JPCC Sutera Hall 2nd Service (24 August 2025)
Berikan tepuk tangan sekali lagi untuk Tuhan kita, dan juga tentunya untuk setiap teman-teman yang sudah melayani kita dengan luar biasa, baik yang kelihatan (di atas panggung) atau tidak. Mereka sudah datang dari pagi untuk melayani saudara semua, bahkan lebih pagi daripada saya yang berkotbah. Dan mereka melakukan itu bukan karena harus atau sebuah kewajiban, tetapi mereka melakukan itu karena mereka tahu bahwa tidak ada satupun realita dalam kehidupan yang bisa memisahkan mereka dari Kasih Tuhan. Dan mereka melakukan pelayanan ini karena mengasihi Tuhan.
Saya akan mulai dengan sebuah quiz sebelum saya menyampaikan Firman Tuhan : Apakah saudara masih ingat apa tujuan saudara bergereja? Apakah saudara masih ingat apa tujuan saudara berkumpul di sebuah komunitas yang namanya gereja? Kalau saudara melakukan hal ini atau tidak, apakah pengaruhnya dan dampaknya dalam hidup saudara? Pernahkan saudara memikirkan apakah tujuan Tuhan mengumpulkan kita semua disini, apa tujuan Tuhan di dalam dan melalui gereja? Bukan secara individual, tetapi apakah tujuan Tuhan melalui kehidupan berkomunitas dan melalui gereja?
Mengapa saya menyampaikan hal ini?
Karena ada sebuah fenomena baik di dunia bisnis, pekerjaan atau bahkan di pelayanan yang menunjukkan sebuah kondisi mental bernama “Silo Mentality“, artinya melayani atau bekerja secara terisolasi dan enggan berkolaborasi untuk tujuan bersama, sebuah kondisi mental dimana seseorang lebih memilih untuk bekerja sendiri, tidak mau terhubung dengan orang lain dan tidak berpikir dampaknya seperti apa terhadap orang lain.
Apakah ada yang pernah menemukan orang disekitarnya dengan kondisi mental seperti itu? Atau jangan-jangan kita yang ada dalam kondisi seperti itu? Saya nanti akan kembali lagi kesini dan melihat hubungannya dengan pentingnya kita bergereja.
Sharing Ps. Ary – Beberapa waktu lalu, saat saya pulang ke rumah setelah seharian pelayanan dan meeting. Saya pulang dalam keadaan kurang berkonsentrasi dan sehingga disaat menutupi pintu, bagian kecil dari ujung telunjuk jari saya terjepit Pagar, lukanya memang kecil sekali, tetapi waktu kejepit, rasa sakitnya terjadi dan sampai menyebar ke seluruh badan saya termasuk ujung rambut saya.
Saya jadi berpikir, bahwa sepertinya tidak ada timbal balik dengan jari ujung telunjuk dan ujung rambut saya. Artinya, bagian terkecil dari tubuh saya, itupun memiliki peran dan fungsi yang berkaitan dengan bagian tubuh yang lain sehingga ketika bagian tubuh yang kecil itu mengalami luka, yang lain juga mengalami sakit.
Kondisi “Silo mentality” ini tidak seperti itu, yang penting mereka sudah jadi orang percaya dan menerima keselamatan, sudah hidup baik sesuai standar moral yang benar dan itu sudah cukup. Tetapi benarkah bahwa tujuan Tuhan dalam kehidupan kita bergereja hanya sebatas itu?
Minggu lalu kita belajar bahwa rasa sakit adalah tanda pertumbuhan, seseorang yang bertumbuh berarti kapasitasnya dalam menjalankan tanggung jawab dan misi Tuhan, tentu sakit tetapi itu ada tujuannya karena itu adalah tanda pertumbuhan dan sebuah proses untuk menjadi dewasa. Untuk menjadi dewasa, prosesnya juga adalah seperti ini.
Dependen – Independen – Interdependen
Proses seseorang untuk menjadi dewasa dimulai dari sebuah Fase Dependen atau ketergantungan kepada orang lain. Seperti saat lahir, bayi tentu masih bergantung kepada orang tua mereka, bukan?
Tetapi, ketika mereka bertumbuh, mereka akan masuk ke Fase Independen, dia sudah tidak bergantung kepada orang tuanya, bisa mengambil keputusan sendiri dan memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, tetapi setelah fase ini, ada sebuah fase berikutnya yang bernama Fase Interdependen, fase dimana orang yang sudah merdeka dan mandiri ini, kemudian berkolaborasi dan bekerjasama dengan orang-orang lain untuk mencapai tujuan bersama.
Bagaimana jika ketergantungan itu bicara tentang ketergantungan kepada dosa? Jadi pada waktu dependen, kita tidak bisa mengambil keputusan dan tidak bisa bekerjasama dengan orang lain karena kita sendiri terikat dan terjerat oleh dosa. Susah untuk memikirkan orang lain disaat kita sibuk dengan diri sendiri agar bisa terlepas ikatan dosa.
