From Mystery to Majesty By Ps. Ari Wibowo

JPCC Sutera Hall 2nd Service (8 December 2025)

Berikan ucapan terima kasih dan tepuk tangan kita yang terbaik kepada teman-teman kita yang sudah melayani dengan sangat luar biasa, baik di atas panggung atau yang tidak kelihatan pada hari ini. Mereka melayani karena mereka tahu bahwa kesetiaan Tuhan berlaku sepanjang hidup mereka.

Kita memasuki seri pengajaran yang baru tentang “Knowing God“, atau dikenal juga dengan “From Mystery to Majesty“. Kalau kita perhatikan baik-baik, apa yang kita terima hari ini, saya percaya bahwa persepsi kita akan berubah di dalam memandang Tuhan.

Dan jika persepsi kita berubah di dalam memandang Tuhan, maka persepsi kita di dalam memandang pasangan kita, dalam memandang orang tua kita, dalam memandang atasan kita , dalam memandang pemimpin kita, dan juga dalam memandang lingkungan kita, itu juga bisa berubah.

Dan kalau pun saudara merasa bahwa persepsi kita sudah benar di dalam memandang sesuatu dan bahkan di dalam memandang Tuhan, saya percaya kalau saudara dengar baik-baik pengajaran hari ini, maka saya percaya bahwa persepsi saudara di dalam mengenal Tuhan akan semakin dipertajam dan menjadi semakin dalam.

Bukankah pengenalan tidak terjadi hanya sekali atau dua kali? Betul saudara?

Saya baru pulang dari “Marriage Getaway” bersama dengan istri saya dan di momen itu saya juga belajar untuk memperbaiki dan mempertajam persepsi saya tentang istri saya. Karena pengenalan saya terhadap istri saya, itu akan membentuk persepsi saya terhadap dia.

Siapa istri yang saya kenal, itu berdasarkan bagaimana saya mengenal dia. Betul apa tidak?

Demikian juga, kalau ada di antara saudara, disini ada teman-teman dari grade 10 sampai grade 12 ya. Mungkin pernah ada yang menganggap atau merasa, “Aduh guru ini killer banget gitu”.

Nah, itu namanya persepsi. Seberapa jauh saudara mengenal seseorang dan mengenal lingkungan saudara, itu akan membentuk persepsi saudara.

Persepsi adalah tentang cara kita memandang dan mengartikan lingkungan kita memandang seseorang yang kita kenal.

Karena itu seberapa jauh dan seberapa dalam pengenalan saudara terhadap lingkungan, pengenalan saudara terhadap seseorang akan menentukan persepsi saudara terhadap lingkungan atau terhadap seseorang itu.

Demikian juga seberapa jauh saudara dan saya mengenal Tuhan akan mempengaruhi persepsi kita tentang Tuhan, akan mempengaruhi bagaimana cara kita memandang Tuhan.

Apakah kita memandang Tuhan sebagai Tuhan yang jauh, maha Kuasa, maha Kudus? Atau kita memandang Tuhan sebagai sahabat, sebagai Bapa yang dekat dengan kita? Apakah kita memandang Tuhan sebagai raja? atau kita memandang Tuhan sebagai Bapa, sebagai sahabat, itu yang namanya persepsi.

Dan itu semua dipengaruhi oleh bagaimana pengenalan kita terhadap Tuhan. Kalau kita mengenal Tuhan sebagai Tuhan yang begitu jauh, begitu sulit untuk dipahami, begitu sulit untuk dimengerti, maka itu yang namanya cara pandang atau persepsi bahwa Tuhan itu misterius.

Karena banyak hal yang tidak kita ketahui atau kita tidak kenal tentang Tuhan. Tetapi ada juga orang-orang yang mengenal Tuhan, menganggap dia sebagai Bapa, sebagai sahabat.

Oh kalau sebagai Bapa yang baik, aku minta apa aja, pasti dikasih seperti yang aku mau. Apalagi sahabat. “Cincai-lah dikit-dikit, bercandaan rada kurang ajar”, sahabat.

