Embracing Stewardship By Ps. Sidney Mohede

JPCC Sutera Hall 2nd Service (21 July 2024)

Berikan tepuk tangan untuk teman-teman yang sudah melayani dengan luar biasa. Thank you so much for joining us, dimanapun kalian berada hari ini. Welcome to JPCC dan lagu tadi yang dinyanyikan oleh Tim JPCC Worship, “If You can use anything, Lord..  You can use me”.

Lagu tersebut keluar di tahun 1994, dan saya masih ingat bahwa saat itu Tuhan banyak berbicara kepada saya dan lagu tadi juga sering saya nyanyikan selama seminggu terakhir ini, dan lagu ini juga salah satu penyebab kenapa saya mengambil keputusan untuk pulang ke Indonesia di tahun 1995.

Saya tiba di Indonesia, dan saya meminta Tuhan untuk memakai seluruh tubuh dan hidup saya untuk melayani dan memuliakan Tuhan. 30 tahun kemudian saya masih disini dan memberikan hidup saya untuk kemuliaanNya. Tuhan kita ajaib, dan tidak ada satupun yang bisa kita banggakan dari semua yang kita kerjakan karena semuanya itu adalah pemberian Tuhan.

Berapa banyak dari kita yang belajar banyak bulan ini tentang Stewardship? Kita belajar menjadi pengelola yang baik. Kita belajar bahwa semua yang ada dalam hidup kita itu berasal dari Tuhan. Dia adalah pemilik dan kita adalah pengelola. Stewardship adalah sebuah undangan dari Tuhan untuk kita bisa mengalami hubungan yang lebih dalam lagi bersama dengan Tuhan, dan juga adalah sebuah peluang untuk kita bisa memperbesar kapasitas dalam kehidupan kita Dan itu dimulai dari cara kita mengelola semua yang Tuhan pinjamkan dalam hidup kita.

Hidup sebagai pengelola yang baik artinya kita menyerahkan seluruh aspek hidup kita, baik itu semua bakat, kemampuan, waktu, energi, perhatian, hubungan dan bahkan menyerahkan keluarga kita, semuanya adalah titipan dari Tuhan. Disaat anak kita harus pergi dan mengejar mimpi mereka, tugas kita sebagai orang tua adalah menjadi pengelola yang baik atas kehidupan mereka. Pernikahan kita adalah titipan dari Tuhan agar kita bisa menjadi teladan di Dunia ini.

Karena segala sesuatu adalah dari Tuhan dan untuk Tuhan, artinya kita sudah tidak lagi mempunyai hak atas kehidupan kita sendiri. Tuhan yang punya segalanya, kita tidak bisa lagi hidup sesuai dengan kemauan dan standard kehidupan kita karena kita sadar kalau kita punya tanggung jawab atas semua yang Tuhan sudah titipkan.

We are owners of nothing but we are stewards of everything. Kita bukanlah pemilik apapun, namun kita adalah pengelola segalanya

Di akhir dari pelajaran tentang stewardship, kita akan bisa menjawab apa tujuan akhir dari stewardship. Stewardship tidak berakhir dengan diri kita sendiri, kita tidak menjadi pengelola hanya untuk diri kita sendiri, tetapi kita mengelola supaya kita bisa menjadi berkat bagi orang lain.

Kita mengelola hidup kita sedemikian rupa supaya hidup kita bisa digunakan oleh Tuhan dan bisa melayani, menjadi berkat dan membantu orang-orang di sekeliling kita. Di jaman yang penuh dengan “flexing”, manusia sering mengukur kesuksesan dengan mengumpulkan kekayaan dan harta benda pribadi sebanyak-banyaknya. Kita hidup di jaman dimana semua orang seakan-akan ingin selalu menambah dan mendapatkan sesuatu.

Saya perhatikan ada begitu banyak konten di media sosial yang memamerkan barang dan kekayaan yang begitu mewahnya, para selebriti dan content creator yang ramai-ramai menunjukkan hal seperti itu, seperti contohnya satire content salah satu content creator yang mengatakan bahwa dirinya adalah anak orang terkaya di Indonesia. Hal ini menunjukan bahwa sebuah Generasi dan Dunia yang seakan-akan menunjukkan bahwa siapa yang terkaya itu adalah kebahagiaan yang sejati bagi Dunia.

