JPCC Online Service (7 November 2021)
Selamat hari Minggu untuk kalian semua yang di JPCC.Salam damai sejahtera, di mana pun kalian sedang berada. Senang dapat berjumpa kembali di hari Minggu ini, dan saya berharap tentunya,kalian semua dalam keadaan sehat dan tetap bersemangat. Puji Tuhan dengan keadaan yang semakin membaik. Nah, kita tentu perlu terus mempertahankannya dan tidak menjadi lengah. Itu juga sebabnya,kita juga sudah mulai melakukan uji coba kebaktian on-site, tetapi untuk sementara waktu hanya terbuka buat para leaders terlebih dahulu, karena kapasitas yang memang masih sangat terbatas dan kita juga perlu menyesuaikan diri dengan semua kebiasaan baru, sembari memberikan kesempatan kepada teman-teman volunteer juga untuk mulai membiasakan pelayanan kembali.
Kita secara bertahap akan melakukan ini selama beberapa minggu ke depan, sebelum membuka kesempatan untuk para DATE Member bisa datang beribadah. Tetapi untuk kita dapat kembali seperti sebelum pandemi, masih diperlukan waktu yang agak panjang. Teruslah berdoa, agar keadaan bisa semakin membaik dan tidak lagi mengalami kemunduran, apalagi menjelang Natal dan Tahun Baru.
Saya tentunya berterima kasih untuk semua perhatian kalian. Setelah kita belajar mengenai Servanthood di bulan yang lalu, di bulan November ini kita akan membahas tema ‘The Blueprint’ (‘Cetak Biru’),atau tentang visi dan tujuan (vision and purpose),yang Tuhan sudah sediakan buat kita.
Apa sih yang dimaksud dengan visi? Visi adalah gambaran tentang masa depan,apa yang ingin dicapai atau apa yang diimpikan.
Tuhan memberikan kepada setiap orang kemampuan untuk berimajinasi,untuk mempunyai mental picture; gambaran tentang apa yang bisa terjadi di masa yang akan datang. Manusia diciptakan serupa dan segambar dengan Tuhan, dan Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang mempunyai visi. Di awal kitab Kejadian kita sudah dapat melihat visi apa yang Tuhan punya terhadap manusia, bahkan visi itu sudah ada, sebelum manusia Tuhan ciptakan.
Opening Verse – Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Kejadian 1:26-28 (TB)
Jadi sebagai anak-anak Tuhan kita mengerti bahwa hidup ini bukanlah tanpa tujuan! Tuhan tidak menciptakan kita untuk hidup sia-sia. Kita semua diciptakan untuk tujuan yang pasti. Tuhan bukan hanya mempunyai rencana, tetapi Tuhan juga punya cara tersendiri untuk mewahyukan kepada setiap kita, apa yang menjadi rencana-Nya.
Kalau kita bicara visi yang datangnya dari Tuhan, maka visi itu selalu berhubungan dengan potensi yang ada di dalam kita. Dengan kata lain, untuk kita dapat menggenapi visi tersebut maka mau tidak mau kita harus menggali potensi yang ada dalam diri kita. Dan potensi yang ada di dalam diri kita itu, selalu bertujuan untuk melayani kepentingan orang banyak.
Coba stop sebentar ya dan pikirkanlah ini: semua bakat, semua talenta, semua kemampuan, semua karunia yang Tuhan berikan kepada kita, adalah untuk menjawab kebutuhan, untuk membawa solusi dan dipergunakan untuk melayani orang lain.
Nah, sedangkan uang akan datang dengan sendirinya sebagai hasil dari service atau pelayanan yang kita berikan kepada mereka. Di JPCC, kita selalu membuka kesempatan untuk teman-teman yang sudah tertanam di DATE, untuk dapat ikut melayani.
Tujuannya adalah supaya mereka belajar melayani (servanthood)—ingat pelajaran yang kita berikan bulan lalu: the best way to go up is down (jalan terbaik untuk naik, dimulai dari bawah)— dan sekaligus menggali potensi diri dengan harapan agar mereka dapat menemukan visi Tuhan untuk hidup mereka.
