JPCC Sutera Hall 2nd Service (23 November 2025)
Dalam 3 minggu terakhir, kita sudah membahas kalau siapa dan apa yang terpenting di dalam hidup kita akan menentukan keputusan-keputusan yang kita ambil. Kalau yang terpenting adalah uang, keputusan-keputusan yang kita ambil akan seputar uang dan terkadang atau seringkali itu juga bisa mengorbankan keluarga dan kesehatan kita.
Tetapi kalau Kristus menjadi yang terpenting di dalam hidup kita, maka akhirnya semua keputusan-keputusan yang kita ambil akan berdasarkan nilai-nilai Kristus yang mencerminkan Kasih, Kebenaran dan Karakter Kristus.
Semua dan apapun keputusan yang kita ambil akan mengarahkan kita ke arah kehidupan yang mana, apakah itu ke kehidupan yang terus berkompetisi, was-was, karena terlalu banyak menggunakan kekuatan dan tenaga sendiri sampai akhirnya “burnout”, atau sebaliknya kehidupan yang penuh berkat, damai dan sukacita dari Tuhan. Tergantung daripada fokus kita, yang penting siapa?
Dan kali ini kita akan membahas hal yang sama tetapi dalam konteks keluarga. Karena pusat keluarga juga aan menentukan nilai keluarga, Judul pesan Firman saya hari ini adalah “The Center of Our Hope”.
Kita semua terlepas dari apakah kita sudah menikah atau belum, kita semua adalah bagian dari sebuah keluarga, kebanyakan keluarga dimulai dari 2 orang yang saling jatuh cinta dan memilih untuk menikah. Saya paling suka disaat melakukan pemberkatan pernikahan, karena pada saat itu saya bisa melihat bahwa tatapan mereka penh cinta dan mereka sepertinya begitu romantis saat itu.
Dan sampai akhirnya mereka punya anak, bersyukur dan berkomitmen untuk memberikan yang terbaik untuk anak-anak mereka. Tetapi beberapa tahun kemudian, seringkali semua ini menjadi mulai berbeda dari yang di awal, dari tatapan yang penuh cinta menjadi penuh tensi di rumah.
Sering berantem, tidak ada yang mau mengalah, dan banyak keluarga yang akhirnya tidak lagi memiliki hubungan yang baik. Dari sebelumnya yang berpikir bahwa membangun keluarga seharusnya menyenangkan, tetapi koq malah jadi banyak tensi dan membuat mereka untuk susah saling hormat, apresiasi dan menyayangi orang yang ada di dalam rumah, dan sebaliknya lebih mudah dilakukan kepada orang-orang yang diluar rumah.
Kata-kata sayang seperti “I love you, I am grateful for you” mulai banyak digantikan dengan “Terserah lah”, “Begini saja tidak bisa!”, “I hate you!”. Bahkan sampai memilih untuk bercerai, kenapa bisa begitu?
Karena Pertama, di dalam keluarga, isinya adalah orang-orang yang tidak sempurna, dan hanya di dalam keluarga, ketidaksempurnaan itu kelihatan dan keluar semua.
Saya yang berdiri di sini adalah suami yang tidak sempurna, ayah yang tidak sempurna, yang sudah banyak mengecewakan dan membuat istri saya dan anak-anak saya sedih dan tersinggung.
Kedua, banyak perbedaan-perbedaan antara pasangan, antara anak dengan orang tua di keluarga yang menyebabkan miskomunikasi, baik dari DISC personality , bahasa Kasih yang berbeda dimana tadinya dipikir dia maunya ini, tetapi ternyata dia maunya itu, itu saja sudah bisa membuat miskomunikasi.
Atau misalnya dominannya apa nih, otak kiri atau otak kanan, itu juga bisa membuat masalah. Hal lain seperti muka “Killer looks” atau “Hello Kitty face”, itu saja bisa membuat miskomunikasi.
Sharing Ps. Irwan – Seorang anak yang menunggu satu minggu buat mau main sama ayahnya, Rasanya satu minggu itu berbeda dari satu minggu ayahnya yang lagi ngejar “deadline” di kerjaan. Itu pun beda. Jadi kadang-kadang ayahnya tidak sadar kalau si anaknya lagi sedih nungguin ayahnya selama satu minggu.
