Jose Carol JPCC

Tubuh dan Darah by Ps. Jose Carol

JPCC Kota Kasablanka Service 3 (14 April 2017) – Good Friday Service. 

Opening Verse – “Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!” Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!” Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang.” ‭‭1 Korintus‬ ‭11:23-26‬ ‭TB‬‬

Ini adalah salah satu ayat yang sering kita dengar di gereja, tetapi perhatikan juga akan kata “sebab” di dalam ayat tersebut, yang mempunyai arti atau makna penting di dalam-nya.

Di hari jumat agung ini kita selalu berkumpul untuk memperingati pengorbanan dan apa yang Yesus sudah lakukan untuk kita di kayu salib, tentu salah satu cara untuk memperingati itu adalah dengan memecah belah roti pada saat perjamuan kudus, tetapi apakah sesungguhnya yang kita peringati?

Sharing Ps. Jose – Di tahun-tahun awal JPCC, kita menggunakan momen atau hari spesial ini untuk acara retreat gereja untuk merapatkan barisan di tim pelayanan JPCC, itu sebab-nya kita tidak memperingati pengorbanan Yesus dalam bentuk ibadah. 

Saat itu kita sebagai gereja dianggap tidak memperingati pengorbanan Yesus, tetapi kami percaya bahwa kita bisa memperingati pengorbanan Yesus dengan mengenal Dia secara pribadi dan menjadikan Yesus sebagai satu-satunya juru selamat dalam hidup kita.

Jadi apa yang kita peringati? Sewaktu Yesus mengambil roti dan memecahkan roti itu, disaat kita memperingati pengorbanan Yesus, yang kita ingat adalah sakramen dan perjamuan kudus itu, atau hidup-Nya?

Untuk saya, kita melakukan ini untuk memperingati pengorbanan Yesus, seperti hal-nya di dalam proses pemberkatan pernikahan yang sering saya lakukan kepada pasangan gereja, bahwa siapkah setiap dari mereka untuk memecah roti dan menyerahkan ego, mimpi, dan keinginan yang ada di dalam pernikahan mereka? 

Peringatan Pertama – Pengorbanan Yesus
Mengapa Yesus harus berkorban? Mengapa Yesus harus mati?


Konsekuensi dosa adalah maut, dan Allah Bapa yang adil tidak mengubah konsekuensi tersebut karena Dia ingin menyelamatkan kita.

Berapa sering bagi kita para orang tua yang punya anak, dan mempunyai hukuman akan kelakuan nakal dari anak kita. Meski demi kebaikan mereka, hukuman itu sering merepotkan kita dan beberapa kali membuat kita untuk mengganti details hukuman tersebut. 
Seperti hal-nya saya yang pernah mengubah hukuman anak saya dari beberapa bulan menjadi beberapa minggu.

Allah Bapa maha kuasa, dan karena keadilan-Nya, Allah Bapa tidak mengubah keputusan tetapi mengorbankan apa yang terbaik dari Dia punya untuk menyelamatkan kita semua. 

Supporting Verse – “Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” ‭‭Roma‬ ‭6:23‬ ‭TB‬‬

Peringatan Kedua – Bukan hanya lewat sakramen, tetapi akan pengorbanan Yesus yang sudah diberikan kepada kita.

Apa yang bisa kita pelajari dan teladani dari hal ini (Pengorbanan)?


1. Tidak ada Penebusan tanpa Pengorbanan.


Pengorbanan Yesus menebus dan membebaskan kita dari kuasa dosa. Saat kita hidup di dalam dosa dan menjadi hamba dosa, kita tidak bisa apa-apa tetapi melalui Yesus, kuasa dosa tidak lagi berlaku pada kita. 

Supporting Verse – “Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa. Jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita akan hidup juga dengan Dia.” ‭‭Roma‬ ‭6:6-8‬ TB

2. Tidak ada Kemerdekaan tanpa Pengorbanan.


Pengorbanan harus diajarkan dan dilatih. Kita berubah karena kita menghargai pengorbanan Yesus, dan hidup di dalam kebenaran-Nya. 

Seringkali kita terjebak di dalam rutinitas “harus” dalam hal agamawi, salah satunya dalam hal dan pemikiran mengenai ibadah jumat agung ini. Banyak orang hanya suka melakukan ibadah tanpa diperingati, padahal ini adalah kesempatan kita untuk mengenal pribadi Yesus.

