JPCC Online Service (24 April 2022)
Shalom! Salam damai sejahtera untuk Saudara semua yang mengikuti ibadah daring JPCC di hari Minggu ini. Senang dapat berjumpa kembali secara virtual. Saya harap Saudara semua dalam keadaan baik. Kiranya hadirat dan kasih Tuhan dapat Saudara rasakan di mana pun Saudara berada. Meskipun sudah lewat satu minggu, izinkan saya mengucapkan ”Selamat Paskah” kepada Saudara semua, karena Paskah adalah hari yang sangat penting dalam kehidupan kita sebagai orang percaya. Hari Paskah adalah hari peringatan akan kebangkitan Yesus dari kematian, seperti yang sudah dikatakan-Nya. Kubur-Nya yang kosong membuktikan bahwa Yesus hidup, Yesus sudah mengalahkan kuasa dosa dan maut. Dia bangkit, meninggalkan kubur, supaya Dia bisa tinggal di dalam hati kita. Kubur-Nya kosong supaya hati kita bisa penuh. Opening Verse – Jadi sekarang, kita yang bersatu dengan Kristus Yesus tidak perlu lagi takut kepada hukuman yang sebenarnya patut untuk Allah jatuhkan atas kita! Kenapa tidak perlu takut? Karena kita yang sudah bersatu dengan Kristus Yesus sudah menerima Roh Allah yang memberi hidup! Dan Roh-Nya itulah yang membebaskan kita dari kuasa dosa dalam diri kita yang dulu selalu menjerat kita kepada kematian rohani. Sebelumnya Hukum Taurat tidak bisa menolong kita untuk mengalahkan keinginan-keinginan badani kita yang jahat. Tetapi Allah sendiri yang sudah mengatasi persoalan ini dengan mengutus Anak-Nya sendiri ke dalam dunia ini dalam bentuk tubuh manusia yang lemah. Dan Anak-Nya itulah yang menjadi kurban untuk membebaskan kita dari semua hukuman karena dosa-dosa kita. Jadi, melalui kurban-Nya itu, kuasa dosa sudah dikalahkan-Nya— yaitu keinginan-keinginan badani kita yang cenderung berbuat dosa. Allah melakukan hal itu supaya cara hidup benar yang dituntut oleh Hukum Taurat terpenuhi di dalam diri kita karena bersatu dengan Kristus. Sekarang, kita dimampukan untuk hidup taat kepada pimpinan Roh Allah, dan tidak lagi mengikuti keinginan-keinginan badani kita. Roma 8:1-4 (TSI) Suatu berita yang seharusnya membawa sukacita yang luar biasa untuk kita semua, karena melalui Yesus, Tuhan sudah membuktikan kasih-Nya yang tanpa syarat kepada kita semua. Tak ada penghukuman buat kita yang berada di dalam Kristus, karena Tuhan sudah mengampuni segala pelanggaran kita. Supporting Verse – Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib: Kolose 2:13-14 (TB) Bayangkan kalau kita terjerat dalam hutang yang begitu besar, sampai kita tidak sanggup lagi untuk lunasi, sehingga membuat kita sangat khawatir, takut, resah, stres setiap hari, karena memikirkan bagaimana caranya lepas dari jerat hutang tersebut dan dari konsekuensi hukuman kalau hutang itu tidak dilunasi. Namun suatu hari, pihak yang menghutangi menyatakan bahwa hutang kita sudah lunas, bahwa sekarang kita sama sekali tidak punya hutang sepeser pun kepada mereka karena ada orang yang datang kepada mereka dan membayar lunas semua hutang kita. Orang yang menebus hutang kita tersebut melakukannya secara sukarela dan tidak menuntut apa-apa dari kita. Kira-kira apa reaksi kita kalau hal itu terjadi pada kita? Kalau itu saya, saya pasti akan kaget, lega bukan main, sangat bersyukur dan berterima kasih untuk orang yang mau melakukan hal tersebut untuk saya. Namun, apakah sampai di situ saja? Tentu saja tidak! Saya ingin tahu: Siapakah orang tersebut? Mengapa dia mau melunasi hutang saya yang begitu besar? Apa motivasinya? Dan saya bukan hanya ingin mengenal orang tersebut, melainkan juga ingin menceritakan kebaikannya kepada yang lain. Kalau saja setiap kita mengerti apa yang sudah Yesus lakukan buat kita, maka kita seharusnya punya keinginan yang sama— untuk mengenal Dia lebih lagi. Siapakah Yesus yang sudah melepaskan kita dari hukuman dosa? Siapakah Dia, yang tidak berdosa, tapi sampai rela mati di atas kayu salib untuk menebus dosa kita? Siapakah Dia yang begitu mengasihi, bahkan