah indikator/barometer hubungan levitra and tinnitus yang sehat. Bagaimana kita bisa menjadi orang yang memberi kehidupan dalam hubungan pernikahan, pertemanan, persahabatan, dan sebagainya?
Show me how to live like you have loved me”. (Penggalan lirik lagu Hossana dari Hillsong United)
Opening Verse – (9) “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. (10) Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. (11) Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. (12) Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. (13) Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. (14) Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.
(15) Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. (16) Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu (17) Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain.” Yohanes 15:9-17
Love one another. Kasihilah seorang akan yang lain.
Itu saja sudah cukup susah dilakukan. Tapi Yesus tidak berhenti sampai di situ. Ia berkata agar kita “saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.” Ini adalah perintah yang mutlak. Mengapa sulit dilakukan? Karena tidak ada orang yang bisa mengasihi seperti Yesus mengasihi kita.
Ini penting karena kasih-lah yang membuat seseorang bisa bertumbuh. Apa beda antara “suka” dan “mengasihi”? Kalau kita suka setangkai bunga, kita akan cabut bunga itu. Kalau kita menyayangi bunga, kita ingin menyiramnya tiap hari (merawatnya).
Supporting Verse – No one has ever seen God; but if we love one another, God lives in us and his love is made complete in us. 1 John 4:12 (NIV)
Di tengah dunia yang makin kacau ini, mereka memang perlu melihat Tuhan. Tapi mereka tak bisa melihat Tuhan kecuali melalui kita, yaitu lewat bagaimana kita mengasihi satu sama lain. Tidak ada cara selain memperlihatkan pada orang bagaimana kasih Tuhan hidup di dalam kita. Mari bangun “life giving relationship.”
Pertanyaannya, apakah orang bisa lebih mengenal Kristus melalui kita? Atau sebaliknya? Apakah hidup kita menambah nilai pada orang? Atau justru sebaliknya?
Kita bisa ada hari ini karena ada orang-orang yang menaruh nilai dalam kehidupan kita. Kita sudah diberkati, kini sudah saatnya jadi berkat bagi banyak orang.
Kita mengasihi sesama seperti Tuhan Yesus mengasihi kita. Bagaimana kasih Yesus itu? How the way He loves us?
1. The Love of Jesus is Unconditional
Kasih Yesus hanya sekadar ingin mengasihi orang apa adanya, tanpa kenal perbedaan atau persyaratan apapun. Kasih yang sejati bukan “karena” atau “jika” (ada syarat atau kondisinya) tapi saat kita akan tetap “meskipun” & “apapun yang terjadi”.
Unconditional love is not based on the performance of the receiver, but on the character of the giver.
Unconditional love tidak pernah berdasarkan performa kita tapi dari karakter sang pemberi kasih. Tugas kita adalah mengasihi tanpa syarat, jangan mudah menghakimi. Rangkul dulu karena menghakimi adalah tugas Tuhan, bukan tugas kita. Easy to judge, but need compassion to understand.
Secara naluri & daging, kita suka dikasihi dengan cara yang kita suka. Because someone doesn’t love you the way you want them to doesn’t mean they don’t love you with all they have. Kasihi tanpa berharap timbal balik. Yesus tidak pernah timbal balik apapun juga selain diri kita sendiri. Stop judging.
Offer your hand, not your judgement.
Supporting Verse – Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Kolose 3:12
Kesabaran itu penting. Epidemik bagi millenials adalah kesabaran. Kita jadi orang yang mencari internet paling cepat di dunia. Lambat sedikit kurang sabar. Sabarlah!
2. The Love of Jesus is Intentional – Dia menunjukkan dengan perbuatanNya, harus dengan tindakan nyata.
Supporting Verse – Anak-anakku! Janganlah kita mengasihi hanya di mulut atau hanya dengan perkataan saja. Hendaklah kita mengasihi dengan kasih yang sejati, yang dibuktikan dengan perbuatan kita. 1 Yohanes 3:18 (BIS)
Dalam dunia kita saat ini, dunia tak mau sekadar mendengar seberapa besar Anda mengasihi Tuhan. Tunjukkan lewat kehidupan. Jangan jadi kumpulan orang yang secara abstrak berkata “saya cinta Yesus” tapi gagal membuktikannya.

Before you speak to me about your religion, first show it to me in how you treat other people; before you tell me how much you love your God, show me in how much you love all His children; before you preach to me of your passion for your faith, teach me about it through your compassion for your neighbors. In the end, I’m not as interested in what you have to tell or sell as I am in how you choose to live and give.
(Cory Booker)
Pastikan perbuatan dan tingkah laku kita sejajar dengan apa yang kita nyanyikan di gereja. Kita bisa berkata banyak soal kasih Tuhan dan mengasihi Tuhan namun jika dalam hidup tak bisa dibuktikan, semua itu jadi percuma.
We are defined by our actions toward others, not others actions toward us.
Sebagai seorang penulis lagu, saya pun menulis dari apa yang saya hidupi, dan juga menghidupi apa yang saya tulis.
3. The Love of Jesus is Sacrificial – Kasih Yesus itu rela berkorban (selfless). Dalam kehidupan, apakah kita melakukan pengorbanan hari demi hari pada orang di sekeliling kita
We lay down our lives for others. Jaman sekarang, ini sangat sulit dilakukan.
Supporting Verse – Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Yohanes 15:13
….namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku. Galatia 2:20
Its not your life. Sebelum kita menyadari ini, akan sulit bagi kita untuk berkorban bagi orang lain. This life is belong to Jesus! Yesus mendasari hidupNya pada pengorbanan, bukan kepentingan diri sendiri.
Love is not the feeling of happiness. Love is the willingness to sacrifice. A life giving relationship is not about getting what you want, but being ready to give others what they need.
Kita di sini hari ini karena ada orang lain yang rela berkorban bagi anda! Tidak mungkin kita hidup hari ini tanpa ada orang yang berkorban bagi kita. Pertanyaannya, apa yang kini Anda lakukan dengan apa yang ada di tangan Anda?
Jangan berbuat baik hanya karena mengharapkan sesuatu. “As long as their happy, I am happy”. Jika kita bisa melakukan kasih yang selfless/sacrificial, kasih yang merelakan hidup demi kebahagiaan orang lain, Indonesia akan diputar balikkan dan bahkan akan membuat dunia tercengang.
Kita bukan main gereja-gerejaan tapi fokus pada membangun hidup manusia. Jumlah pengunjung yang datang ke gereja tidaklah penting. Yang penting adalah tiap orang yang hadir memahami kasih Kristus dan oleh karenanya mengasihi orang lain.
Benar bahwa kita tidak bisa mengasihi orang lain seperti Yesus mengasihi kita. Kunci kita bisa melakukannya adalah jika mengijinkan Yesus mengubah prioritas hidup dan empati kita. Kita bisa melakukannya jika mengijinkan Yesus jadi sumber kasih kita pada orang lain.
Di luar Yesus, kita tidak bisa berbuat apa-apa! Kita harus terkoneksi dengan Yesus yang adalah sumber kasih sejati. Love is not abstract, this is something that can be done.
“Do not be dismayed by the brokenness of the world. All things break. And all things can be mended. Not with time, as they say, but with intention. So go. Love intentionally, extravagantly, unconditionally. The broken world waits in darkness for the light that is YOU.” (L.R. Knost)
Dunia yang sedang hancur saat ini sedang menanti kita menunjukan bagaimana mengasihi orang lain intentionally, extravagantly, unconditionally. Pertanyaannya, maukah kita melakukan ini bersama-sama?



