Never About Me By Ps. Alvi Radjagukguk

JPCC Online Service (28 November 2021)

Sebelum kita mendengar pesan Tuhan, saya ajak Saudara untuk membudayakan untuk mencatat firman Tuhan. Selain mencatat akan membantu kita untuk mencerna firman Tuhan dengan lebih baik, supaya juga kita tidak gampang tidur, apalagi kalau mengikutinya sambil duduk atau baringan. Saudara siap?

Firman Tuhan hari ini saya berikan judul: “Never About Me”, (“Tidak Pernah Tentang Saya”),’dan ini adalah minggu yang terakhir dimana kita akan belajar tentang visi dan tujuan. Saudara, tahu visi dan tujuan tidak otomatis membuat kita terus menghidupi visi dan tujuan itu. Sebaliknya, waktu visi dan tujuan itu kabur, hal ini juga enggak perlu membuat kita hidup dalam keputusasaan atau kefrustrasian.

Krisis berpotensi untuk membuat seseorang melupakan atau bahkan kehilangan visi dan tujuannya. Di saat yang bersamaan, sebaliknya, krisis juga berpotensi untuk memurnikan dan mempertajam visi dan tujuan hidup seseorang. Demikian juga dengan sukses atau keberhasilan; baik krisis maupun sukses, dua-dua ini berpotensi untuk memperkuat atau melemahkan visi.

Apa itu visi? Pandangan kita tentang masa depan. Dan purpose; apa itu purpose (tujuan)? Alasan kita melakukan apa yang kita lakukan. 

Pertanyaannya sekarang: Apa yang membedakan keduanya? Atau bagaimana caranya supaya baik kesuksesan atau kegagalan dapat membantu saya untuk memurnikan dan memperkuat visi dan tujuan saya?

Nah, tapi sebelumnya, mari kita cermati kondisi manusia pada hari-hari ini.

Opening Verse – Anakku, hendaklah kita menyadari bahwa pada masa terakhir dari zaman ini kita pasti akan mengalami banyak kesulitan. Banyak orang akan mengasihi dirinya sendiri, mata duitan, sombong dan suka memuji diri sendiri,— dengan hashtag #asaltahusaja— suka menghina orang lain, tidak menaati orang tua, tidak tahu berterima kasih, tidak menghormati Allah, tidak mengasihi orang lain, tidak memaafkan kesalahan orang lain, suka menjelek-jelekkan orang lain, tidak bisa menguasai diri sendiri, bersifat kasar dan kejam, dan membenci segala sesuatu yang baik. Orang-orang pada zaman terakhir ini akan suka mengkhianati temannya, tidak berpikir panjang, sombong dan menganggap diri lebih penting daripada orang lain, dan lebih suka menikmati kesenangan duniawi daripada menyenangkan hati Allah. 2 Timotius 3:1-4 (TSI)

Nah, kalimat terakhir tadi, seperti merangkum perilaku-perilaku yang disebutkan sebelumnya; lebih suka menikmati kesenangan duniawi daripada menyenangkan hati Allah. Enggak bisa dipungkiri, Saudara, bahwa perilaku-perilaku negatif yang disebutkan itu, memang lebih alami untuk dilakukan, sehingga terasa menyenangkan.

Contohnya, secara umum, lebih challenging atau lebih enggak alami untuk kita enggak mata duitan, untuk kita memuji orang lain,untuk kita bersyukur, memaafkan kesalahan orang, atau punya penguasaan diri dan berpikir panjang. Nah, mengapa orang lebih tergoda untuk mengikuti kesenangan duniawi daripada menuruti Allah? Saya menemukan ada beberapa alasan.

Pertama, adalah karena kesenangan adalah sesuatu yang ada dalam kendali kita. Sedangkan Allah, tidak mungkin kita kendalikan.

