From Rows to Circles By Ps. Jeffrey Rachmat

JPCC Sutera Hall 2nd Service (7 September 2025)

Shalom” bukan the absence of conflict, tetapi shalom adalah the presence of wholeness, hadirnya sebuah keutuhan di tengah-tengah suatu konflik atau suatu kesulitan. “Shalom” itu berbicara mengenai peace and harmony, inner peace, the peace of God, dan juga “peace between the people”, di antara umatnya.

“Shalom” juga bicara mengenai wholeness, atau completeness, merupakan keselarasan antara jasmani dan rohani. “Shalom” juga berbicara mengenai prosperity atau welfare. “Shalom” berbicara mengenai safety atau security, keamanan. “Shalom” juga berbicara pada restoration atau pemulihan.

“Shalom” membuat apa yang rusak bisa menjadi pulih kembali, membuat apa yang kurang menjadi cukup atau lebih, dan membuat yang tidak harmonis menjadi harmonis.

Itu sebabnya kita panggil Tuhan kita “Jehovah Shalom”, Tuhan yang membawa damai sejahtera, Tuhan yang hadir bahkan di tengah konflik atau krisis, Tuhan yang mau memberikan security, keamanan, Tuhan yang mau mendatangkan peace, harmony, Tuhan yang mau mendatangkan restorasi.

Itu sebabnya minggu lalu saya banyak memperkatakan kata ini, “Shalom” terhadap kota dan terhadap bangsa Indonesia. Bukan cuma sekedar kata-kata untuk “greet each other”, untuk menyalami satu sama lain, tetapi lebih daripada itu, kalau kita katakan dengan pengertian, maka ada kuasa yang menyertainya.

Saya mau saudara mengerti, “Shalom”. Jadi penting untuk kita mengerti, besok saat saudara sudah bekerja di kantor, dan ada di mana-mana. Katakan kalimat ini tetapi dengan pengertian. Dengan pengertian bahwa Tuhan yang kita sembah itu adalah “The God of Peace, Jehovah Shalom”. Suatu keutuhan akan terjadi atas kota dan bangsa ini, Berdoa agar Tuhan memulihkan segala sesuatu.

Hari ini kita masuk dalam tema September cerita katanya, “We are His Church”, dan saya beri judul kotbah saya “From Rows to Circles”, dari barisan dan merubah menjadi lingkaran.

Kita hidup di generasi yang paling nyambung, dan paling “connect” sepanjang sejarah. Dengan internet dan media sosial, kita dengan mudahnya dalam hitungan detik bisa bertemu dengan orang-orang di seluruh dunia. Tetapi ironisnya adalah generasi yang paling “connect” di seluruh dunia ini juga, atau di generasi ini, merupakan generasi yang merasa paling kesepian.

Dikelilingi oleh teman-teman secara online, tetapi tidak memiliki “real friendship” di dunia nyata. Dunia nyata seringkali memberikan keramaian, tetapi tidak memberikan komunitas. Banyak orang juga yang hari-hari ini bilang, “Ngapain datang ke gereja, kan kita bisa online”.

Dunia maya memberikan kepada kita “follower”, tetapi tidak memberikan kepada kita keluarga. Dunia maya memberikan kepada kita “likes”. Tetapi “likes” bukan real love, bukan kasih yang sesungguhnya.

We are connected online, but disconnected in real life.

Dan menurut riset yang dilakukan oleh Church in General Advisory dari Amerika Serikat tahun 2023, kesepian atau kurangnya koneksi sosial sama berbahayanya dengan merokok sebanyak 15 batang sehari.

Jadi, menurut penelitian yang dilakukan oleh mereka, kesepian atau loneliness meningkatkan risiko kematian dini sekitar 25-30%. Itu sebabnya tidak salah kalau dari sejak awal, dalam Kitab Kejadian, Tuhan sudah berfirman dan mengatakan tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. Kalau Tuhan bilang tidak baik, ya sudah jangan dilawan. Berarti tidak baik.