saat kita masih hidup dalam dosa? Tepat dengan pembahasan kita di bulan ini tentang “Kenal dan Taat”, hari ini saya ingin melanjutkan apa yang sudah saya beritakan beberapa minggu lalu mengenai Gembala yang baik. Beberapa minggu lalu, saya bagikan tentang Gembala yang baik— tentang mengapa firman Tuhan mengumpamakan kita seperti seekor domba. Saya juga membahas sifat-sifat domba yang memang secara umum punya banyak kesamaan dengan sifat kita sebagai manusia. Domba sangat memerlukan seorang gembala, sebab tanpa kehadiran gembala, maka sulit untuk seekor domba dapat bertahan hidup. Dan dari semua binatang ternak, domba merupakan hewan yang paling membutuhkan perawatan. Keamanan domba ada pada gembalanya. Dalam kitab Mazmur 23, Daud menulis pengalamannya berjalan bersama Tuhan. Di sana Daud menggambarkan bagaimana Tuhan memimpin hidupnya layaknya seorang gembala memimpin seekor domba. Ketika kita membaca Mazmur 23, kita mendapat gambaran tentang sifat dan karakter Tuhan, sebagai seorang Gembala. Supporting Verse – Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa. Mazmur 23:1-6 TB Kemudian di dalam Yohanes 10:11 (TB), Yesus berkata. Supporting Verse – “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya;” Yohanes 10:11 (TB) Seakan-akan Yesus berkata kepada mereka yang hadir saat itu: “Sayalah Gembala yang nenek moyangmu, Daud, maksudkan.” Bahkan kalau Daud hanya berkata “Tuhan adalah gembalaku,” Yesus menambahkan kata “baik”. Dia katakan, “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik rela memberikan nyawanya kepada domba-dombanya.” Kalau Daud saja, yang hidup di bawah hukum Taurat, di Perjanjian Lama, punya pengalaman yang sedemikian luar biasa berjalan bersama dengan Tuhan— di mana dia menggambarkan dirinya layaknya seekor domba, yang sangat diperhatikan, disayangi, dan dilindungi oleh gembalanya—bukankah kita, yang sekarang hidup dalam kasih karunia dan berada di dalam perjanjian yang baru, seharusnya kita bisa punya hubungan yang lebih intim lagi dengan Tuhan? Bayangkan, Daud tidak punya Alkitab seperti kita. Dia hidup di bawah hukum Taurat. Namun, dalam segala keterbatasan yang ada, Daud dapat menjalin hubungan yang sedemikian dalam dengan Tuhan. Sedangkan kita yang hidup di zaman sekarang—yang dengan begitu mudahnya punya akses kepada firman Tuhan, bahkan dalam berbagai macam terjemahan yang berbeda, yang memungkinkan kita secara lebih akurat mengerti maksud penulisnya, dan semuanya sekarang tersedia secara digital di telepon seluler kita— bukankah seharusnya kita dapat lebih mudah mengenal Tuhan dan membangun hubungan dengan Dia? Namun sayang, kenyataannya tidak demikian. Justru banyak orang— yang katanya percaya Yesus—lemah imannya, bahkan ada yang meragukan keberadaan dan kasih Tuhan. Mereka tidak menyadari betapa besarnya keistimewaan dan kesempatan yang mereka dapatkan hidup di zaman sekarang ini, dengan semua fasilitas yang ada, untuk dapat mengenal Tuhan sungguh-sungguh. Jadi, benar apa yang dikatakan firman Tuhan dalam Hosea 4:6 (TB): Supporting Verse – Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah; karena engkaulah yang menolak pengenalan itu maka Aku menolak engkau menjadi imam-Ku; dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu. Hosea 4:6 (TB) My people are destroyed for lack of knowledge. Because you have rejected knowledge, I also will reject you from being priest for Me; Because you have forgotten the law of your God, I also will forget your children. Hosea 4:6 (NKJV) Umat Tuhan binasa karena tidak mengenal Tuhannya, bukan karena pengetahuan tidak tersedia, melainkan karena mereka menolak pengenalan itu. Bukan karena pengetahuan tentang Tuhan tidak tersedia, melainkan mereka tidak mau memperoleh pengetahuan tersebut untuk mengenal siapa Tuhan mereka. Jadi masalahnya bukan Tuhan tidak dapat dikenali, melainkan umat-Nya yang malas meluangkan waktu untuk mengenal