JPCC Sutera Hall 2nd Service (10 August 2025)
Syalom dan Selamat Datang di JPCC! Siapa yang diberkati dengan kesaksian yang luar biasa tadi? Tidak ada salahnya kita berikan tepuk tangan lagi. Kita semua tidak bisa hidup sendirian. Kita butuh komunitas orang percaya satu sama lain yang bisa percaya, menerima dan membangun satu sama lain. Tetapi saya suka dengan apa yang tadi disampaikan dalam “This is my story”, bahwa kita punya banyak perkumpulan, pertemanan atau komunitas, tetapi di dalam komunitas orang percaya, kita bisa “speak life” into one another. Kita bisa saling berbagi kehidupan satu sama lain atas dasar kebenaran Firman Tuhan.
Jadi, saya harap jika ada dari saudara yang belum berjemaat dimanapun, saudara bisa tertanam di sebuah komunitas dimana kita bisa terus melihat bagaimana Tuhan bisa terus mengerjakan Kasih KaruniaNya di dalam tujuan hidup, identitas yang Tuhan berikan dalam hidup kita.
Hari ini kita masuk di dalam bagian kedua dengan tema pembelajaran tentang “Purpose“, atau Tujuan. Minggu lalu, kita sudah belajar bahwa tujuan selalu berhubungan dengan alasan “Mengapa”. Itu sebabnya ketika kita berbicara dan berhadapan dengan tujuan, kita sebenarnya sedang berbicara tentang alasan mengapa kita ada sebagaimana kita ada di dunia ini, mengapa kita diciptakan. Maka dari itu, ketika kita tidak mengenal tujuan hidup kita, tidak heran jika kita akan mengalami kekosongan dan kesia-siaan.
Mari kita lihat kembali apa yang sudah kita pelajari di minggu sebelumnya, melalui ayat berikut.
Opening Verse – [26] Berfirmanlah Allah: ”Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” [27] Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. [28] Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: ”Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Kejadian 1:26-28 TB
Disitulah kita menemukan identitas kita, bahwa kita semua sebagai manusia diciptakan menurut gambar Allah. Manusia, kita semua, diciptakan Tuhan untuk berkarya, untuk menjadi produktif, “be fruitful and multiply”, tetapi bukan hanya sekedar untuk berkarya saja tanpa tujuan yang mulia, tetapi kita berkarya agar bisa mencerminkan standar kemuliaan Allah yang begitu tinggi. Kita diberikan otoritas untuk mengelola bumi da seluruh ciptaan Tuhan yang ada di dalamnya.
Ayat ini juga menggambarkan sebuah tujuan awal yang seringkali dikenal “Cultural Mandate”, atau “Mandat budaya”.
Supporting Verse – [28] And God blessed them [granting them certain authority] and said to them, “Be fruitful, multiply, and fill the earth, and subjugate it [putting it under your power]; and rule over (dominate) the fish of the sea, the birds of the air, and every living thing that moves upon the earth.” Genesis 1:28 AMP
Tujuan awal manusia diciptakan adalah untuk mewakili Allah, menjadi perwakilan Allah di bumi untuk memerintah, memimpin, mengelola dan membangun budaya yang mencerminkan karakter Tuhan, Nilai-nilai Kerajaan Allah, sehingga bumi dipenuhi oleh pengetahuan dan kemuliaan Allah. Suatu otoritas dan tujuan yang begitu besar dan mulia, bagi manusia untuk mengelola ciptaanNya, dan menyebarkan kemuliaan sampai ke pelosok bumi.
Tetapi kita tahu bahwa dosa datang ke dalam dunia dan membuat hubungan Tuhan dan manusia terputus, sehingga kita kehilangan standar kemuliaan Allah dan tujuan yang Allah berikan di dalam hidup manusia.
Tetapi kita juga pelajari pada saat manusia jatuh dalam dosa, manusia tidak kehilangan kemampuan untuk berkarya, itu sebabnya dalam kondisi berdosa, manusia tetap bisa melanjutkan karyanya tersebut untuk menciptakan sesuatu melalui Karunia dan talentanya. Tetapi coba bayangkan, dengan Kuasa dan kekuatan yang begitu besar, yang diberikan kepada manusia, tetapi manusia kehilangan tujuan mulia yang begitu besar.