Opening Verse – TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia. Kejadian 2:18 TB

Karena untuk bertumbuh baik secara jasmani maupun secara rohani, kita membutuhkan orang lain. Untuk dapat menggali potensi diri, mengeluarkan bakat, kita butuh orang lain. Untuk kita bisa menjalankan tujuan hidup dan mengalami kepenuhan hidup, kita perlu orang lain. Bahkan kita perlu melayani kebutuhan orang lain.

Untuk itu saudara harus mengerti, apalagi sering saya katakan, tidak mungkin kita bisa memenuhi rencana Tuhan dalam hidup kita atau “fulfilling the purpose of God” dalam kehidupan kita kalau kita ini tidak mau menerima beban.

Jadi biasakan untuk menanggung beban. Istilah yang dipakai adalah kehidupannya berbuah. Nah, kalau saudara jadi pohon dan saudara punya buah banyak di ranting-ranting saudara, hidup saudara berat atau ringan kira-kira? Berat! semakin banyak buahnya, semakin berat. Tetapi lucu, semakin “fulfilling” juga hidup saudara, dan semakin puas hidup saudara.

Kursi yang saudara duduki ini sekarang kalau dia bisa diwawancarai, maka dia akan merasakan kalau hidupnya penuh. Karena untuk itulah kursi diciptakan supaya bisa diduduki. Berbeda dengan kursi kosong. Kursi kosong hanya sekedar eksis dan ada saja, tetapi dia tidak mengerti untuk apa dia ada. Padahal dia tidak terima beban sama sekali. Dia hanya sekedar eksis.

Sementara kursi yang saudara duduki, kalau dia bisa diwawancarai, dia akan bilang, untuk inilah saya ada dan diciptakan. Jadi, kalau saudara mau “fulfilling God’s plan, purposes”, kalau saudara mau hidup penuh, saudara harus melayani kebutuhan orang lain. Kita bisa saja menjadi pelawak dan penyanyi yang bertalenta, tetapi apa gunanya jika tidak ada orang yang menikmatinya.

Our gift, talent, dan kemampuan kita selalu berhubungan untuk “serve others”, untuk melayani orang lain. Karena saat itulah kita mengalami kepuasan. Jadi kita tidak bisa untuk ada sendirian, Alkitab dengan jelas menuliskan bahwa manusia diciptakan serupa dan segambar dengan Allah. Dan bagian daripada gambar Allah tersebut bersifat relasional.

Bapa, Putera dan Roh Kudus berada dalam satu persekutuan yang utuh dan yang kekal. Jadi, kita menggambarkan Tuhan ketika kita juga hidup dalam persekutuan, in community and with each other, dan juga dalam kesatuan.

Supporting Verse1:26 Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Kejadian 1:26 TB

Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” 22:37 Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.  22:38 Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. 22:39 Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Matius 22:36-39 TB

Jawaban Yesus terhadap pertanyaan ini mengandung dua aspek. Bagian yang pertama adalah vertikal, dan kemudian yang kedua adalah horizontal. Sama pentingnya, tetapi Dia bilang yang pertama dan vertikal harus terjadi, Semakin kita mengenal Tuhan dan semakin kita mengasihi Tuhan. Akibatnya adalah, semakin kita mengenal dan mengasihi diri kita sendiri. Dan semakin kita mengenal dan mengasihi diri kita sendiri, semakin kita mudah untuk mengenal dan mengasihi sesama kita. Kasih Tuhanlah yang mendorong kita, memampukan kita untuk mengasihi sesama manusia.

Tanpa kasih Tuhan, sulit buat kita untuk bisa mengasihi sesama manusia. Jadi, penting untuk kita, yang terutama adalah yang vertikal. Baru kemudian yang vertikal ini memampukan kita untuk melakukan yang horizontal.

Ada berapa banyak di antara saudara yang sudah melakukan yang horizontal tetapi tidak melakukan yang vertikal. Akibatnya saudara menjadi kecewa terhadap orang yang saudara pernah bantu dan tolong.

Sekarang bagaimana aplikasinya sebagai orang-orang percaya di masa kini menjalankan hukum yang terutama dan yang pertama ini, serta hukum yang kedua yang tidak kalah pentingnya dengan hukum yang pertama. Itu sebabnya kenapa ada slogan Love God, Love People. Tidak dibalik Love People, Love God.