Irwan tidak akan pernah bisa mengerti Melly yang mengasuh 4 anak kami (usia 16 tahun , 15 tahun dan juga anak kembar), dan istri saya juga tidak akan bisa mengerti apa yang Irwan rasakan karena harus mempersiapkan kotbah (4 Ibadah hari ini), dan hanya tidur selama 1 jam semalam. Dan juga harus mikirin untuk membagi waktu antara pekerjaan, pelayanan, istri saya, teens dan twins. Kita tidak bisa saling mengerti persis apa yang dirasakan.
Seorang anak nih, ada satu anak lagi melakukan kesalahan dan kita marahin, dia cemberut, dan langsung orang tuanya tambah marah lagi, kenapa? Kurang ajar banget sih, dimarahin tetapi malah tambah cemberut.
Padahal sebenernya mungkin yang dirasakan anak itu bukan dia lagi kurang ajar, dia juga lagi merasa kecewa sama dirinya sendiri, Itu pun jadi miskomunikasi.
Anak-anak, apalagi umur remaja juga punya pressure sendiri yang orang tuanya tidak akan mengerti. Seperti Griffin tadi yang harus merasakan di-bully di sekolah, mungkin dia juga cerita ke orang tuanya tetapi orang tuanya tidak akan bisa mengerti persis apa yang dirasakan Griffin.
Tidak jarang pressure-pressure yang dirasakan anak-anak itu seringkali dianggap remeh sama orang tuanya. Dan orang tua juga punya pressure sendiri yang anaknya tidak akan bisa mengerti. Ini semua miskomunikasi.
Sehingga pada saat yang pertama, ini adalah keluarga dimana sekumpulan orang-orang yang tidak sempurna. Dan yang kedua, ada banyak perbedaan-perbedaan yang bikin miskomunikasi. Makanya tidak heran kalau setiap anggota keluarga, sadar atau tidak sadar, saling melukai satu sama lain.
Atau ada yang merasa “Saya merasa sendirian, tidak ada yang mengerti saya” atau bahkan menyerang balik, karena “hurt people hurt people”.
Dan itu terjadi terus menerus dalam hubungan pernikahan, dalam hubungan orang tua dan anak, Sehingga akhirnya merusak hubungan tersebut. Mungkin awal-awalnya kita masih terus mencoba, mencoba lagi dan mencoba lagi. Tetapi akhirnya karena banyak gagal dan banyak kecewa, merasa tidak dimengerti, sehingga si anak, atau si orang tua, si suami, atau si istri, dan semua orang jadi mengeraskan hati dan tidak lagi peduli. Sehingga anggota keluarga yang ada berhenti untuk mencoba lagi dan menerima kondisi keluarga ini apa adanya, saing tidak peduli dan acuh satu sama lain. Itulah yang terjadi kalau fokus di dalam keluarga atau sesama, dan bukan kepada Kristus.
Opening Verse – [15] Seandainya kamu tidak mau mengabdi kepada Tuhan, ambillah keputusan hari ini juga kepada siapa kamu mau mengabdi: kepada ilah-ilah lain yang disembah oleh nenek moyangmu di Mesopotamia dahulu atau kepada ilah-ilah orang Amori yang negerinya kamu tempati sekarang. Tetapi kami — saya dan keluarga saya — akan mengabdi hanya kepada Tuhan.” Yosua 24:15 BIMK
Pertanyaannya, Kenapa dia memutuskan begitu?
Jawabannya dimulai dari ratusan tahun yang lalu, Dimulai dari Abraham yang tadinya tidak bisa punya anak dan akhirnya lahirnya keturunan-keturunannya.
Lahirlah Ishak. Dan dari Ishak, lahir Esau dan Yakub. Yakub berubah nama menjadi Israel. Inilah permulaannya dari bangsa Israel. Dan Yakub punya 12 anak, salah satunya Yusuf, dan dia dijual, sampailah ke Mesir. Dan karena perkenanan Tuhan, akhirnya Yusuf bisa menjadi penguasa Mesir, langsung dibawahnya Firaun.
