JPCC Sutera Hall 2nd Service (3 May 2026)
Mari kita sambut Guest Speaker kita untuk hari ini, Ps. Peter Pauwee yang sudah berulang kali datang ke JPCC. Dan yang kita sambut bukan hanya seorang hamba Tuhan yang luar biasa, Dia juga punya keluarga, anak, dan cucu yang luar biasa. Mereka mendirikan gereja yang luar biasa, namanya “The Door Breakers” atau bahasa Inggrisnya adalah “Breakthrough”. Kenapa mereka breakthrough?
Mereka berdua datang dari latar belakang “Dutch Reform” yang sangat konservatif. Pertama kali saya dengar mereka, bahkan saya dengar latar belakang mereka, baju warnanya tidak boleh heboh, apalagi hijau, no lipstick, no makeup, no hairdo. Ya, jadi a very conservative Dutch Reform. Tapi, saya bersyukur bagaimana mereka bisa “reform” orang yang sudah “reform”. Mereka melakukan reformasi, mereka dapat bertumbuh di pusat daripada kota Belanda.
So, hari ini di kebaktian pertama kita terima berkat yang luar biasa, saya percaya, sutera hall kebaktian kedua, kalian juga akan diberkati dengan luar biasa. Are you ready?
Suatu kehormatan untuk saya bisa kembali ke JPCC. Pertama kali saya datang ke JPCC adalah 18 tahun yang lalu. Saya mengenali istri saya, Ilona selama 40 tahun. Saya membawa gambar-gambar ini, sedikit dibuat oleh AI sedikit, tapi gambar-gambar-gambar tersebut mempunyai kekuatan. Ini adalah desa yang sangat kecil dengan 4.000 orang. Di tengah itu ada bangunan gereja kami dimana Ilona dan saya sendiri juga bertumbuh besar disitu dan tentunya ada kincir angin juga disitu, orang-orang disana masih memakai sepatu kayu dan sangat legalistik. Seluruh desa pergi ke gereja yang sama. Tidak ada televisi. Tidak ada radio. Tidak ada “fun”. Cuman gereja saja. Dan gereja saja tidak akan membuat anda bahagia.
Selama 40 tahun, kami membuat banyak keputusan. Ilona memutuskan untuk menikahi saya. Lalu kami pindah ke pusat kota. Kami meninggalkan gereja yang tradisional ini dan bergantung dengan gereja yang lebih “semangat”. Lalu waktu itu kami juga memutuskan untuk meninggalkan bisnis kami dan memutuskan untuk membangun gereja.
Kami bertemu dengan Pastor Jeffrey di Inggris. Lalu dia bilang, datang dan berkunjunglah ke gereja kami di Jakarta? Lalu saya sempat ragu, tetapi Roh Kudus berkata kepada saya untuk pergi ke Jakarta. Selama 18 tahun, hubungan kami terus bertumbuh dan gereja saudara telah menjadi berkat yang begitu besar.
Hari ini saya akan berbicara tentang mengambil sebuah keputusan. Karena dimana kita semua berada hari ini, seringkali ditentukan oleh keputusan-keputusan yang kita ambil, atau mungkin keputusan dari orang tua kita sebelumnya. Atau mungkin anda berada di dalam situasi yang sulit, bisa jadi karena keputusan anda sendiri atau mungkin karena keputusan orang lain yang berdampak dalam kehidupan anda. Apapun situasinya, maka pesan ini adalah untuk anda. Saya merasakan bahwa Roh Kudus mendorong saya untuk membagikan ini di JPCC.
Beberapa minggu lalu, saya sedang mempersiapkan pesan ini. Bahkan hari berikutnya, saya diperhadapkan dengan keputusan besar yang harus saya ambil. Saya merasa Tuhan berkata pada saya waktu itu, supaya saya tidak membuat keputusan tanpa melibatkan Tuhan. Karena itu adalah keputusan yang sejalan dengan keputusan-keputusan besar lainnya.
Jadi, saya mengambil keputusan besar dengan kuat. Lalu, keputusan kedua dan ketiga seringkali sudah kita ketahui. Lalu kita mulai melakukannya sendiri dengan kebiasaan yang kuat. Dan saya merasa saat itu Tuhan berkata, jangan lakukan ini. Mari kita jujur. Saya secara pribadi juga suka membuat keputusan bersama dengan Tuhan. Kami membeli rumah, meninggalkan bisnis kami, membangun sebuah gereja.