Mari kita lihat bagaimana gereja mula-mula dalam mereka berkomunitas, dalam mereka hidup, gaya hidup mereka setelah roh kudus turun dan memenuhi kehidupan orang-orang percaya sesuai dengan apa yang Yesus janjikan sebelum dia diangkat ke surga.

Supporting Verse – 2:41 Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. 2:42 Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. 2:43 Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda. 2:44 Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, 2:45 dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. 2:46 Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, 2:47 sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan. Kisah Para Rasul 2:41-47 TB

Pertama, yang menjadi gaya hidup mereka adalah mereka bertekun dalam pengajaran.

Mereka tekun dalam belajar. Di sini orang-orang percaya melakukan tugas yang terutama dan yang pertama yaitu apa? Mengasihi Allah, Mengenal Allah terlebih dahulu. Mereka merasa ada rasa haus dan rasa lapar untuk belajar mengenal Tuhan, untuk belajar mengenal kebenaran, untuk mendengarkan dari rasul-rasul apa yang Yesus sudah ajarkan, sambil mereka memecah roti yang artinya melakukan perjamuan kudus serta berdoa.

Mukjizat dan tanda seharusnya bukanlah sesuatu yang langka bagi orang-orang percaya. Hanya apa yang seringkali terjadi adalah kita tidak biasa melihatnya. Kita tidak biasa melihat dan memperhatikan tanda dan mukjizat yang terjadi di sekitar kita.

Karena selalu kita pikirnya itu mukjizat adalah sesuatu yang besar dan spektakuler. Kita tidak terbiasa untuk melihat hal-hal yang kecil, yang kelihatannya “insignificant” tetapi kalau tidak ada itu, saudara akan menjadi kelimpungan. Mulailah bersyukur dengan hal-hal yang demikian.

Berapa banyak di antara kita yang tidak bersyukur dengan kenyataan bahwa saudara bisa berkumpul dan berdoa di tempat ini? Jangan tunggu sampai tidak bisa baru kemudian bisa bersyukur.

Berapa banyak di antara kita yang tidak pernah bersyukur bahwa ada hari yang baru yang Tuhan janjikan buat kita? Kenyataan bahwa saudara masih bisa bernafas. Atau seringkali kita matanya tertuju pada apa yang Tuhan sudah pernah buat dan kita berharap Tuhan akan buat hal yang sama lagi.

Atau seringkali kita fokusnya salah. Kita fokus pada apa yang Tuhan mau, kita fokus pada apa yang kita mau Tuhan kerjakan buat kita. Sehingga kita gagal untuk melihat hal-hal yang Tuhan sudah kerjakan buat kita.

Saya kasih contoh sebagai berikut.

Supporting Verse43:18 firman-Nya: “Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala! 43:19 Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara. Yesaya 43:18-19 TB

Kalau saudara lihat konteksnya adalah Tuhan bilang, “Jangan ingat-ingat hal yang dulu aku sudah pernah lakukan.” Karena bangsa Israel pada saat itu matanya terpaku pada hebatnya Tuhan mengeluarkan mereka dari perbudakan Mesir.

Bagaimana Tuhan kemudian menolong mereka ketika mereka berhadapan dengan laut merah, kemudian mereka dikejar oleh tentara Firaun dan laut itu terbelah untuk mereka. Itu pekerjaan yang dahsyat dan ajaib. Mereka bisa menyebrang ke laut dengan air yang tertahan di kiri kanan seperti tembok yang luar biasa besarnya, dan mereka jalan menyebrang.

Kemudian setelah mereka sampai dan mereka dikejar oleh pasukan Firaun dan kemudian air itu menutup kembali sehingga yang mengejar mereka mati terkelam. Itu suatu hal yang sangat spektakuler dan luar biasa. Dan mata mereka tertuju juga kepada hal tersebut.

Sampai Tuhan sendiri yang buat mujizat tersebut bilang sama mereka, “Jangan ingat-ingat itu”. Tuhan sendiri yang buat, yang bikin itu, sampai bilang sama mereka, “Jangan matamu terpaku seperti itu”.

