Parenting is Hard By Ps. Johannes Thelee

Online Service (25 February 2024)

Apa kabarnya saudara? Selamat bergabung juga bagi saudara yang mengikuti secara online, saya percaya jika kita semua mencatat, maka kita akan diberkati dengan apa yang disampaikan melalui Firman Tuhan hari ini. Kita ada di Minggu ke-4 Dari sesi pengajaran tentang God-kind of Love, Kasih Tuhan yang Ilahi. Saya berharap kita semua sudah diberkati dengan apa yang sudah disampaikan beberapa minggu terakhir ini.

Kita sudah belajar bahwa Kasih Tuhan adalah fondasi dari setiap hubungan yang kuat. Jadi kalau kita bisa membangun hubungan dengan baik menjadi kuat itu bukan karena kehebatan kita tetapi karena kita terlebih dahulu telah menerima Kasih Tuhan yang bisa kita bagikan kepada orang yang ada di sekitar kita, baik itu di dalam hubungan pernikahan, atau hubungan dengan orang lain dalam hidup kita.

Opening Verse – Saudara-saudari yang saya kasihi, kalau Allah sudah begitu mengasihi kita, maka kita juga harus saling mengasihi. Tidak seorang pun pernah melihat Allah. Namun, bila kita saling mengasihi, maka Allah bersatu dengan kita, dan kasih-Nya nyata dengan sempurna melalui kita. ‭‭1 Yohanes 4:11-12 TSI‬‬

Jadi kalau ada cara yang paling baik supaya orang lain di sekitar kita bisa melihat dan bahkan merasakan Kasih Allah adalah melalui hubungan yang kita bangun dengan mereka. Hari ini, kita akan melihat bagaimana kita bisa membangun hubungan keluarga yang baik melalui Kasih Tuhan yang dinyatakan di dalam hidup kita, khususnya dalam hubungan orang tua dengan anaknya.

Apa yang saya sampaikan hari ini sangat penting untuk kita cermati karena dari manapun kita berasal, apa kita berasal dari keluarga yang baik, utuh atau tidak, pada akhirnya kita semua berasal dari sebuah keluarga, apakah kita sudah berkeluarga atau belum, kita semua perlu mendengar ini.

Bagi yang belum berkeluarga, tentunya saudara perlu lebih berhati-hati di dalam memilih pasangan hidup. Kita sudah belajar minggu lalu bahwa dibutuhkan banyak komunikasi, kompromi dan komitmen di dalam membangun sebuah pernikahan, khususnya di dalam memelihara kesatuan dalam pernikahan karena itu akan mendatangkan berkat dalam pernikahan dan membenatu melipatgandakan Kekuatan dan Kuasa yang ada di dalamnya, serta mencerminkan hubungan antara Kristus dan JemaatNya, khususnya bagi anak-anak kita. 

Apa yang kita bangun di dalam pernikahan kita akan memberikan dampak bagi kehidupan mereka, mereka akan melihat bagaimana Tuhan memberkati keluarga ini, bagaimana kekuatan datang dari kematangan pernikahan dan keluarga yang dibangun, serta bagaimana Tuhan bisa tercermin di dalam hubungan pernikahan kita.

Jika saudara berasal dari keluarga yang sudah baik, utuh dan bahagia, tentunya saudara ingin membangun keluarga yang paling tidak sama baiknya. Untuk itulah saudara perlu mempelajari apa yang penting dan kurang penting dalam membangun kehidupan keluarga seperti itu. Ada juga saudara yang mungkin datang dari keluarga yang broken, saudara dapat mengambil keputusan agar kehancuran atau kerusakan itu bisa berhenti di saudara saja dan tidak perlu mengulangi kesalahan yang ada, keputusannya ada di tangan saudara.

Saya berharap pesan hari ini bisa membawa saudara melangkah maju, membangun dan memelihara kehidupan keluarga yang saudara inginkan. Tentu tidak ada satupun dari kita disini yang bercita-cita untuk gagal sebagai orang tua, bukan? Kita semua mau menjadi orang tua yang berhasil. Tetapi saya bisa berkata dengan jujur bahwa mendidik anak itu tidaklah mudah.