Karena satu dan lain hal, sebelas saudara Yusuf yang menjual dirinya harus ke Mesir ketemu Yusuf, dan akhirnya Yusuf memaafkan apa yang dilakukan oleh mereka dan akhirnya semua pindah ke Mesir. Total adalah 12 anaknya Yakub, Yakub sudah namanya Israel, 12 orang ini yang menjadi awal daripada 12 sukunya Israel. Lalu, sudah di Mesir semua ini, nah terus bangsa Israel ini semakin besar di Mesir, sampai akhirnya Firaun yang lain ya, bukan Firaun yang zamannya Yusuf, memutuskan untuk menindas bangsa Israel.
Singkat cerita, dengan Musa, Akhirnya Tuhan mengeluarkan bangsa Israel keluar dari Mesir. Dan disitu kita sudah melihat banyak sekali Mukjizat-mukjizat yang terjadi, seperti laut terbelah dan segala macam. Dan bahkan bangsa Israel bisa menang dalam banyak pertempuran dengan bangsa-bangsa yang lebih besar dan lebih kuat. Sampai akhirnya bangsa Israel menduduki tanah perjanjian. Itu ceritanya panjang, detail, banyak dan merupakan satu kesatuan cerita.
Tetapi di Yosua 24.1-13. Disini Yosua menjelaskan begitu detail dari semua cerita tadi, dari Abraham sampai akhirnya Israel ke tanah perjanjian.
Supporting Verse – [1] Yosua mengumpulkan semua suku bangsa Israel di Sikhem, lalu menyuruh para pemuka, pemimpin, hakim dan para perwira datang menghadap. Maka datanglah mereka menghadap Allah. [2] Kemudian Yosua berkata kepada mereka semua, “Dengarkan apa yang dikatakan Tuhan, Allah Israel kepadamu, ‘Dahulu kala nenek moyangmu tinggal di seberang Sungai Efrat, dan menyembah dewa-dewa. Salah seorang dari mereka ialah Terah, ayah Abraham dan Nahor. [3] Lalu Aku mengambil Abraham, bapak leluhurmu itu, dari negeri di seberang Efrat itu, dan menyuruh dia menjelajahi seluruh negeri Kanaan. Aku memberikan kepadanya banyak keturunan. Mula-mula Kuberikan Ishak kepadanya, [4] lalu kepada Ishak Kuberikan dua orang anak, yaitu Yakub dan Esau. Aku memberikan kepada Esau pegunungan Edom menjadi tanah miliknya, tetapi Yakub, bapak leluhurmu itu, pindah ke Mesir, bersama anak-anaknya. [5] Kemudian Aku mengutus Musa dan Harun, dan menimpakan bencana besar ke atas Mesir, lalu Aku mengeluarkan kamu dari sana. [6] Aku membawa nenek moyangmu itu keluar dari Mesir, lalu orang Mesir mengejar mereka dengan kereta perang dan tentara berkuda. Dan ketika nenek moyangmu itu tiba di Laut Gelagah, [7] mereka berseru kepada-Ku minta tolong. Maka tempat antara mereka dengan orang-orang Mesir itu Kubuat menjadi gelap, dan Kututupi orang-orang Mesir itu dengan air laut sampai mereka semua tenggelam. Kamu sudah tahu semua apa yang Kulakukan terhadap Mesir. Lama sekali kamu tinggal di padang pasir. [8] Lalu Aku membawa kamu ke negeri orang Amori yang tinggal di sebelah timur Sungai Yordan. Mereka memerangi kamu, tetapi Aku membuat kamu menang atas mereka. Kamu merebut negeri mereka, dan Aku memusnahkan mereka. [9] Lalu raja Moab, yaitu Balak anak Zipor, melawan kamu. Ia mengutus orang kepada Bileam anak Beor dan minta supaya Bileam mengutuki kamu. [10] Tetapi Aku tidak menuruti kehendak Bileam, maka ia memberkati kamu. Demikianlah Aku menyelamatkan kamu dari Balak. [11] Kemudian kamu menyeberangi Sungai Yordan, dan sampai di Yerikho. Orang-orang Yerikho memerangi kamu, begitu pula