JPCC Sutera Hall 2nd Service (5 April 2026)
Mari beri tepuk tangan sekali lagi buat Tuhan kita, Terima kasih untuk kebangkitan, terima kasih Engkau hadir dalam kehidupan kami. Kami tahu bahwa di dunia ini, kami mungkin menemukan begitu banyak hal-hal yang terkadang tidak pasti, tidak kami mengerti, tetapi kami tahu karena kebangkitan Tuhan, Kami berjalan tidak sendirian, karena Tuhanlah yang memegang tangan kami, dengan tangan kananMu yang membawa kebenaran, Terima kasih Tuhan.
Terima kasih untuk Kasih-Mu. Untuk anugerah-Mu. Untuk Kasih karunia-Mu yang melimpah di dalam kehidupan kami. Hari ini kami datang untuk merayakan Kebesaran-Mu, merayakan Kebaikan-Mu, Kesetiaan-Mu, Tuhan. Supaya nyatalah kuasa-Mu, nyatalah kasih-Mu di tengah-tengah kami semua. Speak to us Holy Spirit, Tuntun kami supaya kami boleh terus-menerus diubahkan sesuai dengan kehendak-Mu. Amin.
Nah, Saya ingin melanjutkan seri pengajaran kita yang dimulai di hari Jumat Agung yang lalu, yaitu “Kehidupan yang melimpah keluar”. Kalau saudara masih ingat, di hari Jumat Agung yang lalu, pada bagian akhir dari kotbah Pastor Alvi, dia menyampaikan salah satu pertanyaan renungan yang kita bisa pakai untuk merenungkan beberapa hari ini khususnya.
Apakah saya hidup dengan kesadaran penuh bahwa hidup yang saya jalani hari ini dibayar dengan harga yang sangat mahal oleh salib Kristus?
Kita sama-sama tahu, kita sudah belajar bahwa “The cross is the best generous gift“. Salib Kristus adalah kemurahan terbesar yang pernah ada di sepanjang sejarah umat manusia. Itu sebabnya “It is the gift that cost Jesus everything”, suatu pemberian, suatu hadiah yang bahkan membuat Yesus mengorbankan segala-galanya bagi kita. Itu sebabnya hidup yang kita jalani hari ini dibayar dengan harga yang sangat mahal.
Kalau saudara melihat pertanyaan tersebut dan jawabannya atau respons saudara adalah “Iya”. Saya sadar bahwa hidup yang saya jalani ini dibayar dengan harga yang sangat mahal.
Pada bagian akhir, kita diajak untuk melihat apa yang Yesus katakan di dalam Lukas 9 ayat 23, yang seharusnya menjadi sikap dan perilaku kita kalau kita sadar bahwa hidup kita ini dibayar dengan harga yang sangat mahal oleh Tuhan Yesus.
Opening Verse – [23] Yesus berkata lagi kepada semua murid-Nya, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, dia harus melupakan kepentingannya sendiri dan terus mengikut Aku dengan bertekad, ‘Sekalipun harus mati, bahkan mati disalibkan, aku tidak akan mundur!’ Lukas 9:23 TSI
[23] Kata-Nya kepada mereka semua: ”Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Lukas 9:23 TB
Pada hari ini, saya ingin mengajak saudara untuk fokus terutama kepada bagian yang pertama tadi, yaitu bagian tentang mengesampingkan kesenangan pribadi.
Karena kalau kita tidak bisa mengesampingkan kesenangan pribadi, maka sulit untuk kita memikul salib yang adalah, berbicara tentang mengenali dan menghidupi tujuan dan panggilan yang Tuhan berikan kepada kita setiap hari.
Bagaimana mungkin mau menghidupi apa yang Tuhan berikan kepada kita kalau yang kita pikirkan masih kesenangan pribadi?
Lalu belum lagi kalau kita mau mengikuti jalan-jalan yang Yesus nyatakan bagi kita. Tapi saya juga sadar, berbicara tentang mengesampingkan kesenangan pribadi, tentunya tidak semudah membalikan tanah. Betul, saudara?