Beberapa keputusan tersebut, tentunya salah satunya dalam membangun gereja, itu membuat saya melakukan lebih banyak daripada yang saya pikirkan.
Apakah saya menyesali itu?
Tidak, karena itu saya yakin adalah Kehendak Tuhan. Tetapi sejujurnya dengan sederhana, saya juga pernah membuat keputusan-keputusan tanpa melibatkan Tuhan. Berdasarkan emosi, mungkin dalam tekanan, dalam pencobaan, dan beberapa kesempatan yang terlihat seperti kesempatan, tetapi malah ternyata akhirnya membawa saya ke dalam pencobaan atau dosa.
Si jahat seringkali masih mencoba untuk berbicara dan menggoda saya. Menaruh pertanyaan dalam pikiran saya dan berkata, “Mengapa kamu begitu bodoh melakukan itu?”
Menaruh saya di dalam rasa malu, rasa bersalah, rasa tertekan. Dan saya harus tahu bahwa saya sudah dibenarkan di dalam Kristus.
Di Belanda, seringkali kita lihat, anjing-anjing itu membuat jalanan menjadi kotor. Kalau saudara tidak melihat kotoran out, bisa jadi saudara sudah menginjaknya. Saudara mungkin baru bisa merasakan baunya saat sudah di rumah dan mencium baunya. Lalu saudara terkena konsekuensi, dan itu mirip keputusan yang kita ambil. Kita mengambil keputusan yang salah, kita tidak sadari itu, tetapi berikutnya baru kita sadari bahwa ada konsekuensi yang harus kita tanggung dari keputusan tersebut.
Decision decide our destiny. But not only your destiny. The destiny of your business. The destiny of your church. The destiny of your family. The destiny of your children.
Bisa jadi itu adalah keputusan yang sederhana. Seperti kemana saudara akan pergi kerja? Kemana saudara akan pergi ke gereja? Kemana saudara akan bawa anak-anak saudara ke sekolah? Dan setiap keputusan bisa membangun kehidupan saudara atau justru mendatangkan beban dalam hidup saudara. Sangat penting untuk kita ketahui bahwa disaat kita perlu mengambil sebuah keputusan, kita lakukan itu bersama Tuhan.
Mari kita lihat kisah dari Yosua. Yosua sedang ada di dalam tanah perjanjian. Dia mendengar dari Allah. Mereka mengalahkan Yerikho. Mereka bergumul masuk ke dalam Kota Ai, lalu mereka masuk ke dalam Kota dimana ada orang-orang Gibeon disana. Tuhan bilang kamu harus musnahkan semuanya, tidak boleh melakukan perjanjian dengan orang-orang tersebut. Karena kalau melakukan itu, maka nanti mereka akan menyebabkan masalah dalam kehidupan orang Israel.
Dan orang-orang Gibeon ini tahu bahwa berikutnya mereka yang akan dihadapkan dan didatangi oleh orang-orang Israel. Mereka tidak percaya bahwa mereka akan mendapatkan kasih karunia dari orang-orang Israel. Akhirnya mereka membuat rencana. Mereka membuat sebuah skema. Mereka datang dengan roti yang sudah berjamur, pakaian kusat, dan sandal-sandal yang sudah rusak. Mereka berpura-pura datang dari tempat yang jauh. Lalu mereka berkata bahwa mereka telah mendengar perbuatan yang besar tentang kalian semua dan juga apa yang mereka mau lakukan kepada kami. Oleh karena itu, mari buat sebuah perjanjian. Mari kita baca Yosua 9 ayat 14.
Opening Verse – [14] Maka orang-orang Israel menerima sedikit dari makanan orang-orang Gibeon itu, dan tidak bertanya kepada Tuhan mengenai hal itu. [15] Yosua mengadakan perjanjian persahabatan dengan orang-orang Gibeon itu, dan berjanji untuk tidak membunuh mereka. Pemimpin-pemimpin umat Israel juga bersumpah untuk menepati perjanjian itu. Yosua 9:14-15 BIMK
Disini ada sebuah keputusan besar yang diambil pada saat Yosua, mengambil keputusan dengan para pemimpin yang berada disana. Mereka melihat fakta yang ada. Mereka melihat cerita tersebut yang kelihatan sepertinya benar. Mari kita bikin board meeting. Mari kita lakukan saja dan putuskan. Tiga hari kemudian, mereka menemukan fakta bahwa ternyata orang-orang ini tinggalnya tidak jauh dari mereka. Dalam jarak yang sangat dekat, sebuah skema yang menipu, padahal Yosua bisa saja bertanya dulu kepada Tuhan. Tuhan akan memberikan jawaban, But the biggest fault was not asking the Lord. Asking the Lord is not difficult.