Jadi, sekali lagi bagaimana saudara mengenal seseorang itu sangat menentukan persepsi saudara tentang dia. Bagaimana saudara mengenal Tuhan itu juga sangat menentukan persepsi saudara tentang Tuhan.

Nah, apakah saudara pernah Ingat, Kalau pernah ingat berarti pernah belajar. Kalau tidak pernah ingat, kemungkinan tidak pernah belajar.

Jadi, apakah sudah pernah mengingat apa yang saudara pernah pelajari dulu waktu sekolah di grade 10 atau 11? Kalau zamannya Om, di kelas 1 atau kelas 2 SMA. Apa yang sudah pelajari tentang teori perubahan frekuensi? Namanya teori atau prinsip efek Doppler.

Saya ingin memberikan sebuah ilustrasi yang sangat baik untuk menggambarkan tentang sebuah hubungan terkait dengan jarak. Prinsip efek Doppler itu adalah perubahan frekuensi gelombang baik bunyi ataupun cahaya yang dipersepsikan oleh pengamat terhadap sumbernya.

Jadi, prinsip efek Doppler adalah perubahan frekuensi gelombang cahaya atau suara yang dipersepsikan oleh pengamat terhadap sumber cahaya atau sumber suara itu berdasarkan pergerakan atau jarak antara pengamat dengan sumber itu.

Gampangnya seperti ini.

Kalau saudara melihat sebuah cahaya, semakin jarak saudara dekat dengan cahaya itu, namanya semakin terang atau semakin gelap? Semakin terang tentunya. Tapi kalau jarak saudara semakin jauh, dari sumber cahaya itu, namanya semakin gelap. Sederhana ya? Demikian juga dengan suara.

Kalau jarak saudara dengan suara atau sumber suara itu semakin dekat, suaranya makin kencang, atau makin tidak jelas? Makin kencang dan semakin jelas. Betul? Karena jaraknya dekat. Tetapi begitu kita semakin jauh dari sumber suara tersebut, suaranya terdengar makin kecil atau semakin tidak jelas.

Sesederhana itu, saudara. Semakin dekat dengan sumber cahaya, semakin terang. Semakin jauh dari sumber cahaya, semakin gelap.

Semakin dekat dengan sumber suara, semakin jelas. Semakin jauh dari sumber suara, semakin tidak jelas. Pertanyaannya, Cahaya-nya dan suaranya berubah atau tidak? tidak. Suara dan sahaya tetap sama. Tetapi jarak itu mempengaruhi persensi kita. Betul atau tidak?

Kalau jarak kita dengan seseorang juga semakin dekat, maka kita semakin mengenal dia, persepsi kita pun berdasarkan betapa dekatnya kita dengan dia. Betul apa tidak?

Dan sebaliknya kalau kita jauh dari seseorang, maka kita semakin tidak mengenal dia. Dan orang itu akan terus menjadi misteri buat kita. Dan persepsi tentang kita terhadap orang tersebut, ini adalah orang yang sulit untuk dimengerti, dan sulit untuk dipahami. Bukankah itu yang namanya misteri?

Nah, Bagaimana dengan persepsi kita terhadap Tuhan? Apakah dia adalah Tuhan yang sangat misterius bagi kita? Atau Tuhan yang begitu mudah untuk dipahami seperti seorang sahabat atau seperti seorang Bapa.

Sekali lagi, pengenalan kita terhadap Tuhan akan mempengaruhi persepsi kita tentang Dia.

Sekarang saya mau tunjukkan sebuah gambar yang berkaitan dengan efek Doppler tadi. Tadi mengenai jarak saya sudah sampaikan dan jelaskan kepada saudara. Sekarang perhatikan orang dan ambulans yang ada disini. Anggaplah orang iyu adalah orang yang sakit parah.

Kalau orang yang sedang sakit parah, kira-kira memungkinkan tidak untuk dia yang kemudian berjalan dan mendekati ambulans karena dia butuh pertolongan? Sedangkan bangun dari tempat tidur saja tidak bisa, kayak sakit parah.