Mengesampingkan ego, kepentingan, kesenangan pribadi, tidak gampang. Kalau tidak percaya, saudara, bisa gampang untuk melihat tempat pakir kalau lagi rebutan parkir, saudara. Saya jadi ingat, satu kali saya sama istri saya, kita sempat mampir di sebuah toko roti. Tidak jauh, masih di daerah sini juga. Bukan di Alam Sutera, tapi sebenarnya di Gading Serpong.
Istri saya turun untuk beli roti, jadi saya menunggu di dalam mobil. Kebetulan, waktu saya lagi tunggu di dalam mobil, mobil yang di sebelah saya akhirnya keluar dari parkirnya dan pergi. Nah, pada saat dia keluar pergi, lalu ada satu mobil lagi datang. Ya mungkin, mungkin tadinya yang ada disana berpikir seperti ini ya.
“Aduh, puji Tuhan langsung dapet parkir. Karena kayaknya parkir itu lagi susah banget kan, di dekat tempat roti tersebut. Aduh, puji Tuhan langsung dapet parkir”.
Langsung dia, begitu mobil yang keluar itu jalan, dia langsung mau pasang posisi untuk parkit begitu ya.
Pada saat mobil dia lagi maju, mau mundur, tiba-tiba ada mobil di belakangnya yang langsung masuk! Jangan ya saudara, jangan lakukan itu. Itu bisa memulai perang dunia ketiga, saudara. Tolong jangan dilakukan. Di tempat lain terserah lah, di sini jangan. Apalagi kalau diketahui bahwa saudara adalah jemaat JPCC. Jangan, saudara.
Saya tidak mengerti “thought process-nya” seperti apa untuk mengambil keputusan itu. Dia mikir apa ya tadi, maksudnya sampai dia bisa mengambil keputusan untuk langsung mencuri parking begitu misalnya. Waduh. Tapi jangan tanya apa kejadian setelahnya. Intinya bukan tentang itu. Saya cuma ingin menggambarkan bahwa mengesampingkan ego atau kesenangan pribadi itu sulit sekali. Sulit sekali.
Tetapi kenapa sih begitu sulit bagi manusia untuk mengesampingkan ego atau kesenangan pribadi? Taukah saudara bahwa semua ini setelah kita mau pelajari lagi lanjut, justru bahkan mulai dari sejak kejadian di Taman Eden, saudara. Semua bermula dari kejadian di Taman Eden.
Saudara tahu, manusia diciptakan, Adam, dan lalu Hawa, Tuhan tempatkan di taman Eden untuk mengelola taman tersebut. Dan di taman itu dikatakan Tuhan menciptakan pohon-pohon. Semua pohon yang ada di taman itu boleh dimakan sama adam.
Bahkan ada dua pohon yang disebut juga, yaitu ada pohon kehidupan dan juga ada pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat. Di dalam kejadian 2 ayat 16 dikatakan begini.
Supporting Verse – [16] Lalu Tuhan Allah memberi perintah ini kepada manusia: ”Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, Kejadian 2:16 TB
Yang perlu kita ketahui dari ayat ini adalah oleh karena Kasih Allah, Kasih memberikan kita pilihan, manusia diberikan kebebasan untuk memilih sebenarnya, pohon kehidupan.
Pohon kehidupan adalah sesuatu yang melambangkan bagaimana kehidupan kita seharusnya bersandar, percaya, dan bergantung, selalu terhubung kepada Sang Sumber Kehidupan. Tidak berjalan sendirian. Manusia diberikan kebebasan untuk memilih, bukan diharuskan atau bahkan diprogram untuk itu.
Karena Allah adalah Kasih. Tetapi juga pada saat yang bersamaan, manusia diperintahkan untuk tidak memilih pohon pengetahuan baik dan jahat yang merupakan lambang dari kehidupan yang memilih untuk tidak bergantung kepada Allah, dan mau menilai apa yang baik dan yang buruk sesuai dengan kemauan dirinya sendiri.
Kita lanjut di dalam ayat 17 dikatakan begini.