Yang Yosua harus lakukan adalah tidak membuat keputusan seperti yang dia lakukan. Membawa keputusan tersebut dan datang kepada Tuhan. Lalu meminta Tuhan supaya memberikan damai sejahtera terhadap keputusan yang dia mau ambil. Tetapi dia tidak melakukannya. Akhirnya orang Israel marah kepada pemimpin-pemimpin mereka.
Tetapi Yosua bilang, bahwa kita tidak bisa melakukan apa-apa lagi? Karena kita sudah membuat perjanjian di atas Nama Tuhan. Dan perjanjian itu adalah sesuatu yang sangat serius. Kalau dilanggar perjanjiannya, maka harus dibayar dengan nyawa. Kita mempunyai perjanjian yang baru di dalam Kristus. Dia memberikan NyawaNya untuk perjanjian itu. Ada harga yang harus dibayar jika sebuah perjanjian dilanggar. Itu sebabnya, Keputusan yang kita ambil sangat penting.
Pagi hari ini, Kita menikmati Hadirat Tuhan di dalam auditorium Sutera Hall, tetapi saudara bisa berjalan di dalam Hadirat Tuhan dan tetap mengambil keputusan sendiri. Abraham mendengar dari Tuhan tentang arah kehidupannya tetapi dia tetap mengambil keputusan sendiri untuk mempunyai Ismail. Musa juga mendengar Tuhan dan berbicara kepada batu, tetapi karena emosinya, dia memukul batu tersebut sampai keluar air.
Lalu Yosua berjalan bersama Tuhan dan memimpin umat Tuhan di dalam tanah perjanjian, dan bahkan juga mengalahkan Yerikho, mendapatkan instruksi yang spesifik dari Tuhan. Tapi keputusan yang dia ambil, dia ambil berdasarkan pengetahuannya sendiri. Jadi saudara bisa saja masuk dan ada dalam Hadirat Tuhan, mengenal Firman, bahkan mengenal visi untuk kehidupan saudara sendiri. Berjalan di dalamNya, tapi jatuh karena melakukan keputusan sendiri.
Jadi, orang-orang Gibeon ini akhirnya terselamatkan. Bukan karena kasih karunia, tapi justru karena rasa takut mereka. Mereka mempercayai Tuhan. Mereka yakin bahwa mereka akan mati. Tetapi karena rasa takut akan kematian tersebut, mereka mencoba melakukan tipu daya dan membuat perjanjian dengan orang israel. Dan akhirnya mereka dibuat menjadi budak terhadap Israel seumur hidupnya.
Tapi sebelum ini terjadi, Rahab, sang pelacur itu tinggal di dalam Kota Yerikho. Dia sudah mendengar hal yang sama. Tetapi sebaiknya dia mempercayai kekuatan dan kasih karunia dari Tuhan. Dan dia juga diselamatkan. Tapi dia tidak memilih untuk menjadi salah satu ibu di dalam silsilah Yesus Kristus. Jadi kalau iman kita didasarkan oleh rasa takut, mungkin ada keselamatan dalam diri saudara. Tetapi saudara akan hidup sebagai budak.
Tetapi kalau saudara, iman saudara percaya akan Kasih karunia dan kebenaran Tuhan, saudara akan terselamatkan juga, dan tetapi dihidupkan di dalam kemerdekaan yang berdasarkan atas kebenaran dan damai sejahtera.
Dan sekarang kita lihat ada 5 raja yang tidak suka dengan keputusan ini. Karena orang-orang Gibeon mengadakan perjanjian dengan Allah, pihak yang mereka anggap sebagai musuh. Jadi 5 raja ini bersatu dan ingin berperang dengan orang-orang Gibeon. Dan orang-orang Gibeon ini datang kembali dan berkata kepada Joshua, “Ayo datang kembali dan tolong kami”.