Kedua, mayoritas kesenangan bisa didapatkan dengan mudah, tanpa perlu disiplin atau kerja keras. Sedangkan kasih kepada Tuhan yang dinyatakan dengan menjadi pelaku firman itu seringkali membutuhkan pengorbanan.

Ketiga, kesenangan memuaskan kita secara instan. Istilah kerennya ”instant gratification”. Sedangkan menyenangkan hati Tuhan, atau keuntungan dari menyenangkan hati Tuhan seringkali didapat justru di masa depan atau tidak secara langsung.

Terakhir, kesenangan bisa membuat kita lupa akan masalah; untuk sementara tentunya. Tapi kasih kepada Tuhan justru akan mengingatkan kita akan kebutuhan dan tanggung jawab kita.

Tidak sedikit pernikahan yang kandas karena kalimat ini, Saudara: “Aku berhak untuk bisa berbahagia“. Yang Tuhan janjikan adalah unspeakable peace, bukan unending happiness; damai sejahtera yang melampaui segala akal dan bukan hidup yang selalu berbahagia tanpa ketidaknyamanan atau permasalahan.

Bicara tentang passion atau gairah hidup; passion is overrated dan terlalu dibesar-besarkan), karena gairah saja tidak cukup dalam kita mengeluarkan potensi terbaik, baik di dalam pekerjaan, bisnis, studi atau pelayanan. Apalagi ditambah dengan adanya kebosanan panjang selama hampir dua tahun ini.

Passion sifatnya tergantung dari mood, tetapi disiplinlah yang mengendalikan mood dan menjaga passion. Yang berikutnya, ”PPKM”; Pelan-pelan Kamu Melebar. Kita makan untuk hidup, atau kita hidup untuk makan? Yang akhirnya mengorbankan kesehatan. Jangan salah sangka, saya sungguh mengerti ketika saya bicara tentang hal ini. Dan jujur sampai saat ini, saya masih terus belajar untuk mengendalikan nafsu makan saya.

Kata ‘cuan’, marak diperdengungkan hari hari ini. Atas nama ‘cuan’, orang menjadi mata duitan, sulit bersyukur dan berkata ini: ’cukup’. Orang terkaya di dunia, Raja Salomo, berkata bahwa berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya,susah payah, takkan menambahinya.

Sharing Ps. Alvi – Sewaktu saya mengobrol dengan anak bungsu kami, Tiara, beberapa waktu lalu tentang apa yang dia pelajari di Small Groups JPCC Kids, dia bercerita bahwa dia dan teman-teman Small Groups-nya sedang belajar tentang rasa cukup, dan dia mengutip ini, tentang apa itu rasa cukup: rasa cukup adalah belajar puas dengan apa yang kamu punya. Sedangkan sikap serakah, ingin lagi dan lagi bisa membuatmu hancur.

Supporting Verse – Kemudian kepada semua orang yang ada di situ Yesus berkata, “Hati-hatilah dan waspadalah, jangan sampai kalian serakah.  Sebab hidup manusia tidak tergantung dari kekayaannya, walaupun hartanya berlimpah-limpah. Lukas 12:15 (BIMK)

”Terjemahan bahasa Inggrisnya, lebih tepat lagi, katakan: Life is not about having a lot of material possessions. Hidup bukanlah tentang memiliki banyak harta benda. Nah, perilaku yang berporos pada diri sendiri juga terjadi di aspek kerohanian. Orang yang merasa lebih tahu banyak firman Tuhan, daripada orang lain, akan menggunakan pengetahuannya itu untuk menilai orang dengan apa yang dia sudah tahu.

Firman Tuhan memperingatkan bahwa, knowledge puffs up, but love builds up; Pengetahuan belaka akan membuat kita sombong, tetapi pengetahuan dengan motivasi kasih akan membangun hidup orang lain. Karena sekarang ini tanpa kita sadari, orang semakin mengasihi diri dan terfokus kepada diri sendiri, istilah kerennya adalah ‘self preoccupied’. Ribet saja sama diri sendiri, sibuk saja sama diri sendiri, sehingga hari-hari ini, kalau kita mau jujur, yang namanya membangun karir, menjalin hubungan, menjadi lebih challenging.