Supporting Verse – [17] tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” Kejadian 2:17 TB
Konsekuensinya tidak main-main. Akibatnya tidak main-main. Alkitab mencatat bahwa Adam dan Hawa memakan buah pohon pengetahuan baik dan jahat. Dan pada hari itu juga mereka mati.
Tahukah saudara bahwa kematian adalah musuh utama kita semua?
Musuh utama manusia. Allah sudah mengatakan bahwa saat mereka makan buah yang dilarang tersebut, mereka akan mati. Manusia mati karena hubungan yang terputus dari Sumber kehidupan.
Saudara dan saya sebagai manusia, kita bisa mengalami kematian ketika hubungan kita terputus dari sebuah sumber kehidupan. Sama seperti sebuah kabel colokan listrik yang dicabut, terputus, atau tidak lagi terhubung dengan sumber listriknya.
Nah, bicara soal kematian, kematian itu tidak cuma satu bentuk, saudaratian ada tiga bentuk. Nah, karena kita tahu bahwa waktu Adam dan Hawa makan buah tersebut, yang dilarang tersebut, Adam dan Hawa tidak tiba-tiba langsung mati begitu, tidak langsung gitu. Karena kematian yang dimaksud memang ada tiga bentuk.
Bentuk yang pertama tentang kematian, mungkin sudah lagi berpikir, ini kan hari kebangkitan ya, kenapa kita bicara soal kematian ya? tenang-tenang, kita akan sampai pada kebangkitan.
Kematian pertama, bentuk kematian pertama yang terjadi adalah Kematian Rohani
Kematian rohani ini adalah tentang Hubungan yang tiba-tiba mendadak langsung terpisah dari Tuhan akibat keputusan yang manusia ambil untuk mengabaikan kebenaran Allah. Sifatnya instan, langsung. Tidak lagi terhubung dengan sumber kehidupan tersebut karena memutuskan untuk tidak mau bergantung kepada Sumber kehidupan tetapi mau mencoba untuk menentukan sesuai dengan ego, keinginan, dan kesenangan pribadinya sendiri. Bahkan mulai, jangan-jangan mulai berpikir kayaknya, “Aduh Tuhan kurang pintar nih, saya kayaknya lebih tahu nih, I think I know about this better, kayaknya saya lebih tahu tentang hal ini, Tuhan.. ya sudah nanti hari minggu saja, tetapi kalau soal pekerjaan, kalau soal industri ini, dan soal lainnya, saya saja yang akan membuat keputusan. Kematian rohani terjadi ketika kita terpisah dari Tuhan.
Bentuk kematian yang kedua adalah Kematian Jasmani.
Karena awalnya manusia tidak didesain seperti itu. Awalnya manusia didesain untuk hidup berdampingan bersama dengan Tuhan sampai selama-lamanya. Tetapi karena dosa dan pelanggaran dosa masuk, maka kematian pun masuk. Salah satunya adalah bentuk kematian jasmani, sehingga menjadi hal yang mutlak dan pasti di dalam kehidupan manusia, terjadinya suatu hari nanti. Makanya kalau saudara hadir di dalam sebuah ibadah kedukaan biasanya pembicara seringkali menyampaikan begini, kematian adalah hal yang misterius, kita tidak tahu kapan terjadinya, bagaimana terjadinya, siapa duluan, lewat apa dan semuanya.
Tetapi walaupun kematian adalah sesuatu yang misterius, kematian juga pada saat yang bersamaan adalah suatu kepastian. Suatu hal yang memang mutlak dan pasti terjadi. Kita memang tidak tahu apa-apa, tapi memang pasti terjadi. Kita semua akan mengalami hal tersebut.
Tapi bentuk kematian ketiga juga yang terjadi ketika dosa dan pelanggaran masuk adalah Kematian secara Relasional.
Kematian di dalam bagaimana kita berhubungan antara sesama manusia dan juga bagaimana kita berhubungan dengan dunia ini. Sudah ingat ceritanya ketika dosa masuk lalu Adam dan Hawa diminta pertanggung-jawaban, yang terjadi adalah hubungan mereka jadi kacau. Adam menyalahkan Hawa, Hawa menyalahkan ular, ular bingung mau salahin siapa.
