JPCC Online Service (31 October 2021)
Selamat hari Minggu, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, apa kabarnya? Senang bisa kembali bersama dengan Saudara semua hari ini. Saya berharap Anda semua dalam keadaan yang baik dan sehat. Dan tentunya tidak terasa ya, kita sudah sampai di akhir bulan Oktober 2021. Saya sungguh bersyukur melihat begitu banyak kemajuan yang terjadi, di kota kita, di bangsa kita. Tapi juga, mari kita juga terus tetap melakukan bagian kita dalam berjaga-jaga dan berdoa. Percaya, bahwa keadaan akan terus menjadi lebih baik, ada amin? Amin!
Nah, selama bulan ini kita belajar tema “Strength is for Service”; atau dalam bahasa Indonesianya, ”Kekuatan adalah Untuk Melayani”. Dan kita sudah belajar selama beberapa minggu ini, melalui teladan hidup Yesus; bagaimana Dia dengan sengaja memilih untuk melepaskan hak-Nya sebagai raja, untuk menjadi seorang hamba yang melayani. Tapi saat yang bersamaan, Yesus tidak pernah lupa jati diri-Nya; bahwa Dia adalah seorang Raja yang berkuasa.
Dan sebagai anak-anak Allah, Tuhan ingin kita untuk bisa belajar memimpin di setiap area kehidupan kita. Baik sebagai orang tua, sebagai anak, sebagai pemimpin perusahaan, business owners (pengusaha), ataupun pekerja dalam perusahaan, sebagai pelajar, apa pun status ataupun profesi kita di mana pun kita berada hari ini, Tuhan mau kita memimpin dengan hati seperti seorang hamba yang selalu siap melayani sesama kita. Memiliki mental raja yang memerintah dengan hati hamba. Nah, hari ini, kita akan mencoba melengkapi pengajaran kitad an saya ingin pertama-tama mengajak Anda semua untuk membaca Roma 15:1-2 (TB).
Opening Verse – Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat u dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri. Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya v untuk membangunnya. Roma 15:1-2 (TB)
Kita,— yang dimaksud dengan ‘kita’ di sini adalah,pengikut Kristus, kita yang sudah percaya kepada Tuhan Yesus,sebagai Tuhan dan Juruselamat— Kita, yang kuat, —nah, dalam bahasa aslinya kata ‘kuat’ di sini,adalah ‘dunatos’ atau berkuasa, punya pengaruh, punya resources yang lebih,atau memiliki kemampuan dan kekuatan yang lebih. Lalu dikatakan: …wajib…Nah, ‘wajib’ ini artinya harus, ya Saudara;bukan opsi, bukan usulan atau suggestion. Wajib! Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri. Ayat kedua dikatakan, Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya.
Pretty much yang dikatakan, bahwa kita sebagai pengikut Kristus, kita ini jangan jadi egois. Kita harus memikirkan kebutuhan orang lain, bahwa di situ ada kata ‘mencari’ bahkan. Mencari adalah sebuah tindakan yang aktif;kita harus dengan aktif mencari apa yang menjadi kebutuhan orang lain, dan kita wajib untuk menanggung kelemahan mereka yang memiliki kebutuhan.
Saudara, ini adalah instruksi, cara hidup pengikut Kristus yang Paulus berikan kepada gereja di Roma. Dan kalau Saudara baca firman Tuhan di Perjanjian Baru, ada begitu banyak pesan yang kurang lebih sama, ya,di banyak surat-surat di Perjanjian Baru. Tema hidup orang Kristen itu, saling melayani, Saudara.
Nah, waktu kita bicara tentang strength atau kekuatan, tentunya sangat erat kaitannya dengan tujuan hidup, dan tujuan hidup kita tidak akan pernah lepas dari yang namanya menjawab kebutuhan yang ada di sekitar kita. Hidup yang bermakna adalah hidup yang dapat berkontribusi kepada sekitar kita.