Dunia ini memandang orang yang berhasil, semata-mata karena melihat kekayaan atau berapa banyak uang yang dimiliki seseorang. Dan juga banyak yang berasumsi kalau orang kaya itu pasti bahagia. Seharusnya kita tahu lebih baik daripada itu, karena tidak ada kepastian yang mengatakan bahwa kalau seseorang punya banyak harta atau uang, berarti dia sudah berhasil dan pasti bahagia.
Bahkan pada kenyataannya banyak di antara mereka yang disebut kaya, hidupnya jauh dari bahagia. Saya mau memberikan definisi lain tentang keberhasilan. Seseorang dikatakan berhasil, karena dia mampu mengeluarkan potensi yang Tuhan letakkan dalam dia, dan mempergunakannya untuk melayani kepentingan orang banyak.
Firman Tuhan mengatakan: adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima.Nah, itulah definisi yang baru, dari saya, tentang keberhasilan:living life to the fullest and die empty; hidup secara penuh dan mati pada saat sudah tidak ada lagi yang dapat diberikan.
Supporting Verse – Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat. Berbahagialah orang yang berpegang pada hukum. Amsal 29:18 (TB)
Where there is no vision, the people perish: but he that keepeth the law, happy is he. Proverbs 29:18 (KJV)
Tanpa visi, maka kita menjadi seperti orang liar, yang berjalan ke sana kemari tanpa tujuan; whatever will be, will be; terserah saja. Kelihatannya sangat sibuk tetapi tidak menuju kemana-mana, seperti orang yang sedang berlari di atas treadmill. Dan kita melakukan sesuatu pekerjaan lebih karena tuntutan, bukan karena kita mempunyai pandangan yang jelas tentang masa depan.
Kalau ditanya, “Ngapain kerja?” Jawabannya, “Ya, daripada menganggur?” Atau kalau ditanya, “Ngapain bisnis?” Jawabannya, ”Ya, iseng aja, karena ditawarin teman untuk join!”, dan lain sebagainya. Saya tidak bilang bahwa itu salah, tetapi poin saya adalah banyak yang melakukan kesibukan tanpa disertai visi yang jelas, tentang apa yang mau dicapai di masa depan, Banyak juga yang menikah tanpa mempunyai visi yang jelas.
Yah, lebih karena tuntutan umur atau karena tuntutan orang tua, atau karena mungkin sudah pacaran terlalu lama, dan lain sebagainya. Itu sebabnya, tidak heran kalau dalam perjalanannya, pernikahan mereka cenderung stagnan, atau bahkan tidak sedikit yang menuntut untuk berpisah satu dengan yang lain, karena tanpa visi kita cenderung kembali kepada kehidupan yang lama. Orang yang tidak mempunyai visi akan sibuk menceritakan tentang masa lalu.
Supporting Verse – “Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala! Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara. Yesaya 43:18-19 (TB)
Menarik bahwa Tuhan sendiri yang mengatakan: Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal dari zaman purbakala! Yang dimaksud di sini adalah apa yang terjadi pada bangsa Israel, ketika mereka Tuhan bawa keluar dari perbudakan di Mesir, karena memang itu merupakan sesuatu yang luar biasa, bahkan boleh dibilang mukjizat yang sangat spektakuler. Bagaimana Laut Merah terbelah sehingga mereka bisa melewati dataran kering sampai ke seberang, dan ketika mereka sampai, air laut tersambung kembali sehingga pasukan Firaun yang mengejar mereka semuanya mati hanyut. Namun karena begitu sibuk menengok kejayaan masa lalu, bangsa Israel tidak lagi dapat melihat apa yang Tuhan sedang kerjakan untuk mereka.