Tuhannya. Karena tidak mengerti Tuhan dan kebenaran firman-Nya, maka mereka mudah ditipu dan menjadi sasaran empuk pendusta, yaitu iblis. Supporting Verse – “Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.” Yohanes 8:44 (TB) Hari-hari ini ada banyak penipuan terjadi dan yang selalu menjadi korban adalah orang-orang yang tidak punya pengetahuan di bidang tersebut. Ada banyak yang terjerumus ke dalam investasi bodong, karena mereka tidak punya pengetahuan tentang investasi dengan benar. Mereka hanya tergiur oleh janji-janji manis tentang keuntungan yang fantastis di awal, tapi pada akhirnya, mereka kehilangan uang mereka. Beberapa waktu yang lalu, ada yang mengirim pesan kepada saya, mengatasnamakan teman baik saya, dan meminta saya kirimkan uang ke rekening tertentu. Namun karena saya kenal betul sifat dan karakter teman baik saya ini, maka saya tahu bahwa ini adalah usaha penipuan. Ini pasti bukan dari dia. Saya bahkan tidak menghubungi teman saya tersebut, karena saya begitu yakin bahwa ini tidak mungkin dari dia. Dan benar, tak lama kemudian, teman ini memberitahukan bahwa ada usaha penipuan yang memakai namanya, jadi tidak usah ditanggapi. Jadi kalau kita tidak ingin menjadi sasaran si jahat, maka kita harus memperlengkapi diri kita dengan pengetahuan tentang siapa Tuhan kita, dan mengenali karakter-Nya, sifat-Nya, serta menjalin hubungan yang intim dengan Dia. Ini bisa kita lakukan dengan meluangkan waktu untuk membaca firman Tuhan. Saya mengerti tantangan yang sering kali kita hadapi dalam membaca Alkitab. Banyak orang katakan, “Saya tidak mengerti,” “Saya tidak tahu mulai dari mana”, dan lain sebagainya. Itu sebabnya, di JPCC ada program 15-minute Bible Study [belajar Alkitab 15 menit] yang Saudara bisa akses melalui tautan di bawah ini (https://learning.myjpcc.org/courses/15-minutes-bible-study-program) Di sini Saudara bisa mendapat panduan untuk membaca firman Tuhan, dan disarankan untuk melakukannya bersama dengan teman-teman DATE atau dengan anggota keluarga. Kami, para Pastor, juga melakukan program tersebut bersama empat kali dalam seminggu melalui Zoom. Hanya dengan meluangkan waktu sekitar 15 menit, kita dapat mengenal pribadi Tuhan dengan lebih baik lagi. Sama seperti kalau kita mengenal sifat dan karakter seseorang, maka kita tahu apa yang kita bisa harapkan dari orang tersebut. Demikianlah kalau kita mengenal sifat dan karakter Tuhan, kita tahu apa yang kita bisa harapkan dari Tuhan. Sekarang mari kita belajar mengenali sifat dan karakter Tuhan sebagai Gembala, yang diungkapkan oleh Daud dalam kitab Mazmur 23:1-4 (TB). Supporting Verse – Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. Mazmur 23:1-4 (TB) Mengapa Daud menuliskan Tuhan sebagai gembala? Bukannya “Tuhan adalah motivatorku, atau instruktur olahragaku, atau pelatihku, atau mentorku”, melainkan “Tuhan adalah gembalaku”? Kita tahu bahwa waktu Daud muda, pekerjaannya adalah menggembalakan domba-domba ayahnya. Daud mengerti betul sifat domba dan bagaimana, sebagai gembala domba, dia harus meladeni kawanan dombanya. Dan itulah yang Daud rasakan dari Tuhan selama Daud hidup percaya dan bergantung kepada Tuhan. Tuhan begitu memperhatikan kehidupan Daud sehingga dia tidak pernah mengalami kekurangan. Ada waktu-waktu di mana Daud benar-benar merasa seperti seekor domba yang sedang dibawa ke padang yang berumput hijau, atau ke air yang tenang. Daud menulis, “Ia menyegarkan jiwaku”, membawa kita mengerti bahwa Tuhan bukan hanya peduli dengan hal-hal jasmani; melainkan, Tuhan juga peduli dengan kesehatan jiwanya. Hari-hari ini ada istilah “healing”— terutama di kalangan anak-anak muda, yang sedikit-sedikit perlu “healing” katanya. Artinya, mereka perlu istirahat, perlu pergi liburan. Namun, yang kita perlu ketahui adalah Tuhan sangat peduli dengan kesehatan mental kita. Kita dapat mengharapkan Dia menyegarkan jiwa kita tanpa kita harus pergi ke suatu tempat