Sebaliknya, hidup yang sia-sia adalah kehidupan yang hanya mencari kesenangan sendiri. Menarik sekali, di dalam bahasa Indonesia, kata lain dari ‘sia-sia’ adalah tidak ada gunanya. Jadi dengan kata lain, kehidupan yang sia-sia itu adalah hidup yang tidak bisa memberi guna bagi sekitar kita. Dan tentunya saya percaya, bahwa tidak ada satu pun dari kita yang ingin atau wishing untuk hidup sia-sia, bukan? Kenapa? Karena memang seperti itulah, Tuhan mendesain kita.
Somehow, we feel alive, lebih hidup, ketika kita tahu bahwa keberadaan kita dapat membuat kehidupan orang lain menjadi lebih baik. Nah, itu sebabnya, di balik layar ini, yang Saudara tonton—Saudara tidak bisa melihat, tapi saya bisa melihat—ada begitu banyak volunteers yang memberikan waktu mereka, tenaga mereka, keahlian mereka, kemampuan mereka, untuk melayani Saudara semua setiap minggunya.
Dan saya juga ingin ambil waktu sebentar, untuk ucapkan terima kasih, mengapresiasi, untuk semua volunteers yang melayani, baik yang terlihat ataupun tidak terlihat, dan saya yakin lebih banyak yang tidak terlihat. Terima kasih untuk teman-teman di Next Generation, yang setiap minggu tidak lelah-lelah, memberikan pesan kepada setiap orang tua, untuk anaknya bisa join Zoom, di Small Group. So, thank you for that!
Kenapa mereka melakukan itu semua? Bahkan tidak hanya sekali dua kali? Karena mereka tahu bahwa, di balik daripada kontribusi mereka, mereka mereka membuat atau sedang berpartisipasi untuk melakukan—berpartner dengan Tuhan— hal-hal yang baik. Nah, saya mau ajak Saudara, baca satu ayat lagi, di Efesus 2:10 (TB).
Supporting Verse – Dikatakan seperti ini: Kita adalah ciptaan Allah, dan melalui Kristus Yesus, Allah membentuk kita supaya kita melakukan hal-hal yang baik—nah, saya mau Saudara garisbawahi kata ‘hal yang baik’— yang sudah dipersiapkan-Nya untuk kita. Efesus 2:10 (TB).
Saudara, bicara tentang hal-hal yang baik, hari-hari ini, kalau boleh jujur sama Saudara, melakukan hal yang baik itu sebenarnya gampang-gampang susah, Saudara. Kenapa? Karena sering kali kita ini sebagai manusia, sangat mudah terjebak di dalam kenyamanan. Hari-hari ini, semuanya serba mudah, serba instan, dan selama pandemi ini, terus pasti banyak di antara kita yang mungkin, lebih sering belanja online. Dan pastinya ini sudah jadi kebiasaan yang baru ya, sudah hampir dua tahun ya, sudah jadi habit untuk belanja online. Dan, saya enggak tahu bagaimana dengan Saudara, setiap kali saya buka handphone saya, saya mau belanja, saya disodorkan dengan begitu banyak promo dan flash sale, dari toko-toko online yang saya sering kunjungi. Dan enggak ada yang salah dengan itu.
Cuma setelah saya pikir-pikir, secara enggak sadar, terkadang, saya bisa jadi orang-orang yang hanya mau beli kalau ada yang menguntungkan bagi saya. Ini pengakuan mamak-mamak, ya! [TERTAWA] Saya kalau lagi belanja online, saking seringnya disodorin promo, terkadang tuh punya default setting: sebelum bayar, saya enggak tahu kenapa, selalu cari kupon promo, Saudara.
Kayaknya kalau enggak ada diskon tuh, ada yang kurang, Saudara. Padahal sebenarnya ya– Suatu hari saya terbangun gitu ya, kalau dipikir-pikir, sebenarnya saya ini punya kemampuan untuk beli tanpa pakai kupon promo. But, don’t get me wrong! Saya enggak against dengan kupon promo, ya. Saya justru bersyukur ada banyak business owners yang memberikan diskon di hari-hari atau masa-masa pandemi seperti ini, sehingga begitu banyak teman-teman kita yang memang betul membutuhkannya, mereka tetap bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.