Mungkin tidak dia yang kemudian mendekati ambulans itu? tidak. Jadi, satu-satunya kemungkinan adalah Ambulans yang mendekati atau mempersimpit jaraknya dengan orang yang sakit parah itu untuk bisa memberikan pertolongan kepada dia.

Saudara bisa menerima ini dengan baik? Tetapi kalau orang yang sakit parah ini, jaraknya jauh dari ambulans itu, dan ambulans itu membunyikan sirene, Kira-kira orang yang sakit parah ini merasa bahwa dia segera tertolong apa tidak? Tidak, karena sekali lagi persepsi. Betul nggak? Karena jaraknya jauh dari ambulans yang akan memberikan pertolongan itu.

Sehingga orang ini akan berharap ambulans itu memberikan pertolongan tetapi pengharapannya bukan pengharapannya yang pasti. Itulah yang namanya “mudah-mudahan.”

Mudah-mudahan ambulans itu datang mendekat dan tolong saya, Mudah-mudahan. Tetapi begitu ambulans itu mendekat, suara sirenenya semakin jelas. Dan suara yang semakin jelas berarti, saudara, pengharapannya jadi pasti gak? Pasti.

Pengharapan itu menjadi bukan “mudah-mudahan”, tapi menjadi pengharapan yang pasti saat jarak orang yang sakit parah tadi dengan ambulans yang akan memberikan pertolongan itu dekat.

Pengharapan itu menjadi pasti saat ambulans itu yang mendekat kepada orang yang sakit parah itu. Nah, ini namanya bukan mudah-mudahan lagi, ini namanya
“Pasti! saya akan tertolong tetapi kapan dan bagaimana cara pertolongan yang diberikan, ya terserah si ambulans itu.”

Tetapi bukan mudah-mudahan, pasti. Hanya cara dan waktunya, ya bukan seorang sakit parah itu yang menentukan. Nah sekarang pertanyaannya, apa penyakit paling parah di dunia? Tetapi ini faktanya, penyakit paling parah di dunia namanya adalah dosa.

Orang yang sakit parah atau orang yang berdosa tidak mungkin bisa berjalan mendekati sumber pertolongan untuk mengeluarkan dia dari dosa sekeras apapun dia berusaha tanpa sang sumber pertolongan itu yang mendekat kepada dia. Betul apa tidak?

Makanya kalau saudara dan saya bisa ada hari ini, apakah saudara sedang mengalami musim penuh dengan sukacita atau musim yang sedang penuh dengan tantangan, it doesn’t matter.

Kenapa? karena kesetiaan Tuhan, sang sumber pertolongan itu tidak akan pernah menjauh dari hidup saudara dan saya. Tetapi kapan waktunya Pertolongan itu diberikan? Kapan waktunya kita bisa keluar dari persoalan ini?

Apakah kita bisa memaksa Sumber dari segala sumber itu? Tidak. Yang bisa kita lakukan adalah berpengharapan yang pasti dan bukan mudah-mudahan.

Perubahan bunyi atau nada tadi berkaitan dengan efek doppler, adalah perubahan yang terjadi karena persepsi dari pengamat tapi frekuensi gelombang yang dipancarkan oleh sumber tetap sama.

Demikian juga Tuhan yang setia, Tuhan yang penuh kasih, Tuhan yang baik, Tuhan yang maha Kudus, Kekudusannya tidak akan pernah berubah, Kebaikannya tidak akan pernah berubah, Kesetiaannya tidak akan pernah berubah. Tetapi kadang persepsi kita yang membuat kita kemudian tidak meyakini kebaikan Tuhan atau kesetiaan Tuhan itu karena apa?

Karena kita merasa jauh dari Dia.

Nah mari kita pelajari apa yang terjadi melalui interaksi Tuhan dengan Musa di keluaran 3.