Sehingga ada begitu banyak Generasi muda yang berpikir bahwa mereka baru bisa bahagia jika bisa sekaya itu atau punya barang-barang dan kekayaan yang seperti itu. Tetapi kita coba bandingkan dengan apa yang Alkitab ajarkan bahwa kita semua adalah pengelola dan bukan pemilik, segala sesuatu yang ada di dunia adalah titipan Tuhan dan tidak ada satupun yang bisa kita bawa saat kita pulang ke rumah Bapa.

Yesus meneladankan sebuah kehidupan yang penuh dengan generosity dan kemurahan hati, yang selalu berkorban dan melayani. Sebuah kehidupan yang bukan menimbun kekayaan untuk diriNya sendiri karena Dia sadar bahwa segala sesuatu adalah pemberian dari Bapa.

Kita bisa melihat pertentangan besar antara apa yang Dunia dan Firman Tuhan ajarkan. Di satu sisi, Dunia berkata bahwa kita harus mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya dan menunjukannya ke orang lain supaya dianggap berhasil. Dulu sewaktu saya di GMB, ada lagu yang mengatakan “Dunia ini mengatakan agar hidup untuk senang-senang saja..”. Tetapi apa yang Yesus ajarkan sungguh bertolak belakang dengan hal ini.

Opening Verse – [16] Kemudian Yesus menceritakan perumpamaan ini, “Ada seorang kaya yang baru saja mengumpulkan hasil panen berlimpah dari ladang-ladangnya. [17] Lalu dia berpikir, ‘Sudah tidak ada lagi tempat untuk menyimpan hasil panenku yang banyak ini. Apa yang harus aku lakukan?’ [18] “Setelah menimbang-nimbang, dia pun berkata, ‘Aha! Aku tahu! Aku akan membongkar lumbung-lumbung gandumku yang lama dan membangun yang lebih besar lagi, supaya aku bisa menyimpan semua gandum dan barang-barangku yang lain. [19] Sesudah itu aku akan merasa puas dan tenang karena hartaku sangat banyak. Semua itu tidak akan habis sepanjang hidupku. Jadi aku tidak perlu bekerja lagi, hanya makan, minum, dan bersenang-senang saja!’ [20] “Tetapi Allah berkata kepadanya, ‘Hei, orang bodoh! Sia-sia saja kamu menimbun harta untuk dirimu sendiri, karena malam ini juga Aku akan mencabut nyawamu!’ [21] “Nah, seperti itulah yang akan terjadi kepada setiap orang yang mengumpulkan harta untuk dirinya sendiri di dunia ini, tetapi tidak berusaha mengumpulkan harta surgawi dan tidak mau menjadi kaya di hadapan Allah.” Lukas 12:16-21 TSI

Ini tidak berbicara soal uang saja, tetapi juga berbicara akan semua kekayaan yang ada dalam hidup kita baik itu berupa talenta kita, kemampuan kita yang bisa diberikan kepada orang lain.

Apa yang dianggap kaya oleh Tuhan?

Supporting Verse – [18-19] Nasihatilah juga mereka supaya berusaha menjadi kaya di mata Allah, yaitu murah hati, suka memberi, dan menggunakan hartanya untuk mengerjakan segala perbuatan yang baik. Dengan berbuat begitu, mereka sama dengan menabung harta di surga sebagai bekal untuk kehidupan yang akan datang. Jadi, mereka mengarahkan tujuannya pada hidup yang kekal. 1 Timotius 6:18-19 TSI

Harta bukan hanya sekedar uang tetapi juga seluruh kehidupan kita. Bukan berarti bahwa kita tidak boleh kaya, tetapi menimbun kekayaan untuk diri kita sendiri, itu yang namanya sia-sia. Jadi kalau kita kaya secara finansial hari ini, kita tidak perlu merasa bersalah tetapi kita harus merasa bertanggung jawab kepada Tuhan karena semua itu datangnya dari Tuhan, sehingga kita bisa bermurah hati, memberi, dan melakukan pekerjaan baik karena itulah yang disebut kaya oleh Tuhan.

Tuhan tidak pernah tertarik dengan seberapa besar sumber daya yang ada di tangan kita hari ini, namun Tuhan selalu tertarik bagaimana kita menggunakan dan membagikan kehidupan kita untuk kita bisa melayani dan membantu orang lain. Hanya dengan 5 roti dan 2 ikan yang dimiliki anak kecil, Yesus sanggup memberi makan 5000 orang. 5 Roti dan 2 Ikan untuk kebaktian sekarang saja tidak cukup, tetapi anak tersebut menyerahkan semuanya, dan Tuhan Yesus yang sanggup melakukan mukjizat dan melipatgandakan sehingga itu menjadi sebuah berkat bagi 5000 orang yang kelaparan.

