The Harvest of Generosity By Ps. Sidney Mohede

JPCC Sutera Hall 2nd Service (26 April 2026)

Seperti yang dikatakan oleh Gabriel tadi, minggu ini merupakan minggu yang luar biasa sibuk untuk saya secara pribadi. Minggu ini, hari senin kami berangkat ke kota Palembang. Saya bersama dengan JPCC Worship. Saya berangkat juga bersama dengan teman-teman dari Relevant Leadership, dan juga teman-teman dari Wahana Visi Indonesia, Organisasi “Non-profit organization”, yang saya sudah bekerja sama sebagai volunteer selama lebih dari 15 tahun.

Kami melayani di tiga kota, Palembang, Medan, dan Batam. Ada orang Medan di sini? Ada orang Medan?

Dari senin, kami harus ada di bandara jam 4 pagi, jadi jam 3.30 sebenarnya saya sudah berangkat, dan selasa pun sama. Karena dari Palembang ke Medan, meskipun sama-sama di Sumatera, ternyata tidak ada direct flight. Jadi dari Palembang, kami harus terbang ke Jakarta dulu untuk kembali lagi ke Medan, dan jujur, lelahnya luar biasa. Dari medan, kami pergi ke Kota Batam, melayani sampai hari kamis, dan setelah itu hari Jumat kemarin kita pergi ke Bogor untuk JPCC Leaders Gathering, dari jumat sampai sabtu, dan hari ini saya juga berkotbah hari ini untuk melayani saudara sekalian, so it’s been an incredibly long week, butuh semangat dari Bapak dan Ibu sekalian hari ini.

Kita masih dalam tema bulan ini yaitu “Life that Overflows“. Kehidupan yang berkelimpahan, kehidupan yang mengalir, meluap. Dan seperti kita pelajari selama sebulan ini. A life that overflows, kehidupan yang berkelimpahan, bukanlah tentang kantong yang banyak atau penuh, bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki tetapi sebenarnya tentang hati yang terhubung dengan Tuhan.

Betul-kan kita pelajari ini?

Bahwa a generous life, kehidupan yang berkelimpahan memberkati orang lain, itu besar hubungannya dengan seberapa terhubung kita dengan Tuhan. Semakin kita terhubung dengan Tuhan, hati kita penuh dengan kesadaran akan kebaikan dan kemurahan hatiNya, pada saat Itulah kita bisa menjadi orang-orang yang murah hati dan overflowing.

Artinya bahwa kita tidak berusaha menjadi “generous”, karena banyak orang yang berkata begini, “Oh saya ingin memberkati gereja, saya ingin memberkati pelayanan Tuhan, supaya Tuhan lebih lagi memberkati hidup saya”.

No, no! Tujuannya bukan supaya Tuhan memberkati, tetapi karena Tuhan sudah sangat baik dalam kehidupan kita, kita menjadi generous. Artinya, saudara dan saya sudah dicukupi oleh Tuhan untuk bisa “overflowing” dalam segala hal. Betul kan? Kita tidak berusaha menjadi generous “supaya”, tetapi kita menjadi generous karena kebaikan Tuhan, our heart is already overflowing with His love and His grace.

Tetapi di akhir daripada bulan ini, I’m trying to wrap it up. Saya mencoba untuk summarize everything supaya kita bulan depan bisa masuk ke dalam tema yang baru. Pertanyaannya adalah inilah, dalam sebulan ini ada banyak yang DM saya, ada banyak yang ngobrol secara pribadi dengan saya. Tetapi pastor, pertanyaan mereka begini.

“Kalau kita terus memberi, kalau kita terus menjadi generous, bukankah artinya kita akan menjadi kekurangan? Ada yang bertanya mungkin demikian? Kalau kita banyak giving, bukankah apa yang kita punya akan menjadi habis? Ada banyak yang bertanya demikian. Bahkan ada yang bertanya begini, kalau kita terus memberi, ya kita akan terus dimanfaatkan oleh orang dong. Betul.

Kalau rumus saudara adalah “Profit dan Loss”. Betul. Dan ini logika manusia. Profit dan loss, untung dan rugi. Kalau saya beri, saya akan kekurangan. Loss dong, rugi dong. Tetapi Tuhan mempunyai rumus yang berbeda. Logika manusia berkata, kalau saya memberikan uang untuk pekerjaan Tuhan, maka uang saya akan berkurang. Profit and loss. Jika saya memberikan waktu saya, maka waktu saya akan habis. Jika saya memberikan energi saya selama seminggu ini, artinya energi saya akan habis.