orang Amori, orang Feris, Kanaan, Het, Girgasi, Hewi dan orang Yebus. Tetapi Aku memberikan kepadamu kemenangan atas mereka semua. [12] Pada waktu kamu maju menyerang mereka, Aku membuat mereka menjadi bingung dan ketakutan, sehingga kedua orang raja Amori itu lari dari kamu. Bukan pedangmu dan juga bukan panahmu yang membuat kamu menang. [13] Tanah yang Kuberikan kepadamu, kamu terima tanpa bersusah payah. Dan kota-kota yang Kuberikan kepadamu bukan kamu yang mendirikannya. Tetapi sekarang kamulah yang tinggal di sana, dan kamulah juga yang menikmati buah anggur serta buah zaitunnya, padahal bukan kamu yang menanamnya.’ ” Yosua 24:1-13 BIMK
Dari cerita diatas, kalau kita membaca cerita ini semua dengan details, bagaimana Tuhan mengubah segala sesuatunya, kita seharusnya merasa kagum dengan karya Tuhan, makanya kita terus diingatkan untuk membaca Alkitab itu bukan untuk kita menjadi lebih bijak. Kita harus membaca Alkitab bukan supaya kita mencari jawaban atas masalah yang kita hadapi. Tetapi alasan utama kita membaca Alkitab adalah supaya kita semakin mengenal siapa Tuhan, sehingga kita semakin kagum dan Iman kita semakin bertumbuh di dalam Tuhan.
Dan setelah Yosua menceritakan semua karya Tuhan itu, baru Yosua berkata dan kita bisa baca ayat berikut.
Supporting Verse – [14] Lalu Yosua berkata, “Karena itu kalian harus takut dan hormat kepada TUHAN. Sembahlah Dia dengan tulus dan setia. Musnahkanlah berhala-berhala yang dulu disembah oleh nenek moyangmu di seberang sungai Efrat dan di Mesir. Sembahlah hanya TUHAN saja. [15] Akan tetapi, kalau menurut kalian menyembah TUHAN itu tidak baik, pilihlah pada hari ini siapa yang akan kalian sembah. Apakah kalian mau menyembah dewa-dewa yang dulu disembah nenek moyangmu di seberang sungai Efrat? Atau apakah kalian mau menyembah dewa-dewa yang disembah bangsa Amori, yang negerinya kalian diami ini? Tetapi saya dan seluruh keluarga saya akan mengabdi kepada TUHAN!” Yosua 24:14-15 TSI
[14] “Now therefore, fear the Lord, serve Him in sincerity and in truth, and put away the gods which your fathers served on the other side of the River and in Egypt. Serve the Lord! [15] And if it seems evil to you to serve the Lord, choose for yourselves this day whom you will serve, whether the gods which your fathers served that were on the other side of the River, or the gods of the Amorites, in whose land you dwell. But as for me and my house, we will serve the Lord. Joshua 24:14-15 NKJV
Jadi, Pertama, Yosua memilih untuk mengabdi kepada Tuhan, karena Yosua sudah mengenal Tuhan. Nah cara dia mengenalnya bagaimana? Jadi ada banyak hal yang terjadi sebelum dia lahir, artinya dia mendengar apa yang Tuhan lakukan.
Dan yang Kedua adalah setelah dia lahir, mungkin beberapa tahun setelah dia lahir dan dia mulai mengerti. Yosua mulai mengalami Tuhan, dan mengenal Tuhan. Ini adalah kunci dari semuanya.
Makanya setelah dia mengenal Tuhah, Dia akhirnya memilih untuk menjadikan Tuhan sebagai yang terutama dan sebagai pusat kehidupannya. Jadi, ini perlu diperjelas, kita memilih Tuhan, jangan karena kita memilih Tuhan supaya bisnis kita semakin mau atau supaya keluarga kita menjadi solid, itu adalah motif yang salah.