Tapi, Saudara, kita perlu hati-hati! Jangan sampai, kita terbentuk secara tidak sadar menjadi orang-orang yang hanya mau bertindak kalau ada yang menguntungkan bagi kita. Karena ini yang Paulus maksud dengan ‘mencari kesenangan sendiri’. Kita tidak diciptakan seperti itu. Kita diciptakan oleh Tuhan untuk melakukan hal-hal yang baik, no matter what. Dan saya perlu garisbawahi, bahwa,setiap hal yang baik, pasti ada harganya. Saya ulangi sekali lagi: setiap hal yang baik pasti ada harganya.
Tidak ada yang gratis di dunia ini. Kalau orang bilang,”There is no such thing as free lunch!” (Tidak ada makan siang yang gratis); pasti ada yang bayarin! Bahkan, Saudara, keselamatan pun tidak gratis! Betul, kita menerimanya dengan cuma-cuma, tetapi Kristus membayarnya dengan harga yang tertinggi; It costs Him everything. Nah, Saudara dia rela bayar harga tertinggi, bagi Saudara dan saya, demi supaya Saudara dan saya dapat kembali mengalami semua yang baik, yang sebenarnya Tuhan sediakan dalam kehidupan kita sejak mulanya.
Supporting Verse – Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan, ” bagi kemuliaan Allah, Bapa! Filipi 2:5-11 (TB)
Yang tulis ini juga Rasul Paulus, Saudara,tapi dia kali ini tulis buat jemaat di Filipi. Dia menghimbau jemaat di Filipi untuk memiliki jiwa, hati, pikiran (mindset), seperti Kristus. Seperti apa jiwa Kristus? Ayat keenam dikatakan: Pada dasarnya Ia sama dengan Allah,—Kristus adalah pribadi kedua dari Allah Tritunggal, Dia sama dengan Allah—… tetapi Ia tidak merasa bahwa keadaan-Nya yang ilahi itu harus dipertahankan-Nya. Sebaliknya, Ia melepaskan semuanya lalu menjadi sama seperti seorang hamba. Dia melepaskan hak-Nya.
Maksudnya apa ‘melepaskan hak-Nya’? Artinya,Dia sebenarnya berhak, tapi Dia tidak menggunakan hak-Nya—Dia lepaskan. Dia menjadi sama seperti manusia dan nampak hidup seperti manusia.
Ayat kedelapan—luar biasa— dikatakan: Ia merendahkan diri, dan hidup dengan taat kepada Allah sampai mati—yaitu mati disalib. Wow, there is nothing glamorous in that verses. Enggak ada yang glamor di dalam beberapa ayat itu. Dia Raja, tapi Dia mau datang sebagai hamba. Bahkan, Dia datang tanpa status sosial apa pun, Saudara. Saudara, apakah Saudara pernah bertanya: kenapa Tuhan Yesus mau lakukan itu semua? Dia mau sebegitu repotnya?Dan tidak ada alasan lain, selain oleh karena kasih.
Kasih-Nya yang begitu besar buat Saudara dan saya. Saudara, kasih atau ‘love’,seringkali membuat kita mau repot, benar enggak, Saudara? Mungkin di sini ada yang lagi PDKT, gitu ya? Lagi fall in love, lagi kesengsem. Jadi terkadang kalau lagi kesengsem, Jakarta-Bandung itu enggak terasa begitu jauh. Tapi Saudara, saya mau katakan bahwa kasih Kristus itu jauh lebih besar, lebih hebat, dari sekadar rasa kesengsem, ketika kita lagi jatuh cinta.
Karena kasih itu tidak hanya sekadar perasaan; kasih menuntut kita untuk melakukan sesuatu. Sebegitu besarnya kasih Tuhan untuk Saudara dan saya, sehingga Dia melepaskan semua kenyamanan surga, dan memilih untuk menjadi manusia yang terbatas, sama seperti Saudara dan saya. Dikatakan, Dia merendahkan diri, Dia hidup taat, bahkan melewati proses, sama seperti manusia lainnya. Dia perlu tumbuh besar, Dia perlu belajar hukum Taurat sebagai anak Yahudi, bahkan—tidak sampai di situ—Dia sampai mempersembahkan diri-Nya untuk menjadi korban, disalibkan, sekali untuk selamanya, hanya supaya kita boleh beroleh keselamatan.