Begitu banyak orang bertanya kepada saya, di usia om yang sudah tua ini, setelah puluhan tahun lagi kok masih sibuk “jor-joran” untuk melayani Tuhan? Saya bertanya balik, “Bagaimana mungkin kita tidak?”

Atas apa yang Tuhan sudah berikan dalam kehidupan kita. Sekali lagi, siapa disini yang yakin bahwa Tuhan sudah sangat baik dan generous dalam kehidupan kita? We can never out-give God. Tidak mungkin, kita bisa memberikan lebih daripada apa yang Tuhan sudah terlebih dahulu memberikan lebih dari kehidupan kita. Dan ini yang harus terus menjadi fondasi kita.

Sekarang saya paham, saya sangat mengerti bahwa musim kehidupan manusia itu berbeda-beda. Dan saya sedang mengerti bahwa saat ini dunia kita sedang tidak stabil. Betul kan?

Ekonomi kita sedang tidak pasti, masa depan kayaknya seperti tidak jelas ini mau kemana ini semua. I understand. Ada begitu banyak bisnis teman-teman yang saat ini sedang hurting. I understand that. Dunia cenderung membuat kita, terutama dalam situasi atau musim seperti ini, dunia cenderung membuat kita untuk lebih menggenggam erat apa yang kita punya. Itu kalau panduan atau fondasi kita adalah Profit and Loss. Tetapi hari ini saya berdoa dari apa yang akan saya bagian melalui Firman Tuhan agar saudara semua bisa belajar lebih dalam lagi untuk trust, percaya kepada Tuhan, trust in God, bahwa Dia adalah sumber atas segala-galanya.

Ini fondasi yang harus terlebih dahulu menjadi akar kehidupan kita, seperti kita pelajari tentang flourish bahwa sumber segalanya pohonnya adalah Tuhan Yesus, kita adalah rantingNya. Selama kita percaya bahwa Tuhan adalah Sumber dari segala-galanya. Pertaanyaan saya, mengapa kita harus takut?

Today kita akan belajar. Saya akan mengajarkan. Semoga ini at the end of the sermon, bahwa saudara mengerti akan kalimat ini bahwa “True generosity, bahwa kemurahan hati yang sesungguhnya adalah tentang the mission of God”. Misi daripada kerajaan Tuhan dan bukan tentang ambisi pribadi manusia. Bahwa segala sesuatu, jika kita berkata danmengejarkan di JPCC untuk mempunyai kehidupan yang berkelimpahan, itu bukan supaya kita “cuan”, atau mendapatkan untung dari Tuhan, tetapi kita harus mengerti bahwa saudara dan saya, saya adalah bagian daripada penggenapan misi kerajaan Tuhan.

I’m part of the mission of God’s Kingdom. Dan hari ini kita akan membaca, meneruskan dari 2 Korintus 8 yang selama berminggu ini kita pelajari dan hari ini kita akan membaca dari pasal yang ke-sembilan. Kita akan melihat sebuah perspektif Tuhan yang berbeda dengan apa yang dunia ajarkan tentang “generosity”. 2 Korintus 9 ini ditulis, konteksnya adalah Rasul Paulus sedang menulis surat kepada jemaat di Korintus yang non-Yahudi, mereka “gentiles”, bukan orang-orang Yahudi, untuk membantu gereja di Yerusalem yang pada saat itu sedang mengalami kemiskinan dan juga persekusi yang luar biasa dan Paulus menghimbau untuk gereja-gereja.

Kalau saudara baca yang beberapa minggu lalu tentang jemaat di makedonia, bahwa meskipun mereka miskin tetapi mereka dengan murah hati terus memberi. Dan disini kita akan baca lagi dimana Paulus berbicara dengan jemaat Korintus, dan kita akan baca dari ayat yang ke-enam. Perhatikan ini adalah perspektif Tuhan tentang giving.