Opening Verse – [1] Adapun Musa, ia biasa menggembalakan kambing domba Yitro, mertuanya, imam di Midian. Sekali, ketika ia menggiring kambing domba itu ke seberang padang gurun, sampailah ia ke gunung Allah, yakni gunung Horeb. [2] Lalu Malaikat Tuhan menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api. [3] Musa berkata: ”Baiklah aku menyimpang ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak terbakar semak duri itu?” [4] Ketika dilihat Tuhan, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: ”Musa, Musa!” dan ia menjawab: ”Ya, Allah.” [5] Lalu Ia berfirman: ”Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.” [6] Lagi Ia berfirman: ”Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.” Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah. [7] Dan Tuhan berfirman: ”Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka. [8] Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, ke tempat orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus. Keluaran 3:1-8 TB

Saudara perlu mengingat latar belakangnya. Ini Musa dalam keadaan tidak baik-baik saja. Dia sebelumnya adalah seorang pangeran, seorang yang dihormati, dibesarkan di istana Mesir. Tetapi karena dia melakukan pembunuhan dan kemudian itu menyebabkan dia lari kembali ke keluarganya. Nah, sekarang dari seorang yang begitu dihormati, sekarang dia menjadi gembala kambing domba.

Bukan miliknya sendiri, tetapi kambing domba miliknya mertuanya. Jadi, dia lakukan itu dalam keadaan penuh dengan tekanan, dalam keadaan under pressure, karena dia sebetulnya tidak mau melakukan ini. Dia lakukan itu dengan tidak adanya tujuan.

Jadi, dari keadaan diatas, ini bukan Musa melihat semak yang terbakar. Musa melihat semak yang menyala tetapi tidak terbakar. Jadi ini menarik. Kalau untuk melihat fenomena semak terbakar, itu sudah pemandangan sehari-hari dari Musa. Makanya setelah itu dikatakan Musa berkata baiklah aku menyimpang kesana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu Mengapakah tidak terbakar semak itu?

Musa ini tidak bodoh. Kalau dia bodoh, yang namanya semak terbakar, ya bukan didekati. Kecuali saudara memang petugas pemadam kebakaran. Jadi, Musa kesana untuk melihat penglihatan yang hebat itu, sesuatu yang menjadi misteri buat dia.

Dari ayat kelima diatas, Saudara tahu kenapa tanah itu menjadi tanah yang kudus?Karena kehadiran Tuhan. Dimana Tuhan hadir, tempat itu adalah tempat yang kudus. Nah, kalau Tuhan hadir dalam hidup saudara, kira-kira hidup saudara kudus apa tidak? Jadi kalau saudara merasa kudus hari ini, ingat, itu bukan karena saudara layak kudus.

Makanya dikatakan “dikuduskan”. Karena ketika Tuhan hadir di tengah-tengah tempat yang tidak kudus, itu menjadi kudus. Kenapa?

Karena yang maha kudus jauh lebih memungkinkan untuk mempengaruhi yang tidak kudus dan kalau saudara tahu bahwa Tuhan hadir dalam hidup saudara dan saya, kira-kira sembarangan tidak kita menjalankan hidup kita?

Kalau saudara tahu ada Tuhan yang kudus dalam hidup saudara yang memberikan suatu tujuan hidup, kira-kira ada tidak yang hidup enak-enakan?

Di ayat keenam, respon musa dipengaruhi oleh persepsi Musa dan umat Israel pada masa itu. Bahwa mereka tahu kalau yang tidak kudus berhadapan dengan yang maha kudus. Apa jadinya yang tidak kudus? Mati.

Makanya Musa takut memandang Allah. Karena dia tahu Tuhan begitu kudus. Dia adalah Tuhan yang maha kudus. Sedangkan dia dengan segala persoalan hidupnya, dengan segala dosanya, dengan penyakit parahnya yaitu dosa tadi, dia adalah umat yang tidak kudus.

Ini bukan karena Tuhan jahat dan seadanya membunuh. Bukan. Tapi itu naturnya, Natur yang maha kudus berhadapan dengan yang tidak kudus, yang tidak kudus, Mati.