Bahkan bukan cuma sekitar itu kalau saudara ingat. Karena Adam berbuat salah, yang dihukum bukan cuma Adam, tapi tanah pun ikut dihukum. Dunia kena hukuman gara-gara manusia berbuat salah. Manusia mulai menjalani hidup dikuasai oleh ketakutan dan rasa malu yang tadinya tidak ada itu, saudara. Manusia hanya memikirkan diri, bahkan sampai rela mengorbankan orang lain untuk mencapai kesenangan pribadinya.
Bahkan hubungan hancur, order atau tatanan ciptaan menjadi rusak. Dinamika orang untuk saling mengasihi, kasih dan menerima kasih menjadi rusak, menjadi kacau. Oleh karena dosa masuk yang disebabkan oleh keinginan manusia untuk menentukan bagi dirinya sendiri. Tidak lagi mau bergantung kepada Sang pencipta, Sumber kehidupan Bahkan kita bisa lihat dalam konteks dinamika hubungan, Perhatikan apa yang terjadi Pada Adam dan Hawa sebelum dan sesudah hubungan mereka terputus dari sumber kehidupan tersebut oleh karena dosa.
Supporting Verse – [25] Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu. Kejadian 2:25 TB
This is the original design, saudara. Awalnya, manusia, mereka hidup dalam Kasih, mengasihi Allah dan sesama satu sama lain dengan tulus, tanpa rasa malu, dan secure. Tetapi perhatikan apa yang terjadi sesudah mereka melanggar di ayat berikutnya.
Supporting Verse – [6] Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya. [7] Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat. Kejadian 3:6-7 TB
Segera, sesudah memakan buah itu, lalu yang terjadi adalah mata dan pikiran mereka tiba-tiba terbuka. Langsung saudara, kematian rohani. Mereka malu karena mereka menyadari bahwa mereka telanjang. Mereka merasa terekspos. Ada inisiatif yang mereka lakukan untuk menutupi apa yang terekspos. Pada saat mereka memilih untuk bersandar kepada diri sendiri, tidak lagi bersandar kepada Sang Sumber Kehidupan, mereka berusaha untuk mengedepankan kesenangan pribadi, ego, atau kepentingan mereka sendiri, mengabaikan apa yang Allah sesungguhnya katakan, mengabaikan kebenaran dari Allah, maka yang terjadi adalah mereka jadi sadar bahwa mereka telanjang, mereka terekspos dan menyadari kelemahan dan kekurangan mereka.
Lalu yang terjadi adalah mereka berusaha untuk menutupi rasa malu dengan desain dan inisiatif mereka sendiri. Itu sebabnya inisiatif atau bahkan perbuatan baik bukankah solusinya dalam kehidupan kita, saudara. Tidak ada satupun inisiatif ataupun perbuatan baik kita yang dapat menyelamatkan kita dari kematian. Karena menurut diagnosa Alkitab, masalah kita yang sebenarnya adalah kita mati.
Kematian, saudara. Yang tadi, ada tiga bentuk itu. Kita mati karena hubungan kita terputus dengan sumber kehidupan. Jadi masalahnya bukan tentang perbuatannya baik atau kurang baik, atau gimana atau perlu diperbaiki. Bukan behavior modification, bukan. Bukan modifikasi kebiasaan atau gaya hidup. Masalahnya adalah kita mati, saudara.
Hubungan kita terputus dengan sumber kehimpuan tersebut. Jadi, kalaupun ada satu solusi yang bisa menyelamatkan kita, Kita butuh seorang Juru Selamat.
Saudara dan saya sebagai manusia, kita manusia butuh Juru Selamat. Karena kita sudah mati, saudara. Pernahkah saudara lihat orang mati mencoba untuk menyelamatkan dirinya sendiri? Tidak bisa kan? Kita butuh Juru Selamat, dan bukan sembarangan Juru Selamat. Kita butuh Juru Selamat yang berkuasa untuk mengalahkan kematian.