Mengapa kekuatan, Karunia, talenta dan gairah atau passion itu diberikan kepada manusia? Seumpamanya sama seperti seorang anak yang diberikan harta dan otoritas yang begitu besar tetapi kehilangan tujuan dan cara bagaimana menggunakannya itu. Tidak heran kalau hidupnya jadi berantakan dan kehilangan arah, serta kehilangan tujuan kenapa ini semua diberikan kepadanya.
Demikian juga dengan kita, ketika kita tidak sadar bahwa ada tujuan yang besar dan mulia di balik daripada Karunia dan Talenta yang diberikan Tuhan, kita bisa juga menjadi kehilangan arah.
Sharing Ps. Johannes – Beberapa waktu yang lalu ada seseorang yang datang kepada saya dan bertanya, “Apa kira-kira hubungannya antara panggilan, visi, gairah, mimpi, misi dan tujuan hidup? Bagaimana saya bisa melihat lebih jelas, berpikir dan mengambil keputusan yang bijaksana tentang semuanya itu? Karena semua terlihat kabur saat ini.”
Saya jadi teringat dengan sebuah kutipan dari Uncle Ben di film Spiderman, bahwa “With great power, comes great responsibility“.
Dengan kekuatan dan Kuasa yang begitu besar, Karunia dan Talenta yang begitu besar, datang juga tanggung jawab yang besar di balik semuanya itu. Berbicara soal Kuasa dan tanggung jawab, selalu akan mengacu kembali kepada si pemberi tanggung jawab.
Karena bagaimana mungkin kita mengerti tanggung jawab yang diberikan kepada kita kalau kita tidak mengenal siapa yang memberikan tanggung jawab itu kepada kita. Karena kita hidup bukan untuk menjalankan tugas, tetapi kita juga diciptakan untuk sebuah hubungan.
Pertama-tama, kita perlu mengenal si pemberi tanggung jawab supaya kita bisa menggali dan menemukan kekuatan yang Tuhan berikan kepada kita. Tanggung jawab selalu identik dengan tujuan.
Great power comes with great purpose.
Kuasa dan kekuatan yang begitu besar, datang juga dengan tujuan yang besar. Tanpa tujuan yang besar, maka sia-sialah kekuatan, talenta dan karunia yang datang kepada kita. Itu sebabnya “Tujuan dan panggilan hidup kita selalu berhubungan erat dengan tujuan dan rencana Tuhan untuk dunia ini“.
Jadi, bukan hanya tujuan dan panggilan hidup kita saja secara spesifik, tetapi tujuan dan panggilan hidup kita itu malah jadi berarti dan signifikan, membawa dampak yang luar biasa, karena tujuan dan panggilan hidup kita selalu berhubungan dengan tujuan dan rencana Tuhan atas dunia ini.
Jika kita tidak menyadari hal ini, maka tidak heran jika kita memakai kemampuan dan karunia yang Tuhan berikan hanya untuk kesukaan kita sendiri, dan akhirnya membuat kita berhenti di tengah jalan karena merasa kosong dan kehilangan arah. Walaupun Manusia rajin dan pandai dalam mengeluarkan potensi terbaiknya, tetapi manusia tidak dapat menemukan arti hidup yang sesungguhnya dan kepuasan hidu yang sejati, sebab semua itu hanya bisa didapat dari mengenal Tuhan secara personal.
True fulfillment comes from knowing God personally.
Karena kalau tidak, kita hanya menjalankan tanggung jawab tanpa mengenal si pemberi tanggung jawab dan akhirnya membuat kita capai dan kelelahan, seakan-akan hidup ini hanya sekedar menjalankan tugas dari satu tempat ke tempat lainnya. Itulah yang terjadi kalau kita hanya mengenal RencanaNya saja tanpa mengenal si pemberi rencana, tujuan dan tanggung jawabnya. Kita diciptakan untuk mengenalNya, untuk sebuah hubungan, untuk mencerminkan karakter dan kemuliaan Allah. Kalau kita mengenal Tuhan, pasti kita mengenal RencanaNya bagi kehidupan kita dan juga dunia ini.