Supporting Verse – [3] Sebab itu Adoni-Zedek mengutus orang kepada Raja Hoham di Hebron, Raja Piream di Yarmut, Raja Yafia di Lakhis, dan Raja Debir di Eglon, dengan membawa pesan ini, [4] “Marilah membantu saya menyerang Gibeon, sebab orang-orangnya sudah mengadakan perjanjian persahabatan dengan Yosua dan orang Israel.” [5] Maka kelima raja Amori itu, yaitu raja Yerusalem, Hebron, Yarmut, Lakhis dan Eglon bergabung, lalu dengan seluruh tentara mereka, mereka mengepung dan menyerang Gibeon. Yosua 10:3-5 BIMK
Tetapi sekarang Yosua sedikit lebih pintar karena dia bertanya dulu kepada Tuhan. Dan Tuhan berkata kepada Yosua. “Jangan takut kepada lima Raja itu, Yosua. Karena Aku sudah menyerahkannya ke dalam tanganmu”.
Supporting Verse – [8] Tuhan berkata kepada Yosua, “Jangan takut kepada mereka. Kemenangan sudah Kuberikan kepadamu, oleh sebab itu tidak seorang pun dari mereka dapat bertahan melawanmu.” Yosua 10:8 BIMK
Sebenarnya itu sungguh sangat sederhana. Tanya saja, dan Dia pasti mempunyai jawaban yang lebih baik daripada kebijaksanaan dan hikmat kita sendiri. Jadi, Yosua selanjutnya datang untuk berjuang dan berperang. Dan peperangan itu terjadi lebih lama dari apa yang diharapkan. Yosua punya iman yang teguh. Dan yang terjadi selanjutnya sungguh luar biasa.
Supporting Verse – [12] Pada hari itu ketika Tuhan memberikan kemenangan kepada orang Israel terhadap orang Amori, Yosua berbicara kepada Tuhan. Dan di hadapan orang Israel, Yosua berkata, “Hai matahari! Berhentilah di atas Gibeon. Dan kau bulan! Janganlah berpindah dari atas Lembah Ayalon.” [13] Maka matahari berhenti dan bulan tidak berpindah sampai orang Israel selesai mengalahkan musuh-musuhnya. Peristiwa ini tertulis dalam Buku Yasar. Sehari penuh matahari berhenti di tengah-tengah langit, dan lama sekali baru terbenam. [14] Tidak pernah terjadi dan juga tidak akan terjadi suatu hari seperti hari itu, bahwa Tuhan mengikuti keinginan manusia. Tuhan berperang di pihak Israel! Yosua 10:12-14 BIMK
Bisakah saudara bayangkan? Tuhan melakukan semua itu, oleh karena perjanjian yang dibuat di atas namaNya, yang bahkan sebenarnya waktu perjanjian itu dibuat didasarkan di atas tipu daya. Bisakah anda melihat bagaimana baikNya Tuhan? walaupun kita datang di atas rasa takut, Dia tetapi menolong kita. Oleh kuasa yang ada di atas perjanjian, orang Gibeon akhirnya bisa dibebaskan dan diselamatkan.
Keputusan kita mungkin tidak akan menghentikan pergerakan matahari dan bulan. Tetapi kuasa dari perjanjian dapat melakukannya. Itu adalah perjanjian tetapi tindakan tidak mendengarkan Tuhan tidak dimulai dari Yosua. Adam justru pertama kalinya melakukan itu. Tentunya Tuhan ada di situ. Bahkan Adam berjalan hingga ke hadirat Tuhan dan berjalan berdampingan dengan Tuhan.
Adam mengenal Firman Allah, tetapi pada saat dia harus membuat dan mengambil sebuah keputusan, apa yang dia lihat, itu terlihat lebih kuat daripada pendengarannya. Akal dia itu seakan-akan lebih kuat, kehendak manusia menjadi lebih kuat daripada kehendak Allah.
Tentunya sebenarnya Adam tidak jauh dari Tuhan. Dia sebenarnya tinggal di dalam hatinya. Sama seperti saudara, saudara baca Alkitab, saudara juga berdoa, saudara juga mendengarkan visi Tuhan.
Tetapi bagaimana anda membuat keputusan? Mungkin hari ini, di tempat ini, saudara sedang harus membuat dan mengambil suatu keputusan besar. Saya merasa bahwa Tuhan menyatakan kepada saudara, “Libatkan Aku di dalam keputusan yang kau akan ambil”.