Karena masalah utamanya adalah kematian. Itu sebabnya kita butuh Juru Selamat yang berkuasa untuk mengalahkan kematian. Itu sebabnya hari Paskah merupakan kabar balik bagi kita semua. Betul? Yes! Karena Juru Selamat kita bangkit dari kematian.
Supporting Verse – [21] Maka pahamilah: Kuasa kematian sudah menular kepada semua manusia karena perbuatan satu orang, yaitu Adam. Sekarang, kebangkitan pun diberikan kepada semua manusia oleh karena Satu Orang juga, yaitu Yesus. [22] Karena sebagai keturunan Adam, semua manusia mengalami kematian. Tetapi setiap orang yang bersatu dengan Kristus dihidupkan kembali dari kematian. 1 Korintus 15:21-22 TSI
Kasihan memang yang menjadi Adam. Tapi, Itulah pilihannya Adam. Makanya saudara perlu ingat, Pilihan kita menentukan dimana kita berada hari ini.
Nah, pada saat kesamaan, kikatakan diatas bahwa kebangkitan-pun diberikan kepada semua manusia oleh karena satu orang juga, yaitu Yesus. Karena sebagai keturunan Adam, semua manusia mengalami kematian. Sebagai keturunan Adam, saudara dan saya sebagai manusia pasti mengalami kematian.
Supporting Verse – [23] Karena semua orang sudah berbuat dosa dan tidak layak menikmati kemuliaan Allah. Roma 3:23 TSI
Makanya waktu di hari Jumat Agung, kita belajar bahwa semua orang telah berbuat dosa, tidak ada satu pun, tidak ada pengecualian. Makanya bayi yang baru lahir pun mewarisi dosa karena keturunan adam, semua orang telah berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.
Sebagai keturunan Adam, manusia mengalami kematian. Tetapi puji Tuhan! ada kata “tetapi” disitu.
Tetapi setiap orang yang bersatu dengan Kristus, dihidupkan kembali dari kematian. Haleluya!
Karena semua orang yang bersatu dengan Kristus dihidupkan kembali dari kematian. Sebuah janji yang luar biasa. Ketika Adam berdosa, seluruh umat manusia ikut menanggung akibatnya, yaitu kematian. Namun ketika Yesus datang ke dalam dunia dan hidup sempurna sesuai dengan kehendak Allah. Seluruh umat manusia menerima keuntungannya, yaitu hidup yang kekal dan kebangkitan.
Supporting Verse – [23] Proses kebangkitan ini terjadi secara bertahap: Pertama, Kristus dihidupkan dari kematian sebagai jaminan bagi kita. Kemudian, pada hari kedatangan-Nya kembali, kita semua yang sudah menjadi milik Kristus juga akan dibangkitkan dari kematian. 1 Korintus 15:23 TSI
Yang pertama, Kristus dihidupkan dari kematian sebagai jaminan bagi kita . Dan itulah yang kita rayakan hari ini, yaitu kebangkitan Yesus. Tetapi bukan hanya sekedar kebangkitan Yesus yang kita rayakan. Tetapi kita juga ikut merayakan pengharapan yang datang kemudian. Kristus dihidupkan dari kematian sebagai jaminan bagi kita, kemudian, dikatakan bahwa pada hari kedatanganNya kembali, kita semua yang sudah menjadi milik Kristus, juga akan dibangkitkan dari kematian.
Wow! Ini serius ya? Siapa bilang JPCC tidak pernah berbicara soal akhir jaman?
Itu sebabnya, di tahun 2021 dimana almarhum Ayah saya harus meninggalkan dunia ini karena COVID-19. Yam sesedih-sedihnya, pasti sedih tetapi sesedih-sedihnya duka yang saya alami papi. Saya tulis di social media saya, “Till we meet again”, Sampai kita bertemu kembali. Karena janji ini!