Sehingga apa? Ayat 19 katakan, “Lihat aku, hendaknya membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh”. Jadi, karena matanya begitu terpana sama apa yang Tuhan sudah pernah buat. Sehingga mereka kehilangan kesempatan untuk mengenali apa yang Tuhan sudah tumbuhkan buat mereka dan sudah buat dalam hidup mereka.

Sebenarnya kan tidak ada yang mengharapkan baik itu brand Samsung, Sony, Apple, B&W, Toyota, semuanya. Secanggih-canggihnya mereka mengeluarkan produk mereka yang terbaru, saudaranya kan tidak berharap lain kali mereka bikin produk yang sama setiap tahunnya. Tidak ada satupun diantara saudara yang berharap bahwa nama-nama besar tadi, mengeluarkan produk yang sama.

Kok saudara bisa begitu percaya sama mereka? Sehingga mereka mampu untuk mengeluarkan yang lebih canggih daripada yang sekarang mereka sudah keluarkan. Nah kalau saudara bisa percaya mereka lakukan itu, kenapa Tuhan saudara tidak percaya bahwa Tuhan bisa dan sanggup?

Kenapa kita begitu terpana dengan apa yang pernah kita terima? Kemudian gagal mengenali bahwa Tuhan sudah menumbuhkan sesuatu yang baru yang sama sekali tidak muncul dalam pikiran kita. Tapi seringkali mata kita hanya tertuju pada apa yang Tuhan sudah pernah lakukan, atau kita menantikan mujizat seperti yang kita mau. Nah, yang jadi Tuhan siapa?

Kemudian selain bertekun dalam pengajaran, mereka juga peduli dan berbagi.

Kedua, Peduli dan Berbagi.

Semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama. Tetap bersatu itu adalah mukjizat tersendiri. Tahu ga susahnya, 3000 orang ditambahkan kepada mereka dan mereka tetap bersatu, itu adalah mukjizat.

Ini yang saya sadari dan banyak diantara saudara juga tidak menyadarinya. JPCC ini sudah lebih dari 26 tahun dan kita semua di tim penggembalaan tetap bersatu. Itu mukjizat tersendiri. Bayangkan, ada berapa banyak yang bisa melakukan hal yang sama?

Ini bukan sekedar bersatu, tetapi saling mendorong dan mencintai satu sama lain. Itu merupakan mukjizat tersendiri, tetapi mata kita seringkali tidak melihat itu sebagai sesuatu yang perlu disyukuri. Makanya saudara harus mulai bersyukur.

Sharing Ps. Jeffrey – Tadi pagi, Pastor Irwan hadir. Saya lihat matanya seperti orang baru bangun tidur. Wajar, karena dia baru punya dua anak kembar yang usianya baru satu tahun. Kurang tidur, karena istrinya kemarin ikut TWC, dan dia kewalahan menjaga 2 anak. Dia mengalahkan dua anak kembar.

Saya tanya, kok ada kamu di sini dan masih dijadwalkan? saya lihat dia tugas di Kebaktian keempat sebelumnya. Dia bilang bahwa tadi malam saya ditelepon sama Pastor Erwin. Pastor Erwin bilang, “Saya harus bicara di Kebaktian youth pagi ini dan saya ga sadar kalau saya juga harus hadir di Kebaktian pertama, jadi bisa tolong bantu ga?”.

Ps. Irwan bilang, “Siap”. As simple as that. Saling menolong, saling membantu, saling peduli satu dengan yang lain, dan saat mendengarnya, itu membuat saya senang. Itu tanda buat saya, mungkin bukan tanda buat saudara, tapi buat saya itu tanda. Ada Kasih. Dan disaat ada Kasih, berarti ada Tuhan disana.

Saya juga melihat Hanna kemarin menyampaikan Firman Tuhan di TWC dengan luar biasa. Sejak pertama kali mengenal Hanna 25 tahun lalu dimana saat itu dia masih belum mengenal Ps. Jose, dan dia datang untuk keperluan counseling saat itu, dan melihat dia sekarang bisa menyampaikan Firman Tuhan dengan baik dan begitu percaya diri, buat saya itu adalah tanda bagaimana Tuhan bekerja dalam hidupnya.