Waw! Saudara, setiap kali saya merenungkannya hati saya tidak bisa tidak tersentuh dan terharu, bahwa ada seorang Pribadi yang mengasihi saya sebegitu “gila”-nya, sehingga Dia mau repot untuk saya. Saya enggak tahu apa yang sedang Saudara alami hari-hari ini. Mungkin ada di antara Saudara yang merasa sendiri, merasa ditinggalkan, merasa gagal atau merasa stuck dalam kehidupan ini. Saya ingin katakan bahwa Yesus mengasihimu dan kasih-Nya tidak pernah dan tidak bisa meninggalkanmu.
Dia mengerti perasaan Saudara. Dia sendiri pun pernah sendirian, ditolak, ditinggalkan, dihina, dicemooh, disalibkan, bahkan oleh orang-orang yang Ia kasihi. Nah, saya berharap, hari ini, izinkan kasih Tuhan yang luar biasa itu, sekali lagi menjamah dan menolong Saudara. He loves you! Dan Dia sudah bayarkan harga yang tertinggi, yang terbaik, untuk membuktikan kasih-Nya bagi Saudara dan saya. Dan tentunya, Dia tidak ingin kita hanya menikmati kasih-Nya. Dia mau untuk kita meneruskan kasih-Nya kepada semua orang, kepada sesama kita.
Supporting Verse – Aku memberikan perintah baru kepada kamu,—baru artinya yang lama sudah enggak berlaku ya. Dia bilang, ”This is the new command.“ Dan Saya mau engkau lakukan ini: yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus— again, bukan suggestion, bukan usulan,tetapi wajib, harus— saling mengasihi. Yohanes 13:34 (TB)
Dengan kata lain, Yesus bilang bahwa, sama seperti Dia mau repot untuk kita oleh karena kasih, Saudara, kita pun dipanggil untuk mengikuti teladan-Nya, menjadi mau repot bagi sesama kita manusia. Semua katakan, ”Mau repot.” Semua katakan, ”Aku mau repot.” That’s good! Kita dipanggil untuk mau repot bagi sesama kita. Bukan untuk kesenangan atau keuntungan kita sendiri tetapi oleh karena kasih yang sudah kita alami di dalam kehidupan kita, His love for us requires us to love others. Kasih-Nya bagi kita mengharuskan kita untuk juga mengasihi orang lain.
Jadi, sebagai anak-anak Tuhan, Kita tidak pernah dipanggil untuk hidup nyaman, Saudara. Tetapi kita dipanggil untuk melakukan pekerjaan yang baik. Dan semua yang baik—ingat— semua yang baik ada harganya. Dan pertanyaan yang berikutnya adalah ini:— Ini pertanyaan yang seringkali saya juga tanyakan pada diri saya sehari-hari—.
Pertanyaannya adalah ini: what does love require of us? Apa yang kasih tuntut untuk kita lakukan? What does love require of us? Apa yang kasih tuntut untuk kita lakukan?
I’m glad you asked! Nah, saya mau ajak Saudara baca satu bagian dari Injil,di mana Yesus sebenarnya sedang memberikan preview atau teaser, tentang hari penghakiman terakhir in the future.