Minggu lalu kita belajar juga tentang Raja Salomo, Seseorang yang sudah mendapatkan semua yang manusia kejar, mempunyai kedudukan sangat tinggi, sepertinya dia sudah mendapat semua yang kita cari dan kejar, namun di akhir hidupnya dia berkata bahwa segala sesuatunya itu kosong, hampa, dan sia-sia. Karena dia kehilangan tujuan utama dari kehidupan manusia yaitu untuk mengenal dan memuliakan nama Tuhan.
Supporting Verse – [13] Sesudah semuanya kupertimbangkan, inilah kesimpulan yang kudapatkan. Takutlah kepada Allah dan taatilah segala perintah-Nya, sebab hanya untuk itulah manusia diciptakan-Nya. Pengkhotbah 12:13 BIMK
Hal ini selaras dengan apa yang diucapkan juga oleh Rasul Paulus di jaman perjanjian baru.
Supporting Verse – [1] Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. [2] Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. [3] Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku. 1 Korintus 13:1-3 TB
Bukan berarti tidak bagus untuk memberi, tetapi kalau memberi tanpa Kasih, namanya pencitraan. Kalau kita punya Kasih, kita pasti akan memberi. Semua berkat dan kemampuan yang diberikan kepada kita berupa gairah, kekuatan dan talenta kita akan menjadi sia-sia jika kita tidak memakainya sesuai dengan tujuan sang pencipta.
Ingat, PerintahNya kepada kita adalah supaya kita mengasihi Tuhan dan sesama, saling mengasihi sama seperti Kristus telah mengasihi kita. Itulah yang menjadi dasar dari bagaimana kita hidup dalam tujuan dan rencana Allah di dunia ini. Itu sebabnya ketika kita tidak menemukan, menggali dan memakai talenta dan kekuatan kita untuk mengenal dan mengasihi Tuhan serta sesama. Maka tidak heran jika hidup kita tetapi terasa hampa dan sia-sia di tengah semua pencapaian yang kita miliki.
Di tengah-tengah semua kenyamanan, ketenaran dan kekayaan yang datang oleh talenta kita, tetapi jika kita kehilangan semua itu, maka tidak heran hidup kita akan menjadi hampa. Tetapi sebaliknya orang yang sadar bahwa gairah dan talentanya berasal dari Tuhan, dan dia pakai itu untuk mengenal dan memuliakan Tuhan dengan melayani sesamanya, meskipun dia menderita dari tantangan dan tekanan yang ada, bahkan sampai menderita, tetapi dia tetap bisa fokus, bertahan dan bahkan punya gairah untuk terus mengerjakan Karunia dan talentanya untuk mencapai tujuan, dan hidup dalam panggilan yang Tuhan berikan kepadanya. Tuhan Yesus sendiri menjadi contoh dan teladan akan hal ini.
Supporting Verse – [35] Kata Pilatus: ”Apakah aku seorang Yahudi? Bangsa-Mu sendiri dan imam-imam kepala yang telah menyerahkan Engkau kepadaku; apakah yang telah Engkau perbuat?” [36] Jawab Yesus: ”Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini.” [37] Maka kata Pilatus kepada-Nya: ”Jadi Engkau adalah raja?” Jawab Yesus: ”Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku.” Yohanes 18:35-37 TB
Bayangkan, di tengah-tengah semua tantangan, hinaan dan penderitaan yang Yesus alami, Dia tetap punya fokus, punya kekuatan dan gairah untuk menjalankan dan menggenapi rencana Allah dalam kehidupan kita, manusia. Yesus tetap punya kekuatan di tengah-tengah semua penolakan dan penghinaan yang ada, karena Dia mengerti bahwa Dia diutus oleh Allah Bapa untuk sebuah tujuan yang mulia bagi kehidupan semua umat manusia. Itu sebabnya ada film Gairah atau “Passion of Christ”. Gairah itu lahir dari mengerti bahwa Dia diutus oleh Bapa untuk tujuan yang sangat mulia bagi dunia ini.