Itulah yang kemudian menyebabkan Kristus memerdekakan kita karena begitu besarnya KasihNya atas dunia. Kita yang tadinya hidup bergantung karena dosa, dan lalu kemudian Kristus melepaskan dan membebaskan kita, sehingga kita menjadi pribadi yang merdeka atau orang-orang yang independen.
Tetapi apakah tujuan Tuhan memerdekakan kita berhenti sampai disana saja? Karena ada fase kehidupan yang bernama Interdependen dimana orang-orang yang sudah merdeka atau independen ini berkolaborasi dan bekerjasama dengan orang-orang lain untuk mencapai tujuan bersama.
Kita ini tidak dimerdekakan oleh Kristus dari dosa untuk menikmati kemerdekaan kita dalam kesendirian. Bayangkan, jika dulu para pahlawan yang kemudian membawa bangsa ini menjadi merdeka sewaktu itu memikirkan dirinya sendiri dan mengerjakan semuanya sendiri, mereka mungkin akan mati duluan karena rasa frustrasi.
Pada dasarnya Tuhan memanggil kita bukan untuk menikmati dan mengerjakan kemerdekaan sendirian, Tuhan maunya agar kita bisa bekerja secara gotong royong atau saling interdependen, untuk menjalankan misi dan tujuan Tuhan yang tidak mungkin dikerjakan secara sendirian.
Tuhan mau kita membangun kehidupan yang “fruitful and multiply”, bukan hanya soal “beranakcuculah”, ada sebuah tujuan dan makna yang lebih dalam, berbuahlah dan buahnya itu tidak tetap dan terus bertambah banyak, bukan juga hanya bicara tentang membangun performan, prestasi, pencapaian dan dampak sosial, tetapi ini bicara tentang dampak rohani kita, berbicara soal jiwa-jiwa, bagaimana kehidupan kita yang merdeka berinterdepen dengan orang lain yang sudah dimerdekakan dari jerat dosa untuk kemudian menolong orang lain agar mengenal kebenaran, Tuhan yang mereka sembah agar bisa menjalankan fungsi dan tanggung jawab yang sudah Tuhan berikan dalam hidup mereka.
Opening Verse – Then God blessed them and said, “Be fruitful and multiply. Fill the earth and govern it. Reign over the fish in the sea, the birds in the sky, and all the animals that scurry along the ground.” Genesis 1:28 NLT
Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28:18-20 TB
Dan bahkan kemudian di perjanjian baru, Yesus menegaskan bahwa misi Tuhan sejak awal tidak berubah, kita kemudian dipercayakan Kuasa untuk melakukan apa yang menjadi kehendakNya, misiNya dalam dunia ini adalah untuk sebuah pemuridan, bukan dilakukan dalam kesendirian, komunitas, tetapi juga dalam keseharian kita untuk pergi dimanapun kita berada, ambil tanggung jawab dengan Kuasa dan otoritas yang Tuhan berikan untuk melakukan misi Tuhan secara bersama-sama.
Kata memuridkan itu adalah “Pergilah”, dimanapun kita berada baik dalam pelayanan atau pekerjaan. Pergi juga berbicara untuk keluar dari zona nyaman dan lakukan pemuridan. Caranya bagaimana?
Dikatakan “Baptislah mereka dalam nama Bapa, Tuhan dan Roh Kudus”, baptisan adalah tanda dari pertobatan, jadi dimanapun kita berada, kita menuntun orang yang masih dalam keadaan terjerat dalam dosa, tuntun mereka dan perkenalkan mereka kepada Tuhan yang sudah memerdekakan kita.
Setelah mereka diperkenalkan, kita tuntun dari pribadi yang independen menjadi pribadi yang interdependen. Jadi, setiap pencapaian, performa, perilaku dan perkataan yang kita jaga dimanapun kita berada, itu semua bukan ditujukan untuk dunia melihat dan membanggakan kita. Generasi bintang bukan generais yang memancarkan bintangnya sendiri, tetapi memancarkan Kebintangan Tuhan dan membuat orang ingin mengenal bintang yang ada dalam diri kita. Ini berbicara bagaimana kehidupan yang berinterdependen bisa membawa orang kepada pertobatan dan mengenal Kristus.
Interdepen adalah hubungan antara 2 pihak atau lebih dimana tindakan 1 pihak berpengaruh terhadap pihak yang lain. Dari sinilah kita kemudian sebut organisasi bernama gereja. Gereja adalah Sekumpulan orang percaya kepada Kristus, yang dimerdekakan oleh Kristus dari penjajahan dosa, untuk menjalankan misiNya secara interdependen. Jadi, penting untuk berkumpul untuk menjalankan misi bersama secara interdepended, kita bukan sekedar bergereja untuk menikmati kemerdekaan kita sendiri.