Karena kalau kita mau jujur, semua interaksi dan proses selalu dinilai dari perspektif ini: “Apa untungnya bagi saya?”. Nah, contoh-contoh yang baru saya sebutkan itu, bukan tentang Saudara— tenang saja—tapi tentang teman atau kenalan Saudara, iya kan?

Nah, untuk membantu kita mengerti atau mengingat kembali tentang visi dan tujuan, saya ingin kita meninjau ulang perikop dimana segala sesuatunya bermula; “The Initial Blueprint”.

Supporting Verse – Berfirmanlah Allah: ”Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: ”Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu,— kembali memakai kata ini:— berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Kejadian 1:26-28 (TB)

Saudara, mari kita perhatikan urutannya. Pada awalnya, Tuhan memberikan identitas kepada manusia. Apa identitasnya? Yaitu bahwa setiap Saudara dan saya, diciptakan serupa dan segambar dengan Dia. Tuhan menjadi sumber identitas kita.

Kedua, setelah diberikan identitas, lalu Tuhan memberikan manusia sebuah tugas, yaitu untuk berkuasa atas sumber-sumber daya yang ada di bumi. Tuhan lalu memberkati mereka dengan sebuah purpose atau tujuan, yaitu untuk memenuhi bumi dengan manusia-manusia lain yang juga diciptakan serupa dan segambar dengan Tuhan.

Dan ini adalah tujuan akhir, mengapa Tuhan menciptakan manusia serupa segambar dengan diri-Nya, lalu memberi mereka kuasa untuk memelihara sumber-sumber daya di bumi, yaitu supaya kerajaan Tuhan diperluas di muka bumi ini. Sekali lagi, supaya kerajaan Tuhan diperluas di muka bumi ini. Yang setuju dengan saya, katakan ‘Amin’!

Lalu ular datang membujuk manusia untuk memakan buah dari pohon pengetahuan yang baik dan jahat. Ini adalah sebuah tawaran untuk menjadi bijaksana dengan aturan main manusia sendiri, terlepas dari ketergantungan kepada Allah. Sayangnya, manusia pertama terpikat dengan tawaran ini dan jatuh dalam dosa ,sehingga hidup manusia dibelokkan dari visi dan tujuan Allah semula.

Itu sebabnya, dosa memiliki pengertian: meleset dari sasaran atau tujuan awal. Saudara, dosa tidak selalu datang berupa pelanggaran frontal akan perintah Tuhan. Tapi justru dosa seringkali datang dalam tawaran-tawaran untuk tanpa sadar menjalani hidup dengan pengertian sendiri terlepas dari hikmat yang Tuhan sediakan, buat Saudara dan saya.

Lalu, apa akibatnya? Terjadilah penyelewengan atau abuse—Abnormal use (penyalahgunaan)— dari ketiga hal yang saya sebutkan di awal. Terjadi penyelewengan identitas ,yang awalnya bersumber dari Tuhan, karena dosa, identitas jadi berporos kepada performance, pencapaian atau harta. Terjadi juga– identitas yang salah ini, membuat seseorang melihat segala sesuatu dengan lensa yang salah pula.

Akhirnya, visi yang seseorang lihat pun, salah. Saudara lihat di sini, tidak serta merta visinya dibelokkan, tapi dosa membuat lensa atau identitas dirinya dulu salah, sehingga setiap hal yang dia lihat— termasuk visi—juga jadi salah kaprah. Terjadi penyelewengan yang kedua yaitu tugas; yang awalnya, Tuhan memberi tugas untuk manusia berkuasa atas sumber daya di bumi, karena dosa, sumber daya justru menguasai hidup manusia.