Supporting Verse – [19] Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: ”Damai sejahtera bagi kamu!” [20] Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan. [21] Maka kata Yesus sekali lagi: ”Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” [22] Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: ”Terimalah Roh Kudus. Yohanes 20:19-22 TB
Demikian Kita semua sebagai orang percaya, Kita diutus oleh Tuhan untuk kembali terhubung dengan tujuan yang mulia, Mandat budaya yang pertama kali diberikan umat manusia saat penciptaan, yaitu untuk memenuhi bumi dengan pengetahuaan dan kemuliaan Tuhan. Ada damai sejahtera, dalam terjemahan Indonesia artinya “Ketenangan”, dan Ketenangan kita dapatkan disaat kita hidup di dalam tujuan yang Tuhan berikan kepada kita, support dan backup, kekuatan surga juga akan datang dari Tuhan, sang pemberi tanggung jawab.
Ayat 22 menunjukkan pola kerja yang sama disaat Allah menciptakan manusia, Yesus memberikan mereka tujuan dan memberkati mereka dengan kehadiran Roh Kudus untuk menyertai mereka dalam menghidupi dan menggenapi tujuan tersebut. Yesus bangkit kembali supaya kita bisa menyatakan kemuliaan Allah, memenuhi bumi dengan nilai-nilai kerajaan Allah di dalam dunia ini, supaya orang bisa melihat dimanapun kita berada baik itu di dalam keluarga, pergaulan, pekerjaan kita. Supaya dunia bisa melihat seperti apa kata-kata yang keluar dari mulut orang yang takut akan Tuhan, seperti apa semangat yang muncul ketika orang percaya ditempa dengan badai dan tantangan yang ada.
Kita ada di dalam dunia, diutus oleh Tuhan untuk memenuhi bumi dengan karakter dan kemuliaan Tuhan.
Closing Verse – [18] Yesus mendekati mereka dan berkata: ”Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. [19] Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, [20] dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28:18-20 TB
Pola kerjanya sama, Tuhan memberkati lalu memberikan tujuan supaya kita tahu bahwa kita tidak menjalani tujuan ini sendirian, dan tujuan ini datang dari Dia, sehingga kita tidak perlu bersusah payah, tetapi selalu bergantung kepada Tuhan.
Kita diutus, tetapi bukan hanya sebuah tujuan yang tidak jelas, tetapi diutus untuk hidup di dalam tujuan Tuhan bagi hidup kita dan dunia ini. Karena Tujuan hidup kita selalu berhubungan erat dengan tujuan dan rencana Tuhan bagi dunia ini.
Itu sebabnya penderitaan dan pengorbanan Yesus di atas kayu salib, kelahiran, kematian serta kebangkitan, Karya salib Kristus menjadi begitu penting bagi kita orang percaya karena Yesus memulihkan dan menghubungkan kembali tujuan hidup kita untuk menjalani rancangan asli Allah bagi manusia.
Tujuan yang lebih besar dan tidak ada habisnya sampai kita kembali kepada Tuhan suatu hari nanti. Itu sebabnya saya namakan pesan Firman Tuhan hari ini adalah “Reconnect”, dihubungkan kembali, diutus untuk tujuanNya.
So what should we do? Ada 3 hal yang bisa kita lakukan :
1. Setiap hari, ketika kita bangun pagi. Setelah mendengar Firman, Sadari bahwa kita diutus.
Wake up for a purpose, Kita ada di dunia ini karena kita diutus untuk menyampaikan dan mencerminkan kemuliaan Tuhan, memenuhi bumi dengan pengetahuan dan nilai-nilai kerajaan Allah
2. Selalu terhubung dengan Pribadi yang mengutus kita
Karena celakalah seorang yang diutus jika tidak terhubung dengan orang yang mengutusnya. Selale memutuskan untuk tidak boleh lepas dengan Pribadi yang mengutus kita. Karena Karunia, talenta, dan kemampuan kita untuk bertahan serta gairah datangnya dari Tuhan
3. Selalu ambil pilihan setiap hari untuk melangkah bersama pimpinan Roh Kudus
Jangan hanya sadar dan tahu, karena kesadaran akan kedekatan kita dengan Tuhan harus dieksekusi dalam keseharian hidup kita. Pergi ke dalam dunia, digerakkan oleh tujuan dan disertai oleh Roh Kudus untuk menyebarkan kabar baik, menyatakan kemuliaan dan standarnya Tuhan sampai ke ujung bumi.
Itulah tujuan kehidupan kita, apapun Karunia dan talenta yang kita miliki. Karena Yesus memulihkan dan menghubungkan kembali tujuan hidup kita untuk menjalani rancangan asli Allah bagi manusia.