Pertanyaannya bukan seberapa kecil atau besar yang kita punya hari ini, tetapi apakah kita mau menyerahkan semua itu agar bisa dipakai Tuhan.

Ada sebuah Kisah dimana Yesus berjumpa dengan seorang pemungut pajak yang kaya raya bernama Zakheus, dan karena perjumpaan ini, Zakheus mengalami sebuah pertobatan.

Supporting Verse – [8] Tetapi Zakeus, setelah sampai di bawah, berkata kepada Yesus, “Ya Tuhan, separuh dari harta saya akan saya berikan kepada orang-orang miskin. Dan siapa pun yang pernah saya tipu pajaknya, akan saya kembalikan kepadanya empat kali lipat.” [9] Jawab Yesus, “Hari ini Allah bekerja untuk menyelamatkan kamu dan keluargamu. Sekarang nyatalah bahwa kamu juga keturunan Abraham! [10] Karena memang, Sang Manusia diutus Allah untuk mencari dan menyelamatkan orang-orang yang tersesat.” Lukas 19:8-10 TSI

Perjumpaan dengan Yesus selalu membuahkan pertobatan yang sejati, transformasi hidup dan selalu membuahkan kemurahan hati dan bukan sebaliknya. Karena ada begitu banyak orang yang suka berkata “Yang penting aku sudah Amal, pastor…”, “Yang penting aku sudah berdonasi kepada gereja atau yayasan supaya nanti Tuhan bisa memberkati bisnisku…”. It doesn’t work that way!

Stewardship bukanlah agar kita bisa hitung-hitungan dengan Tuhan. Perbuatan baik bukanlah syarat untuk keselamatan. Perbuatan baik adalah bukti dari keselamatan.

Saya mau memberi karena Tuhan yang terlebih dahulu sangat amat sayang kepada saya. Pertentangan antara apa yang Dunia dan Yesus ajarkan adalah sebuah tantangan besar bagi kita sebagai pengikut Kristus yang hidup di jaman ini. Tetapi ini juga merupakan kesempatan yang luar biasa bagi gereja, di tengah dunia yang haus akan tahta, kekayaan dan kebenaran, kita semua bisa menunjukkan dan meneladankan cara hidup yang berbeda.

Bayangkan apa yang terjadi bila kita disini bisa menjadi teladan dan menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati itu bukan dari seberapa banyak yang bisa kita ambil dan punya tetapi dari seberapa banyak yang bisa kita pakai untuk berguna dan melayani orang lain.

Inilah alasan mengapa ada tema Stewardship di gereja, jika kita menjadi orang-orang yang bermurah hati kepada orang lain, kita bisa menjadi saksi hidup Tuhan Yesus, contoh bahwa ada cara hidup yang lebih bermakna daripada sekedar “flexing” saja. This is the “heart” of JPCC, Sejak 25 tahun lalu, JPCC mengajarkan hal ini.

Supporting Verse – [17] Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. [18] Karena barangsiapa melayani Kristus dengan cara ini, ia berkenan pada Allah dan dihormati oleh manusia. Roma 14:17-18 TB

Mimpi kami agar gereja ini bisa berkenan kepada Tuhan dan juga dihormati oleh sekeliling kita karena JemaatNya, dan bukan pendetanya, semuanya melakukan gaya hidup yang berbeda dan menunjukkan bahwa Tuhan adalah pemilik dan kita adalah pengelola. Tuhan bisa menggunakan bakat, talenta, bisnis, keluarga, musik dan semua kemampuan kita, semuanya untuk Kemuliaan nama Tuhan Yesus.