Jadi tidak perlu sesuatu yang spektakuler. Disini dikatakan mereka tetap bersatu, tidak ada yang merasa lebih jago, lebih pandai, lebih berhak, atau layak. Dan mereka juga punya “Sense of ownership”. Segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama.

Bukan berarti bisa menjual barang orang tanpa permisi atau bukan berarti main ambil aja. Itu ngejarah namanya. Tetapi ikut memiliki artinya ikut menjaga, ikut merawat, ikut senang. Sebab kalau itu tidak ada, saya juga tidak dirugikan. Saya juga ikut rugi kalau saudara saya tadinya punya kemudian kehilangan apa yang dia punya. Jadi punya sense of ownership, tidak ada “ajimumpung” di sini. Tidak mengambil kesempatan untuk keuntungan mereka sendiri.

Selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya. Artinya apa? Ya, yang punya harta yang menjual. Bukan sembarangan orang yang menjual. Iya kan? Lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. Artinya apa? Artinya mereka bukan cuma sekedar bertekun dalam pengenalan akan Allah, atau vertikal. Tapi akibat daripada yang vertikal itu mereka kemudian bisa melakukan yang horizontal.

Mereka ada kasih yang nyata dalam tindakannya. Itu sebabnya kenapa Kasih tidak dapat dihidupi dalam kesendirian. Dalam kasih yang sesungguhnya ada keinginan untuk berbagi. Bukan karena paksaan, tapi karena kemurahan hati dan kemauan sendiri.

Dan juga karena adanya empati, Empati adalah kemampuan untuk masuk ke dalam dunia orang lain, untuk memahami pikirannya, merasakan emosi mereka, merespon dengan perhatian kepada mereka.

Kalau ada yang bisa kita tunjukan di hari-hari ini adalah empati. Saya sedih waktu minggu lalu jalan melihat banyak sekali orang jualan, gerombak-gerombak jualan, tetapi tidak ada yang membelinya. So sad.

Empati. Tuhan kita adalah Tuhan yang punya empati. Itu sebabnya sebagai anak-anak Tuhan kita juga harus memiliki empati.

Supporting Verse 3:7 Dan TUHAN berfirman: “Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka. 3:8 Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, ke tempat orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus. Keluaran 3:7-8 TB

Tuhan kita adalah Tuhan yang punya empati. Empati menyebabkan Dia kemudian bertindak.

Supporting Verse – Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai. Ibrani 2:18 TB

Empati adalah bagian daripada kasih Tuhan dalam kehidupan kita. Ketika orang tidak lagi mempunyai empati, maka orang berhenti peduli dengan perasaan orang lain. Akibatnya orang jadi lebih mementingkan diri sendiri daripada kepentingan bersama.

Sikap bodo amat, sikap “yang penting gw cuan dan sukses”, ga peduli dengan yang lain. Apa akibatnya? Akibatnya gap antara “The have dan The don’t have” jadi semakin besar. Itu sebabnya jangan pernah kehilangan kasih dan di dalamnya ada empati.

Closing Verse – Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus. Galatia 6:2 TB

Tidak perlu terlalu jauh berpikir dulu. Sama orang-orang yang ada di sekitar saudara saja. Perhatikan orang-orang yang ada di sekitar saudara, orang yang kerja sama saudara. Perhatikan mereka, Kalau saudara pesan Go-food atau, Grab, atau lain sebagainya. Berikan mereka tip dan juga rasa hormat. Kasih mereka sesuatu, jangan pelit.

Tetapi jangan sampai perbuatan yang didorong oleh Kasih ini berubah menjadi sebuah keharusan dan tuntutan untuk menolong.

Kalau kita pergi ke Amerika, yang namanya tips itu harusnya bagian daripada rasa terima kasih kita karena pelayanan yang baik dari orang yang melayani kita, maka kita kasih mereka tips. Tetapi sekarang, tidak begitu. Sekarang jadi sebuah tuntutan untuk harus kasih. Bahkan sudah ditentukan jumlahnya, dan kalau tidak diberikan, maka kita akan diuber sampai keluar.