untuk cari “healing”, sebab Dia adalah Gembala yang baik. Kemudian Daud katakan, ”Ia menuntun aku ke jalan yang benar.” Domba memang tidak selalu tahu mana jalan yang benar. Sering kali domba menyelonong ke arah yang salah. Namun Daud mendapati bahwa sebagai gembala, Tuhan selalu menuntun. Ingat, Tuhan menuntun. Tidak menyeret atau menggeret paksa, tetapi menuntun, mengarahkan kembali ke jalan yang benar. Dan itulah yang Daud rasakan Tuhan lakukan untuk dia. “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman”,— di ayat ini, Lembah kekelaman menggambarkan keadaan yang membahayakan, keadaan yang gelap, situasi yang tidak menyenangkan. Dia katakan, “aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku”. Di ayat ini yang menarik buat saya—seperti yang sudah saya katakan beberapa minggu lalu— adalah Daud mengubah penulisannya tentang Tuhan, dari memakai kata “Ia” di ayat 2 dan 3, yang menggambarkan orang ketiga, menjadi “Engkau” di ayat ke-4, yang menggambarkan orang kedua. Perubahan penulisan ini menggambarkan perubahan posisi, dari orang ketiga menjadi orang kedua. Tuhan terasa lebih dekat justru pada waktu Daud berjalan di dalam lembah kekelaman. Bukankah benar, bahwa dalam kesulitanlah kita baru benar-benar mengerti siapa kawan kita yang sebenarnya? Ayat ini mirip dengan yang ditulis dalam kitab Amsal 17:17 (TB). Supporting Verse – Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran. Amsal 17:17 (TB). Ada perubahan posisi dari sahabat menjadi saudara ketika berada di dalam kesukaran. Dan ini juga yang bisa kita harapkan dari Yesus. Kalau di dunia ini banyak orang yang mendekat ketika seseorang sedang berada di puncak kesuksesan, dan menjauh ketika orang tersebut mengalami kejatuhan, tapi tidak demikian dengan Tuhan kita. Itu sebabnya, saya sangat yakin bahwa selama dua tahun masa pandemi ini, banyak di antara Saudara yang juga mempunyai pengalaman sama seperti Daud— justru dalam keadaan krisis, dalam masa pandemi, Tuhan terasa sangat dekat dan penyertaan-Nya nyata buat Saudara. Beberapa waktu lalu saya sampaikan bahwa kalau kita tinggal di dalam Yesus, seperti ranting yang menempel pada pokoknya, maka kita akan terus-menerus mendapat akses kepada kasih-Nya, kepada kehidupan, dan kepada terang, karena Tuhan itu kasih, Tuhan itu hidup, dan Tuhan itu terang— itulah keberadaan Tuhan kita. Di dalam situasi apa pun, termasuk ketika kita berada di dalam lembah kekelaman, selama kita berjalan bersama dengan Dia, kita selalu dapat temukan kasih-Nya, kita selalu dapat temukan kehidupan, dan kita selalu dituntun kepada terang-Nya yang ajaib. Sekarang mari kita melihat kejadian dalam Lukas 7:11-17 (TB). Supporting Verse – Kemudian Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong. Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu. Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: “Jangan menangis!” Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata: “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!” Maka bangunlah orang itu dan duduk dan mulai berkata-kata, dan Yesus menyerahkannya kepada ibunya. Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata: “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan “Allah telah melawat umat-Nya.” Maka tersiarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya. Lukas 7:11-17 (TB) Cerita ini menarik karena, untuk pertama kalinya, Yesus membangkitkan orang mati. Selain ini ada dua kisah lagi, yaitu ketika Yesus membangkitkan anak perempuan dari kepala rumah ibadat yang bernama Yairus, dan ketika Dia membangkitkan Lazarus, saudara Maria dan Marta. Diceritakan di kisah ini bahwa di dekat pintu gerbang kota, ada seorang wanita yang sedang dalam perjalanan menguburkan putra tunggalnya. Wanita ini seorang janda— artinya dia sudah tidak lagi berada di dalam perlindungan suaminya, sehingga otomatis putra tunggalnya yang harus mencari nafkah dan menanggung beban