Libatkan Aku waktu kau memutuskan untuk pergi ke tempat kerja, sewaktu kau ingin membeli sebuah tempat tinggal atau bahkan menyekolahkan anakmu. Karena setiap keputusanmu akan berdampak pada generasi berikutnya.
Itu sebabnya di dalam ayat Roma ke-5 ayat ke-12, seperti keputusan yang dilakukan oleh Adam, sebab itu sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia melalui satu orang dan melalui dosa itu juga maut.
Supporting Verse – [12] Dosa masuk ke dalam dunia melalui satu orang, dan dari dosa itu timbullah kematian. Akibatnya, kematian menjalar pada seluruh umat manusia, sebab semua orang sudah berdosa. Roma 5:12 BIMK
Sangat tidak adil rasanya, tapi kita tetap menjalani atau menghidupi konsekuensi dari keputusan yang ada dalam kita. Keputusan Adam itu dirasakan oleh setiap generasi sampai hari ini. Itu adalah kuasa yang muncul dari semua keputusan. Alkitab katakan bahwa Adam memiliki perjanjian dengan Tuhan Allah. Kalau perjanjian itu dilanggar, maka harus dibayar dengan nyawa. Itu sebabnya Adam mengalami kematian dan kita menjadi bagian dari perjanjian yang dilanggar.
Itu sebabnya kita ikut menghadapi kematian. Kita tahu, kalau seperti saya, saya merasa diri saya 25 tahun umurnya. Tapi kalau saya memutuskan untuk hidup sesuai perasaan saya, cermin, kalau saya bercermin, itu akan mengatakan hal yang lain. Kamu akan berusia 60 tahun di musim panas ini! Jadi keputusan kita sangat penting.
Kita memang bertambah tua, tetapi kita bisa membuat keputusan-keputusan yang sangat besar.
Supporting Verse – [17] Karena pelanggaran satu orang, kematian menjalar ke mana-mana melalui orang yang satu itu. Betapa lebih besar lagi akibat dari apa yang dilakukan oleh satu orang yang lain, yaitu Yesus Kristus. Melalui Dia, Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada begitu banyak orang, dan dengan cuma-cuma memungkinkan mereka berbaik kembali dengan Allah; mereka akan berkuasa di dunia ini melalui Kristus. Roma 5:17 BIMK
itu sebabnya keputusan untuk menerima Kasih Karunia dan Karunia kebenaran akan hidup dan berkuasa karena satu orang itu yaitu Yesus Kristus. Adam melanggar perjanjian, tetapi “Adam” yang terakhir memulihkan perjanjian. Dan keputusan ada di tangan kita. Apakah saudara mau menjadi bagian dari perjanjian yang lama? Atau saudara mau menjadi bagian dari perjanjian yang baru yang sudah dipulihkan?
Karena perjanjian yang baru adalah sesuatu yang baik. Kasih Karunia yang melimpah. Alkitab berkata satu dosa dilakukan, tetapi Kasih Karunia atau Anugerah melimpah. Jadi, selalu ada anugerah yang lebih berlimpah daripada apa yang kita butuhkan. Dan kita menerima bukan hanya sekedar anugerah, tetapi juga karunia kebenaran. Dan itu artinya adalah kebenaran yang datang dari Tuhan. Itu adalah hadiah atau karunia dari perjanjian yang baru diberikan kepada umat manusia. Tapi bagian kita adalah menerima dan itu adalah sebuah keputusan yang penting dalam hidup kita.
Tetapi keputusan-keputusan itu dirasakan oleh generasi-generasi berikutnya. Kita melihat sejarah, Yosua sudah meninggal dan Saul menjadi raja. Tetapi perjanjiannya masih berlaku. Dan pada saat itu, saat Saul menjadi raja, Dia memutuskan untuk membunuh orang-orang Gibeon sehingga dia melanggar perjanjian.
Nah, bertahun-tahun kemudian, Daud-lah yang menjadi raja. Terjadi tiga tahun kelaparan. Itu bukan sesuatu yang normal. Setelah tiga tahun, lalu Daud berkata, mari kita bertanya kepada Tuhan. Tuhan Allah menjawab bahwa hal tersebut terjadi oleh karena Saul sudah melanggar perjanjian bangsa Israel kepada orang Gibeon.