Nah, bayangkan dengan gap atau jarak yang sedemikian jauh antara kemahakudusan Tuhan dan ketidak-kudusan manusia bagaimana mungkin manusia bisa menghampiri Tuhan?

Jangankan menghampiri, melihat saja mati. Karena itu tidak ada cara lain, yang Maha kudus yang musti menghampiri yang tidak kudus. Ambulans yang musti datang ke yang sakit parah.

Ayat tujuh, Tuhan telah turun. Sementara di Ayat 8 menyatakan inisiatif Tuhan untuk turun atau menyatakan dirinya. Turun menggambarkan bahwa Tuhan yang tadi jauh, yang begitu misterius, Kemudian Dia membuka dirinya, mengkomunikasikan diriNya, menyatakan diriNya, Atau yang disebut dengan mewahyukan diriNya.

Dulu, orang mengenal Tuhan hanya melalui ciptaanNya, karena kalau manusia dengan segala keterbatasannya tidak mungkin bisa menciptakan alam yang begitu luar biasa, dan menciptakan bintang-bintang di langit.

Jadi, dulu manusia melihat Tuhan begitu luar biasa, begitu jauh dari apa? Ciptaannya. Tetapi, mengenal Tuhan hanya melalui ciptaannya, itu tidak melihat sakit parahnya sembuh.

Mengenal Tuhan melalui ciptaanNya tidak membuat manusia kemudian bisa keluar dari jerat dosa. Satu-satunya cara adalah Tuhan yang turun.

Nah, mari kita bandingkan apa yang dimaksud dengan Tuhan yang turun pada masa lalu dengan Tuhan yang turun pada masa sekarang.

Supporting Verse – [1] Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, [2] maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. [3] Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi, [4] jauh lebih tinggi dari pada malaikat-malaikat, sama seperti nama yang dikaruniakan kepada-Nya jauh lebih indah dari pada nama mereka. Ibrani 1:1-4 TB

Apa yang bisa kita pelajari? Nanti kita bandingkan, sekali lagi, zaman dulu dan zaman sekarang. Zaman dulu, atau sebelum Yesus hadir di bumi.

Pertama, Pernyataan diri atau pewahyuan Allah, itu adalah inisiatifNya.

Kedua, inisiatif itu dilakukannya memang sejak awal, sejak zaman dulu.

Makanya tadi waktu kita baca di Keluaran, “sebab aku telah mengetahui penderitaan-penderitaan mereka.” Jadi, inisiatif itu sudah dilakukannya sejak dari awal. Bukan tiba-tiba, cuma kapan waktunya dan bagaimana caranya, itu Tuhan yang tahu.

Ketiga, Allah menyatakan dirinya dengan berbagai macam cara.

Jadi, kalau saudara berpikir bahwa Tuhan memberikan pertolongan atau memberkati saudara dan saya hanya dengan cara yang kita mengerti, salah besar. Tuhan punya berbagai macam cara.

Keempat, dahulu Allah mewahyukan dirinya dengan pengantaran Nabi-Nabi.

Itu dulu. Nah bagaimana dengan sekarang, setelah Kristus hadir di bumi?

Pertama, ada yang tidak berubah, Allah tetap berinisiatif menyatakan dirinya. Jadi Kristus itu bukan “Plan B”-nya Allah.

Kristus memang dari sejak semula. Tetapi kapan waktunya? Bagaimana caranya? itu Tuhan yang tahu. Jadi bukan karena Tuhan “bohuat” gitu ya, karena manusia ini tetap saja berdosa, maka ada Plan B berupa Kristus. Bukan. Dari sejak awal. Allah tetap berinisiatif menyatakan dirinya.

Kedua, Allah mewahyukan dirinya melalui Yesus Kristus sekarang.

Dulu melalui ciptaanNya, sekarang bukan hanya ciptaanNya tetapi juga melalui Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah Allah yang memancarkan terangNya, memiliki naktur dan kemuliaan Allah.

Itulah pengenalan kita kepada Kristus. Kristus adalah Allah yang memancarkan terangNya memiliki natur dan kemuliaan Allah, dan firmanNya berkuasa sebagai dasar dari segala sesuatu yang ada.