Opening Verse – [6] Ingatlah! Orang yang menabur benih sedikit-sedikit akan memungut hasil yang sedikit juga. Tetapi orang yang menabur benih banyak-banyak akan memungut hasil yang banyak juga. [7] Setiap orang harus memberi menurut kerelaan hatinya. Janganlah ia memberi dengan segan-segan atau karena terpaksa, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan senang hati. 2 Korintus 9:6-7 BIMK

So, disini kita sudah melihat sebuah perbedaan rumus antara dunia dengan kerajaan Tuhan. Kalau kerajaan manusia berpikir tentang profit dan loss. Kerajaan Tuhan berbicara tentang menabur dan menuai. Setiap orang harus (semua katakan harus), harus memberi, harus rela memberi menurut kerelaaan hatinya. Janganlah ia memberi dengan segan-segan atau karena terpaksa. Saya tahu setiap saya membicarakan tentang ini, di pemikiran saudara. selalu saudara bikin ini tentang uang.

No, yang sedang Tuhan ajarkan disini bukan cuma sekedar pemberian materi saja. Tetapi kalau kita melihat ini cara Tuhan bekerja. Yesus yang terlebih dahulu memberikan segalanya bagi saudara. Minggu lalu kita belajar dari Ps. Irwan, sebuah bukti nyata daripada Tuhan bahwa Tuhan tidak menunggu saudara untuk beres dulu, baru Dia memberikan AnakNya.

Tetapi Dia memberikan Yesus, PuteraNya yang tunggal untuk mati bagi saudara dan saya ketika kita masih berdosa. Ini caranya Tuhan. Tuhan memberikan bkan dengan sekedar profit dan loss, tetapi yang Tuhan lakukan adalah Dia menabur. Karena waktu Yesus berkata “It is finished”, Dia memberikan segalanya, Dia memberikan segalanya, Dia tahu persis apa yang harus Dia lewati dengan memberikan nyawaNya, memberikan tubuhNya, memberikan darahNya. Tetapi Dia tahu bahwa yang Dia berikan bukan “loss”, yang Dia berikan adalah sebuah “sowing”, sesuatu yang Dia tabur.

Pertama, Ini harus selalu menjadi pemikiran kita bahwa generosity tidak mengurangi kehidupan kita, namun generosity itu selalu menabur sesuatu yang akan bertumbuh. Karena kata kuncinya disini adalah “menabur”. Dalam firman Tuhan, Tuhan tidak mengatakan “when you spend”, pada saat kau menghabiskan, when you consume, No!

Yang Tuhan katakan adalah “Menabur”. Berbeda kosa katanya, beda istilah yang dipakai. Tuhan tidak memakai bahasa menghabiskan. Tetapi bahasanya adalah menabur. And this changes everything. Firman Tuhan ini saya pelajari puluhan tahun yang lalu. Mengubah cara saya melihat pelayanan, melihat cara saya menghidupi kehidupan. Because everything I do bukan spending.

Saya tidak sedang menghabiskan waktu dengan saya pelayanan minggu ini dari hari Senin sampai Jumat dan Sabtu kemarin, Saya sedang tidak menghabiskan waktu, saya lagi menabur waktu. Saya menabur sesuatu dalam kerajaan Tuhan. It changes everything, Betul kan?

Artinya begini, “sowing”, kalau kita pelajari kata menabur itu artinya menanam sesuatu yang memiliki potensi.

Semuanya katakan potensi, ada potensi untuk bertumbuh. Petani tahu ini, setiap kali dia menanam benih, benihnya punya potensi untuk bertumbuh. Artinya begini, bertumbuh atau tidak, tidak ada di tangan daripada si petani. Betul kan?

Karena ada musim yang tiba-tiba, atau ada hama, atau ada segala sesuatu, ada force majeure yang terjadi, mungkin yang kita tabur tidak berbuah dan bertunas, and it’s okay. Masalahnya kebanyakan dari jemaat Tuhan atau orang-orang Kristen zaman sekarang, kita berpikir bahwa segala sesuatu harusnya harusnya menuai dengan caranya kita.

Benih yang disimpan tidak akan pernah bisa bertumbuh.

Saudara ngobrol dengan petani manapun, mereka akan tahu benih itu bukan untuk disimpan tetapi untuk ditanam dan dikubur. Harus diberikan dan ditanam kembali. Sesuatu yang keluar dari hidup kita, manusia melihatnya sebagai “It’s a loss”, rugi kalau aku beri, aku kekurangan. Itu kalau rumusnya manusia tetapi Tuhan melihatnya sebagai sesuatu yang masuk ke masa depan kita.

Everything what leaves your hand doesn’t leave your life. It enters your future.

Semuanya, Baik itu benih yang baik, maupun benih yang buruk. Apapun yang kau tabur akan engkau tuai, tergantung sekarang apa yang saudara mau tabur.