Supporting Verse – [16] Dengan cara inilah kita mengenal arti kasih: Kristus sudah mengasihi kita hingga mengurbankan diri-Nya demi kita. Karena itu hendaklah kita pun rela berkurban demi saudara-saudari kita. [17] Kalau ada di antara kita yang berkecukupan harta duniawi lalu melihat saudaranya menderita kekurangan, tetapi dia menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, berarti dia belum mengalami kelahiran baru di dalam Allah yang membuat kita mampu mengasihi sesama. [18] Jadi, anak-anakku, jangan hanya dengan mulut saja kita mengaku sudah mengasihi, tetapi hendaklah kasih itu kita wujudkan sungguh-sungguh dengan perbuatan yang nyata. 1 Yohanes 3:16-18 TSI

Yesus memberikan dan menyerahkan, surrender, itu adalah perbuatan. The goal of stewardship is generosity. Pada saat kita murah hati, pada saat itulah kita mengelola segala sesuatu yang Tuhan berikan dalam hidup kita. Bukan untuk disimpan dalam lumbung kita masing-masing untuk dinikmati, tetapi agar kita bisa memberi hidup kita agar bisa berguna dan melakukan pekerjaan yang baik.

Kita dianugerahkan Tuhan untuk mengelola semua yang ada di tangan dan hati kita hari ini agar saudara dan saya bisa memberi, melayani dan mengerjakan segala perbuatan yang baik.

Supporting Verse – [6] Perhatikanlah ini: Orang yang menanam sedikit akan menuai sedikit, dan orang yang menanam banyak akan menuai banyak! [7] Hendaklah kalian masing-masing memberi dengan sukarela, bukan dengan sedih atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan senang hati. [8] Ingatlah bahwa Allah sanggup menunjukkan kebaikan hati-Nya kepadamu dalam segala hal, sehingga keperluanmu selalu tercukupi, bahkan lebih dari cukup! Dengan begitu kamu lebih mampu lagi melakukan hal-hal yang baik. 2 Korintus 9:6-8 TSI

Hari ini adalah ministry day di JPCC, saya berdoa agar ribuan dari saudara akan keluar hari ini dan berlomba-lomba untuk bisa memberikan hidup saudara agar bisa melayani di gereja ini. Fakta bahwa kita ada hari ini artinya Tuhan sudah memberikan kepada kita lebih dari cukup, Tuhan Yesus benar-benar lebih dari cukup, more than enough untuk kehidupan kita. Kita diberkati Tuhan dengan sangat luar biasa, semua yang ada, bukan hanya finansial saja.

Tuhan memberkati saya bukan untuk meningkatkan standard hidupku, namun untuk meningkatkan standard pemberianku – Ps. Randy Alcorn (Founder & Director of Eternal Perspective Ministries.

Tuhan memberkati kita bukan untuk kita memperbesar lumbung kita agar bisa menikmatinya seumur hidup kita, tetapi Tuhan memberkati kita dengan semua talenta, kemampuan, influence, kesabaran, waktu, atensi dan uang kita, supaya kita bisa memperbersar standard pemberian kita. Itu sebabnya saya sampai hari ini masih tetap mau melayani Tuhan karena saya tahu bahwa Tuhan sudah begitu memberkati saya. Tentu terkadang saya merasa lelah tetapi saya tahu Dia sudah memberikan saya begitu banyak, Dan itu sebabnya sampai hari ini dosa saya begitu mudah, “Terima Kasih Tuhan, Engkau Baik”.

Jadi bagaimana kita bisa mengaplikasikannya di kehidupan kita?

Yesus adalah teladan terbaik untuk menjadi seorang pengelola yang baik, mengelola semua Kuasa yang diberikan Tuhan dan Dia melakukan itu semua supaya Dia bisa berkorban bagi kita semua di kayu salib. Stewardship adalah kehidupan yang selalu dicurahkan saat kita menerima anugerah dan berkah Tuhan, saat itulah kita juga mencurahkannya lagi kepada orang di sekeliling kita. Dan itu adalah “a never-ending cycle” yang Tuhan inginkan dari hidup kita.

Supporting Verse – [35] Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” Kisah Para Rasul 20:35 TB

Inilah Dunia yang tidak akan pernah mengerti, hanya pengikut Kristus yang bisa mengerti bahwa lebih berbahagia memberi daripada menerima.

Exercise – Saya mau saudara mengangkat tangan saudara dan dibuka seperti sebuah wadah dan ini yang mau saudara lakukan dalam beberapa waktu ke depan. Buatlah daftar akan semua kemurahan hati Tuhan yang Tuhan sudah curahkan dalam hidup kita, sejak kita lahir sampai sekarang. Bayangkan apa yang kita sudah terima dari Tuhan.