Supporting Verse – “Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya” Matius 16:18 TB
Dalam bahasa aslinya, nama Petrus disebut sebagai Petros dan Batu Karang adalah Petra, dengan artian sekumpulan batu. Dan dikatakan bahwa dari sekumpulan batu, akan dirikan JemaatKu atau “Eklesia“. Jadi, bahkan dari sejak awal, Yesus tidak mau membuat Petrus melakukan misiNya ini secara sendirian. Jemaat atau Eklesia adalah sekumpulan orang yang dipanggil keluar dari dosa, dan kemudian diberikan misi untuk menjadikan semua bangsa bertobat dan mengenal Kristus.
Tujuan Kristus bagi setiap anggota TubuhNya sama, yaitu menjalankan misi pemuridan secara berkelanjutan sebagai tanda kehidupan yang berbuah dan bermultiplikasi.
Supporting Verse – Sama seperti satu tubuh yang mempunyai banyak anggota, dan masing-masing anggota mempunyai fungsi yang berbeda-beda. Begitu juga dengan jemaat, walaupun kita banyak, tetapi kita adalah satu tubuh dalam Kristus, dan masing-masing adalah anggota dari yang lain.
Karunia-Karunia Rohani Dan, kita mempunyai karunia-karunia yang berbeda-beda sesuai dengan anugerah yang diberikan Allah kepada kita. Kalau ia mempunyai karunia untuk bernubuat, ia harus bernubuat sesuai dengan keyakinannya pada Allah. Kalau ia mempunyai karunia untuk melayani, ia harus melayani. Orang yang mempunyai karunia untuk mengajar, ia harus mengajar. Kalau ia mempunyai karunia untuk menghibur, ia harus menghibur orang lain yang membutuhkan. Kalau ia mempunyai karunia untuk memberi, ia harus memberi dengan murah hati. Kalau ia mempunyai karunia untuk memimpin, ia harus memimpin dengan rajin. Kalau ia mempunyai karunia untuk menunjukkan belas kasihan, ia harus melakukannya dengan gembira. Roma 12:4-8 AMD
Ayat-ayat ini menjelaskan bahwa tidak semua anggota memiliki tugas atau fungsi yang sama. Tetapi meskipun fungsinya berbeda, setiap anggota adalah satu tubuh di dalam Kristus. Implikasinya adalah masing-masing memiliki keterkaitan, tanggung jawab dan akuntabilitas satu sama lain.
Setiap anggota, Tuhan berikan Karunia yang berbeda-beda berdasarkan Kasih KaruniaNya, di dalam mengimplementasikan setiap Karunia untuk melakukan misi Kristus, setiap anggota harus melakukannya dengan murah rati, rajin dan gembira.
We are not meant to live out our purpose alone. Our purpose never stand alone.
Closing Verse – Hal itu tidak dibutuhkan oleh anggota-anggota kita yang elok. Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus, supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda saling memperhatikan. 1 Korintus 12:24-25 TB
Yang sudah lebih dewasa dan lebih kuat, sering menjalankan fungsinya, jangan “baper” jika tidak dipuji. Jangan lupa bahwa “Baper”nya itu juga membawa perubahan. Justru yang kuat memperhatikan yang lebih lemah agar bisa terinterdependesi nantinya. Gereja adalah banyak orang dengan perbedaan karunia dan fungsi, tetapi satu misi karena merupakan bagian dari Tubuh yang sama, yaitu tubuh Kristus. Kalau berinterdepensi, lebih mudah untuk menjalankan misi.
Jadi, kita bergereja bukan sekedar menjadi konsumen dari kebenaran Firman Tuhan, faktanya, tujuan Tuhan memerdekakan kita dari dosa bukan supaya kita hidup, cuman “numpang lewat” di dunia, tetapi supaya gereja membangun interdependensi dan memperkenalkan Kristus di Indonesia dan dunia, supaya terjadi pertobatan supaya setiap kehidupan memuliakan nama Tuhan.
Tujuan Tuhan adalah agar kita hidup bergotong-royong, memberdayakan karunia rohani masing-masing dengan murah hati, rajin dan gembira untuk menjalankan misi pemuridan atau memimpin orang-orang mengenal Kristus sehingga mereka bertobat dan mengalami kemerdekaan dari jerat dosa atau kehidupan yang sia-sia, itulah kehidupan yang secara interdependesi, be fruitful and multiply.
Call to action :
- Bergabung dengan DATE atau komunitas – ajak teman atau orang lain ke DATE
- Mulai mengidentifikasi Karunia Rohani – mencari mentor
- Mulai memberdayakan Karunia rohani untuk melayani di dalam dan atau di luar organisasi di gereja.