Supporting Verse – Janganlah mengatakan: “Mengapa zaman dulu lebih baik dari pada zaman sekarang?” Karena bukannya berdasarkan hikmat engkau menanyakan hal itu. Pengkhotbah 7:10 (TB)
“Where there is no vision, the people cast off restraint.” Proverbs 29:18 (ERV)
Artinya, tanpa visi orang akan mengendorkan kekangan. Artinya tidak lagi mempunyai disiplin, mulai larut dalam kenyamanan dan menjadi terlalu santai, tidak berjaga-jaga, menjadi lengah. Nah, saat itulah awal dari sebuah kegagalan, biasanya. Sebaliknya, orang yang mempunyai visi akan selalu mendapatkan energi yang baru. Orang yang mempunyai visi dapat mengatasi yang namanya rutinitas, kebosanan, dan bahkan berani mengorbankan kesenangan hari ini, untuk mencapai visi di masa yang akan datang.
Saya bayangkan setiap atlet yang mempunyai visi menjadi juara dunia, dia harus mempunyai komitmen untuk berlatih secara rutin setiap hari, bahkan dua, tiga kali berlatih dalam sehari. Bayangkan, setiap kali mereka harus berlatih, mereka berlatih yang itu-itu lagi. Kalau mau dibilang bosan, pasti mereka pernah merasakan kebosanan, tetapi buat mereka bosan bukanlah alasan untuk berhenti dan mencoba yang lain.
Tetapi buat mereka bosan adalah bagian yang harus dijalani dalam usaha menuju masa depan yang mereka impikan. Visilah yang membuat semua aktivitas yang mereka jalani menjadi bermakna. Dalam hidup ini banyak yang tidak dapat mencapai greatness karena mereka tidak mempunyai visi yang cukup kuat untuk mendorong mereka, untuk mengalahkan semua rutinitas dan kebosanan yang mungkin menghadang.
Orang yang mempunyai visi melihat kesulitan atau kegagalan yang dialami hari ini, sebagai sesuatu yang sementara sifatnya (temporary), dan menjadikan kegagalan tersebut sebagai lecutan untuk berusaha lebih keras lagi, sampai mereka mendapatkan apa yang mereka mau.
Mereka-mereka inilah yang berani mengatakan, “I will come back stronger!”;“ Saya akan datang kembali lebih kuat dari hari ini.” Karena visi yang mereka punya memberikan kepada mereka semangat dan ketekunan untuk terus berlatih. Sedangkan orang yang tidak mempunyai visi akan mudah menyerah dan mereka melihat keadaan hari ini sebagai sesuatu yang tidak mungkin dapat diubah.
Itulah beberapa hal tentang visi yang perlu untuk kita ketahui, dan tentunya kita akan belajar lebih banyak lagi di bulan November ini. Namun khusus hari ini, saya ingin berbagi tentang visi dalam hubungannya dengan identitas diri kita. Visi yang hubungannya dengan identitas diri kita.
Mengapa? Sebab saya menemukan, bahwa identitas diri adalah hal fundamental yang sangat mempengaruhi kemampuan kita untuk melihat ke depan. Tanpa identitas diri yang sehat maka sulit untuk kita mempunyai mental picture yang benar akan hari depan yang baik.
Seperti yang sudah pernah saya ajarkan bahwa identitas diri adalah lensa yang kita pakai untuk melihat diri sendiri, atau cara kita melihat diri kita sendiri, atau yang disebut dengan ’gambar diri’. Dari sejak awal, identitas diri sudah menjadi topik pembicaraan Iblis kepada manusia di Taman Eden.
Supporting Verse – Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: “Sekali-kali kamu tidak akan mati,ctetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” Kejadian 3:4-5 (TB)
Sudah saya katakan tadi di awal bahwa manusia diciptakan serupa dan segambar dengan Allah. Namun disini Iblis berhasil untuk membuat manusia berpikir bahwa mereka masih belum seperti Allah sehingga mereka perlu untuk memakan buah yang Tuhan larang untuk dimakan, dan akibat dari pelanggaran itu, maka dosa masuk ke dalam dunia. Iblis juga mencoba melakukan hal yang sama kepada Yesus, ketika Iblis mencobai Yesus di padang gurun. Dua di antara tiga cobaan adalah tentang identitas diri.