Supporting Verse – “Apabila Anak Manusia datang sebagai Raja[31] diiringi semua malaikat-Nya,—Dia sedang bicara tentang diri-Nya sendiri, kelak nanti Dia akan datang kembali— Ia akan duduk di atas takhta-Nya yang mulia. Segala bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya. Lalu Ia akan memisahkan mereka menjadi dua kumpulan seperti gembala memisahkan domba dari kambing. Orang-orang yang melakukan kehendak Allah akan dikumpulkan di sebelah kanan-Nya, dan yang lain di sebelah kiri-Nya. Kemudian Raja itu akan berkata kepada orang-orang di sebelah kanan-Nya, ‘Marilah kalian yang diberkati oleh Bapa-Ku. Masuklah ke dalam Kerajaan yang disediakan bagimu sejak permulaan dunia. Sebab pada waktu Aku lapar, kalian memberi Aku makan, dan pada waktu Aku haus, kalian memberi Aku minum. Aku seorang asing, kalian menerima Aku di rumahmu. Aku tidak berpakaian, kalian memberikan Aku pakaian. Aku sakit, kalian merawat Aku. Aku dipenjarakan, kalian menolong Aku.’ Lalu orang-orang itu akan berkata, ‘Tuhan, kapan kami pernah melihat Tuhan lapar lalu kami memberi Tuhan makan, atau haus lalu kami memberi Tuhan minum?Kapan kami pernah melihat Tuhan sebagai orang asing, lalu kami menyambut Tuhan ke dalam rumah kami? Kapan Tuhan pernah tidak berpakaian, lalu kami memberi Tuhan pakaian? Kapan kami pernah melihat Tuhan sakit atau dipenjarakan, lalu kami menolong Tuhan?’ Raja itu akan menjawab, ‘Ketahuilah: waktu kalian melakukan hal itu, sekalipun kepada salah seorang dari saudara-saudara-Ku yang terhina, berarti kalian melakukannya kepada-Ku!’ Matius 25:31-40 (BIS)
Waw! Lalu kalau Saudara lanjutkan dan baca dari ayat 41 sampai 46, tentunya enam ayat kemudian bicara mengenai apa yang terjadi, pada orang-orang yang ada di sebelah kiri. Mereka orang yang tidak–memilih untuk tidak mengulurkan pertolongan mereka, bagi mereka yang memerlukan, padahal sebenarnya mungkin mereka bisa. Dan akhirnya Yesus berkata, bahwa mereka akan dihukum dengan hukuman yang kekal. Dan bagi yang melakukan kehendak Allah adalah sebaliknya; mereka akan mengalami hidup sejati dan kekal.
Supporting Verse – Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku. Lalu merekapun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal. Matius 25:41-46 (TB)
You see, saya sebenarnya senang, setiap kali saya baca Alkitab, seringkali kita menemukan banyak kunci atau rahasia kehidupan yang sudah Tuhan sediakan. Dan di sini Yesus sebenarnya baru saja kasih kunci jawaban untuk semua yang mendengarkan Dia— murid-murid-Nya di saat itu,dan buat kita yang membaca— bahwa kehendak-Nya, adalah untuk kita turut memperhatikan hal-hal yang menjadi perhatian buat Tuhan.
Apa yang penting buat Tuhan, seharusnya juga menjadi penting buat kita. Kembali lagi ke pertanyaannya: what does love require of you and me? Apa yang kasih tuntut untuk kita lakukan? Dan jawabannya adalah love requires us to do the extra mile.
Kasih akan selalu menuntut kita untuk mau repot. Kasih menuntut kita untuk selalu mau repot. Saudara, semakin ke sini saya semakin sadar bahwa, musuh terbesar dari kasih itu bukanlah kebencian, Saudara. Musuh terbesar dari kasih adalah ketidakpedulian kita terhadap kebutuhan yang ada di sekitar kita.
Terkadang mungkin kita berpikir, ”Ah, saya ini ‘kan enggak punya banyak! Apa yang saya bisa bantu buat orang lain?” Tapi saya mau Saudara belajar dan mengerti bahwa, kita tidak perlu tunggu untuk punya banyak untuk bisa menolong orang lain. Dan saya percaya setiap dari kita punya sesuatu, untuk kita bisa berikan kepada orang lain.
Nah, saya mau dengan cepat berikan sedikit clue untuk Saudara; keluar dari ibadah hari ini, apa yang kita bisa lakukan. Di ayat pertama yang kita baca tadi di Roma 15:1-2 (TB),kita bisa temukan dua clue, dua hal yang kita bisa lakukan.