Karena janji yang kita terima sebagai orang percaya. Bahwa bukan hanya Yesus dibangkitkan dari kematian. Tetapi Dia dibangkitkan sebagai yang pertama dan menjadi buah sulung supaya memberikan pengharapan kepada kita bahwa kemudian kita semua juga akan dibangkitkan pada saat kedatangannya kembali. Till we meet again. Kematian bagi orang percaya bukanlah akhir dari segala-galanya. Hal ini memberikan pengharapan justru bagi kita semua.
Tapi tidak berhenti disini, kita lanjut di dalam ayat 24 Sampai ayat 26 dikatakan begini.
Supporting Verse – [24] Selanjutnya, terjadilah hal yang terakhir dari semuanya: Kristus akan membinasakan setiap pemerintahan, kerajaan, dan penguasa yang lain. Sesudah itu, Dia akan menyerahkan segala sesuatu kepada Allah Bapa, supaya Allah memerintah sebagai satu-satunya Raja. [25] Sebab Allah sudah menetapkan agar Kristus “duduk di sebelah kanan-Nya” dan memerintah sebagai Raja sampai tiba saat yang sudah Allah janjikan kepada-Nya, yaitu, “Aku akan mengalahkan semua yang memusuhi-Mu dan menjadikan mereka budak-Mu.” [26] Musuh terakhir yang akan dibinasakan adalah kuasa kematian. 1 Korintus 15:24-26 TSI
Puji Tuhan, Yesus Bangkit, Tetapi justru Yesus, Sang Juru Selamat kita datang, mati di atas kayu salib dan bangkit pada hari yang ketiga untuk mengalahkan kematian. Jadi, oleh karena Yesus bangki,t Maut telah dikalahkan, Haleluya!
Oleh karena Yesus bangkit, manusia punya perharapan bahwa suatu hari, maut, kuasa maut, bahkan pengaruh dari kuasa maut, akan dilenyapkan dari muka bumi. Kita bayangkan, saudara-saudara. Bayangkan seperti apa hari itu. Bayangkan apa yang akan terjadi, ketakutan lenyap. Kita tidak lagi hidup di dalam rasa takut dan rasa maut, saudara-saudara. Ketakutan hilang, dan kasih, damai, sejahtera, sukacita, memerintah.
Yang kita kenal hanya kasih, damai, sejahtera, sukacita, tidak ada lagi rasa takut. Bahkan digambarkan di dalam Alkitab, tidak ada lagi sakit-penyakit. Tidak ada lagi rasa sakit, saudara. Inilah masa depan yang Allah rencanakan bagi kita dan bagi seluruh dunia. Kebangkitan Yesus membuktikan bahwa Allah berkuasa atas kematian dan kuasa kebangkitanNya tersedia bagi kita semua orang-orang percaya, itulah “how powerful”, betapa dahsyatnya kuasa kebangkitan, dan kuasa ini tersedia bagi kita semua orang percaya.
Nah, kalau tadi kita bahas tentang 3 bentuk kematian. Sekarang kita bisa melihat bahwa kuasa kebangkitan Yesuspun telah memulihkan dan bahkan memutarbalikan kondisi kematian yang pernah terjadi dalam kehidupan manusia.
Yang Pertama, Kebangkitan Rohani terjadi.
Kalau tadi ada kematian rohani, sekarang ada kebangkitan rohani. Yang adalah, yang terjadi hubungan kita dipulihkan dengan Allah. Kita tidak lagi terpisah dengan Allah. Kita tidak lagi terpisah dengan sumber kehidupan. Kita jadi bisa mengerti apa kehendak Allah bagi kita. Kita jadi bisa memikirkan apa yang menyenangkan hati Allah dan melukai hati Allah. Hubungan kita dipulihkan dengan Allah.
Bukan hanya itu, tetapi tadi kita sudah baca bentuk kebangkitan yang kedua adalah Kebangkitan Jasmani.
Tubuh jasmani kita akan dibangkitkan saat Yesus datang kembali, Haleluya! Jadi, bukan hanya sekedar akhir dari segalanya tetapi justru disaat Yesus datang kembali, kebangkitan jasmani akan terjadi.
Dan yang Ketiga tentunya adalah Kebangkitan secara Relasional.