Jadi tidak mungkin kita bisa mengenal Kristus tanpa mengenal firmanNya. Tidak mungkin kita bisa merasa dekat dengan Kristus kalau kita tidak dekat dengan firmanNya. Makanya suaraNya kadang kok rasanya jauh, tetapi suaranya itu suara yang sama dan firmanNya tidak berubah.

Dengan demikian Pewahyuan Allah adalah bentuk komunikasi yang bersifat apa? komunikasi dari Allah yang bersifat seperti apa?

Pertama, bersifat intensional.

Allah memiliki rencana di sepanjang sejarah manusia, dari dahulu, untuk apa? Untuk menyelamatkan kita. Untuk menyembuhkan dari sakit parah itu dari sejak awal. Intensional.

Kedua, bersifat progresif.

Progresif itu tidak dikomunikasikan semuanya sekaligus, tapi bertahap. Karena ini berkaitan dengan yang ketiga, yaitu accommodating, disesuaikan kapasitas yang dapat dimengerti oleh manusia.

Bayangkan kalau Allah tidak mewahyukan dirinya secara progresif tapi langsung “jebret”, kira-kira apa yang terjadi? matilah kita semua!

Contohnya kalau Tuhan mau gini, “Sudah, Aku punya segala berkat di dunia ini dan sekarang Aku berikan berkat itu kepada Ari”.

Kira-kira apa yang terjadi dengan Ari? Matilah Ari ini! Kenapa?

Keberatan berkat.

Karena kapasitasnya belum sampai di situ. Betul apa tidak? Ingat jaraknya begitu jauh. Pemahakudusan dan ketidak-kudusan. Betul apa tidak?

Terus Dia juga punya segala macam hikmat. Terus Dia bilang, “Oke, hikmat ini. Aku mau kasih semuanya kepada Ari. Biar Ari kelihatan pintar.”

Apa yang terjadi? Matilah Ari! Karena apa?

Lebih gede kepalanya daripada badannya. Itu namanya sombong. Segala sesuatu yang diberikan Allah tidak progresif dan kemudian tidak secara akomodatif, membuat kita yang menerimanya jadi keberatan dengan apa yang diberikan Tuhan.

Tuhan itu setia. Makanya dikatakan tidak ada ujian, tidak ada pencobaan yang melebihi kekuatamu. Dan tidak ada juga berkat yang melebihi kekuatanmu. Betul atau tidak?

Nah, Yesus Kristus itu bukan sekedar Nabi, guru, gembala, atau pemimpin. Tetapi dia adalah Tuhan yang menyatakan dirinya kepada manusia. Yesus Kristus adalah solusi ilahi atas ketidakmapuan manusia untuk mendekat kepada Allah, dan solusi itu sudah dari sejak semula.

Sehingga hari ini kita dapat memanggil Dia, memanggil Tuhan sebagai Raja, betul? mari kita Memuji dan menyembah dia sebagai raja yang terhebat. Betul tidak? Raja yang paling berkuasa. Tapi disana yang bersamaan, Kita juga bisa mengenal dia sebagai Tuhan yang adalah Bapa dan sahabat. Raja jauh dong dari kita.

Betul apa tidak? Jauh. Tapi Bapa dan sahabat, dekat. Tetapi apa akibatnya kalau kita hanya mengenal Tuhan sebagai Raja yang jauh itu, Apa yang terjadi?

Yang terjadi adalah kita membangun hubungan yang transaksional dengan Dia. Makanya ada orang-orang yang berpikir seperti ini, “Ah, saya kudu berdoa sebelum makan.”

Itu baik, tetapi alasannya, kenapa kamu berdoa sebelum makan? Ya supaya nanti kalau habis makan tidak sakit perut. Ini transaksional banget, kenapa sakit perut? Ya kan Tuhan menghukum saya, kalau saya lupa berdoa.