Supporting Verse – Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.” Tetapi Yesus menjawab: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.” Matius 4:3-6 (TB)
Namun berbeda dengan Adam, Yesus tidak lupa siapa diri-Nya; bahwa Dialah Anak Allah. Jadi kita lihat dari sejak awal iblis ingin sekali untuk mengacaukan identitas diri manusia. Iblis tahu bahwa kalau kita mempunyai identitas diri yang benar, maka kita dapat melakukan perkara-perkara yang besar yang Tuhan mau untuk kita lakukan.
Identitas diri itu seperti sebuah password atau PIN; kalau benar yang dimasukkan, maka semua akses akan terbuka dengan sendirinya. Identitas diri harus dijaga, sama seperti kesehatan harus dijaga. Artinya bukan sesuatu yang sifatnya permanen. Kalau kita sehat hari ini, bukan berarti kita akan sehat seterusnya, bukan?
Nah, demikian juga sebaliknya. Itulah sebabnya, identitas diri harus terus dijaga. Nabi Elia, contohnya, adalah seorang hamba Tuhan yang sangat luar biasa. Alkitab mencatat bahwa doa Elia menahan hujan agar tidak turun ke bumi selama tiga setengah tahun. Elia juga Nabi yang mendapatkan delivery food, ya, dari burung gagak. Elialah yang membuat mukjizat tepung dalam tempayan seorang janda di Sarfat tidak bisa habis dan minyak dalam buli-bulinya tidak pernah berkurang, sampai Tuhan menurunkan hujan di muka bumi. Elia juga yang membangkitkan anak laki-laki janda Sarfat ini dari kematian. Elia memusnahkan 450 nabi-nabi Baal, setelah melakukan demonstrasi kuasa Tuhan yang luar biasa. Hebat, nabi yang satu ini. Tetapi apa yang terjadi setelah itu?
Supporting Verse – Ketika Ahab memberitahukan kepada Izebel segala yang dilakukan Elia dan perihal Elia membunuh semua nabi itu dengan pedang, maka Izebel menyuruh seorang suruhan mengatakan kepada Elia: “Beginilah kiranya para allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika besok kira-kira pada waktu ini aku tidak membuat nyawamu sama seperti nyawa salah seorang dari mereka itu.” Maka takutlah ia, lalu bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya; dan setelah sampai ke Bersyeba, yang termasuk wilayah Yehuda, ia meninggalkan bujangnya di sana. Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.” 1 Raja-Raja 19:1-4 (TB)
Rupanya ancaman mati Izebel benar-benar menakutkan Elia, sampai Elia lupa semua kehebatan yang Tuhan buat melalui dia. Gambar diri Elia mulai terganggu! Sedemikian takutnya dia, sampai Elia ini berdoa: “Cukuplah itu. Enough is enough! Cukuplah penderitaanku, lebih baik aku mati saja!” Bayangkan dari seorang yang berdoa minta hujan tidak turun selama tiga setengah tahun, sampai sekarang jadi berdoa, ”Lebih baik aku mati saja!”.
Jelas di sini bahwa Elia kehilangan identitas diri yang sebenarnya dan sebagai akibatnya dia tidak lagi dapat melihat masa depannya. Itu sebabnya dia berdoa, ”Lebih baik aku mati saja!” Yang luar biasa adalah bagaimana Tuhan begitu peduli dengan keadaan Elia. Kalau kita baca terus ceritanya, kita dapati dua kali Tuhan mengirim malaikatnya untuk menyediakan makanan dan minuman bagi Elia. Dan karena kekuatan makanan yang diberikan malaikat itu, Elia sanggup berjalan 40 hari 40 malam lamanya, sampai ke gunung Horeb.