Itu sebabnya judul kotbah saya adalah “Parenting is Hard”. Mendidik anak memang sulit karena pertama-tama, tidak ada satupun anak kita yang lahir dan membawa buku panduan. Atau mungkin beberapa banyak dari pasangan yang menikah dibekali dengan pengetahuan yang benar tentang Parenting. Pada umumnya hal itu jarang terjadi, bahkan disini saudara ikut parenting class yang ditujukan untuk jemaat yang sudah punya anak, dengan spesifik umur anak yang berbeda-beda. 

Pada umumnya tidak ada Dan biasanya yang terjadi adalah pengulangan dari apa yang mereka lihat, alami dan rasakan dari didikan orang tua dan orang yang ada di sekeliling hidup mereka, entah itu pengalaman baik atau buruk, biasanya diulangi juga walaupun kadang kita tahu itu salah tetapi sengaja atau tidak, kita ulangi juga pada akhirnya.

Sejak hari pertama anak kita dilahirkan, yang pertama kali terjadi adalah anak tersebut akan mengubah aktifitas orang tuanya. Pertama-tama waktu tidur berkurang, waktu untuk berkomunikasi dengan pasangan akan terganggu, belum lagi waktu untuk berhubungan intim, apalagi jika seperti yang Ps. Jeffrey katakan minggu lalu kalau kita menaruh anak kita di tengah-tengah ranjang antara kita dengan pasangan dan lupa mengangkatnya sampai mereka besar.  

Tetapi biasanya pasti akan mengubah keseharian aktifitas hubungan yang terjadi antara pasangan. Masalahnya adalah anak kita juga bukan seperti robot yang bisa diatur switch on dan offnya, pada saatnya kita suka bisa dinyatakan dan saat kita tidak suka bisa dimatikan tombolnya, tentu tidak bisa! 

Mereka seringkali tidak tahu waktu yang tepat dan benar untuk melakukan sesuatu, itu sebabnya anak perlu diajar dan dilatih agar mereka tidak menjadi kurang ajar. 

Supporting Verse – Didikan dan teguran menjadikan orang bijaksana.
Anak yang selalu dituruti kemauannya akan memalukan ibunya. Amsal 29:15 BIMK

Makanya tidak bisa saja hanya dituruti kemauannya saja karena mereka pada dasarnya tidak mengerti caranya serta kapan waktu yang tepat dan benar untuk melakukan sesuatu. 

Supporting Verse – Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketentraman kepadamu, dan menjadi hiburan bagimu. Amsal 29:17 BIMK

Hiburan di dalam terjemahan lain dikatakan sebagai sukacita dalam hidup kita, ada juga kata “maka”, kata ini mengindikasikan sebuah “akibat” yang datang dari sebuah “sebab”. Itu sebabnya didikan harus terlebih dahulu terjadi sebelum kita mendatangkan akibatnya, yaitu kita bisa mendapatkan ketentraman, dan melihat anak kita menjadi sumber sukacita dan penghiburan bagi kita.

Pertama, ada PR yang harus kita lakukan dahulu dengan memberikan didikan dan nasihat. Didikan biasanya terjadi terlebih dahulu di dalam rumah, dan bukan terjadi di mall atau tempat umum. Dimana jika itu terjadi di tempat umum, kita akan merasa malu dan tertekan karena anak kita melakukan sebuah tindakan yang tidak terpuji.

Sering tentunya kita lihat ini terjadi, dimana orang tua marah-marah sambil memukul anaknya karena membuatnya malu, dan hal ini terjadi terulang-ulang yang memperburuk hubungan antata orang tua dan anaknya. 

Didikan seharusnya terjadi terlebih dahulu di rumah. Salah satu contoh yang bisa kita lakukan adalah mungkin janjian dulu dengan anak kita sebelum kita pergi ke tempat umum seperti Mall. 