Sharing Ps. Sidney – Tadi saya katakan, saya cerita tentang Wahana Visi Indonesia, dimana saya sudah berpartner bersama mereka selama lebih dari 15 tahun, saya sebagai sukarelawan atau volunteer, saya tidak dibayar sepeser-pun oleh mereka dan sampai 13-15 tahun terakhir ini kami melakukan “Worship night” dan lain sebagainya. Belasan ribu anak-anak tersponsori dan saya ingat ada begitu banyak teman-teman yang bertanya, “Kenapa sih loe mau mampir ke pedalaman melakukan ini semua? capek banget dan sebagainya, loe udah tambah tua, om! hati-hati, om!”.

Tahun lalu saya membawa anak saya ke rumah sakit Siloam, tiba-tiba ada seorang nurse yang masih muda anaknya, orang Papua datang kepada saya dan berkata, “Kak, (diperkenalkan namanya adalah Kak Siti), Kakak tidak kenal saya tetapi dulu saya adalah anak sponsor dari Wahana Visi Indonesia dan sekarang diberi kesempatan ke Jakarta untuk menjadi seorang nurse.

Everything what leaves your hand doesn’t leave your life. It enters your future.

Bentuknya seperti apa? Terserah Tuhan. Terserah! Dia yang punya. Dia yang memiliki. Are we okay with this, church? Ini sangat mengubah pemikiran saya. When we live generously, kita tidak akan kehilangan apapun. Tetapi kita sedang menanam sesuatu yang Tuhan bisa tumbuhkan dan Tuhan pakai, punya potensi untuk tumbuh, dan Tuhan pakai untuk masa depan bukan hanya untuk kehidupan saudara dan saya. It’s not about profit and loss, tetapi dimana kita bisa menjadi berkat bagi kehidupan orang lain.

Yang Kedua, Tuhan adalah sumber kita.

Ini yang harus kita pelajari. Inilah kebenarannya, Tuhan adalah sumber daripada segalanya. Tuhan adalah sumber, namun perhatikan ini, tidak semua yang ada di tangan saudara memiliki tujuan yang sama. Paulus melanjutkan begini di ayat selanjutnya.

Supporting Verse – [8] Allah berkuasa memberi kepada kalian berkat yang melimpah ruah, supaya kalian selalu mempunyai apa yang kalian butuhkan; bahkan kalian akan berkelebihan untuk berbuat baik dan beramal. 2 Korintus 9:8 BIMK

Siapa yang berkuasa? Allah. Allah berkuasa memberi kepada saudara dan saya berkat yang melimpah ruah. Allah berkuasa memberi. Biasanya kita cuma berhenti disini. Amen. Amen! Berkati aku Tuhan melimpah ruah. No, no, no!

Tetapi ada supayanya. “Supaya”, perhatikan. Supaya kalian selalu mempunyai apa yang kalian butuhkan.

You know the problem for today’s age?

Bukan karena Tuhan tidak mencukupi, tetapi kita maunya lebih banyak daripada yang sudah dicukupi. Ini generasi yang sangat konsumtif, sudah ditulis di research dimana-mana. Kita selalu menjadi generasi, saat ini menjadi generasi yang sangat-sangat amat konsumtif. Semuanya kita mau, semuanya kita harus punya. Tetapi Firman Tuhan mengatakan bahwa kalian akan mempunyai selalu, bahkan dikatakan mempunyai apa yang kalian butuhkan.

Perhatikan, bahkan, jangan berhenti gitu. Bahkan, kalian akan, (help me out church), berkelebihan untuk berbuat baik dan beramal. Berkelebihan bukan supaya kita menjadi tajir melintir.

Saya belajar ini bahkan di jaman sebelum saya menikah dengan istri saya, saya sudah diajarkan ini sama Pastor Jeffrey sejak awal. Supaya kita bisa berbuat baik. Supaya kita bisa terus memberkati orang sekeliling kita, beramal. Dalam Alkitab tertulis begini tentang Allah. Ia menghambur-hamburkan kepada orang miskin.