Supporting Verse – Di sana masuklah ia ke dalam sebuah gua dan bermalam di situ. Maka firman TUHAN datang kepadanya, demikian: “Apakah kerjamu di sini, hai Elia?” Jawabnya: “Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku.” 1 Raja-Raja 19:9-10 (TB)
Kita lihat di sini, meskipun sudah merasakan pertolongan melalui malaikat Tuhan, Elia masih belum bisa keluar dari kegelisahannya. Elia mengalami yang namanya, ’self pity’ (mengasihani diri sendiri). Dia merasa bahwa dia sudah bekerja secara mati-matian, sudah bekerja keras bagi Tuhan. Tetapi sekarang dia merasa bahwa dia ditinggalkan sendirian. Kemudian Tuhan memperlihatkan kekuatan-Nya di hadapan Elia melalui angin yang hebat, yang membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu, kemudian disusul dengan gempa dan api.
Kita lihat, Tuhan mulai menolong Elia, untuk mempunyai kacamata yang benar tentang siapa dirinya yang sebenarnya; bahwa dia adalah hamba Tuhan yang diurapi, bahwa Tuhan menyertai dia, dan Tuhan tetap menyuruh Elia untuk menjalankan tugasnya.
Supporting Verse – Firman TUHAN kepadanya: “Pergilah, kembalilah ke jalanmu, melalui padang gurun ke Damsyik, dan setelah engkau sampai, engkau harus mengurapi Hazael menjadi raja atas Aram. Juga Yehu, cucu Nimsi, haruslah kauurapi menjadi raja atas Israel, dan Elisa bin Safat, dari Abel-Mehola, harus kauurapi menjadi nabi menggantikan engkau. Maka siapa yang terluput dari pedang Hazael akan dibunuh oleh Yehu; dan siapa yang terluput dari pedang Yehu akan dibunuh oleh Elisa. Tetapi Aku akan meninggalkan tujuh ribu orang di Israel, yakni semua orang yang tidak sujud menyembah Baal dan yang mulutnya tidak mencium dia.” 1 Raja-Raja 19:15-18 (TB)
Tuhan menunjukkan kebaikan Dia, bahwa dia tidak sendirian seperti yang dia sangka. Bahwa masih ada 7.000 orang di Israel yang tidak sujud menyembah kepada Baal.
Apa yang kita pelajari dari kisah ini? Bahwa identitas diri sangat memengaruhi cara kita memandang masa depan dan Iblis berusaha mengaburkan identitas diri kita sehingga kita tidak lagi bisa melihat masa depan yang baik.
Jadi, yang lebih penting untuk dilakukan sebelum kita ingin tahu apa yang menjadi rencana Tuhan atau visi yang Tuhan punya untuk kita, adalah mendapatkan identitas diri yang benar lebih dahulu. Hal yang sama juga kita dapati dari cerita klasik tentang anak yang terhilang dalam Lukas 15, ya. Setelah hidup berfoya-foya menghabiskan semua hartanya, timbullah bencana kelaparan. Si bungsu, di cerita ini, mulai mengalami kesulitan. Nah, untuk mempersingkat waktu, mari kita langsung lihat ke ayat 15 dari Lukas 15.
Supporting Verse – Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorangpun yang memberikannya kepadanya. Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. Lukas 15:15-19 (TB)
Nah, sifat dosa— seperti yang saya sering katakan—adalah mengurangi nilai dan kita lihat bagaimana dosa mengurangi nilai dari anak bungsu ini tentang dirinya sendiri. Sehingga, meskipun ia berniat untuk bertobat dan kembali ke rumah bapanya, tetapi dia tidak lagi dapat melihat dirinya sebagai seorang anak. Dia hanya bisa melihat dirinya sebagai orang upahan saja. Dia kembali ke rumah bapa dengan mimpi yang rendah.
Bahkan, dia sudah merencanakan dalam pikirannya kalau ketemu dengan bapanya, ini yang akan dia katakan, “Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa,aku tidak layak lagi disebut anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.”