keluarga. Namun sekarang dengan meninggalnya putra tunggalnya, wanita ini mengalami kehilangan untuk kedua kalinya. Jadi bayangkan, betapa hebatnya penderitaan wanita ini. Kematian putranya menyebabkan masa depannya menjadi suram karena tidak ada lagi yang dapat membiayai hidupnya, sehingga dia hanya dapat menggantungkan hidupnya pada kebaikan hati para kerabat dan tetangganya. Belum lagi pada masa tuanya, wanita ini harus hidup dalam kesendirian. Yang pasti dampak dari kematian putranya bukan hanya secara ekonomi saja, melainkan juga emosional dan sosial. Sebenarnya bisa saja Yesus terus lewat tanpa menaruh perhatian pada rombongan ini. Namun ketika Yesus melihatnya, Yesus mengetahui keadaan janda ini, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan. Dan kalau kita perhatikan di Alkitab, memang dari sejak zaman Perjanjian Lama sampai gereja mula-mula, Tuhan selalu memperhatikan dan merawat para janda dan yatim piatu. Selain itu di kitab Mazmur 34:18 (TB), firman Tuhan mengatakan. Supporting Verse – TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya. Mazmur 34:18 (TB) Bukankah ini kondisi sang janda ini? Kemudian Yesus menghampiri usungan itu dan menyentuhnya. Ini adalah suatu hal yang di luar kebiasaan, sebab di dalam kitab Bilangan 19:11 (TB), dikatakan. Supporting Verse – Orang yang kena kepada mayat, ia najis tujuh hari lamanya. Bilangan 19:11 (TB) Di sini kita mendapati bagaimana Yesus tidak memikirkan keberadaan-Nya sendiri. Belas kasihan-Nya jauh lebih besar dibanding ketakutan menjadi najis. Dan setelah menyentuhnya, bukan Yesus yang menjadi najis, melainkan justru anak janda ini bangkit kembali. Kehidupan kembali ada pada anak muda ini. Dan semua orang yang berada di dalam rombongan wanita ini serta rombongan yang mengikut Yesus menjadi takut dan memuliakan Allah. Setelah anak muda ini duduk dan mulai berkata-kata, Yesus menyerahkannya kembali kepada ibunya. Di sini Yesus bukan hanya menyerahkan putranya kembali, melainkan juga menyerahkan kembali masa depan janda ini yang tadinya sudah hilang. Sekarang dapatkah Saudara bayangkan apa yang dialami wanita ini? Tuhan mengubah ratapannya menjadi sukacita. Dan bukan hanya itu saja, wanita ini tidak perlu lagi menggantungkan hidupnya pada belas kasihan kerabat dan para tetangganya karena anaknya dapat kembali menanggung dia, dan dia tidak perlu lagi hidup dalam kesendirian. Dalam kisah ini kita melihat bagaimana kasih Tuhan bekerja, meresponi kesulitan yang dihadapi wanita ini dengan memberi kehidupan kepada anaknya yang sudah mati dan mengganti masa depan yang suram dengan masa depan yang terang. Tuhan adalah kasih, Tuhan adalah hidup, dan Tuhan adalah terang. Pertolongan yang Yesus berikan kepada wanita ini betul-betul lengkap. Pemulihan terjadi secara emosional, sosial, dan juga ekonomi. Dan itulah yang kita senantiasa bisa harapkan dari Yesus Tuhan kita, karena Dia adalah seorang Gembala yang baik. Benarlah yang dikatakan oleh Daud: “Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.” Saya berdoa agar Saudara terus belajar mengenal Yesus sebagai Tuhan dan menemukan Dia sebagai Gembala yang baik. Kiranya apa yang saya bagikan memberkati Saudara semua. Tuhan Yesus memberkati.P.S : Dear Friends, I am open to freelance copywriting work. My experience varies from content creation, creative writing for an established magazine such as Pride and PuriMagz, web copywriting, fast translating (web, mobile, and tablet), social media, marketing materials, and company profile. Click here to see some of my freelancing portfolios – links.
If your organization needs a Freelance Copywriters or Social Media Specialist, Please contact me and see how I can free up your time and relieve your stress over your copy/content needs and deadlines. My contact is 087877383841 and vconly@gmail.com. Sharing is caring, so any support is very much appreciated. Thanks, much and God Bless!