Karena visinya terdistorsi, maka manusia tidak bisa mengeluarkan potensi terbaiknya. Terjadi juga penyelewengan dengan tujuan; yang awalnya adalah untuk memperluas kerajaan Tuhan di muka bumi, karena dosa, tujuan dibelokkan menjadi mendahulukan kepentingan diri.

Misi Tuhan tidak lagi menjadi yang terutama. Agenda pribadi manusialah yang disodorkan kepada Tuhan, dan manusia meminta Tuhan, ”Berkati agenda pribadiku ini, Tuhan!” Menarik bukan? Ketika visi dan tujuan kita berporos pada diri sendiri, maka ini yang akan terjadi: kita akan terbebani untuk menyenangkan orang lain, dengan hashtag #disituakumerasalelah.

Ketika visi dan tujuan berporos kepada diri sendiri, kita akan menjadi sadar diri secara konstan —constantly self-conscious—ketimbang sadar akan Tuhan— atau God-conscious. Akhirnya, kita jadi takut, kita jadi khawatir, kita jadi membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain, visi kita dengan visi orang, tujuan kita dengan tujuan orang, proses kita dengan proses orang.

Waktu visi dan tujuan berporos pada diri sendiri, kita menjadi kewalahan— overwhelmed—karena selalu merasa perlu untuk melakukan yang namanya ini Saudara: pembuktian diri. Capek banget! Waktu visi dan tujuan kita berporos pada diri sendiri, kita akan melihat kegagalan sebagai akhir dari segalanya, karena we take failures personally. Mari kita lihat,apa yang firman Tuhan katakan tentang visi dan tujuan.

Supporting Verse – Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Kolose 1:15-16 (TB)

Setiap pengikut Kristus perlu paham dan yakin betul bahwa,“Hidup saya adalah tentang Tuhan dan untuk Tuhan.” Hidup saya tidak pernah tentang diri saya dan bukan untuk kepentingan saya semata. My life is never about me. My life is always about God and for God.” Amin, Saudara?

Sehingga waktu kita mulai kehilangan visi dan tujuan hidup kita, kita ubah narasi pertanyaan kita. Kita mulai bertanya: Untuk siapakah saya hidup? Selain bertanya, ”Apa yang saya lihat?” kita mulai bertanya, “Siapa yang merancangkan apa yang saya lihat ini? Siapa yang mengizinkan apa yang mampu saya lihat ini?” Karena visi dan tujuan, pada hakikatnya, bukanlah tentang ‘apa’, tapi lebih tentang ‘siapa’.

Karena kalau kita bertanya dengan pertanyaan-pertanyaan ‘apa’, ini akan mengondisikan untuk kembali tentang diri kita. Tapi waktu kita mulai mengubah dari kata ‘apa’ kepada ‘siapa’, ini akan memudahkan kita, untuk menyelaraskan visi dan tujuan kita menjadi tentang Tuhan. My life is never about me, my life is always about God and for God.

Saudara, setelah kita tahu bahwa visi dan tujuan itu bukan tentang kita tapi adalah tentang Tuhan, perjalanan untuk menghidupi atau proses menghidupi visi dan tujuan dari Tuhan itu tidak selalu mulus. Cara kita memandang kesukaran dan penderitaan pun akan berbeda kalau visi dan tujuan itu tentang Tuhan.

Kita mungkin bertanya, atau ini pertanyaan yang selayaknya kita tanyakan: “Kalau Tuhan izinkan ini terjadi dalam proses atau perjalanan saya menghidupi visi dan tujuan Tuhan, Tuhan ingin memakai perjalanan saya ini untuk siapa?” “Ketika saya berhasil melewati ini semua, atau ketika saya berhasil untuk menghidupi visi dan tujuan Tuhan, kira-kira siapa yang akan diuntungkan?”