Nah, kita teruskan ceritanya. Dalam Lukas 15 ayat 20 (TB) dikatakan seperti ini,
Supporting Verse – Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya.Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Dan ambillah anak lembu tambun itu,sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. Lukas 15:20-23 (TB)
Apa yang terjadi? Ketika dia benar-benar bertemu dengan bapanya, si bungsu ini menjalankan apa yang sudah dia rencanakan dalam pikirannya sebelum dia bangkit dan kembali rumah bapanya. Dia berkata, “Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa.” Tetapi perhatikan, belum sempat dia katakan “Jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa”, bapanya sudah memotong kalimatnya. Rupanya, sang bapa melihat bahwa identitas diri si bungsu ini sudah tidak lagi pada tempatnya. Si bungsu ini meninggalkan rumah sebagai seorang anak namun pulang ke rumah hanya ingin menjadi orang suruhan.
Ada yang salah dengan gambar dirinya, dan yang menarik adalah ketika bapanya berkata “Lekaslah” kepada semua hamba-hambanya. “Lekaslah” artinya cepat, segera, jangan tunggu-tunggu lagi, “Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik. ”Nah, perlu diketahui bahwa tidak semua orang pada zaman itu memakai jubah. Hanya orang-orang tertentu seperti orang kaya atau orang mempunyai kedudukan dan yang terpandang— mereka-merekalah yang memakai jubah.
Nah, kalau dipikir-pikir ya, ngapain juga dipakaikan jubah, kan dia cuma pulang ke rumah? Mungkin juga dia masih dalam keadaan kotor dan lusuh, yang dia perlu adalah mandi supaya dia bersih. Namun dengan memakaikan jubah yang terbaik, sang bapa seolah-olah ingin membuat suatu statement bahwa ia ingin mengembalikan martabat anaknya.
Kemudian, dia perintahkan untuk memakaikan cincin pada jarinya. Cincin adalah lambang otoritas. Kalau kalian ingat, Raja Firaun memberikan cincinnya kepada Yusuf, ketika mengangkat Yusuf menjadi penguasa atas Mesir. Dengan memasangkan cincin ini, sang bapa membuat suatu statement bahwa dia mengembalikan otoritas anaknya. Luar biasa, bukan? Si bungsu ini hanya berpikir mau menjadi orang suruhan, ketika dia kembali ke rumah bapanya, dan orang suruhan tidak punya otoritas. Namun, bapanya memberikan kepadanya, lebih dari apa yang dia pikirkan. It sounds like God, isn’t it?
Dan yang terakhir, “Pakaikanlah sandal pada kakinya!” Kemungkinan besar dia pulang ke rumah tidak memakai sandal, karena pekerjaan dia terakhir adalah sebagai orang suruhan di kandang babi, dan orang suruhan tidak memakai sandal. Pertanyaannya, kenapa harus dipakaikan sekarang?’ Kan, kakinya sudah kotor, suruh saja cuci kaki dulu biar bersih, baru dipakaikan sandal. Namun dengan memakaikan sandal, berarti bapanya ingin membuat suatu statement bahwa dia mengembalikan status dan hak si bungsu, dari seorang upahan, kembali menjadi seorang anak.
Dengan memakaikan jubah, cincin dan sandal, sang bapa membuat suatu pernyataan kepada semua orang, termasuk kepada yang ada di rumahnya, bahwa dia menerima anaknya kembali. Dia mengakui dan dia tidak mau ada orang yang memandang rendah anak bungsunya ini ataupun mengejek dia.
Sekaligus juga membuat statement kepada si bungsu bahwa,”Di rumah ini, kamu tetap anakku. Kamu mempunyai otoritas dan hak sebagai seorang anak.”Dan perhatikan apa yang bapanya katakan di ayat 24.