Supporting Verse – [1] Semasa Daud memerintah, terjadilah bala kelaparan hebat yang berlangsung selama tiga tahun penuh. Lalu Daud meminta petunjuk Tuhan mengenai hal itu, dan Tuhan berkata, “Bala kelaparan itu ialah karena kesalahan Saul dan keluarganya, mereka telah membunuh orang-orang Gibeon.” 2 Samuel 21:1 BIMK
Jadi, orang yang pertama tadi Yosua, dia bertanya, lalu Saul tidak bertanya dan melanggarnya. Lalu, sekarang buat orang ketiga, yaitu Daud dan seluruh orang Israel membayar harga. Jadi akhirnya Daud datang ke orang-orang Gibeon lalu bertanya, jadi apa yang harus kami lakukan? Orang-orang Gibeon itu tidak menginginkan harta. Karena mereka tahu ini adalah perjanjian. Ini adalah nyawa demi nyawa. Jadi kami mau hal ini digantikan dengan 7 anak dari keturunan Saul.
Supporting Verse – [4] Jawab mereka, “Perkara kami dengan Saul dan keluarganya tidak dapat diselesaikan dengan perak atau emas, tetapi kami juga tidak ingin membunuh seorang pun dari bangsa Israel.” Lalu kata Daud, “Kalau begitu, apa yang kamu inginkan aku perbuat?” [5] Jawab mereka, “Saul raja pilihan Tuhan ingin membinasakan kami semua sehingga kami lenyap dari seluruh Israel. [6] Sebab itu, serahkanlah tujuh orang dari keturunannya yang laki-laki, supaya kami gantung di hadapan Tuhan di Gibea, kota Raja Saul sendiri.” Jawab raja, “Baiklah, mereka akan kuserahkan.” 2 Samuel 21:4-6 BIMK
Jadi, Daud akhirnya menyerahkan tujuh orang laki-laki dari keturunan Saul kepada orang-orang Gibeon. Orang-orang Gibeon membunuh mereka, dan mereka menggantungnya di atas batu. Dan akhirnya muncul seorang perempuan namanya Rizpa. Dia adalah salah satu selir dari Saul. Dua dari anak dia itu ikut terbaring di atas batu tersebut. Dia tidak menyebabkan ini terjadi. Tapi dia harus mengalami konsekuensi dari keputusan yang diambil oleh orang lain.
Alkitab menceritakan bagaimana Rizpa duduk di samping batu-batu tersebut. Dia duduk disitu pada waktu yang sangat lama. Dan dia melindungi mayat dari anak-anaknya supaya tidak dimakan oleh burung-burung dan hewan-hewan yang. Kehidupannya benar-benar berada di dalam penderitaan. Tapi dia sendiri tidak mati. Dia tetap mempertahankan semangatnya. Kehidupannya itu seperti arang yang terus menyala.
Supporting Verse – [10] Lalu Rizpa selir Saul, membentangkan kain karung bagi dirinya di atas batu tempat mayat-mayat itu terbujur. Rizpa tidak pergi dari situ mulai dari awal musim panen sampai turunnya hujan pada musim gugur. Tidak dibiarkannya mayat-mayat itu diganggu oleh burung-burung pada siang hari atau binatang buas pada malam hari. 2 Samuel 21:10 BIMK
Kadang-kadang kehidupan kita berada di situasi dimana kita merasakan dampak dari perbuatan orang lain. Baik itu berupa pengkhianatan, perceraian, dibohongi, ditinggalkan, apapun yang orang lain lakukan terhadap saudara. Saudara tidak bisa mengubah itu.
The only decision you have is how you are going to react to it.
Satu-satunya hal yang kita bisa lakukan adalah memutuskan bagaimana kita akan meresponi itu. Rizpa menjawab dengan berkata bahwa aku tidak akan membiarkan tubuh atau mayat dari anak-anakku dimakan oleh hewan-hewan liar. Sehingga aku bisa menghormati ini dengan menjadi setia. Dia duduk di situ melindungi mayat anak-anaknya, beberapa jam, beberapa hari, beberapa minggu, dan bahkan beberapa bulan. Dan ketika Raja Daud mendengarnya, dia memutuskan untuk mengumpulkan tubuh-tubuh atau mayat-mayatnya tersebut dan memberikannya penguburan yang layak.
Dan Alkitab berkata pada saat tubuh-tubuh itu dikuburkan, setelah itu, dan hanya setelah itu, Tuhan menjawab doa mereka.