“Nak, kita mau pergi ke mall, kamu mau ikut tidak?”, anak kita tentu berkata “Mau!”, dan kita bisa merespon seperti “Tetapi janji ya bahwa kita hanya akan melihat-lihat saja, dan tidak membeli mainan, kan kemarin baru saja beli mainan baru. Dimainkan dulu mainan itu dan setelah beberapa saat baru kita beli lagi, dan jika nanti di mall ada mainan yang kamu suka, didoakan dulu, siapa tahu suatu hari doanya dijawab dan Tuhan berkati sehingga kamu bisa beli mainannya lagi”.

Tetapi apa yang terjadi jika sudah janjian dan disaat sudah sampai di mall anak kita masih merengek juga dan ingin membeli mainan itu? Pelan-pelan tentu kita harus menariknya, karena sebagai orang tua kita harus belajar untuk sabar. Percayalah, setelah beberapa waktu anak anda akan berhenti menangis. Tetapi jangan terjebak di dalam marah, dan jika anak kita melakukan itu, maka di rumah kita bicarakan lagi bahwa karena mereka tidak menepati janji yang ada maka berikutnya mereka tidak boleh lagi ikut ke mall bersama orang tua. Jadi selesaikan itu di rumah, supaya didikan dan nasihat bisa tetap berjalan dan bukan emosi belaka.

Itu sebabnya didikan harus terlebih dahulu dilakukan sebab tugas utama dalam mendidik dan membesarkan anak adalah tugas orang tua, bukan tugasnya Opa dan Oma, Guru Sekolah minggu, Guru Sekolah, dan juga Babysitter dan suster kita. Tugas utama adalah tugasnya kita, dan bisa dibantu oleh orang yang saya sebutkan tadi tetapi tugas utama dan tanggung jawab utamanya adalah kita semua sebagai orang tua.

Supporting Verse – Anakku, dengarkanlah nasihat ayahmu, dan jangan tinggalkan didikan ibumu. Karena nasihat dan didikan orangtuamu ibarat mahkota yang akan membuat engkau dihormati, dan seperti kalung peringatan yang menuntun langkah hidupmu. Amsal 1:8-9 TSI

Kita semua disini juga pasti adalah anak, dan ada keuntungan disaat kiat mendengar didikan dan nasihat orang tua kita, kehidupan kita akan terjaga dan dihormati, sebab pada dasarnya tidak ada orang tua yang ingin anaknya gagal dan tidak berhasil dalam hidup ini. Itu sebabnya kita sebagai orang tua perlu terus menerus belajar supaya kita bisa memberikan yang terbaik bagi anak kita.

Secara umum seorang anak biasanya akan lebih dekat dengan Ibunya, karena memang selama 9 bulan dia sudah terlebih dahulu berada di dalam kandungan ibunya, Itu sebabnya secara ikatan emosional dan kontak batik, ada keuntungan yang lebih awal antara Ibu dan Anak.

Itu sebabnya sebagai ayah, kita perlu dengan sengaja membangun hubungan yang dekat dengan anak kita supaya kita bisa menyusul, karena kalau kita tidak melakukan ini, maka jangan heran jika hubungan dengan anak kita menjadi renggang dan mereka menjadi lebih dekat dengan ibunya. Padahal yang perlu diperhatikan adalah ini, peranan saudara sebagai ayah sangat penting sebab kita belajar dari Firman bahwa kita memanggil Tuhan sebagai Bapa yang menyediakan bagi kita.

Demikian juga kita dipanggil sebagai Bapa, itu artinya kita menjadi perwakilan Tuhan Allah dalam gambaran Allah Bapa bagi anak-anak kita, itu sebabnya penting peranan ayah di dalam mendidik anak.