Supporting Verse – Dia katakan, Sebab anakku ini—dia katakan—Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria. Lukas 15:24 (TB)
Demikianlah besarnya kasih Tuhan kita. Kalau kita mau bertobat dan berbalik dari jalan kita yang keliru, maka Tuhan bukan hanya menerima kita apa adanya, tapi Dia juga ingin mengembalikan martabat, otoritas dan status kita menjadi anak-Nya. Tuhan ingin identitas diri kita dipulihkan. Kita menjadi sadar bahwa kita ini anak Tuhan, sehingga kita dapat bermimpi lebih tinggi, mempunyai visi yang besar dan mampu melakukan pekerjaan baik yang Tuhan sudah sediakan buat kita sebelumnya.
Itu sebabnya sebuah pertobatan harus segera diikuti dengan pemulihan identitas diri. Kita bukan lagi budak dosa; kita sudah dimerdekakan dan kita adalah ahli waris. Seperti kitab Roma 8:17 (TB) katakan.
Supporting Verse – Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia. Roma 8:17 (TB)
Sayangnya, banyak orang-orang yang sudah percaya dan sudah menerima Yesus, tidak dapat menikmati janji-janji Tuhan karena mereka masih memakai identitas yang lama. Sama seperti yang terjadi pada 10 orang pemimpin bangsa Israel yang dikirim Musa untuk mengintai tanah perjanjian.
Supporting Verse – Mereka menceritakan kepadanya: “Kami sudah masuk ke negeri, ke mana kausuruh kami, dan memang negeri itu berlimpah-limpah susu dan madunya, dan inilah hasilnya. Hanya, bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat dan kota-kotanya berkubu dan sangat besar, juga keturunan Enak telah kami lihat di sana. Orang Amalek diam di Tanah Negeb, orang Het, orang Yebus dan orang Amori diam di pegunungan dan orang Kanaan diam sepanjang laut dan sepanjang tepi sungai Yordan.” Kemudian Kaleb mencoba menentramkan hati bangsa itu di hadapan Musa, katanya: “Tidak! Kami akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!” Tetapi orang-orang yang pergi bersama-sama dengan dia berkata: “Kita tidak dapat maju menyerang bangsa itu, karena mereka lebih kuat daripada kita. Juga mereka menyampaikan kepada orang Israel kabar busuk tentang negeri yang diintai mereka, dengan berkata: “Negeri yang telah kami lalui untuk diintai adalah suatu negeri yang memakan penduduknya, dan semua orang yang kami lihat di sana adalah orang-orang yang tinggi-tinggi perawakannya. Juga kami lihat di sana orang-orang raksasa. orang Enak yang berasal dari orang-orang raksasa, dan kami lihat diri kami—perhatikan— dan kami lihat diri kami seperti belalang, dan demikian juga mereka terhadap kami.” Bilangan 13:27-33 (TB)
Sepuluh dari dua belas pemimpin yang diminta Musa untuk mengintai tanah perjanjian mempunyai identitas diri yang keliru. Mereka melihat diri mereka sendiri seperti belalang dan karena mereka melihat diri mereka sendiri demikian, maka orang lain juga memperlakukan mereka seperti demikian. Saya sering katakan, nilai yang kita letakkan atas diri kita, menentukan bagaimana orang menilai kita dan memperlakukan kita. Akibatnya—akibat tidak mempunyai identitas diri yang sehat dan benar, kesepuluh orang pemimpin ini tidak dapat masuk ke tanah perjanjian yang Tuhan sudah janjikan kepada mereka.
Mereka tidak dapat menikmati janji Tuhan bukan karena Tuhan ingkar janji, tetapi mereka tidak memiliki kemampuan untuk menguasai tanah perjanjian. They simply cannot handle God’s promise. Diperlukan sikap dan karakter yang berbeda, untuk dapat hidup di tanah perjanjian. Dan tidak banyak yang mereka bisa lakukan, kalau sebagai pemimpin saja, mereka melihat diri mereka seperti belalang. Orang-orang yang melihat dirinya seperti belalang—belalang itu kecil, Saudara—orang-orang yang melihat dirinya seperti belalang akan merasa tidak mampu ketika diminta melakukan pekerjaan yang besar.