Justru karena kita mengenal Kristus, karena kita mengenal Tuhan, Kita “amazed” dengan apa yang Dia lakukan, Maka akhirnya kita memilih Kristus untuk menjadi yang terutama di dalam hati kita dan di dalam kehidupan kita ini, Ini perlu saya perjelas supaya motifnya tidak salah.
Nah, tadi saya bilang ada “Saya” dan “Keluarga”, ini harus dibagi dua karena caranya berbeda.
Mulai dari “saya”, untuk satu keluarga mengabdi Tuhan, itu dimulai dari 1 orang, yaitu saya dan saudara di keluarga masing-masing. Tidak harus Dari kepala keluarga, tetapi dimulai dari orang-orang yang sudah mengenal Tuhan dan memilih Kristus atau Tuhan sebagai yang terutama. Setelah kita memilih, perlu ada tindakan selanjutnya.
Ketiga, adalah melakukan nilai-nilai Kristus.
Ini tidak mudah sama sekali, sama sekali tidak gampang. Berikut adalah contoh beberapa nilai Kristus di dalam keluarga.
Supporting Verse – [20] Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita [21] dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus. Efesus 5:20-21 TB
Jadi disini dibilang kita diminta untuk merendahkan diri, bukan karena takut istri atau suami, tetapi karena Takut akan Kristus. Balik lagi, pusatnya di Kristus. Dan kalau kamu adalah seorang anak, ini adalah ayatnya.
Supporting Verse – [1] Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. [2] Hormatilah ayahmu dan ibumu – ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: [3] supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi. Efesus 6:1-3 TB
Dan sebagai seorang ayah, ini juga tidak mudah dan harus diingat ayatnya sebagai berikut.
Supporting Verse – [4] Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. Efesus 6:4 TB
Tidak mudah karena kita bukan orang-orang yang sempurna, begitu juga dengan anggota keluarga yang lain. dan orang-orang yang harus kita hormati, harus kita taati, dan harus kita rendahkan diri terhadapnya, juga bukan orang-orang yang sempurna. Tanpa sadar ada saja keputusan-keputusan kita yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Kristus.
Berusaha tidak membangkitkan amarah anak-anak yang tiap kali dikasih tahu malah membantah. Itu tidak gampang. Jadi karena hal-hal tersebut, kadang-kadang kita jadi mengambil nilai-nilai yang bukan Kristus.
Mengapa?
Karena pertama, tidak gampang.
Kedua, kadang ini tidak masuk logika kita.
Dan yang ketiga, kadang-kadang kita memiliki agenda-agenda pribadi yang pada saat kita lihat kalau pakai nilai-nilainya Kristus atau nilai-nilai Tuhan, akan menghambat agenda-agenda itu.
Karena tiga ini saja sudah menyebabkan banyak sekali nilai-nilai yang kita adopsi sekarang ini untuk tidak ke Kristus. Makanya ada “M” yang berikutnya.
Keempat, Mengandalkan Tuhan.
Karena semakin kita mengenal Tuhan, dengan membaca Firman Tuhan dan mengalamiNya, kita semakin yakin bahwa apapun Nilai Tuhan itu adalah yang terbaik.
Supporting Verse – [12] Pada waktu kamu maju menyerang mereka, Aku membuat mereka menjadi bingung dan ketakutan, sehingga kedua orang raja Amori itu lari dari kamu. Bukan pedangmu dan juga bukan panahmu yang membuat kamu menang. [13] Tanah yang Kuberikan kepadamu, kamu terima tanpa bersusah payah. Dan kota-kota yang Kuberikan kepadamu bukan kamu yang mendirikannya. Tetapi sekarang kamulah yang tinggal di sana, dan kamulah juga yang menikmati buah anggur serta buah zaitunnya, padahal bukan kamu yang menanamnya.’ ” Yosua 24:12-13 BIMK
Bukan oleh logikamu, dan bukan pula dengan caramu. Tuhan yang akan memberikan yang terbaik dengan caraNya yang seringkali di luar nalar. Tugas kita adalah taat saja.