Tema kita tahun ini, “FOLLOW”, in case Saudara lupa, ya. “FOLLOW”. Mengikuti Yesus bukanlah sarana untuk memaksakan visi dan mimpi kita kepada Tuhan, tapi sebaliknya, mengikut Yesus adalah perjalanan menyerahkan kepentingan kita dan membiarkan apa yang Tuhan inginkan, apa yang Tuhan lihat dan Tuhan maksudkan yang [untuk] terjadi dalam hidup kita.

Supporting Verse – Kemudian Yesus berkata kepada semua orang yang ada di situ, “Orang yang mau mengikuti Aku, harus melupakan kepentingannya sendiri, memikul salibnya tiap-tiap hari, dan terus mengikuti Aku. Sebab orang yang mau mempertahankan hidupnya, akan kehilangan hidupnya. Tetapi orang yang mengurbankan hidupnya untuk kepentingan-Ku, akan menyelamatkannya. Apa untungnya bagi seseorang kalau seluruh dunia ini menjadi miliknya, tetapi ia merusak dan kehilangan hidupnya? Lukas 9:23-25 (BIMK)

Nah, Saudara, karena hidup kita adalah tentang Tuhan dan untuk Tuhan, itu sebabnya visi dan tujuan yang sejati itu datang dari Tuhan; untuk kepentingan Tuhan dan ditujukan bagi orang lain. Sedangkan kita adalah alat atau instrumen Tuhan dalam mewujudkannya.

Saya ulangi sekali lagi:visi dan tujuan yang sejati itu datang dari Tuhan, untuk kepentingan Tuhan, ditujukan bagi orang lain; kita adalah instrumen Tuhan dalam mewujudkannya. Amin, Saudara?

Saya akan tutup pesan Tuhan hari ini dengan memberikan kepada kita apa yang Saudara dan saya bisa harapkan, ketika kita menghidupi visi dan tujuan Tuhan.

Pertama, Saudara bisa mengharapkan hikmat Tuhan.

Tuhan mau kita bergantung kepada hikmat-Nya. Karena Dia yang memberikan Visi dan tujuan itu, jadi cara pikir Dialah yang paling baik. Tuhan tidak cuma ingin kita bergantung kepada hikmat-Nya, Dia juga berjanji untuk memberikan hikmat itu dengan murah hati.

Supporting Verse – Jika seorang dari Saudara tidak tahu apa yang harus dilakukan dalam masalah tertentu,—termasuk dalam menghidupi visi dan tujuan Tuhan buat hidupnya—mintalah Allah dan Ia akan memberikan kebijaksanaan kepadanya. Saudara tahu bahwa Ia tidak menuduh siapa pun atas ketidakmampuannya dan bahwa dia memberi dengan limpahnya semua orang yang memohon-Nya. Tetapi, jika Saudara bertanya kepada-Nya, hendaklah Saudara benar-benar mengharapkan Dia untuk memberi tahu Saudara; sebab pikiran yang ragu-ragu bagaikan gelombang laut yang diombang-ambingkan angin, Yakobus 1:5-6(FAYH)

So, minta. Harapkan hikmat Tuhan. Waktu hidup kita adalah tentang Tuhan dan Untuk Tuhan,  Tuhan sangat ingin berperan untuk memberikan kepada Saudara, ide, kreativitas, arahan dan hikmat; kepada setiap orang yang meminta dan mengharapkannya.

Kedua, waktu hidup kita adalah tentang Tuhan dan menghidupi visi dan tujuan Tuhan, Saudara bisa mengharapkan pertolongan Tuhan.

Waktu hidup kita adalah tentang Tuhan dan untuk Tuhan, maka izinkan kekuatan dan pertolongan Tuhan yang bekerja melebihi usaha manusiawi kita. Saya ulangi: waktu hidup kita adalah tentang Tuhan dan untuk Tuhan, jangan pakai kekuatan sendiri! Karena jalan-Nya pun bukan jalan kita, bagaimana untuk menjalaninya pun enggak mungkin bisa dengan kekuatan sendiri, tapi Tuhan janjikan kekuatan dan pertolongan Tuhan melebihi usaha atau keterbatasan manusiawi kita.