Mereka merasa tidak punya apa-apa,tidak dapat berkontribusi banyak, merasa kecil, merasa tidak layak, tidak pantas,dan itulah ciri-ciri dari identitas yang belum diperbarui. Itu sebabnya, kita perlu kembali diingatkan siapa kita di dalam Kristus.
Supporting Verse – Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. 2 Korintus 5:17 (TB)
Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau supaya kita hidup di dalamnya. Efesus 2:10 (TB)
Kita adalah God’s masterpiece, produk unggulannya Tuhan. Hidup kita ini sangat mahal harganya. Harga yang Yesus bayar untuk menebus kita adalah dengan darah-Nya sendiri. Kalau kita mau hidup yang berarti, kita perlu mempunyai cara pandang yang sama dengan cara Tuhan memandang kita. Identitas diri yang benar dan sehat akan membuat kita tidak cepat menyerah dengan persoalan yang sedang kita hadapi.
Kita jadi berani membidik yang lebih tinggi, berani bermimpi yang lebih besar sehingga kita membawa dampak yang positif bagi dunia di sekitar kita, serta memuliakan nama Yesus yang sudah menebus kita. Nah, bisa jadi,dan saya tahu ini terjadi di antara banyak orang, bahwa keadaan selama pandemi ini, mempengaruhi cara kalian memandang diri kalian sendiri. Akibat dari rencana yang tertunda, mungkin, Atau kerugian demi kerugian yang dialami, kegagalan demi kegagalan, persoalan demi persoalan yang diakibatkan oleh karenanya.
Baik itu dalam pernikahan maupun dalam urusan rumah tangga, dalam pekerjaan, dalam bisnis maupun juga dalam pelayanan di ladang Tuhan. Belum lagi mereka-mereka yang kehilangan orang-orang terdekat karena—karena COVID dan penyakit lainnya. Semuanya ini berpotensi mengaburkan pandangan kalian tentang siapa kalian di dalam Tuhan.
Sehingga seperti Elia, mungkin ada di antara kalian yang mengatakan,“Cukuplah sudah. Buat apa semuanya ini? Saya sudah bekerja ekstra keras tetapi ini yang terjadi. Seolah-olah saya dibiarkan sendirian. Di mana Tuhan? Di mana kasih-Nya? Buat apa lagi ikut-ikut pelayanan?” dan lain sebagainya.
Bahkan mungkin ada juga yang berpikir, lebih baik mati saja, daripada harus menghadapi kesakitan, kerugian, kegagalan, malu, masa depan yang tidak menentu dan lain sebagainya. Atau ada yang seperti si bungsu, yang tidak bisa [ber]mimpi yang tinggi lagi, mimpinya sangat rendah.
Ketahuilah hari ini bahwa Bapamu yang di Surga peduli tentang keadaanmu dan Dia mau menolong serta memulihkan identitas diri kalian. Roh Kudus ada bersama dengan kalianbahkan saat ini, di mana pun kalian berada, Dia ingin mengingatkan kalian, siapa kalian di dalam Kristus sehingga kalian bisa bangkit kembali.
Percayalah bahwa Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu, untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka-mereka yang mengasihi Dia. You will come back stronger. Dan kalian akan mempunyai visi yang benar ke depan. Di dalam nama Yesus, itu yang menjadi doa saya buat kalian semua. dan itu sebabnya hari ini, kalian ada untuk mendengarkan pengajaran ini.
P.S : Hi Friends! I am currently looking for a freelancing copywriter job, please do let me know if any of you know a freelance opportunity for a copywriter (content, social media, press release, company profile, etc). My contact is 087877383841 and vconly@gmail.com. As some of you know, 316notes will always be free for everyone but there’s always costs involved to maintain this website. I won’t ask for a donation, but please share an opportunity for freelancing so I can use it to fund this website. Sharing is caring so any support is very much appreciated. Thanks much and God Bless!
Saya sedang men