Supporting Verse – [9] Dalam Alkitab tertulis begini tentang Allah, “Ia menghambur-hamburkan kepada orang miskin; kebaikan hati-Nya kekal selama-lamanya.” 2 Korintus 9:9 BIMK

Orang miskin disini adalah orang-orang yang bergantung kepada Tuhan. Ini bukan hanya soal possession. Tetapi orang-orang yang miskin hatinya. Blessed are those who are poor, seperti kata Yesus. Ia menghamburkan-hamburkan kepada orang yang miskin. Kebaikan hatiNya kekal untuk selama-lamanya. Tuhan adalah sumber segala-galanya. Sampai sini kita setuju? Tetapi tidak berhenti di situ. Perhatikan ayat berikutnya.

Supporting Verse – [10] Allah yang menyediakan benih untuk si penabur dan makanan untuk kita. Ia juga akan menyediakan dan memperbanyak apa yang kalian tabur, supaya hasil kemurahan hatimu bertambah pula. 2 Korintus 9:10 BIMK

Dalam versi bahasa Inggrisnya, God provides the seed and the bread. Benih dan roti untuk dimakan. Dan ini bukan dua orang yang berbeda, “Oh dia yang nabur saja, aku yang makan”, No! Orang yang sama, Tuhan yang sediakan. Makanan dan benih, Dia juga menyediakan dan memperbanyak apa yang kalian tabur. Supaya hasil kemurahan hatimu bertambah pula. Everything dari Tuhan. Segala sesuatu. Tuhan adalah sumber segalanya. Tapi tidak semua yang di tangan saudara dan saya mempunyai tujuan yang sama. Ada yang bisa kita makan, ada yang harus kita tabur.

Masalah terbanyak kita adalah kita berpikir bahwa semua pemberian Tuhan dalam kehidupan kita adalah untuk kita konsumsi. Betul kan?

Gaji tiap bulan, Wah aku mau nikmatin aja, abisin! Belilah nasi lemak, nasi padang, croissant, salt bread, dan lain sebagainya, semuanya kita habiskan tetapi semua petani tahu jika kita makan semuanya dan kita tidak tinggalkan benih untuk kita tanam, maka tidak akan ada yang kita tuai. Dan banyak dari kita marah-marah sama Tuhan.

Pertanyaan saya, apakah engkau pernah menabur atau tidak?

Karena yang luar biasanya adalah ini, Tuhan menyediakan dua-duanya. Dan disinilah kebanyakan dari kita yang punya salah pengertian tentang memberi dan menerima berkat daripada Tuhan. Tuhan Menyediakan, Tuhan, yes menyediakan, we are owners of nothing and we are stewards of everything, segala sesuatu ada di tangan kita untuk kita nikmati dan juga kita tabur.

Contoh yang buat saya paling jelas, adalah keluarga anak-anak saya, Tuhan berikan dalam hidup saya dan istri untuk kita nikmati mereka, but one day, Kita harus bersedia untuk melepaskan mereka, menabur mereka ke dunia, supaya Tuhan bisa melakukan perkara-perkara Kehendak Tuhan dalam kehidupan mereka. They don’t belong to me. Saya bukanlah pemilik, saya hanyalah pengelola dari segalanya.

Tidak semuanya Tuhan beri punya tujuan yang sama. Masalahnya kita di zaman sekarang, we consume everything. Makan segalanya. Itu sebabnya kata consume menjadi kata consumer. Betul kan, ibu-ibu? Taruh di keranjang warna orange ya? We consume everything. Buy everything. Beli segalanya. Spend. Itu sebabnya giving menjadi equals dengan spending.

Tetapi rumus Firman Tuhan berbeda. Namun, tidak semuanya untuk kita makan. Tidak semuanya harus kita miliki. Atau kita anggap, “Oh yang penting saya happy-happy aja.” Karena jika semuanya dimakan, maka tidak akan ada yang sisa untuk ditanam dan ditabur. Dan kalau tidak ada yang ditanam, jangan marah sama Tuhan jika tidak ada tuaian.

Dan luar biasanya ayatnya tadi berkata, perhatikan, Dia juga akan menyediakan dan, apa? Help me out church, come on!, Memperbanyak, memperbanyak apa? Apa yang saudara simpan? Memperbanyak your savings? Memperbanyak deposito saudara? No! Dia akan memperbanyak apa yang saudara tabur. Malah yang ditabur, yang diperbanyak. Oh, this changed my life dulu, mengubah cara saya spending, mengubah cara saya menabung, mengubah cara saya melayani, karena saya sekarang tahu, segala sesuatu yang Tuhan titipkan, hanya supaya saya bisa tabur untuk orang lain.