Supporting Verse – [23] Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kolose 3:23 TB
Fokusnya kembali ke Tuhan dan kitanya harus taat. Hormati orang tua, walaupun orang tua ini gimana, lakukan itu seperti untuk Tuhan. Merendahkan dirimu pada pasangan, lakukan itu seperti untuk Tuhan. Jadi fokusnya kembali lagi ke Tuhan, dan kitanya taat. Pada saat kita terus taat, kita akan “amazed” dan kaget kemana Tuhan akan membawa kita pergi.
Nah itu tentang “Saya”, dan sekarang tentang “keluarga”. Kalau “saya”, kita bisa tentukan untuk mengabdi Tuhan. Tetapi untuk “keluarga”, untuk suami, istri, anak dan orang tua, bukan kita yang memutuskan, kita tidak memutuskan dan tidak bisa memaksa mereka. Dari keempat “M” diatas, kita hanya bisa melakukan yang pertama, yaitu bagaimana kita bisa membuat dan membantu mereka menjadi mengenal Kristus. Ini adalah kunci utamanya.
Semua ini adalah tentang bagaimana kita bisa mengenal Kristus lebih dalam dan lebih dalam lagi, step-step selanjutnya adalah dari mereka dengan Tuhan. Bagaimana caranya supaya kita bisa membantu mereka mengenal Kristus? Ada 3 hal.
Pertama, hidup damai dengan mereka
Supporting Verse – [18] Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! Roma 12:18 TB
Bagaimana kita bisa membantu keluarga kita untuk mengenal Kristus kalau mereka sendiri lagi sebel sama kita? Tidak bisa. Jadi, yang paling pertama adalah damai. Jangan sampai hubungan kita terlalu jauh untuk kita bisa memegang pundaknya dan mendoakan mereka. “Sorry” adalah kata-kata yang paling sering saya katakan di anggota keluarga saya.
Bukan “I love you”, pada saat saya terkadang merasa tidak berbuat salah sebenarnya. Tetapi karena memang akhirnya kita jadi berantem, artinya kan ada momen di mana saya juga menyakiti dia. Akhirnya saya berusaha untuk “sorry” duluan. Tujuannya apa? Damai. Dan pada saat kita melakukan damai ini, akhirnya kita jadi lebih bisa mengerti perasaan dia.
Sharing Ps. Irwan – Saya pernah waktu itu lagi pergi ke luar negeri selama 4 hari, saya balik, terus saat saya balik ke rumah, waktu itu lagi harus repot mempersiapkan kotbah untuk besoknya. Dan saat saya keluar kamar, saya melihat anak-anak saya sedang bermain game dan saya mengomel.
“Koq main game sih? Kenapa ga belajar?”
Dan anak saya berkata : “Pulang-pulang complain, gak usaha pulang aja sekalian”.
Dan disitu saya langsung bilang, “Kurang ajar banget!”. Saya marah, saya marah kepada mereka. Tetapi habis itu setelah saya pergi, Tuhan mengingatkan saya untuk meminta maaf kepada mereka. Saya yang sedang menyiapkan kotbah saat itu, masa tidak mau untuk melakukannya.
Dan disitu juga Roh Kudus langsung mengingatkan saya. Anak-anak itu sebenernya, kan saya sudah pergi selama 4 hari. Pas kembali, mereka tuh lagi “excited” mau main, mau spend time dengan saya. Tetapi yang ada, sayanya langsung masuk kamar lagi, akhirnya mereka jadi kesel semua.
Kedua, adalah bangun habit atau kebiasaan yang bisa mengenal Kristus.
Ini penting, seperti membaca Firman Tuhan bersama-sama. Worship dan doa bareng dengan keluarga. Ini memang sering didengar, tetapi apakah benar sudah dilakukan? apakah anak-anak kita melihat kita sebagai orang tuanya melakukan itu? Bagaimana anak kita bisa mengenal Kristus kalau kita sendiri tidak mencontohkan itu?
Saya kemarin sempat bertanya-tanya kepada salah satu anak yang ada di JPCC Kids tentang hal ini. Dia mengatakan bahwa orang tuanya tidak pernah berdoa. Lah, bagaimana nanti anak bisa akhirnya mengenal Kristus?