Nah, hubungan dengan raja juga begitu. Saya mau minta, minta, minta, minta segala sesuatu terus kepada raja itu, betul tidak? Tetapi, mudah-mudahan dikasih. Ya kalau raja itu kenal saya, kalau enggak bagaimana?

Mudah-mudahan saudara, tidak ada penghargaan yang pasti. Tetapi apa dampaknya juga kalau kita mengenal Tuhan sebagai Bapa yang dekat?

Nah kita berpikir begini, kalau aku minta apa saja kepada Bapaku, pasti akan dikasih. Betul tidak? Kemudian saat kita belum dikasih, kita bisa saja bilang bahwa Bapa kita jahat.

Sekali lagi, satu lagi. Apa akibatnya kalau kita mengenal Dia juga hanya sebagai sahabat? Dekat banget sama kita, Kita jadi kurang ajar, take it for granted, dengan apa yang sudah Dia lakukan kepada kita, dengan kesetiaanNya kepada kita.

Kita taat karena Tuhan sudah mengasihi kita dengan mewahyukan diriNya. Kita taat bukan supaya mendapatkan kasihNya.

Itulah mengapa “Revelation is God’s gracious initiative to mankind”. Pewahyuan Tuhan itu adalah inisiatif, Kasih, kebaikan Tuhan kepada umat manusia.

Nah, yang dahulu tidak mungkin sekarang menjadi mungkin. Respon saudara bagaimana? apakah mau tetap mempertahankan pengenalan kepada Dia hanya sebagai Tuhan yang jauh?

Dan itu baik supaya kita tetapi kagum dan hormat kepadaNya, tetapi pengenalan itu tidak membawa pengharapan yang pasti. Pengenalan terhadap Tuhan yang jauh, Tuhan yang tetap menjadi misteri harus diimbangi dengan pengenalan kepada Dia sebagai Tuhan yang dekat.

Karena bagi setiap orang percaya, Tuhan itu hidup dan tinggal tetap di dalam dirinya sehingga yang dulunya tidak kudus, dikuduskan, yang dulunya hidup di dalam gelap, sekarang diterangkan. Yang dulunya tidak layak, sekarang dilayakan.

Yang dulunya sakit parah, tidak punya pengharapan. Sekarang jadi punya pengharapan yang pasti. Yang dulunya tidak bisa melihat masa depan. Sekarang bisa melihat masa depan yang pasti. Itu semua karena Tuhan yang jauh, turun dan mendekat kepada kita, Sehingga Dia tidak sekedar jadi Tuhan yang jauh, Tapi kita kenal Dia juga sebagai Tuhan yang dekat.

Saya berdoa bagi saudara yang sedang mengalami tantangan dan pergumulan dalam hidup saudara, pengharapan yang pasti itu tidak berjarak dalam hidup saudara. Karena pengharapan yang pasti itu ada di dalam hidup saudara dan saya percaya.

Tetapi kapan jawaban Tuhan itu? caranya bagaimana?

Itu misterinya Tuhan, karena dia adalah Tuhan yang maha kudus yang jaraknya begitu jauh dari kita. Dan kalau saudara mengenal Tuhan yang seperti ini, bagi saudara yang hari ini sedang hidup dengan penuh dengan sukacita, berhasil, ingatlah bahwa itu bukan karena saudara tetapi itu karena Tuhan yang mendekat kepada saudara dan saya sehingga tidak ada alasan bagi kita untuk menjadi sombong.

Mari kita lihat Natal dengan persepsi yang berbeda. Karena kelahiran Kristus adalah tentang Tuhan yang jauh, mendekat kepada manusia. Sehingga manusia bisa mengenal bahwa Dia adalah Tuhan yang tetap misteri. Karena Dia Tuhan yang maha kudus dan ada banyak hal yang belum disingkapkan dalam hidup kita. Tetapi disaat yang bersamaan, dengan Kristus hadir di bumi, kita bisa menikmati yang jauh itu secara dekat dan menikmati hadiratNya di dalam hidup kita.

P.S : If you like our site, and would like to contribute, please feel free to do so at : https://saweria.co/316notes