Apa yang harus kita lakukan untuk memperingati dan men-taati apa yang Yesus katakan?

Anything you cannot sacrifice restrains You.

Kita selalu ingat akan kejadian dan kebaikan orang samaria yang menginspirasi banyak dari kita, dimana pada saat kejadian itu terjadi, ada juga tokoh agamawi seperti Imam dan orang lewi yang “seharusnya” juga ikut membantu, tetapi malah meninggalkan orang tersebut.

The first questions which the priest and levites asked was : “If I stop to help this man, what will happen to me?” – Pernyataan ini mempunyai fokus yang hanya memikirkan aku dan diri-nya sendiri.

But the good samaritaan reverse the question: “If I do not stop and help this man, what will happen to him?” Sebaliknya pernyataan ini fokus-nya adalah memikirkan orang lain atau dia.
Jika kita tidak meneladani dan tidak mampu untuk melakukan hal ini dan selalu hanya memikirkan diri kita sendiri, kita tidak akan bisa merdeka.

Saat kita menjadikan Yesus sebagai Tuhan, kita akan ikut disalibkan, dibebaskan dan diputuskan dari hubungan dan kuasa dosa.

Supporting Verse – “Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib” ‭‭Kolose‬ ‭2:13-14‬ ‭TB‬‬

“Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” ‭‭Matius‬ ‭10:39‬ ‭TB‬‬

3. Tidak ada sesuatu-pun yang besar pernah dibangun tanpa Pengorbanan.

Hal ini berlaku baik dalam pekerjaan, pernikahan dan juga keturunan / anak yang anda inginkan.

JPCC ada karena pengorbanan begitu banyak orang yang ada di dalam-nya, bukan hanya sekedar pengorbanan dari segelintir orang yang bertalenta saja. 

If you dont learn to sacrifice for what you want, what you want will be the sacrifice.

Sama hal-nya dalam hal persembahan, kita tahu akan cerita seorang janda yang miskin yang dinilai Yesus mempunyai persembahan sebesar 2 peser yang lebih berharga daripada persembahan orang kaya yang secara materi mungkin lebih besar.

Yesus mempunyai perspektif yang berbeda akan si janda miskin ini, pengorbanan dan persembahan si janda mempunyai nilai yang jauh lebih berharga daripada persembahan si orang kaya. Janda Miskin ini menyerahkan seluruh kendali hidup-nya kepada Tuhan melalui persembahan yang diberikan.

Berkorban adalah bagian terbesar dalam hidup kita, jadi disaat kita memperingati pengorbanan Yesus, kita juga harus mencoba untuk berkorban untuk orang lain.

Yang penting bukan apa yang kita berikan atau serahkan secara materi, tetapi seberapa besar pengorbanan yang kita beri agar Tuhan bisa pakai di dalam hidup kita.

4. Kasih sesungguhnya hanya dapat dibuktikan lewat Pengorbanan.


Rasa sayang anda kepada pasangan anda dapat dibuktikan melalui pengorbanan yg anda lakukan.

Saya pernah berkata kepda Joanne, anak saya. Kalau ada lelaki yang sayang kepada-nya, saya ingin bertanya akan pengorbanan apa yang sudah dia berikan untuk-nya.

Yesus sangat romantis, Yesus yang mau berkorban dan mati untuk kita semua. 
Mari kita lakukan hal ini dalam kehidupan sehari-hari kita, baik untuk bangsa, korupsi akan hilang jika cinta kita kepada bangsa jauh lebih besar daripada cinta akan diri sendiri, begitu juga dalam hubungan dalam keluarga, pasangan dan pekerjaan anda.

Jika kita tidak berani untuk berkorban, maka kita akan terbelenggu dengan apa yang tidak kita relakan untuk dilepas. Pecahkan diri anda, ego dan kepentingan anda untuk sesuatu yang lebih besar. Melalui pengorbanan kita, kota dan bangsa ini akan diberkati.

Closing verse – “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” ‭Yohanes‬ ‭3:16‬ ‭TB‬‬

“For this is how God loved the world: He gave his one and only Son, so that everyone who believes in him will not perish but have eternal life.” ‭‭John‬ ‭3:16‬ ‭NLT‬‬