Itu sudah menjadi tuntutan. Itu bukan lagi perbuatan atau sesuatu yang keluar dari generosity. Bukan begitu juga seharusnya.

Yang Ketiga, adanya Fellowship and Worship.

Mereka berkumpul di Bait Allah dan juga bertemu di rumah. Jadi, di Kisah para rasul 2 ini, lifestyle dari jemaat mula-mula menunjukkan bahwa orang-orang percaya membentuk sebuah fellowship, ada satu kebersamaan membangun sebuah komunitas yang saling menguatkan, yang saling melindungi.

Itu sebabnya saya senang dengan slogan yang saya baca beberapa minggu yang lalu, “Warga jaga warga”. Demikian seharusnya, Fellowship itu seringkali diilustrasikan sebagai “fellow in the ship”. Teman satu perjalanan di kapal, karena apa? Tujuannya sama, arahnya sama, ada di dalam satu tempat yang sama, dan tantangan yang mereka hadapi juga sama.

Dan yang keempat, mereka bertumbuh.

Pertumbuhan adalah akibat dari sebuah komunitas yang sehat, yang punya 2 aspek, yaitu vertikal dan horizontal. Tuhan yang menambahkan karena Tuhan percaya kepada komunitas ini.

Jadi, pertanyaannya kalau gereja tidak bisa bertumbuh, tidak mengalami pertumbuhan adalah, “Apakah kita sudah menjadi komunitas yang bisa dipercaya oleh Tuhan, untuk ditambahkan dengan orang-orang diselamatkan”.

Dan kalau kita pelajari tadi, ada karakter ini dalam komunitas atau dalam gereja mula-mula ini, yaitu: tekun, sehati, gembira, dan tulus hati.

Bukan berarti mereka tidak punya masalah. Bukan berarti mereka tidak pernah menghadapi konflik dan persoalan. Tetapi mereka selalu tekun dalam pengajaran. Mereka sehati, karena kesehatian mereka mendatangkan kekuatan dan berkat tersendiri. Dan mereka gembira dan tulus hati.

Kisah para rasul 2 ini mengingatkan kita bahwa gereja bukanlah sebuah gedung atau acara kebaktian yang ada di hari minggu saja. Melainkan sebuah komunitas, sebuah keluarga besar atau kecil yang tekun belajar, ada kebenaran berdoa bersama, duduk, memecahkan roti, perjamuan kudus bersama, makan-makan bareng, dan saling tolong satu sama lain.

Jadi, jangan cuma sekedar duduk “in rows”, duduk dalam barisan, tapi berubahlah. Jangan hanya sekedar jadi pendatang, jadi penikmat. Bukan hanya sekedar jadi orang yang mau mengambil saja. Mengambil berkat saha. Tetapi harus berubah dari “rows menjadi circle”, menjadi orang yang ikut memiliki, ikut mengasihi, dan ikut memperhatikan.

Dan ini adalah blueprint yang dicontohkan oleh gereja mula-mula dan yang kita perlu terus bangun. Spiritual family, bukan follower, tetapi “real friendship”. Bukan likes, tetapi real love. Dimana kita diingatkan kembali untuk membangun gereja betul, tetapi gereja rasa keluarga.

Dan ini hanya bisa dilakukan bukan di tempat seperti ini, tetapi kalau kita join kelompok kecil, small group, dan komunitas yang kecil, dimana disitu nama Yesus ditinggikan, dan kita bisa berinteraksi satu dengan yang lain.

Betul, kita perlu bertemu seperti ini untuk “celebration”, untuk merayakan Tuhan bersama-sama. Tapi tidak kalah pentingnya untuk kita berkumpul dalam kelompok yang lebih kecil, karena apa yang tidak bisa diberikan oleh dunia, dunia maya, kita bisa menciptakannya dalam komunitas yang lebih nyata, dimana muka demi muka, hati ketemu hati.

Karena itulah kita harus terus menjaga, membangun komunitas kecil kita sehingga kita bisa terus saling menolong dan memperhatikan satu sama lain. Dengan inilah, Kasih Tuhan dinyatakan, dan dari situ kita bisa keluar dan mengubah dunia. We live life from the inside out.