Kalau kita sendiri, kami contohkan itu. Apa yang banyak lebih diperkatakan di rumah, kata-kata Tuhan yang membangun atau sibuk melakukan pengajaran? Atau sibuk complain?
Saya baru sadar bahwa saya lebih sering ngomong sama anak-anak saya untuk tidur lebih awal, makan yang banyak, supaya apa? supaya kamu bisa lebih tinggi dari saya.
Tahu gak, kalau misalnya nanti kamu lebih tinggi, masa depan kamu akan lebih baik. Serius? Salah kan! Masa depan lebih baik bukan karena tinggi, Masa depan lebih baik kalau kita punya Tuhan yang luar biasa.
Dan kebiasaan ini, ini tolong diingat baik-baik ya, kebiasaan ini, di dalam keluarga jangan cuma seminggu sekali, tidak cukup! Serutin mungkin, tahu gak kenapa? Karena selain nilai-nilai Tuhan yang kita lagi mau tanamkan di dalam keluarga, Banyak nilai-nilai lain yang terus masuk.
Dari mana?
Video pendek, Semua swipe! Dan berapa banyak yang swipenya ayat Firman Tuhan terus? Banyak yang lain-lain, pengajaran dari mana pun dan itu semua terus masuk, baik ke istri kita, ke anak kita, ke suami kita, ke orang tua kita, itu terus masuk.
Jadi kalau kita tidak menanamkan “habit” untuk terus mengenal Kristus, sehingga akhirnya kita jadi semakin “amazed” dengan Kristus. Yang terjadi adalah tanpa kita sadar kita mulai melenceng. Jadi, habit ini tolong benar-benar dipastikan, dilakukan di rumah.
“Oh, tapi merekanya tidak tertarik”. Itu mungkin karena kita bawainnya tidak menarik.
Yang ketiga, Jadilah Teladan.
Ini harus hati-hati, karena disaat kita meneladani, ingat bahwa kita tidak sempurna dan masih bertumbuh di dalam Tuhan. Kita pasti akan gagal lagi dalam beberapa hal tertentu. Jangan sampai disaat kita gagal melakukan ini, keluarga kita menjadi kecewa dengan kita. Itu sebabnya Rasuk Paulus berkata ini.
Closing Verse – [1] Ikutlah teladan saya, seperti saya pun mengikuti teladan Kristus. 1 Korintus 11:1 BIMK
Jadi, fokusnya balik lagi bukan ke kita, tetapi ke Yesus yang sempurna. Yang kita teladani adalah bagaimana kita terus bertumbuh di dalam Kristus. Bayangkan jika kita melakukan semua ini, mengenal, memilih Kristus, melakukan nilai-nilai Kristus dan Mengandalkan Tuhan.
Kalau ini “saya” lakukan, yang terjadi adalah kita terus diubahkan menjadi serupa dan segambar dengan Kristus, dan saat itu terus lagi terjadi, dan kita mulai mengenalkan Kristus, dengan terus damai, punya kebiasaan atau habit dan terus meneladani, akhirnya keluarga kita lama-lama akan mengenal lebih dalam, memilih Kristus, melakukan Nilai-nilaiNya, Mengandalkan Tuhan, dan akhirnya keluarga kita diubahkan dan menjadi serupa dengan Kristus.
Sehingga Keluarga kita terdiri dari Orang-orang yang tidak sempurna, tetapi memusatkan hati kepada Kristus sehingga mereka terus berubah menjadi seperti Kristus dan dimampukan untuk semakin mengasihi, mengampuni dan berkorban untuk keluarga seperti Kristus mengasihi, mengampuni, dan berkorban untuk kita semua.
Kalau itu yang terjadi, dan apalagi kalau itu sudah terjadi dan anak-anak kita pun akhirnya mengenalkan Kristus ke anak-anaknya lagi sehingga anak-anaknya lagi memilih ini, dan mereka akan diubahkan seperti Kristus, akhirnya maka keluarga kita terus menjadi keluarga yang kuat di dalam Kristus dari generasi ke generasi.