Supporting Verse – Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. Efesus 6:4 TB

Sebab kalau kita bangkitkan amarah di dalam hati anak-anak kita, maka sulit untuk mendengarkan nasihat dan didikan. Sebagai seorang ayah, kita bisa menjadi figur yang dapat memudahkan atau mempersulit anak-anak kita datang mengenal siapa Tuhan kalau kita tidak bisa mengendalikan emosi kita dan tidak bisa mendidik anak kita dengan benar. 

Mereka akan sulit untuk mengenal siapa Tuhan, tentang KasihNya kepada mereka, KuasaNya yang bisa bekerja di dalam dan melalui hidup mereka, mereka menjadi sulit untuk mengenal Janji Tuhan dalam hidup mereka. Bagaimana kita bisa menjadi Bapa yang baik kalau kita tidak terlebih dahulu punya hubungan yang baik dengan Bapa di surga?

Salah satu tugas utama kita sebagai ayah adalah kita juga harus punya hubungan yang baik dengan Bapa di surga. Sebab kita tidak bisa memberikan apa yang tidak pernah kita alami sebelumnya, tetapi kalau kita menerima dahulu Kasih Allah, punya hubungan yang benar dengan Tuhan, maka dengan mudah kita bisa meneruskan Kasih itu kepada anak-anak kita.

Maka denngan mudah kita bisa sabar dengan mereka dan mengampuni kesalahan mereka. Karena Tuhan Allah Bapa telah terlebih dahulu mengasihi kita dan sabar kepada pelanggaran kita. 

Supporting Verse – Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia. Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan. Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya. Kolose 3:18-21 TB

4 ayat yang kita baca ini adalah dinamika yang seharusnya terjadi di dalam kehidupan keluarga kita. Dinamika itu bahkan dimulai daripada bagaimana kita memperlakukan hubungan pernikahan kita, di dalam bagaimana kita memperlakukan suami dan istri kita, dimana kita harus belajar tunduk menghormati suami kita, dan sebagai suami juga kita harus mengasihi istri kita. Karena at the end of the day the key to great parenting is healthy marriage. 

Kalau pernikahan kita sehat, maka kita sudah melakukan 50% dari tugas mendidik anak yang benar. Sebab melalui pernikahan anak kita bisa :

  • Melihat contoh teladan hidup yang baik yang dipelajari bagi hidup mereka
  • Belajar bagaimana memperlakukan satu sama lain dengan benar
  • Belajar bagaimana saling menghormati dan mengasihi satu sama lain
  • Belajar bagaimana meresponi perbedaan yang ada
  • Belajar membangun budaya yang baik dalam berkata-kata dan bertingkah laku
  • Belajar bagaimana bekerjasama dengan orang lain, menjadi tidak sombong dan bersinergi dengan orang lain.

Semua ini bisa dipelajari dan dilihat melalui pernikahan yang sehat, apalagi anak-anak cenderung lebih visual daripada audio, lebih gampang mencontoh apa yang mereka lihat daripada sekedar contoh.

Dulu di camp pria sejati, saya ingat dalam sebuah makalah ada seorang ayah yang sedang menegur anaknya agar tidak merokok, tetapi sayangnya dia menegur disaat dirinya sendiri sedang memegang rokok. Susah tentunya untuk anak ikuti karena yang dia lihat tidak seperti apa yang dia dengar.

Jika pernikahan kita sehat, lebih gampang untuk anak kita bisa belajar sebab anak-anak adalah titipan Tuhan dalam hidup orang tua, tetapi tidak selamanya mereka akan tinggal bersama orang tua.

Mengasuh anak adalah sebuah proses pelatihan untuk anak-anak bisa menyongsong masa depan mereka, supaya mereka bisa punya kehidupan yang baik dan mengubah dunia ini menjadi garam dan terang dunia. Ingat bahwa anak-anak kita berada dalam generasi yang berbeda dengan kita, anak kita berada di dalam dunia yang punya kemudahan internet, dan berbagai stasiun TV yang bisa mereka akses. 