Perhatikan, ini prinsip kerajaan Tuhan, Tuhan tidak menjanjikan melipat gandakan apa yang kita simpan. Tetapi Tuhan berjanji untuk melipatgandakan apa yang kita tabur. Tabur.

“Itu sebabnya Om, Di usia Om yang sekarang, Om tidak pernah berhenti menabur”.

Ada yang kirim video beberapa waktu yang lalu, Video live recording “Giving my best”, Kuberi yang terbaik 1996, 30 tahun yang lalu saya melakukan itu. Kalau saya melihat Sidney yang di video itu 30 tahun yang lalu, saya tidak bisa membayangkan bahwa ini semua akan terjadi hari ini.

27 tahun yang lalu, waktu JPCC dimulai di tahun 1999, kita tidak bisa membayangkan ini semua. Tetapi kalau hari ini sekarang bisa menikmati semua fasilitas gereja kita yang ada, itu karena 27 tahun yang lalu, ada begitu banyak orang yang menabur dengan air mata dan dengan kerja keras. Tetapi doa kita, ya terus nabur. Jangan berhenti pada saat kita sudah mendapatkan tuaian.

Dan yang Ketiga, Tuhan melipatgandakan apa yang kita tabur untuk TujuanNya, bukan tujuan kita. Always.

It’s always for a purpose of His Kingdom, untuk misi daripada kerajaan Tuhan. Apa misi kerajaan Tuhan? The Great Commission. Jadikanlah semua bangsa-bangsa muridKu. Itu misi kerajaan Tuhan. Artinya segala sesuatu yang kita lakukan dalam hidup kita is “discipleship”.

Apa yang saudara katakan? Apa yang saudara komen di social media? Apa yang saudara lakukan dalam pekerjaan, cara kita memperlakukan orang-orang sekeliling kita. Everything we do mengajarkan orang-orang sekeliling kita tentang siapa Tuhan. Apa yang Tuhan lipatgandakan adalah apa yang kita tabur tetapi untuk tujuan Tuhan dan bukan tujuanku, dan yang Tuhan perbanyak, perhatikan baik-baik, yang Tuhan perbanyak itu bukan sekedar materi atau uang tetapi yang Dia hasilkan adalah sesuatu yang jauh lebih dalam dan bermakna.

Dia akan menyediakan dan memperbanyak apa yang saudara tabur supaya hasil kemurahan hatimu bertambah pula. Dalam bahasa Inggrisnya, “is the fruit of your righteousness”. Artinya yang Tuhan tertarik untuk Tuhan lipat-gandakan dan perbanyak bukan harta saudara tetapi karakter saudara, kehidupan saudara yang diubahkan.

Bagaimana kita bisa menjadi berkat bagi orang-orang di sekeliling kita. Itu yang akan Tuhan lipat gandakan dari musim ke musim. The fruit of your righteousness. Tuhan tidak sedang membangun sistem transaksi pada saat saudara memberi, pada saat saudara hidupnya overflow, bukan menjadi kaya begini, “Oh, kalau aku berikan kepada Tuhan, nanti Tuhan akan melipatgandakan dalam kehidupanku”. Bukan!

Karena itu artinya kita cuma sekedar bertransaksi dan mencari profit and loss. Iya kan?

“Oh kalau aku investasi, ini returnnya berapa?”. Itu mah cara pikir dunia.

Tapi yang Tuhan janjikan sesuatu yang jauh lebih luar biasa. Tuhan memperkaya, Tuhan menambahkan ini, semua tujuannya jelas. Supaya kita bisa terus menabur. Supaya kita terus bisa memperbesar kapasitas kita untuk terus menjadi saluran berkat untuk misi daripada kerajaan Tuhan and this is the beautiful cycle, bahwa Tuhan yang memberi, kita menabur, pada saat kita menabur, Tuhan memberi lagi yang kita bisa percayakan sehingga kita bisa menabur lagi dan keeps going. and going, and going, dari sejak saya umur 17 sampai sekarang umur 53, itu saja yang saya kerjakan.

Pada saat yang bersamaan, saat kita diperbanya yang kita tabur, yang kita makan-pun juga Tuhan sediakan. Roti dan benih. Kita tidak perlu kerja untuk cari buahnya itu, Tuhan yang menyediakan. Tetapi apakah kita setia dengan apa yang di tangan kita atau tidak? Dan akhirnya semuanya ini, semua yang tadi kita baca bermuara kepada ayat 11 dan 12 ini.