Kebangkitan di dalam kita berhubungan dengan sesama manusia dan dengan dunia ini. Cara kita hidup dan cara kita berhubungan ditandai oleh kasih dan pengharapan. Tidak lagi oleh rasa takut, rasa curiga, rasa malu, rasa intimidasi, dan seterusnya. Tapi ditandai oleh kasih dan pengharapan. Ada kemurahan hati yang terjadi. Seperti ayat renungan kita di hari paskah ini. Demikianlah seharusnya kita menyikapi paskah, hari kebangkitan Tuhan Yesus.
Supporting Verse – [32] Buktinya, Allah tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi menyerahkan Dia untuk menderita dan dikurbankan demi menyelamatkan kita. Kalau Allah rela memberikan Anak-Nya yang terkasih, tentulah Dia akan tetap berbaik hati kepada kita dan memberikan semua hal lain yang sudah dijanjikan-Nya kepada kita. Roma 8:32 TSI
Itu sebabnya “Sacrifice is love made tangible“. Pengorbanan adalah Cinta Kasih yang diwujudkan, dan seharusnya diwujudkan dalam kehidupan kita sehari-hari apalagi di dalam kehidupan pernikahan kita. Cinta yang kita berikan bukan cuma sekedar lewat kata-kata tetapi lewat perbuatan kita, diwujudkan lewat perilaku kita, lewat pengorbanan kita untuk mengutamakan satu sama lain.
Mengedepankan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi, mengesampingkan kesenangan pribadi. Allah yang baik tidak menahan apapun untuk kita semua, Kalau yang terbaik dan termahal saja sudah Dia berikan, yaitu anakNya sendiri, Tuhan Yesus Kristus, maka seperti apa yang dikatakan Paulus, Bagaimana mungkin Dia tidak mengkaruniakan segala sesuatunya kepada kita?
Salibnya, Salib adalah bukti bahwa Tuhan Tidak menahan kebaikan apapun dari kita. Harusnya ini cukup untuk membuat kita yang kadang-kadang berpikir curigaan sama Tuhan, “Tuhan kayaknya gak mau saya seneng deh, Tuhan kayaknya gak mau saya berhasil deh, Tuhan kayaknya gak mau saya mendapatkan apa yang saya mau”, No, saudara-saudara!”
Salib adalah bukti kalau Tuhan tidak menahan kebaikan apapun dari kita karena yang terbaik sudah Dia berikan kepada kita.
Itu sebabnya pesan Firman Tuhan hari ini, kalau di hari Jumat Agung judulnya “The gift that cost Jesus everything”, Di hari Paskah judulnya adalah “The Gift that gave us everything“.
Hadiah yang memberikan, mengkaruniakan kepada kita segalanya. Tapi tahukah saudara bahwa kata-kata mengkaruniakan segala sesuatu pada ayat diatas, bukan berarti kita jadi mendapatkan apa saja yang kita mau, Konteksnya bukan itu.
Tetapi maksudnya adalah Allah akan menyediakan semua yang kita perlukan untuk bisa hidup memuliakan Allah.
Supporting Verse – [32] Buktinya, Allah tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi menyerahkan Dia untuk menderita dan dikurbankan demi menyelamatkan kita. Kalau Allah rela memberikan Anak-Nya yang terkasih, tentulah Dia akan tetap berbaik hati kepada kita dan memberikan semua hal lain yang sudah dijanjikan-Nya kepada kita. Roma 8:32 TSI
Bukan memberikan semua hal lain sesuai dengan apa yang mereka mau. Bukan. Semua hal lain yang sudah dijanjikanNya kepada kita. Melalui kemurahan hati Allah, kita mendapatkan Janji-JanjiNya, Hubungan kita dipulihkan oleh Tuhan dan tersambung dengan Dia sebagai sumber kehidupan, sumber hikmat, sumber sukacita, sumber kekuatan kita. Bahkan di dalam Dia, kita menemukan identitas dan tujuan hidup kita.