Dulu jika saya nonton TV dan menyukai satu film series, setelah menonton satu episode maka saya harus menunggu satu minggu kemudian untuk kelanjutannya. Untuk yang Gen Z, pasti tidak tahu akan hal ini karena sekarang sudah ada berbagai macam platform untuk menonton berbagai macam series secara full, sekarang untuk belajar sabar begitu susah karena begitu banyak pilihannya. 

Kenali anak kita, karena mereka penuh dengan potensi unutk menjadi berkat dan berdampak bagi generasi mereka. Tentunya mereka akan kelihatan lebih canggih dan pandai, tetapi di tengah semuanya itu mereka juga kurang pengalaman dan hikmat dan disitulah kita bisa masuk untuk berperan melakukan tugas kita sebagai orang tua.

Tugas kita sebaga orang tua adalah Godly Parenting.

Godly parenting is to help them grow in the knowledge and in the plan of God.

Beberapa tips atau hal praktis yang bisa kita lakukan di dalam mendidik anak kita.

1. Manfaatkan setiap waktu yang kita miliki. 

Kita tidak memiliki semua waktu yang ada di dunia ini, jangan sampai kita kehilangan momen berharga di dalam mendidik dan membesarkan anak kita. Momen seperti dimana saudara bisa berpelukan dengan anak kita, kelitikan, cium dan main bersamanya, karena semua itu tidak akan bisa dilakukan lagi suatu hari nanti disaat remaja. 

Bahkan laki-laki lebih cepat pertumbuhannya. Mereka akan malu jika kita melakukannya disaat remaja. Semuanya itu jangan sampai kita kehilangan momennya. Jangan sampai disaat dia beranjak remaja, kita menjadi susah untuk mengajak anak kita pergi karena dia lebih suka pergi bersama temannya. 

Manfaatkan waktu dan lakukan sebanyak mungkin disaat masih bisa, karena anak-anak kita butuh untuk diterima, dikasihi, disetujui dan dipuji. Saya mengerti terkadang ada waktu dimana kita merasa lelah setelah bekerja tetapi tidak dibutuhkan waktu yang terlalu lama untuk membangun quality time asalkan saudara mengenal anak-anak anda. Bagaimana saudara main dengan kakaknya mungkin berbeda caranya dengan adiknya, kenali bahasa kasih mereka untuk membangun waktu yang berkualitas.

2. Menemukan keseimbangan di setiap Musim yang berbeda.

Tahukah saudara bahwa ada musim yang berbeda-beda di dalam kita mendidik anak kita.

Supporting Verse – Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya. Pengkotbah 3:1 TB

Tuhan membuat segala sesuatu Indah pada waktunya. Itu sebabnya kita perlu mengenali periode dan musim apa saja yang terjadi dalam mendidik anak kita.

Pertama adalah Periode Disiplin, periode yang terjadi ketika anak berusia 0-5 tahun. Temukan keseimbangan di tengah musim ini dan berfokus kepada “apa”, karena anak-anak disaat ini belum tahu apa-apa dan baru belajar tentang hidup. Kita bisa mengutarakan ekspektasi saudara sebagai orang tua kepada anak anda dengan details dan jelas.

Fokus kepada apa yang mereka lakukan sebab anak-anak terlahir tanpa adanya pengendalian diri. Kita bisa fokus untuk menyampaikan apa yang harus mereka lakukan tanpa menjelaskan “kenapanya” terlebih dahulu. “Because I said so” berlaku di periode ini. Penting untuk menegakkan otoritas agar mereka tahu bahwa adalah sumber otoritas Dan ini adalah Periode yang tepat untuk menanamkan ketaatan dalam diri mereka.

Periode Kedua adalah Periode Training, terjadi biasanya di umur anak 6-12 tahun. Disinilah saudara mulai bisa fokus kepada “Mengapa”, menjelaskan mengapa mereka melakukan apa yang mereka lakukan sesuai dengan tingkat pengertian mereka. Menjelaskan alasan dan hubungan dengan nilai-nilai yang benar supaya mereka bisa belajar.