Mungkin itu bisa berupa keluarga, pernikahan kita, saya yakin banyak dari kita saat ini sudah menghidupi apa yang kita do akan sewaktu kita masih muda. Buatlah daftar dan saat ini, saya mau saudara membayangkan bahwa segala sesuatu yang Tuhan sudah berikan ini bukan untuk saudara genggam erat-erat, karena kalau kita perhatikan, disaat kita mengenggamnya, tidak ada berkat yang bisa masuk lagi ke dalam wadah tangan kita.

Tetapi pada saat yang sama, pada saat tangan kita terbuka, semua karya yang baik yang Tuhan sudah berikan bisa mengalir dalam kehidupan banyak orang, baik itu pernikahan, pekerjaan, pengaruh, hubungan, network, time, money kita, semua yang indah dalam hidup kita berasal dari Tuhan.

Untuk beberapa dari kita, meskipun tangan kita terbuka, namun hati kita masih tertutup hari ini. Saya berdoa agar celah antara tangan dan hati kita, itu adalah space yang kita bisa mengijinkan Roh Kudus untuk bekerja dalam hidup kita, sehingga tangan dan hati kita menjadi selaras di hadapan Tuhan. Ingat bahwa yang ada di tangan kita, Tuhan tidak memberkati kita agar kita bisa menikmatinya sendiri tetapi kita dijadikan wadah atau bejana oleh Tuhan untuk saluran berkatNya.

Seperti gelas yang diisi air agar bisa dituang ke sekeliling kita dan di gelas lainnya kita semua adalah bejanaNya Tuhan yang dipakai untuk mengalirkan Kasih dan AnugerahNya. Semakin kita bermurah hati dalam hidup kita, semakin kita merasa diberkati, Dan ini adalah paradox yang luar biasa indah yang diajar Yesus, bahwa lebih berbahagia memberi daripada menerima karena ketika kita membuka tangan untuk memberi, sebenarnya kita sedang membuka hati untuk menerima sukacita yang jauh lebih besar.

Turunkan tangan saudara dan ijinkan saya menutup hari ini dengan sebuah cerita pendek.

Story about a Pencil Maker – Cerita ini keluar lagi disaat saya sedang menyiapkan kotbah hari ini. Seorang pembuat pensil, pada suatu hari ada seorang pembuat pensil yang indah. Setiap hari sang pembuat pensil mengambil sebuah pensil yang baru dibuatnya dan dipegang sebelum dimasukan ke dalam kotak. Dia berkata ada 5 hal yang perlu diketahui si pensil sebelum dikirim ke dunia ini, ingatlah akan perkataan saya Dan kamu akan menjadi pensil yang terbaik.

Pertama, Kamu akan mampu melakukan banyak hal hebat, tetapi hanya jika kamu mengijinkan dirimu digunakan di tangan seseorang.

Kedua, Kamu akan mengalami saat-saat penajaman, sharpen, yang menyakitkan dari waktu ke waktu, tetapi penajaman ini dibutuhkan agar kamu bisa menjadi pensil yang lebih baik dan tajam dari sebelumnya.

Ketiga, jangan kuatir akan kesalahan yang kau perbuat karena Engkau akan bisa memperbaiki kesalahan apapun yang Engkau buat.

Ke-empat, Dan ini sangat penting untuk diingat bahwa bagian terpenting dari dirimu ada di dalam dan bukan diluar.

Kelima, Di setiap permukaan yang kamu akan digunakan oleh tangan pemilikmu, Engkau harus meninggalkan bekas dan tanda yang jelas, serta mudah untuk dibaca, apapun kondisinya, jangan pernah berhenti berguna dan teruslah menulis.

Si pensil mengerti dan berjanji untuk mengingatnya, Dia masuk ke dalam kotak dengan sebuah keteguhan dalam hatinya. The Pencil Maker adalah Tuhan yang sedang berbicara kepada kita, Tuhan sudah menanamkan begitu banyak potensi yang ada di dalam diri kita, tetapi yang Dia inginkan agar kita berserah Dan mau digunakan oleh tanganNya, agar kita bisa meninggalkan bekas, teladan dimanapun kita berada.

Kalau kita bisa lakukan itu, kita akan meninggalkan Dunia ini menjadi lebih baik dari sebelumnya. We are owners of nothing but we are stewards of everything. Kita adalah bejana milikNya Tuhan yang hidupnya dituangkan untuk membantu, melayani dan memberkati orang lain dengan tangan dan hati yang senantiasa terbuka.