Supporting Verse – [14] Kemudian tulang-tulang Saul dan Yonatan serta tulang-tulang ketujuh orang itu dikuburkan di dalam kuburan Kish ayah Saul di Zela di wilayah Benyamin. Setelah semuanya dilaksanakan sesuai dengan perintah raja, Allah mengabulkan doa mereka untuk negeri itu. 2 Samuel 21:14 BIMK
Mungkin Rizpa tidak punya posisi yang memiliki kuasa. Dia bukan seseorang yang berpengaruh disitu. Tapi hanya dengan kesetiaan. Dengan kesetiaan, Dia mengubah sejarah. Jadi, bagaimana anda merespon kepada situasi yang sedang anda alami, karena bagaimana kita merespon dapat melihat nilai yang kita punya.
Dan itu sangat berkuasa. Kita tidak bisa memperbaiki apa yang sudah dilakukan orang lain, tetapi saudara bisa menghentikan kekacauan, bisa menghentikan masalah, bisa menghentingkan dendam, bisa menghentingkan kepahitan, dan menespons dengan karakter ilahi. Semua pertumpahan darah ini dan perjanjian ini sedang menuju kepada satu hal, kepada salib yang ada di atas Bukit Golgota, yaitu salib Yesus Kristus.
Anak-anak dari keturunan Saul itu mati oleh keputusan orang lain. Tetapi Yesus Kristus mati oleh keputusan yang kita buat sendiri. Dia mengambil tempat kita. Dia membayar hargaNya terhadap perjanjian yang dilanggar, dan Dia menciptakan perjanjian yang baru. Dan hari ini adalah harinya di mana engkau bisa membuat keputusan. Keputusan yang paling penting dalam hidup anda. Apakah saya akan menjadi bagian dari perjanjian yang lama dan membayar harga kematian? Atau saya mau menjadi bagian dari perjanjian yang baru dan menerima kehidupan yang kekal? Hari ini, sekarang, dan ketika Dia kembali, Sewaktu Tuhan Yesus datang kembali, Dia akan membangkitkan saudara.
Yosua berkata di akhir dari masa hidupnya, Kau harus memilih kepada siapa kau akan beribadah. Kamu harus memilih untuk dirimu sendiri apakah kamu akan beribadah di dalam kematian atau di dalam kehidupan. Tapi Yosua berkata, untuk saya dan seisi rumah saya, kami akan beribadah kepada Tuhan. Dan keputusan mereka mengubah segalanya. Dan itu adalah keputusan yang sangat baik untuk dirimu sendiri. Bukan hanya untuk dirimu saja, tetapi itu adalah keputusan yang sangat baik orang-orang di sekitar saudara termasuk untuk untuk anak-anak saudara.
Closing Verse – [15] But if you refuse to serve the Lord, then choose today whom you will serve. Would you prefer the gods your ancestors served beyond the Euphrates? Or will it be the gods of the Amorites in whose land you now live? But as for me and my family, we will serve the Lord.” Joshua 24:15 NLT
Ada janji di dalam Alkitab yang berkata, percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus, dan engkau akan selamat. Engkau dan seisi rumahmu. Jadi jangan menunggu pasangan saudara saat anda memutuskan. Saudara akan mempunyai pengaruh yang besar terhadap masa depan saudara. Keputusan saudara juga akan mempengaruhi anak-anak Anda, dan bahkan generasi setelahnya.
Satu keputusan yang membuat perbedaan besar. Sewaktu orang-orang Israel berkata, apa yang harus kita lakukan pada hari Pentakosta?
Jawabannya sederhana dan langsung. Berbaliklah kepada Yesus Kristus. Dibaptislah. Menerima pengampunan dosa. Dan dimateraikan dengan nama Roh Kudus. Itu sebabnya saya suka dengan video yang tadi di awal Ibadah kita saksikan. Ada banyak orang yang dibaptis. Satu keputusan. Dan saya percaya, aku dibaptis, aku menerima, pengampunan dosa dan Roh Kudus, semuanya dalam satu keputusan, keputusan yang sangat penuh kuasa, jadi hari ini ambillah keputusan untuk dirimu, untuk diriku sendiri, aku akan beribadah kepada Tuhan, dan aku bersyukur, keputusan itu akan mempengaruhi seluruh isi rumahku. Amin.
P.S : If you like our site, and would like to contribute, please feel free to do so at : https://saweria.co/316notes