Mulai membangun hubungan pribadi dengan mereka, terbuka dan dengarkan apa yang mereka katakan. Banyak melakukan aktifitas bersama dan berikan pilihan sesuai dengan tingkat penguasaan diri mereka. 

3. Periode Ketiga adalah Periode Coaching, Dan biasa terjadi di usia 13-17 tahun. Saudara bisa fokus di periode ini kepada “Bagaimana”, dalam beberapa hal, tidak semua, bahkan saudara bisa menjadi sosok teman untuk anak anda.

Bagikan pergumulan hidup saudara supaya mereka bisa belajar dari itu. Berikan pilihan dan latih mereka untuk mengambil keputusan di periode, ajar mereka untuk memilih yang benar. Karena di periode berikutnya adalah Periode Partnership.

4. Periode Keempat adalah Periode Partnership, di usia 18 tahun keatas, periode dimana fokus kita lebih ke dalam konsultasi dan banyak berdiskusi dengan mereka karena anak-anak di periode ini lebih melihat contoh hidup daripada hanya kata-kata saja.

Banyak berdiskusi dengan mereka dan tetapi penting untuk menegakkan otoritas di periode ini. Walaupun kita bisa menjadi teman dan punya hubungan yang “asik” dengan anak anda, tetapi jangan lupa bahwa saudara tetapi adalah orang tuanya. Jangan sampai mereka menjadi kurang ajar kepada anda.

Kurang lebih itulah Periode yang ada dalam mendidik anak yang bisa kita pelajari dan kenali karena penting di dalam mendidik anak supaya kita tidak salah kaprah dan menemukan keseimbangan di dalam setiap musim yang berbeda-beda. 

3. Ajarkan anak kita untuk mengandalkan Tuhan

Namun untuk dapat melakukan ini, kita sebagai orang tua harus terlebih dahulu mengandalkan Tuhan supaya dia dapat melihat contohnya. 

Supporting Verse – Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati. Harta dan kekayaan ada dalam rumahnya, kebajikannya tetap untuk selamanya. Mazmur 112:1-3 TB

Kalau ada warisan terbesar yang bisa kita tinggalkan untuk anak kita adalah kalau kita bisa mencontohkan hidup takut akan Tuhan dan hidup mengandalkan Tuhan di dalam setiap jalan kehidupan kita.

Karena kalau kita tinggalkan harta, harta bisa habis baik itu berupa mobil, rumah, semuanya itu tidak akan berlangsung lama. Tetapi kalau Kita tinggalkan hidup takut akan Tuhan, nilai-nilai yang benar, mengandalkan Tuhan, maka mereka bisa berjalan di dalam masa depan mereka dengan baik sehingga nama Tuhan dimuliakan di dalamnya.   Kalau saudara disini adalah Single Parent, mungkin tanggung jawab ini akan menjadi lebih susah tetapi percayalah bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Atau mungkin saudara adalah yatim piatu dan sulit untuk melihat contoh karena tidak adanya orang tua.   Tetapi disitulah pentingnya peranan komunitas orang benar dan percaya sehingga melalui komunitas ini saudara bisa mendapatkan pertolongan Dan belajar satu sama lain. Bahkan ada orang-orang percaya yang bisa menjadi figur ayah atau ibu bagi saudara karena Tuhan mengasihi saudara dan tidak pernah meninggalkan saudara.   Closing Verse – Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para janda, itulah Allah di kediaman-Nya yang kudus. Mazmur 68:6 TB   Saya berdoa semoga Firman Tuhan ini memberkati kita semua. 

P.S : Mau info aja bahwa aku baru2 ini join supplier daging untuk Restoran dan B2C bernama Beli Babi, Bli! (BBB). Bagi yang tertarik, Feel free to visit our retail store (utk area Alsut, Tangerang, dan sekitarnya) ya : https://tokopedia.link/SZAWN1pxNGb 

Also, If you like our site, and would like to contribute, please feel free to do so at : https://saweria.co/316notes