Kita juga menerima janji akan kebangkitan dan hidup yang kekal bahwa suatu hari nanti, tubuh jasmani ini, kita juga akan dibangkitkan bersama-sama dengan Dia pada saat kedatanganNya, bahkan kita juga dipulihkan kualitas kehidupan kita supaya kita mengerti bagaimana hidup di dalam kasih, bagaimana hidup tidak mementingkan diri sendiri, bahkan bisa menjadi berkat buat orang lain.
Kebangkitan Yesus menyatakan kemuliaan hati Allah, dan menyediakan semua yang kita perlukan untuk hidup bagi Allah. Ada suatu ayat, contoh kehidupan jemaat mula-mula setelah kebangkitan Yesus.
Supporting Verse – [33] Dengan kuasa besar, rasul-rasul memberitakan kesaksian bahwa Tuhan Yesus sudah dihidupkan kembali dari kematian. Dan Allah terus menunjukkan betapa besarnya kebaikan hati-Nya kepada semua orang percaya itu. [34] Pada waktu itu, tidak ada seorang pun dari antara mereka yang berkekurangan. Karena sering kali, salah satu dari mereka yang memiliki ladang atau rumah menjual miliknya itu dan membawa hasil penjualannya [35] untuk diserahkan kepada rasul-rasul, lalu uang tersebut dibagikan kepada anggota mereka yang membutuhkan. Kisah 4:33-35 TSI
Mungkin ada beberapa dari saudara yang berpikir, “Kok ini mirip sama sosialisme ya?”
Sosialisme itu seperti sebuah aturan atau dorongan, atau bahkan beberapa melihat sebagai paksaan untuk mendistribusi kekayaan bagi kepentingan sosial tetapi bukan seperti ini yang terjadi, bukan seperti ini.
Karena mereka melakukannya dengan senang hati, sukarela dan dalam Kasih. Sebab dikatakan bahwa mereka semua hidup di dalam kasih karunia yang melimpah-limpah karena telah mendengar kesaksian tentang kebangkitan Yesus.
Kebangkitan Yesus membuat mereka hidup di dalam kasih karunia yang melimpah-limpah. Sehingga mereka dengan senang hati, dengan suka rela, untuk membagi-bagikan apa yang ada pada mereka supaya orang lain juga bisa ikut diberkati. Luar biasa, saudara, bukankah kita semua merindukan hal seperti itu?
Gambaran restorasi atau pemulihan yang terjadi di dalam kehidupan orang-orang yang hidup dalam kuasa dan dampak kebangkitan Yesus.
Generosity is the proof of a revived and a renewed heart.
Kemurahan hati adalah bukti dari hati yang dibangkitkan dan diperbaharui. Orang-orang yang sudah menerima kuasa kebangkitan Kristus hidup dalam kemurahan hati biasanya adalah orang-orang yang mampu menerima, menghormati, menghargai dan mengampuni kesalahan orang lain.
Orang-orang yang menerima kuasa kebangkitan hidup dalam kemurahan hati adalah orang-orang yang tidak mengutamakan diri sendiri tetapi selalu berusaha untuk memikirkan bagaimana mengutamakan orang lain. Orang-orang tersebut selalu bersedia membantu dan melayani orang lain. Itu sebabnya di gereja ini, saudara diajak untuk tergabung di dalam sebuah komunitas yang kita sebut DATE, supaya saudara bisa terhubung dengan satu sama lain, membantu dan bahkan bertumbuh bersama.
Saudara juga diajak untuk melayani. Karena seperti itulah orang yang sudah hidup di dalam Kuasa Kebangkitan, selalu mau memberi yang terbaik bagi Tuhan dan sesama, sama seperti Tuhan kita, karena RohNya yang kudus juga tinggal di dalam kita. Tanpa RohNya yang kudus, kita tidak bisa seperti itu. Closing Verse – [9] Maka akuilah dengan mulutmu bahwa Yesus adalah Penguasa hidupmu dan percayalah dalam hatimu bahwa Allah sudah menghidupkan Yesus dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Roma 10:9 TSI
P.S : If you like our site, and would like to contribute, please feel free to do so at : https://saweria.co/316notes