Kita harus ingat satu hal bahwa keluarga itu adalah berkat dari Tuhan, mau itu orang tua atau mertua/menantu kita, atau apa yang kita bangun sendiri, itu adalah berkat dari Tuhan, tetapi yang terjadi adalah seringkali kita membiarkan berkat dari Tuhan membuat kita tidak fokus ke Tuhan, pada saat kita mengelola berkat itu dengan tenaga dan pikiran kita sendiri.
Tahu tidak? Berkat itu “K” nya adalah Kristus. Karena kalau “K” diangkat, yang ada jadi “berat”.
Sharing Ps. Irwan – Ini sudah saya rasakan, satu tahun yang lalu saya punya “twins”, itu berkat yang luar biasa dan di luar dari apa yang pernah kita bayangkan sebelumnya. Tetapi sewaktu bayi, kan biasa bangun lima kali disaat malam, dan karena ini “twins”, porsina bertambah dan kita harus lebih sering sekali begadang, dan bahkan karena istri saya beriman dan tidak mau ada suster, tanpa kita sadar, kita jadi “overwhelm”.
Tanpa kita sadar, kita yang tadinya fokus ke Kristus, kita menjadi fokus ke berkat atau “twins” ini, dan bukan lagi Kristus, kita menjadi sering berantem, ada jaraknya, baik itu kepada istri dan juga kepada anak-anak saya yang lain.
Itu terjadi begitu lama, dan saya hanya bisa nangis setiapkali saat saya bergereja dan mengikuti sesi praise and worship disini, Dalam doa, saya berkata dan claim, “Tuhan, saya dan keluarga saya mengabdi Tuhan, saya tidak mau mereka menjadi jauh dari Tuhan karena saya.”
Sampai suatu saat ada momen dimana kedua bayi ini menangis, istri saya kecapean, dan saya juga sedang sibuk saat itu. Akhirnya, saya yang datang dengan pikiran yang berat dan cape, saya angkat kedua bayi saya yang beratnya cukup berat, saya tidak bisa ngapa-ngapain dan hanya bisa “worship”, yang ada di pikiran saya adalah lagu heart of worship, “I’m coming back to the heart of worship, when it’s all about you, it’s all about you, Jesus”.
Tiba-tiba Tuhan berkata saat itu bahwa saya sudah tidak melihatNya kembali, dan saya menangis, melanjutkan bernyanyi “I’m sorry, Lord for the things I’ve made”, dan saya mulai sadar bahwa berkat yang ada ini membuat saya tidak melihatNya kembali. Saya mengatur semua dengan tenaga sendiri.
Semenjak saat itu, kita mulai kembali lagi, berdoa dan membaca Firman bersama-sama sebagai satu keluarga. Disaat itu terus kita lakukan kembali, dan tanpa sadar, disaat kita menjadikan Kristus yang terutama bersama nilai-nilaiNya, keluarga saya mulai kembali, kita mulai bisa ngobrol dan semakin dekat.
Buang jauh-jauh semua logika kita, tetapi ingat bahwa Kristus yang terutama.
Mungkin ada diantara saudara sekarang ini yang sekarang ini berpikir, “Kamu tahu tidak? cuman saya doang yang berkorban! keluarganya saya tidak ada yang berkorban, semuanya seenaknya, masa hanya saya saja! Tidak fair!
Loginya begitu, tetapi bukan itu yang dilakukan kristus buat kita. Kristus berkorban buat kita yang tidak layak. Dan pada saat kita mulai mengerti, mengenal Kristus. Lama-lama kita akan diubahkan. Sehingga kasih yang sama, yang akan ada di kita, sehingga memampukan kita untuk mengasihi orang-orang, keluarga kita juga, untuk berkorban buat mereka, bahkan mengampuni mereka seperti Yesus mengasihi, berkorban dan mengampuni kita.
Ingat bahwa yang Tuhan sedang bentuk adalah kita, dan bukan keluarga kita. Jalani saja, dan kita akan “amazed”, kaget saat tiba-tiba semua berubah, bukan karena kemampuan kita, tetapi karena memang Tuhan yang membentuk sedemikian rupa, sehingga kita hanya bisa berkata “God is soo good.”
P.S : If you like our site, and would like to contribute, please feel free to do so at : https://saweria.co/316notes