Supporting Verse – [11] Dengan demikian kalian akan serba cukup dalam segala hal sehingga kalian selalu dapat memberi dengan murah hati. Dan pemberian-pemberianmu yang kami bagi-bagikan, menyebabkan banyak orang mengucap terima kasih kepada Allah. [12] Sebab perbuatan baik yang kalian lakukan ini bukan hanya akan mencukupi kekurangan umat Allah saja, tetapi juga akan menyebabkan banyak orang berterima kasih kepada Allah. 2 Korintus 9:11-12 BIMK

That’s the purpose, they glorify God. Meskipun yang saudara tabur adalah hasil daripada saudara, tetapi yang mereka ucap syukur adalah kepada Tuhan. To God be all the Glory. Yang dipermuliakan adalah Tuhan, bukan saudara dan saya, bukan JPCC atau gereja ini. Itu sebabnya stop semuanya yang ada di sosmed-sosmed, untuk menunjukkan bahwa gereja kita hebat dan lain sebagainya.

Tidak perlu, yang perlu kita banggakan adalah Kristus Yesus dan karyaNya di kayu salib. Tetapi ini, saat kita menjadi pengikut Kristus yang generous, yang overflowing hidupnya, orang lain di sekeliling kita akan menerima dari kita tetapi mereka akan bersyukur kepada Tuhan.

Artinya, Our generosity becomes a bridge between people and God.

Kemurahan hati saudara menjadi sebuah jembatan antara orang-orang di sekeliling kita, mereka yang belum mendapatkan apa yang saudara dapatkan, mereka yang belum merasakan kasih sayang Tuhan Yesus dalam kehidupan mereka, itu sebabnya 15 tahun ini saya masuk sampai ke pedalaman, melihat kehidupan anak-anak kecil yang ada di Papua dan pelosok-pelosok NTT dan lain sebagainya, karena mereka belum pernah merasakan apa yang saudara dan saya rasakan, dan saya mau menjadi jembatan buat mereka sehingga mereka mempunyai kesempatan suatu hari kelak, mereka akan bisa ada di rumah sakit menjadi seorang jururawat, mereka bisa menjadi guru yang mengajar anak-anak saudara, bahkan suatu hari kelak saya doakan anak-anak sponsor kami itu bisa menjadi presiden dan menteri bagi bangsa Indonesia.

Kita menjadi jembatan sehingga kehidupan yang berkelimpahan bukan hanya sekedar menjadi tindakan sosial tetapi menjadi tindakan penyembahan, menjadi penyembahan karena apa? Melalui kemurahan hati saudara, Nama Tuhan Yang ditinggikan dan dipemuliakan, Tuhan Yesus Yang mendapatkan all the glory. Semua orang mengucap syukur kepada Tuhan.

Dan ini sebabnya sampai sekarang mengapa saya masih memberikan segenap tenaga saya, segenap energi saya, kenapa sampai hari ini saya masih menulis lagu, saya sampai hari ini masih mengajak teman-teman membangun the next generation, sama seperti yang gereja kita lakukan. Kenapa?

Karena kita sudah sangat diberkati oleh Tuhan. Karena waktu kita mulai 27 tahun yang lalu. JPCC waktu kita mulai. 40 orang kita yang tidak punya apa-apa jaman dulu. Tetapi Ini semua bisa terjadi, karena apa? Karena sejak awal prinsip ini diajarkan.

Apa yang Tuhan berikan? Ada yang bisa kita makan, tapi jangan lupa kita tabur kembali. Hidup saya akan ditabur.

Empat hal dengan cepat bagaimana kita bisa aplikasikan ini.

Yang Pertama, Mulai hari ini, Ubah cara pandang saudara dan saya.

Ubah cara pandang “giving” menjadi menabur. Giving is not spending. Bukan kita menjadi konsumer dan menghabiskan apa yang kita punya. No! Tetapi kita menabur. Kita menabur sesuatu yang punya potensi untuk bertumbuh. Bertumbuhnya kapan? Terserah Tuhan. Tugas saya hanya menabur.

Yang kedua, mulai hari ini kita belajar membedakan mana itu roti dan mana itu benih.

Dan ini yang dulu mengubah persepsi saya tentang kehidupan saya. Mulai berdoa kepada Tuhan setiap kali, apakah ini roti yang saya nikmati atau benih yang harus saya tanam?

Yang ketiga, Be an Intentional Giver.