Nah, saya mau bacakan versi The Message untuk Saudara, dikatakan seperti ini:
Supporting Verse – Those of us who are strong and able in the faith need to step in and lend a hand to those who falter, and not just do what is most convenient for us. Strength is for service, not status. Each one of us needs to look after the good of the people around us, asking ourselves, “How can I help?” Romans 15: 1-2 MSG
’Those who are strong and able in the faith,—mereka yang kuat dan mampu dalam iman—need to step in and lend a hand to those who falter,—perlu turun tangan dan membantu mereka yang sedang goyah—and not just do what is most convenient for us—dan tidak hanya melakukan apa yang paling nyaman saja bagi kita.
Strength is for service, not status;—kekuatan adalah untuk melayani dan bukan status. Clue-nya ada di sini: Each one of us needs to look around–to look after the good of the people around us,—masing-masing dari kita perlu menjaga kebaikan orang-orang di sekitar kita—asking ourselves, “How can I help?”—bertanya pada diri sendiri, “Bagaimana saya bisa membantu?”—Dua hal yang bisa kita lakukan— dengan cepat saja.’
Yang pertama, look around (lihat sekitarmu).
Ambil waktu, untuk lihat sekitarmu. Di rumah Saudara, di tempat kerja Saudara; lihat sekitarmu. Atau bahkan mungkin Saudara lagi scroll social media. Lihat sekitarmu, teman-temanmu yang kamu lagi follow, ambil waktu untuk perhatikan mereka, pikirkan mereka. Lihat sekitar, jangan hanya fokus dengan apa yang kita perlu. Ambil waktu untuk lihat sekitar.
Dan yang kedua, ask, “How can I help?”
Tanya, “Bagaimana saya bisa membantu?” Ask, “How can I help?” Ambil waktu, tanya orang tuamu—kalau Saudara tinggal dengan orang tuamu, apa yang Saudara bisa bantu? Atau anak—tidak ada salahnya orang tua bertanya kepada anak-anaknya, “Apa yang bisa dibantu?”
Para suami, istri, take a pause, look around,tanya apa yang bisa dibantu. Kalau Saudara bekerja, tanya pemimpin Saudara, apa yang bisa Saudara bantu. Atau mungkin suatu hari, Saudara sedang di rumah, Roh Kudus ingatkan Saudara akan seseorang, mungkin Saudara bisa angkat telepon Saudara, telepon mereka, tanya, ”Apa yang bisa dibantu?” Let’s look around and ask, ”How can I help?”
Terdengar sangat simple, Saudara. Tapi Saudara, bayangkan kalau kita semua, sebagai pengikut Kristus, kita lakukan ini setiap hari: ada satu orang yang mungkin kita bisa bantu, setiap hari, menggunakan kekuatan kita, memenuhi kebutuhan yang ada di sekitar kita, saya sungguh percaya ada perubahan yang radikal, bisa terjadi di keluarga kita, tempat kita bekerja, di kota dan bangsa kita, dan saya percaya ketika ada budaya Kerajaan Allah yang terjadi, pasti kasih dan kemuliaan Tuhan akan dinyatakan melalui setiap pertolongan yang Saudara berikan kepada mereka yang ada di sekitar Saudara.
Mari kita jadi generasi yang secara aktif mau repot untuk orang lain. Bukan untuk kesenangan kita sendiri, tetapi supaya kemuliaan Tuhan boleh dinyatakan di dalam keseharian kita. Dan saya percaya waktu kita melakukannya, ada Generasi Bintang yang bersinar dan bisa menjadi jawaban di tengah-tengah masa sulit sekalipun.
Nah, saya mau akhiri dengan ayat ini,
Closing Verse – Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia, sambil berpegang pada firman kehidupan. Filipi 2:14-16 (TB)
Amin.
P.S : Hi Friends! I need a favor in terms of a freelancing job opportunity, please do let me know if any of you know a freelance opportunity for a copywriter (content, social media, press release, company profile, etc). My contact is 087877383841 and vconly@gmail.com, Sharing is caring so any support is very much appreciated. Thanks much and God Bless!