Supporting Verse –  Tetapi engkau, hai Israel, hamba-Ku, hai Yakub, yang telah Kupilih, keturunan Abraham, yang Kukasihi; engkau yang telah—Kupanggil— Kuambil dari ujung-ujung bumi dan yang telah Kupanggil dari penjuru-penjurunya, Aku berkata kepadamu:—ini perkataan Tuhan kepada setiap Saudara hari ini—”Engkau hamba-Ku,Aku telah memilih engkau dan tidak menolak engkau”; janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu;—yang memberi tujuan dan visi itu—Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan. Yesaya 41:8-10 (TB)

Katakan, ‘amin’! Ganti kata ‘Israel’ dan ‘Yakub’ dengan nama Saudara masing-masing. Saudara siap? Baca lagi ayat ini, dengan iman :“Tetapi engkau, hai [nama Anda],hamba-Ku, hai [nama Anda], yang telah Kupilih, keturunan Abraham, yang Kukasihi; engkau yang telah Kuambil dari ujung-ujung bumidan yang telah Kupanggil dari penjuru-penjurunya, Aku berkata kepadamu: ”Engkau hamba-Ku, Aku telah memilih engkau dan tidak menolak engkau”; janganlah takut [nama Anda], sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang [Bambang], sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau [Shelvia]; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku,yang membawa kemenangan, anak-anak-Ku yang Kukasihi,” kata Tuhan.Amin, Saudara?

Ketiga: Perkenanan Tuhan.

Hidup Yesus adalah contoh terbaik yang menjalani misi dan kehendak Bapa-Nya. Tidak heran, Injil Lukas mencatat hal ini tentang Yesus.

Supporing Verse – Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya,— dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia. Lukas 2:52 (TB) 

Terjemahan bahasa Inggrisnya katakan: increased in favor with God and in favor with man. Perkenanan Tuhan seringkali datang dalam bentuk perkenanan manusia. Misalnya, Saudara enggak mengerti kenapa, tapi orang senang terhadap Saudara, dan ingin melakukan hal-hal yang baik dengan Saudara.

Mungkin juga datang dalam bentuk, ada orang enggak kenal dengan Saudara, tapi ada sesuatu yang membuat mereka ingin menolong Saudara. Ada pintu-pintu kesempatan yang terbuka buat Saudara, yang saudara pikir, ”Ini enggak mungkin!” dan Saudara tahu waktu [pintu] itu terbuka, “Ini pasti perkenanan Tuhan, lewat perkenanan manusia!”

Itu sebabnya, Saudara, waktu hidup kita adalah tentang Tuhan dan untuk Tuhan, jangan kaget, bila Tuhan memperhatikan perkara-perkara yang dekat dengan hati Saudara. What matters to you, matters to God.

Visi dan tujuan yang sejati— saya rekap lagi ya,apa yang kita pelajari hari ini—Visi dan tujuan yang sejati, datang dari Tuhan, untuk kepentingan Tuhan, ditujukan buat orang lain, sedangkan kita adalah instrumen Tuhan dalam mewujudkannya.  Karena, “Hidup saya adalah tentang Tuhan dan untuk Tuhan.“.

P.S : Aside than my daily working hours activities, I also have passion and interest in writing article for both traditional and modern media. My experience varies from content creation, creative writing for established magazine such as Pride and PuriMagz, web copywriting, fast translating (web,mobile, and tablet), social media, marketing materials and company profile. Click here to see some of my freelancing portfolios – links

If your organization need a Freelance Copywriters or Social Media Specialist, Feel free to contact me, and see how I can free up your time and relieve your stress over your copy/content needs and deadlines. My contact is 087877383841 and vconly@gmail.com. Sharing is caring so any support is very much appreciated. Thanks much and God Bless!