Bukan an emotional one. Jangan kita mencoba untuk menjadi generous karena kita ikut-ikutan. Atau karena terpaksa seperti tadi Paulus katakan, Yesus tidak terpaksa sama sekali. Tetapi Dia secara intentional, secara sadar. Bukan emotional. Apalagi ini, jangan sederhana memberikan karena sungkan, karena melihat orang pada memberi dan mau ikut juga karena itu. No, be intentional. Sama seperti Yesus berlutut di taman getsemani, Dia berkata bukan kehendakKu yang terjadi tetapi kehendakMu yang terjadilah. Dia sadar betul bahwa apa yang harus Dia berikan itu harganya luar biasa, tetapi karena dengan sadar Dia memberikanNya, makanya Tuhan sangat mengasihiNya.

Dan yang Ke-empat, dasar dari segalanya. Always trust God as our source.

Saya bukan pemilik. Saya pengelola. Tuhan sumber segalanya. Tuhan mau beri, puji Tuhan. Tuhan minta saya memberikan semuanya, Puji Tuhan. Tuhan adalah sumber segalanya. Kalau kita hidup seperti ini. Dengarkan saya baik-baik. Saya dan istri buktiNya, bukti dari Kebaikan dan Kesetiaan Tuhan.

Dari jaman kita sulit, saya ingat anak pertama, untuk beli susu aja susah pada waktu itu. Tetapi kita melihat dalam segala musim kehidupan, In every season, saya selalu bertanya kepada Tuhan, Tuhan berikan roti atau benih, setiap kali ada yang kita tahu ini benih, Istri saya adalah orang yang pertama yang selalu berkata, “Give it away, Berikan, Give your life away”.

Waktu saya beberapa tahun yang lalu berkata kepada istri saya,

“Say, aku sudah mulai tua, kayaknya sudah capek untuk aku terbang-terbang pergi pelayanan kiri-kanan”

Dia berkata, “No Jangan pernah berhenti. Karena Tuhan sudah memberikan begitu banyak dalam kehidupan kita”.

Bukan artinya dia suruh saya kerja terus, pergi-pergi. Bukan. Tetapi karena dia menyadari. Dia menyadari konsep ini. Selama kita masih hidup, sampai akhir hidupku. Lagunya ada ditulis. Hidup kita adalah penyembahan. We are the bridge between others and God. Sehingga our generosity, a life that overflows, menjadi semua penyembahan bagi Tuhan.

Lord, I give you my life. I give you my everything. Bahkan I give you my marriage, my family, semua milikmu. Pakailah sesuai kehendakMu. Semua punya potensi untuk bertumbuh. Seperti apa? Terserah.

Kita lakukan itu, dengarkan saya baik-baik. Karena ini yang kita lakukan 27 tahun yang lalu, kita bisa melihat hasil daripada tuaian hari ini. Doa saya, doa Ps. Jose, dan semua para pastor yang lain, adalah kita sebagai gereja tidak pernah berhenti menabur sehingga 30 tahun dari sekarang, anak dan cucu saudara bisa menikmati hadirat Tuhan seperti kita bisa menikmati hadirat Tuhan hari ini. Anak dan cucu Tuhan bisa mempunyai komunitas dimana mereka bisa berjumpa dengan Tuhan.

It’s not about me. It’s not about you. It’s about the next generation. It’s about His purpose. His commission. Go. Jadilah berkat. Jadilah, muridkan bangsa-bangsa yang seperti kita. Dan ini yang kita lakukan. In God’s kingdom we don’t lose what we sow. It’s not profit and loss. Tetapi apa yang kita tabur, kita tuai, be multiply by God’s grace.

Dan kemarin kita ada di Leaders Gathering, Pastor Kenny Goh menutupnya dengan sangat luar biasa. Ada satu kalimat saya tadi malam tambahkan, Kalimatnya begini.

The reward of serving God Is God Himself.

Jangan pernah kita berpikir bahwa, “Oh kalau saya melayani Tuhan, kalau saya memberi, kalau saya menjadi generous, saya akan dapatkan A, B, C, D, E, F, G. No, itu namanya transaksi. Itu namanya hitung-hitungan sama Tuhan. Kalau kita mengerti bahwa melayani Tuhan artinya upah atau hadiahnya adalah Tuhan. You are more than enough for me.”

P.S : If you like our site, and would like to contribute, please feel free to do so at : https://saweria.co/316notes